Anda di halaman 1dari 19

PENGAMATAN LAJU PERKEMBANGAN PENYAKIT BERCAK DAUN

(Cercospora canescens), SPORE TRAP, DAN BAITING PADA TANAMAN


BUNCIS

LAPORAN PRAKTIKUM
Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum Mata Kuliah Sistem
Pengamatan, Peramalan Hama dan Penyakit Tanaman

KELOMPOK 5
Dwisari Januari P.

150510130140

Anita Sari

150510130152

Salsabila

150510130165

Ghanita Dwi A.

150510130176

Jonshua William

150510130178

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JATINANGOR
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan YME, karena dengan rahmatNya lah kami akhirnya dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dosen Mata Kuliah
Sistem Pengamatan dan Peramalan OPT, yang telah memberi pengetahuan kepada kami
dan memberikan kesempatan kepada kami sehingga berkesempatan menyusun tugas ini.
Serta tak lupa kepada seluruh pihak yang turut membantu, baik secara langsung maupun
tidak langsung dalam bentuk dukungan moril maupun materil kepada kami dalam
menyelesaikan tugas ini.
Tak ada segala sesuatu di dunia ini yang sempurna. Begitu pula dengan laporan
tugas ini. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pembaca
demi kesempurnaan dalam pembuatan makalah ini di kemudian hari.

Jatinangor, Juni 2016

Kelompok 5

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1
1.1 Latar Belakang................................................................................................1
1.2 Tujuan.............................................................................................................1
BAB II METODOLOGI..............................................................................................2
2.1 Waktu dan Tempat..........................................................................................2
2.2 Alat dan Bahan...............................................................................................2
2.3 Prosedur Kerja................................................................................................2
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN.....................................................................4
3.1 Pengamatan di Lapangan................................................................................4
3.2 Baiting...........................................................................................................11
3.3 Spore Trap.....................................................................................................12
BAB IV PENUTUP.....................................................................................................14
4.1 Kesimpulan....................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................15
LAMPIRAN.................................................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Buncis (Phaseolus vulgaris L) merupakan salah satu komuditas pertanian
yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat terutama di Indonesia. Buncis adalah
tanaman semusim yang di bedakan atas dua tipe pertumbuhan, yaitu tipe merambat
dan tipe tegak. Akan tetapi produksi buncis di Indonesia sendiri belum optimal
dibandingkan dengan negara lain. Rendahnya tingkat produksi ini disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya yaitu gangguan dari organisme pengganggu tanaman
(OPT).
Peramalan organisme penggangu tanaman (OPT) adalah suatu kegiatan
yang diarahkan untuk mendeteksi atau memprediksi populasi atau serangan OPT
serta kemungkinan penyebaran dan akibat yang ditimbulkannya dalam ruang dan
waktu tertentu. Peramalan OPT komponen penting dalam strategi pengelolaan hama
dan penyakit tanaman sebab dengan adanya peramalan dapat memberikan
peringatan dini mengenai tingkat dan luasnya serangan. Tujuan peramalan OPT
adalah menyusun saran tindak pengelolaan atau penanggulangan OPT sesuai dengan
prinsip dan strategi PHT sehingga populasi atau serangan OPT dapat ditekan,
tingkat produktivitas tanaman pada taraf tinggi, secara ekonomis menguntungkan
dan aman terhadap lingkungan.Peramalan bagian penting dalam proses pengambilan
keputusan, sebab efektif atau tidaknya suatu keputusan umumnya tergantung pada
beberapa faktor yang tidak dapat kita lihat pada waktu keputusan itu diambil.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui dan melihat sendiri di lapangan penyakit yang seringkali
menyerang pertanaman buncis, serta mengetahui tahapan dalam melakukan skoring
dan melakukan peramalan penyakit pada tanaman buncis.

