Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan,
tindakan, dan pelayanan lain kepada pasien di sarana pelayanana
(Hatta, 2008). Sebagai media dalam mendokumentasikan catatan
pengobatan pasien, formulir dibutuhkan dalam rekam medis.
Formulir adalah secarik kertas yang memiliki ruang untuk
diisi (Depkes RI, 1997). Menurut Hufffman (1994), formulir melayani
berbagai keperluan. Formulir pengumpulan data menyebabkan
timbulnya

dokumentasi.

Formulir

laporan

menuntut

adanya

keputusan atau penentuan arah tindakan. Formulir memperbaiki


tanggung jawab dan mengidentifikasi catatan untuk pengarsipan
dan rujukan masa depan. Formulir dirancang dengan jelek bisa
menyebabkan

pengumpulan

data

menjadi

tidak

memadai,

dokumentasi menjadi lamban, informasi salah, duplikasi usaha


yang dilakukan, dan kesalahan-kesalahan. Hal ini menggambarkan
bahwa suatu formulir sangat memiliki fungsi yang penting, dimana
dapat dijadikan sebagai media pengumpulan data yang dapat
dijadikan sebagai sumber informasi yang benar serta dapat
dijadikan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan atau

penentu arah tindakan. Didalam rekam medis terdapat banyak


lembar salah satunya adalah lembar lembar persetujuan tindakan
kedokteran yang akan dilakukan yang biasanya disebut sebagai
lembar informed consent.
Informed consent adalah persetujuan tindakan kedokteran
yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah
mendapat

penjelasan

secara

lengkap

mengenai

tindakan

kedokteran yang akan dialakukan terhadap pasien tersebut


(PerMenKes RI No 290/MenKes/Per/III/2008).

Dokter harus

memberikan informasi yang jelas kepada pasien atau keluarganya


serta mengisi dengan lengkap dan meminta pihak pasien
menandatangani lembar Informed consent dengan begitu aspek
hukum yang tertuang didalamnya akan menjadi lebih kuat sehingga
dapat digunakan sebagai perlindungan hukum bagi instansi
pelayanan kesehatan, dokter yang merawat serta pasien itu sendiri.
Air Susu Ibu yang selanjutnya disingkat ASI adalah cairan
hasil sekresi kelenjar payudara ibu. Air Susu Ibu Ekslusif yang
selanjutnya disebut ASI Ekslusif adalah ASI yang diberikan kepada
Bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan
dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman. Susu
Formula Bayi adalah susu yang secara khusus diformulasikan
sebagai pengganti ASI untuk Bayi sampai berusia 6 (enam) bulan.
(PP NO 33 Tahun 2012). Karena alasan tertentu bayi tidak bisa

mendapatkan ASI Ekslusif dan digantikan dengan Susu Formula.


Sehingga ibu bayi atau keluarga bayi harus memberikan penolakan
atau persetujuan untuk pemberian susu formula tersebut.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
nomor 39 tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi Dan Produk Bayi
Lainya dalam pasal 14 menyatakan (1) pemberian susu formula
bayi atas indikasi medis harus mendapat persetujuan dari ibu bayi
dan/ atau keluarganya. (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diberikan setelah ibu bayi dan/ atau keluarganya
mendapat peragaan dan penjelasan

atas penggunaan dan

penyajian susu formula bayi dan produk bayi lainnya.


Dalam

persetujuan pemberian susu formula pada bayi

tentunnya akan beda dengan informed consent biasa. Karena


dalam informed consent biasa hanya terdapat diagnosa satu pasien
yang dalam hal ini adalah bayi. Sedangkan dalam masalah
pemberian susu formula ke pada bayi, kondisi atau diagnosa ibu
juga harus dicantumkan. Hal ini mengacu pada Peratuaran Menteri
Kesehatan Republik Indonesia nomor 39 tahun 2013 tentang Susu
Formula Bayi Dan Produk Bayi Lainya dalam pasal 6 yaitu (1)
Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Ekslusif kepada
Bayi yang dilahirkannya, kecuali dalam keadaan: a. Adanya indikasi
medis; b. Ibu tidak ada; atau c. Ibu terpisah dari bayi. Dalam
peraturan

