Anda di halaman 1dari 29

ep

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

PUTUSAN
Nomor 2/Pdt.G/BPSK/2014/PN.BT

ng

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Pengadilan Negeri Bukittinggi yang memeriksa dan memutus perkara-

gu

perkara tentang keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa

Konsumen, pada tingkat pertama menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam

PT. ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE, Tbk, berkedudukan di


Jakarta, beralamat di Jalan Nawawi No. 08 Bukittinggi,

ub
lik

ah

perkara antara:

yang diwakili oleh Kepala Cabang (Branch Manager)

am

berdasarkan Surat Kuasa dari Direksi No. 016-S/SKUDIR/CAB/ADMF/II/2012 tanggal 2 Februari 2012, dalam
hal ini memberikan kuasa kepada Azwar Siri, SH.,

ah
k

ep

Advokat, beralamat di Jalan Rimbo Data Rt. 01 Rw. 02


No. 20 Bandar Buat Padang, selanjutnya disebut

In
do
ne
si

sebagai Pemohon;

lawan

A
gu
ng

Libetman, bertempat tinggal di Desa Taluk Kecamatan Pariaman


Selatan, Kota Pariaman, selanjutnya disebut sebagai
Termohon;

Pengadilan Negeri tersebut;


Setelah membaca berkas perkara;

Setelah mendengar kedua belah pihak yang berperkara;

lik

Menimbang, bahwa Pemohon dengan Surat Permohonan Keberatan

ub

tanpa menuliskan tanggal dan dilampiri dengan putusan Badan Penyelesaian


Sengketa Konsumen yang diterima dan didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri Bukittinggi pada tanggal 19 Maret 2014 dalam Register Nomor 2/Pdt.G/
BPSK/2014/PN.BT, telah mengajukan keberatan sebagai berikut :

ep

ka

ah

TENTANG DUDUK PERKARA

Bahwa alasan pemohon keberatan adalah karena pada putusan Badan

dan kekeliruan yang nyata dimana dalam pertimbangan hukum tidak

on

ng

mempertimbangkan semua dalil-dalil/jawaban dan alat bukti yang telah

es

Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi terdapat kekilapan

In
d

gu

Halaman 1 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 1

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

pemohon keberatan (dulu tergugat) ajukan dalam persidangan arbitrase pada


Badan Penyelesaian Sengketa

Konsumen

(BPSK) tersebut. Dan Badan

ng

penyelesaian sengketa konsumen (BPSK) kota Bukittinggi telah melebihi batas


kewenangan untuk mengadili karena memutuskan apa yang tidak dituntut oleh

gu

penggugat/termohon keberatan dan juga memutuskan apa yang tidak menjadi

kewenangan badan penyelesaian sengketa konsumen (BPSK) dan majelis


arbitrase telah sangat keliru dan terkesan sangat emosional dan berat sebelah

dan terkesan sewenang-wenang dalam memberikan putusan perkara aquo


sebagaimana terlihat jelas dalam amar putusannya;

ub
lik

ah

Dapat Pemohon Keberatan jelaskan lagi yang menjadi keberatan


Pemohon Keberatan yaitu :

am

1. Bahwa majelis arbiter Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)


Kota Bukittinggi dalam perkara a quo telah keliru dan tidak memahami

ep

duduk persoalannya yang sebenarnya serta tidak menyeluruh dalam

ah
k

menilai semua bukti-bukti dan fakta-fakta ataupun jawaban dari pemohon


yang terungkap selama

keberatan dulu tergugat serta fakta-fakta

In
do
ne
si

persidangan Arbitrase pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

A
gu
ng

(BPSK) dalam perkara a quo;

