Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

TEORI KOGNITIVISME
Disajikan Untuk Perkuliahan Belajar Dan Pembelajaran
Dosen Pengajar : Dr. Acep S, M.Pd., M.Ap. Dan Dani Wahyudi, M.Pd.

Oleh :
Nama : Al Misbah Hajihi
Nim

: A1A213058

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2014

TEORI KOGNITIVISME
A. Pengertian Teori Kognitivisme
Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang berarti pengertian,
mengerti. Lebih luas lagi, kognitif juga bermakna perolehan, penataan,
dan

penggunaan

pengetahuan.

Dalam

pekembangan

selanjutnya,

kemudian istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu wilayah


psikologi manusia dan menjadi satu konsep umum yang mencakup semua
bentuk

pengenalan

berhubungan
memberikan,

yang

dengan
menyangka,

meliputi
masalah

setiap

perilaku

pemahaman,

pertimbangan,

mental

yang

memperhatikan,

pengolahan

informasi,

pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan,


berpikir dan keyakinan.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi
dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang
melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses
interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk
pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan
berbekas.
Dalam kaitannya dengan balajar dan pembelajaran, kognitif menjadi
salah satu cabang dari teori belajar yang pernah ada hingga saat ini. Teori
belajar kognitivisme, begitulah nama teori ini dikenalkan. Sebagaimana
namanya, teori belajar kognitivisme lebih menekankan pada belajar
merupakan suatu proses atau upaya untuk mengoptimalkan pada aspek
rasional yang dimiliki orang lain.
Oleh sebab itu teori belajar kognitivisme merupakan suatu bentuk teori
belajar yang sering disebut sebagai model perseptual, yaitu proses untuk
membangun atau membimbing murid dalam melatih mengoptimalkan
proses pemahaman terhadap suatu objek. Teori ini menyatakan bahwa
tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya
tentang situasi yang berhubungan dengan dirinya. Dengan demikian,

belajar dalam teori ini merupakan perubahan persepsi dan pemahaman


yang tidak selalu dapat terlibat sebagai tingkah laku yang tampak.
Secara umum, teori belajar kognitivisme memiliki pandangan bahwa
belajar dan pembelajaran adalah suatu proses yang lebih menitikberatkan
pada proses membangun ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi,
dan aspek-aspek yang bersifat intelektualis lainnya. Oleh karena itu, teori
belajar kognitivisme lebih mementingkan proses belajar daripada hasil
belajar itu sendiri, sehingga belajar tidak sekadar melibatkan hubungan
antara stimulus dan respon, tetapi juga melibatkan proses berpikir yang
sangat kompleks dan komprehensif.
B. Masalah Dari Teori Kognitivisme
1. Teori kognitivime lebih menekankan pada kemampuan ingatan peserta didik dan dari
semua itu menganggap peserta didik itu mempunyai daya ingat yang sama dan tidak
membeda- bedakan;
2. Teori ini juga tidak memperhatikan cara peserta didik dalam mengeksplorasikan atau
mengembangkan pengetahuan dan cara-cara peserta didik dalam mencari pengetahuan itu
sendiri, karena ada dasarnya perserta didik mempunyai cara sendiri yang berbeda-beda;
3. Peserta didik tidak sepenuhnya mengerti materi yang diberikan;
4. Teori ini apabila dipakai disekolah kejuruan tanpa adanya metode pembelajaran lain
maka peserta didik akan kesulitan dalam praktek kegiatan atau materi;
5. Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan, sulit di praktikkan khususnya di
tingkat lanjut; beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya
masih belum tuntas.
C. Pemecahan Masalah Dari Teori Kognitivisme
1. Dalam melakukan pengajaran tidak hanya bertumpu pada satu hal saja, seperti lebih
menekankan pada ingatan peserta didik dan menganggap peserta didik memiliki ingatan
yang sama karena pada dasarnya setiap peserta didik memiliki ingatan yang berbedabeda, dengan membuat peserta didik nyaman dalam melakukan proses pembelajaran
maka akan tercipta proses pembelajaran yang berjalan dengan baik dan semua peserta
didik dapat memahami materi yang diajarkan;

