Anda di halaman 1dari 2

Pengertian Standar Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit - Rumah sakit sebagai sarana kesehatan yang

memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam
mempercepat peningkatan derajat kesehatan kesehatan masyarakat. Rumah sakit dituntut untuk
memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat dijangkau seluruh
lapisan
masyarakat.
Menurut Para ahli Standar adalah keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang
dipergunakan sebagai batas penerimaan minimal (Clinical Practice Guideline, 1990 dalam Azwar, 1996).
Pengertian Standar adalah rumusan tentang penampilan atau nilai diinginkan yang mampu dicapai,
berkaitan dengan parameter yang telah ditetapkan (Donabedian, 1980 dalam Azwar, 1996).
Definisi Standar adalah spesifikasi dari fungsi atau tujuan yang harus dipenuhi oleh suatu sarana
pelayanan agar pemakai jasa dapat memperoleh keuntungan yang maksimal dari pelayanan yang
diselenggarakan (Rowland dan Rowland, 1983 dalam Azwar, 1996).
Keputusan Menteri Kesehatan no. 228 tahun 2002 menyatakan bahwa standar adalah spesifikasi teknis
atau sesuatu yang dibakukan sebagai patokan dalam melakukan kegiatan. Standar ini dapat ditentukan
berdasarkan kesepakatan propinsi, kabupaten/kota sesuai dengan evidence base. Standar pelayanan rumah
sakit daerah adalah penyelenggaraan pelayanan manajemen rumah sakit, pelayanan medik, pelayanan
penunjang dan pelayanan keperawatan, baik rawat inap maupun rawat jalan yang minimal harus
diselenggarakan
oleh
rumah
sakit.
Standar pelayanan dokter/dokter gigi yang harus diatur adalah standar pelayanan yang diberikan secara
langsung oleh dokter kepada pasien, terlepas dari strata unit pelayanan tempat dia bekerja. Masalah
keterbatasan sarana dan teknologi hanya menjadi pertimbangan ketika kelak terjadi penyimpangan
(Mohamad,
2005).
Standar pelayanan yang digunakan harus sesuai dengan standar profesi yang berlaku dan kode etik
kedokteran saat ini. Setiap rumah sakit gigi dan mulut dalam memberikan pelayanan mempunyai
kewajiban untuk melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar profesi kedokteran gigi yang ditetapkan.
Standar profesi berdasarkan Undang-Undang No.23 Tahun 1992 adalah pedoman yang harus dipergunakan
sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik. Tenaga kesehatan yang berhadapan dengan
pasien seperti dokter dan perawat dalam melaksanakan tugasnya harus menghormati hak pasien. Hak
pasien adalah hak informasi, hak untuk memberikan persetujuan, hak atas rahasia kedokteran dan hak atas
pendapat kedua (second opinion) (Nasution, 2005). Setiap RSGM dalam memberikan pelayanan
mempunyai kewajiban-kewajiban, salah satunya adalah melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar
pelayanan RSGM dan standar profesi kedokteran gigi yang ditetapkan.
Pelayanan kesehatan adalah suatu sistem lembaga, orang, tekonologi dan sumber daya yang dirancang
untuk meningkatkan status kesehatan suatu populasi, misalnya pencegahan, promosi, pengobatan dan
sebagainya (Adikoesoemo, 1997).
Standar pelayanan yang harus dimiliki oleh rumah sakit menurut Azwar (1996) adalah sebagai berikut:

Pelayanan farmasi harus dilakukan dibawah pengawasan tenaga ahli farmasi yang baik

Rumah sakit harus menyediakan pelayanan laboratorium patologi anatomi dan patologi klinik

Rumah sakit harus menyediakan ruang bedah lengkap dengan fasilitasnya

Rumah sakit harus dibangun, dilengkapi dan dipelihara dengan baik untuk menjamin kesehatan
dan keselamatan pasiennya.
Crosby dalam Azwar (1997) menyatakan bahwa mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah
ditetapkan, sedangkan Aditama (2002) menyatakan bahwa mutu adalah pelayanan yang mengacu pada
kemampuan rumah sakit memberi pelayanan yang sesuai dengan standar profesi kesehatan dan dapat
diterima
oleh
pasiennya.
Mutu pelayanan hanya dapat diketahui apabila telah dilakukan penilaian-penilaian, baik terhadap tingkat
kesempurnaan, sifat, wujud, ciri-ciri pelayanan kesehatan dan kepatuhan terhadap standar pelayanan.

Setiap orang mempunyai kriteria untuk kualitas dan mempunyai cara-cara penilaian yang berbeda.
Penyedia layanan kesehatan tidak dapat mengetahui apakah para pasien yang memberikan pendapat yang
positif atau negatif bisa mewakili seluruh populasi yang dilayani (Kongstvedt, 2000). Perbedaan tersebut
dapat diatasi dengan kesepakatan bahwa mutu suatu pelayanan kesehatan dianggap baik apabila tata cara
penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan (Azwar,
1996).
Kegiatan penilaian secara umum harus meliputi tiga tahap.

Tahap pertama adalah menetapkan standar, kemudian

Tahap kedua adalah menilai kinerja yang ada dan membandingkan dengan standar yang sudah
disepakati dan

Tahap ketiga meliputi upaya memperoleh kinerja yang menyimpang dari standar yang sudah
ditetapkan (Aditama, 2002).
Standar ini telah dikembangkan oleh badan usaha, atau badan usaha dapat
menggunakan standar yang dikembangkan oleh organisasi profesional dan
dipublikasikan dalam literatur medis (Kongstvedt, 2000).
Tiga aspek penilaian mutu pelayanan menurut Jonas dan Rosenberg dalam
Aditama (2002), yaitu:

a. Aspek pendekatan
1. Pendekatan secara umum
Pendekatan secara umum dilakukan dengan menilai kemampuan rumah sakit
dan atau petugas dan membandingkannya dengan standar yang ada. Para
petugas dapat dinilai tingkat pendidikannya, pengalaman kerjanya, serta
pengalaman yang dimilikinya. Rumah sakitnya dapat dinilai dalam segi
bangunan fisik, administrasi organisasi dan manajernya, kualifikasi SDM yang
tersedia dan kemampuan memberi pelayanan sesuai standar yang berlaku saat
itu.
2. Pendekatan secara khusus
Pendekatan secara khusus dilakukan dengan menilai hubungan antara pasien
dengan pemberi pelayanan di rumah sakit.
b. Aspek teknik
Dilakukan penilaian atas tiga komponen, yaitu:
1. Komponen struktur
Komponen struktur menilai keadaan fasilitas yang ada, keadaan bangunan fisik,
struktur organisasi, kualifikasi staf rumah sakit dan lain-lain.
2. Komponen proses
Komponen proses menilai apa yang terjadi antara pemberi pelayanan dengan
pasiennya.
3. Komponen hasil
Komponen hasil menilai hasil pengobatan (dengan berbagai kekurangannya).
Penilaian dapat dilakukan dengan menilai dampak pengobatan terhadap status
pengobatan dan kepuasan pasiennya.
c.
1.
2.

Aspek kriteria
Kriteria eksplisit, yaitu kriteria yang nyata tertulis
Kriteria implisit ,yaitu kriteria yang tidak tertulis.