Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air merupakan sumberdaya alam yang terbatas menurut waktu dan tempat.
Pengolahan dan pelesta-riannya merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan. Saat ini, di
hampir sebagian besar negara-negara di dunia menghadapi permasalahan sumber air. Di
samping sulitnya mendapatkan air dengan kualitas yang memenuhi persyaratan, jumlahnya
juga sangat terbatas.
Di Indonesia, permasalahan sumberdaya air dapat dibagi menjadi tiga hal pokok
yaitu masalah kuantitas, masalah kualitas dan masalah distribusi air. Berdasarkan
perbandingan ketersediaan dan kebutuhannya, ketersediaan air di Pulau Jawa, Bali Nusa
Tenggara dan Sulawesi Selatan telah mengalami tingkat kritis. Pada tahun 2000, kebutuhan
air di pulau jawa telah mencapai 153% dari ketersediaannya. Dipulau bali mencapai 73%,
sedangkan di Nusa Tenggara mencapai 58%. Irosnisnya justru pulau-pulau dengan potensi
air tinggi seperti papua dan Kalimantan, kebutuhan airnya sangat rendah.
Pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai keperluan di satu pihak terus meningkat
dari tahun ke tahun, sebagai dampak pertumbuhan penduduk dan pengembangan
aktivitasnya. Di lain pihak ketersediaan sumber daya air semakin terbatas bahkan cenderung
semakin langka, terutama akibat penurunan kualitas lingkungan dan penurunan kualitas air
akibat pencemaran. Secara umum sumberdaya air yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber
air baku terdiri dari air permukaan seperti air sungai, danau, rawa, kolam dan lain-lain, air
tanah, dan air olahan. Dalam kenyataannya masing-masing sumberdaya air mempunyai nilai
kemanfaatan utama yang berlainan.
Dibandingkan dengan sumber air yang lain, air tanah memiliki beberapa kelebihan
diantaranya mudah memperolehnya, umumnya air dalam kondisi baik karena telah
mengalami penyaringan oleh batuan pembawanya, dan sebarannya luas tergantung
pelamparan akuifernya. Namun demikian pada beberapa daerah, akuifer dangkal (akuifer
bebas) yang dapat diekploitasi dengan sumur gali tidak dijumpai atau dijumpai sangat
terbatas sehingga sumur menjadi kering pada musim kemarau. Dalam kondisi demikian
maka dilakukan pemboran sumur dalam hingga mencapai akuifer dalam (akuifer tertekan)
untuk mendapatkan air tanah tersebut. Dalam hal ekploitasi air tanah dengan sumur bor
1

dalam, keadaanya menjadi lebih rumit dengan biaya yang jauh lebih mahal. Dibandingkan
dengan pembuatan sumur gali. Beberapa kesulitan yang sering terjadi pada pemboran
tersebut diantaranya adalah batuan terlalu keras dan berupa bongkah-bongkah sehingga
berpotensi terjepitnya alat pemboran, adanya rongga di bawah permukaan tanah sehingga
lumpur pemboran hilang (water loose), penyumbatan saringan (clogging) setelah konstruksi
sehingga aliran air tanah dari akuifer ke dalam sumur terganggu, bocornya pipa sumur
sehingga air permukaan masuk kedalam sumur dan lain-lain. Sehubungan dengan hal
tersebut diatas, maka dalam pelaksanaan pembuatan sumur detail konstruksi sumur yang
baik menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan pemanfaatan sumur yang
bersangkutan. Kedudukan kedalaman pipa saringan harus tepat pada akuifer yang menjadi
target ekploitasi serta dilindungi dengan gravel pack yang baik.

1.2. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah mengenai pemboran air tanah ini selain untuk
memenuhi tugas mata kuliah Pemboran dan penggalian, juga untuk menambah pengetahuan
pembaca mengenai berbagai tahap pemboran air tanah.

1.3. Manfaat
Adapun manfaat pembuatan makalah mengenai pemboran air tanah ini selain
pembaca akan lebih mengetahui mengenai pemboran air tanah, juga dapat menjadi referensi
bagi pembaca untuk melakukan pemboran air tanah dengan tahap-tahap yang benar dan
tepat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Air Tanah
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah
permukaan tanah. Keberadaan air tanah tersebut tidak dapat dilepaskan dari siklus hidrologi
sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Sedangkan lapisan batuan jenuh air yang dapat
menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomis disebut sebagai
akuifer.
Berdasarkan siklus tersebut terlihat bahwa masukan pada proses tersebut adalah
presipitasi (hujan) yang kemudian terbagi menjadi sejumlah cadangan melalui serentetan
peristiwa yang akhirnya membentuk suatu hasil antara lain depresi air seperti waduk,
penguapan dan peresapan ke dalam tanah.

