Anda di halaman 1dari 43

KINERJA PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA PASCA

PRIVATISASI
Guna Memenuhi Tugas Analisis Kebijakan Publik

Disusun oleh
Nama : Eka Rochaningrum
NIM

: 7111413072

Prodi

: Ekonomi Pembangunan 2013

EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah


Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah adalah suatu badan usaha yang
berbaju kekuasaan pemerintah, tetapi mempunyai fleksibilitas dan inisiatif sebagai
perusahaan swasta.
Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN ada dua tujuan utama, yaitu tujuan
yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial. Tujuan yang bersifat ekonomi,
BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai
pihak-pihak tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak,
seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi, sebagaimana diamanatkan dalam pasal
33 UUD 1945, seyogyanya dikuasai oleh BUMN.
Dengan adanya BUMN diharapkan dapat terjadi peningkatan kesejahteraan
masyarakat, terutama masyarakat yang berada di sekitar lokasi BUMN. Tujuan BUMN
yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan lapangan kerja serta
upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan lapangan kerja dicapai
melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Upaya untuk membangkitkan
perekonomian lokal dapat dicapai dengan jalan mengikut-sertakan masyarakat sebagai
mitra kerja dalam mendukung kelancaran proses kegiatan usaha. Hal ini sejalan dengan
kebijakan pemerintah untuk memberdayakan usaha kecil, menengah dan koperasi yang
berada di sekitar lokasi BUMN.
Namun dalam kurun waktu 50 tahun semenjak BUMN dibentuk, BUMN secara
umum belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Perolehan laba yang
dihasilkan masih sangat rendah. Sementara itu, saat ini Pemerintah Indonesia masih
harus berjuang untuk melunasi pinjaman luar negeri yang disebabkan oleh krisis
ekonomi tahun 1997 lalu. Dan salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk dapat
meningkatkan pendapatannya adalah dengan melakukan privatisasi BUMN seperti
yang dilakukan atau ditempuh oleh PT. Telekomunikasi Indonesia.
PT

Telekomunikasi

penyelenggara

bisnis

Indonesia,

T.I.M.E

Tbk.

(TELKOM)

(Telecommunication,

adalah

Information,

perusahaan
Media

and

Edutainmet) terbesar di Indonesia. Dengan portofolio yang terdiri dari sembilan anak

perusahaan konsolidasi yang bergerak di bidang telepon tidak bergerak, seluler,


aplikasi, konten, komunikasi data, property dan konstruksi, Telkom Group adalah salah
satu dari perusahaan BUMN terbesar di Indonesia, yang memiliki sekitar Rp.139.104
miliar kapitalisasi pasar di BEI pada akhir tahun 2008. Telkom adalah pemain paling
dominan dalam industri telekomunikasi.
PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) sendiri adalah perusahaan BUMN yang
bergerak di bidang telekomunikasi. Perusahaan Telkom mengalami privatisasi secara go
public ketika tahun 1995 tepatnya tanggal 14 November. Oleh karena itu, makalah ini
akan mengulas mengenai Kinerja PT Telekomunikasi Indonesia pasca privatisasi
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka masalah yang
akan dibahas di dalam makalah ini adalah :

1.3

1.

Apa penyebab PT. Telekomunikasi Indonesia melakukan privatisasi?

2.

Bagaimanakah dampak privatisasi PT. Telekomunikasi Indonesia?

3.

Bagaimanakah kinerja PT. Telekomunikasi Indonesia pasca privatisasi?

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:

1.4

1.

Untuk mengetahui penyebab PT. Telekomunikasi Indonesia melakukan privatisasi.

2.

Untuk mengetahui dampak privatisasi PT. Telekomunikasi Indonesia.

3.

Untuk mengetahui kinerja PT. Telekomunikasi Indonesia pasca privatisasi.

Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan ini diharapkan akan memberikan informasi dan manfaat
berupa :
1.

Manfaat Teoritis
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam hal proses
pembuatan kebijakan. Pemerintah dapat mempertimbangkan menentukan waktu
dan kondisi paling cocok dalam melakukan privatisasi terhadap BUMN terutama
BUMN Telekomunikasi, serta apakah privatisasi masih merupakan alternatif
terbaik dalam meningkatkan kinerja BUMN dan mampu meningkatkan
pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Hasil penulisan ini juga diharapkan dapat menjadi acuan untuk evaluasi pada
kesuksesan program privatisasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
2.

Manfaat Praktik
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat membantu praktisi dalam membuat
keputusan investasi pada perusahaan BUMN yang telah diprivatisasi.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Pengertian Kinerja
Pada dasarnya pengukuran kinerja merupakan alat pengendalian bagi
perusahaan. Pengukuran kinerja digunakan untuk melakukan perbaikan dan
pengendalian atas kegiatan operasionalnya agar dapaty bersaing dengan
perusahaan lain. Selain itu, melalui pengukuran kinerja perusahaan juga dapat
memilih strategi yang akan dilaksanakan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Pengertian kinerja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:
a.

Sesuatu yang dicapai

b.

Prestasi yang diperlihatkan

c.

Kemampuan kerja (tt. Peralatan)

2.1.2 Badan Usaha Milik Negara (BUMN)


Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah suatu badan usaha yang
berbaju kekuasaan pemerintah, tetapi mempunyai fleksibilitas dan inisiatif
sebagai perusahaan swasta. Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
mengalami beberapa kali perubahan. Secara berurutan diatur dalam peraturan
sebagai berikut:
1. Peraturan IBW (Indische Bedrijven Wet) Stb. 1927 No. 419 diubah dengan
Stb. 1936, 1954, dan Stb. 1955
2. Peraturan ICW (Indische Comtabilitieits Wet) Stb. 1925 No. 448 diubah
dengan Lembaran Negara 1948 No. 334.
3. Undang-undang No. 19 Prp Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara.
4. Undang-undang No. 9 tahun 1969 tentang Perusahaan Negara.
5. Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan.
6. Undang-undang No. 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara

Dalam dunia bisnis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebut Public
enterprise, sedangkan perusahaan yang dilakukan oleh swasta disebut private
enterprise.
Public enterprise mengandung tiga makna yaitu: public ownership,
public control, dan public purpose. Dari ketiga makna tersebut, public purpose
menjadi inti dari konsep Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Public purpose
dijabarkan sebagai keinginan pemerintah untuk mencapai cita-cita pembangunan
(fungsi sosial politik dan fungsi ekonomis) bagi kesejahteraan bangsa dan negara.
Sedangkan public ownership dan public control dinyatakan mengingat Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan usaha milik rakyat yang dijalankan
oleh pemerintah. Wajar apabila rakyat memiliki hak kontrol/pengawasan terhadap
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi alasan utama pengawasan rakyat
atas pengelolaannya.
Pada tahun 1989 keluar sebuah deregulasi kebijakan yang dikenal
dengan Paket Kebijakan Juni 1989 yang berisi penataan kembali perusahaan
milik negara dengan menetapkan empat kategori sangat sehat, sehat, kurang sehat
dan tidak sehat. Dengan kategori ini perusahan milik negara yang sangat sehat
dan sehat kurang dari separoh jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
ada.
Akibatnya tuntutan reorganisasi, swastanisasi dan transparansi keuangan
publik, mengalir deras dari masyarakat.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dianggap kurang sehat dan
tidak sehat akan dilakukan privatisasi. Pivatisasi perusahaan diartikan sebagai
tindakan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan, melalui
perubahan

status hukum,

organisasi dan pemilikan

saham.

Privatisasi

perusahaan dapat berbentuk kerjasama operasi atau kontrak manajemen dengan


pihak ketiga, konsolidasi, merger, pemecahan badan usaha, penjaualan saham
serta pembentukan perusahaan patungan (join Venture).
2.1.3 Pengertian Privatisasi
Kebijakan

privatisasi

yang

diambil

oleh

pemerintah

mempunyai

maksud dan tujuan seperti yang termuat dalam Undang-undang. Privatisasi


terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mempunyai maksud seperti yang
6

tercantum dalam Pasal 74 Undang-undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan


Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai berikut:

Memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero;

meningkatkan efesiensi dan produktivitas perusahaan;

menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat;

menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif;

menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global;

menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro dan kapasitas pasar.


Beberapa pakar bahkan mendefinisi privatisasi dalam arti luas, seperti J.A.

Kay dan D.J. Thomson sebagai means of changing relationship between the
government and private sector. Mereka mendefinisikan privatisasi sebagai cara
untuk mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta. Sedangkan
pengertian privatisasi dalam arti yang lebih sempit dikemukakan oleh C. Pas, B.
Lowes, dan L. Davies yang mengertikan privatisasi sebagai denasionalisasi suatu
industri, mengubahnya dari kepemilikan pemerintah menjadi kepemilikan swasta.
Istilah privatisasi sering diartikan sebagai pemindahan kepemilikan industri
dari pemerintah ke sektor swasta yang berimplikasi kepada dominasi kepemilikan
saham akan berpindah ke pemegang saham swasta. Privatisasi adalah suatu
terminologi yang mencakup perubahan hubungan antara pemerintah dengan
sektor swasta, dimana perubahan yang paling signifikan adalah adanya
disnasionalisasi penjualan kepemilikan publik.
Dari berbagai definisi di atas, dapat diperoleh pengertian bahwa privatisasi
adalah pengalihan aset yang sebelumnya dikuasai oleh negara menjadi milik
swasta. Pengertian ini sesuai dengan yang termaktub dalam Undang-undang
Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN, yaitu penjualan saham persero, baik
sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan
kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat,
serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.
2.1.4 Tujuan Privatisasi
Pada dasarnya kebijakan privatisasi ditujukan untuk berbagai aspek
harapan, dilihat dari aspek keuangan, pembenahan internal manajemen (jasa dan
7

organisasi), ekonomi dan politik. Dari segi keuangan, privatisasi ditujukan untuk
meningkatkan penghasilan pemerintah terutama berkaitan dengan tingkat
perpajakan dan pengeluaran publik; mendorong keuangan swasta untuk
ditempatkan dalam investasi publik dalam skema infrastruktur utama; menghapus
jasa-jasa dari kontrol keuangan sektor publik.
Tujuan privatisasi dari sisi pembenahan internal manajemen (jasa dan
organisasi) yaitu:
1.