tersebut

sudah

jelas

bahwa

kondisi

ibu

yang

menyebabkan ibu tidak memberikan ASI Ekslusif dan harus


menggantinya dengan susu formula. Sehingga item dalam informed
consent biasa masih belum dapat digunakan sehingga perlu
dibuatkan consent khusus pemberian susu formula pada bayi.
Kemudian masih dalam Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia nomor 39 tahun 2013 tentang Susu Formula
Bayi Dan Produk Bayi Lainya dalam pasal 8 dijelaskan bahwa (1)
Indikasi Medis pada Bayi yang hanya dapat menerima susu dengan
formula khusus ayat (1) huruf a, merupakan kelainan metabolisme
bawaan (inborn errors metabolism). (2) Kelainan metabolisme
bawaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Bayi dengan galaktosemia klasik memerlukan formula khusus
bebas galaktosa;
b. Bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple (maple syrup
urine disease), memerlukan formula khusus bebas leusin,
isoleusin, dan valin;
c. Bayi dengan fenilketonuria, memerlukan formula khusus bebas
fenilalanin; dan atau
d. Kelainan metabolisme lain sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Berdasarkan penjelasan di atas sangat memungkinkan memuat
item diagnosa diatas sebagai pilihan dalam diagnosis bayi

sehingga

dapat

memudahkan

pengguna

informed

consent

pemberian susu formula pada bayi.


Berdasarkan studi dokumentasi diketahui bahwa berikut
adalah tabel kelahiran bayi dan bayi yang di rawat di kamar bayi
(KBY) di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta :
Tabel 1. Data Kelahiran Bayi Di RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Tahun 2011, 2012, dan 2013
Tahun

Jumlah Bayi Lahir

Jumlah Bayi yang Dirawat di


KBY

2011

792

902

2012

868

1013

2013

717

992

Sumber: Laporan dari Instalasi Rekam Medis RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2014

Keterangan dari tabel diatas adalah jumlah bayi yang lahir


adalah seluruh bayi yang lahir di RS PKU Muhammadiyah yang
didalamnya termasuk bayi yang di rawat gabung dan yang dirawat
di KBY. Sedangkan jumlah bayi yang dirawat di KBY adalah bayi
yang lahir di RS PKU Muhammadiyah yang tidak termasuk dirawat
dan juga bayi rujukan dari rumah sakit lain.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan dengan wawancara
yang dilakukan kepada petugas perekam medis RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta, beliau menyatakan bahwa formulir
persetujuan pemberian susu formula pada bayi di rumah sakit

tersebut belum ada. Namun persetujuan atau penolakan pemberian


susu formula hanya di tulis di dalam kolom catatan lain dalam
lembar RM catatan bayi dan ditanda tangani oleh ibu atau keluarga
bayi. Padahal formulir persetujuan pemberian susu formula pada
bayi itu sangat penting untuk bukti yang akurat sesusai dengan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2013 tentang Susu
Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya.
Dari jumlah bayi yang dirawat di KBY pada tahun 2013 yang
berjumlah 992 bayi, perancang mengambil 36 berkas rekam medis
bayi untuk dijadikan sampel. 36 berkas tersebut diambil secara
random dengan pertimbangan kronologis setiap bulannya dimana
setiap bulan diambil sampel berkas bayi yang di rawat di KBY
sebanyak tiga berkas rekam medis. Perancang ingin mengetahui
jumlah bayi dari sampel yang diberikan susu formula oleh tenaga
medis di KBY. Hasilnya adalah 16 dari 36 bayi yang dirawat di KBY
mendapat susu formula. Alasan pemberian susu formula antara lain
adalah bayi dengan keadaan lahir BBLR ( Berat Bayi Lahir Rendah)
, sepsis neonatorum, ikterik neonataorum, hyperbillirubin dan ASI
ibu yang tidak mencukupi. Bila di persentasekan maka 44.44 %
bayi yang dirawat di KBY di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
pada tahun 2013 diberikan tambahan susu formula oleh tenaga
medis. Hal inilah yang menjadi latar belakang perancang untuk
membuat desain formulir persetujuan pemberian susu formula pada

