Anda di halaman 1dari 108

BAB V.

PERENCANAAN JEMBATAN KAYU


SUB POKOK BAHASAN :
5.1. Pendahuluan
5.2. Sifat sifat material kayu jembatan
5.3. Aplikasi dan Perencanaan Jembatan Kayu

1. Tujuan Pembelajaran Umum :


Mampu mengenal Jenis-jenis jembatan dan mengidentifikasi bagian-bagian struktur dari masing - masing Jenis
Jembatan serta dapat merencanakan dan menghitung Bangunan Atas Struktur jembatan, Bangunan Bawah
jembatan sesuai dengan kondisi stuktur tanah yang ada.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus :


a. Mampu menjelaskan Pengertian Jembatan Kayu
b. Mampu Menjelaskan Sifat sifat bahan Jembatan Kayu
c. Mampu mendesain dan Menghitung dan Merencanakan Jembatan Kayu

5.1. Pengertian Jembatan Kayu


Jembatan pertama sekali tercatat pernah dibangun di sungai Nil oleh raja Manes dari Mesir pada tahun 2650 SM.
Suatu deskripsi jembatan kayu yang dibangun Ratu Semiwaris dari Babilonis yang melintasi sungai Efhrat pada
tahun 783 SM juga pernah disusun oleh Diodrons Siculus. Jembatan ini berlantai kayu, dan bertumpu pada pier
dari batu. Lantai kayu ini dapat dipindahkan atau digeser pada malam hari untuk mencegah pencuri memasuki
kota. Jembatan terapung, yang terbuat dari rangkaian perahu untuk menyeberangkan tentara pada masa-masa
perang pernah dibangun oleh raja Alexander dari Cyprus pad tahun 556 SM. Jembatan kayu digunakan telah
lama, disebabkan materialnya banyak, dan pelaksanaannya mudah.
Jembatan kayu merupakan jembatan dengan material kayu yang dapat diperbaharui (renewable). Kayu
adalah sumber daya alam yang pemanfaatannya akhir-akhir ini lebih banyak pada bidang industri kayu lapis,
furnitur, dan dapat dikatakan sangat sedikit pemakaiannya dalam bidang jembatan secara langsung sebagai
konstruksi utama.
Pemakaian kayu sebagai bahan jembatan mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
1. Kayu relatif ringan, biaya transportasi dan konstruksi relatif murah, dan dapat dikerjakan dengan alat yang
sederhana
Jurusan Teknik Sipil
Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 1

2. Pekerjaan-pekerjaan detail dapat dikerjakan tanpa memerlukan peralatan khusus dan tenaga ahli yang
tinggi
3. Jembatan kayu lebih populer menggunakan dek dari kayu sehingga menguntungkan untuk lokasi yang
terpencil dan jauh dari lokasi pembuatan beton siap pakai (ready mix concrete). Dek kayu dapat dipasang
tanpa bekisting dan tulangan sehingga menghemat biaya
4. Kayu tidak mudah korosi seperti baja atau beton
5. Kayu merupakan bahan yang sangat estetik bila didesain dengan benar dan dipadukan dengan
lingkungan sekitar
Dari penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa jembatan kayu untuk konstruksi jembatan berat dengan
bentang sangat panjang sudah tidak ekonomis lagi. Jadi jembatan kayu lebih sesuai untuk konstruksi
sederhana dengan bentang pendek. Berikut ini adalah hal positif dan negative dari pemakaian

Positif
1. Harga Murah (jika ada kayu di desa
setempat)
2. Konstruksi Sederhana

Negatif
1. Kayu Lantai Sering Lapuk (apalagi kualitas
kayu rendah)
2. Kenyamanan Lalu Lintas Kurang

3. Kekuatan Gelagar (besi) Terjamin


4. Perawatan Mudah & Murah
5. Gelagar Besi Awet (jika terlindung dari
karat)

Sebelum abad 20, kayu menjadi bahan bangunan utama bahkan sebagai bahan struktur jalan kereta dan
jembatan. Jembatan terdiri dari struktur bawah dan struktur atas, struktur bawah terdiri dari abutment, tiang dan
struktur lain untuk menyangga struktur atas yang terdiri dari balok jembatan dan lantai jembatan.

Bentuk penyusun struktur dapat berupa kayu gelondong/log, kayu gergajian, hingga kayu laminasi atau kayu
buatan lainnya. Hingga produk glulam tersebar, ketersediaan ukuran kayu menjadi kendala, penyelenggaraan
kayu untuk jembatam. Kalaupun ada, jembatan kayu merupakan jembatan sementara dengan umur pakai
dibawah 10 tahun.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 2

Gambar 5.1. Struktur jembatan kayu


Sumber: Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 8.39. Struktur jembatan dengan kayu laminasi


Sumber: Forest Products Laboratory USDA, 1999

Struktur kayu laminasi telah membantu kapabilitas bentangan struktur yang diperlukan untuk jembatan. Gelegar
laminasi ukuran 0.60 m x 1.80 m mampu mendukung suatu sistem deck laminasi hingga bentangan 12 m 30 m
bahkan lebih. Balok laminasi dapat membentuk suatu deck/ lantai jembatan yang solid dan jika dirangkai dengan
batang tarik pengekang dapat membentuk suatu deck laminasi bertegangan tarik. Kayu laminasi lengkung dapat
dipakai untuk memproduksi beragam jembatan yang indah

5.2. Pengenalan Sifat-Sifat Kayu


Kayu mempunyai kuat tarik dan kuat tekan relatif tinggi dan berat yang relatif rendah, mempunyai daya
tahan tinggi terhadap pengaruh kimia dan listrik, dapat dengan mudah dikerjakan, relatif murah, dapat
mudah diganti dan bisa didapat dalam waktu singkat (Felix, 1965).

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 3

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering dipergunakan untuk tujuan
penggunaan tertentu. Terkadang sebagai barang tertentu, kayu tidak dapat digantikan dengan bahan lain
karena sifat khasnya.
Kita sebagai pengguna dari kayu yang setiap jenisnya mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu mengenal
sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan tertentu
harus betul-betul sesuai dengan yang kita inginkan. Berikut ini diuraikan sifat-sifat kayu (fisik dan mekanik)
serta macam penggunaannya.
Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan
teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Pemilihan dan
penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu. Sifatsifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja
dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat
dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat
secara kontinu atau terlalu mahal.

Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda. Bahkan dalam satu
pohon, kayu mempunyai sifat yang berbedabeda. Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu
sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu :
1. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam - macam dan susunan dinding selnya terdiri
dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).
2. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut
tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).
3. Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air
(kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.
4. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.

A. Sifat Fisik Kayu


1. Berat dan Berat Jenis
Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat ekstraktif
didalamnya. Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya. Kayu mempunyai berat jenis

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 4

yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ 1,28 (kayu nani).
Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula.

2. Keawetan
Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti
jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif didalam kayu
yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu. Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat kayu
gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras lebih awet dari kayu gubal.
3. Warna
Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi warna dalam kayu yang
berbeda-beda.
4. Tekstur
Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan kedalam kayu
bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh: jati, sonokeling dll) dan
kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll).
5. Arah Serat
Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat dapat
dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal
(serat miring).
6. Kesan Raba
Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin,
dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar
air, kadar zat ekstraktif dalam kayu.
7. Bau dan Rasa
Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka. Beberapa jenis kayu
mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau
sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 5

kamper (kapur) dsb.

8. Nilai Dekoratif
Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemunculan riap-riap
tumbuh dalam pola-pola tertentu. Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu mempunyai
nilai dekoratif.

9. Higroskopis
Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air. Makin lembab udara disekitarnya
makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam
kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air
keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content).

10. Sifat Kayu terhadap Suara, yang terdiri dari :


a.

Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat dengan elastisitas
kayu.

b.

Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang suara. Kualitas nada
yang dikeluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan pembuatan
alat musik (kulintang, gitar, biola dll).

c.
11. Daya Hantar Panas
Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan untuk membuat barang-barang
yang berhubungan langsung dengan sumber panas.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 6

12. Daya Hantar Listrik


Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran listrik. Daya hantar listrik ini
dipengaruhi oleh kadar air kayu. Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi bahan sekat listrik yang baik
sekali, sebaliknya apabila kayu mengandung air maksimum (kayu basah), maka daya hantarnya
boleh dikatakan sama dengan daya hantar air.

B. Sifat Mekanik Kayu


1. Keteguhan Tarik
Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu.
Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tarik yaitu :
a. Keteguhan tarik sejajar arah serat dan
b. Keteguhan tarik tegak lurus arah serat.
Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat. Kekuatan tarik tegak
lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.

2. Keteguhan tekan / Kompresi


Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan/beban. Terdapat 2 (dua)
macam keteguhan tekan yaitu :
a. Keteguhan tekan sejajar arah serat dan
b. Keteguhan tekan tegak lurus arah serat.
Pada semua kayu, keteguhan tegak lurus serat lebih kecil daripada keteguhan kompresi
sejajar arah serat.
3. Keteguhan Geser
Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian
kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya. Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu :
a. Keteguhan geser sejajar arah serat
b. Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan
c. Keteguhan geser miring
Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah
serat.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 7

4. Keteguhan lengkung (lentur)


Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha
melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan.
Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :
a. Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara
perlahan-lahan.
b. Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara
mendadak.
5. Kekakuan
Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan
tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas.
6. Keuletan
Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan
terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui batas
proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian.
7. Kekerasan
Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan atau
kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang
ketahanan terhadap pengausan kayu.
8. Keteguhan Belah
Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah
kayu. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar.
Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukir-ukiran (patung). Pada
umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial.

Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat kekuatan kayu atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam
kg/cm2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara garis besar digolongkan menjadi dua
kelompok :
a.

Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan, pembebanan dan cacat yang

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 8

disebabkan oleh jamur atau serangga perusak kayu.


b.

Faktor dalam kayu (internal): BJ, cacat mata kayu, serat miring dsb.

Menurut Vademecum Kehutanan Indonesia, kelas kekuatan kayu didasarkan kepada berat jenis, keteguhan
lengkung mutlak dan keteguhan tekan mutlak, dan dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini:
TABEL 1. KELAS KEKUATAN KAYU
Kelas Kayu
I

Berat Jenis

Keteguhan lengkung

Keteguhan tekan

mutlak (kg/cm2)

mutlak (kg/cm2)

1100

650

0,90

II

0,60 - <0,90

725 -<1100

425 -<650

III

0,40 - <0,60

500 - <725

300 - <425

IV

0,30 -< 0,40

300-<500

215-<300

< 300

< 215

< 0,30

Kelas keawetan kayu didasarkan atas penyelidikan ketahanan terhadap:


1.

Pengaruh kelembaban/kayu ditempatkan di tanah yang lembab.

2.

Pengaruh iklim dan terik matahari tetapi terlindung terhadap pengaruh air.

3.

Pengaruh iklim tetapi terlindung terhadap matahari.

4.

Terlindung dan terpelihara.

5.

Pengaruh rayap dan serangga-serangga lain.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 9

C. Tegangan tegangan yang diperkenankan


Untuk mengetahui suatu konstruksi kayu perlu diketahui tegangantegangan yang diizinkan untuk jenis
kayu yang akan dipergunakan dalam konstruksi tersebut. Adapun besarnya tegangan tersebut menurut
PKKI adalah sebagai berikut:
a. Tegangan yang diperkenankan untuk kayu mutu A

Tabel 2. Tegangan yang diperkenankan

Berlaku untuk konstruksi yang terlindung dan menahan beban tetap. Untuk kayu yang
bermutu B harga tersebut di atas di kurangi 25%.

b. Korelasi tegangan yang diperkenankan untuk mutu A.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 10

Angka-angka diatas tetap berlaku untuk konstruksi yang terlindung dan yang
menahan muatan tetap.
-

Yang disebut dengan konstruksi terlindung, ialah konstruksi yang dilindungi


dari perubahan udara yang besar, dari hujan dan matahari, sehingga tidak
akan menjadi basah dan kadar lengasnya tidak akan berubahubah banyak.

Yang dimaksudkan muatan tetap ialah: muatan yang berlangsung lebih dari 3
bulan dan beban bergerak yang bersifat tetap atau terus-menerus seperti berat
sendiri, tekanan tanh, tekanan air, barang-barang gudang, kendaraan diatas
jembatan, dan sebagainya.

- Yang dimaksudkan dengan muatan tidak tetap ialah: muatan yang berlangsung
kurang dari 3 bulan dan muatan bergerak yang bersifat tidak tetap atau tidak
terus-menerus, seperti berat orang yang berkumpul, tekanan angin, dan
sebagainya.
-

Tegangan akibat perubahan suhu boleh diabaikan.

Untuk kayu bermutu B, angka-angka di atas di gandakan dengan faktor 0.75


Pengaruh keadaan konstruksi dan sifat muatan terhadap tegangan yang diperkenankan
diperhitungkan sebagai berikut:
a.

Tegangan-tegangan diatas harus digandakan dengan:


-

Faktor 2/3 untuk konstruksi yang selalu terendam air dan untuk konstruksi yang
tidak terlindung dan kemungkinan besar kadar lengas kayu akan selalu tinggi.

Faktor 5/6 untuk konstruksi yang tidak terlindung tetapi kayu itu dapat mongering
dengan cepat.

b.

Tegangan-tegangan diatas boleh digandakan dengan 5/4 untuk: - Bagian-bagian


konstruksi yang tegangannya diakibatkan oleh muatan tetap dan muatan angin.
-

Bagian-bagian konstruksi yang tegangannya diakibatkan oleh muatan tetap dan


tidak tetap.