BAB II
METODOLOGI

2.1 Tempat dan Waktu


Pengamatan ini dilakukan di Lahan Percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian
Universitas Padjadjaran. Dari tanggal 9 Mei 26 Mei 2016. Sedangkan untuk
praktikum spore trap dan baiting dilakukan pada hari rabu tanggal 25 Mei 2016.
2.2 Alat dan Bahan
2.2.1 Pengamatan di Lapangan
-

Alat tulis
Alat Dokumentasi

2.2.2
-

Baiting
Buah apel segar 2 buah
Alkohol 70%
Aquades
Kertas label
Tanah dari lahan pengamatan (tanaman buncis)
Tanah sample dari tanaman tembakau

2.2.3

Spore Trap
Batang kayu/bambu
Kaca preparat
Solatip
Vaseline

- Spatula
- Kapas
- Wrap plastic
- Bor gabus
- Bunsen

2.3 Prosedur Kerja


2.3.1 Pengamatan di Lapangan
1. Mencari lahan yang terserang penyakit yang ada di lingkungan kampus
2. Menentukan titik pengambilan sample
3. Melakukan penghitungan intensitas penyakit 3-4 hari sekali
2.3.2 Baiting

1
2
3

Mempersiapkan bahan dan alat


Melubangi kedua buah apel sebanyak 4 lubang
Memasukkan tanah dari lahan pengamatan ke dalam dua lubang pada buah apel.

Menutup lubang tersebut degan kapas yang sebelumnya diberi alkohol 70%
Memasukkan tanah dari laboratorium ke dalam dua lubang buah apel lainnya.
Menutup kedua lubang tersebut dengan kapas yang sebelumnya diberi alkohol

5
6
7

70%
Merekatkan kapas dengan wrap plastic supaya keempat lubang tersebut tertutup.
Memberi label di setiap lubang tersebut.
Mengamati kedua apel setiap hari. Mengamati buah apel apakah terjadi
pembusukan dan asal pembusukkan tersebut dari lubang yang mana.

2.3.3 Spore Trap


1
2
3
4

Ikatkan kaca preparat pada kayu yang sudah disediakan


Masing masing kayu di pasangkan 2 buah kaca preparat
Berikan vaseline secara tipis pada kaca preparat
Dibiarkan selama 1 x 24 jam, kemudian diamati pada mikroskop

Metode pemasangan spora trap


1 Baris Depan sebelah kanan
2 Baris belakang sebelah kiri

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pengamatan di Lapangan


3.1.1 Penyakit Bercak Daun Buncis
Patogen penyebab penyakit dan gejala penyakit bercak daun pada tanaman
buncis
Penyakit bercak daun merupakan penyakit penting setelah penyakit embun
tepung yang banyak terjadi pada musim hujan di lahan tegal, dengan intensitas
serangan dari ringan sampai berat. Intensitas serangan bercak daun pada kacang
hijau varietas Merak mencapai 58% pada saat tanaman berumur 38 hari, dengan
diameter bercak terpanjang dapat mencapai 4 mm (Sumartini 1997). Penyakit

bercak daun tersebar luas di seluruh Indonesia, juga banyak ditemukan di Malaysia,
Filipina, Thailand, dan Kepulauan Pasifik (Semangun 1991).
Penyakit bercak daun disebabkan oleh dua jenis cendawan yaitu Cercospora
canescens dan Cercospora cruenta, tetapi di lapangan C. canescens lebih banyak di
temukan (Semangun 1991). Mula-mula pada daun timbul gejala bercak kecil yang
berwarna kecoklatan dengan bentuk tidak teratur, kemudian melebar. Beberapa
bercak dapat menjadi satu sehingga membentuk bercak yang lebih besar. Bagian
tengah bercak menjadi berwarna putih, bagian tersebut merupakan kumpulan spora
dari cendawan penyebab penyakit. Serangan bercak daun lebih banyak terjadi pada
fase generatif (Nuryanto dkk,1993 dalam Sumartini, 2011).

Gambar.1

Gejala

penyakit

Bercak Daun

Cercospora

canescens
(Boa E, 2014)

3.1.2

Skoring Penyakit
Lokasi pengamatan
Pengamatan kami lakukan di lahan buncis yang berlokasi di Ciparanje
kebun calakan farm. Jumlah tanaman yang diamati adalah 150 tanaman. Kami
mengambil sample 10% dari keseluruhan tanaman.
Sketsa sampling

Rumus

perhitungan

Pengamatan dilakukan dengan menggunakan rumus perhitungan disease


severity :
serangan=

nxz
x 100
NxZ

Keterangan :
n : jumlah sampel yang mempunyai nilai skor sama
z : nilai skor
N : jumlah total sample yang diamati
Z : nilai skor tertinggi
Kriteria nilai skoring (dalam %)
1
2
3
4
5
6

: Tidak ada serangan


: persentase daun/tanaman bergejala 0 < x 12
: persentase daun/tanaman bergejala 12 < x 25
: persentase daun/tanaman bergejala 25 < x 50
: persentase daun/tanaman bergejala 50 < x 75
: persentase daun/tanaman bergejala 75 < x 100

Tabel 1. Hasil Skoring Penyakit Bercak Daun Cercospora canescens


No.
1.
2.
3.
4.
5.