Meningkatkan efisiensi dan produktivitas;

2.

Mengurangi peran negara dalam pembuatan keputusan;

3.

Mendorong penetapan harga komersial, organisasi yang berorientasi pada


keuntungan dan perilaku bisnis yang menguntungkan;

4.

Meningkatkan pilihan bagi konsumen.


Dari sisi ekonomi, tujuan privatisasi yaitu :

1.

Memperluas kekuatan pasar dan meningkatkan persaingan;

2.

Mengurangi ukuran sektor publik dan membuka pasar baru untuk modal
swasta.
Tujuan dari segi politik yaitu :

1.

Mengendalikan kekuatan asosiasi/perkumpulan bidang usaha bisnis tertentu


dan memperbaiki pasar tenaga kerja agar lebih fleksibel;

2.

Mendorong kepemilikan saham untuk individu dan karyawan serta


memperluas kepemilikan kekayaan;

3.

Memperoleh dukungan politik dengan memenuhi permintaan industri dan


menciptakan kesempatan lebih banyak akumulasi modal spekulasi;

4.

Meningkatkan kemandirian dan individualisme.


Adapun tujuan pelaksanaan privatisasi sebagaimana tercantum dalam Pasal

74 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN adalah meningkatkan


kinerja dan nilai tambah perusahaan serta meningkatkan peran serta masyarakat
dalam pemilikan saham Persero. Penerbitan peraturan perundangan tentang
BUMN dimaksudkan untuk memperjelas landasan hukum dan menjadi pedoman
bagi berbagai pemangku kepentingan yang terkait serta sekaligus merupakan
upaya untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas BUMN.
8

Privatisasi bukan semata-mata kebijakan final, namun merupakan suatu


metode regulasi untuk mengatur aktivitas ekonomi sesuai mekanisme pasar.
Kebijakan privatisasi dianggap dapat membantu pemerintah dalam menopang
penerimaan negara dan menutupi defisit APBN sekaligus menjadikan BUMN
lebih efisien dan profitable dengan melibatkan pihak swasta di dalam
pengelolaannya sehingga membuka pintu bagi persaingan yang sehat dalam
perekonomian.
2.1.5 Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Privatsasi

perusahaan

diartikan

sebagai

setiap

tindakan

untuk

meningkatkan efesiensi dan produktivitas perusahaan, melalui perubahan status


hukum, organisasi dan pemilikan saham.
Pengertian privatisasi menurut Pasal 1 Point (12) Undang-undang No. 19
Tahun 2003 yaitu privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian
maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan
nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat serta
memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.
Menurut Mintzberg, privatisasi memiliki dua makna penting:
1. adanya political will dari pemerintah untuk menciptakan perusahaan
bagi pembiayaan pembangunan nasional;
2. privatisasi tidak hanya menyangkut masalah perubahan dalam srtuktur
formal organisasi (organizational redesign), tetapi juga meliputi aspek
yang lebih luas. Seperti perubahan status hukum, organisasi dan srtuktur
permodalan.
Dari sisi struktur formal organisasi, Mintzberg mengemukakan empat
aspek desain privatisasi beserta parameter-parameternya, yaitu:
1. Design of positions, dengan parameter; job specialitzation, behavior

formalization, trainning and indoctrimination;


2. Design of supersrtucture, dengan parameter unit grouping dan nit size;
3. Design of lateral linkage, dengan parameter planning and control system, dan

liasion devices;
4. Design of decision making system, dengan parameter vertical and horizontal

decntralization.
9

Sedangkan Obolensky menamakan privatisasi sebagai penataan kembali


(rekayasa ulang). Yakni usaha yang dilakukan organisasi untuk mengubah proses
dan kendali internal dari suatu hierarki vertikal fungsional yang tradisional
menjadi srtuktur pipih horisontal, lintas fungsional yang berlandaskan kerjasama
tim yang berfokus pada proses untuk membuat pelanggan nyaman. Intinya suatu
organisasi berbentuk cerobong harus secepatnyan diubah menjadi berbentuk
jaringan. Suatu tim-tim yang dapat terbentuk dan terurai lagi sementara orang
bekerja di lebih dari satu tim dengan berbagai peran berbeda pada saat yang
bersamaan.
Bennis dan Mische, rekayasa ulang adalah suatu proses yang mengubah
budaya organisasi dan menciptakan proses, sistem, struktur dan cara baru untuk
mengukur kinerja dan keberhasilan. Bagi Bennis dan Mische, privatisasi berarti
suatu upaya mengubah kinerja organisasi yang terukur dari segi kinerja
(performance) dan keberhasilan (output). Penilaian mereka atas privatisasi lebih
menekankan pada pendekatan kuantitatif
Savage, menyatakan bahwa privatisasi merupakan manajemen yang
berbasis kepada dynamic teaming, knowledge networking, cross border, atau out
of board, vertual enterprise. Hal itu mengisyaratkan bahwa dalam pengelolaan
organisasi pada zaman modern tidak dapat mengandalkan teknik-teknik
konvensional seperti struktur mekanistik maupun jalur-jalur berbelit-belit.
Organisasi harus diberlakukan secara luwes dan fleksibel, memperbesar
pendelegasian wewenang, memacu peran dan tanggung jawab staf fungsional
serta memiliki rentang kendali (spend of control) yang tidak terlalu panjang.
Latar belakang perlunya privaitsasi menurut Daft terletak pada sifat
dasar organisasi modern, baik di sektor publik maupun di sektor privat/bisnis
yang merupakan suatu sistem terbuka. Konsekuensi dari sistem terbuka dan agar
oganisasi (bisnis) tetap dapat eksis, maka harus mampu berinteraksi dengan
lingkungan serta kontinyu melakukan perubahan-perubahan sejalan dngan
perubahan yang terjadi di lingkungannya (misalnya: perubahan sebagai tuntutan
era perdagangan bebas dunia). Daft, menganjurkan setiap organisasi untuk dapat
menghadapi lingkungan yang bergolak dan tidak dapat dipastikan (diturbances or
turbullance and uncertainty), harus melakukan 4 (empat) hal:

10

1. Menemukan dan menentukan kebutuhan akan sumber daya;


2. Menafsirkan dan menentukan kabutuhan terhadap perubahan lingkungan;
3. Memacu pencapaian hasil atau produk;
4. Peningkatan pengawasan dan koordinasi kegiatan internal.
Suwarno, mengingatkan adanya enam faktor lingkungan strategis yang
harus diantisipasi oleh suatu organisasi agar dapat mempertahankan kinerja atau
produktivitasnya. Keenam faktor tersebut adalah lingkungan politik, ekonomi,
teknologi, sosial, hukum dan kependudukan. Adapun bentuk privatisasi
perusahaan berupa: kerjasama operasi atau kontrak manejemen, konsolidasi,
merger,

pemecahan

badan

usaha,

penjualan

saham

secara

langsung,

pembentukaan perusahaan patungan (joint venture).


Privatisasi terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menurut Hinsa,
dapat ditempuh melalui 7 (tujuh) metode yang dapat dipilih yaitu:
1. Penawaran saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada umum
(public offering of shares), baik secara parsial maupun secara penuh;
2. Penjualan saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada pihak
swasta (private sale of shares);
3. Penjualan aktiva Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada swasta
(sale government or state owned enterprise assets);
4. Reorganisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi beberapa
unit usaha (new private investment in an SOE);
5. Pembelian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) oleh manajemen atau
karyawan (manajemen employee buy out);
6. Kontrak sewa (lease contract)
7. Kontrak manejemen (management contract).
Tujuh bentuk privatisasi ini yang akan digunakan dalam mengulas bentuk
privatisasi pada PT Telekomunikasi Indonesia.
Hasil

privatisasi

Badan

Usaha

Milik

Negara

(BUMN)

adalah

meningkatnya kinerja perusahaan. Dengan meningkatnya kinerja berarti akan


meubah budaya perusahaan dalam memberikan pelayanan pada publik
Dengan demikian, diharapkan hasil privatisasi Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) akan merubah budaya yang ada dalam perusahaan. Perusahaan akan

11

menjadi perusahaan yang efisien dan mempunyai nilai tambah sehingga akan
berpengaruh terhadap kesejahteraan karyawan dan masyarakat.

BAB III
METODE PENULISAN
3.1

Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan merupakan metode deskriptif, yang berarti
dalam melakukan penulisan mengenai privatisasi harus dilihat permasalahan atau gap
antara kenyataan dan kebijakan tertulisnya.
Penulis juga menggunakan pendekatan metode kualitatif yaitu penelitian atau
penulisan yang menggunakan data kulaitatif dimana data tersebut berbentuk data,
kalimat, skema, dan gambar.

3.2

Jenis Data yang Digunakan


Jenis data yang digunakan adalah statistic maupun tulisan yang digunakan
sebagai informasi tambahan untuk memperkuat argumentasi dalam penulisan ini.
Penulisan ini menggunakan data sekunder dimana data berasal dari data-data
yang sudah jadi atau dipublikasikan untuk umum oleh instansi atau lembaga yang
mengumpulkan, negolah, dan menyajikan.
Data yang diambil tidak dari sumber langsung melainkan dari data yang diperoleh
dari buku, dokumen atau kuesioner yang telah dilakukan peneliti lain. Sumber-sumber
ini berupa buku, jurnal, majalah, Koran, internet, hasil penelitian dan penerbitanpenerbitan lainnya.