Dalam perhitungan perubahan bentuk elastis, maka modulus kekenyalan kayu sejajar
serat dapat diambil dari tabel 3.3 sebagai berikut:

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 11

Kelas Kuat Kayu

E sejajar serat
(kg/cm2)

125.000

II

100.000

III

80.000

IV

60.000

Sebagai bahan konstruksi, kayu juga memiliki keuntungan dan kerugian sebagai berikut:
-

Kayu mempunyai kekuatan yang tinggi dan berat yang rendah, mempunyai daya
penahan tinggi terhadap pengaruh kimia dan listrik, dapat mudah dikerjakan,adalah
relatif murah, dapat mudah diganti, dan bisa didapat dalam waktu singkat.

Kerugiannya antara lain ialah sifat kurang homogen dengan cacatcacat alam seperti
arah serat yang berbentuk menampang, spiral dan diagonal, mata kayu, dan
sebagainya. Beberapa kayu bersifat kurang awet dalam keadaan-keadaaan
tertentu.

Kayu dapat memuai dan menyusut dengan perubahan-perubahan kelembaban dan


meskipun tetap elastis, pada pembebanan berjangka lama sesuatu balok, akan terdapat
lendutan yang relative besar.
Sifat-sifat karakteristik ini memperlihatkan perbedaan-perbedaan penting antara kayu dan
bahan lain yang untuk analisa matematis dalam Ilmu Kekuatan biasanya diidealisir
sebagai bahan yang sempurna akan homogenitas dan elastisitasnya.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 12

6m

5.3. Aplikasi dan Perencanaan Jembatan Kayu

14 m

Ditentukan :
1. L = 14 m
2. H = 6 m
3. Kayu Kelas II Mutu A
4. Jembatan Kayu untuk jalan raya Kelas II ( 2 x 3,5 m )
5. Beban Terpusat = 5 ton
6. Beban Merata = 2 ton/m
7. Peraturan Kayu PPKI
8. Lebar Jembatan = 9 m
9. Tekanan Angin (w) = 100 kg/m2

A1

D1

T2

D2

A3

T3

D3

A4

T4

A5

D4

6m

T1

A2

D5

A6

D6

T6

A7

D7

T7

A8

D8

T8

T9

T5

T10

D9

B1

T11

D10

B2

T12

D11

B3

T13

D12

D13

B4

B5

T14

D14

B6

T15

D15

B7

T16

D16

T17

B8

14 m

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 13

PERHITUNGAN PANJANG BATANG


Batang Atas ( A )
A1 = A2 = A3 = A4 = A5 = A6 = A7 = A8 =

14
= 1,75 meter
8

Batang Bawah ( B )
B1 = B2 = B3 = B4 = B5 = B6 = B7 = B8 =

14
= 1,75 meter
8

Batang Tegak ( T )
T1 = T2 = T3 = T4 = T6 = T7 = T8 = T9 = T10 = T11 = T12 = T13 = T14 = T15 = T16 = T17
= 3 meter
T5 = 6 meter
Batang Diagonal ( D )
D1 = D2 = D3 = D4 = D5 = D6 = D7 = D8 = D9 = D10 = D11 = D12 = D13 = D14 = D15 = D16
2

= B 2 + 1 T = 1,752 + 1 .6 = 3,5meter
1
1
2

TABEL REKAPITULASI PANJANG BATANG


Batang
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
A8
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
B8

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

Panjang (m)
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75
1,75

Batang
D1
D2
D3
D4
D5
D6
D7
D8
D9
D10
D11
D12
D13
D14
D15
D16

Panjang (m)
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5

Batang
T1
T2
T3
T4
T5
T6
T7
T8
T9
T10
T11
T12
T13
T14
T15
T16
T17

Panjang (m)
3
3
3
3
6
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

John H. Frans, ST || 14

PENENTUAN JARAK GELAGAR MEMANJANG DAN MELINTANG


1. Jarak Gelagar Memanjang ( )
Syarat-syarat gelagar memanjang adalah 0,4 m

=
Dimana :
n = jumlah gelagar memanjang ( harus ganjil )
B = lebar jembatan
= lebar perkerasan jalan + 2 x lebar trotoar
= 2 x 3,5 + 2 x 1
=9m
n
=
18

n
=
19

n
=
20

Jadi, diambil jarak gelagar memanjang ( ) = 0,5 m


Dan jumlah gelagar memanjang ( n ) = 19

0,6 m

B
n 1

=
=
=

0.52 m
0.5 m
0.47 m

2. Jarak Gelagar Melintang ( )

L
n 1

dimana :
L = panjang jembatan
n = jumlah titik buhul batang ( sesuai gambar = 9 titik )

14
= 1,75 m
9 1

jadi jarak gelagar melintang ( ) = 1,75 m


PERHITUNGAN LANTAI KENDARAAN
Lantai Kendaraan yang digunakan adalah papan double
Papan atas = 5/25
Papan bawah = 10/25
Lapisan aspal dengan tebal minimum 5 cm
Berat Jenis Aspal : 2500 kg/m3
Berat Jenis Kayu : 1000 kg/m3
Berat Jenis Air : 1000 kg/m3

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 15

Tegangan yang diperkenankan untuk kayu kelas I mutu A dari buku PPKI adalah :

lt
tk //

= 130 kg/cm2

tr //

= 130 kg/cm2

tk
//
E //

= 150 kg/cm2

= 40 kg/cm2
= 20 kg/cm2
= 125.000 kg/cm2

Menurut buku PPKI untuk konstruksi yang tidak terlindung, Tetapi kayu dapat meregang dengan
cepat ,maka tegangan-tegangan yang diizinkan dikalikan dengan faktor reduksi 5/6
Maka :

lt
tk //

tr //

= 150 kg/cm2 x 5/6 = 125 kg/cm2


= 130 kg/cm2 x 5/6 = 108,33 kg/cm2
= 130 kg/cm2 x 5/6 = 108,33 kg/cm2

tk
//

= 40 kg/cm2 x 5/6 = 33,33 kg/cm2


= 20 kg/cm2 x 5/6 = 16,67 kg/cm2

Jembatan lalu lintas dengan lebar 7 m. Kemiringan aspal direncanakan 2 %. Menurut buku Jembatan
(Ir. H. Stregk, 69), Bila digunakan aspal kasar dan padat dengan tebal minimum 5 cm.
Lebar Jalan

= Lebar jembatan Lebar Trotoar


= 9m - 2m
= 7m
= 700 cm

Tebal lapisan rata-rata :

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 16

2%
5 cm 5 cm

2%

L a pisan Aspa l

10 cm

P ap a n A ta s
P ap a n Ba w a h
3 ,5 m

3 ,5 m

Tebal aspal rata rata = ( 5 + 5 + 350 . 2% ) = 8,5 cm = 0,085 m


PEMBEBANAN PADA LANTAI
1. Akibat Beban Sendiri
- Beban sendiri aspal

- Bs. Papan atas

- Bs. Papan bawah

- Berat air hujan

Q total
Toeslag 10 %

Q TOTAL

= tebal aspal x lebar papan x aspal


= 0,085 x 0,25 x 2500
= 53,125 kg/m
= tebal papan x lebar kayu x kayu
= 0,05 x 0,25 x 1000
= 12,50 kg/m
= tebal papan x lebar kayu x kayu
= 0,10 x 0,25 x 1000
= 25,00 kg/m
= tebal air x lebar papan x air
= 0,05 x 0,25 x 1000
= 12,50 kg/m

= 53,125 kg/m + 12,50 kg/m + 25,00 kg/m + 12,50 kg/m


= 95,625 kg/m
= 10% x 95,625
= 9,5625 kg/m
= 95,625 kg/m + 9,5625 kg/m
= 105,1875 kg/m

2. Faktor Kejut
=

20
, dimana L = 14 m
50 + L

20
= 0,3125
50 + 14

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 17

3. Faktor Pembebanan
= 1 + Faktor Kejut
= 1 + 0,3125
= 1,3125
qtotal akibat beban sendiri = 1,3125 x 105,1875
= 138,06 kg/m
4. Faktor Pembebanan T (T Loading)
Menurut peraturan muatan untuk jembatan jalan raya No. 12//1970 :
P untuk 2 Roda = 20 Ton
P untuk 1 Roda = 10 Ton
Untuk jalan raya Kelas II diambil beban 70%
PERHITUNGAN BEBAN RODA TERHADAP ANGIN

PA

Y = 0,5 x t
, L = 1,75 (jarak antar As Roda)
Y = 0,5 x 200 cm
= 100 cm
=1m
PA = Tekanan Angin = 100 kg/m2
= 100 kg/m2 x 2m x 7,5 m
= 1500 Kg
* Beban angin merupakan beban merata pada sisi selebar 2 m sepanjang 7,5 m (PPJR Pasal 2)

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 18

PA

1,5

1,75

RA

Y=1m

RB

MA = 0
RB .
1,75 PA . 1 = 0
RB

PA 1
1,75

15001
1,75

= 857,143 kg
= 0,86 ton

Faktor Pembebanan = 1,3125


Po
= 70 % x 10 Ton
= 7 Ton
P kotak

= ( Po + P ) x Faktor Pembebanan
= ( 7 + 0,86 ) x 1,3125
= 10,316 ton

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 19

45

45

Papan Bawah
a

20

Papan Atas
45

45

Papan Bawah

a = (8,5 + 5 + 5) cm
= 18,5 cm
c = 20 + (18,5) x 2
= 57 cm

5 cm 8,5 cm

Papan Atas

Lapisan Aspal

50

10 cm

Lapisan Aspal

10 cm

5 cm 8,5 cm

Gambar Diagram Penyebaran Gaya

b = 50 + (18,5) x 2
= 87 cm

Jadi untuk peyebaran daerah lebar papan ( arah memanjang ) :


P
=
P (kotak) x 25/57
=
10,316 x 25/57
=
4524,56 kg
Untuk penyebaran daerah panjang papan ( arah melintang) :
q

4524,56 kg
87

= 5200,64 kg/m
Faktor Pembebanan = 1,3125
Q
= 1,3125 x 5200,64 kg/m
= 6815,84 kg/m
MOMEN YANG TERJADI
Jarak antara gelagar memanjang = 0,5 m
Momen akibar beban sendiri
M1
= 1/8.ql2
= 1/8 . 135,24. 0,52
= 4,23 kg.m
Momen akibar beban bergerak
M2
= 1/8.ql2
= 1/8 x 6553,18 x 0,52

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 20

Mtotal

= 204,79 kg.m
= M1 + M2
= 4,23 + 204,79
= 209,02 kg.m

KONTROL TEGANGAN
Kontrol Tegangan Lentur
W
= 1/6.b.h2
= 1/6 . 25 . 102
= 416,67 cm3

lt =

total

20902 kgcm
= 50,16 kg/cm2
416 , 67 cm 3

Syarat Aman

lt <

lt

50,16 kg/cm2 < 125 kg/cm2 .................... ok !!!


Kontrol Tegangan Geser
Q beban sendiri = 5/8 . q beban sendiri . L
= 5/8 (1,3542 kg/cm) . 50 cm
= 5/8 . 55.4 kg
= 42,32 kg

Q beban bergerak
= 5/8 . q beban bergerak . L
= 5/8 (65,5318 kg/cm) . 50 cm
= 2047,87 kg
Jadi Qtotal
= Q1 + Q2
= 42,32 kg + 2047,87 kg
= 2090,19 kg

3 Q total
2 bh

dimana : b = lebar papan = 25 cm


h
= Haspal + Hpapan
= 8.5 + 10 = 18.5 cm

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

3 Q total
2 bh

John H. Frans, ST || 21

3 2090,19 kg
2 25 18.5 cm 2

= 6,78 kg/cm2
Syarat Aman

<

//

6,78 kg/cm2 < 20,00 kg/cm2 .......................ok !!!


Jadi, kayu yang dipakai untuk papan lantai atas 5/25 dan Balok lantai bawah 10/25
Perhitungan Balok Lantai Arah Memanjang
Bentang Teoritis Jembatan

14

Lebar Lantai Jembatan

Jarak gelagar memanjang

0,5

Jarak gelagar melintang

1,75

Jumlah gelagar memanjang

19

Jumlah gelagar melintang

Pembebanan Gelagar Memanjang


Direncanakan menggunakan Balok kayu 20/25
1.

Beban Mantap
o Aspal

= tebal aspal x aspal x


= 0,085 x 2500 x 0,5
= 106,25 kg/m
Beban Sendiri Papan Kayu
Papan bawah
= tebal papan x x kayu
= 0,10 x 0,5 x 1000
= 50 kg/m
Papan atas
= tebal papan x x kayu
= 0,05 x 0,5 x 1000
= 25 kg/m
Gelagar Memanjang = lebar kayu x tebal kayu x kayu
= 0,20 x 0,25 x 1000
= 50 kg/m

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 22

= tebal air x x air


= 0,05 x 0,5 x 1000
= 25 kg/m
= 106,25 kg/m+ 50 kg/m + 25 kg/m2 + 50 kg/m + 25 kg/m
= 256,25 kg/m
o

q total

Berat Air

Toeslag 10%

= 25,625 kg/m

Total

= 256,25 kg/m + 25,625 kg/m


= 281,875 kg/m

(q bs )

Perhitungan M dan Q akibat gelagar memanjang, maka gelagar melintang dianggap perletakan sendiri.

1,75

M max

=
=
=

1/8 q bs L2
1/8 (281,875) (1,75)2
107,9 kg.m

Q max

=
=
=

1/2 q bs L
1/2 (281,875) (1,75)
431,62 kg

2.