Hujan yang jatuh, mengalami hambatan oleh adanya vegetasi/tumbuhan ataupun


bangunan dan apabila tidak ada vegetasi/tumbuhan maka hujan akan jatuh mengenai
permukaan tanah secara langsung walaupun peresapan masih mungkin terjadi karena adanya
sampah, kotoran maupun adanya benda lain di permukaan tanah. Air yang meresap ke dalam
tanah ditahan oleh tanah sebagai cadangan kelembaban tanah dan penambagan cadangan air
tanah, sedangkan cadangan permukaan akan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan
sebagian akan meresap kembali ke dalam tanah selama pengaliran. Di lain pihak air tanah
yang mengalir di dalam batuan (akuifer) dapat keluar kembali menjadi air permukaan
3

sebagai mata air jika akuifer tersebut terpotong oleh kemiringan topografi permukaan tanah.
Perjalanan air dari masuknya air hujan ke dalam tanah hingga mencapai lapisan akuifer
maupun keluar sebagai mata air membutuhkan waktu yang sangat bervariasi dari orde
bulanan, tahunan, puluhan tahun, ratusan tahun, bahkan hingga ribuan tahun sebagaimana
diperlihatkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Perjalanan resapan air hujan hingga menjadi air tanah dan muncul kembali
sebagai mata air
Jumlah cadangan air tanah akan sangat ditentukan oleh kondisi cekungan
airtanahnya, yaitu suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrologeologis, tempat semua
kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah
berlangsung. Dengan demikian potensi air tanah pada suatu wilayah akan sangat ditentukan
oleh :

Kondisi curah hujan serta hubungan antara air permukaan dan air tanah
Kondisi akuifer yang meliputi geometri dan sebarannya, konduktifitas hidraulik dan

litologi pada batas-batas akuifer


Kondisi daerah imbuhan air tanah, yaitu daerah resapan air yang mampu menambah

air tanah secara alamiah pada cekungan air tanah


Kondisi daerah repasan air tanah, yaitu daerah keluaran air tanah yang berlangsung
secara alamiah pada cekungan air tanah.

Secara umum terdapat dua jenis akuifer, yaitu akuifer bebas dan akuifer tertekan
(Gambar 3). Ekploitasi air tanah pada akuifer bebas biasanya dilakukan dengan membuat
sumur gali ataupun kolam, sedangkan ekploitasi air tanah pada akuifer tertekan umumnya
dilakukan dengan pembuatan sumur bor dalam. Dalam kenyataan di lapangan, dalam suatu
daerah dijumpai beberapa akuifer tertekan pada berbagai kedalaman yang dipisahkan oleh
lapisan kedap air. Oleh karena itu identifikasi posisi kedalaman dan ketebalan akuifer-akuifer
tersebut menjadi penting untuk menentukan konstruksi sumurnya.

Gambar 3. Jenis akuifer dan sumur untuk eksploitasinya

2.2. Pemboran
Di dalam suatu industri pertambangan, kegiatan pemboran adalah suatu aktivitas
vital baik dalam pengambilan sample maupun pemboran produksi.

Tujuan dari kegiatan pemboran ini ada bermacam-macam , pemboran tidak saja
dilakukan dalam industri pertambangan tetapi juga untuk bidang-bidang lain sehingga secara
keseluruhan kegitan pemboran bertujuan sebagai berikut:

Eksplorasi mineral dan batubara

Ekplorasi dan produksi air tanah

Eksplorasi dan produksi gas

Eksplorasi dan produksi minyak

Peledakan

Geoteknik

Ventilasi tambang

Penirisan tambang

Keperluan perhitungan cadangan

Perolehan data geologi


6

Pengontrolan tambang dan

Serta pembuatan lubang pipa air untuk PDAM dan kabel listrik untuk PLN, dll

Maksud Dan Tujuan Pemboran


Dilakukanya pemboran adalah agar dapat mengetahui bagai mana kegiatan
pengeboran itu berlangsung, dapat mengetahui tahap tahap dari pada kegiatan
pemboran, juga dapat mengetahui peralatan peralatan yang digunakan dalam
pengeboran. Sehinga apa bila terjun kelapangan nantinya sudah dapat mengetahui
apa apa yang harus dikerjakan juga yang harus dipersiapkan. Dalam pencapaian
target dari tujuan tersebut maka dibutuhkan perlengkapan ,tipe serta kapasitas
mesin yang berbeda pula , baik dari pemboran yang vertical keatas, kebawah
maupun yang horizontal atau miring dengan sudut tertentu.
Didalam laporan ini kapasitasnya adalah mengenai pemboran air tanah ,
adapun pembahasannya adalah sebagai berikut:
1. Peralatan pemboran, meliputi jenis bor , pompa atau kompresor,stang bor, casing, mata
bor, dan perlengkapan lainya.
2. Lumpur pemboran
3. Teknis pemboran ,meliputi metode/klasifikasi pemboran dan tahapan-tahapan
pemboran.

