Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KAPITA SELEKTA FARMAKOTERAPI

HIPERTENSI

Disusun oleh :
Elisabeth Indah Susanto

(158115012)

Eva Mayangsari

(158115014)

Gabriela Septiana Suryadi

(158115015)

Gregoria Novalia Ambarani

(158115016)

Ni Putu Ratna Puspita Dewi

(158115025)

Rosita Olimpia Bagiatrasari

(158115026)

Rysa Indryani Pardede

(158115027)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015
A. PENDAHULUAN

Hipertensi adalah salah satu penyakit sistem kardiovaskuler yang dicirikan dengan
adanya peningkatan tekanan darah arteri secara persisten yang terjadi dalam jangka waktu
panjang. Berdasarkan acuan JNC7 tekanan darah pada orang dewasa diklasifikasikan menjadi
4 kelas (Wells, DiPiro, Scwinghammer, dan DiPiro, 2015).
Klasifikasi
Normal
Pre-hipertensi
Hipertensi stage 1
Hipertensi stage 2

Sistolik (mmHg)
<120
120-139
140-159
160

Diastolik (mmHg)
dan <80
atau 80-89
atau 90-99
atau 100

Faktor resiko hipertensi:


1. Umur ( 55 tahun untuk pria hingga 60 tahun untuk wanita)
2. Diabetes mellitus
3. Dyslipidemia
4. Microalbuminuria
5. Riwayat penyakit kardiovaskuler prematur
6. Obesitas (BMI 30 kg/m2)
7. Jarang berolahraga
8. Kebiasaan merokok

(DiPiro, Talbert, Yees, Matzke, Wells, dan Posey, 2005).

B. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi hipertensi terbagi dalam mekanisme secara humoral, vaskular dan neuronal
(1). Humoral
Peran sistem humoral dalam patofisiologi hipertensi berhubungan dengan adanya
sistem RAAS atau Renin Angiotensin Aldosteron System, hormon natriuretik, dan
hiperinsulinemia (Dipiro, 2008).
a. RAAS
RAAS mengatur natrium, kalium, dan keseimbangan cairan dalam tubuh yang
dapat mempengaruhi vascular tone, saraf simpatik, dan berkontribusi pada regulasi
homeostasis tekanan darah. Renin disimpan di juxtagglomerular (afferent arteriol di
ginjal). Pengeluaran renin di sebabkan beberapa faktor, yaitu faktor intrarenal (tekanan
perfusi renal, katekolamin, angiotensin II) dan faktor ekstrarenal (sodium, klorid, dan
potasium).

Saat terjadi penurunan tekanan arteri renal/aliran darah di renal dan

peningkatan stimulasi simpatetik maka akan memicu sekresi renin. Penurunan kadar Na
2

dan Cl menuju tubulus distal juga memicu sekresi renin. Katekolamin juga meningkatkan
sekresi renin melalui stimulasi langsung ke saraf simpatik pada aferen arteriol sehingga
mengaktivasi sel juxtaglomerular. Turunnya serum K atau Ca intraselular juga memicu
sel juxtaglomerular untuk mensekresi renin.
Renin akan mengkatalis konversi angiotensinogen menjadi angiotensin I di dalam
darah. Angiotensin I akan diubah menjadi angiotensin II oleh angiotensin converting
enzyme atau ACE. Saat angiotensin II berikatan dengan reseptor yang sesuai maka akan
mengeluarkan efek biologi khas di beberapa jaringan tertentu (klasifikasi reseptor AT1
dan AT2 ). AT1 berada di otak, ginjal, miokardium, pheriperal vasculature, dan kelenjar
adrenal, sedangkan AT2 tidak berhubungan terhadap regulasi tekanan darah.
Angiotensin II akan menstimulasi adrenal kortek untuk meningkatkan produksi
aldosteron dan memungkinkan terjadi reasorbsi sodium/air sehingga akan menaikkan
volume darah dalam tubuh akan naik dan menyebabkan total perifer resistance (TPR)
meningkat, sehingga menaikkan tekanan darah. Reabsorbsi sodium/ air tidak hanya
karena aldosteron yang tinggi tapi juga disebabkan adanya stimulus dari angiotensin II
pada ginjal dan usus. Angiotensin II pada CNS menyebabkan pengeluaran vasopressin
yang dapat meningkatkan volume darah dan pada akhirnya meningkatkan

