Anda di halaman 1dari 7

Sabtu, 13 Juli 2013

STANDAR PELAYANAN ANTENATAL DI KOMUNITAS.

Standar Pelayanan Antenatal di Komunitas


a. Definisi
Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk
optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin
selama kehamilan. (Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo, 2010 hal 278)
b. Tujuan
Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang ibu
dan tumbuh kembang bayi
Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan bayi
Mengenali secara dini ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil,
termasuk riwayat kesehatan, penyakit umum kebidanan dan pemmbedahan
Mempersiapkan persalinan yang cukup bulan melahirkan dengan selamat ibu maupun
bayinya dengan trauma seminimal mungkin
Mempersiapkan ibu agar nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif
Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh
kembang secara normal.(JNPKKR/POGI.2002;90)
(Asuhan Kebidanan I , Ai Yeyeh Rukiyah, dkk. Hal 3)
c. Standar asuhan kebidanan
Standar pelayanan antenatal
Standar 3 (identifikasi ibu hamil)
Bidan melakukan kunjungan rumah dan melakukan interaksi dengan masyarakat secara
berkala untuk memberikan penyuluhan dan motivasi ibu, suami, dan anggota keluarga agar
mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini secara teratur.
Standar 4 (pemeriksaan dan pemantauan antenatal)
Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal dan pemantauan ibu dan janin
secara seksama untuk menilai apakah perkembangan janin berlangsung normal.
Bidan juga harus mengenal kehamilan resiko tinggi atau kehamilan khususnya anemia,
kurang gizi, hipertensi, PMS, dan infeksi HIV. Bidan memberikan pelayanan imunisasi,
nasihat, dan penyuluhan kesehatan, serta tugas terkait lainnya yang diberikan dari puskesmas.
Standar 5 (palpasi abdomen)
Bidan melakukan pemeriksaan abdomen secara seksama unuk melakukan palpasi untuk
merikirkan usia kehamilan jika usih kehamilan bertambah, mariksa posisi,bagian terendah
janin kedalam rongga panggul untuk mencari kelainan serta melakukan rujukkan tepat waktu.
Standar 6 : pengelolaan anemia pada kehamilan
Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan, dan/atau rujukan semua
kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Standar 7 : pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan
Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilandan mengenali

tanda serta gejala preeklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.
Standar 8 : persiapan persalinan
Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami/keluarganya pada trimester III
memastikan bahwa persiapan persalinan bersih dan aman dan suasana yang menyenangkan
akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk,
bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan mengusahakan untuk melakukan
kunjungan ke setiap rumah ibu hamil untuk hal ini.
STANDAR MINIMAL ASUHAN ANTENATAL 7T
1. Timbang berat badan dan pengukuran tinggi badan
Total pertambahan berat badan pada kehamilan yang normal 11,5-16 kg. Adapun tinggi badan
menentukan ukuran panggul ibu, ukuran tinggi badan yang baik untuk ibu hamil antara lain,
yaitu 145 cm. (Prawirohardjo, 2005)
2. Ukur tekanan darah
Tekanan darah perlu diukur untuk mengetahui perbandingan nilai dasar selama masa
kehamilan, tekanan darah yang adekuat perlu untuk mempertahankan fungsi plasenta tetapi
tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg pada saat awal pemeriksaan dapat
mengendikasi
3. Ukuran Tinggi Fundus Uteri
Apabila usia kehamilan 24 minngu mengukur dengan jari,tetapi apabila kehamilan diatas 24
minngu memakai pengukur MC DONAL yaitu dengan cara mengukur tinggi fundus
memakai CM dari atas simfisis ke fundus uteri kemudian tentukan sesuai rumusnya (Depkes
RI 2001)
4. Pemberian Imunisasi Tetanus Texoid (TT) lengkap
Pemberian Imunisasi tetanus texoid pada kehamilan umumnya diberikan 2 kali saja,
imunisasi pertama diberikan pada usia kehamilan 16 minggu untuk yang kedua diberikan 4
minggu kemudian akan tetapi untuk memaksimalkan perlindungan maka dibentuk program
jadwal pemberian imunisasi pada ibu hamil
5. Tablet tambah darah ,yablet zat besi berisi 60 mg zat besi dan 500mg asam folat paling
sedikit diminum 1 tabletsehari selama 90 hari berturut turut ingat ibu agar tidak
meminummya dengan teh atau kopi
6. Tes Pada Penyakit Menulars
Menetapkan Jadwal Kunjungan sesuai dengan Perkembangan
Jika mengikuti standar kunjungan bahwa itu dapat dilakukan minimal 4 X selama
masa kehamilannya sehingga jika ibu datang pada kunjungan awal ini pada trimester pertama
sehingga ibu dijadwalkan kunjunga ulang pada umur kehamilan trimeste kedua satu kali dan
trimester ketiga dua kali.
Jika ibu mau melakukan kunjungan ideal maka ibu dianjurkan untuk mmelakukan
kunjunagan ulang setiap bulan pada umur kehamilan trimester pertama setelah umur
kehamilan 28 minggu maka ibu datang dua minggu satu kali dan setelah umur kehamilan
diatas 36 minggu datang satu minggu satu kali dan setelah umur kehamilan 40 minggu.
Pemeriksaan Fisik,Pemeriksaan Panggul,Pemeriksaan Laboraturium
hypertensikomplikasi-komplikasi kehamilan :
1. Pemeriksaan fisik