Peralatan Pemboran
Beberapa komponen atau peralatan pemboran yang diperlukan untuk
kegiatan pemboran diantaranya adalah sebagai berikut:

2.2.1. Mesin Bor


Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pemilihan
mesin bor yang digunakan, diantaranya meliputi:
Tipe/ model mesin bor
Diameter lubang
Sliding stroke
Berat mesin bor
Power unit
Kemampuan rotasi/ tumbuk per satuan waktu
7

Hoisting capacity (kapasitas)


Dimensi (panjang x lebar x tinggi)
Didalam pemboran ada beberapa jenis mesin bor diantaranya adalah sebagai
berikut
1. Mesin Bor Tumbuk
Mesin bor tumbuk yang biasanya disebut cable tool atau spudder rig
yang diopersikan dengan cara mengangkat dan menjatuhkan alat bor
berat secara berulang- berulang ke dalam lubang bor.
Mata bor akan memecahkan batuan terkosolidasi menjadi kepingan
kecil,atau akan melepaskan butiran butiran pada lapisan.Kepingan atau
hancuran tersebut merupakan campuran lumpur dan fragmen batuan
pada bagian dasar lubang, jika di dalam lubang tidak dijumpai air, perlu
ditambahkan air guna membentuk fragmen batuan (slurry).Pertambahan
volume slurry sejalan dengan kemajuan pemboran yang pada jumlah
terentu akan mengurangi daya tumbuk bor.
Bila kecepatan laju pemboran sudah menjadi sangat menjadi sangat
lambat, slurry diangkat ke permukaan dengan menggunakan timba
(bailer) atau sand pump. Beberapa factor yang mempengaruhi kecepatan
laju pemboran (penetrasi) dalam pemboran tumbuk diantaranya adalah:
Kekerasan lapisan batuan
Diameter kedalam lubang bor
Jenis mata bor
Kecepatan dan jarak tumbuk
Beban pada alat bor
Kapasitas mesin bor tunbuk sangat tergantung pada berat perangkat
penumbuk yang merupakan fungsi dari diameter mata bor, diameter dan
panjang drill-stemnya. Adapun beberapa kelebihan dan kekurangan
mesin bor tumbuk jika dibandingkan denngan mesin bor putar dapat
dijelaskan sebagai berikut:
Kelebihannya:
Ekonomis: - Harga lebih murah sehingga depresiasi lebih kecil

- Biaya transportasi lebih murah


- Biaya operasi dan pemeliharaannya lebih rendah
- Penyiapan rig untuk pemboran lebih cepat
Menghasilkaaan contoh pemboraan yang lebih baik
Tanpa sistem sirkulasi.
Lebih mempermudah pengenalan lokasi akifer
Kemungkinan kontaminasi karena pemboran relative lebih kecil
Kekurangannya:
Kecepatan laju pemboran rendah
Sering terjadi sling putus
Tidak bisa mendapatkan core
Tidak memiliki saran pengontrol kestabilan lubang bor
Terbatasnyaa personil yang berpengalaman
Pada formasi yang mengalami swelling clay akan menghadapi banyak hambatan

2. Mesin Bor Putar


Mesin bor putar merupakan jenis mesin bor yang mempuyai mekanisme
yang paling sederhana, untuk memecahkan batuan menjadi kepingan kecil, mata
bor hanya mengandalkan putaran mesin dan beban rangkaian stang bor. Jika
pemboran dilakukan pada formasi batuan yang cukup keras, maka rangkain stang
bor dapat ditambah dengan stang pemberat. Kepingan batuan yang hancur oleh
gerusan mata bor akan terangkat ke permukaan karena dorongan fluida. Contoh
yang populer dari jenis ini adalah meja putar dan elektro motor.Pada jenis meja
putar, putaran vertical yang dihasilkan oleh mesin penggerak dirubah menjadi
putaran horizontal oleh sebuah meja bulat yang ada pada bagian bawahnya
terdapat alur alur yang berpola konsentris, sedangkan pada elektro motor, energi
mekanik yang digunakan untuk memutar rangkaian stang bor berasal dari
generator listrik yang dihubungkan pada sebuah elektro motor.
Komponen komponen utama dari mesin bor putar adalah:
Swivel
Kelly bar
Stabilizer
9