bayi. Memingat pemberian susu formula tidaklah asal di berikan


oleh tenaga medis namun harus juga mendapat persetujuan dari
ibu atau keluarga bayi. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehtan Republik Indonesia nomor 39 Tahun 2013.
B. Rumusan Ide Perancangan
Berdasarkan latar belakang diatas, perancang mendapat suatu ide
yaitu mendesain formulir persetujuan pemberian susu formula pada
bayi yang berindikasi medis yang dapat digunakan sebagai bukti
autentik terhadap tindakan dokter atas persetujuan atau penolakan
pasien dan/atau keluarganya.
C. Keaslian/ Orisinalitas
Desain formulir persetujuan pemberian susu formula pada bayi
belum pernah dilaksanakan,

namun desain serupa pernah

dilakukan oleh:
1. Fatiarini (2013), perancangan dengan judul Desain Formulir
Ringkasan Masuk Keluar Sebagai Pengganti Proses Input
Data Dalam Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II. Perbedaan rancangan
yang dilakukan oleh Fatiarini (2013) dengan perancangan ini
adalah:
a. Objek dalam perancangan Fstiarini (2013) adalah formulir
ringkasan masuk-keluar sebagai pengganti proses input data

dalam SIRS sedangkan objek dalam perancangan ini adalah


formulir persetujuan pemberian susu formula pada bayi.
b. Tujuan

perancangan

formulir

ringkasan

masuk-keluar

sebagai pengganti proses input data dalam SIRS yang


digunakan sebagai sumber informasi yang lengkap dengan
menekankan pada aspek isi, fisik dan anatomi, sedangkan
tujuan dalam perancangan ini adalah mendesain formulir
persetujuan pemberian susu formula pada bayi yang dapat
dijadikan sebagai bukti persetujuan atau penolakan ibu atau
keluarga bayi terhadap pemberian susu formula pada bayi.
Persamaan rancangan Fatiarini (2013) dengan perancangan ini
adalah memberikan masukan berupa desain formulir dan
persamaan

proses

perancangan

yang

diawali

dengan

perancangan formulir dan penentuan konsep pendukung


perancangan,

proses

dilaksanakan

dengan

membentuk

alternatif pilihan desain formulir dan melakukan pemilihan


desain formulir.
2. Hadmandho (2010), perancangan dengan judul Rancangan
Medis

Bencana

(Disaster

Medical

Record).

Perbedaan

rancangan yang dilakukan oleh Hadmandho (2010) dengan


perancangan ini adalah:
a. Objek dalam perancangan Hadmandho (2010) adalah
formulir rekam medis bencana (disaster medical record),

sedangkan objek dalam perancangan ini adalah formulir


persetujuan pemberian susu formula pada bayi.
b. Tujuan perancangan formulir rekam medis bencana (disaster
medical record) oleh Hadmandho (2010) adalah membuat
rancangan formulir rekam medis bencana yang sederhana,
mudah

diisi,

serta

akurat,

sedangkan

tujuan

pada

perancangan ini adalah mendesain mendesain formulir


persetujuan pemberian susu formula pada bayi yang dapat
dijadikan sebagai bukti persetujuan atau penolakan ibu atau
keluarga bayi terhadap pemberian susu formula pada bayi.
Persamaan rancangan Hamandho (2010) dengan perancangan
ini adalah memberikan masukan berupa desain formulir dan
persamaan

proses

perancangan

yang

diawali

denfan

perancangan formulir dan penentuan konsep pendukung


perancangan,

proses

dilaksanakan

dengan

membentuk

alternatif pilihan desain formulir dan melakukan pemilihan


desain formulir.
3. Melati (2007), perancangan dengan judul Rancangan Catatan
Individual Pada Media Kertas di Gadjah Mada Medical Center
(GMC) Health Center. Perbedaan rancangan yang dilakukan
oleh Melati (2007) dengan perancangan ini adalah:
a. Objek perancangan Melati (2007) adalah catatan individual
rawat jalan di Gadjah Mada Medical Center (GMC) Health