A. Pemeriksaan fisik umum : tinggi badan,berat badan,tanda-tanda vital (tekanan darah,nadi


suhu dan pernafasan)
B. Kepala dan Leher : edama pada wajah,ikhterus pada mata,bibir pucat,leher meliputi
pembengkaan kelenjar tiroid
C. Payudarah : ukuran simetris ,puting payudarah menonjol/masuk keluarnya kolostrum atau
cairan lain :retraksi massa,nodul axilla
D. Abdomen : bekas luka operasi,tinggi fundus uteri (jika > 12 minngu) letak pasien, posisi dan
penurunan kepala (kalau <36 minggu ) mendengar denyut jantung janin (DJJ) bila kehamilan
kurang dari 18 minggu.
E. Tangn dan kaki : edema dijari tangan,kuku jari pucat,varises vena refleks
F. Genetalia (internal) : servik meliputi cairan yang keluar luka clesi,kelunakan posisi
mobilisasi,tertutup atau membuka vagina yang keluar,luka darah
2. Pemeriksaan Hemoglobin
Pemeriksaan hemoglobin adalah pengambilan darah melalui jaringan primer untuk
mengetahui kadar hemoglobin dalam darah.
Tujuan pemeriksaan :
~pemeriksaan Hb
Pemeriksaan secara rutin selama kehamilan merupakan kegiatan rutin untuk mendeteksi
anemia namun ada kecenderungan bahwa kegiatan ini tidak dilakukan secara optimal selama
kehamilan.
~Pemeriksaan Anemia
Hasil pemeriksaan Hb dapat diklasifikasi sebagai berikut : Hb 11% gram dikatakan tidak
anemia,9-10 % garam anemia ringan,7-8 % garm dikatakan anemia sedang,<7gr% anemia
berat.
PEMERIKSAAN PANGGUL LUAR
TUJUAN :
1. Untuk mengetahui panggul seseorang apakah normal atau tidak
2. Untuk mengetahui bentuk atau keadaan panggul seseorang
PEMERIKSAAN PANGGUL DILKUKAN :
1. Pada pemeriksaan pertama pada ibu hamil
2. Pada ibu yang pernah melahirkan bila ada kelainan pada persalinan yang lalu
3. Ibu akan bersalin bila sebelumnya belum pernah memeriksakan diri terutama pada
primi para
PERSIAPAN ALAT :
1. Pita pengukur
2. Jangka panggul
3. Buku catatan
PROSEDUR :
1. Ujung jari telunjuk kanan dan kiri berada pada unjung jangka panggul
2. Jari tengah mencari tempat-tempat yang akan diukur
3. Tempatkan ujung jangka pangul pada tempat yang sudah di temukan lihat dan baca
skala pada jangka panggul
4. catat hasilnya
UKURAN-UKURAN LUAR YANG TERPENTING :
1. Distansia spinarum : jarang anatar spina iliaka anterior superior kanan dan kiri
2. Distansia Cristarum : jarak yang terpanjang antara crista iliaka kanan dan kiri