2. Bahwa majelis arbiter Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)


Kota Bukittinggi dalam perkara a quo tidak berwenang memeriksa dan

memutus perkara aquo karena berdasarkan ketentuan pasal 23 UU No 8


tahun 1999 menyatakan bahwa gugatan konsumen dapat diajukan di

tempat kedudukan konsumen. Dan juga dijelaskan lagi dalam keputusan


nomor 108 tahun 2004 tentang pembentukan badan

lik

penyelesaian sengketa konsumen yang menyatakan bahwa

setiap

konsumen yang dirugikan atau ahli warisnya dapat menggugat pelaku


usaha melalui BPSK di tempat domisili konsumen terdekat atau BPSK

ub

ah

presiden

terdekat. Berdasarkan fakta hukum bahwa konsumen berdomisili di


Pariaman tepatnya

ep

ka

daerah Kabupaten Padang Pariaman sedang di Kabupaten Padang


di kota Pariaman telah ada BPSK seharusnya

ah

menurut hukum konsumen mengajukan gugatannya di BPSK Pariaman

es

tersebut bukanlah pada BPSK Bukitinggi jadi bedasarkan alasan hukum

on
In
d

gu

ng

tersebut BPSK Buktitinggi tidak berwenang mengadili Perkara aquo;

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 2

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

3. Bahwa Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota


Bukittinggi No 01/PTS-BPSK/Perkara/BKT/III/2014 tertanggal 10 maret

adalah cacat hukum dan tidak mempunyai kekuatan hukum

ng

2014

karena sesuai dengan Pasal 55 Undang-undang No. 8 Tahun 1999

gu

tentang Perlindungan Konsumen, yang menyatakan bahwa Badan


Penyelesaian Sengketa Konsumen wajib mengeluarkan putusan paling

lambat dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari setelah gugatan diterima,
akan tetapi faktanya baru di putus tertanggal 10 Maret 2013 sedangkan
gugatan masuk dan terdaftar pada Badan Penyelesaian Sengketa

ub
lik

ah

Konsumen Kota Bukittinggi dengan No. Register 08/BPSK/PERKARA/


XI/2013 tanggal 14 November 2013 artinya perkara sudah melebihi 21

am

hari dan sudah hampir 5 bulan baru diputus, oleh karena itu Putusan
Perkara Aquo adalah cacat hukum;

ep

4. Bahwa pada halaman terakhir dari amar putusan perkara aquo juga tidak

ah
k

di jelaskan kapan diputuskan hari apa dan tahun berapa di putuskan dan

putusan ini juga tidak ada stempel basah ketika ditanyakan pada

In
do
ne
si

sekretariat BPSK dan pihak BPSK menyatakan bahwa tidak perlu

A
gu
ng

stempel memang sudah seperti ini saja kata pihak BPSK, oleh karena itu
Putusan ini sudah sepatutnya dinyatakan cacat hukum;

5. Bahwa Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota


Bukittinggi

dalam

perkara

Aquo

telah

melebihi

mengadili

dan

memutuskan apa yang tidak dituntut oleh Penggugat, sebagaimana yang

tertuang dalam amar putusannya halaman 21 (dua puluh satu) sampai

lik

Penggugat, sementara Penggugat hanya menuntut sesuai dengan


gugatannya 14 November 2013 pada Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi yaitu kami kutip kembali adapun

ub

ah

dengan halaman 22 (dua puluh dua) yang melebihi dari tuntutan

Mobil agar dikembalikan kepada saya,

Selama mobil ditarik saya telah mengalami kerugian sebesar

ep

ah

ka

tuntutan saya adalah :

Saya akan mencicil kembali setelah mobil dikembalikan

on

ng

kepada saya,

es

Rp. 400.000,- /hari,

In
d

gu

Halaman 3 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 3

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


Kerugian saya per hari agar diganti oleh Pihak PT. Adira .