Beban Akibat Loading

5t
2 t/ m

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 23

Menurut peraturan PU/Bina Marga No.12/1970


Muatan garis P
= 5 ton =
5000 kg
Muatan terbagi rata q
= 2 t/m = ( untuk L 30 m )
Faktor Kejut

20
50 + L
20
=
50 +14
=

dimana L = 14 m
= 0,3125

Faktor Pembebanan
= 1 + Faktor Kejut
= 1 + 0,3125
= 1,3125
Beban yang bekerja pada gelagar memanjang

P P
2
5 0 ,5 1, 3125
=
2

= 1,6406 ton
= 1640,6 kg

q P
2
1,5 0 ,5 1,3125
=
2

= 0,49219 t/m
= 492,19 kg/m
jadi,

q akibat loading (qt)


p akibat loading (Pt)

= 492,19 kg/m
= 1640,6 kg

PEMBEBANAN

RA

1,75 m

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

RB

John H. Frans, ST || 24

v Akibat Beban Garis

M max

= 1/4 p L
= 1/4 (1640,6) (1,75)
= 717,76 kg.m
Q max
= P/2
= 1640,6 /2
= 820,3 kg
v
Akibat Merata

M max

= 1/8 q L2
= 1/8 (431,62)(1,75)2
= 165,23 kg.m

Q max

= 1/2 q L
= 1/2 (431,62) (1,75)
= 377,67 kg

M total =

Mbs + Mp + Mq
=
220,21 kg.m + 717,76 kg.m + 165,23 kg.m
=
1703,2 kg.m

Q total

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

Qbs + Qp + Qq

John H. Frans, ST || 25

=
=

352,34 kg + 820,3 kg + 377,67 Kg


1550,31 kg

KONTROL GELAGAR MEMANJANG


1. Kontrol Tegangan Lentur

1
b h2
6
1
(20) (25)2
6

W =

25

20
=

lt =

2083,33 cm3

total

170320 kgcm
2083 ,33 cm 3
= 81,754 kg/cm2

Syarat Aman

lt <

lt

81,754 kg/cm2 < 125 kg/cm2 .................... ok !!!


2. Kontrol Tegangan Geser

3 . Qtot
2 bh
3 1550,31
=
2 20 25
=

= 4,65 kg/cm2
Syarat Aman

//
<
2
4,65 kg/cm < 20,00 kg/cm2 ....................... ok !!!

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 26

3. Kontrol Lendutan
E

=
=
=
=

125000 kg/cm2
L/400
175/400
0,4375 cm

=
=
=

1/12 x b x h
1/12 (20) (25) 3
26041,67 cm4

5 ( q bs + q t ) L4
=
384EI
5 (2,81875+ 4,9219 ) (175) 4
=
384 (125000)(26041,67)
= 0,03 cm

Syarat Aman

0,03cm <

<
0,625 cm

....................... ok !!!

Jadi, Dimensi kayu 20/25 dapat digunakan pada gelagar memanjang.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 27

PERHITUNGAN TROTOAR
Menurut peraturan Muatan umum untuk jembatan jalan raya no.12/1970
Kondisi Trotoar harus diperhitungkan terhadap muatan hidup sebesar 500 kg/m2

1.
2.
3.
4.

Lebar rencana trotoar


=
Muatan trotoar
=
Papan Lantai kayu kelas II =
Papan trotoar rencana
=

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

2 x 1 m = 200 cm
500 kg/cm2
1000 kg/m3
7/20

John H. Frans, ST || 28

Perhitungan Lantai Trotoar


PEMBEBANAN
o
o
o

Beban Sendiri Papan Lantai


Beban Sendiri Beban Bergerak
Berat Air Hujan

= 0,07 x 0,2 x 1000 = 14 kg/m


= 0,2 x 500
= 100 kg/m
= 0,05 x 0,2 x 1000 = 10 kg/m
q
Toeslag 10%

= 124 kg/m
= 12,4

q bs

= 136,4 kg/m

q = 136,4
M max

=
=
=

1/8 q bs L2
1/8 (136,4) (1)2
17,05 kg.m

Q max

=
=
=

1/2 q bs L
1/2 (136,4) (1)
68,2 kg

Kontrol untuk Lantai Trotoar


1.

Kontrol tegangan lentur

lt =

total

w
1705 kg . cm
= 1 20 ( 7 ) 2
6
= 10,43 kg/cm2

Syarat Aman

10,43

kg/cm2

lt <

< 125

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

lt

kg/cm2

.................... ok !!!

John H. Frans, ST || 29

2.

Kontrol Tegangan Geser

//

3 Qtot
2bh

3 68,2
2 20 7

= 0,73 kg/cm2
Syarat Aman

//
0,73

kg/cm2

3.

//
<
2
< 16,67 kg/cm .......................ok !!!

Kontrol Lendutan
E

=
=
=
=

125000 kg/cm2
L/400
100/400
0,25 cm

=
=
=

1/12 x b x h
1/12 (20) (7) 3
571,67 cm4

5 q L4
=
384 EI

5 1,364 (100) 4
384 (125000) (571,67)

= 0,025 cm
Syarat Aman

<

0,025 cm < 0,25 cm

.......................ok !!!

Jadi, Dimensi kayu 7/20 dapat digunakan pada lantai trotoar.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 30

PERITUNGAN GELAGAR MEMANJANG TROTOAR

Gelagar Memanjang

1,75 m
Menurut PMUJJR, konstruksi trotoar harus diperhitungkan muatan sebesar 60% dengan muatan hidup
di atas trotoar.
Jarak gelagar memanjang = 0,5 m
Jarak gelagar melintang = 1,75 m

= 50 cm
= 175 cm

Gelagar memanjang direncanakan dengan balok 15/20

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 31

Pembebanan
Berat sendiri papan lantai
= (0,07) x (0,5) x (1000) = 35 kg/m
Berat sendiri
gelagar memanjang
= (0,15) x (0,2) x (1000) = 30 kg/m
Berat muatan hidup
= 60% x (0,5) x (500) =150 kg/m
=
Toeslag 10% =

215 kg/m
21,5 kg/m

q bs =

236,5 kg/m

263,5 kg/m

1,75 m

1.

= 1/8.q bs. L2
= 1/8 . 263,5 . (1,75)2
= 100,8711 kg.m
= 10087,11 kg.cm

Qmax

= . q bs . L
= . 263,5. 1,75
= 230,5625 kg

Kontrol Tegangan Lentur


= 1/6 x b x h2
= 1/6 x (15) (20)2
= 1000 cm2

Wn

Mmax

lt

M
Wn

10087,11
=
1000
= 10,087
Syarat Aman

lt <

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

kg/cm2

lt

John H. Frans, ST || 32

10.087 kg/cm2 < 125 kg/cm2 .................... ok !!!


2.
Kontrol Tegangan Geser

3 Qmax
2bh

3 295,625 kg
2 15 20

= 1,478 kg/cm2
Syarat Aman

1,478
3.

kg/cm2

//
<
< 16,67 kg/cm2 .......................ok !!!

Kontrol Lendutan
E

= 125000 kg/cm2
= L/400
= 250/400
= 0,625 cm

= 1/12 x b x h
= 1/12 x (15) x (20) 3
= 10000 cm4

5 q L4
384EI

5 ( 2,365)(250) 4
384 (125000) (10000)

= 0,096 cm
Syarat Aman

<
0,096 cm < 0,625 cm .ok !!!

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 33

Perhitungan Balok Sandaran Trotoar

Menurut peraturan Bina Marga ( PU no.12/1970 ) :


Balok dan tiang sandaran harus diperhitungkan terhadap tekanan horizontal 100 kg/m2 yang bekerja
setinggi 90 cm dari lantai trotoar
Pembebanan
Balok rencana untuk sandaraan trotoar 25/20
Berat sendiri balok sandaran = 0,25 x 0,2 x 1000 kg/m = 50 kg/m
Toeslag 10%
= 10% x 50 kg/m
= 5 kg/m
= 55 kg/m
Beban hidup P = 100 kg/m2
x = 20

y = 25

Dimana :
P bekerja sumbu y
q bekerja sumbu x

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 34

a. Sumbu yang bekerja sumbu x

x
1,75 m

Mmax

=
=
=

1/8 q L2
1/8 (55) (1,75) 2
21,05 kg.m

Qmax

=
=
=

qL
(55) (1,75)
48,125 kg

b. Sumbu yang bekerja sumbu y

y
Mmax

=
=
=

1,75 m

L2

1/8 P
1/8 (100) (1,75) 2
38,28 kg.m

Qmax

=
=
=

PL
(100) (1,75)
87,5 kg

Kontrol Balok Sandaran


Kontrol tegangan lentur

wx

bruto

wy

bruto

= 1/6 x b x h2
= 1/6 x (25) (20)2
= 1666,67 cm2
= 1/6 x b x h2
= 1/6 x (20) (25)2
= 2083,33 cm2

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 35

Maka

lt

M
w

M
w

y
x

= 0,003 cm
Syarat Aman

= 3,307 kg/cm2

<
0,003 cm < 0,625 cm ok !!!

Syarat Aman

3,307

5 q L4
384EI

5 (0,55) (175) 4
=
384 (125000) (16666,67)

2105
3828
+
2083 ,33 1666 , 67

kg/cm2

lt <

lt

< 125 kg/cm2 .................... ok !!!

Perhitungan Tiang Sandaran

Kontrol Tegangan Geser

3 Qtot
2bh

3 (48,125 + 87,5)
2 25 20

= 0,41 kg/cm2
Syarat Aman

0,41

//
<
< 16,67 kg/cm2 ................ok !!!

kg/cm2

Kontrol Lendutan
E

= 125000 kg/cm2
= L/400
= 250/400 = 0.625 cm

= 1/12 x b x h
= 1/12 x (25) x (20) 3
= 16666,67 cm4

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 36

Tinggi Tiang Jepitan


= 90 cm
Beban Horizontal tiap tiang sandaran (Pa) =
2,5 m x 100 kg/m = 250 kg
Momen (Ma)
= 250 kg x 0,9 m = 225 kg.m
Direncanakan menggunakan balok kayu 2 x 5/20

20 cm

15 cm

15 cm

Ix

= 2 x 1/12 b h3
= 2 x 1/12 (15) (20)3
= 20000 cm4

Wn =

0 ,8 I
0 ,5 h

= (0,8 x 20000) / (0,5 x 20)


= 1600 cm2
Sehingga

lt

M
Wn

22500
= 1600
= 14,0625 kg/cm2
Syarat Aman

lt <

lt

14,0625 kg/cm2 < 125 kg/cm2 .................... ok !!!


Maka, Tiang Sandaran menggunakan balok kayu dengan ukuran 2 x 15/20
Jurusan Teknik Sipil
Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 37

PERHITUNGAN SKOOR MIRING TIANG SANDARAN

Ha
60o

DA
60o

Jarak tiang sandaran 1 m


q = 100 kg/m

P yang di tahan tiang


= q.L
= x 100 x 1
= 50 kg

As Papan sandaran dianggap bekerja simetris pada balok sandaran


Mb
= 0
Ha . 0,3 - P . 0,9 = 0
0,3 Ha - 50 . 0,9 = 0
Ha

= 150 kg

Cos 60o
= Ha / Da
Da = Ha / cos 60o
= 150 / cos 60o
= 300 kg
Panjang Skoor ;
L = 0,3 / sin 60o
= 0,346 m
~ 0,35 m

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 38

Ukuran skoor (5/7)


I = 1/12 . b . h3 = 1/12 . 5 . 73 = 142,917 cm4
F = b . h = 5 . 7 = 35 cm2
imin = ( I/F )1/2 = ( 142,917/35 )1/2 = 2,021 cm

34 ,6 cm
= 17,12
2,021 cm

i min

Dari tabel, didapat = 1,14 ( Tabel kayu sudarminto haL 37 )

P .
50 .1,14
=
F
35

tk // =

= 1,63 kg/cm2

Syarat Aman

tk

//

<

tk

//

1,63 kg/cm2 < 108,33 kg/cm2 .................... ok !!!


Kontrol Sambungan
P

= 50 kg

tk

tk // - ( tk // - tk ) . sin

= 108,33 kg/cm2 ( 108,33 kg/cm2 33,33 kg/cm2 ) sin 60


= 43,38 kg/cm2

tm =

P . cos 2
50 . cos 2 60
=
5 . 33 ,33
b . tk

= 0,075 cm

Syarat Aman
tm < h
0,075 cm < . 7 cm
0,075 cm < 1,75 cm .................... ok !!!

Lm =

50 . cos 60
P . cos
= 0,15 cm
=
5 . 33 , 33
b . tk

Syarat Aman
tm < h
0,15 cm < 7 cm
0,15 cm < 7 cm....................ok !!!

