Anda di halaman 1dari 6

TEKNIK PENGUMPULAN DATA POTENSI DAN

STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE


DI SUMATERA BARAT
PENDAHULUAN
Hutan merupakan salah satu kekayaan sumberdaya alam Indonesia yang tiada ternilai
harganya, termasuk didalamnya kawasan hutan mangrove dengan ekosistemnya yang khas.
Hutan mangrove merupakan bagian dari hutan tropis dunia yaitu berupa tipe hutan yang
khusus terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut
air laut. Ekosistem hutan mangrove tumbuh di pantai datar atau pantai yang berair tenang
dengan pertumbuhan idealnya di sekitar pantai yang lebar muara sungainya, delta dan
tempat arus sungainya banyak mengandung lumpur dan pasir.
Potensi kawasan hutan mangrove di Indonesia diperkirakan adalah yang terluas di dunia
sebesar 4,25 juta Ha (Schwamborn, 1994). Sedangkan pendapat lainnya ditaksir tidak
kurang dari 3,6 juta Ha hutan mangrove yang tumbuh di pantai pulau-pulau terbesar di
Indonesia, meliputi kawasan terluas yang terdapat di Irian Jaya (Papua), Pantai Timur
Sumatera dan Kalimantan (Tjardhana dan Edi Purwanto, 1995).
Provinsi Sumatera Barat terletak di daerah Pantai Barat Sumatera yang berhadapan
langsung dengan Samudera Hindia dengan garis pantai sepanjang 348 km. Dimana
sebagian garis pantai tersebut ditumbuhi oleh mangrove, terutama di Kabupaten Pasaman
(Pasbar), Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman dan
Kabupaten Kepulauan Mentawai. Potensi hutan mangrove yang ada di Sumatera Barat
diperkirakan seluas 3.750 Ha (Kamal, et al. 1998).
Luasan hutan mangrove di Sumatera Barat memang relative kecil, namun mengingat akan
banyaknya peranan dari hutan mangrove itu yang tidak tergantikan sebagai mata rantai
yang menghubungkan antara kehidupan ekosistem laut dan ekosistem daratan, maka hal
demikian menuntut perhatian yang lebih serius terutama bagi para Stake Holder (unsurunsur Pemerintah Daerah).
Hutan mangrove memiliki fungsi secara fisik-kimia yaitu dapat membantu menahan erosi
dan kerusakan pantai (abrasi), meredam gerak pasang surut serta lumpur yang terbawa dari
daerah aliran sungai (DAS) di sekitarnya, perlindungan tempat pemukiman dari hembusan
angin laut yang kencang, mencegah terjadinya rembesen (intrusi) air laut ke daratan dan
mencegah terjadinya keasaman tanah. Selain itu hutan mangrove juga mempunyai fungsi
bio-ekologis dan sosio-ekonomis yang penting dan berpengaruh sangat luas terhadap
system kehidupan manusia, terutama dalam mintakat pantai (coastal zone), diantaranya ;
sebagai nursery ground bagi perkembangbiakan ikan, udang, kepiting dan kerang, sebagai
tempat bersarangnya burung-burung sekaligus untuk membentuk keseimbangan ekologis
dengan hewan-hewan lainnya, disamping hasil hutan non hayatinya yang bernilai
ekonomis, meliputi sebagai bahan bakar (kayu arang), tekstil dan penyamak kulit, bahan
bangunan, bahan rumah tangga, bahan industri kayu, pulp/kertas maupun makanan,
minuman dan obat-obatan.

POTENSI HUTAN MANGROVE DI SUMATERA BARAT


Potensi hutan mangrove di Sumatera Barat berdasarkan luas dan distribusinya hanya
tersebar pada daerah-daerah tertentu dengan 750 hektar diantaranya tersebar dalam
kelompok-kelompok kecil, terutama di Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang,
Kabupaten Agam dan Kabupaten Padang Pariaman (Mentawai). Sedangkan di Kabupaten
Pasaman terdapat satu kawasan besar hutan mangrove yang terletak di Air Bangis seluas
3.000 ha. Berikut adalah lokasi, luas dan kawasan sebaran hutan mangrove di Sumatera
Barat :
Tabel 1. Lokasi, Luas dan Kawasan Sebaran Mangrove di Sumatera Barat
Daerah Lokasi
Kab. Pasaman

