Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan
kecacatan utama pada kelompok usia produktif. Sampai saat ini penyebab
utama cedera kepala yang serius adalah kecelakaan lalu lintas. Namun
demikian, banyak penyebab lainnya, seperti kecelakaan pada waktu kerja,
pada saat olahraga, kecelakaan karena kejatuhan benda tumpul, maupun
kecelakaan karena seringnya 2 terjatuh atau membentur benda-benda
keras. Semua ini bisa menyebabkan terjadinya cedera pada kepala,
terutama pada bagian otak yang merupakan organ vital pengendali sistem
tubuh. (Hernata, 2013)
Korban meninggal akibat kecelakaan kendaraan bermotor di
seluruh dunia pada tahun 2013 mencapai 1,2 juta jiwa dan korban lukaluka/cacat lebih dari 30 juta per tahun, 50 % diantaranya menderita cedera
kepala. Sedangkan menurut Bararah & Jauhar (2013), kecelakaan dan
terjatuh merupakan penyebab rawat inap pasien trauma kepala yaitu
sebanyak 32,1 % dan 29,8 % per 100.000 populasi. Berdasarkan kajian
Depkes (2005), di Indonesia kecelakaan kendaraan bermotor mencapai
13.339 kejadian yang mengakibatkan kematian 9.865 jiwa, luka berat
6.143 jiwa serta luka ringan 8.694 jiwa. Dari semua kasus kecelakaan
kendaraan bermotor, 50 % adalah berupa cedera kepala. (dalam Susilawati,
2010).
Menurut Susilawati (2010), kemampuan bertahan hidup pasien
cedera kepala dapat ditingkatkan yaitu dengan melakukan penanganan
awal yang tepat, mempercepat waktu prehospitall.Berdasarkan data
Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes, pada tahun 2007
jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1.319 yang terdiri atas 1.033
Rumah Sakit Umum (RSU) dengan jumlah kunjungan ke RSU sebanyak
33.094.000. Sementara data kunjungan ke IGD sebanyak 4.402.205 atau
sebanyak 3 13,3 % dari total seluruh kunjungan di RSU. Dari jumlah
seluruh kunjungan IGD terdapat 12 % berasal dari pasien rujukan
(Kepmenkes No.856, 2009). Sementara itu berdasarkan hasil RISKESDAS

(Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013, prevalensi cedera nasional adalah


sebanyak 8,2 % dimana hasil tersebut meningkat dari tahun 2007 yang
prevalensinya 7,5 %. Sedangkan presentasi penyebab cedera karena
kecelakaan transportasi darat berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013
terjadi peningkatan yang cukup tinggi, dari sebelumnya pada tahun 2007
25,9 % menjadi 47,7 % pada tahun 2013.
Mekanisme cedera kepala memegang peranan yang sangat dalam
menentukan berat-ringannya konsekuensi patofisiologi dari cedera kepala.
Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak
membentuk kepala yang diam. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila
kepala membentur objek yang secara relative tidak bergerak/diam. Kedua
kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan
kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi
badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasikan
dengan pegubahan posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma
regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak (Hudak &
Gallo, 2012).
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena
memar pada permukaan otak, laserasi alba, cedera robekan atau hemoragi.
Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan
autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera.
Konsekuensinya meliputi hiperemia (peningkatan volume darah) pada area
peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua
menimbulkan peningkatan isi intrakranial dan akhirnya peningkatan
intrakranial (TIK). Beberapa penyebab yang dapat menyebabkan cedera
otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkabia dan hipotensi (Hudak &
Gallo, 2012).
Aliran Darah Serebral (ADS) yang normal diberikan oleh TPS >
60 mmHg. Dibawah tingkat ini, supalai darah ke otak tidak adekuat dan
terjadi hiposia neural dan dapat terjadi kematian sel neuron. Saat tekanan
perfusi menurun, respons kardiovaskuler adalah meningkatkan tekanan
darah sistemik. Sistem autoregulasi yang berfungsi untuk mempertahankan
aliran darah yang konstan tidak berfungsi pada tekanan < 40 mmHg.