12

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA


(TELKOM)
Perusahaan Telekomunikasi sudah ada sejak masa Hindia Belanda dan yang
menyelenggarakan adalah pihak swasta. Sedangkan perusahaan Telekomunikasi
Indonesia (PT. TELKOM) sendiri juga termasuk bagian dari perusaahaan tersebut yang
mempunyai bentuk badan usaha Post-en Telegraaflent dengan Staats blaad No.52
tahun 1884. Dan sejak tahun 1905 perusahaan Telekomunikasi sudah berjumlah 38
peusahaan. Namun setelah itu pemerintah Hindia Belanda mengambil alih perusahaan
tersebut yang berdasar kepada Staatsblaad tahun 1906. Dan sejak itu berdirilah Post,
Telegraf en Telefoon Dients (PTTDients),dan perusahaan ini ditetapkan sebagai
Perusahaan Negara berdasar Staats blaad No.419 tahun 1927 tentang Indonesia
Bedrijven Weet (I.B.W Undang Undang Perusahaan Negara). Perusahaan PTT tesebut
bertahan sampai adanya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu)
No.19 tahun 1960 oleh Pemerintah Republik Indonesia, tentang adanya persyaratan
suatu Perusahaan Negara (PN). Tetapi pada tahun 1961 menurut Peraturan Pemerintah
No.240 bahwa Perusahaan Negara dilebur menjadi Perusahaan Negara Pos dan
Telekomunikasi yang dimuat dalam pasal 2 I.B.2, Namun pada tahun 1965 pemerintah
membagi perusahaan Pos dan Telekomunikasi menjadi dua bagian yang berdiri sendiri
yaitu Perusahaan Pos dan Giro (PN. Pos dan Giro) serta Perusahaan Negara
Telekomunikasi (PN. Telekomunikasi) yang sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah
No.30 tahun 1965. Dan perusahaan tersebut berkembang menjadi Perusahaan Umum
13

(Perum). Dalam Peraturan Pemerintah No.36 tahun 1974 dinyatakan bahwa Perum
Telekomunikasi sebagai penyelenggara jasa Telekomunikasi untuk umum baik
Telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri.
Perusahaan Umum (PERUM) Telekomunikasi merupakan penyelenggara jasa
telekomunikasi untuk umum, baik hubungan telekomunikasi dalam negeri maupun luar
negeri. Tentang hubungan telekomunikasi luar negeri saat itu juga diselenggarakan oleh
PT. Indonesia Satelite Corporation (INDOSAT), yang masih berstatus perusahaan asing
yakni dari American Cable and Radio Corp yaitu suatu perusahaan yang didirikan
berdasarkan peraturan negara bagian Delaware, USA. Seluruh saham PT Indosat
dengan modal asing ini pada tahun 1980 dibeli oleh Indonesia dari American Cable and
radio Corp. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1274
berdasarkan PP No. 53 tahun 1980, Perumtel ditetapkan sebagai badan usaha yang
berwenang menyelenggarakan telekomunikasi untuk umum dalam negeri dan Indosat
ditetapkan sebagai badan usaha penyelenggara telekomunikasi urnurn untuk
internasional. Memasuki Repelita V, pemerintah merasakan perlu percepatan
pembangunan telekomunikasi sebagai infrastruktur yang diharapkan dapat memacu
pembangunan sektor lainnya. Berdasarkan PP No. 15 tahUH 1991, maka Perum
dialihkan menjadi Perusahaan Perseroan (persero). Mengantisipasi era globalisasi,
seperti diterapkannya perdagangari bebas baik internasional maupun regional, maka PT
Telkom pada tahun 1995 melaksanakan 3 program besar.
Program-program tersebut adalah restrukturisasi internal, penerapan KSO dan
persiapan Go Public Internasional (International Public Offering).
Kronologi sejarah PT Telkom dijelaskan sebagai berikut :
1.

1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap dibentuk
pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

2.

1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur


layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegrap dan
(Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).

3.

1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan


berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.

4.

1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan


Telekomunikasi (PN Postel).

14

5.

1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos
dan Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).

6.

1974

PN

Telekomunikasi

disesuaikan

menjadi

Perusahaan

Umum

Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi


nasional maupun internasional.
7.

1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk


menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel.

8.

1989 Undang-undang No. 3 tahun 1989 tentang Telekomunikasi, tentang peran


serta swasta dalam penyelenggaraan Telekomunikasi.

9.

1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)


Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no. 25 tahun 1991.

10. 1995

Penawaran

Umum

perdana

saham

TELKOM

(Initial

Public

Offering) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham


TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa
Efek

Surabaya

(BES),

New

York

Stock

Exchange

(NYSE)

dan

London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa


pencatatan

(Public

Offering

Without

Listing)

di

Tokyo

Stock

Exchange.
11. 1996 Kerja sama Operasi (KSO) mulai diimplementasikan pada 1 Januari
1996 di wilayah Divisi Regional I Sumatra dengan mitra PT Pramindo Ikat
Nusantara (Pramindo); Divisi Regional III Jawa Barat dan Banten-dengan
mitra PT Aria West International (AriaWest); Divisi Regional IV Jawa Tengah
dan DI Yogyakarta - dengan mitra PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia
(MGTI); Divisi Regional VI 5 Kalimantan dengan mitra PT Dayamitra
Telekomunikasi (Dayamitra); dan Divisi Regional VII Kawasan Timur
Indonesia-dengan mitra PT Bukaka Singtel.
12. 1999 Undang-undang nomor 36/ 1999, tentang penghapusan monopoli
penyelenggaraan telekomunikasi.
13. 2001 KOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian
dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia,
yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan
silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan transaksi ini, TELKOM

15

menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM membeli 90,32% saham


Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam
laporan keuangan TELKOM.
14. 2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yaitu 30%
saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15
Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisa 55% saham pada
tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual 12,72% saham Telkomsel
kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65%
saham Telkomsel. Sejak Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan
telekomunikasi lokal.
15. Sejak 1 Juli 1995 PT. Telkom telah menghapus struktur wilayah usaha
telekomunikasi (WTTEL) dan secara de facto meresmikan dimulainya era
Divisi Network. Badan Usaha utama dikelola oleh 7 divisi regional dan 1
divisi network. Divisi regional menyelenggarakan jasa 6 telekomunikasi di
wilayah masing masing dan divisi network menyelenggarakan jasa
telekomunikasi jarak jauh luar negeri melalui pengoperasian jaringan transmisi
jalur utama nasional. Daerah regional. PT. Telkom mencakup wilayah-wilayah
yang dibagi sebagai berikut :
1.

Divisi Regional I, Sumatera.

2.

Divisi Regional II, Jakarta dan sekitarnya.

3.

Divisi Regional II, Jakarta dan sekitarnya.

4.

Divisi Regional III, Jawa Barat.

5.

Divisi Regional IV, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

6.

Divisi Regional V, Jawa Timur.

7.

Divisi Regional VI, Kalimantan.

8.

Divisi Regional VII, Kawasan timur Indonesia (Sulawesi, Bali, Nusa.

9.

Tenggara, Maluku dan Papua).

Masing-masing divisi dikelola oleh suatu tim manajemen yang terpisah


berdasarkan prinsip desentraiisasi serta bertindak sebagai pusat investasi
(Divisi Regional) dan pusat keuntungan (Divisi Network), serta divisi lainnya
yang mempunyai keuntungan internal secara terpisah. Divisi-divisi pendukung
terdiri dari divisi pelatihan, divisi properti, divisi sistem informasi.

16

Berdasarkan organisasi divisional ini, maka kantor pusat diubah menjadi pusat
biaya. Berlakunya kebijaksanaan dekonsentrasi menjadikan jumlah SDM
menjadi lebih sedikit.
4.2

PROFIL PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA


PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) adalah penyedia layanan
telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia. TELKOM menyediakan layanan
InfoComm, telepon tidak bergerak kabel (fixed wireline) dan telepon tidak bergerak
nirkabel (fixed wireless), layanan telepon seluler, data dan internet, serta jaringan dan
interkoneksi, baik secara langsung maupun melalui anak perusahaan.
Sampai dengan 31 Desember 2009, jumlah pelanggan TELKOM telah tumbuh
sebesar 21,2% atau menjadi 105,1 juta pelanggan. TELKOM melayani 8,4 juta
pelanggan telepon tidak bergerak kabel, 15,1 juta pelanggan telepon tidak bergerak
nirkabel, dan 81,6 juta pelanggan telepon seluler.
Sampai dengan 31 Desember 2009, sebagian besar dari saham biasa TELKOM
dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia dan sisanya dimiliki oleh pemegang
saham publik. Saham TELKOM diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI),
New York Stock Exchange (NYSE), London Stock Exchange (LSE) dan Tokyo
Stock Exchange (tanpa tercatat). Harga saham TELKOM di BEI pada akhir Desember
2009 adalah Rp9.450 dengan nilai kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir tahun
2009 mencapai Rp190.512 miliar atau 9,43% dari kapitalisasi pasar BEI.
Untuk menghadapi tantangan dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan
mobilitas dan konektivitas tanpa putus, TELKOM telah memperluas portofolio
bisnisnya yang mencakup telekomunikasi, informasi, media dan edutainment (TIME).
Dengan meningkatkan infrastruktur, memperluas teknologi Next Generation Network
(NGN) dan memobilisasi sinergi di seluruh jajaran TELKOM Group, TELKOM dapat
mewujudkan dan memberdayakan pelanggan ritel dan korporasi dengan memberikan
kualitas, kecepatan, kehandalan dan layanan pelanggan yang lebih baik.
Pada tahun 2009, laba bersih konsolidasian sebesar Rp11.332,1 miliar meningkat
6,7% dibanding tahun 2008 atau 100,8% terhadap target tahun 2009. Sementara itu
margin laba bersih kami sebesar 17,5% di tahun 2009 yang merupakan pencapaian
105,4% terhadap target margin laba bersih.
17