2. Dalam pembelajaran guru juga harus memperhatikan cara peserta didik dalam
mengeksplorasikan atau mengembangkan pengetahuan karena setiap peserta didik
memiliki cara sendiri dalam memperoleh pengetahuan;
3. Agar pesera didik lebih mudah memahami materi yang diajarkan diharapkan saat
dilakukannya proses pembelajaran menggunakan metode atau media lain yang mudah di
pahami peserta didik dengan begitu akan tercipta proses pembelajran yang diinginkan
dimana

peserta

didik

dapat

memahami

materi

yang

diajarkan

dan

dapat

mempraktekkannya;
4. Karena teori ini lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri,
sehingga apabila teori ini dipakai di sekolah kejuruan peserta didik akan kesulitan dalam
praktek maupun penguasaan materi, sehingga diharapkan menggunakan metode
tambahan dalam pembelajaran saat disekolah kejuruan atau disekolah lain apabila metode
tambahan diperlukan untuk membuat peserta didik lebih mudah dalam praktek maupun
pemahaman materi;
5. Karena teori ini tidak menyeluruh untuk semua tingkatan sehingga hal ini akan dapat
menyulitkan peserta didik dalam memahami materi untuk ketingkat lanjut, dan juga
tentang prisip teori ini yaitu intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum
tuntas, hal seperti ayng menyulitkan peserta didik dalam melanjutkan pembelajaran
ketingkat lanjut;
D. Kesimpula Dan Saran
1. Kesimpulan
a. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang
terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha
yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari
proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan
dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan dan nilai sikap
yang bersifat relatif dan berbekas.
b. Teori belajar kognitivisme memiliki pandangan bahwa belajar dan pembelajaran
adalah suatu proses yang lebih menitikberatkan pada proses membangun ingatan,
retensi, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek yang bersifat intelektualis
lainnya. Oleh karena itu, teori belajar kognitivisme lebih mementingkan proses
belajar daripada hasil belajar itu sendiri, sehingga belajar tidak sekadar melibatkan

hubungan antara stimulus dan respon, tetapi juga melibatkan proses berpikir yang
sangat kompleks dan komprehensif.
c. Teori kognitivisme memiliki beberapa masalah dalam melakukan pembelajaran
seperti, peserta didik yang kesulitan dalam memahami materi dan tidak dapat
mempraktekkannya bagi yang bersekolah di kejuruan, adanya anggapan bahwa
peserta didik memiliki daya ingat dan pengetahuan yang sama dan membuat proses
pembelajaran terhambat karena anggapan itu dan juga teori ini tidak meneluruh pada
semua tingkatan sehingga peserta didik kesulitan dalam melanjutkan pembelajaran;
d. Karena adanya masalah maka perlu adanya pemecahan masalah dari teori ini untuk
lebih memudahkan peserta didik dalam memahami dan mempraktekkan materi yang
di ajarkan maka diperlukan metode atau bahkn media tambahanan agar peserta didik
lebih mudah memahami materi dan dapat mempraktekkannya sehingga peserta didik
juga dapat melanjutkan pemebelajaran ketingkat lanjut;
2. Saran
Diharapkan dengan adanya materi pembahasan tentang teori kognitivisme ini dapat
digunakan dengan sebaikbaiknya dan dapat membantu proses pembelajaran yang
menggunakan teori ini sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan
peserta didik dapat mudah memahami

materi yang di ajarkan dan dapat

mempraktekkannya.

DAFTAR PUSTAKA
Online : http://superiandriyan.blogspot.com/2013/02/kelebihan-dan-kekurangan-teoribelajar.html
Online : http://fatinahmunir.blogspot.com/2012/11/pengertian-teori-belajar-kognitivisme.html
Online : http://pengarasan.blogspot.com/2013/06/teori-kognitivisme.html

Online : https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/06/07/kekurangan-dan-kelebihan-teorikognitif-dan-konstruktivistik-4/