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Ini membuktikan bahwa pihak BPSK Kota Bukittinggi telah melebihi

ng

kewenangannya dalam hal memutuskan perkara Aquo, karena BPSK


memutuskan apa yang tidak dituntut oleh Penggugat/Termohon Keberatan;

gu

6. Bahwa Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota

Bukittinggi dalam perkara Aquo telah mengadili dan memutuskan

melebihi batas kewenangannya karena telah menyatakan bahwa


Sertifikat Fiducia No. W3.5400AH.05.01.TH.2013 yang dikeluarkan oleh

ub
lik

ah

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Kantor


Wilayah Sumatera Barat tanggal 31 Januari 2013 sebelumnya dibuat

am

melalui Akta Notaris Kasnel Andi Ranof, SH, M.Kn cacat hukum dan
tidak mempunyai kekuatan hukum, bahwa putusan ini sangatlah keliru

ep

bahwa sesuai dengan Pasal 52 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999,

ah
k

yang mengatur tentang Tugas Dan Wewenang Badan Penyelesaian


Sengketa Konsumen dan khususnya pada huruf K dinyatakan dengan

In
do
ne
si

tegas bahwa salah satu tugasnya adalah Memutuskan dan menetapkan

ada atau tidak adanya kerugian dari di pihak konsumen. Jadi dapat

A
gu
ng

dijelaskan bahwa berdasarkan pasal 52 UU No 8 tahun 1999 tersebut


BPSK Kota Bukittinggi tidak mempunyai kewenangan untuk menyatakan
sebuah produk yang di keluarkan oleh Negara cq Kementrian Hukum

dan Hak Asasi Manusia dinyatakan cacat atau tidak syah oleh BPSK.

Bahwa BPSK hanyalah sebuah Lembaga Non Litigasi bukanlah

Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

lik

produk hukum yang syah yang dikeluarkan secara syah oleh Negara cq

7. Bahwa Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota

ub

ah

Lembaga Peradilan yang dapat membatalkan atau menyatakan suatu

ka

Bukittinggi dalam perkara Aquo memutus perkara ini tidak berdasarkan

ep

hukum hanya bedasarkan logika-logika dan emosional dan tidak sesui


dengan fakta-fakta hukum, sangat tergambar dan sangat terlihat dengan

Arbitrase Perkara Aquo hanya menyalin pasal-pasal dalam buku dan

ng

literatur dan menyalin pendapat hukum orang orang yang tidak jelas

on
In
d

gu

keahliannya dalam bidang hukum dan juga majelis Arbitrase sangat jelas

es

ah

jelas sekali dalam putusan maupun pertimbangan hukumnya, Majelis

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 4

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

sekali dalam seluruh pertimbangan hukumnya tidak berdasarkan fakta


keadilan dan tidak mengacu pada tugas dan wewenang selaku majelis

ng

BPSK sebagaimana diatur didalam Pasal 52 UU N0 8 tahun 1999

tentang Tugas dan Wewenang BPSK maupun Keputusan Menteri

gu

Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 350/MPP/

Kep/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan

8. Bahwa dalam pertimbangan hukumnya maupun dalam putusan yang


menjatuhkan

sanksi

adminitratif

pada

pemohon

keberatan

ub
lik

ah

Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK);

berdasarkan hukum dari mana dasarnya apa ukurnya

tidak

majelis hanya

am

memutus berdasarkan logika dan rekaan semata-mata walaupun pasal


60 UU No.8 tahun 1999 mengatur tentang sanksi administratif yang
dapat dijatuhkan oleh BPSK pada pelaku usaha

namun tidak serta

ep

ah
k

merta dapat diterapkan karena sampai saat ini belum ada peraturan
pelaksana atau PP yang mengatur teknis dan ukuran standar maupun
dapat

dijatuhkan

sanksi

administrative

tersebut

jadi

In
do
ne
si

yang

nilai

menjatuhkan hukum tidaklah asal-asalan atau berdasarkan rekaan

A
gu
ng

subyektif hasil pikiran majelis .tentunya menjatuhkan putusan tersebut


haruslah berdasarkan fakta hukum;

9. Bahwa majelis arbitrase dalam perkara aquo juga tidak mempertimbang

duduk perkara yang sebenarnya adapun duduk perkaranya adalah

Bahwa pada tanggal 27 November 2012 Penggugat Libetman mengikat

lik

Multi Finance, Tbk) sesuai Perjanjian Pembiayaan Bersama No.