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 39

PERHITUNGAN GELAGAR MELINTANG

P1

P2

P3

P4

P5

P6

P7

P8

P9

P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19

9m

Diketahui

Jarak gelagar memanjang


Jumlah gelagar memanjang
Jarak gelagar melintang
Lebar Jembatan

=
=
=
=

0,5 m
19 buah
1,75 m
9m

PEMBEBANAN
1. Akibat Lantai kendaraan
o Beban P1= P19
Berat muatan hidup
Berat air hujan
Akibat Trotoar
Berat papan lantai trotoar
Berat gelagar memanjang trotoar

= (0,25) x (500)
= 0,05 x 0,25 x 1000

= 125
= 12,5

kg/m
kg/m

= (0,07) x (0,25) x (1000)


= (0,15) x (0,2) x (1000)

= 35
= 30

kg/m
kg/m

q
Toeslag 10%

= 202,5
= 30,25

kg/m
kg/m

Q total

= 232,75

kg/m

= 250
= 25

kg/m
kg/m

Dengan jarak gelagar melintang adalah 1,75 m, maka didapat nilai P1


P1

= q1 x L
= 232,75 x 1,75
= 1455,78 kg

o Beban P2=P18
Berat muatan hidup
Berat air hujan

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

= (0,5) x (500)
= 0,05 x 0,25 x 1000

John H. Frans, ST || 40

Akibat Trotoar
Berat papan lantai trotoar
Berat gelagar memanjang trotoar

= (0,07) x (0,25) x (1000)


= (0,15) x (0,2) x (1000)

= 35
= 30

kg/m
kg/m

= 340
= 44

kg/m
kg/m

= 384

kg/m

= 0,2 x 0,25 x 1000


= (0,05+0,15) x 0,25 x 1000
= (0,25) x (500)
= 0,05 x 0,25 x 1000
= 0,085 x 0,25 x 2500

= 50
= 50
= 125
= 12,5
=53,125

kg/m
kg/m
kg/m
kg/m
kg/m

= (0,07) x (0,25) x (1000)


= (0,15) x (0,2) x (1000)

= 35
= 30

kg/m
kg/m

q
Toeslag 10%

+
Q total
Jarak gelagar melintang = 1,75 meter
Maka, P2
= q bs . L
= 384 x 1,75 m
= 847 kg

o Beban P3=P17
Berat gelagar memanjang (20/25)
Berat papan lantai kendaraan
Berat muatan hidup
Berat air hujan
Berat aspal
Akibat Trotoar
Berat papan lantai trotoar
Berat gelagar memanjang trotoar

q
Toeslag 10%

=455,625 kg/m
=35,5625 kg/m

+
Q total

=491,1875kg/m

Jarak gelagar melintang = 1,75 meter


Maka, P3
= q bs . L
= 491,1875 x 1,75 m
= 684,58 kg
o Beban P4
Dimana P4 = P5 = P6 = P7 = P8 = P9 = P10 = P11 = P12 = P13 = P14 = P15 = P16
Berat gelagar memanjang (20/25)
Berat papan lantai kendaraan
Berat air hujan
Berat aspal

= 0,2 x 0,25 x 1000


= (0,05+0,15) x 0,5 x 1000
= 0,05 x 0,5 x 1000
= 0,085 x 0,5 x 2500

= 50
= 30
= 25
=106,25

kg/m
kg/m
kg/m
kg/m

+
q
Toeslag 10%

=231,25
kg/m
=23,125 kg/m

+
Jurusan Teknik Sipil
Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 41

Q total

=254,375 kg/m

Jarak gelagar melintang = 1,75 meter


Maka, P4
= q bs . L
= 254,375 x 1,75 m
= 445,156 kg
REAKSI PERLETAKAN
RA = RB

= P1 + P2 + P3 + 6,5P4
= 1455,78 + 847 + 684,58 + 6,5 (445,156)
= 5880,874 kg

Momen Maksimum yang terjadi ditengah bentang


Mmax
= RA (4,5) P3 (4,5) P1 (3,5) P4 (3,5) P2 (3+2,5+2+1,5+1+0,5)
= 5880,874 (4,5) 684,58 (4,5) 1455,78 (3,5) 445,156 (3,5) 847 (3+2,5+2+1,5+1+0,5)
= 7988,047 kgm
Qmax
= RA = RB = 5880,874 kg
2. Akibat Muatan Loading
Untuk Jembatan kelas I diambil 70 %
o Muatan garis P =
o Muatan merata q =

12 ton x 70%
= 8,4 ton
2,2 ton/m x 70% = 1,54 ton

Jarak gelagar melintang 1,75 m; maka faktor pembebanan

= 1+

20
50 + 1,75

= 1,38
Jarak gelagar melintang = 0,5 m maka beban yang bekerja pada tiap gelagar adalah :
o

8 ,4 t
2

x 0,5 x 1,38

= 2,898 t
= 2898 kg
o

1, 54 t / m
x 0,5 x 1,38
2

= 0,5313 t/m
= 531,3 kg/m
Qmax

= q.L
= . 531,3 kg/m . 1,75 m
= 464,8875 kg
Maka besarnya gaya :
o
P2
= P+Q
o

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 42

= 2898 kg + 464,8875 kg
= 3362,8875 kg
= . P2
= . 3362,8875 kg
= 1681,44 kg

P1

*P2 = P3-18
Reaksi Perletakan
RA = RB
= P1 + P2
= 1681,44 kg + 8,5 (3362,8875 kg)
= 30265,98 kg
Mmax
= RA (4,5) P1(4,5) P2 (4+3,5+3+2,5+2+1,5+1+0,5)
= 30265,98 (4,5) 1681,44 (4,5) 3362,8875 (18)
= 68098,455 kgm
Qmax
= RA
= 30265,98 kg
3. Akibat berat sendiri gelagar melintang
Gelagar melintang direncanakan 70/90
o

=
=
=
=
=
=
=
=

Mmax

Qmax

Mmax total

Qmax total

0,7 x 0,9 x 1000


630 kg/m
1/8 . q . L
1/8 . 630 . 92
2430 kgm
9m
.q.L
. 630 . 9
1080 kg
= (6978,047 kgm + 68098,455 kgm + 2430 kgm)
= 68516,502 kgm
= (4870,874 kg + 30265,98 kg + 1080 kg)
= 27426,854 kg
= 1/6 . b . h2
= 1/6 . 70 cm . (90 cm)2
= 94500 cm3

1. Kontrol Tekuk

tk =

max total

7851650,2
94500

= 83,086 kg/cm2

Syarat Aman

tk ll

<

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

tk ll

John H. Frans, ST || 43

83,086 kg/cm2 < 108,33 kg/cm2 .................... ok !!!


2. Kontrol Tegangan Geser

3 . Q total
2 .b . h
3.37226,854
=
2.70.90
=

= 8,86 kg/cm2

Syarat Aman

<

ll

8,86 kg/cm2 < 16,67 kg/cm2.....................ok !!!


3. Kontrol Lendutan
P2

= (847 kg + 3362,8875 kg)


= 4209,887 kg

P3

=
=
=
=
=
=

(684,58 kg + 3362,8875 kg)


4047,4675 kg
(445,156 kg + 3362,8875 kg)
P4
3808,04 kg
q
240 kg/m
E
125000 kg/cm2 ( kayu kelas II )
1
1
I
=
. 70 . 903
bh 3 =
12
12
= 4252500 cm4
Lendutan maksimum terjadi di tengah bentang
v

Akibat P2 di titik 1
a = 0,5 meter
b = 9 m 0,5 m = 8,5 meter

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

4209,887 kg . (50 ) 2 .850 2


=
3.125 10 3. 4252500 .900
= 0,005 cm

v
a
b

Akibat P3 di titik 2
= 1 meter
= 9 m 1 m = 8 meter
2

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

4047,4675 kg . (100 ) 2 .800 2


=
3.125 10 3. 4252500 .900

John H. Frans, ST || 44

= 0,018 cm
v
a
b

Akibat P4 di titik 3
= 1,5 meter
= 9 m 1,5 m = 7,5 meter

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

3808,04 kg . (150 ) 2 .750 2


=
3.125 10 3. 4252500 .900
= 0,033 cm

v
a
b

Akibat P4 di titik 4
= 2 meter
= 9 m 2 m = 7 meter

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

3808,04 kg . (200 ) 2 .700 2


=
3.125 10 3. 4252500 .900
= 0,052 cm

v
a
b

Akibat P4 di titik 5
= 2,5 meter
= 9 m 2,5 m = 6,5 meter

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

3808,04 kg . (250 ) 2 .650 2


=
3.125 10 3. 4252500 .900
= 0,07 cm

v
a
b

Akibat P4 di titik 6
= 3 meter
= 9 m 3 m = 6 meter

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

3808,04 kg . (300 ) 2 .600 2


=
3.125 10 3. 4252500 .900
= 0,086 cm

v
a
b

Akibat P4 di titik 7
= 3,5 meter
= 9 m 3,5 m = 5,5 meter

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

3808,04 kg . (350 ) 2 .550 2


=
3.125 10 3. 4252500 .900
= 0,098 cm

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 45

v
a
b

Akibat P4 di titik 8
= 4 meter
= 9 m 4 m = 5 meter

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

3808,04 kg . (400 ) 2 .500 2


=
3.125 10 3. 4252500 .900
= 0,106 cm

v
a
b

Akibat P4 di titik 9
= 4,5 meter
= 9 m 4,5 m = 4,5 meter

P . a 2 .b 2
=
3 EI . L

3808,04 kg . (450 ) 2 .450 2


=
3.115 10 3. 4252500 .900
= 0,109 cm

Akibat q

5 .q . L 4
q =
384 EI

5.2, 4 kg . 900 4
=
384.125 10 3. 4252500.
= 0,039 cm

max

= 21 + 22 + 23 + 24 + 25 + 26 + 27 + 28 + 29 + q
= 2(0,005)+2(0,018)+2(0,033)+2(0,052)+2(0,07)+2(0,086) +2(0,098) + 2(0,106) + 2(0,109) +
0,039
= 1,193 cm

L
900
=
400
400
= 2,25 cm

Syarat Aman :

<
1, 193 cm < 2,25 cm......................ok !!!

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 46

PERHITUNGAN PASAK GELAGAR MELINTANG


Untuk gelagar melintang digunakan balok 70/90 disusun tersusun 3 lapis :
30
30
30

70

Bidang Lintang gelagar tersebut :

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

Bidang Lintang
Diketahui :
P1

= (1455,78 kg + 3362,8875 kg)


= 4818,6675 kg

P2

= (847 kg + 3362,8875 kg)


= 4209,8875 kg

P3

= (684,58 kg + 3362,8875 kg)


= 4047,4675 kg

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 47

P4
q
RA = RB

= (445,156 kg + 3362,8875 kg)


= 3808,0435 kg
= 240 kg/m
= . q . L + P1 + P2 + P3 + 6,5 P4
= . 240 kg/m . 9 m + 4818,6675 kg + 4209,8875 kg + 4047,4675 kg + 6,5 (3808,0435 kg)
= 38908,30525 kg

Karena batang simetris maka ditinjau setengah saja....


QA
=
38908,30525 kg
QA 4818,6675 kg
= 34089,64 kg
QA kanan =
QB kiri
=
QA kanan - ( 0,5 . 240 )
= 33969,64 kg
QB kanan =
QB kiri - 4209,8875 kg
= 29759,75 kg
QC kiri
=
QB kanan - ( 0,5 . 240 )
= 29639,75 kg
QC kanan =
QC kiri - 4047,4675 kg
= 25592,28 kg
QD kiri
=
QC kanan - ( 0,5 . 240 )
= 25472,28 kg
QD kanan =
QD kiri - 3808,0435 kg
= 21664,24 kg
QE kiri
=
QD kanan - ( 0,5 . 240 )
= 21544,24 kg
QE kanan =
QE kiri - 3808,0435 kg
= 17736,20 kg
QF kiri
=
QE kanan - ( 0,5 . 240 )
= 17616,20 kg
QF kanan =
QF kiri - 3808,0435 kg
= 13808,16 kg
QG kiri
=
QF kanan - ( 0,5 . 240 )
= 13688,16 kg
QG kanan =
QG kiri - 3808,0435 kg
= 9880,12 kg
QH kiri
=
QG kanan - ( 0,5 . 240 )
= 9760,12 kg
QH kiri - 3808,0435 kg
= 5952,08 kg
QH kanan =
QI kiri
=
QH kanan - ( 0,5 . 240 )
= 5832,08 kg
QI kanan = QI kiri - 3808,0435 kg
= 2024,04 kg
QJ kiri
=
QI kanan - ( 0,5 . 240 )
= 1904,04 kg
QJ kanan = QJ kiri . 3808,0435 kg =
0 kg

Kekuatan Pasak

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 48

//

kayu kelas II mutu A = 16,67 kg/cm2

dipakai pasak kayu dengan syarat :


u>6t
diambil t > 3 cm
t > 1,5 cm
sehingga u = 6.t = 6.3 = 18 cm
u > 18 cm
Dipakai pasak :
- u = 18 cm
- t = 3 cm
- b = 40 cm
Maka kekuatan pasak
* S1 = u . b . // pasak = 18 cm . 40 cm . 16,67 kg/cm2 = 12002,4 kg
* S2 = b . t . tk balok = 40 cm. 3 cm . 33,33 kg/cm2 = 3999,6 kg
Diambil nilai S minimum yaitu S = 3999,6 kg
Jumlah pasak untuk setengah bentang
=

LTOTAL
=
S

63864,75
= 18,29 19 buah pasak
3999,6

AB

LAB 15754,25 kg
=
S
3999 , 6 kg

BC

LBC 13749,75 kg
=
S
3999 , 6 kg

CD

LCD 11820,75 kg
=
S
3999 , 6 kg

DE

EF

LEF 8183,25 kg
=
S
3999 , 6 kg

= 2,05 2 pasak

FG

LFG
6365 kg
=
3999 , 6 kg
S

= 1,59 2 pasak

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

LDE
S

9109,5 kg
3999 , 6 kg

= 3,94 3 pasak
= 3,44 3 pasak
= 2,95 3 pasak
= 2,28 3 pasak

John H. Frans, ST || 49

GH

LGH
4546,25 kg
=
3999 , 6 kg
S

= 1,14 1 pasak

HI

LHI
2727,75 kg
=
3999 , 6 kg
S

= 0,68 1 pasak

IJ

LIJ
909,25 kg
=
3999 , 6 kg
S

= 0,23 1 pasak

PERHITUNGAN IKATAN ANGIN


Dalam memperhitungkan jumlah bagian-bagian jembatan pada setiap sisi dapat digunakan ketentuan menurut
PMUJR Bina Marga No.12 / 1970 :
Jembatan rangka diambil 30 % terhadap luas bidang sisi jembatan yang bersangkutan.
Pengaruh tekanan angin sebesar 90 kg/cm2 pada jembatan ditinjau berdasarkan bekerjanya angin
horizontal terbagi rata pada bidang vertikal jembatan dalam arah tegak lurus sumbu memanjang
jembatan
Jumlah luas bidang vertikal jembatan yang dianggap terkena angin, ditetapkan sebesar 1,5 kali jumlah
luas bagian sisi jembatan.
Bila ada muatan hidup di jembatan, maka luas tersebut ditambah dengan luas bidang vertikal muatan
hidup yang tidak terlindungi oleh bagian sisi jembatan. Bidang vertikal muatan hidup tersebut ditetapkan
sebagai suatu permukaan bidang vertikal yang mempunyai tinggi terus menerus sebesar 2m di lantai
kendaraan.