10

Center, sedangkan dalam perancangan ini mendesain


formulir persetujuan pemberian susu formula pada bayi.
b. Tujuan perancangan Melati adalah merancang catatan
individual untuk menjawab kebutuhan tentang format formulir
dan pemanfaatan ruang isian pada formulir bimbingan
konseling yang dirancang dengan memperhatikan aspek
fisik, aspek anatomik dan aspek isi, sedangkn tujuan pada
perancangan ini adalah mendesain formulir persetujuan
pemberian susu formula pada bayi yang dapat dijadikan
sebagai bukti persetujuan atau penolakan ibu atau keluarga
bayi terhadap pemberian susu formula pada bayi.
Persamaan perancangan Melati (2007) dengan perancangan ini
adalah memberikan masukan berupa desain formulir dan
persamaan

proses

perancangan

yang

diawali

denfan

perancangan formulir dan penentuan konsep pendukung


perancangan,

proses

dilaksanakan

dengan

membentuk

alternatif pilihan desain formulir dan melakukan pemilihan


desain formulir.
D. Tujuan Perancangan
Mendesain formulir persetujuan pemberian susu formula pada bayi
yang berindikasi medis sebagai bukti persetujuan atau penolakan
ibu bayi atau keluarga bayi terhadap pemberian susu formula pada

11

bayi dengan menekankan aspek isi, fisik, dan anatomik sehingga


dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkepetingan.
E. Manfaat Perancangan
1. Bagi Rumah Sakit
Hasil perancangan ini diharapakan dapat memberikan masukan
berupa desain formulir informed consent penberian susu
formula pada bayi.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Manfaat perancangan ini diharapakan dapat dipergunakan
sebagai bahan kajian yang berguna dalam pengembangan ilmu
pengetahuan.
3. Bagi Perancang
Manfaat perancangan ini diharapkan dapat meningkatkan
wawasan dan memperkaya pengetahuan tentang desain
formulir informed consent serta mempraktikan ilmu dalam
memberikan solusi bagi pemecahan masalah agar berguna di
masa yang akan datang.
F. Gambaran Umum Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah
Yogyakarta
Berdarakan buku profil Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta taun 2013 maka didapatkan profil rumah sakit sebagai
berikut:

12

1. Sejarah Singkat
Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Yogyakarta
awalnya didirikan berupa klinik dan poli klinik pada tanggal 15
Februari 1923 lokasi perta di Jagang Notoprajan 72 Yogyakarta.
Awalnya bernama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem)
dengan maksud menyediakan pelayanan kesehatan bagi kaum
dhuafa. Didirikan atas inisiatif H.M. Sudjak yang di dukung
sepenuhnya oleh KH. Ahmad Dahlan. Seiring berjalannya
waktu,

nama

PKO

berubah

menjadi

PKU

(Pembina

Kesejahteraan Umat).
Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah adalah salah satu
rumah sakit swsta di Yogyakarta yang merupakan amal usaha
Pimpinan Pusat Persyarikatan Muhammadiyah. Merupakan
Rumah Sakit terakreditas 16 bidang pelayanan dengan tipe B.
Selain memberikan pelayanan kesehatan juga digunakan
sebagai tempat pendidikan bagi calon dokter dan perawat.

2. Falsafah,

Visi

dan

Misi

Rumah

Sakit

Umum

PKU

Muhammadiyah Yogyakarta
a. Falsafah
Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Yogyakarta
adalah perwujudan dari iman sebagai amal shaleh kepada
Alloh SWT dan menjadikannya sebagai sarana ibadah.