Mata bor
Stang bor
Stang pemberat
3. Mesin Bor- Hidrolik
Pada mesin bor putar hidrolik, pembebanan pada mata bor terutama diatur
oleh sistem hidrolik yang terdapat pada unit mesin bor, disamping beban yang
berasal dari berat stang bor dan mata bor. Cara kerja dari jenis mesin bor ini adala
mengombinasikan tekanan hidrolik, stang bo dan putaran mata bor di atas formasi
batuan.
Formasi batuan yang tergerus akan terbawa oleh fluida bor ke permukaan
melalui rongga anulus atau melalui rongga stang bor yang bergantung pada sistem
sirkulasi fluida bor yang digunakan.
Adapun contoh mesin bor putar hidrolik adalah:
1.

Top Drive
Unit pemutar pada jenis Top Drive bergerak turun naik pada menara,
tenaganya berasal dari unit transmisi hidrolik yang digerakkan oleh pompa.
Penetrasinya dapat langsung sepanjang stang bor yang dipakai (umumnya
sepanjang 3,6m 9 m), sehingga jenis mempuyai kinerja yang paling baik.

2.

Spindle
Pada jenis ini pemutarannya bersifat statis, kemajuan pemboran sangat
dipengaruhi oleh panjang spindle (umumnya antara 60 m 100 m), dan
tekanan hidrolik yang dibutuhkan.

Adapun spesifikasi mesin bor yang digunakan adalah:


Merk
Kapasitas
Berat
Kemampuan rotasi
Dimensi
Diameter lubang
Tipe/ model

10

2.2.2. POMPA ATAU KOMPRESOR


Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada pompa diantaranya adalah:
a. Tipe acting piston
b. Diameter piston
c. Power
d. Dimensi
e. Berat
f. Volume/ pressure
g. Working pressure
Adapun hal hal yang penting diperhatikan pada kompresor adalah:
a. Tekanan udara yang dihasilkan
b. Volume udara yang dihasilkan per satuan waktu
Pada tahap pemboran lumpur dan kompresor berfungsi sebagai sumber tenaga untuk
mensirkulasikan fluida bor. Jika fluida bor yang digunakan adalah lumpur, maka
sebagai sumber tenaga adalah pompa lumpur, dan jika fluida bor yang digunakan
adalah udara maka sumber tenaganya adalah kompresor. Adapun pompa/ kompresoe
yang digunakan adalah:
Merk
Model
Kapasitas
Dimensi
Diameter piston
Berat
Power
Volume/ pressure
Working pressure

11

2.2.3. STANG BOR


Stang bor merupakan pipa yang terbuat dari baja, dimana bagian pipa ujung
ujungnya terdapat ulir, dimana fungsinya sebagai penghubung antara dua buah stang
bor.Dalam kegiatan pemboran, stang bor berfungsi sebagai:
1. Menstranmisikan putaran, tekanan, dan tumbuka yang dihasilkan oleh mesin bor
menuju mata bor.
2. Jalan keluar masuknya fluida bor
Panjang stang bor yang umum digunakan dalam operasi pemboran adalah 10 ft (3m)
dan 30 ft (9m), tetapi hal ini bisa berubah tergantung dengan tujuan dan efisiensi
pemboran.Kriteria yang harus diperhatiakan dalam pemilihan ukuran, meliputi:
Tujuan pemboran
Kedalaman pemboran
Kekerasan batuan
Metode sirkulasi fluida
Diameter lubang bor
Adapun rangkaian stang bor yang digunakan dalam operasi pemboran tergantung dari
mekanisme pemboran yang diterapkan.
- Rangkaian Stang Bor pada Mesin Bor Putar. Rangkaian stang bor pada pemboran
putar hamper semuanya sama seperti pada penyambungan pipa air. Stang bor yang
dipakai pada pemboran mempuyai banyak ukuran, hal ini berkaitan dengan
diameter luar, diameter dalam , jenis ulir dan sebagainya. Setiap pabrik biasanya
memiliki klasifikasi yang berbeda.
- Rangkaian Stang Bor pada Mesin Bor Tumbuk.Rangkaian stang bor pada mesin bor
tumbuk terdiri dari:
1. Mata bor pahat.
2. Drill stem, sebagai pemberat dan pelurus lubang.
3. Drilling jars, sepasang batang baja yang bertaut yang dimasukkan untuk
melepaskan bit jika tejepit dengan sentakan ke atas.
4. Swivel socket, adalah penghubung antara sling dan alat bor , diperlukan untuk
meneruskan putaran kabel ke alat bor, di perlukan untuk meneruskan putaran
kabel ke alat bor agar pahat dapat menumbuk ke segala sisi sehingga lubang bor