Prestasi keuangan tersebut didukung oleh kinerja operasional Telkom yang juga
solid. Saat ini kami melayani 105,2 juta pelanggan, dari bisnis seluler, telepon tidak
bergerak dan telepon tidak bergerak nirkabel. jumlah tersebut merupakan pencapaian
106% terhadap target perusahaan. Penambahan pelanggan kami dipimpin oleh bisnis
seluler yang bertambah 16,34 juta pelanggan atau pencapaian 162% terhadap target
perusahaan tahun 2009.
Operator Telekomunikasi, Informasi, Media dan Edutaintment (TIME)
Bisnis

TIME

di

perusahaan

ini

memiliki

rentang

dari penyelenggaraan Telekomunikasi berupa telepon (fixed wireline, fixed wireless


dan seluler), data dan internet, jasa jaringan dan interkoneksi, serta content/application.
Usaha tersebut dijalankan secara terfokus melalui induk maupun anak perusahaan.
Sampai 31 Desember 2009, jumlah pelanggan perusahaan tumbuh sebesar 21,2% atau
menjadi total 105,1 juta pelanggan dibandingkan setahun sebelumnya. Untuk telepon
saja, TELKOM melayani 8,4 juta pelanggan telepon tetap, 15,1 juta pelanggan telepon
tetap nirkabel, dan 81,6 juta pelanggan telepon seluler.
Posisi 31 Desember 2009, saham biasa TELKOM dimiliki oleh Pemerintah
Republik Indonesia (52,47%) dan sisanya dimiliki oleh pemegang saham publik (47,53
%). Saham TELKOM diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), New York
Stock Exchange (NYSE), London Stock Exchange (LSE) dan Tokyo Stock
Exchange (tanpa tercatat). Harga saham TELKOM di BEI pada akhir Desember 2009
adalah Rp 9.450 dengan nilai kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir tahun 2009
mencapai Rp190,51 trilliun atau 9,43% dari kapitalisasi pasar BEI.
Sasaran strategis perusahaan adalah meningkatkan infrastruktur, memperluas
teknologi Next Generation Network (NGN) dan melakukan sinergi di seluruh jajaran
TELKOM Group, sehingga pelanggan baik ritel terlebih korporasi dapat menikmati
kualitas, kecepatan, kehandalan dan layanan pelanggan yang lebih baik.
Pada tanggal yang sama, baik induk maupun anak perusahaan telah
dikonsolidasikan dalam satu laporan keuangan TELKOM tahun buku 2009.
Adapun kesembilan anak perusahaan tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia
International (TII,sebelumnya PT AriaWest international -AWI, 100% dimiliki
TELKOM), PT Mitratel (Mitratel, 100% dimiliki TELKOM), PT Pramindo Ikat
Nusantara (Pramindo, 100% dimiliki TELKOM), PT Telekomunikasi Seluler
18

(TELKOMsel, 65% dimiliki TELKOM), PT Multimedia Nusantara (Metra, 100%


dimiliki TELKOM), PT Infomedia Nusantara (Infomedia, 100%-dimiliki TELKOM,
melalui 49% kepemilikan Metra), PT Indonusa Telemedia (Indonusa, 100% dimiliki
TELKOM, melalui 1,25% kepemilikan Metra), PT Graha Sarana Duta (GSD, 99,99%
dimiliki TELKOM), dan PT Napsindo Primatel Internasional (Napsindo, 60%
dimiliki TELKOM). Selain itu untuk lebih memfokuskan bisnis, Metra juga telah
memiliki anak usaha lain diataranya adalah Sigma dan Finnet. (Portfolio perusahaan
dapat dilihat dibawah).
Bisnis Utama : Telekomunikasi International
PT. Telekomunikasi Indonesia International (TII) is the arm overseeing and
managing the overseas business of PT. Telekomunikasi Indonesia. Tbk (Telkom) and it
is driven to deliver value to its stakeholders in a highly competitive industry
environment.
TII as the wholly subsidiary of Telkom with its core business in international and
overseas

telecommunications

business

supports

the

development

of

the

telecommunications business in the Asia Pacific and beyond. As the member of Telkom
Group, TII will be fully supported by all members of Telkom Group in establishing and
dealing with the international business. Serving mainly the corporate market, TII is
committed to bringing the best services of global communications to customers in the
Asia Pacific and beyond. With significant operation in Indonesia and Singapore, the
company provides a comprehensive portfolio of services that include voice and data
and internet services. It has driven competition as the challenger brand and led the way
in technological innovations and breakthroughs.
TII represents Telkom in AAG (Asia America Gateway) Cable Network
Consortium which highly developed international network provides direct connections
from Indonesia to more than 100 countries, as well as second-to-third country
connectivity.
TII has signed an agreement to join a Consortium for Submarine Cable
Construction of South-East Asia Japan Cable System (SJC) in Honolulu USA on last
January 18, 2010. SJC will connect Singapore, Hong Kong, Japan and other Asian
countries. The Submarine Cable to be installed uses the newest Submarine Cable
technology with the capacity to transmit 64 WL (wave length) at each fiber pair and 40

19

Gbps per WL so that the SJC submarine cable will have design capacity 17 Terabyte
per second (Tbps) able to upgrade up to 23 Tbps.
TII business portfolio consists of three (3) major business groups as follows :
1. International Telecommunication Services
2. Investment and Strategic Partnership
3. Project Management and Consultancy

This business activity deals with investments and strategic alliances with
international and information and communication companies in the form of equity
participation, joint management, joint operations and financing. In 2009 TIIs revenue
grew by 51% from the dividends of its 31,500,000 shares (17.01%) in SCICOM (MSC)
Berhad, it invested USD 13.5 Million was invested in a Cable Landing Station for
TELIN Singapore, and increased capital by USD 12.5 Million. Since February 2008 TII
acquired a 9.8% share in SCICOM (MSC) Berhad, based in Malaysia, and in June 18,
2010 increased its holdings to 29.85%.
Project Management and Consultancy
TII provides a number of international Infocom companies with consultancy
services, access to Infocom professionals and Project Management services.
Bisnis Utama : MITRATEL : Tower & Infrastructure Provider
PT. Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) didirikan pada tahun 1995 berawal
dari perusahaan mitra KSO di wilayah Kalimantan dengan nama PT. Dayamitra
Malindo yang sahamnya dimiliki oleh beberapa perusahaan swasta nasional dan swasta
asing. Dalam perjalanannya kepemilikan saham telah mengalami beberapa kali
perubahan dan akhirnya pada tanggal 3 Desember 2004 saham Mitratel 100% dimiliki
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Sejak penghujung tahun 2007 Mitratel mengalami transformasi bisnis dengan
mulai memasuki bisnis penyediaan infrastruktur telekomunikasi yang salah satu
diantaranya berupa penyediaan menara telekomunikasi (tower provider) untuk
memenuhi kebutuhan penempatan BTS bagi para operator telekomunikasi di seluruh
wilayah Indonesia. Saat ini perusahaan telah menyediakan penyewaan tower untuk
beberapa operator telekomunikasi antara lain : Divisi Telkom Flexi, PT. Telkomsel, PT.
XL Axiata,Tbk, PT. Natrindo Telepon Seluler (NTS), PT. Hutchinson CP
Telecomunication, PT Bakrie Telecom,Tbk yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Jawa

20

Barat, Banten, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara ,Sumatra Utara, Sumatra Barat,Batam,
Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara,
Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara
Dengan memperhatikan perkembangan teknologi dan dinamika industri
telekomunikasi, Mitratel akan terus mengembangkan layanannya bukan hanya pada
penyediaan menara telekomunikasi macro namun sudah mulai dijajaki penyediaan
menara telekomunikasi microcell serta inbuilding coverage solution multi operator
(indoor antennapico). Kedepannya Mitratel akan masuk pula dalam bisnis penyediaan
BTS dan genset sebagai solusi alternatif bagi site-site yang belum dapat dilayani oleh
sambungan daya PLN setempat.
Dalam upaya mempercepat tercapainya sasaran perusahaan untuk menjadi
pemimpin dan penyedia jasa infra struktur telekomunikasi terbesar maka disamping
melakukan pembelian menara telekomunikasi melalui proses akuisisi.
Bisnis Utama : PRAMINDO : Kerjasama Operasi
PT Pramindo Ikat Nusantara (PRAMINDO) didirikan dengan Akte Notaris
Benny Kristianto, S.H., Nomor : 135 tanggal 17 Oktober 1995, berkedudukan di
Jakarta.
PRAMINDO pada awalnya didirikan dalam rangka untuk menyelenggarakan
Kerja Sama Operasi Telekomunikasi di wilayah Sumatera antara PRAMINDO
dengan PT Telekomunikasi Indonesia (TELKOM) yang dikenal sebagai Kerja Sama
Operasi (KSO) Repelita VI, untuk penyediaan fasilitas telekomunikasi di wilayah
Sumatera (disebut Unit KSO I).
Bisnis Utama : TELKOMSEL :Teknologi GSM
Telkomsel merupakan operator selular terkemuka di Indonesia yang dimiliki PT
Telkom dengan kepemilikan saham sebesar 65 persen dan SingTel sebesar 35 persen.
Hingga Juni 2010, Telkomsel dipercaya melayani 88,3 juta pelanggan,
menjadikan Telkomsel sebagai pemimpin pasar di industri telekomunikasi selular
dengan pangsa pasar sekitar 50 persen.
Sebagai operator selular yang memiliki visi Best and Leading Mobile Lifestyle
and Solutions Provider in the Region, Telkomsel menyediakan ragam pilihan layanan
yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan melalui produk pascabayar kartuHALO
maupun prabayar simPATI dan Kartu As.