Total

Peripheral Resistence (TPR). Pada sistem saraf periferal dan CNS, angiotensin II akan
merangsang saraf simpatetik sehingga TPR meningkat. Pada otot halus vascular,
angiotensin II akan menyebabkan vasokontriksi dan menyebabkan TPR naik, sehingga
menaikkan tekanan darah. Pada jantung dan otak yang memiliki sistem RAAS lokal,
angiotensin II dapat dibentuk pula oleh

angiotensin I convertase yang tidak dapat

diblokir oleh ACE inhibitor. Di jantung, angiotensin II pada miokardium akan memacu
kontraktilitas jantung dan memicu kenaikan kardiak output. Di otak, angiotensin II
menaikkan produksi hormon dari kelenjar pituitari dan hipotalamus serta menaikkan
kerja saraf simpatis dari medulla oblongata. Salah satunya pada syaraf pusat memicu
produksi vasopresin/hormon antidiuretik yang memicu reabsorpsi ginjal, sehingga volum
plasma meningkat dan selanjutnya meningkatkan TPR dan tekanan darah. Pada otot
polos vascular, angiotensin II menimbulkan vasokonstriksi langsung yang berakibat
naiknya TPR dan tekanan darah. Peningkatan cardiac output (CO) disebabkan stimulus
angiotensin II pada jantung, sehingga meningkatkan kontraktilitas yang brakibat
peningkatan CO. Dengan tingginya TPR dan CO ini akan mengakibatkan tekanan darah
meningkat.
3

b. Hormon natriuretik
Hormon natriuretik merupakan hormon yang dihasilkan atrium jantung dan
berperan meregulasi tekanan darah basal dengan merespon adanya kenaikkan kadar
natrium. Hormon natriuretik menghambat natrium dan kalium-adenotin trifosfatase dan
dengan begitu mengganggu traspor natrium melalui membran sel. Kurangnya
kemampuan ginjal untuk mengeliminasi natrium akan menyebabkan naiknya volume
darah. Secara teori naiknya konsentrasi hormon natriuretik dapat membantu menaikkan
ekskresi natrium dan air lewat urin. Namun, gangguan pada kerja hormon natriuretik
akan berakibat retensi air dan natrium yang menimbulkan naiknya volume plasma dan
tekanan darah meningkat.
c. Hiperinsulinemia
Mekanisme yang jelas dari hiperinsulin dan retensi insulin sebagai penyebab
hipertensi belum diketahui secara pasti. Tetapi secara hipotesis peningkatan konsentrasi
insulin dapat menyebabkan hipertensi karena adanya peningkatan retensi sodium di renal
4

dan memicu aktivitas sistem saraf simpatetis. Insulin memiliki hormon pertumbuhan
yang dapat menginduksi hipertropi otot halus vaskular. Selain itu insulin juga memicu
kenaikan tekanan darah dengan kenaikan kalsium intraselular yang mana dapat
mengakibatkan resistensi vaskular.
(2). Vaskular
Endotelium vaskular dan otot polos memiliki peran dalam regulasi aliran dan tekanan
darah yang diperantarai oleh substansi/senyawa-senyawa vasoaktif yang disintesis sel
endotel. Defisiensi sintesis lokal senyawa vasodilasi (prostasiklin dan bradikinin) atau
tingginya senyawa pemicu vasokonstriksi (angiotensin II dan endotelin I) akan memicu
hipertensi, atherosklerosis, atau penyakit kardiovaskular lainnya. Vasodilator poten yang juga
diproduksi endotelium adalah nitric oxide yang bekerja merilekskan epitel vaskular. Pasien
hipertensi mengalami defisiensi intrinsik nitric oxide sehingga vasodilatasi tidak mencukupi.
(3). Neuronal
Berbagai reseptor yang meningkatkan maupun menghambat sekresi norepinefrin
terletak pada permukaan prasinapsis ujung saraf simpatik. Presinaptik -reseptor
menghambat pelepasan norepineprin sedangkan -reseptor memfasilitasi pelepasan
norepineprin. Norepinefrin merupakan agen vasokonstriktor yang memicu kontraksi dan
peningkatan tekanan darah.