Kab. Pesisir Selatan

Kab. Pd. Pariaman


Kab. Agam

Kodya Padang
Jumlah

Luas
(ha)
3.250 325 200 55 120 3.750

Kawasan Sebaran
(ha)
Air Bangis (3.000)
Sikabau (55)
Sikilang (20)
Maligi (30)
Sasak (50)
Mandiangin (60)
Katiagan (10)
Pulau-pulau (25)
Carocok Tarusan (150)
Tl. Betung (60)
Air Haji (70)
Lowong (40)
Pulau-pulau (5)
Mentawai
Tiku (15)
Ujung Labung (20)
Sunsubang (15)
Labuhan (25)
Sungai Pisang (60)
Bungus Tl. Kabung (40)
Pulau-pulau (20)

Keterangan

Belum terdata

Sumber : Kamal et al. 1998

Jenis-Jenis Flora dan Fauna


Potensi flora yang terdapat pada kawasan hutan mangrove di Sumatera Barat umumnya
didominasi oleh jenis Rhizophora sp., disamping jenis-jenis penting lainnya seperti ;
Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal,, Sonneratia sp., Xylocarpus granatum dan jenisjenis lainnya seperti Nypa fruticans, Lumnitzera littorea, Terminalia catappa dan
Pandanus tectorius.
Dari kekayaan fauna pada kawasan hutan mangrove di Sumatera Barat telah diidentifikasi
sebanyak 11 jenis udang (terutama jenis Penaeus merguiensis), 5 jenis kepiting, 30 jenis
ikan, 3 jenis reptilia, 8 jenis burung dan 2 jenis mamalia (Kamal 1995 dan Tamin 1992).

TEKNIK PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA


Pengumpulan Data
Untuk penyusunan kelayakan pengusahaan dan alternatif model pengelolaan hutan
mangrove secara bersama, perlu dilakukan kerjasama antara masyarakat setempat, unsur
Pemerintah Daerah, LSM dan PerguruanTinggi dalam merumuskannya. Dengan demikian
keberhasilan pengelolaan hutan mangrove oleh masyarakat setempat dapatlah menjamin
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan sumber daya hutan
mangrove.
Adapun data-data yang mesti dikumpulkan, baik data primer maupun sekunder terdiri dari
data-data fisik berupa ; mutu air dan tanah (salinitas, COD, BOD, pasang surut,
kandungan substrat tanah, kandungan deterjen dan logam berat serta kondisi abrasi
pantai). Data-data biologi meliputi ; keaneka ragaman jenis, struktur dan komposisi jenis,
volume tegakan mangrove per ha dan kelimpahan satwa liar (burung, reptilia, mamalia,
ampibia) serta berbagai jenis ikan dan hewan air lainnya.
Selain itu perlu juga dicatat tentang data-data sosial-ekonomi yang meliputi ; aktivitas
perekonomian masyarakat (jumlah penduduk menurut mata pencaharian, jumlah dan
kondisi sarana prasarana perekonomian serta kondisi lembaga perekonomian), lapangan
kerja (tingkat partisipasi angkatan kerja dan tingkat penganguran) serta tingkat hidup dan
kesejahteraan (distribusi pendapatan, sumber-sumber pendapatan dan tingkat konsumsi).
Dan data-data sosial-budaya meliputi ; kependudukan (struktur penduduk, jumlah dan
kepadatan penduduk, kelahiran, kematian, migrasi, penyebaran penduduk), pendidikan
(jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan, fasilitas pendidikan dan aksesibilitas
terhadap budaya luar), tata nilai (perkembangan nilai etnik yang berlaku, konflik antar
etnik, perkembangan kelembagaan adat dan pandangan terhadap inovasi dari luar),
persepsi masyarakat terhadap hutan (pengetahuan, pendapat dan sikap) serta kesehatan
masyarakat (jenis penyakit) yang sering diderita, jumlah dan jenis fasilitas pelayanan
kesehatan, termasuk tenaga medis/paramedis.
Pengumpulan data mangrove dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pengamatan
lapangan hutan mangrove secara menyeluruh, yang bertujuan untuk melihat kondisi secara
umum keadaan fisiognomi dan komposisi tegakan hutan. Disamping itu, pengamatan juga
dapat mengacu pada analisis citra Landsat-TM untuk menetapkan daerah dimana akan
dibuat transek secara tepat yang akan ditempatkan secara tegak lurus dengan garis pantai
agar diperoleh gambaran adanya zonasi jenis tumbuhan mangrove. Vegetasi yang diambil
contohnya menggunakan metode kuadrat (Oosting, 1956) yang berukuran petak 10 m x 10
m untuk kelompok pohon (diameter > 10 cm), petak berukuran 5 m x 5 m untuk kelompok
pancang/belta (diameter 2 10 cm dengan tinggi > 1,5 m) dan petak berukuran 2 m x 2 m
untuk kelompok semai (tinggi < 1,5 m) yang kesemuanya ditempatkan pada petak
berukuran 10 m x 10 m. Pada setiap petak diidentifikasi jenis dan diukur diameter (dbh)
dan tingginya serta dihitung individu masing-masing jenis. Sedangkan pada kelompok
semai, hanya diidentifikasi jenis dan jumlah individu dalam satu petak.
Identifikasi jenis dan kelimpahan satwa liar dilakukan dengan menggunakan metode jalur,
baik di darat maupun perairan dan wawancara dengan masyarakat. Penggunaan metode
jalur dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman jenis, kelimpahan penyebaran dan