Luas sisi jembatan:

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 50

6m

14 m

F rangka= 14 x 6 = 84 m2
Jumlah luas bagan vertikal jembatan yang dianggap terkena angin adalah
1,5 x Luas total = 1,5 x 84 m2 = 126 m2
o Untuk jembatan rangka luasnya 30 %
L = 0,3 x 126 m2 = 37,8 m2
Tekanan angin ( w ) = 100 kg/m2
o Besar gaya angin pada rangkanya :
= 37,8 m2 x 100 kg/m2
= 3780 kg
o Gaya angin pada muatan hidup setinggi 2 m
= 2 m x 14 m x 100 kg/m2 = 2800 kg
o Total gaya akibat angin pada jembatan rangka
= 3780 kg + 2800 kg
= 6580 kg
o Jumlah medan pada jembatan rangka = 8

o
o

tiap simpul
P/2

6580 kg
= 822,5 kg
8
6580 kg
=
= 3290 kg
2
=

Ra = Rb = 4 P
= 4 (6580 kg )
= 26320 kg

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 51

IKATAN ANGIN

P/2

A1

A2

D1

A3

D3
T3

A4

D5
T5

A5

D7

A6

D9

T7

A7

D11
T10

6m

T1

P/2

A8

D13
T12

D15
T14

T16

T9
T2

T4
D2

B1

T6
D4

B2

T8
D6

B3

T11
D8

D10

B5

B4

T13
D12

B6

T15
D14

B7

T17
D16

B8

14 m

CREMONA

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 52

Rekapitulasi Gaya Batang Ikatan Angin


GAYA BATANG

BATANG

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

Tarik ( + )

Tekan ( - )

A1 = A8
A2 = A7
A3 = A6
A4 = A5

1287,5
1186,97
1768,13

B1 = B8
B2 = B7
B3 = B6
B4 = B5

1287,5
1186,97
1768,13

D1 = D15
D2 = D16
D3 = D13
D4 = D14
D5 = D11
D6 = D12
D7 = D9
D8 = D10

2575
1847,56
1126,56
373,37

2575
1847,56
1126,56
373,37
-

T1 = T16
T2 = T17
T3 = T14
T4 = T15
T5 = T12
T6 = T13
T7 = T10
T8 = T11
T9

965,63
321,87
-

643,75
5150
1253,13
1609,39
321,87
965,63
643,75

John H. Frans, ST || 53

DIMENSI BATANG IKATAN ANGIN


Batang atas dan batang bawah merupakan gelagar memanjang.
Batang tegak merupakan gelagar melintang jembatan.
Jadi, hanya mendimensi batang diagonal ( D ) pada ikatan angin

o
o

T5

T3

T1

T7
3m

D1

D3

D5

D7
T9

T2

D6

D4

D2

D8
3m

T4
T6

1,75

1,75

T8

1,75

1,75

Perhitungan Hubungan Gelagar Melintang dengan Ikatan Angin


o

Akibat Gaya Tarik


Dicoba ukuran balok 15/20
Pmax batang D = 2575 kg
Panjang batang maksimum :
Lk

Ix

Fbr
Fr
tr

(1,75m ) 2 + (3 m ) 2

= 4,828 m
= 482,8 cm
= 1/12 . b . h3
= 1/12 . 15 . 203
= 10000 cm4
= 15 . 20 = 300 cm 2
= 0,8 x Fbr = 0,8 x 300 cm2
= 240 cm2
=

2575
P
=
= 10,73 kg/cm2
240
Fr

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 54

Syarat Aman :
tr <

tr

//

10,73 kg/cm2 < 108,33 kg/cm2.........................ok !!!

Akibat Gaya Tekan


Dicoba ukuran balok 15/20
Pmax batang D = 704,25 kg
Panjang batang maksimum :
Lk

(1,75m ) 2 + (4,5 m ) 2

= 4,828 m
= 482,8 cm
Ix

= 1/12 . b . h3
= 1/12 . 15 . 203
= 10000 cm4

Fbr
Fr

= 15 . 20 = 300 cm 2
= 0.8 x Fbr = 0,8 x 300 cm2
= 240 cm2

imax

Ix
10000
=
= 5,774 cm
F
300
514,8
Lk
=
= 89,16 90
=
5,774
imin
=

Dari tabel tekuk = 90 didapat = 2,50 ( PPKI, hal 12 )


Syarat Aman :
< 150
90 < 150........................ok !!!
tk

2575 2,5
P
=
= 21,46 kg/cm2
300
Fbr

Syarat Aman :
tk <

tk

21,46

kg/cm2

//

< 108,33 kg/cm2.........................ok !!!

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 55

o Dengan Sambungan Baut


Dipakai kayu dengan kelas II, maka digunakan Sambungan bertampang I golongan 1
(felix Yap. Hal.16)
b = 5,4
b = b/d
d = b/b = 15/5,4 = 3,7
diambil baut 5/8
Arc tg = 2,25/2,25 = 1

d = 1,587 cm

= 50 . d . b1 . ( 1 0,6 sin )
= 50 (3,7) (15) ( 1 0,6 . sin 45)
= 2130,22

PERHITUNGAN GELAGAR INDUK


Pembebanan
Akibat Beban Mati
I. Jalur Utama
Aspal
Papan Lantai Kendaraan
Gelagar Memanjang
Gelagar Melintang

=
=
=
=

0,085 . 14 . 6 . 2500
(0,10+0,05) . 14 . 6 . 1000
0,2 . 0,25 . 14 . 19 . 1000
0,7 . 0,9 . 9 . 9 . 1000
Toeslag 10%
P1

II. Trotoar
Papan Lantai Kendaraan
Gelagar Memanjang
Balok Sandaran
Tiang Sandaran

=
=
=
=

0,07 . 1 . 14 . 1000
0,15 . 0,2 . 14 . 1000 . 2
0,25 . 0,2 . 14 . 1000 . 3
0,15 . 0,2 . 0,9 . 1000 . 9
Toeslag 10%
P2

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

=
=
=
=
=
=
=

19750
17000
19000
51030
116780
12678
129458 kg

kg
kg
kg
kg +
kg
kg +

=
=
=
=
=
=
=

980
840
2100
243
4843
584,3
5427,3

kg
kg
kg
kg +
kg
kg +
kg

John H. Frans, ST || 56

III. Ikatan Angin


Batang Diagonal

= 0,15 . 0,2 . 4,3 . 1000 . 16


Toeslag 10%
P3

= 2470,95
= 247,095
= 2718,05

kg
kg +
kg

IV. Berat Sendiri Gelagar Induk


Batang Atas
2 x 20/30
Batang Bawah 2 x 20/30
Batang Tegak 2 x 20/30
Batang Diagonal 2 x 20/30
Perhitungan Beban
Batang Atas
=
Batang Bawah =
Batang Tegak =
Batang Diagonal =

2 x 0,2 x 0,3 x 20 x 1000


2 x 0,2 x 0,3 x 20 x 1000
0,2 x 0,3 x (9 x 6) x 1000
0,2 x 0,3 x (4,3 x 16) x 1000

=
=
=
=

Toeslag 10%
P4

2400
2400
6560
8256
= 19616 kg
= 2061,6 kg +
= 21677,6 kg

kg
kg
kg
kg +

Berat Gelagar Induk + beban mati


P
= P1 + P2 + P3 + P4
= (129458)+ 5427,3 +(2718,05)+ 21677,6
= 90192,925 kg
Tiap Simpul Menerima 1/8 bagian

P =

Q 90192,125kg
=
= 11274,12 kg
8
8

P = 5637,06 kg

RA = RB = 8/2 P

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

= 4P

= 4 (11274,12)
= 45096,0625 kg

John H. Frans, ST || 57

Akibat Beban Angin pada Jembatan


Gaya angin akibat muatan setinggi 2 m
= Tekanan angin x 2 m x panjang jembatan
= 100 kg/m2 x 2 m x 14 m
= 2800 kg
Besar gaya akibat angin pada rangka
- Perhitungan luas bidang sisi jembatan = 14 m x 9 m = 126 m2
- Jumlah luas bagian vertikal jembatan yang dianggap terkena angin adalah
= 1,5 x Luas total = 1,5 x 126 m2 = 189 m2
- Untuk jembatan rangka, Luasnya diambil 30%
L = 0,3 x 189 m2 = 56,7 m2
- Besarnya gaya angin pada rangka
= 56,7 m2 x 100 kg/m2
= 5670 kg

Tiap simpul menerima gaya =

5670kg
= 708.75 kg
8

Tekanan Vertikal ke bawah pada Gelagar Utama Akibat Angin


- K . 9 = 2800 kg ( 2 + 0,06 + 0,06 + 0,15 + 0,9 )
K

12760 kg
= 1417,78 kg
9

- RA = RB

1417,78 kg
2

- Untuk tiap titik simpul menerima gaya =


- Jadi, P
P/2

= 608,64 kg

608,64
8

kg

= 76.08 kg

= 76,08 kg
= 38,04 kg

Perbandingan RA beban angin dan beban RA beban mati


R A angin
608,64
=
= 0,013
45096,0625
R A beban mati
Tambahan gaya untuk tiap gelagar induk
= 0,013 x berat sendiri gelagar utama
= 0,013 x 90192,925 kg
= 1172,51 kg
Akibat Beban Bergerak T Loading
- P = 6t
- q = 1,1 t/m
- Panjang jembatan = 14 m
- Faktor kejut :

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 58

K = 1+

14
= 1,218
50 + 14

- Lebar jembatan = 9 m, lebar minimum jalur = 3,5 m


*P

*q

6t
x 9 m x 1,286
3,5 m
= 19,84 t
1,1 t / m
=
x 9 m x 1,286
3,5 m
= 3,64 t/m

Gaya ini akan ditahan oleh 2 gelagar induk, maka tiap gelagar induk menerima gaya :

19 ,84 t
2

= 9,92 t = 9920 kg/m

3,64 t / m
= 1,82 t/m
2
Beban gaya yang berkerja pada trotoar :
q
= 900 kg/m . 50%
= 450 kg/m

Maka, beban merata total

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

= 1820 kg/m

= 1820 kg/m + 450 kg/m


= 2270 kg/m

John H. Frans, ST || 59

PERHITUNGAN GARIS PENGARUH

1.75

14

Garis Pengaruh
MB = 0
RA.L - P(L-x) = 0

P (L x)
RA =
L
14 x
GP.RA =
14
MA = 0
- RB.L + P.x = 0
P. x
RB =
L

x
y RA

0
1

7
0,5

14
0

x
y RB

0
0

7
0,5

14
1

GP.RB =

x
14

Potongan I I
Batang B1 (tinjau kiri)
MJ = 0
-B1.3
= 0
B1 = 0
Batang B1 (tinjau kanan)
MJ = 0
-RB.14 + B1.3
= 0

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 60

3.B1 =
B1 =

x
.14
14

x
3

x
y B1

0
0

1,75
0,61

Batang T10 (tinjau kiri)


Mb = 0
RA.1,75 + 1,75.T10 = 0

14 x
T10 = -

14

x
y T10

0
-1

1,75
-0,875

x
y T10

0
0

1,75
-0,875

Batang T10 (tinjau kanan)


Mb = 0
-RB.12.25 - T10.1,75 = 0
1,75.T10 = T10 = -

x
.12,25
20

12,25x
50

Potongan II II
Batang T1 (tinjau kiri)
Ms = 0
RA.1,75 + 1,75.T1 = 0

14 x
T1 = -

14

x
y T1

0
-1

1,75
-0,875

Batang T1 (tinjau kanan)


Ms = 0
-RB.12,25 - T1.1,75 = 0
x
2,5.T1 = - .12,25
12
T1 = -

12,25x
50

x
y T1

0
0

2,5
-0,875

Batang A1 (tinjau kiri)


Mj = 0

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 61

3.A1

= 0
= 0

A1

Batang A1 (tinjau kanan)


Mj = 0
-RB.14 - A1.3 = 0
x
3.A1 = - .14
14
A1 = -

x
y A1

0
0

1,75
-0,71

x
3

Potongan III III


Batang D1 (tinjau kiri)
Mb = 0
RA.1,75 + 4,07.D1 + 6.A1 = 0

14 x
- 6.0
14

4,07.D1 = -1,75.