C. MANIFESTASI KLINIS
a. Umum
Manifestasi klinis pada fase awal hipertensi tidak spesifik selain kenaikan tekanan
darah tidak ada tanda dan gejala yang jelas dari hipertensi, sehingga seseorang yang
menderita hipertensi tidak mengetahui apabila mengalami hipertensi (Porth and Matfin,
2009).

b. Tanda
Keringat berlebihan, peningkatan frekuensi berkemih dan peningkatan denyut
jantung secara cepat dan tidak teratur. Nilai tekanan darah berada pada tahap prehipertensi
atau hipertensi (Porth and Matfin, 2009).
5

c. Gejala
Pada umumnya, pasien tidak menunjukkan gejala apapun.
D. TERAPI HIPERTENSI
Tujuan utama dari terapi hipertensi adalah untuk mengurangi morbiditas dan
mortalitas kardiovaskular dan ginjal, dimana fokus utama terapi adalah menurunkan tekanan
darah sesuai dengan target tekanan darah menurut umur, penyakit penyerta dan warna kulit
pasien. Tekanan darah yang diinginkan bagi pasien dengan hipertensi 140/90 mmHg (James,
2013).
TERAPI NON FARMAKOLOGI
Pasien yang mengalami prehipertensi atau hipertensi sebaiknya merubah gaya hidup
termasuk mengurangi berat badan apabila memiliki berat badan berlebih, tidak memakan
makanan yang memperburuk hipertensi, membatasi konsumsi garam, idealnya sodium 1.5 g/
hari dan NaCl 3,8 g/hari, olah \raga secara teratur, mengurangi konsumsi alkohol ( 2 gelas
per hari), mengurangi kebiasaan merokok (Dipiro, 2009).
Pasien dapat menggunakan metode Dietary Approaches to Stop Hypertension diet
(DASH). Makanan yang dianjurkan metode DASH ialah buah buahan, sayur-sayuran, dan
produk low-fat diary. Pasien juga dapat mengonsumsi daging merah, kue, dan minuman
manis namun dengan kadar lemak total, lemak jenuh, dan kolesterol yang sedikit. Metode
DASH ini sebaiknya dikombinasikan dengan diet rendah garam (Izzo, Sica, Black, 2008).

TERAPI FARMAKOLOGI

Gambar I. Tempat Kerja ACEI, ARB, Direct renin inhibitor, Aldosterone antagonis, dan -adenoreceptor
antagonist (Ritter, J.M., 2011)

Gambar II. Tempat Kerja ACEI (1) dan ARB (2) (Katzung, 2012)

Tabel I. Terapi Farmakologi Hipertensi

KELAS

SUB
KELAS

MEKANISME AKSI

Rentang Dosis
Umum
(mg/hari)

OBAT

Frekuensi
Harian

Agen Hipertensi Primer


Diuretik

Thiazid

Loops

Potassium
Sparing

Antagonis
Aldosteron

ACEi
(angiotensin
converting
enzyme
inhibitor)

Menghambat reabsorpsi natrium


dan klorida pada pars asendens
ansa henle tebal, yang
menyebabkan diuresis ringan
Meningkatkan ekskresi natrium
dan cairan ginjal dengan tempat
kerja pada ansa Henle asenden
Meningkatkan ekskresi natrium
dan air sambil menahan kalium

Berkompetisi dengan aldosteron


untuk berikatang dengan
reseptor AT1, sehingga
mencegah pembentukan
garam/retensi air
- ACEI mempunyai
mekanisme menghambat
ACE (AngiostensinConverting Enzym) yang
mengubah angiostensin I
menjadi angistensin II

Chlorthalidone
Hydrochlorthiazide
Indapamide
Metolazone
Bumetanide
Furosemide
Torsemide
Amiloride
Amiloride/Hydroclorthiaside
Triamterene
Triamterene/Hydrochlorthiaszide
Eplerenone
Spironolactone
Spironolactone/Hydrochlorthiazide

Benazepril
Captopril
Enalapril
Fosinopril
Lisinopril
Moexipril

12,5-25
12,5-25
1,25-2,5
2,5-5
0,5-4
20-80
5-10
5-10
5-10/50-100
50-100
37,5-75/ 25-50
50-100
25-50
25-50/25-50

1
1
1
1
2
2
1
1 atau 2
1
1 atau 2
1
1 atau 2
1 atau 2
1

10-40
25-150
5-40
10-40
10-40
7,5-30

1 atau 2
2 atau 3
1 atau 2
1
1
1 atau 2
8

ARB
(angiotensin
receptor
blocker)

CCB
(calsium
channel
blocker)