kondisi habitatnya. Jenis-jenis satwa liar (mamalia dan reptilia) yang dijumpai didaftar
dalam species list.
Analisis Data
Contoh yang dikumpulkan, kemudian dianalisis menurut rumus Cox (1967) untuk
mengetahui besarnya potensi mangrove berdasarkan kriteria nilai penting (NP), yaitu
dengan menjumlahkan antara kerapatan relatif (KR), frek-wensi relatif (FR) dan
dominansi relatif (DR) dengan rumus perhitungan sbb :
a. Kerapatan
Kerapatan Realtif (KR)
b. Frekwensi
Frekwensi Relatif (FR)
c. Dominansi

= Jumlah individu suatu jenis


Luas areal contoh
= Kerapatan suatu jenis
Kerapatan semua jenis

= Jumlah plot yang ditempati suatu jenis


Jumlah plot pengamatan
= Frekwensi suatu jenis
Frekwensi semua jenis

x 100 %

= Jumlah basal area suatu jenis


Luas areal contoh

Dominansi Relatif (DR) = Dominansi suatu jenis


Dominansi semua jenis
d. Nilai Penting (NP)

x 100 %

x 100 %

= KR + FR + DR

e. Volume/Potensi Kayu (V) = d2 . t . 0,7


dimana ; V = Volume kayu per pohon
d = diameter batang (dbh)
t = tinggi pohon
0,7 = angka bentuk
STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DI SUMATERA BARAT
Perlu diakui bahwa pengelolaan hutan mangrove di Sumatera Barat masih dilakukan secara
tradisional atau bersifat alamiah, sehingga apabila terjadi kerusakan, masyarakat kecil
setempat lah yang paling dituding atau dipersalahkan dengan alasan banyak menebang
untuk keperluan kayu bakar, bahan bangunan maupun peruntukan lainnya. Untuk itu perlu
diantisipasi dari sekarang penanganan dan pemecahan masalah tersebut sebelum masalah
hutan mangrove ini menjadi masalah yang kompleks, sepertimana masalah kayu yang
diambil dari hutan daratan/pegunungan.
Berikut adalah upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengamankan dan mengelola
hutan mangrove secara optimal dan berkelanjutan :