14 x

14

x
y D1

D1 = -0,61

0
-0,61

1,75
-0,53

Batang D1 (tinjau kanan)


Mb = 0
-RB.12,25 4,07.D1 6.A1= 0

x
x
.12,25 6.
3
14
D1 = -0,71x

4,07.D1 = -

x
y D1

0
0

1,75
-1,775

Batang D9 (tinjau kiri)


Ms = 0
RA.1,75 - 4,07.D9 6.B1 = 0

14 x
- 6.0
14

4,07.D9 = 1,75.

x
y D9

0
0,61

1,75
0,53

14 x

14

D9 = 0,61

Batang D9 (tinjau kanan)


Ms = 0
-RB.12,25 + 4,07.D9 + 6.B1 = 0

x
x
.12,25 6.
3
14
D9 = -0,276x

4,07.D9 =

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

x
y D9

0
0

1,75
-0,69

John H. Frans, ST || 62

Potongan IV IV
Batang A2 (tinjau kiri)
Mb = 0
RA.1.75 + 6.A2 = 0

x
y A2

0
-0,36

x
y A2

0
0

1,75
-0,315

14 x

14

A2 = -0,29

Batang A2 (tinjau kanan)


Mb = 0
-RB.12,25 - 6.A2 = 0
x
A2 = -1,75
14

2,5
-0,3125

= -0,125x

Batang T2 (tinjau kiri)


Mj = 0
1,75.T2 + 3.A2 - 3.B1= 0

14 x

14

x
y T2

1,75.T2 = 3. -0,36

0
-0,5

1,75
-0,4375

14
0

14 x

14

T2 = -0,5

Batang T2 (tinjau kanan)


Mj = 0
-RB.14 1,75.T2 - 3.A2 + 3.B1 = 0

x
y T2

0
0

1,75
0,729

14
4.0824

x
. - 1,67.(-0,175x) + 0,67x
12
T2 = 0,29167x
Potongan V V
x
0
Batang B2 (tinjau kiri)
y
B
0,36
2
Ms = 0
1,75.RA - 6.B2= 0
T2 = -8

1,75
0,315

14
0

14 x

14
14 x
B2 = 0,36

14

6.B2 = 1,75

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 63

Batang B2 (tinjau kanan)


Ms = 0
-RB.12,25 + 6.B2 = 0
x
6.B2 = 12,25
14
B2 = 0,125x

x
y B2

0
0

1,75
0,3125

14
1,75

Batang T11 (tinjau kiri)


Mj = 0
-1,75.T11 + 3.A1 - 3.B2= 0

14 x
)
14

1,75.T11 = 3.0 - 3.( 0,36

14 x
T11 = -0,5

14

x
y T11

Batang T11 (tinjau kanan)


Mj = 0
-RB.7 + 0,75.T11 - 1,75.A1 + 1,75.B2 = 0
x
x
1,75T11 = 14 . + 3. - 1,75.(0,125x)
3
14
T11 = 0,675x

0
-0,5

x
y T11

1,75
-0,4375

0
0

14
0

1,75
-1,6875

14
-9,45

Potongan VI VI
Batang D2 (tinjau kiri)
Mc = 0
RA.3 + 4,07.D2 + 6.A2 = 0

14 x
14 x
- 6.-0,36

14
14
14 x
x
D2 = -0,61

14
y D2

4,07.D2 = -3.

Batang D2 (tinjau kanan)


Mc = 0
-RB.11 - 4,07.D2 6.A2= 0
x
x
4,07.D2 = - .11 6. -1,75
14
14
D2 = 0,031x

x
y D2

0
0

0
-0,61

1,75
-0,53

1,75
0,0775

14
0,434

14
0

Batang D10 (tinjau kiri)


Mt = 0
RA.3 4,07. D10 6.B2 = 0

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 64

14 x
14 x
- 6. 0,36

14
14
14 x
D10 = 0,61

14

4,07. D10 = 3.

x
y D10

0
0,61

Batang D10 (tinjau kanan)


Mt = 0
-RB.11 + 4,07. D10 + 6.B2 = 0
x
x
.11 6. 1,75
4,07. D10 =
20
14
D10 = -0,031x
Potongan VII VII

x
y D10

Batang A3 (tinjau kiri)


Mc = 0
RA.3 + 6.A3 = 0

1,75
0,53

14
0

0
0

1,75
-0,0775

x
y A3

14 x
A3 = -0,71

14

14
-0,434

0
-0,71

1,75
-0,62

14
0

Batang A3 (tinjau kanan)


Mc
= 0
-RB.11 - 6.A3 = 0
x
A3 = -2,14 = -0,107x
14
x
y A3

0
0

1,75
-0,2675

14
-1,498

Batang T3 (tinjau kiri)


Mk = 0
1,75.RA +1,75. T3 + 3.A3 - 3.B2 = 0

14 x
14 x
14 x
- 3. -0,71
+ 3,5.0,36

14
14
14
14 x
x
0
T3 = 0,5

y
T
0,5
3
14

1,75.T3 = -1,75.

Batang T3 (tinjau kanan)


Mk = 0
-RB.12,25 1,75. T3 - 3.A3 + 3.B2 = 0
x
x
x
T3 = -6.
+ 3.
+ 3.
20
14
14

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

x
y T3

1,75
0,4375

0
0

1,75
-0,0625

14
0

14
-0.35

John H. Frans, ST || 65

T3 = -0,5.

x
= -0,025x
14

Potongan VIII VIII


Batang B3 (tinjau kiri)
Mt = 0
3.RA - 6. B3= 0

14 x

14

x
y B3

6. B3 = 3

0
0,71

1,75
0,62

14
0

14 x

14

B3 = 0,71

Batang B3 (tinjau kanan)


Mt = 0
-RB.8 + 6. B3 = 0
x
7. B3 = 8
14
B3 = 0,15x
Batang T12 (tinjau kiri)
Mk = 0

x
y B3

0
0

2,5
0,375

14
2.1

1,75.RA -1,75.T12 + 3.A2 - 3.B3 = 0

14 x
14 x
14 x
+ 3. -0,36
- 3.(0,71
)
14
14
14
14 x
x
0
T12 = -0,5

y
T
-0,5
12
14

1,75.T12 = 1,75.

2,5
-0,4375

14
0

Batang T12 (tinjau kanan)


Mk = 0
-RB.12,25 + 1,75.T12 - 3.A2 + 3.B3 = 0
x
x
x
1,75T12 = 12,25 . + 3. -2,1 - 3.( 2,14 )
14
14
14
x
T12 = 0,5 = 0,025x
14

x
y T12

0
0

Potongan IX IX
Batang D3 (tinjau kiri)
Md = 0
RA.2,5 + 4,07. D3 + 6.A3 = 0

14 x
14 x
- 6.-0,71

14
14

4,07. D3 = -2,5.

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 66

2,5
0,0625

14 x

14

D3 = -0,61

x
y D3

0
-0,61

Batang D3 (tinjau kanan)


Md = 0
-RB.7,5 4,07. D3 6.A3 = 0
x
x
4,07. D3 = - .7,5 6. -2,14
14
14
D3
= 0,03x
x
0
y D3
0

2,5
-0,53

1,75
0,075

20
0

14
0.42

Batang D11 (tinjau kiri)


Mu = 0
RA.3,5 -4,07. D11 6.B3 = 0
x
y D11

14 x
14 x
4,07. D11 = 3,5.
- 6. 0,71

14
14

0
0,97

1,75
0,85

14
0

0
-1,07

1,75
-0,94

14
0

0
0

1,75
-0,22

14 x

14

D11 = 0,97

Batang D11 (tinjau kanan)


Mu = 0
-RB.7,5 + 4,07. D11 + 6.B3 = 0
x
x
x
.7,5 8
4,07. D11 =
14
14
y D11
D11 = -0,03x
Potongan X X

0
0

1,75
-0,075

Batang A4 (tinjau kiri)


Md = 0
RA.3,5 + 6.A4 = 0

14
-0,42

x
y A4

14 x

14

A4 = -1,07

Batang A4 (tinjau kanan)


Md = 0
-RB.7,5 - 6.A4 = 0
x
A4 = -1,79 = 0,0895x
14

x
y A4

14
-1.253

Batang T4 (tinjau kiri)


Mi = 0
3.RA +1,75. T4 + 3.A4 - 3.B3 = 0

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 67

14 x
14 x
14 x
-3.-1,07
+ 3.0,71

14
14
14
14 x
T4 = 0,5

x
0
1,75
14

1,75. T4 = -3

y T4

Batang T4 (tinjau kanan)


Mi = 0
-RB.8 1,75. T4 - 3.A4 + 3.B3 = 0
x
x
x
+ 3. 2,14
1,75T4 = -8. . -3.-1,79
14
14
14
x
T4 = -0,9. = -0,045x
14

0,5

14
0

0,4375

x
y T4

0
0

1,75
-0,1125

14
-0,63

Potongan XI XI
Batang B4 (tinjau kiri)
Mu = 0
3,5.RA - 6. B4= 0

x
y B4

0
1,07

1,75
0,94

14
0

x
y B4

0
0

1,75
0,22

14
1,253

1,75
-0,4375

14
0

14 x

14

6. B4 = 3,5

14 x

14

B4 = 1,07

Batang B4 (tinjau kanan)


Mu = 0
-RB.7,5 + 6. B4 = 0
x
6. B4 = 7,5
14
x
B4 = 1,79 = 0,0895x
14
Batang T13 (tinjau kiri)
Ml = 0
3.RA -1,75. T13 + 3,5.A3 - 3.B4 = 0

14 x
14 x
14 x
+ 3. -0,71
- 3.(1,07
)
14
14
14

1,75. T13 = 3.

14 x

14

T13 = -0,5

x
y T13

0
-0,5

Batang T13 (tinjau kanan)


Ml = 0
-RB.8 + 1,75. T13 - 3.A3 + 3.B4 = 0

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 68

x
x
x
. + 3. -2,14
- 3.( 1,79 )
14
14
14
x
= 0,5
14

2,5 T13 = 8
T13

x
y T13

0
0

1,75
0,0625

14
0,5

Potongan XII XII


Batang D4 (tinjau kiri)
Me = 0
RA.7 + 4,07. D4 + 6.A4 = 0

14 x
14 x
- 6.-1,07

14
14
14 x
x
0
D4 = -0,61

y
D
-0,61
14
4

4,07.D4 = -7.

Batang D12 (tinjau kiri)


Mv = 0
RA.7 4,07. D12 6.B4 = 0

Batang D3 (tinjau kanan)


Md = 0
-RB.7 4,07. D4 6.A4 = 0
x
x
4,07. D4 = - .7 6. -1,79
14
14
x
y D4

0
0

1,75
-0,53

14
0

1,75D4 = 0,031x
14
0,0775
0,434

14 x
14 x
- 6. 1,07

14
14

4,07. D12 = 7.

14 x

14

D12 = 0,61

Batang D12 (tinjau kanan)


Mv = 0
-RB.7 + 4,07. D12 + 6.B4 = 0
x
x
4,07. D12 =
.7 6.1,79
14
14
D12 = -0,031x
Potongan XIII - XIII

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

x
y D12

x
y D12

0
0,61

0
0

1,75
0,53

1,75
-0,0775

14
0

14
-0,434

John H. Frans, ST || 69

Batang T5 (tinjau kiri)


Mm = 0
3,5.RA + 1,75.T5 - 3.B4= 0

14 x
14 x
+ 3.1,07

14
14

2,5.T5 = -3,5

x
y T5

0
-1,5

1,75
-1,3125

14
0

14 x

14

T5 = -1,5

Batang T5 (tinjau kanan)


Mm = 0
-RB.7,5 1,75.T5 + 3.B4 = 0
x
x
2,5.T5 = -7,5 + 3. 1,79
14
14
x
T5 = -2,5 = 0,125x
14

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

x
y T5

0
0

1,75
-0,3125

14
-1.75

John H. Frans, ST || 70

A4

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG
0,11

0,05

0,25

0,12

0,47

0,24

0,37
0,25
0,12

0,71
0,47
0,24

0,62

0,71

0,5

0,41

0,47

0,94

0,21

B3

0,24

0,05

0,1

0,16

0,21

0,26

0,32

0,16

0,16

0,37

0,71

0,21

0,26

0,5

0,94

0,62

0,32

0,41

0,47
0,71

0,16

A3
0,21

A2

0,24

A1
B1

B2

B4

John H. Frans, ST || 71

0,1

0,2

0,3

0,41

0,51

0,61

0,71

0,1

0,2

0,3

0,41

0,51

0,61

D4

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

D3
0,68

0,51

0,34

0,17

0,4

0,27

0,13

0,85

0,4

0,53

0,57

D11

0,27

0,76

0,51

0,25

0,27

0,18

0,09

0,09

0,18

0,27

0,35

0,44

0,53

0,1

0,2

0,3

0,39

0,49

0,59

1,01

0,35

T5

0,27

1,27

0,44

1,78

1,52

0,69

D1

0,53

1,18

0,11

0,33

0,11

0,22

0,33

0,44

0,09

0,18

0,26

0,35

0,44

0,22

0,66

0,33

0,33

0,98

0,29

0,44

1,31

0,22

0,33

0,98

0,15

0,22

0,66

T12

0,11

0,11

T4

0,33

T3

0,28

0,11

0,21

0,32

0,42

0,53

0,35

0,18

0,09

0,18

0,26

0,35

0,44

0,29

0,15

0,12

0,24

0,36

0,49

0,61

0,73

0,36

0,28

0,56

0,84

1,13

1,41

1,69

0,84

T2

0,13

0,13

0,27

0,4

0,53

0,4

0,27

0,13

T1

T10

T11

T13

D9

D2

D10

D12

John H. Frans, ST || 72

0,13

0,25

0,38

0,5

0,63

0,75

0,88

0,13

0,25

0,38

0,5

0,63

0,75

0,88

PERHITUNGAN GAYA BATANG


1. AKIBAT BEBAN MATI (PBS)
PBS = 11524,12 kg
y

BATANG

1 = Pbs . y

Tarik ( + )

Tekan ( - )