Penurunan berat pada tekanan perfusi serebral disertai tidak adanya


potensi aksi batang otak, yang merupakan indikasi adanya perubahan
fungsi batang otak. Peningkatan TIK mengarahkankan pada timbulnya
iskemia, hipokapnea, kekakuan otak dan kemungkinan herniasi (Hudak &
Gallo, 2012).
Jika kerusakan otak berat, seperti edema otak menyebar atau saat
aliran darah ke otak terputus, ADS mungkin turun pada tingkat TPS yang
relatif normal. Hal ini berhubungan dengan ancaman aliran darah darah
menembus jaringan serebrovaskular. Aliran darah serebral tidak mungkin
meningkat walaupun tekanan perfusi serebral meningkat jika autoregulasi
tidak

mengalami

kerusakan.

Kondisi

ini

menunjukkan

paralisis

vasomotor.
Akibat dari kerusakan neurologis menimbulkan masalah pada
berbagai tingkat. Beberapa lokasi pada hemisfer yang mengatur kontrol
volunter terhadap otot pernapasan mengalami paralisis vasomotor dan
akibat dari perubahan tingkat kesadaran menimbulkan hipoventilasi
alveolar karena napas dangkal. Faktor ini akhirnya dapat menimbulkan
gagal pernapasan pada pasien cedera kepala. Terjadinya gagal pernapasan
menyebabkan gangguan pertukaran oksigen dan karbondioksida, sehingga
sistem pernafasan tidak mampu memenuhi metabolisme tubuh akibatnya
pengikatan hemoglobin dapat dalam terganggu yang akan berdampak
terhadap penurunan saturasi oksgien.
Salah satu penatalaksanaan untuk mengendalikan peningkatan
intrakranial pada pasien cedera kepala adalah mempertahankan oksigenasi
dengan pemberian masker non rebrathing. Teknik ini merupakan
pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen yang tinggi mencapai 90%
dengan aliran 6 15 liter/mnt. Dengan pemberian oksigen tersebut dapat
mengurangi dan/atau mengatasi gangguan pertukaran gas pada pasien
cedera kepala sehingga saturasi oksigen tetap stabil.
Berdasarkan data dan masalah diatas dan mengingat pentingnya
mempertahankan oksigenasi pada pasien cedera kepala maka peneliti
tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan
Non-Rebreathing Mask terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien Cedera
Kepala ? .

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimanakah
Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan Non-Rebreathing Mask terhadap
Saturasi Oksigen pada Pasien Cedera Kepala ? .
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin di capai adalah :
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan NonRebreathing Mask terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien Cedera
Kepala di Instalasai Gawat Darurat (IGD) RSUD Provinsi NTB.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentidikasi Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan NonRebreathing Mask terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien Cedera
Kepala di Instalasai Gawat Darurat (IGD) RSUD Provinsi NTB.
b. Mengidentifikasi Saturasi Oksigen pada Pasien Cedera Kepala di
Instalasai Gawat Darurat (IGD) RSUD Provinsi NTB.
c. Menganalisis Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan NonRebreathing Mask terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien Cedera
Kepala di Instalasai Gawat Darurat (IGD) RSUD Provinsi NTB.
D. Hipotesis Penelitian
H0 : Tidak Ada Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan Non-Rebreathing
Mask terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien Cedera Kepala di Instalasai
Gawat Darurat (IGD) RSUD Provinsi NTB.
Ha : Ada Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan Non-Rebreathing Mask
terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien Cedera Kepala di Instalasai Gawat
Darurat (IGD) RSUD Provinsi NTB.
E. Manfaat Penelitian
1. Pasien dan keluarga
Dapat memperoleh informasi lebih banyak khususnya tentang cedera
kepala yang menjalani terapi Non Rebrathing Mask serta pengaruh
terapi terhadap saturasi oksigen, sehingga masyarakat mengetahui dan
dapat menambah pengetahuan.
2. Institusi kesehatan
Diharapkan dapat memberikan informasi, sebagai salah satu indikator
peningkatan kesehatan dalam upaya penanganan cedera kepala.
3. Institusi pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi,


menambah referensi dan sebagai masukan yang bergunan atau
bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin meningkatkan pemahaman
mengenai pengaruh terapi oksigen menggunakan non-rebreathing
mask terhadap saturasi oksigen pada pasien cedera kepala.
4. Penelitian lainnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar, sumber pengetahuan,
dan motivasi bagi peneliti lain yang ingin tertarik untuk meneliti lebih
lanjut yang terkait pengaruh terapi oksigen menggunakan nonrebreathing mask terhadap saturasi oksigen pada pasien cedera kepala.