3. Conjungata

Eksterna (Boudeloque) : jarak anatar pinggir atas symphysis dan ujung


processus spinosus ruas tulang lumbal ke - V
4. Lingkar panggul : jarak dari pinggir atas simfisis melalui spina iliaka anterior superior
kanan ke pertengahan trhochanter mayor kanan ke pertengahan trochanter mayor
kiri ke pertengahan spina iliaka anterior superior kiri kemudian kembali keatas
simfisis.
Panggul Sempit
Kesempitan pntu atas panggul (velvik inlet )
Pembagian tingkat panggul sempit
Tinggat 1 => C.V 9-10 cm = bordeline
Tinggkat 2 => C.V 9-8 cm = relatif

Macam posisi meneran/mengejan saat melahirkan dan


cara meneran yang benar
Dalam menjelang proses persalinan banyak hal yang menjadi kecemasan para calon ibu. Hal tersebut tak lain
karena kurangnya pengetahuan akan hal-hal yang berkenaan dengan prosespersalinan. Salah satu hal yang tidak
kalah penting dan dapat menimbulkan kecemasan terutama bagi para calon ibu yang baru pertama kali
melahirkan adalah cara meneran/ mengejan. Pengetahuan ibu dapat mempengaruhi sikap atau perilaku ibu
dalam menghadapi proses persalinan. Pengetahuan ibu tentang meneran tak lain agar ibu yang
mengalamipersalinan dapat meneran dengan benar sehingga mempercepat proses persalinan.
Berikut beberapa hal terkait meneran dari mulai macam posisi hingga cara meneran yang benar.
KEBEBASAN MEMILIH POSISI MENERAN
Seorang bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin dan melahirkan memilih sendiri posisipersalinan yang
diinginkannya dan bukan berdasarkan keinginan bidannya sendiri. Dengan kebebasan untuk memutuskan posisi
yang dipilihnya, ibu akan lebih merasa aman.
MANFAAT PILIHAN POSISI BERDASARKAN KEINGINAN IBU

Memberikan banyak manfaat


Sedikit rasa sait dan ketidaknyamanan
Kala 2 persalinan menjadi lebih pendek
Laserasi perineum lebih sedikit
Lebih membantu meneran
Nilai apgar lebih baik
MACAM-MACAM POSISI MENERAN

1.

Posisi terlentang (supine)

terlentang (supine)
Posisi ini juga menyebabkan waktu persalinan menjadi lebih lama, besar kemungkinan terjadinya laserasi
perineum dan dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.
Dan juga menyebabkan beberapa hal seperti :

Dapat menyebabkan hipotensi karena bobot uterus dan isinya menekan aorta, vena cava inferior serta

pembuluh-pembuluh darah lain sehingga menyebabkan suplai darah ke janin menjadi berkurang, dimana
akhirnya ibu dapat pingsan dan bayi mengalami fetal distress ataupun anoksia janin.
Ibu mengalami gangguan untuk bernafas.
Buang air kecil terganggu.
Mobilisasi ibu kurang bebas.
Ibu kurang semangat.
Resiko laserasi jalan lahir bertambah.
Dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.
Rasa nyeri yang bertambah.

2.

Posisi duduk/setengah duduk

Posisi duduk/setengah duduk


Posisi ini akan membantu dalam penurunan janin dengan bantuan gravitasi bumi untuk menurunkan janin
kedalam panggul dan terus turun kedasar panggul. Posisi berjongkok akan memaksimumkan sudut dalam
lengkungan Carrus, yang akan memungkinkan bahu besar dapat turun ke rongga panggul dan tidak terhalang
(macet) diatas simpisis pubis. Dalam posisi berjongkok ataupun berdiri, seorang ibu bisa lebih mudah
mengosongkan kandung kemihnya, dimana kandung kemih yang penuh akan dapat memperlambat penurunan
bagian bawah janin
3.