13

Dasar : Q.S Al-baqarah : 25, Q.S Maryam : 96, Q.S


Asysyuara : 80.
b. Visi
Menjadi Rumah Sakit yang berdasar pada Al Quran dan
sunnah Rasulullah SAW dan menjadi rujukan terpercaya di
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan
kualitas pelayanan kesehatanyang islami, professional,
cepat, nyaman, dan bermutu, setara dengan kualitas
pelayanan rumah sakit-rumah sakit terkemuka di Indonesia
dan Asia.
c. Misi
1) Mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi semua
lapisan masyarakat melalui pendekatan pemeliharaan,
pencegahan, pengobatan, pemulihan kesehatan secara
menyeluruh

sesuai

dengan

peraturan/

ketentuan

perundang-undangan.
2) Mewujudkan peningkatan mutu bagi tenaga kesehatan
melalui

sarana

pelatihan

dan

pendidikan

yang

diselenggarakan secara professional dan sesuai tuntutan


ajaran islam.
3) Mewujudkan dawah islam, amar maruf nabi mungkar
dibidang kesehatan dengan senantiasa menjaga tali
silaturrohim sebagai bagian dari dawah Muhammadiyah.

14

3. Jenis pelayanan Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah


Yogyakarta
a. Pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Inap
1) Instalasi Gawat Darurat
2) Klinik Umum
3) Klinik Penyakit Dalam
4) Klinik Penyait Syaraf
5) Klinik Penyakit Jantung
6) Kinik Penyakit Jiwa
7) Klinik Penyakit Mata
8) Klinik Penyakit THT
9) Klinik Penyakit Gigi
10) Klinik Penyakit Kulit dan Kelamin
11) Klinik Penyakit Paru
12) Klinik Penyakit Anak
13) Klinik Penyakit Kandungan dan Kehamilan
14) Klinik Bersalin
15) Klinik Rematologi
16) Klinik Bedah Umum
17) Klinik Bedah Tulang
18) Klinik Bedah Urologi
19) Klinik Bedah Plastic

15

20) Klinik Bedah Dada


21) Klinik Bedah Anak
22) Klinik Rehabilitasi Medic
23) Klinik Bedah Ginjal dan Saluran Air Kemih
24) Klinik Bedah Saluran Pencernaan
25) Kamar Operasi
26) Unit Perawatan IntensifUnit Perawatan Intensif Jantung
b. Unit Penunjang Pelayanan Medis
1) Farmasi (24 Jam)
2) Laboratorium (24 Jam)
3) Radiologi (24 Jam)
4) Gizi
5) Fisioterapi
6) Rekam Listrik Jantung (EKG)
7) Rekam Listrik Otak dan Pemetaan Otak (Brain Mapping)
8) Rekam Suara Ultra (USG)
9) Laparoscopy
10) CTG
11) EEG
12) Gastro Duo Denoscopy
13) Treadmill
14) TUR
15) Endoscopy

16

16) Hemodiallisa
17) Bronchoscopy
18) CT Scan
19) Audiometri
20) Spirometi
21) Tes Narkoba, HIV/ AIDS, SARS
22) Unit Penunjang Lainnya
23) Pembinaan Kerohanian Islam
24) Imunisasi
25) Konsultasi Psikologi
26) Pelayanan KB
27) Perpustakaan
28) General Check Up
29) Bank
30) Transportasi dan Telepon
31) Ambulance
32) Senam Hamil, Diabetes Mellitus, Osteoporosis
33) Kegiatan Masyarakat
34) Perawatan Jenazah Islami
35) Kosultasi Gizi
36) Kantin, Swalayan, dan Wartel
37) Home Care
38) Khitanan Massal

17

39) Dana Sehat Muhammadiyah


40) BPJS
41) Hot Line Service HIV/ AIDS dan Narkoba

4. Performance
Tabel 2. Data Kegiatan Rawat Inap Rumah Sakit Umum PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2011-2013
No

Jenis Performance

1.

Bed Occupancy Rate


(BOR)

2011

2012

2013

59,99%

61,48 %

68,16%

2.

Length of Stay (LOS)

4,0 hari

4 hari

4,05 hari

3.

Turn of Interval (TOI)

2,7 hari

2 hari

2,01 hari

4.

Bed Turn Over (BTO)

4,5 kali

46 kali

4,99 kali

5.

GDR

39,39

48

43,98

6.

NDR

18,11

27

26,57

7.

Jumlah Tempat Tidur

205 unit

205 unit

205 unit

11440

11740

13169

8.

Jumlah Pasien
Dirawat

Sumber: Laporan dari Instalasi Rekam


Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2014

Medis

RS

PKU