Tarik ( + )

Tekan ( - )

A1 = A8
A2 = A7
A3 = A6
A4 = A5

2,84
1,27
2,48
3,78

35568,50
15905,63
31059,82
47341,17

B1 = B8
B2 = B7
B3 = B6
B4 = B5

2,84
1,27
2,48
3,78

35568,50
15905,63
31059,82
47341,17

D1 = D8
D9 = D16
D2 = D7
D10 = D15
D3 = D6
D11 = D14
D4 = D5
D12 = D13

2,76
2,13
3,40
2,13

7,10
3,04
2,13
2,13
-

34566,57
26676,38
42582,01
26676,38

88921,25
38073,32
26676,38
26676,38
-

T1 = T9
T10 = T17
T2 = T8
T11 = T16
T3 = T7
T12 = T15
T4 = T6
T13 = T14
T5

3,52
2,91
1,76
1,76
-

3,52
6,75
1,76
1,76
5,25

44084,90
36445,19
22042,45
22042,45
-

44084,90
84537,81
22042,45
22042,45
65751,63

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 73

2. AKIBAT BEBAN ANGIN (w)


w = 1012,5 kg
y

BATANG

w . y

Tarik ( + )

Tekan ( - )

Tarik ( + )

Tekan ( - )

A1 = A8
A2 = A7
A3 = A6
A4 = A5

2,84
1,27
2,48
3,78

2875,50
1285,88
2511,00
3827,25

B1 = B8
B2 = B7
B3 = B6
B4 = B5

2,84
1,27
2,48
3,78

2875,50
1285,88
2511,00
3827,25

D1 = D8
D9 = D16
D2 = D7
D10 = D15
D3 = D6
D11 = D14
D4 = D5
D12 = D13

2,76
2,13
3,40
2,13

7,10
3,04
2,13
2,13
-

2794,50
2156,63
3442,50
2156,63

7188,75
3078,00
2156,63
2156,63
-

T1 = T9
T10 = T17
T2 = T8
T11 = T16
T3 = T7
T12 = T15
T4 = T6
T13 = T14
T5

3,52
2,91
1,76
1,76
-

3,52
6,75
1,76
1,76
5,25

3564,00
2946,38
1782,00
1782,00
-

3564,00
6834,38
1782,00
1782,00
5315,63

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 74

3. AKIBAT BEBAN BERGERAK (P)


9920
P =
= 1240 kg
8
y

BATANG

P . y

Tarik ( + )

Tekan ( - )

Tarik ( + )

Tekan ( - )

A1 = A8
A2 = A7
A3 = A6
A4 = A5

2,84
1,27
2,48
3,78

3521,60
1574,80
3075,20
4687,20

B1 = B8
B2 = B7
B3 = B6
B4 = B5

2,84
1,27
2,48
3,78

3521,60
1574,80
3075,20
4687,20

D1 = D8
D9 = D16
D2 = D7
D10 = D15
D3 = D6
D11 = D14
D4 = D5
D12 = D13

2,76
2,13
3,40
2,13

7,10
3,04
2,13
2,13
-

3422,40
2641,20
4216,00
2641,20

8804,00
3769,60
2641,20
2641,20
-

T1 = T9
T10 = T17
T2 = T8
T11 = T16
T3 = T7
T12 = T15
T4 = T6
T13 = T14
T5

3,52
2,91
1,76
1,76
-

3,52
6,75
1,76
1,76
5,25

4364,80
3608,40
2182,40
2182,40
-

4364,80
8370,00
2182,40
2182,40
6510,00

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 75

4. AKIBAT BEBAN BERGERAK (q)


2270
q =
= 283,75 kg
8
y

BATANG

q . y

Tarik ( + )

Tekan ( - )

Tarik ( + )

Tekan ( - )

A1 = A8
A2 = A7
A3 = A6
A4 = A5

2,84
1,27
2,48
3,78

805,85
360,36
703,70
1072,58

B1 = B8
B2 = B7
B3 = B6
B4 = B5

2,84
1,27
2,48
3,78

805,85
360,36
703,70
1072,58

D1 = D8
D9 = D16
D2 = D7
D10 = D15
D3 = D6
D11 = D14
D4 = D5
D12 = D13

2,76
2,13
3,40
2,13

7,10
3,04
2,13
2,13
-

783,15
604,39
964,75
604,39

2014,63
862,60
604,39
604,39
-

T1 = T9
T10 = T17
T2 = T8
T11 = T16
T3 = T7
T12 = T15
T4 = T6
T13 = T14
T5

3,52
2,91
1,76
1,76
-

3,52
6,75
1,76
1,76
5,25

998,80
825,71
499,40
499,40
-

998,80
1915,31
499,40
499,40
1489,69

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 76

REKAPITULASI KOMBINASI GAYA BATANG


Kombinasi
1+2+3

BATANG

Kombinasi
1+2+4

Tarik ( + )

Tekan ( - )

Tarik ( + )

Tekan ( - )

A1 = A8
A2 = A7
A3 = A6
A4 = A5

41965,60
18766,31
36646,02
54835,62

39249,85
17551,87
34274,52
52241,00

B1 = B8
B2 = B7
B3 = B6
B4 = B5

41965,60
18766,31
36646,02
54835,62

39249,85
17551,87
34274,52
52241,00

D1 = D8
D9 = D16
D2 = D7
D10 = D15
D3 = D6
D11 = D14
D4 = D5
D12 = D13

40783,47
31474,20
50240,51
31474,20

94914,00
44920,92
31474,20
31474,20
-

38144,22
29437,39
46989,26
29437,39

98124,63
42013,92
29437,39
29437,39
-

T1 = T9
T10 = T17
T2 = T8
T11 = T16
T3 = T7
T12 = T15
T4 = T6
T13 = T14

52013,70
42999,96
26006,85
26006,85
-

52013,70
98742,19
26006,85
26006,85

48647,70
40217,28
24323,85
24323,85
-

48647,70
93287,50
24323,85
24323,85

T5

77577,26

72556,94

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 77

DIMENSIONERING GELAGAR UTAMA


BATANG ATAS (A)
Gaya batang maks (P)
= 54835,62 (Tekan)
Ukuran batang ditaksir
= 2 x 20/30
Panjang batang (Lk) = 2,5 m = 250 cm
Fbr
Ix

= 2 . 20 . 30 = 1200
1
= 2 . . bh3
12
1
= 2.
. (20) . (30)3
12
= 90000 cm4

ix

it

=2.

Iq

Iy

1 3
1 1
. b . h + 2 { b . h ( b+ h) }
12
2 2
1
1
1
=2.
. 203 . 30 + 2 { 20 . 30 ( 20+ 30) }
12
2
2
4
= 70000 cm
1
. (b+b)3 . h
=
12
1
=
. (20+20)3 . 30
12
= 160000 cm4
1
= . (It + 3Iq)
4
1
= . (70000 + 3(160000))
4
= 137500 cm4

iy

90000 cm 4
= 8,66 cm
2 ( 20 )( 30 )

Ix
=
F

tr //

Iy
Fbr

137500 cm 4
= 10,70 cm
2 ( 20 )( 30 )

L
250
=
= 23,36 = 24 ; = 1,19 tr // =109 kg/cm2
;
i min 10,70

P.w

54835,62
. 1,19

= Fb = (0,8)(2)(20)(30) = 57,23

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 78

Syarat Aman :

tr //

tr //

57,23 kg/cm2

<

<
109 kg/cm2 . Ok !!!

Kontrol Profil Tunggal


.P
I min
=

= . 54835,62 = 22927,81 kg
= 0,289 b = 0,289 (20) = 5,78 cm

250
Lk
=
= 43,25 = 44 ; = 1,42
;
i min 5,78

tr //

P.
= Fb =

tr // = 92 kg/cm

22927,811,42
(0,8)(20)(30) = 74,83

Syarat Aman :

tr //

tr //

74,83 kg/cm2

BATANG BAWAH (B)


Gaya batang maks (P)
Ukuran batang ditaksir
Panjang batang (Lk)
Fb

<

<
92 kg/cm2 . Ok !!!

= 54835,62 (Tarik)
= 2 x 20/30
= 2,5 m = 250 cm
= 2 . 0,8 . 20 . 30 = 960 cm2

tr //

P 54835,62
=
= 47,34 kg/cm2
960
n

Syarat Aman :

tr //

tr //

47,34 kg/cm2

<

<
109 kg/cm2 . Ok !!!

Kontrol Profil Tunggal


.P
Fb

tr //

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

= . 54835,62 = 22927,81 kg
= 0,8 . 20. 30 = 480 cm4
=

1/ 2P 22927,81
=
= 47,38 kg/cm2
480
n

John H. Frans, ST || 79

Syarat Aman :

tr //

tr //

47,38 kg/cm2

<

<
109 kg/cm2 . Ok !!!

BATANG DIAGONAL (D)


Gaya batang maks (P)
Ukuran batang ditaksir
Panjang batang (Lk)
Fb

= 94914 (Tekan)
= 2 x 20/30
= 4,3 m = 430 cm
= 2 . 0,8 . 20 . 30 = 960 cm2

tr //

P 94914
=
= 100,723 kg/cm2
960
n

Syarat Aman :

tr //

tr //

100,723 kg/cm2 <

<
109 kg/cm2 . Ok !!!

Kontrol Profil Tunggal


.P
Fb

= . 94914 = 45457 kg
= 0,8 . 20. 30 = 480 cm4

tr //

Syarat Aman :

1/ 2P 45457
=
= 100,34 kg/cm2
480
n

tr //
100,34 kg/cm2

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

tr //

<

<
109 kg/cm2 . Ok !!!

John H. Frans, ST || 80

BATANG TEGAK (T)


Gaya batang maks (P)
= 98742,19 (Tekan)
Ukuran batang ditaksir
= 2 x 20/30
Panjang batang (Lk) = 7 m = 700 cm
1
. b . h3
Ix
= 2.
12
1
=2.
. (20) . (30)3
12
= 45000 cm4

ix

it

Iq

Iy

= 8,66 cm

1 3
1 1
. b . h + b . h ( b+ h)
12
2 2
1
1
1
=
. 203 . 30 + 20 . 30 ( 20+ 30)
12
2
2
4
= 35000 cm

1
. (b+b)3 . h
12
1
=
. (20+20)3 . 30
12
= 160000 cm4
=

1
. (It + 3Iq)
4
1
= . (35000 + 3(160000))
4
= 128750 cm4

iy

45000 cm
( 20 )( 30 )

Ix
=
F

tr //

Iy
Fbr

128750 cm 4
= 14,64 cm
( 20 )( 30 )

700
L
=
= 47,81 = 48 ; = 1,47
;
i min 14,64

tr // = 88 kg/cm

P. 98742,19 1,47
= Fb = (0,8)(2)(20)(30) = 45,34

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 81

Syarat Aman :

tr //

tr //

45,34 kg/cm2

<
88 kg/cm2 . Ok !!!

<

Kontrol Profil Tunggal


.P
I min
=

= . 98742,19 = 44871,095 kg
= 0,289 b = 0,289 (30) = 8,67 cm

tr //

tr // = 60 kg/cm

700
Lk
=
= 80,73 = 81 ; = 2,17 ;
i min 8,67
P.

44871,09 2,17

= Fb = (0,8)(2)(30)(20) = 38,56

Syarat Aman :

tr //

tr //

38,56 kg/cm2

<
60 kg/cm2 . ok !!!

<

PERHITUNGAN SAMBUNGAN
A1

A2

A3

A4

A5

A6

A7

A8

6m

T1

Z
D1

D2

T2

D9

D3

T3

T11

D10

T12

D11

D5

D4

T4

T6

T7

T5

T13

D6

D12

T14

D13

D7

T8

D14

T15

D8

D15

T16

T9

D16

T17

I
B1

B2

B3

B4

B5

B6

B7

B8

14 m

Dipakai kokot bulldog persegi 5 x 5


Diameter baut = 1
P = 1,5 ton = 1500 kg
kayu = 1 t/m3

P=

kayu. P

1,0 .1500
= 3000 kg
0,5

P = P ( 1 0,25 sin )
= 3000 ( 1 0,25 sin )

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 82

PERHITUNGAN SAMBUNGAN
Di Titik Simpul A

T10
A
B1
Sambungan batang B1 dan batang T10

= 900
P = 3000 ( 1 0,25 sin 900 )
= 2250 kg
P = 2 x 2250 kg = 4500 kg

n=

52013,7
= 11,56 baut
4500

= 12 baut
Di Titik Simpul J

T1

D1

tan 1 =

3,5
= 1,167
3

1 = 49, 40

T10
3
3

tan 2 =

D9

3,5
= 1,167
3

2 = 49, 40

= 1800 - 49, 40- 49, 40


= 81,20
Sambungan batang T10 dan batang D9

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 83

1 = 49, 40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49, 40)
= 2430,55 kg
P = 2 x 2430,55 kg = 4861.1 kg

n=

52013,7
= 10,14 baut
5128,14

= 11 baut
Sambungan batang T1 dan batang D1
2 = 49, 40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49, 40)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

104914
= 20,46 baut
5128,14

= 21 baut
Sambungan batang D1 dan batang D9
3 = 81,20
P = 3000 ( 1 0,25 sin 81,20)
= 2290,52 kg
P = 2 x 2290,52 kg = 4581,04 kg

n=

104914
= 22,9 baut
4581,04

= 23 baut
Di Titik Simpul R

A1
R

T1
Sambungan batang A1 dan batang T1
= 900
P = 3000 ( 1 0,25 sin 900 )
Jurusan Teknik Sipil
Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 84