Posisi jongkok/ berdiri

Posisi jongkok/ berdiri


Jongkok atau berdiri memudahkan penuran kepala janin, memperluas panggul sebesar dua puluh delapan persen
lebih besar pada pintu bawah panggul, memperkuat dorongan meneran. Namun posisi ini beresiko terjadinya
laserasi ( perlukaan jalan lahir). Dalam posisi berjongkok ataupun berdiri, seorang ibu bisa lebih mudah
mengosongkan kandung kemihnya, dimana kandung kemih yang penuh akan dapat memperlambat penurunan
bagian bawah janin.
4.

Berbaring miring kekiri

Berbaring miring kekiri


Posisi berbaring miring kekiri dapat mengurangi penekanan pada vena cava inferior sehingga dapat mengurangi
kemungkinan terjadinya hipoksia, karena suplay oksigen tidak terganggu, dapat member suasana rileks bagi ibu
yang mengalami kecapekan dan dapat pencegahan terjadinya laserasi/robekan jalan lahir.

5.

Posisi merangkak

posisi meneran merangkak


Posisi ini akan meningkatkan oksigenisasi bagi bayi dan bisa mengurangi rasa sakit punggung bagi ibu. Posisi
merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasa sakit punggung, mempermudah janin dalam melakukan
rotasi serta peregangan pada perineum berkurang. Posisi merangkak juga dapat membantu penurunan kepala
janin lebih dalam ke panggul

1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

CARA MENERAN
Beberapa cara meneran menurut berbagai sumber yang dapat dilakukan yaitu :
Menurut Manuaba (2001), cara meneran yaitu :
Anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya selama kontraksi.
Jangan anjurkan untuk menahan nafas pada saat meneran.
Anjurkan ibu untuk berhenti meneran dan beristirahat diantara kontraksi.
Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ibu mungkin merasa lebih mudah untuk meneran jika ia
menarik lutut kearah dada dan menempelkan dagu ke dada.
Anjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.
Jangan melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi.

2.

Menurut JNPK-KR (2007), dorongan pada fundus meningkatkan resiko distosia bahu dan rupture uteri. Cegah
setiap anggota keluarga yang mencoba melakukan dorongan pada fundus. Untuk mengkoordinasikan semua
kekuatan menjadi optimal saat his dan mengejan dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut
1) Parturien diminta untuk merangkul kedua pahanya, sehingga dapat menambah pembukaan pintu bawah
panggul.
2) Badan ibu dilengkungkan sampai dagu menempel di dada, sehingga arah kekuatan menuju jalan lahir.
3) His dan mengejan dilakukan bersamaan sehingga kekuatannya optimal.
4) Saat mengejan ditarik sedalam mungkin dan dipertahankan denagn demikian diafragma abdominal membantu
dorongan kearah jalan lahir.
5) Bila lelah dan his masih berlangsung, nafas dapat dikeluarkan dan selanjutnya ditarik kembali utnuk
dipergunakan mengejan.

3.

Menurut Sarwono (2005), ada 2 cara mengejan yaitu :


1) Wanita tersebut dalam letak berbaring merangkul kedua pahanya sampai batas siku, kepala sedikit diangkat
sehingga dagu mendekati dadanya dan dapat melihat perutnya.
2) Sikap seperti diatas, tetapi badan dalam posisi miring kekiri atau kekanan tergantung pada letak punggung
janin, hanya satu kaki dirangkul, yakni kaki yang berda diatas. Posisi yang menggulung ini memang fisiologis.
Posisi ini baik dilakukan bila putaran paksi dalam belum sempurna.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN


Menurut Sarwono (2002), juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat mengejan, yaitu :
1) Mengejan hanya diperbolehkan sewaktu ada his dan pembukaan lengkap.
2) Pasien tidur terlentang, kedua kaki difleksikan, kedua tangan memegang kaki atau tepi tempat tidur sebelah
atas, bila kondisi janin kurang baik, pasien mengejan dalam posisi miring.
3) Pada permulaan his, pasien disuruh menarik nafas dalam, tutup mulut, mengejan sekuat-kuatnya dan selama

mungkin, bila his masih kuat menarik nafas pengejanan dapat diulang kembali. Bila his tidak ada, pasien
istirahat, menunggu datangnya his berikutnya.