062812200953 pada tanggal 27 November 2012, untuk pembiayaan 1


(unit) mobil yang di sengketakan dalam perkara ini oleh Termohon

ub

ah

diri pada Perjanjian Hutang Piutang dengan kami (PT. Adira Dinamika

ka

Keberatan;

: MITSUBHISI FE 74 HD

No. Rangka

: MHMFE74P58K01047

No. Mesin

es

: 4D34TD65404
: BA 9921 ES

on

No.Polisi

ep

Jenis Kendaraan

ng

ah

10. Bahwa 1 (unit) mobil yang disengketakan oleh Penggugat yaitu :

In
d

gu

Halaman 5 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 5

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

11. Bahwa Perjanjian tersebut telah mengikat bagi kedua belah pihak dan

merupakan Undang-Undang bagi para pihak yang mengikatkan diri

ng

dalam Perjanjian tersebut, kecuali jika adanya putusan Pengadilan yang


berkekuatan hukum tetap (Inkracht Van Gewisjde) untuk membatalkan

gu

Perjanjian Pembiayaan Bersama tersebut (Vide ketentuan Pasal 1320


Jo. Pasal 1338 KUH. Perdata);

12. Bahwa dengan ditanda tanganinya Perjanjian Pembiayaan No. No.

062812200953, maka dengan demikian timbullah hubungan Hutang

Piutang antara Termohon Keberatan kepada Pemohon Keberatan, yang

ub
lik

ah

mana berdasarkan perjanjian tersebut Termohon Keberatan berhutang


kepada Pemohon Keberatan Rp. 221.088.000,- (dua ratus dua puluh

am

satu juta delapan puluh delapan ribu rupiah) yang wajib dibayar oleh
Termohon Keberatan dengan cara melakukan angsuran untuk jangka

ep

waktu 48 (empat puluh delapan) bulan, dengan nilai angsuran per bulan

ah
k

sebesar Rp. 4.606.000,- (empat juta enam ratus enam ribu rupiah);

13. Bahwa hal ihwal terjadinya permasalahan ini dikarenakan saat Termohon

In
do
ne
si

Keberatan tidak lagi memenuhi kewajibannya sebagaimana yang telah

A
gu
ng

diatur dalam Perjanjian Pembiayaan Bersama setiap tanggal 27 (dua


puluh tujuh) tiap bulannya namun pada angsuran ke 3 (tiga) hingga
angsuran ke 9 (sembilan) Termohon Keberatan Wanprestasi/Cidera janji
atas perjanjian Aquo dimana Termohon Keberatan tidak pernah

melakukan pembayaran kewajiban angsuran tepat pada waktunya


sebagaimana yang telah disepakati bersama;

lik

dengan tidak melakukan pembayaran angsurannya, maka Pemohon


Keberatan melakukan upaya penagihan yang dimulai dengan melakukan
penagihan melalui Telephone, dan juga telah dilakukan penagihan

ub

ah

14. Bahwa oleh karena Termohon Keberatan telah melakukan Cidera Janji

secara langsung namun Termohon Keberatan tidak mengindahkannya

ep

ka

dengan berbagai alasan;

15. Bahwa sebagaimana yang dijelaskan pada poin 14 (empat belas) diatas

ah

bahwa Pemohon Keberatan telah melakukan kunjungan dan penagihan

ng

Pemohon Keberatan melalui Saudara Yotrialdi tidak pernah melihat

on
In
d

gu

keberadaan unit aquo tersebut dan Termohon Keberatan selalu

es

melalui saudara Yotrialdi, namun setiap kali dilakukan kunjungan,

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 6

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

mengatakan bahwa unit tersebut akan dibayar oleh kakaknya yang


berada di Lintau;

ng

16. Bahwa berdasarkan syarat-syarat perjanjian yang disepakati dan


dipahami sebagaimana dijelaskan pada syarat-syarat perjanjian angka

gu

14 (empat belas) huruf b, yang berbunyi :