21

Komitmen kuat Telkomsel dalam menghadirkan layanan mobile lifestyle yang


semakin berkualitas sangat jelas terlihat dengan secara konsisten mengimplementasikan
roadmap teknologi selular terkini, yakni 3G, HSDPA, HSPA, HSPA+, serta Long Term
Evolution. Tahun ini Telkomsel mengembangkan jaringan mobile broadband dengan
mencanangkan 24 kota besar sebagai broadband city.
Sebagai pemimpin di industri telekomunikasi selular, Telkomsel telah menggelar
34.000 Base Transceiver Station termasuk lebih dari 6.000 Node B yang menjangkau
95 persen wilayah populasi Indonesia. Seiring diselesaikannya program Universal
Service Obligation yang diamanahkan pemerintah untuk menggelar jaringan di 25.000
desa, maka layanan Telkomsel menjangkau hampir 100 persen wilayah populasi
Indonesia.
Bahkan kenyamanan berkomunikasi pelanggan Telkomsel yang sedang berada di
luar negeri tetap terjamin berkat dukungan 403 mitra operator international roaming
dan 300 mitra operator data roaming di lebih dari 200 negara di seluruh belahan dunia.
Bisnis Utama : METRA : Content & Application
PT Multimedia Nusantara (METRA), sejak tahun 2003, mayoritas sahamnya
(99,99%) dimiliki oleh PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM). METRA
diposisikan oleh TELKOM sebagai Strategic Investment Company dengan tujuan untuk
memperkuat

pilar

bisnis

new

wave TELKOM

yang

fokus

pada

industri

Informasi, Media dan Edutaintment (IME). Posisi ini menjadikan METRA menerapkan
strategi bertumbuh dengan cara Capture dan Nurture. Strategi Capture dilakukan untuk
mempersingkat waktu penyediaan portofolio dan strategi Nurture dilakukan dengan
pertimbangan bahwa tidak ada perusahaan sejenis di pasar dan METRA Group
memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis tersebut.
Portofolio bisnis yang dikelola METRA Group sampai dengan tahun 2009 terdiri
dari: Satellite Data Access Services, e-Payment, Application Services, IT Managed
Service, System Integration, Software Development, e-Commerce, Content, Contact
Center, Directory Services, Pay Televisi dan akan terus bertumbuh seiring dengan aksi
korporasi yang dilakukan METRA.
METRA memiliki 5 (lima) anak perusahaan yaitu: PT Finnet Indonesia, PT
Sigma Cipta Caraka, PT Indonusa Telemedia, PT METRA-NET dan PT Infomedia
Nusantara. Portofolio perusahaan, disamping dikelola oleh anak perusahaan, juga

22

dikelola melalui Strategic Business Unit, yaitu METRASAT dan METRASYS.


METRA menambah portofolio Integration Services dan SAP Consulting dengan
Lisensi dari SAP AG sebagai SAP Service Partner yang dikelola oleh METRASYS.
Sejak awal tahun 2009, METRA melakukan transformasi pengorganisasian
portofolio perusahaan melalui proses yang berkesinambungan. Dengan milestone
pencapaian tahunan, di mulai tahun 2009 sebagai tahap awal organisasi holding yang
fokus pada penyusunan tata kelola perusahaan, pengawakan organisasi dan
menjalankan fungsi- fungsi penilaian anak perusahaan dan Strategic Business Unit.
Tahun 2010 difokuskan pada realisasi sinergi go to market allignment dan integrasi
layanan didalam cakupan TELKOM Group. Tahun 2011 dan seterusnya direncanakan
bahwa METRA telah sampai pada posisi Strategic Guidance Holding Company untuk
pengelolaan anak perusahaan dan Strategic Business Unit.
Bisnis Utama : INFOMEDIA Information & Communication Services Solution
Tahun 1975 merupakan awal perjalanan usaha PT Infomedia Nusantara menjadi
perusahaan pertama penyedia layanan informasi telepon di Indonesia. Di bawah
subdivisi Elnusa GTDI dari anak perusahaan Pertamina, Infomedia telah menerbitkan
Buku Petunjuk Telepon Telkom Yellow Pages.
Perkembangan yang tercatat selanjutnya adalah berdirinya PT Elnusa Yellow
Pages di tahun 1984 yang berubah nama di tahun 1995 menjadi PT Infomedia
Nusantara pada saat PT Telkom Tbk menanamkan investasi. Untuk mendukung
implementasi Good Coorporate Governance dalam setiap aspek kegiatan perusahaan,
Infomedia telah mengeluarkan kebijakan pedoman tata kelola perusahaan di tahun
2008.
Pada tanggal 30 Juni 2009 PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) melalui PT
Multimedia Nusantara (Metra), anak perusahaan yang 99,99% milik Telkom
(selanjutnya disebut Telkom Group) telah menandatangani Shares Sales & Purchase
Agreement (SPA) untuk membeli 49% saham PT Infomedia Nusantara (Infomedia)
milik PT Elnusa Tbk (Elnusa), sehingga 100% saham PT Infomedia Nusantara telah
dimiliki oleh Telkom Group.
Saat ini, Infomedia, sesuai dengan visinya menjadi penyedia jasa layanan
informasi yang utama dikawasan regional telah melakukan berbagai upaya untuk
mewujudkan visi tersebut dengan mengoptimalkan kompetensi untuk mengambil

23

opportunity dalam pengembangan bisnis kedepan melalui transformasi bisnis dari 3


Pilar Bisnis ( Layanan Direktori, Layanan Contact Center dan Layanan Konten )
menuju Layanan Outsourcing atau Business Process Outsourcing ( BPO ) dan Layanan
Konten Digital atau Digital Rich Content ( DRC ).
Saat ini Infomedia telah membagi bisnis Layanan Outsourcing (BPO)
kedepannya dalam empat kelompok berdasarkan basis layanan yaitu: Contact Center
Services, HR Services, IT Services dan Direct Mail.
Sedangkan pengembangan bisnis Layanan Konten Digital (DRC) dibagi dalam 3
bagian, yaitu; printed (Yellow Pages, White Pages & Special Directory ) , mobile
(mobile application, SMS) dan online (online ad, e-commerce, membership).
Bisnis Utama : TELKOM VISION : TV Berbayar
Pada tanggal 07 Mei 1997, 4 (empat) perusahaan yaitu PT. Telekomunikasi
Indonesia, Tbk (35%), PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) (25%), PT.
Megacell Media (20%) dan PT. Datakom Asia (20%) sepakat mendirikan perusahaan
yang bergerak dalam bidang jasa Televisi berbayar dan Internet dengan nama PT.
Indonusa Telemedia (Telkomvision).
Perseroan dalam perjalannya mengalami perubahan kepemilikan saham dan
terakhir pada bulan Juni 2008 terjadi perubahan kepemilikan saham dari Datakom Asia
kepada PT. Multimedia Nusantara (METRA), sehingga Perseroan dimiliki 98,75% oleh
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dan 1,25% dimiliki oleh PT. Multimedia Nusantara
(METRA) langkah strategis ini selaras dengan tujuan TELKOMGroup dalam
mengembangkan lini bisnisnya dengan konsep TIME Telekomunikasi, Informasi,
Media dan Edutainment.
Sesuai tag line Perseroan ini baru beda, dalam pengelolaan bisnisnya
Telkomvision merupakan operator Pay TV pertama di Indonesia yang meluncurkan
produk DTH Prepaid (Pay TV Satellite Prepaid), dimana pelanggan dapat melakukan
pembelian voucher sesuai dengan pilihan content dengan harga yang sangat terjangkau
dan bebas mengisi voucher apa saja dan kapan saja
Perkembangan Perseroan juga menuntut pengembangan sumber daya manusia
baik jumlah maupun kualitasnya. Pada akhir tahun 2009 perseroan memiliki 334
karyawan yang sebelumnya di tahun 2008 berjumlah 233 yang tersebar diseluruh
Indonesia, dengan komposisi dari berbagai disiplin pendidikan dan keahlian dengan

24

komposisi terbesar adalah berusia produktif. Dalam rangka meningkatkan kompetensi


karyawan, perseroan telah membuat program pengembangan SDM dalam berbagai
bentuk untuk menstimulus peningkatan kinerja dan inovasi serta kreativitas guna
memajukan perseroan.
Bisnis Utama : GRAHA SARANA DUTA Properti
PT. Graha Sarana Duta (GSD) merupakan sebuah perusahaan properti terpadu
yang dimiliki oleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TELKOM) pada tahun 2001,
dengan porsi kepemilikan saham Telkom sebesar 99,9%.
Saat ini PT. GSD memiliki cakupan wilayah kerja di seluruh Indonesia dan
melakukan pengelolaan terhadap gedung-gedung perusahaan TelkomGroup seperti
gedung PT. Telekomunikasi Indonesia, PT. Telkomsel, PT. Infomedia dan PT. Metra.
Selain itu PT. GSD juga mengelola 106 lokasi gedung lain yang dimiliki oleh berbagai
bidang usaha di luar Telkomgroup seperti perkantoran, apartemen, mall, dan bandara
baik secara keseluruhan maupun secara parsial.
Dalam menjalankan bisnisnya PT. Graha Sarana Duta memiliki tiga portofolio
bisnis yaitu:
a. Pengelolaan Property
b. Pengelolaan Gedung (BM)
c. Penyewaan Gedung
d. PSM (Property Services Management)
e. Operasional Lainnya (Security, BTS, Mess & Billboard)
f. Project Management
g. Desain & Pembangunan Interior
h. Remote Control
i. Space Management
j. Pengelolaan BBM
k. Trading (termasuk dana talangan listrik)
l. Event Organizer
m. Pengembangan Property
n. Penjualan Perumahan (Real Estate)
o. Pembangunan Gedung/Construction Project
Bisnis Utama : SIGMA Solusi IT

25

PT Sigma Cipta Caraka (SIGMA) merupakan perusahaan penyedia layanan


pendukung bisnis berbasis teknologi informasi dan komunikasi terdepan yang sudah
berkiprah lebih dari 20 tahun di Indonesia.
SIGMA menawarkan layanan berbasis IT yang bervariasi, mulai dari layanan
konsultan, produk software, aplikasi, layanan pengembangan software serta operasi
pusat data diperbankan (baik yang berbasis konvensional maupun sharia), sector
keuangan, telekomunikasi, manufaktur serta distribusi.
Bisnis Utama : FINNET Sistem Pembayaran Elektronik
PT. Finnet Indonesia (FINANET) adalah anak perusahaan Telkom yang bergerak
di bidang sistem pembayaran elektronik. FINNAET didirikan oleh TELKOM dalam
bentuk Joint Venture Company antara anak perusahaan TELKOM yaitu PT. Multimedia
Nusantara (METRA) dengan PT. Mekar Prana Indah (MPI) yang sahamnya dimiliki
oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKBI) Adapun komposisi
kepemilikan antara METRA dan MPI adalah masing-masing 60% dan 40%
INISIATIF STRATEGIS
1.