Titik
Sampel
Plot 1
Plot 2
Plot 3
Plot 4
Plot 5
Rata-rata

I
31,83
41,70
28,60
27,17
38,47
33,55

% Skoring Pengamatan Ke II
III
IV
V
49,47
97,47
116,07
157,70
43,70
97,33
105,27 189,40
41,80 107,47
128,93 137,60
54,80
98,80
145,13
181,3
68,17 101,93
149,77 200,43
51,59 100,60
129,03 173,29

VI
167,97
289,80
166,00
219,77
272,93
223,29

Tabel diatas menunjukkan hasil pengamatan penyakit bercak daun yang


disebabkan oleh jamur Cercospora canescens di Lahan Calakan Faperta Unpad.
Pengamatan dilakukan sebanyak 6

kali dengan interval 4 hari setiap

pengamatannya. Skoring dilakukan dengan menghitung keparahan per daun


Trifoliate pada tiap tanaman buncis, sampel yang digunakan 3 tanaman setiap
plot nya.

Perkembangan penyakit bercak daun per plot


350.00
300.00
Plot 1

250.00

Plot 2
Plot 3

200.00
Persentasi Kerusakan

Plot 4
150.00

Plot 5

100.00
50.00
0.00
0

Grafik 1. Laju perkembangan penyakit bercak daun per plot

Perkembangan penyakit bercak daun


Linear ()
Persentase Kerusakan

Grafik 2. Laju perkembangan penyakit bercak daun


Grafik diatas menunjukkan perkembangan penyakit bercak daun pada
buncis. Bercak daun Cercospora canescens bersifat polisiklik sehingga slope
dipengaruhi oleh laju perkembangan penyakit. Berdasarkan data yang
didapatkan dilapangan maka dapat dikatakan bahwa laju perkembangan penyakit
pada setiap pengamatan mengalami kenaikan sampai pengamatan terakhir. Hal
tersebut disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak
pertumbuhan
tanaman
terhadap
dilakukannya
sedang

hujan

kelembaban.

Titik
sampel
Plot 1
Plot 2
Plot 3
Plot 4
Plot 5

AUDPC

0,3835
0,3835
0,3835
0,3835
0,3835

3123,6
3608,7
3078,6
3621
4056

mendukung

tanaman

sehingga

menjadi

rentan

penyakit, dimana saat


pengamatan

cuaca

yang berpengaruh pada


Jika di lihat dari grafik

tersebut menunjukkan bahwa slope yang didapat bernilai positif sehingga


semakin lama pertanaman (umur tanaman) maka akan semakin tinggi pula
perkembangan penyakitnya.
Tabel 2. Nilai AUDPC

Nilai AUPDC (Area under disease progress curve) dapat memberi


gambaran tingkat epidemic yang terjadi. Semakin besar AUDPC berarti semakin
besar total perkembangan penyakit/epidemic yang terjadi. Jika di lihat dari tabel
2 menunjukan bahwa pada plot 5 mengalami perkembangan penyakit yang lebih
7

tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini mungkin terjadi karena plot 5
berada di ujung pertanaman sehingga pengaruh penyebaran spora melalui udara
lebih mudah. Selain itu, dapat disebabkan oleh jarak tanam yang tidak beraturan
pada lahan yang diamati. Pada plot 5 terlihat pula bahwa umur tanamannya lebih
tua dibandingkan dengan yang lainnya sehingga mengakibatkan nilai AUDPC
yang lebih tinggi. Tanaman tua ini dapat menjadi sumber infeksi bagi tanaman
baru.
Laju perkembangan penyakit bercak daun mengalami naik turun. Hal
tersebut diakibatkan oleh adanya perlakuan pemeliharaan yang dilakukan,
seperti pencabutan tanaman yang sudah terserang ataupun daun sudah
berguguran karena tingkat serangan penyakitnya tinggi dan tertiup angin. Selain
itu, adapun tanaman yang sudah mati akibat serangan dari penyakit lain.
Dari hasil analisis, diketahui bahwa nilai r sebesar 0,3835. Artinya,
pendugaan peningkatan nilai hardness setiap harinya akan meningkat sebanyak
0,3835 gf. Diketahui koefisisen determinasi (KD) pada grafik tersebut sebesar
0,9858. Dengan mengakarkan nilai 0,9858 didapat hasil 0,9928. Hasil
pengakaran tersebut (0,9928) merupakan Koefisien Korelasi nya. Artinya
keeratan korelasi antara hardness dan waktu pertanaman sebesar 0,9928.