12

lurus. Adapun stang bor yang digunakan dalam pemboran air tanah tersebut
adalah, panjang stang bor yang digunakan adalah 30 ft atau yang berukuran 9 m.
2.2.4. PIPA CASING
Didalam operasi pemboran pipa casing berfungsi untuk menjaga lubang bor dari
colaps (keruntuhan) dan peralatan pemboran lain dari gangguan gangguan.
Ada dua tipe untuk menghubungkan pipa casing, yaitu:
1. Tipe Flash Joint.Dimana penghubungan antara pipa satu dengan pipa lainya
dilakukan secara langsung.
2. Tipe Flash Coupled Dimana penghubungan antara pipa menggunakan sebuah
coupling.
Beberapa komponen yang terdapat dalam casing, diantaranya adalah:
1. Casing Swivel, alat ini untuk menghubungkan antara pipa casing dan stang bor
2. Casing Head, alat ini dipasang di bagian atas casing, untuk melindungi drat casing
bagian atas
3. Casing Shoe, alat ini digunakan untuk melindungi casing bagian bawah dari
kerusakan
4. Casing Cutter, digunakan pada saat apabila didalam lubang casing terjadi masalah,
fungsinya untuk memotong casing pada titik yang diinginkan
5. Casing Band, alat ini digunakan untuk menjepit pipa casing selama operassi
pengangkatan dan Penurunan.

2.2.5. MATA BOR (BIT)


Mata bor merupakan salah satu komponen dalam pemboran yang digunakan
khususnya sebagai alat pembuat lubang (hole making tool). Gaya yang bekerja pada
bit agar bit dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan secara garis besar terbagi atas
dua macam, yaitu gaya dorong dan gaya putar.
Keekfetifan penetrasi yang dilakukan pada pemboran tergantung pada kedua gaya jenis
ini. Gaya dorong dapat dihasilkan melalui tumbukan yang dilakukan pada pemboran
tumbuk,pemuatan bit, tekanan dibawah permukaan.
Gaya putar dapat dihasilakan pada mekanisme pemboran putar dengan bantuan mesin
putar mekanik yang dapat memutar bit (setelah ditransmisikan oleh stang bor) dan
dengan bantuan gaya dorong static mengabrasi batuan yang ditembus. Gaya dorong
yang bersifat static yang secara tidak langsung turut menunjang gaya- gaya tersebut
diatas misalnya berat dari stang bor dan berat rig.
13

Faktor- faktor yang harus diperhatiakan dalam pemilihan bit yaitu:


1. Ukuran dan bentuk mata bor
2. Ukuran gigi mata bor
3. Berat mata bor4. Kekerasan matriks.
Adapun beberapa jenis mata bor diantaranya:
1. Mata Bor Rotasi
Mata Bor Pisau
Air Coring Bits
Roller Bits
2. Mata Bor Tumbuk
Cross Bit
Button Bit
Chisel Bit
3. Mata Bor Auger
Tipe Kelly
Tipe Auger
4. Mata Bor pada Pengeboran Kabel
Mata Bor Tabung
Mata Bor Chisel
5. Mata Bor Intan

Mata Bor Formasi Lunak


Surface Set Bits
Impregnated Bits

2.2.6. PERALATAN PELENGKAP


Adapun mata bor yang digunakan didalam pemboran air tanah yang menjadi bahan
praktikum adalah :
Beberapa peralatan pelengkap yang sering dipakai dalam kegiatan pemboran
diantaranya meliputi:
a. Water Swivel, alat ini digunakan untuk melewatkan fluida seperti air, lumpur,
dari pompa menuju ke dalam stang bor.
b. Hoisting Water Swivel, alat ini didesain untuk melewatkan air ke dalam batang
bor yang sedang berputar selama proses pengangkatan dan penurunan.
c. Hoisting Plug, alat ini dihhubungkan pada rope socket dandigunakan ketika
proses pengangkatan dan penurunan stang bor.
d. Hoisting Rope Socket, bagian atas alat ini dihubungkan dengan hoisting wire
rope yang dilas menggunakan babbit metal, bagian bawahnya dihubungkan
dengan hoisting plug.
14