Mengoptimalkan layanan jaringan telepon tidak bergerak kabel / fixed wireline


(FWL).

2.

Memperkuat & mengembangkan bisnis jaringan tidak bergerak nirkabel / fixed


wireless access ( FWA) dan mengelola portofolio nirkabel.

3.

Melakukan investasi pada jaringan pita lebar (broadband).

4.

Mengintegrasikan solusi enterprise dan berinvestasi di bisniswholesale.

5.

Mengintegrasikan Next Generation Network (NGN).

6.

Mengembangkan layanan teknologi informasi.

7.

Mengembangkan bisnis media dan edutainment.

8.

Merampingkan portofolio anak perusahaan.

9.

Menyelaraskan struktur bisnis dan pengelolaan portofolio.

10. Melakukan transformasi budaya perusahaan


Visi dan Misi PT Telkom Indonesia, Tbk.
26

VISI
Menjadi perusahaan yang unggul dalam penyelenggaraan Telecommunication,
Information, Media & Edutainment (TIME) di kawasan regional.

MISI

Menyediakan layanan TIME yang berkualitas tinggi dengan harga yang


kompetitif

Menjadi model pengelolaan korporasi terbaik di Indonesia.

Logo Perusahaan
Tanggal 23 Oktober 2009 yang lalu PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA
merayakan ulang tahunnya yang ke 153 tahun. Sekaligus pada tanggal tersebut
dilaksanakan soft lounching suatu transpormasi dan perubahan landscape bisnis
Telkom. Suatu perubahan landscape bisnis dari bisnis Informasi dan Komunikasi
menjadi Telecommunication, Information, Media and Education (TIME). Hal ini 8
dikukuhkan dengan poisoning Telkom yang baru yaitu life confident dengan
tagline-nya The World In your Hand.
Sebuah Logo akan menjadi suatu Brand Images dimanadari suatu perusahaan.
Sudah banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan tranformasi visi dan misi
melalui Logo. Contonhya Pertamina dan Telkom.
Logo juga bersifat persepsi kuat terhadap perusahaan. Adapun Logo dan arti dari
simbol-simbol tersebut yaitu :

Logo PT Telkom Indonesia, Tbk.

27

Sumber : www.telkom.co.id
1) Lingkaran
layanan

sebagai
dalam

simbol

dari

portofolio

kelengkapan

bisnis

baru

produk

Telkom

yaitu

dan
TIME

(Telecommunication, Information, Media & Edutainment). Expertise.


2) Tangan

yang

meraih

ke

luar.

Simbol

ini

mencerminkan

pertumbuhan dan ekspansi ke luar. Empowering.


3) Jemari

tangan.

Simbol

ini

memaknai

sebuah

kecermatan,

perhatian, serta kepercayaan dan hubungan yang erat. Assured.


4) Kombinasi
yang

tangan

maknanya

dan

lingkaran.

adalah

Simbol

perubahan

dan

dari

matahari

awal

yang

terbit
baru.

Progressive.
5) Telapak

tangan

yang

mencerminkan

kehidupan

untuk

menggapai

masa depan. Heart.


Selain itu warna-warna yang digunakan :
1. Expert

Blue

pada

teks

Telkom

melambangkan

keahlian

dan

suatu

yang

pengalaman yang tinggi.


2. Vital

Yellow

pada

telapak

tangan

mencerminkan

atraktif, hangat, dan dinamis.


3. Infinite

sky

mencerminkan

blue
inovasi

pada

teks

dan

Indonesia

peluang

yang

dan

lingkaran

bawah

tak

berhingga

untuk

masa depan.
Perubahan bisnis Telkom menyeluruh dan terintegrasi yang melibatkan empat
aspek dasar perusahaan. Yakni, tranformasi bisnis, infrastruktur, system dan model
operasi, serta transformasi dumber daya manusia, yang penting dalam melakukan
tranformasi bisnis ini yang tetap menjadi patokan adalah pelanggan.
Struktur Organisasi Perusahaan

28

Sumber : www.telkom.co.id
4.3

BADAN HUKUM PERUSAHAAN


Badan hukum TELKOM adalah Perseroan Terbatas (PT), dulu disebut juga
Naamloze Vennootschaap (NV), adalah suatu persekutuan untuk menjalankan usaha
yang memiliki modal terdiri dari saham-saham, yang pemiliknya memiliki bagian
29

sebanyak saham yang dimilikinya. Karena modalnya terdiri dari sahamsaham yang
dapat diperjual-belikan, perubahan kepemilikan perusahaan dapat dilakukan tanpa perlu
membubarkan perusahaan. Perseroan terbatas merupakan badan usaha dan besarnya
modal perseroan tercantum dalam anggaran dasar.
Kekayaan perusahaan terpisah dari kekayaan pribadi pemilik perusahaan
sehingga memiliki harta kekayaan sendiri. Setiap orang dapat memiliki lebih dari satu
saham yang menjadi bukti pemilikan perusahaan.
Pemilik saham mempunyai tanggung jawab yang terbatas, yaitu sebanyak saham
yang dimiliki. Apabila utang perusahaan melebihi kekayaan perusahaan, maka
kelebihan utang tersebut tidak menjadi tanggung jawab para pemegang saham. Apabila
perusahaan mendapat keuntungan maka keuntungan tersebut dibagikan sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan. Pemilik saham akan memperoleh bagian keuntungan yang
disebut dividen yang besarnya tergantung pada besar-kecilnya keuntungan yang
diperoleh perseroan terbatas.
Selain berasal dari saham, modal PT dapat pula berasal dari obligasi. Keuntungan
yang diperoleh para pemilik obligasi adalah mereka mendapatkan bunga tetap tanpa
menghiraukan untung atau ruginya perseroan terbatas tersebut.
Komposisi Pemegang Saham :

1 lembar saham Seri A Dwiwarna dan 79.999.999.999 lembar saham Seri B (saham

biasa)
Modal Dasar Perseroan :

Komposisi Pemegang Saham TELKOM pada tanggal 31 Desember 2009


Saham Seri A
Dwiwarna

Pemerintah Republik Indonesia

Saham Seri B (Saham


Biasa)
1

Publik

10.320.470.711 52,47
9.348.954.068 47,53

Sub Total modal (ditempatkan,dan disetor


penuh)

Saham Treasuri (Saham yang dibeli


kembali)
Total

1
30

19.669.424.779

100,0
0

490.574.500

20.159.999.279 100,0

Pemerintah Republik Indonesia (Pemerintah) memiliki satu lembar saham Seri A


Dwiwarna, yang memiliki hak suara istimewa. Hak-hak material dan batasanbatasan
yang terdapat pada saham biasa, juga berlaku pada saham Dwiwarna kecuali
Pemerintah tidak dapat mengalihkan saham Dwiwarna, memiliki hak veto berkaitan
dengan pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Dewan Komisaris, penerbitan
saham baru dan perubahan Anggaran Dasar Perusahaan, termasuk perubahan untuk
menggabungkan atau membubarkan perusahaan sebelum masa berlakunya berakhir,
menambah atau mengurangi modal dasar dan mengurangi saham yang dipesan
(subscribed capital).

Pemegang Saham TELKOM dengan kepemilikan lebih dari 5% dan Jumlah


Saham yang Dimiliki Dewan Komisaris dan Direksi, sampai dengan 31 Desember
2009
Identitas Orang atau
Kelompok

Jenis Saham

Jumlah Saham yang


Dimiliki

Persentase saham
(%)

Seri A

Pemerintah

Seri B

Pemerintah

10.320.470.711

52,47

Seri B

Direksi

23.112

<0,01

Pemegang Saham Biasa TELKOM Dengan Kepemilikan Perorangan Kurang Dari


5% Pada Tanggal 31 Desember 2009
Kelompok

Perorangan
Indonesia

Jumlah Saham Biasa yang


Dimiliki

Persentase (%) Kepemilikan Saham


Biasa Beredar

109.881.600

0,56

14.316.126

0,07

Koperasi

657.220

Yayasan

9.953.880

0,05

186.820.440

0,95

Karyawan-Lokal

Dana Pensiun

31

Perusahaan

260.074.040

1,32

252.364

310.629.646

1,58

4.320

Danareksa

32.000

Reksadana

446.830.660

2,27

4.871.796

0,02

Badan Usaha Asing

8.004.606.864

40,70

Total

9.348.930.956

47,53

Bank
Perseroan Terbatas
Badan Usaha Lainnya

Perorangan Asing

Dimuat pada tanggal 26 April, 2010


Sumber: Laporan Tahunan TELKOM 2009 (disampaikan kepada Bapemam-LK pada
tanggal 8 April 2010)