1. Pembinaan informal dan kelembagaan bagi masyarakat setempat


Dalam hal ini dibutuhkan peran lebih dari LSM untuk berupaya meningkatkan dan
memberdayakan masyarakat setempat, terutama bagi para pengrajin arang dan nelayan
yang meliputi ; peningkatan kemampuan administrasi, perencanaan dan keuangan,
pemantapan organisasi koordinasi pemasaran dan perbaikan teknologi, peningkatan
keterampilan teknis lapangan dalam pengusahaan hutan mangrove dan keterbukaan /
kerjasama dengan pihak luar (dinas/instansi terkait).
2. Pembinaan pendidikan formal masyarakat setempat
Pendidikan merupakan wadah utama dalam meningkatkan mutu sumber daya
manusia, khususnya bagi keluarga nelayan. Untuk itu dimulai dari sistem pendidikan
dasar (SD dan SLTP), SLTA dan sekolah-sekolah kejuruan harus sudah
mengakomodasikan kebutuhan akan pembangunan daerah setempat yaitu dengan
pemberian kurikulum (muatan lokal) yang tepat yang menunjang bagi pemahaman arti
dan manfaat dari keberadaan hutan mangrove di wilayahnya. Adapun bobot materinya
mesti disusun secara berjenjang sesuai dengan tingkat kesulitan dan kemampuan dari
anak didik dalam menangkap paket materi yang diberikan.
3. Peningkatan kesadaran lingkungan
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah lewat penyuluhan-penyuluhan dan pembinaan
masyarakat yang belum sadar lingkungan dan cenderung merusaknya. Kegiatan ini
dapat juga disatukan paketnya dengan program besar rehabilitasi terumbu karang dan
lingkungan pantai serta menurunnya produksi ikan yang justru bermula dari rusaknya
hutan mangrove ini.
4. Peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat paket teknologi tepat guna
Pengamanan dan pengelolaan hutan mangrove akan lebih terjamin keberhasilannya
apabila dari masyarakat setempat telah merasakan manfaatnya secara langsung berupa
peningkatan pendapatan yang diraih, sehingga secara otomatis mereka akan turut
menjaganya dari kerusakan yang mungkin terjadi. Paket teknologi tepat guna yang
dapat diberikan diantaranya adalah :
Percontohan budidaya biota
Percontohan budidaya biota dalam hutan manngrove adalah kegiatan budidaya
berbagai jenis biota tertentu, misalnya kepiting mangrove di suatu areal tertentu yang
disebut unit percontohan. Percontohan ini bersifat ganda, pertama berfungsi sebagai
model atau contoh bagi masyarakat agar mereka bersedia melakukan kegiatan yang
sama dalam rangka peningkatan kesejahteraannya, sedangkan fungsi kedua adalah
sebagai tempat belajar bagi masyarakat. Maka unit percontohan tersebut merupakan
laboratorium alam atau tempat praktek bagi pelaksanaan pelatihan peningkatan
keterampilan budidaya.

Pelatihan peningkatan keterampilan


Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat setempat dalam
menggunakan teknologi untuk mendayagunakan hutan mangrove yang ada di
sekitarnya. Salah satunya adalah teknologi bagi pembuatan kayu arang yang berasal
dari hutan mangrove, maupun hasil-hasil non kayu lainnya yang dapat diambil atau
diekstraksi dari hutan mangrove. Untuk itu perlu didorong peran lebih dari perguruan
tinggi dan lembaga-lembaga penelitian didalam melaksanakan risetnya yang hasilnya
dapat langsung diterapkan oleh masyarakat sebagai teknologi tepat guna.
PENUTUP
Mengingat keberadaan hutan mangrove mempunyai fungsi yang sangat vital bagi
kehidupan masyarakat setempat dan penjaga keseimbangan antara ekosistem laut dan
daratan, maka sudah selayaknya kawasan ini mendapatkan perhatian yang lebis serius dari
seluruh pihak dalam pengelolannya, demi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan
keberlanjutan sumber daya hutannya. Tindakan yang dapat dimulai adalah dengan
menginventarisir potensi hutan mangrove yang ada pada masing-masing daerah berikut
dengan data-data pendukungnya dan kemudian dianalisiskan untuk diambil buat kebijakan
dan strategi pengelolaan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Cox, G.W. 1967. Laboratory Manual of General Ecology. M.W.C. Brown Company,
Minneapolis, 165 pp.
Kamal, E. 1995. Beberapa Aspek Biologi dan Dinamika Populasi Udang laut yang
Dominan di Perairan Air Bangis Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia : 121 hal.
Kamal, E., Japar Sidik Bujang, Rahman, M. dan Tamin, R. 1998. Potensi dan
Pengelolaan Mangrove di Sumatera Barat. Prosidings Seminar Ekosistem
Mangrove VI :88-93.
Oosting, H.J. 1956. The Study of Plant Communities. W.H. Freeman and Co. San
Fransisco.
Schwamborn, R. 1994. Status Quo der Mangrovevenokologie (entwurf). ZMT Bremen :
12-21.
Tamin, R. 1992. Potensi Hutan Mangrove di Sepanjang Pantai Sumatera Barat. Pusat
Penelitian Universitas Andalas Padang.
Tjardhana dan Edi Purwanto. 1995. Hutan Mangrove Indonesia. Departemen
Kehutanan.