e. Pipe Wrench, alat ini digunkan untuk mengunci dan melepaskan pipa, stang bor,
dan lain lain.
f. Snatch Block,a lat ini diletakkan di puncak menara pemboran dan digunakan
untuk mengangkat dan menurunkan stang bor core barrel dan mata bor.Pada
kenyataannya, beban yang diangkat atau diturunkan itu terlalu berat, oleh karena
itu digunakan crown block atau traveling block untuk membantu proses
pengangkatan dan penurunan.
g. Travelling Block, alat ini digunakan bersama dua/tiga buah kabel untuk
mengangkat atau menurunkan peralatan pemboran.
h. Come Along, alat ini digunakan untuk menurunkan stang bor dan digukan pada
pemboran dangkal
i. Rod Coupling Tap, alat I ini digukan untuk mengeluarkan batang bor yang rusak
dan dibiarkan tertinggal dalam lubang bor.
j. Rod Band, alat ini digukan untuk menjepit batang bor yang tertinggal di lubang
bor.
k. Knocking Block, alat ini digunakan untuk menerima pengaruh pada saat
hammering untuk melindungi peralatan bor.
l. Drive Hammer with Chain, alat ini digunakan untuk hammering ketika peralatan
bor mengalami kemacetan.
m. Menara, terdapat dua menara yang biasa digunkan dalam pemboran diantaranya
adalah derrick
n. Permale Wrench, alat ini digunakan untuk mengunci dan melepaskan pipa pipa
yang kecil, seperti kabel core barrael tanpa merusak tabung.
o. Rod Holder, alat ini digunakan untuk menjepit stang bor pada saat pengangkatan
atau penurunan.
p. Super Strong, alat ini digunakan untuk mengunci dan melepaskan pipa pipa
dengan ukuran besar dengan diameter berukuran di atas 100 mm.

2.3. Tahap-Tahap Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pembuatan

15

1. TAHAP PERSIAPAN
2. TAHAP PEMBORAN AWAL (PILOT HOLE)
3. TAHAP ELECTRICAL LOGING
4. TAHAP PEMBERSIHAN LUBANG BOR (REAMING HOLE)
5. TAHAP KONSTRUKSI PIPA CASING DAN SARINGAN (SCREEN)
6. TAHAP PENYETORAN KERIKIL PEMBALUT (GRAVEL PACK)
7. TAHAP PENCUCIAN DAN PEMBERSIHAN (WELL DEVELOPMENT)
8. TAHAP PENGECORAN
9. TAHAP UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
10.TAHAP FINISHING
2.3.1.
Tahap Persiapan
Dalam pelaksanaan pekerjaan pemboran tahap pekerjaan persiapan meliputi :
a. Pekerjaan Mobilisasi
Sebelum pekerjaan lapangan dimulai, dilakukan mobilisasi atau mendatangkan
peralatan dan bahan-bahan pemboran beserta personelnya ke lokasi pemboran.
Tahap mobilisasi ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan
lapangan.
b. Pekerjaan Persiapan Lokasi
Pada tahap pekerjaan ini meliputi :
Pembersihan, perataan dan pengerasan lokasi untuk posisi tumpuan mesin

bor.
Pembuatan bak Lumpur, bak control dan selokan untuk sirkulasi Lumpur bor.
Penanaman casing pengaman sedalam 1-2 m pada posisi titik bor apabila
formasi lapisan tanah paling atas yang akan dibor merupakan lapisan formasi
yang mudah runtu.
16

Penyetelan (setting) mesin bor beserta menara (rig), penyetelan (setting)

pompa Lumpur beserta selang-selangnya.


Penyedian air serta pengadukan Lumpur bor untuk sirkulasi pemboran.

2.3.2.

Tahap Pemboran Awal


Sistem pemboran yang diterangkan disini adalah menggunakan system bor

putar (rotary drilling) dan tekanan bawah (pull down pressure) yang dibarengi
dengan sirkulasi Lumpur bor (mud flush) kedalam lubang bor.
Pemboran pilot hole adalah pekerjaan pemboran tahap awal dengan diameter
lobang kecil sampai kedalaman yang dikehendaki, diameter pilot hole biasanya
antara 4 sampai dengan 8 inchi, Selain itu juga ditentukan dengan kemampuan atau
spesifikasi mesin bor yang digunakan.
Hal-hal yang perlu diamati dalam pekerjaan pemboran pilot hole adalah :
Kekentalan (viskositas) Lumpur bor
Kecepatan mata bor dalam menebus formasi lapisan tanah setiap meternya

(penetrasi waktu permeter)


Contoh gerusan (pecahan) formasi lapisan dalam setiap meternya.
Contoh (sample) pecahan formasi lapisan tanah (cutting) dimasukkan dalam
plastik kecil atau kotak sample dan masing-masing diberi nomor sesuai
dengan kedalamanya. Adapun maksud pengambilan sample cutting adalah
sebagai data pendukung hasil electrical logging untuk menentukan posisi
kedalaman sumber air (akuifer)

2.3.3.
tahap

Tahap Electrical Loging


Electrical Loging tujuannya adalah untuk mengetahui letak (posisi) akuifer air,
pekerjaan

ini

sebagai

penentu

konstruksi

saringan

(screen).