4.4

LATAR BELAKANG PT TELKOM, Tbk. MELAKUKAN PRIVATISASI


Berjalannya waktu dunia mengalami perkembangan di dalam bidang teknologi
telekomunikasi mengalami perkembangan yang membawa telekomunikasi ke tingkat
selanjutnya. Di awali dengan kemunculannya telfon seluler yang dapat melakukan
komunikasi secara mobile serta internet. Masuknya teknologi tersebut membuat
perubahan pada regulasi telekomunikasi yang pada awalnya menggunakan UU no 3
tahun 1989 menjadi UU no 36 tahun 1999 yang terus digunakan sampai saat ini.
Indonesia meubah UU telekomunikasinya bukan hanya karena teknologi saja.
Semua diawali dengan Indonesia yang memutuskan untuk melakukan globalisasi.
Apabila sebuah negara melakukan globalisasi maka negara tersebut diharuskan untuk
menghapus praktek monopoli. Peraturan mengenai monopoli ada pada UU no 5 tahun
1999.
Melihat besarnya dampak yang dihasilkan oleh perkembangan kebutuhan akan
komunikasi, dan perkembangan teknologi di Indonesia. Membuat pemerintah harus

32

melakukan Perubahan regulasi telekomunikasi. Untuk menyesuaikan dengan kondisi


yang ada.
Mengikuti

keluarnya

undang

undang

mengenai

monopoli

pemerintah

mengeluarkan UU no 36 tahun 1999. Perubahan kondisi pertelekomunikasiaan


Indonesia sangat dipengaruhi oleh UU no 36 tahun 1999 yang menggantikan UU no 3
tahun 1989. Karena dengan munculnya UU tersebut bermunculan pesaing-pesaing yang
selama ini tidak ada.
Berikut ini adalah perbedaan fundamental antara UU no 3 tahun 1989 dengan UU
no 36 tahun 1999.

Akibat regulasi yang juga ikut beubah. PT.Telkom merupakan perusahan BUMN
yang bergerak dibidang penyedia jasa telekomuniksai di Indonesia. Sebagai pemain
tunggal di pasar telekomunkiasi Indonesia mau tidak mau harus mengalami perubahan.
Perubahan tersebut berdampak sangat besar kepada PT.Telkom yang awalnya dia
merupakan pihak yang memonopoli pasar telekomunikasi di Indonesia. Perubahan dan
perkembangan yang sangat signifikan bagi PT.Telkom.TBK.
Karena adanya perubahan yang sangat besar tentu saja PT. Telkom merespon
perubahan yang terjadi dengan berbagai strategi diantaranya, adalah mendirikan anak
33

perusahaan yang bergerak pada bidang Seluler. Perkembangan teknologi dan


perkembangan permintaan dari masyarakan disertai dengan perubahan UU mengenai
telekomunikasi di Indonesia membuat PT.telkom mengadakan perubahan di dalam core
bisnisnya. Yang selama ini hanyam memfokuskan pada sambungan fixed wiredline
berubah menjadi komunikasi data dan juga komunikasi wireless. Regulasi juga
menyebabkan PT.Telkom menghadapi pasar persaingan yang pada awalnya PT.Telkom
sebagai pemonopoli di pasar telekomunikasi Indonesia. Perubahan fokus bisnis ini
disebabkan oleh tuntutan yang harus dipenuhi agar PT.Telkom dapat bertahan di era
persaingan antar operator yang semakin ketat.
Perubahan didalam PT. Telkom sangat dipengaruhi oleh keluarnya UU No 36
tahun 1999. Yang menyebabkan posisi PT.Telkom yang awalnya sebagai yang
memonopoli pasar menjadi

Incombent yang wajib memberikan

sambungan

interkoneksi kepada new enterance. Perubahan fokus bisnis ini tentu saja tidak semudah
yang dipikirkan orang kebanyakan. Perubahan yang terjadi karena regulasi yang
berlaku. Membuat PT.Telkom harus merubah core bisnis yang sudah bertahan selama
puluhan tahun. Semuanya bermulai ketika terjadinya perubahan kebutuhan. Jenis
telekomunikasi yang pada awalnya hanya komunikasi suara menjadi komunikasi data.
Serta perubahan didalam regulasi yang mengimbangi dari perubahan berdasarkan
kebutuhan konsumen, dan juga pertembangan teknologi.
Perubahan kebutuhan PT.Telkom melakukan perubanan yang sangat besar dan
mendasar. Perubahan tersebut dapat dilihat yaitu dengan TIME yang menjadi pusat
bisnis dari Telkom. TIME singkatan dari Telecommunication, Information, Media &
Edutainment. Hal ini disebabkan tuntutan kebutuhan konsumen yang haus akan
informasi dan entertainment lewat media telekomunikasi data. TIME menjadi core
bisnis dan serta menjadi identitas baru dari bisnis telekomunikasi PT.Telkom. Dalam
konteks bisnis telekomunikasi-informatika di Indonesia.
4.5

KINERJA PT TELKOM, Tbk. SEBELUM DAN SESUDAH PRIVATISASI


4.5.1

Kinerja Operasi (Jaringan dan Pelayanan)


Kinerja operasi dapat dinilai dari beragam kriteria tetapi pada kesempatan ini
digunakan (i) penambahan kapasitas telepon; (ii) keberhasilan panggil; (iii)
jumlah dan produktivitas pegawai.

34

A. Kapasitas Telepon Sebelum privatisasi (1995) penambahan kapasitas


telepon per tahun mencapai 937.700 SST. Setelah privatisasi (1996 dan
1997) kapasitas telepon tetap bertambah tetapi dengan laju pertumbuhan
yang berbeda. Pada tahun 1996, tambahan kapasitas telepon mencapai
1.341.549 SST dan dari tahun ketahun meningkat.
B. Keberhasilan

Panggil

Keberhasilan

panggil

menunjukkan

tingkat

keberhasilan tersambung untuk setiap panggilan. Untuk Sambungan


Langsung Jarak Jauh (SLJJ), menunjukkan peningkatan yaitu sebelum
privatisasi (1995) mencapai 47,6% dan setelah privatisasi mencapai 53,2%
(1996) dan selalu meningkat. Demikian pula halnya untuk sambungan lokal
menunjukkan peningkatan yaitu sebelum privatisasi (1995) mencapai
55,2% dan setelah privatisasi mencapai lebih dari 59,4% (1997) pada tahun
2016.
C. Produktivitas Pegawai Produktivitas pegawai diukur dari kemampuan
karyawan melayani SST. Sebelum privatisasi (1995) tingkat produktifitas
mencapai

111,2

SST/karyawan.

Setelah

privatisasi

menunjukkan

peningkatan menjadi 131,2 SST/karyawan (1996) dan selalu meningkat


hingga sekarang.
4.5.2

Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan dapat diukur dari beragam kriteria dan kriteria yang paling
sering dipergunakan adalah Rentabilitas, Likuiditas dan Solvabilitas (RLS).
A. Kemampulabaan

(Rentabilitas)

Kemampuan

PT.

Telkom

dalam

menghasilkan keuntungan dapat diukur dengan beragam rasio tetapi saat ini
hanya

dipergunakan

(empat)

rasio

yaitu

(i)

Return

on

Asset ROA (rasio laba bersih/aset); (ii) Return on Equity ROE (rasio
laba bersih/modal); (iii) Profit margin (rasio laba bersih/penjualan); (iv)
Cost to sale (rasio biaya/penjualan).
b. Solvabilitas adalah rasio kewajiban perusahaan terhadap jumlah aset atau
modalnya. Berdasar rasio ini dapat diketahui tingkat ketergantungan Telkom
pada sumber pembiayaan dari hutang, baik yang berasal dari luar maupun
pemilik saham. Terdapat 5 (lima) kriteria rasio yang dipergunakan yaitu (I)
hutang jangka panjang terhadap total aset; (ii) total hutang terhadap total aset;

35

(iii) hutang jangka panjang terhadap modal; (iv) total hutang terhadap modal;
(v) hutang jangka panjang terhadap total hutang. Berdasar kriteria di atas maka
dapat disimpulkan beberapa hal yaitu (i) Rasio hutang jangka panjang
terhadap aset, rasio total hutang terhadap aset dan rasio hutang jangka panjang
terhadap total hutang relatif sama, baik sebelum dan setelah privatisasi; (ii)
Dilain pihak, rasio hutang jangka panjang terhadap modal dan rasio total
hutang terhadap modal cenderung berfluktuasi. Setelah privatisasi (1996)
menurun lalu meningkat kembali (1997).
c. Likuiditas Likuiditas dimaksudkan sebagai kriteria dalam menentukan
kemampuan membayar kewajiban-kewajibannya tepat pada waktunya, yang
diukur dari berbagai rasio yaitu (i) current ratio (rasio aset/kewajiban lancar);
(ii) quick ratio (rasio (aset persediaan)/kewajiban lancar); (iii) Cash ratio
(rasio dana tunai/kewajiban lancar); (iv) Cash to operating expenses (rasio
tunai/total pengeluaran operasional). Berdasar beberapa rasio di atas maka
dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu (I) cash ratio dan cash to operating
expenses menunjukkan perbaikan setelah privatisasi
d. Efisiensi Efisiensi diukur dengan 3 (tiga) rasio yaitu (i) pendapatan per
karyawan; (ii) pendapatan per sst; (iii) biaya pemeliharaan per sst. Dari ketiga
rasio di atas, (i) pendapatan per sst dan biaya pemeliharaan menunjukkan
penurunan setelah privatisasi. Namun tentunya penurunan biaya pemeliharaan
merupakan hal yang positip sementara penurunan pendapatan per sst bukan
hal yang diharapkan; (ii) pendapatan per karyawan menunjukkan peningkatan
setelah privatisasi.
4.6

Dampak Privatisasi
Pada dasarnya kajian sebelumnya dapat juga menjadi kriteria dalam menilai
dampak privatisasi, tetapi sebagaimana dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa
penilaian kinerja dengan dasar RLS dan aspek lain yang bersifat internal kurang dapat
menggambarkan dampak privatisasi khususnya jika dikaitkan dengan pemikiran bahwa
BUMN merupakan perusahaan milik negara.
Konsekuensinya dampak privatisasi BUMN harus dititikberatkan pada aspek
eksternalnya. Beberapa dampak yang akan ditinjau adalah (i) nilai tambah dan efisiensi;

36

(ii) tenaga kerja; (iii) gaji dan upah; (iv) surplus sosial; (v) anggaran; (vi) tabungan dan
konsumsi.
4.6.1

Nilai Tambah dan Efisiensi.