= 2250 kg
P = 2 x 2250 kg = 4500 kg

52013,7
= 11,56 baut
4500

n=

= 12 baut
Di Titik Simpul B

T11

D9

tan 1 =

1 = 63,430

tan 2 =

B1

B2

3,5
=2
1,75

1,75
= 0,58
3

2 = 30,260
3 = 900

Sambungan batang B1 dan batang D9


1 = 63,430
P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,430)
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

41965,6
= 8,78 baut
4779,39

= 9 baut
Sambungan batang D9 dan batang T11
2 = 30,260
P = 3000 ( 1 0,25 sin 30,260)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

99742,19
= 19,45 baut
5128,14

= 20 baut
Sambungan batang B2 dan batang T11
3 = 900

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 85

P = 3000 ( 1 0,25 sin 900 )


= 2250 kg
P = 2 x 2250 kg = 4500 kg

99742,19
= 22,16 baut
4500

n=

= 23 baut
Di Titik Simpul K

T2

D2

tan 1 =

3,5
= 1,167
3

1 = 49, 40

tan 2 =

D10

T11
3
3

3,5
= 1,167
3

2 = 49, 40

= 1800 - 49, 40- 49, 40


= 81,20
Sambungan batang T11 dan batang D10
1 = 49, 40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49, 40)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

99742,19
= 19,45 baut
5128,14

= 20 baut
Sambungan batang T2 dan batang D2
2 = 49, 40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49, 40)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

44920,92
= 8,76 baut
5128,14

= 9 baut

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 86

Sambungan batang D2 dan batang D10


3 = 81,20
P = 3000 ( 1 0,25 sin 81,)
= 2290,52 kg
P = 2 x 2290,52 kg = 4581,04 kg

n=

44920,92
= 9,81 baut
4581,04

= 10 baut
Di Titik Simpul S

A1

A2

tan 1 =

3,5
=2
1,75

1 = 63,40

tan 2 =

D1

T2

3,5
= 1,167
3

2 = 49,410
3 = 900

Sambungan batang A1 dan batang D1


1 = 63,40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,40)
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

104914
= 21,95 baut
4779,39

= 22 baut
Sambungan batang D1 dan batang T2
2 = 49,410
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49,410)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

104914
= 20,46 baut
5128,14

= 21 baut

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 87

Sambungan batang A2 dan batang T2


3 = 900
P = 3000 ( 1 0,25 sin 900 )
= 2250 kg
P = 2 x 2250 kg = 4500 kg

n=

42999,96
= 9,56 baut
4500

= 10 baut
Di Titik Simpul C

T12

D10

tan 1 =

3,5
=2
1,75

1 = 63,430

tan 2 =

B2

1,75
= 0,58
3

2 = 30,260

B3
3 = 900

Sambungan batang B2 dan batang D10


1 = 63,430
P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,430)
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

31474,2
= 6,59 baut
4779,39

= 7 baut
Sambungan batang D10 dan batang T12
2 = 30,260
P = 3000 ( 1 0,25 sin 30,260)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

31474,2
= 6,14 baut
5128,14

= 7 baut

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 88

Sambungan batang B3 dan batang T12


3 = 900
P = 3000 ( 1 0,25 sin 900 )
= 2250 kg
P = 2 x 2250 kg = 4500 kg

n=

36646,02
= 8,14 baut
4500

= 9 baut
Di Titik Simpul L

T3

D3

tan 1 =

3,5
= 1,167
3

1 = 49, 40

L
tan 2 =

T12
3
3

D11

3,5
= 1,167
3

2 = 49, 40

= 1800 - 49, 40- 49, 40


= 81,20
Sambungan batang T12 dan batang D11
1 = 49, 40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49, 40)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

50240,51
= 9,79 baut
5128,14

= 10 baut
Sambungan batang T3 dan batang D3
2 = 49, 40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49, 40)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 89

n=

31474,2
= 6,14 baut
5128,14

= 7 baut
Sambungan batang D3 dan batang D11
3 = 81,20
P = 3000 ( 1 0,25 sin 108,920)
= 2290,52 kg
P = 2 x 2290,52 kg = 4581,04 kg

n=

50240,51
= 10,97 baut
4581,04

= 11 baut
Di Titik Simpul T
tan 1 =

A2

A3

3,5
=2
1,75

1 = 63,40

tan 2 =

3,5
= 1,167
3

2 = 49,410

D2

T3

3 = 900

Sambungan batang A2 dan batang D2


1 = 63,40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,40)
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

44920,92
= 9,39 baut
4779,39

= 10 baut
Sambungan batang D2 dan batang T3
2 = 49,410
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49,410)

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 90

= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

44920,92
= 8,76 baut
5128,14

= 9 baut
Sambungan batang A3 dan batang T3
3 = 900
P = 3000 ( 1 0,25 sin 900 )
= 2250 kg
P = 2 x 2250 kg = 4500 kg

n=

36646,02
= 8,14 baut
4500

= 9 baut
Di Titik Simpul D

T13

D11

tan 1 =

3,5
=2
1,75

1 = 63,430

tan 2 =

B3

B4

1,75
= 0,58
3

2 = 30,260
3 = 900

Sambungan batang B3 dan batang D11


1 = 63,430
P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,430)
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

50240,51
= 10,51 baut
4779,39

= 11 baut
Sambungan batang D11 dan batang T13
2 = 30,260

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 91

P = 3000 ( 1 0,25 sin 30,260)


= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

50240,51
= 9,79 baut
5128,14

= 10 baut
Sambungan batang B4 dan batang T13
3 = 900
P = 3000 ( 1 0,25 sin 900 )
= 2250 kg
P = 2 x 2250 kg = 4500 kg

n=

55855,62
= 12,41 baut
4500

= 13 baut
Di Titik Simpul M

T4

D4
tan 1 =

1 = 49, 40

M
D12

T13
3
3

3,5
= 1,167
3

tan 2 =

3,5
= 1,167
3

2 = 49, 40

= 1800 - 49, 40- 49, 40


= 81,20
Sambungan batang T13 dan batang D12
1 = 49, 40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49, 40)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

31474,2
= 6,14 baut
5128,14

= 7 baut

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 92

Sambungan batang T4 dan batang D4


2 = 49, 40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49, 40)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

31474,2
= 6,14 baut
5128,14

= 7 baut
Sambungan batang D4 dan batang D12
3 = 81,20
P = 3000 ( 1 0,25 sin 81,20)
= 2290,52 kg
P = 2 x 2290,52 kg = 4581,04 kg

n=

31474,2
= 6,87 baut
4581,04

= 7 baut
Di Titik Simpul U

A3

A4

tan 1 =

3,5
=2
1,75

1 = 63,40

D3

T4

tan 2 =

3,5
= 1,167
3

2 = 49,410
3 = 900

Sambungan batang A3 dan batang D3


1 = 63,40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,40)
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

36646,02
= 7,67 baut
4779,39

John H. Frans, ST || 93

= 8 baut
Sambungan batang D3 dan batang T4
2 = 49,410
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49,410)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

31474,2
= 6,14 baut
5128,14

= 7 baut
Sambungan batang A4 dan batang T4
3 = 900
P = 3000 ( 1 0,25 sin 900 )
= 2250 kg
P = 2 x 2250 kg = 4500 kg

n=

55855,62
= 12,41 baut
4500

= 13 baut

Di Titik Simpul E
T5

tan 1 =

3,5
=2
1,75

1 = 63,430
D12

D13

tan 2 =
B4
3 = 2 = 30,260
4 = 1 = 63,430

B5

1,75
= 0,58
3

2 = 30,260

Sambungan batang B4 dan batang D12


1 = 63,430

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 94

P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,430)


= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

55855,62
= 11,69 baut
4779,39

= 12 baut
Sambungan batang D12 dan batang T5
2 = 30,260
P = 3000 ( 1 0,25 sin 30,260)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

77577,26
= 15,13 baut
5128,14

= 16 baut
Sambungan batang D13 dan batang T5
3 = 30,260
P = 3000 ( 1 0,25 sin 30,260)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

77577,26
= 15,13 baut
5128,14

= 16 baut
Sambungan batang B5 dan batang D13
4 = 63,430
P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,430)
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

55855,62
= 11,69 baut
4779,39

= 12 baut

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 95

Di Titik Simpul V
A4
V

A5

tan 1 =

3,5
=2
1,75

1 = 63,40

D4

D5
tan 2 =

T5

3,5
= 1,167
3

2 = 49,410

3 = 2 = 49,410
4 = 1 = 63,40
Sambungan batang A4 dan batang D4
1 = 63,40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 54,460 )
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

55855,62
= 11,69 baut
4779,39

= 12 baut
Sambungan batang D4 dan batang T5
2 = 49,410
P = 3000 ( 1 0,25 sin 35,540)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

77577,26
= 15,13 baut
5128,14

= 16 baut

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 96

Sambungan batang D5 dan batang T5


3 = 49,410
P = 3000 ( 1 0,25 sin 49,410)
= 2564,07 kg
P = 2 x 2564,07 kg = 5128,14 kg

n=

77577,26
= 15,13 baut
5128,14

= 16 baut
Sambungan batang A5 dan batang D5
4 = 63,40
P = 3000 ( 1 0,25 sin 63,40)
= 2389,69 kg
P = 2 x 2389,69 kg = 4779,39 kg

n=

55855,62
= 11,69 baut
4779,39

= 12 baut
PERHITUNGAN LANDASAN
v

Pembebanan
Reaksi akibat beban mati ( RA1 )
Reaksi akibat angin ( RA2 )
Reaksi akibat beban bergerak ( RA3 )
Rtot = 53539,5625 kg

= 45747,0625 kg
= 1012,5
kg
= . ( 9920 )+( 1820 ) +

Dimensionering landasan perletakan direncanakan menggunakan kayu kelas I.


v

Pembebanan terhadap rol dan sendi :


R = . Rtotal
= . (53539,5625 kg )
= 26769,78 kg
Luas yang dibutuhkan :

F=

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

Balok perletakan direncanakan mengunaka


mutu beton K175 dengan b = 60 kg/cm2

John H. Frans, ST || 97

RoL

F =

26769 ,78
60 kg/cm 2

= 446,16 cm2

Direncanakan L = 25 cm ; b = 40 cm
Harga ditetapkan

1
x Lbentang
1000
1
=
1400 cm
1000

= 1,4 cm

= b.L
= 25 cm . 40 cm = 1000 cm2

= 1/6 . b . h2
= 1/6 . 25 cm . (40 cm)2
= 6666,67 cm3

Rm

= R.
= 26769,78 kg . 1,4 cm
= 37477,69 kgcm

R
Rm
+
F
w
26769 ,78
37477,69
+
=
1000
6666 ,67
= 27,33 kg/cm2

= . q . b . L . ( . L/2 )
= . 27,33 . 25 cm . 40 cm . ( . 20 cm )
= 174000 kgcm

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 98

M
174000
=
w
1/ 6 . b . t2

6M
6 174000
=
b .
40 cm 34,8

t2

t2
t

= 750 cm2
= 27,39 cm = 28 cm

0 , 75 . 10 6 . R . s
b
= tegangan kontak 6500

, s = 1/d

0 , 75 . 10 6 . 26769 , 78 . 1 / d 1
40
d1
= 11,88 cm = 12 cm
d2
= d1 + t
= 12 cm + 28
= 40 cm

65002 =

Sendi
M

= 12,5 . 34,8 . 25 (6,25)


= 67968,75 kgcm
M
67968 , 75
=
=
w
1 / 6 . 40 . t 2
6M
6 67968,75
=
40 cm . 34,8
b .

t2

t2
t

= 292,97 cm2
= 17,11 cm = 18 cm

t1
h
t3

=.t
= . 18 = 9 cm
= 3 . t1 = 3 . 9 = 27 cm
= 1/6 . h = 1/6 . 27 = 4,5 cm

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 99

Diameter roL
r = . d1 >
d1 >

0 ,8 . R
. L
0 , 8 . 2 . 26769 , 78
100 . 25

syarat < 1600 kg/cm2


diambil = 100 kg/cm2

d1 > 17,13 cm
d1 > 18 cm
d2
d3

=
=
=
=
=

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

. d1
. 18 = 4,5 cm
d1 + 2 . d2
18 cm + 2 . 4,5
27 cm

John H. Frans, ST || 100

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 101

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 102

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 103

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 104

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 105

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 106

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 107

TUGAS STRUKTUR JEMBATAN KAYU


1). Rencanakan Struktur Jembatan Dengan Model Spt dibawah Ini (pilih salah satu) :

a). Data umum :


1. Type1 L 1= 10 m H= 4,5 m, Type 2 L2 = 12.5 m H = 5,0 m (pilih salah satu)
2. Lantai Terdiri Dari Lantai Papan 1 Lapis
3. Balok lantai
4. Kayu Jenis Bayam Kelas I Mutu A
5. Jembatan Kayu untuk jalan raya Kelas II
6. Beban Terpusat = 6 Ton
7. Beban Merata = 2 Ton/m
8. Peraturan Kayu PPKI
9. Lebar Jembatan = 5.5 m
10. L Trotoar = 0.75 m x 2
11. Tekanan Angin (W) = 90 kg/m2
9. Data yang belum ada (asumsi serta lihat buku2 peraturan)
b). Rincian Bab Tugas Terdiri dari 3 Bagian :
Pendahuluan
Teori Tentang Jembatan Kayu
Perencanaan
c).Tugas harus di assitensi min. 2x, Kumpulkan Tugas dalam bentuk softcopy dan hardcopy (Paling
Lambat 4 Minggu Ke depan)

Jurusan Teknik Sipil


Fak. Sains dan Teknik
UNDANA KUPANG

John H. Frans, ST || 108