(vasokonstriksi dan stimulus


sekresi aldosteron)
- ACEI juga mencegah
degradasi bradikinin dan
menstimulasi sintesis
senyawa vasodilator
termasuk prostaglandin E2
dan prostasiklin
ARB memblok langsung
reseptor angiostensin tipe 1
(AT1), reseptor yang
memperantarai efek angiostensin
II yang berperan dalam
vasokonstriksi, pelepasan
aldosteron, aktivasi simpatetik,
pelepasan hormon antidiuretik,
dan konstriksi arteriol eferen
glomerulus)
Dihydropyrid Mengahambat ion Ca
ine
ekstraseluler masuk melalui
membran sel miokard dan sel
otot polos pembuluh darah,
terjadi penghambatan pada
cardiac dan kontraksi otot polos
pembuluh darah yang
menyebabkan arteri koroner dan
arteri sistemik mengalami
dilatasi

Perindopril
Quinapril
Ramipril
Trandolapril

4-16
10-80
2,5-10
1-4

1
1 atau 2
1 atau 2
1

Candersatan
Eprosartan
Irbesartan
Losartan
Olmesartan
Telmisartan
Valsartan

8-32
600-800
150-300
50-100
20-40
20-80
80-320

1 atau 2
1 atau 2
1
1 atau 2
1
1
1

2,5-10
5-20
5-10
5-20
60-120
30-90
10-40

1
1
2
1
2
1
1

Amlodipine
Felodipine
Isradipine
Isradipne Sustained Release (SR)
Nicardipine SR
Nifedipine Long Acting
Nisoldipine

Nondihydrop yridine

blocker

Menghambat kalsium ion


ekstraseluler masuk melintasi
membran sel miokard dan sel
otot polos pembuluh darah,
sehingga menghambat
kontraksi otot polos
pembuluh darah jantung dan
dengan demikian arteri
koroner utama dan arteri
sistemik mengalami dilatasi
- Mengahmbat masuknya ion
kalsium ekstraseluler
melintasi membran sel
miokard dan sel otot polos
pembuluh darah tanpa
mengubah konsentrsi
kalsium serum, sehingga
kontraksi otot polos
pembuluh darah jantung
terhambat dan dengan
demikian arteri koroner
utama dan arteri sistemik
mengalami dilatasi
Cardioselecti Menghambat stimulasi produksi
ve
renin oleh cathecolamin, selektif
pada reseptor 1, sehingga
menurunkan denyut jantung,
cardiac output, tekanan darah

Diltiazem SR 180-360
Diltiazem SR 120-480
Siltiazem Extended Release (ER) 120-540
Verapamil SR 180-480
Verapamil ER 180-420
Verapamil oral drug absorption 100-400
system ER

Atenolol
Betaxolol
Bisoprolol
Metoprolol Tartrate
Metoprolol Succinate

25-100
5-20
2,5-10
100-400
50-200

2
1
1 (pagi atau
malam)
1 atau 2
1 (pagi)
1 (pagi)

1
1
1
2
1
10

Non Selective

Intrinsic
Sympathomi
metic Activity

Mixed and
Blockers

sistolik dan diastolik


Menghambat stimulasi produksi
renin oleh cathecolamin pada
reseptor 1 dan 2, sehingga
menurunkan denyut jantung,
cardiac output, tekanan darah
sistolik dan diastolik
Mencegah secara tidak selektif
pada reseptor 1 di jantung,
mencegah efek epinefrin dan
norepinefrin sehingga
menurunkan denyut jantung dan
tekanan darah. Berikatan dengan
reseptor 2 di juxtaglomerular
apparatus, dengan demikian
mencegah produksi renin,
mencegah produksi angiotensin
II dan aldosteron sehingga
terjadi vasodilatasi dan
mencegah retensi air
Menghambat secara kompetitif
stimulasi adrenergik pada
reseptor di myocardium
(reseptor 1) dan di otot polos
jantung (reseptor 2) dan
reseptor 1 di otot polos vaskuler
sehingga menyebabkan
penurunan tekanan darah

Nadolol
Propanolol
Propanolol Long Acting
Rimolol

40-120
160-480
80-320
10-40

1
2
1
1

Acebutolol
Carteolol
Penbutolol
Pindolol

200-800
2,5-10
10-40
10-60

2
1
1
2

Carvedilol 12,5-50
Carvedilol Phospate 20-80
Labetalol 200-800

2
1
2

11

sistemik arteri dan resistensi


vaskular sistemik tanpa
menurunkan denyut jantung dan
cardiac output
Agen Hipertensi Alternatif
1-Blocker

menginhibisi katekolamin pada


sel otot polos vaskular perifer
yang memberikan efek
vasodilatasi.