Pada bagian ini akan dibahas tentang nilai tambah dan efisiensi sebagai kriteria
dasar menilai dampak privatisasi. Jikalau rasio nilai tambah dan efisiensi
melebihi 1, maka barulah dampak makro dapat kita perhitungkan.
Nilai Tambah Nilai tambah adalah gaji dan upah yang diterima karyawan
ditambah dengan surplus sosial yang berupa pajak, dividen, laba diatahan dan
bantuan sosial. Konsep yang dipergunakan adalah melakukan perbandingan
antara nilai tambah setelah privatisasi dan sebelum privatisasi. Berdasar hasil
perhitungan, maka terlihat bahwa rasio nilai tambah melebihi 1, baik untuk
tahun 1996 sebesar 1,05 maupun tahun 1997 sebesar 1,11. Walaupun nilainya
hanya sedikit di atas 1, tetapi hal ini telah menunjukkan bahwa kondisi setelah
privatisasi lebih baik dari sebelum privatisasi.

4.6.2

Nilai Tambah Agregat


Secara umum nilai tambah agregat dimaksudkan sebagai perbedaan antara
output dan input setelah memperhitungkan depresiasi. Dampak privatisasi
terhadap nilai tambah agregat berupa dampak langsung, dan tidak langsung.
Dampak keseluruhan merupakan penjumlahan dari dampak langsung dan tidak
langsung Total dampak privatisasi terhadap nilai tambah agregat mencapai Rp.
2,15 Triliun (1996) dan Rp 3,05 Triliun (1997).

4.6.3

Tenaga Kerja
Dampak privatisasi terhadap tenaga kerja berupa dampak langsung dan tidak
langsung. Dampak langsung adalah dampak terhadap perubahan jumlah
karyawan internal Telkom, sementara dampak tidak langsung berupa
penambahan tenaga kerja di sektor telekomunikasi.
Dampak tidak langusng sebenarnya juga mencakup sektor publik, tetapi
dengan mempertimbangkan bahwa pemerintah menetapkan kebijakan tidak
menambah pegawai kecuali mengganti yang pensiun, maka dampak terhadap
sektor publik diabaikan.

37

Dampak keseluruhan terhadap tenaga kerja setelah privatisasi berupa


penambahan tenaga kerja sebanyak 165 orang (1996) dan meningkat menjadi
1.076 orang pada tahun 1997.
4.6.4

Gaji dan Upah


Dampak privatisasi terhadap gaji dan upah berupa dampak langsung dan tidak
langsung. Dampak langsung berupa dampak terhadap perubahan gaji dan upah
internal Telkom, sementara dampak tidak langsung diperhitungkan terhadap
kondisi gaji dan upah. seperti dampak terhadap tenaga kerja, maka dampak
terhadap gaji dan upah juga mengabaikan dampak terhadap sektor publik.

4.6.5

Surplus Sosial
Surplus sosial menunjukkan perbedaan yang besar antara kondisi setelah dan
sebelum privatisasi. Pada tahun 1996 perbedaan tersebut mencapai Rp. 1,5
Triliun dan meningkat menjadi Rp. 2,23 Triliun pada tahun 1997. Dan pada
tahun 2015-2016 banyak kegiatan bagi masyarakat katena surplus social yang
semakin tinggi.

4.6.6

Anggaran Dampak
Anggaran dimaksudkan sebagai penerimaan bersih pemerintah setelah
privatisasi dengan mengabaikan jumlah penerimaan hasil penjualan saham.
Penerimaan bersih mempertimbangkan subsidi yang diberikan pemerintah,
hutang Telkom pada pemerintah dan pajak yang diterima.

4.6.7

Tabungan dan Konsumsi


Tabungan dan konsumsi diperhitungkan berdasar perubahan nilai tambah.
Sebagian terbesar nilai tambah dipergunakan untuk konsumsi dan sisanya
untuk tabungan. Pembagian dana untuk tabungan dan konsumsi menggunakan
angka marginal propensity to consume(MPC)) dan marginal propensity to save
(MPS)

4.7

Fakta Penting tentang Kinerja dan Dampak Privatisasi


Berdasar pada hasil kajian kinerja dan dampak pada bagian sebelumnya maka
secara keseluruhan dapat dirangkum beberapa hal yaitu (i) Kinerja operasi
menunjukkan peningkatan baik sebelum privatisasi dan sesudah privatisasi; (ii) kinerja
keuangan menunjukkan peningkatan setelah privatisasi; (iii) Dampak privatisasi
menunjukkan hasil yang baik setelah privatisasi.
38

PROFIL KINERJA DAN DAMPAK PRIVATISASI


No
1
2
3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

1
2
1
2
3
4
5
6

Kinerja dan Dampak


KINERJA
Kinerja Operasi
Kapasitas Telepon
Keberhasilan Panggil
Produktifitas Karyawan
Kinerja Keuangan
ROA
ROE
Profit Margin
Proporsi Biaya
Hutang Jangka Panjang (Asset)
Hutang Jangka Panjang (Modal)
Current Ratio
Quick Ratio
Cash Ratio
Cash to Operating Expenses
Pendapatan (Karyawan)
Pendapatan/sst
Biaya pemeliharaan/ sst
DAMPAK
Kriteria Dasar
Nilai Tambah
Efisiensi
Dampak Makro
Nilai Tambah Agregat
Tenaga Kerja
Gaji dan upah
Surplus Sosial
Anggaran
Konsumsi dan Tabungan

Keterangan:
= Meningkat
o = Menurun

39

Sebelum Privatisasi

Setelah Privatisasi

o
o

o
o

o
o
o
o
o
o

BAB V
PENUTUP
5.1

KESIMPULAN
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah adalah suatu badan usaha yang
berbaju kekuasaan pemerintah, tetapi mempunyai fleksibilitas dan inisiatif sebagai
perusahaan swasta.
Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN ada dua tujuan utama, yaitu tujuan
yang bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial. Tujuan yang bersifat ekonomi,
BUMN dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai
pihak-pihak tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak,
seperti perusahaan listrik, minyak dan gas bumi.
Tujuan BUMN yang bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui penciptaan
lapangan kerja serta upaya untuk membangkitkan perekonomian lokal. Penciptaan
lapangan kerja dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN. Upaya untuk
membangkitkan perekonomian lokal dapat dicapai dengan jalan mengikut-sertakan
masyarakat sebagai mitra kerja dalam mendukung kelancaran proses kegiatan usaha.
Dan salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk dapat meningkatkan
pendapatannya adalah dengan melakukan privatisasi BUMN seperti yang dilakukan
atau ditempuh oleh PT. Telekomunikasi Indonesia.
PT

Telekomunikasi

penyelenggara

bisnis

Indonesia,

T.I.M.E

Tbk.

(TELKOM)

(Telecommunication,

adalah

Information,

perusahaan
Media

and

Edutainmet) terbesar di Indonesia. Dengan portofolio yang terdiri dari sembilan anak
perusahaan konsolidasi yang bergerak di bidang telepon tidak bergerak, seluler,
aplikasi, konten, komunikasi data, property dan konstruksi, Telkom Group adalah salah
satu dari perusahaan BUMN terbesar di Indonesia, yang memiliki sekitar Rp.139.104
40

miliar kapitalisasi pasar di BEI pada akhir tahun 2008. Telkom adalah pemain paling
dominan dalam industri telekomunikasi.
Privatisasi PT. Telkom ini dipengaruhi oleh keluarnya undang undang mengenai
monopoli pemerintah mengeluarkan UU no 36 tahun 1999. Perubahan kondisi
pertelekomunikasiaan Indonesia sangat dipengaruhi oleh UU no 36 tahun 1999 yang
menggantikan UU no 3tahun 1989. Karena dengan munculnya UU tersebut
bermunculan pesaing-pesaing yang selama ini tidak ada.
Dengan berubahnya kepemilikan Pt Telkom, maka menimbulkan beberapa
dampak dan perubahan kinerja PT Telkom sebelum dan sesudah di privatisasi.
5.2

SARAN
Saran yang dapat penulis berikan ialah Pemerintah dalam hal ini Menteri Negara
BUMN, seyogyanya mempersiapkan diri dalam rangka pergeseran peran dari penentu
kebijakan dan pelaksana kegiatan di BUMN menjadi fasilitator dan regulator kegiatan
BUMN yang telah di privatisasi.

41

DAFTAR PUSTAKA
Ardian, M. Fazri. 2012. PERANAN REGULASI TERHADAP PERUBAHAN BISNIS PT.
TELKOM. Tugas Akhir

Manajemen

(Manajemen

Bisnis Telekomunikasi

&

Informatika), Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Telkom


Dewi Hanggraeni. Apakah Privatisasi BUMN Solusi yang Tepat Dalam Meningkatkan
Kinerja?, Artikel dalam Manajemen Usahawan Indonesia No.6 Tahun 2009
Indra Bastian. 2002. Privatisasi di Indonesia : Teori dan Implemantasi. Salemba Empat :
Jakarta
Mungkasa, Oswar. 2009. Dampak Privatisasi di Indonesia: Studi Kasus: Dampak Privatisasi
PT. Telekomunikasi Indonesia
PT. Telekomunikasi Indonesia. Data Perusahaan/ Sejarah Perusahaan. (Di unduh dari
http://telkom.com pada hari minggu, 1 Mei 2016 pukul 15.00 WIB)
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN
Situs yang diakses:
Situs resmi PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. http://telkom.com

42

43