Debitur

dan/atau

PENJAMIN

dilarang

meminjamkan,

menyewakan,

mengalihkan, menjaminkan atau menyerahkan penguasaan jaminan kepada

pihak ketiga dengan cara atau jalan apapun juga. Pelanggaran atas
ketentuan ini dikenakan Pasal 372 dan Pasal 378 Kitab Undang-Undang

ub
lik

ah

Hukum Pidana jo Pasal 23 ayat 2 jo Pasal 36 Undang-Undang No. 42 tahun


1999;

am

Maka sangat jelas bahwa tindakan yang dilakukan Termohon Keberatan


adalah tindakan melawan hukum dan juga melanggar kesepakatan yang
dalam

Perjanjian

Pembiayaan

ep

ah
k

tertuang

No.

062812200953,

bahwa

Termohon Keberatan (dulunya Debitur) dilarang untuk meminjamkan unit

kepada Pihak Ketiga, juga saat dilakukan investigasi dan penagihan

In
do
ne
si

dilapangan unit tidak pernah berada pada Termohon Keberatan dan menurut

A
gu
ng

Termohon Keberatan unit akan dibayar oleh saudara Termohon Keberatan,


ini membuktikan juga bahwa unit memang berpindah tangan kepada saudara

Termohon Keberatan atau unit hanyalah atas nama Termohon Keberatan


saja sementara yang menggunakan, memakai dan melakukan pembayaran
adalah saudara dari Termohon Keberatan;

17. Bahwa oleh karena Termohon Keberatan tidak kooperatif, dan telah

lik

Kuasa Penarikan kepada saudara Herianto tertanggal 9 Oktober 2013,


dengan No. 0628.13.C.08150 guna melakukan permintaan unit mobil
aquo dimanapun unit tersebut berada, yakni saat dilakukan permintaan

ub

ah

menunggak setiap bulannya maka Pemohon Keberatan membuat Surat

unit aquo tersebut berada di Jambi;

ep

ka

18. Bahwa dalam hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan pada poin ke 17
(tujuh belas) diatas sebelum diberikan Surat Tugas Penarikan atas nama

telah menyetujui, memahami dan kemudian menandatangani Perjanjian

on

ng

Pembiayaan dengan syarat-syarat Perjanjian yang telah dipahami dan

es

ah

Saudara Herianto terlebih dahulu Termohon Keberatan dengan sadarnya

In
d

gu

Halaman 7 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 7

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

disepakati, dimana pada syarat-syarat perjanjian angka 14 (empat belas)


huruf g yang berbunyi :

ng

Apabila DEBITUR tidak melunasi seluruh atau sebagian kewajibannya


kepada KREDITUR, maka KREDITUR berhak dan dengan ini diberi kuasa

gu

dengan hak Substitusi oleh DEBITUR dan/atau PENJAMIN untuk : i)


Mengambil dimanapun dan ditempat siapa pun jaminan tersebut berada, ii)
Menjual dimuka umum secara di bawah tangan atau dengan perantara pihak

lain, dimana jaminan dengan harga pasar yang layak dan dengan syaratsyarat dan ketentuan yang dianggap baik oleh Kreditur ;

ub
lik

ah

19. Bahwa mengenai permintaan dimana dimaksud pada Poin 17 (tujuh


belas) diatas sesuai dengan Perjanjian Pembiayaan Bersama Dengan

am

Penyerahan Hak Milik Secara Fidusia No. 062812200953 dan Sertifikat


Jaminan Fidusia Nomor W3.5400AH.05.01.TH.2013 yang sebelumnya

ep

dibuat Akta Notaris KASNEL ANDI RANOF, SH, M.Kn serta berdasarkan

ah
k

Undang-undang No. 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia Pasal 15 :

1) Dalam Sertifikat Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal

In
do
ne
si

14 ayat (1) dicantumkan kata-kata DEMI KEADILAN BERDASARKAN

A
gu
ng

KETUHANAN YANG MAHA ESA.