Electrical Loging dilakukan dengan menggunakan suatu alat, dimana alat tersebut
menggunakan konfigurasi titik tunggal dimana eletroda arus dimasukakan kedalam
lubang bor dan elektroda yang lain ditanam dipermukaan. Arus dimasukkan kedalam
lubang elektroda yng kemudian menyebar kedalam formasi disekitar lubang bor.
Sebagian arus kembali ke elektroda di permukaan dengan arus yang telah mengalami
penurunan. Penurunan inilah yang diukur.
2.3.4.

Tahap Pembersihan Lubang Bor (Reaming Hole)


17

Yang dimaksud dengan reaming adalah memperbesar lubang bor sesuai dengan
diameter konstruksi pipa casing dan saringan (screen) yang direncanakan.
Hal-hal yang diamati dalam tahap pekerjan reaming adalah sama seperti pada tahap
pekerjaan pilot hole, hanya pada pekerjaan reaming cutting (formasi lapisan tanah)
tidak perlu diambil lagi. Ideal selisih diameter lobang bor dengan pipa casing adalah
6 inchi. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah masuknya konstruksi pipa casing
dan saringan (sreen) serta masuknya penyetoran kerikil pembalut (gravel pack).
2.3.5.

Tahap Konstruksi Pipa Casing Dan Saringan (Screen)


Pada tahap ini peletakan pipa casing dan saringan (screen) harus sesuai dengan

gambar konstruksi yang telah direncanakan. Terutama peletakan konstruksi saringan


(screen) harus didasarkan atas hasil electrical logging dan analisa cutting.
Selain itu juga didasarkan atas kondisi hydrogeology daerah pemboran. Dari
pemahaman aspek-aspek hydrogeology diharapkan perencanaan sumur dalam yang
dihasilkan mampu memberikan sumur pemanfatan (life time) yang maksimal dan
kapasitas yang optimal dengan memperhatikan kelestarian lingkungan didaerah
sekitar pemboran.

2.3.6.

Tahap Penyetoran Kerikil Pembalut(Gravel Pack)


Maksud dan tujuan penyetoran kerikil pembalut (gravel pack) adalah untuk

menyaring masuknya air dari formasi lapisan akuifer kedalam saringan (screen) dan
mencegah masuknya partikel kecil seperti pasir ke dalam lubang saringan (screen).
Adapun cara penyetoran kerikil pembalut (gravel pack) adalah dibarengi dengan
sirkulasi (spulling) air yang encer supaya kerikil pembalut (gravel pack) dapat
tersusun dengan sempurna pada rongga antara konstruksi pipa casing dengan dinding
lubang bor.
2.3.7.

Tahap Pencucian Dan Pembersihan (Well Development)


Tahap pekerjaan pencucian dan pembersihan sumur dalam dilakukan dengan

maksud untuk dapat membersihkan dinding zona invasi akuifer erta kerikil pembalut
dari partikel hlus, agar seluruh bukaan pori atau celah akuifer dapat terbuka penuh
sehinga ar tanah dapat mengalir kedalam lubang saringan (screen) dengan sempurna.
Manfaat dari tahap Well Development ini adalah :
18

Menghilangkan atau mengurangi penyumbatan (clogging) akuifer pada

dinding lobang bor.


Meningkatkan porositas dan permeabilitas akuifer disekeliling sumur dalam.
Menstabilakan formasi lapisan pasir disekeliling saringan, sehingga

pemompaan bebas dari kandungan pasir.


Pelaksanaan tahap Well Development dilakukan dengan cara :
o Water Jetting
Peralatan yang digunakan disebut Jetting Tool, yaitu suatu alat dari pipa
yang mempunyai 4 lobang (dozzle). Alat ini dimasukkan kedalam sumur
dalam pada tiap-tiap interval saringan secara berurutan dari bawah keatas
dengan penghantar pipa bor yang dihubungkan dengan pompa yang
dihubungkan dengan pompa tekan yang memompakan air bersih kedalam
sumur dalam. Pada pengoperasiannya, alat ini digerakkan berputar-putar
atau dengan memutar-mutar pipa penghantarnya dan naik turun
sepanjang saringan (screen).
o Air Lift
Pada metode air lift ini dimulai dengan pelepasan tekanan udara kedalam
sumur dalam dari tekanan kecil kemudian perlahan-lahan diperbesar.
Pekerjaan air lift ini dilakukan mulai dari interval saringan paling atas ke
bawah secara berurutan hingga ke dasar sumur dalam.

