Anda di halaman 1dari 2

ANALISIS PONARI :

Masyarakat di Indonesia banyak memiliki kepercayaan yang magis dalam


menyembuhkan penyakit. Masyarakat lebih senang ke pengobatan yang non medis dari pada
medis karena lebih praktis dan murah. Misalnya fenomena yang kita bahas tentang Ponari
yang terjadi pada tahun 2009 yang menggemparkan seluruh masyarakat indonesia. Ponari ini
berasal dari Jawa Timur di daerah Jombang. Adanya dukun cilik yang pengobatannya hanya
menggunakan sebuah batu. Asal mula kenapa dukun cilik ini bisa terkenal, ketika ponari
terkena petir dan menemukan sebuah batu. Lalu batu itu dibawa pulang oleh Ponari dan
sempat di buang oleh ponari, tetapi batu itu terus kembali. Digunakan pertama kali saat
adiknya sakit, lalu Ponari memberikan air minum bekas celupan batu itu dan ternyata adiknya
sembuh setelah minum air yang diberikan ponari. Langsung seketika berita ini menyebar dari
mulut ke mulut bahkan sampai berita nasional. Sehingga banyak pasien yang berdatangan ke
rumah ponari, bukan hanya daerah setempat melainkan sampai ke luar jawa Timur. Sehingga
banyak warga masyarakat berdatangan bahkan ribuan yang mengantri hingga berhari-hari.
Dengan adanya dukun cilik ponari masyarakat sekitar juga merasakan dampak positif. Yang
sebelumnya desa tempat tinggal ponari sepi menjadi ramai, antusias warga setempat seperti
menjual asongan, menjual buku tentang Ponari, menjual sofenir, ataupun menjadi tukang
parkir bagi pasien yang datang ke ponari.
Ponari dan batu penyembuhannya mendadak menjadi dukun cilik yang terkenal,
begitupun kehidupannya walupun tidak mematok harga dalam melakukan praktek medis
kehidupannya berubah dengan cepat dalam bidang ekonomi, sosial dan pendidikan, seperti
contoh ketika dia akan pergi ke sekolah ponari harus dikawal oleh polisi untuk keamanan dan
kenyamanan, akan tetapi haknya terenggut sebagai anak-anak yang sewajarnya bisa bebas
bermain. secara mental juga sebagai anak kecil dia belum begitu siap untuk menghadapi
perubahan yang terjadi secara cepat, butuh penyesuaian atau adaptasi agar dia mampu
menjalani kesehariannya dengan normal, dalam prakteknya pun ponari membutuhkan
bantuan orang lain untuk menggendongnya karena memang banyak sekali pasien yang
mendatanginya. Dalam prakteknya dia tidak membaca mantra sebagai mana mestinya
menjadi dukun, hanya menyelupkan batu penyembuhnya kedalam air-air yang di bawa
pengunjung. Secar logika tidak mungkin sebuah batu bisa memberi effek kepada air biasa
bahkan ponari tidak memperhatikan higienisan tangannya. Para ahli-ahli kesehatan terheran

bagaimana bisa air yang sudah dicelup batu ponari bisa menyembuhkan penyakit. Akan tetapi
dalam sistem tradisonal hal ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita oleh
masyarakat.

Sebenarnya dalam masyarakat kita tersebar pengobatan alternatif yang sebenarnya


tidak lebih dari efek plasebo atau pemberian sugesti kepada pasien. Dan masyarakat kita juga
kerap mudah mempercayainya walau tanpa dasar medis sekalipun bahkan lebih cenderung
bersifat magis. Ini merupakn cermin dari lemahnya pengetahuan dan kerusakan mental dari
masyarakat.
Dalam upaya berikhtiar mencari kesembuhan bagi suatu penyakit adalah hak setiap
manusia bahkan kita diwajibkan tidak berputus asa dalam mencapai kesembuhan, tapi
alangkah lebih bijaksana seandainya kita lebih mengedepankan sisi rasionalitas dalam suatu
pengobatan dan tidak mengharapkan pada keajaiban tanpa dasar ilmiah dan yang lebih jauh
lagi malah membawa kita pada kemusyrikan karena menyandarkan kekuatan pada kekuatan
selain Allah SWT.