Nilai KK 0,9928 termauk pada kategori sangat kuat. Jadi, korelasi


antara hardness terhadap waktu pertanaman sangat kuat. Kemudian KD sebesar
98,58 artinya sebanyak 98,58% perubahan hardness dipengaruhi oleh waktu
pertanaman. Sedangkan sisanya merupakan faktor lain diluar variabel bebasnya.
3.1.3 Tahap epidemi penyakit

Sporanya dapat disebarkan melalui air hujan, angin, serangga, alat-alat


pertanian, manusia dan lain-lain. Akibat lebih parah, daun menjadi layu lalu
berguguran. Bila sampai menyerang polong, maka polong berbercak kelabu serta biji
yang terbentuk kurang padat dan ringan. Penyakit ini berkembang paling cepat pada
suhu 20-260C dan kelembaban relatif 90-100 %. Suhu malam di atas 15,60C
mendukung pengembangan penyakit.

Gambar.2 Siklus penyakit Bercak Daun Cercospora Canescens (ISSUE#366,


1999)

3.1.6 Pengendalian berdasarkan van der plank


Cara Pengendalian
Rotasi tanaman
Penggunaan varietas tahan
Sortasi benih
Seed treatment
Sanitasi lahan
Pencabutan tanaman sakit
Jarak tanam
Aplikasi pestsisida

X0

Komponen yang paling ditekankan adalah pencabutan tanaman sakit, sortasi


benih, seed treatment, dan rotasi tanaman.

A
Pencabutan tanaman sakit
Pemberian fungisida
Sanitasi lahan

B
Jarak Tanam
Penggunaan Varietas Tahan
Sanitasi Lahan

C
Sortasi Benih
Penggunaan Varietas Tahan
Rotasi Tanaman
Seed treatment

3.1.7 Peramalan Penyakit


Penyakit ini berkembang paling cepat pada suhu 20-260C dan kelembaban
relatif 90-100 %. Suhu malam di atas 15,60C mendukung pengembangan penyakit.
Selain kelembaban, umur tanaman, angin dan serangga pun dapat mempengaruhi
perkembangan penyakit tersebut. Rata-rata intensitas penyakit bercak daun
Cercospora semakin meningkat dengan bertambahan umur tanaman. Hal ini
mengisyaratkan bahwa kepekaan tanaman buncis terhadap penyakit bercak daun
Cercospora terjadi pada stadium tua (80-87 hst). Pemencaran penyakit ini dibantu
juga oleh angin dan serangga, meskipun angin memegang peranan yang jauh lebih
besar. Cercospora memerlukan waktu 23 hari. Di udara, konidia cendawan tersebut
paling banyak terdapat menjelang tengah hari (Holliday, 1980).
3.2 Baiting
Dilakukan baiting dengan cara memasukan dua sampel tanah yang berbeda
untuk mengetahui apakah terdapat spora dari pada kedua tanah tersebut. Sampel
tanah pertama berasal dari lahan pengamatan yaitu lahan tanaman buncis dan yang
kedua berasal dari laboratorium yaitu dari pertanaman tembakau. Dari hasil

10

pengamatan didapat bahwa kedua apel yang dimasukkan dengan tanah yang berasal
dari lahan pengamatan mengalami pembusukan secara merata. Hal ini menunjukan
bahwa keberadaan spora pada tanah tersebut tersebar secara homogen. Sedangkan
pada apel yang diberi tanah sampel atau tanah tanaman tembakau tidak terjadi
pembusukan dan tidak adanya Phitoptora, hal ini bisa didasari atas kurang
lembabnya tanah sampel yang ada, karena biasanya pada tanah tanaman tembakau
banyak sekali terdapat Phitoptora.
Kondisi apel pada hari pertama saat tanah dimasukkan :

Gambar

1.