2.3.8.
Tahap Pengecoran (Grouting)
Maksud dan tujuan dari tahap grouting ini adalah :
Sebagai penguat (tumpuan) konstruksi pipa casing.
Untuk menutup (mencegah) masuknya air permukaan (air atas) kedalam pipa
casing melalui saringan (screen).
2.3.9.

TAHAP UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)


Maksud dan tujuan uji pemompaan (pumping test) ini adalah untuk mengetahui

kondisi akuifer dan kapasitas jenis sumur dalam, sehingga dapat untuk memilih jenis
serta kapasitas pompa ang sesuai yang akan dipasang disumur dalam tersebut.
Data-data yang dicat dalam uji pemompaan adalah :
Muka air tanah awal (pizometrikawal)
Debit pemompaan
Penurunan muka air tanah selama pemompaan (draw-down)
Waktu sejak dimulai pemompaan
Kenaikan muka air tanah setelah pompa dimatikan
Waktu setelah pompa dimatikan
Uji pemompaan dilakukan melalui 2 tahap :
19

Uji

pemompaan

bertahap

(step

draw-doen

test)

Uji pemompaan yang dilakukan 3 step, masing-masing selama 2 jam dengan

variasi debit yang berbeda.


Uji pemompaan panjang
Uji pemompaan ini umumnya dilakukan selama 2x 24 jam dengan debit tetap.
Pada uji pemompaan ini dimbil sample air 3 kali, yaitu pada awal
pemompaan, pertengahan dan akhir pemompaan. Maksud dan tujuan
pengambilan sample air adalah untuk pemeriksaan (analisa) kualitas air,
apakah air yang dihasilkan dari sumur dalam tersebut memenuhi standar air
minum yang diizinkan.

Kualitas air yang dianalisa adalah :


PH (keasaman atau kebasaan) air tersebut.
Kadar unsure-unsur kimia terkandung dalam air tersebut.
Jumlah zat pada terlarut (TDS).
2.3.10.
TAHAP FINISHING
Tahap finishing meliputi :
Pemasangan pompa submersible permanent, panel listrik serta instalasi kabel

kabelnya.
Pembuatan bak control (manhole) apabila well head posisinya dibawah level

tanah, pembuatan apron apabila well head posisinya diatas level tanah.
Pembuatan instalasi perpipaan, asesoris serta Well Cover.
Pembersihan dan perapihan lokasi.

20

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disarikan beberapa hal antara
lain :
Keberadaan air tanah pada suatu lokai sangat ditentukan oleh kondisi geologi dan
geohidrologi setempat. Tidak semua daerah sekaligus mempunyai akuifer dangkal dan
dalam yang secara kuantitas dan kualitas menguntungkan untuk dieksploitasi.
Keberadaan lapisan akuifer pada suatu daerah harus diketahui untuk dijadikan dasar dalam
pelaksanaan konstruksi sumur. Konstruksi sumur yang benar akan menghasilkan kapasitas
sumur dan umur pemanfaatan sumur yang optimal
Kualitas air tanah sangat ditentukan oleh jenis batuan yang dilalui air mulai dari peresapan
hingga sampai ke sistem akuifer. Untuk dapat dijadikan sebagai air minum, kualitas air
tanah harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI sesuai
SK MENKES No. 907/MENKES/SK/VII/2002.

21

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Cipta Karya,1990. Pedoman Teknis Pengawasan
Pelaksanaan Pemboran Airtanah Untuk Sistem Air Bersih. Jakarta.
Fetter C.W. 1996. Applied Hydrogeology. Prentice Hall Inc. Englewood Cliff, New Jersey.
Fletcher G. Driscoll. 1986. Groundwater and Wells.Johnson Filtration Systems Inc. St. Paul,
Minnesota.
Hendri Setiadi, 2009. Pengelolaan Daerah Imbuhan Airtanah. Makalah disampaikan dalam
sosialisasi Pengelolaan Airtanah bagi Pengguna tanggal 29 Juni 2009 di Ungaran Jawa
Tengah.

http://lingkunganhijau08007.blogspot.com/2010/01/asal-usul-dan-sifat-sifat-air-tanah.html
http://fakultasteknik.narotama.ac.id/index.php/berita/325/detail
http://air-bersih-keluarga.blogspot.com/p/penampang-air-tanah.html

22