2) Sertifikat Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

3) Apabila debitur cidera janji, Penerima Fidusia mempunyai hak untuk


menjual

benda

yang

menjadi

objek

Jaminan

atas

lik

ah

kekuasaannya sendiri.

Fidusia

Berdasarkan Undang-Undang No. 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia


tersebut sangat jelas Penerima Kuasa Fidusia dalam hal ini PT. Adira

ub

Dinamika Multi Finance, Tbk dan Termohon Keberatan dalam hal ini

ka

Libetman sebagai Pemberi Kuasa Fidusia bahwasanya jika Termohon

ep

Keberatan (Pemberi Kuasa) dalam hal ini melalaikan/tidak memenuhi salah

ah

satu kewajiban sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian, maka Termohon

on
In
d

gu

ng

(Penerima Kuasa), karena Pemohon Keberatan diberi kuasa yang tidak

es

Keberatan wajib menyerahkan unit (mobil) kepada Pemohon Keberatan

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 8

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

dapat ditarik kembali untuk mengambil (in bezit nemen) unit (mobil) tersebut
dari Termohon Keberatan;

ng

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas Penggugat dengan kerendahan

hati bermohon kehadapan Bapak Ketua Pengadilan Negeri Bukittinggi

gu

memanggil kami kedua belah pihak untuk mememriksa dan mengadili perkara

ini dan memberikan putsan yang amarnya berbunyi sebagai berikut :


MENGADILI

1. Menerima keberatan dari pemohon keberatan;

2. Menyatakan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)Bukitinggi

3. Menyatakan

ub
lik

ah

tidak berwenang memeriksa,mengadili dan memutus perkara aquo;


putusan

Putusan

Badan

Penyelesaian

Sengketa

am

Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi No. 01/PTS-BPSK/BKT/III/2014


adalah cacat hukum dan tidak mempunyai kekuatan hukum;

ep

4. Membatalkan Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

ah
k

(BPSK) Kota Bukittinggi No. 01/PTS-BPSK/BKT/III/2014;

5. Menyatakan Perjanjian Pembiayaan Bersama No. 062812200953 pada

HD,

No.

Rangka

A
gu
ng

74

In
do
ne
si

tanggal 27 November 2012, dengan Jenis Kendaraan : MITSUBHISI FE


MHMFE74P58K010479,

No.

Mesin

4D34TD65404, No. Polisi : BA 9921 ES adalah Sah dan Mengikat bagi


Penggugat dan Tergugat dengan segala akibat hukumnya;

6. Menyatakan

sah

Sertifkat

Jaminan

Fidusia

Nomor

W3.5400AH.

05.01.TH.2013 tanggal 31 Januari 2013 yang di keluarkan oleh


Kementrian Hukum dan Hak Azazi Manusia Kantor Wilayah Sumatera
Barat;

8. Menyatakan sah penarikan terhadap

lik

ah

7. Menyatakan Termohon keberatan ini telah wanprestasi;

satu unit objek jaminan fidusia

ub

yaitu satu mobil truk : MITSUBHISI FE 74 HD, Nomor Rangka :


MHMFE74P58K010479, No. Mesin : 4D34TD65404, No. Polisi : BA 9921

ep

ES;

ka

9. Menghukum Penggugat untuk membayar segala biaya yang timbul


dalam perkara ini.

ng

memutuskan perkara ini berpendapat lain, mohon memberikan putusan yang

on

seadil-adilnya (ex aequo et bono);

es

Atau jika Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili serta

In
d

gu

Halaman 9 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 9

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

Menimbang, bahwa pada hari persidangan yang telah ditentukan,


Pemohon menghadap Kuasanya tersebut sedangkan Termohon menghadap

ng

sendiri di persidangan;

Menimbang, bahwa Majelis Hakim telah mengupayakan perdamaian

gu

diantara para pihak;

Menimbang, bahwa oleh karena upaya perdamaian tidak berhasil,

pemeriksaan keberatan dilanjutkan dengan pembacaan permohonan yang

isinya tetap dipertahankan oleh Pemohon;