Baiting

Tanah

Tanaman

Buncis

Gambar 2. Baiting Tanah Tanaman Tembakau

Kondisi apel seminggu setelah tanah dimasukan :

Gambar 3. Baiting Tanah Tanaman Buncis


Gambar 4. Baiting Tanah Tanaman Tembakau

3.3

Spore Trap
Spore trap ini digunakan untuk menjebak

spora dan penyakit yang terbawa angin dan berterbangan di udara. Jamur penyebab
penyakit tumbuhan kebanyakan disebarkan dengan beberapa macam bentuk spora,

11

atau dengan potongan-potongan benang jamur. Alat-alat penular ini disebarkan


oleh angin, air, hewan, dan manusia maupun oleh kontak antara bagian tanaman
yang sehat dengan yang sakit, dan dapat juga terbawa bahan tanaman seperti biji
dan umbi.
Fungsi pengamatan spore trap yaitu untuk mengamati spora yang
menyerang danyang ada di sekitar tanaman budidaya, sehingga dapat meramalkan
penyakit yang akan menyerang suatu tanman budidaya. Spore trap ini diletakkan di
tengah-tengah lahan komoditi, dengan tinggi yang sejajar dengan tanaman budidaya
dengan tujuan agar data pengamatan spora yang didapat lebih valid karena biasanya
spora terdapat pada tinggi tanaman yang sama.
Dari hasil pengamatan di laboratorium, ditemukan spora yang terdapat pada
kaca preparat berbentuk batang bersekat sekat. Setelah dianalisis ini kemungkinan
spora ini merupakan spora dari Cercospora. Banyaknya spora yang didapatkan,
tetapi spora tidak terlihat jelas dikarenakan sudah terjadinya kerusakan. Dari empat
preparat spora yang diamati tidak jelas, tetapi Cercospora ini hanya ditemukan
pada satu preparat saja dari empat preparat yang dipasang.

Gambar 5. Peletakan Spore


Gambar 6.

Trap
Spora

Cercospora yang didapatkan


Diantara Tanaman Buncis

12

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pada pengamatan lahan buncis, ditemukan adanya penyakit bercak daun
buncis yang memiliki sifat polisiklik. Cara pengamatannya adalah disease severity
sehingga mengamati daun tiap daun pada individu yang diambil sebagai sampel.
Pada baiting, apel terlihat busuk pada tanah dari lahan pengamatan yaitu buncis,
diduga ada Phytopthora infestans, sedangkan pada tanah sampel yaitu tembakau
tidak ada pembusukan. Pada Spore trap terdapat spora Cercospora tetapi tidak
begitu jelas dikarennakan spora yang didapatkan tidak terlihat jelas atau bentuknya
sudah rusak.

13

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, M. 2008. Kajian Penggunaan Poly Alumunium Chloride (PAC) Dalam


Proses Pemurnian Nira Aren dan Lama Pemurnian Terhadap Karateristik Nira
Aren (Arenga pinnata Merr). Skripsi. Fakultas Teknologi Industri Pertanian,
Universitas Padjadjaran, Jatinangor.
Boa, Erik. 2014. Cercospora leaf spot of cowpea. Africa Soil Health Consortium.
Diakses

melalui

http://africasoilhealth.cabi.org/wpcms/wp-

content/uploads/2015/02/38-legumes-cercospora-leaf-spot.pdf pada selasa, 7


Juni 2016.
ISSUE#366. 1999. Seaseon long cercosporacontrol critical to profitability. American
Crystal

Sugar

Company.

Diakses

melalui

https://www.crystalsugar.com/sugarbeet-agronomy/ag-notes-archive/agnotes/366-season-long-cercospora-control-critical-to-profitability/ pada selasa, 7


Juni 2016.

14

Sumartini. 2011. Potensi bahan nabati cengkeh, lengkuas, dan mimba untuk
mengendalikan penyakit pada kedelai dan kacang hijau. Semnas Pestisida Nabati
IV, Jakarta: 29-40.

LAMPIRAN

Gambar 7. Vaselin white


Untuk Spore Trap

Gambar 8. Alat dan Bahan untuk Baiting

15

Gambar 9. Lahan
Tanaman Buncis yang
Untuk Pengamatan

Tanaman Buncis

Gambar 10.

terserang Penyakit

16