Doxazosin 1-8

Prazosin 2-20

2 atau 3

Terazosin 1-20

1 atau 2

Direct
Renin
Inhibitor

menghadang sistem sistem


renin-angiotensin-aldosteron
pada titik aktivasinya, sehingga
menghasilkan aktivitas renin
plasma dan tekanan darah.

Aliskiren 150-300

Central 2Agonist

menstimulasi reseptor 2
adrenergik di otak, yang
mengurangi aliran simpatetik
dari pusat vasomotor dan
meningkatkan tonus vagal.
Stimulasi reseptor 2 presinaptik
secara perifer menyebabkan
penurunan tonus simpatetik.
Oleh karena itu, dapat terjadi
penurunan denyut jantung, curah
jantung, resistensi perifer total,
aktivitas renin plasma, dan

Clonidine 0,1-0,8

Clonidine Patch 0,1-0,3


Methyldopa 250-100

1x/minggu
2

12

refleks baroreseptor.
1-Blocker

menginhibisi katekolamin pada


sel otot polos vaskular perifer
yang memberikan efek
vasodilatasi.

Doxazosin 1-8

Prazosin 2-20

2 atau 3

Terazosin 1-20

1 atau 2

13

E. ALGORITMA TERAPI HIPERTENSI

Gambar III. Algoritma Terapi Hipertensi (James et al, 2013)

14

TERAPI HIPERTENSI
TANPA KOMPLIKASI
HIPERTENSI STAGE
1
TD sistolik 140-159
mmHg
TD diastolik 90-99
mmHg

HIPERTENSI STAGE
2
TD sistolik >160
mmHg
TD diastolik
>100mmHg

diuretik golongan thiazide

2 kombinasi obat atau lebih

ACEi, ARB, CCB atau


kombinasi

biasanya diuretik thiazide


dengan ACEi, atau ARB,
atau CCB

Gambar IV. Algoritma Terapi Hipertensi Tanpa Komplikasi (Dipiro, 2008)

Gambar V. Algoritma Terapi Hipertensi Dengan Komplikasi (Dipiro, 2008)

15

DAFTAR PUSTAKA
Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M., 2008,
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 7th edition, Mc-GrawHil, USA,
pp.160-168.
Huether, S.E., and McCance, K.L., 2008, Understanding Phatophysiology, 4th edition,
Mosby Inc an affiliate of Elsevier Inc, China, pp. 588-598, 608-614.
Izzo, J.L., Sica, D.A., Black, H.R., 2008, Hypertension Primer: The Essentials of High Blood
Pressure: Basic Science, Population Science, and Clinical Management, 4th
edition, Lippincott Williams and Wilkins, pp. 144-146, 163-165, 456-460.
James, P.A., Oparil, S., Carter, B.L., Cushman, W.C., Himmelfarb, C.D., Handler, J., et al.,
2013, Evidence- Based Guidline for the Management of High Blood Pressure in
Adults: Report From the Panel Members Appointed to the Eight Joint National
Comitee (JNC8), JAMA.
Katzung, B.G., Masters, S.B., Trevor, A.J., 2012, Farmakologi Dasar dan Klinik, Vol.1, Edisi
12, Penerbit Kedokteran EGC, Jakarta, hal. 187-210
Porth, M.C., and Matfin, G., 2009, Pathophysiology: Concepts of Altered Health States, 8th
edition, Wolters Kluwer Health, Lipincott Williams and Wilkins, Philadelphia, pp.
505-528.
Ritter, J.M., 2011, Angiotensin converting enzyme inhibitors and angiotensin receptor
blockers in hypertension, BMJ, 342.
https://books.google.co.id/books?
id=VbLekHPo5CEC&pg=PA89&dq=diuretik+loop+adalah&hl=id&sa=X&ved=0CB4Q6
AEwAWoVChMI8er6nNrsxwIVzI6UCh2tngKP#v=onepage&q=diuretik%20loop
%20adalah&f=true
http://pionas.pom.go.id/book/ioni-bab-2-sistem-kardiovaskuler-23-antihipertensi/234-betabloker

16