Menimbang, bahwa terhadap permohonan Pemohon tersebut pihak

ub
lik

ah

Termohon pada hari persidangan dengan agenda pembacaan jawaban tidak


hadir secara sah dan patut menurut hukum dan/atau menunjuk kuasanya

am

sehingga terhadap peristiwa hukum ini Majelis Hakim berpendapat tidak akan
melakukan pemanggilan ulang terhadap Termohon dengan memperhatikan

ep

tempat tinggal Termohon yang berada di luar wilayah hukum Pengadilan N

ah
k

Negeri Bukittinggi sehingga guna memanggil Termohon tersebut wajib melalui

mekanisme panggilan delegasi dan proses tersebut membutuhkan waktu

In
do
ne
si

minimal 10 (sepuluh) hari kerja sedangkan apabila dihubungkan dengan

A
gu
ng

ketentuan Pasal 58 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen juncto ketentuan Pasal 6 ayat (7) Peraturan
Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 1 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan
Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang

secara khusus mengatur persidangan perkara a quo memiliki batas waktu yaitu
dalam tenggang waktu 21 (dua puluh satu) hari Majelis Hakim wajib

lik

sudah mengetahui dan sepakat agenda sidang berikutnya adalah kesempatan


Termohon memberikan jawaban terhadap materi permohonan perkara a quo;

ub

Menimbang, bahwa untuk menyingkat putusan, maka segala sesuatu


yang termuat dalam berita acara persidangan, dianggap telah termuat dan

ep

menjadi bagian yang tak terpisahkan dari putusan ini;

Menimbang, bahwa akhirnya para pihak menyatakan tidak ada hal-hal


yang diajukan lagi dan mohon putusan;

ka

ah

menjatuhkan putusan dan juga dalam persidangan sebelumnya Termohon

putusan

Badan

Penyelesaian

Sengketa

on

menyatakan

In
d

adalah

gu

pokoknya

ng

Menimbang, bahwa maksud dan tujuan permohonan Pemohon pada

es

TENTANG PERTIMBANGAN HUKUM

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 10

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi terdapat kekhilafan dan kekeliruan yang

nyata yaitu dalam pertimbangan hukum tidak mempertimbangkan semua dalil

ng

atau jawaban dan alat bukti yang Pemohon ajukan dan juga BPSK Kota
Bukittinggi

telah

melebihi

batas

kewenangan

untuk

mengadili

karena

gu

memutuskan materi yang tidak diminta oleh Termohon serta memutuskan


sesuatu yang tidak menjadi kompetensinya;

Menimbang, bahwa permohonan keberatan diajukan dalam tenggang

waktu 14 (empat belas hari) sejak Pemohon menerima pemberitahuan putusan

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, oleh karenanya secara formal

ub
lik

ah

permohonan keberatan tersebut dapat diterima;

Menimbang, bahwa keberatan Pemohon terhadap Putusan Badan

am

Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi tidak meliputi


materi sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 6 ayat (3) PERMA Nomor 1

ep

tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan Badan

ah
k

Penyelesaian Sengketa Konsumen tetapi meliputi materi lainnya antara lain

amar putusan BPSK Kota Bukittinggi antara lain mencakup materi yang tidak

In
do
ne
si

dimintakan Termohon sehingga putusan tersebut adalah cacat hukum dan tidak

A
gu
ng

mempunyai kekuatan mengikat;

Menimbang, bahwa terhadap fakta yuridis di atas Majelis Hakim

berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (5) PERMA Nomor 1 tahun 2006 tentang
Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian

Sengketa Konsumen menyatakan akan mengadili sendiri sengketa konsumen


yang bersangkutan;

lik

Pemohon beralasan hukum sehingga dapat dikabulkan;

Menimbang, bahwa berdasarkan berkas perkara dan putusan Badan

ub

Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi, Majelis Hakim


berpendapat akan mempertimbangkan petitum Pemohon dihubungkan dengan
alat bukti yang relevan dan memiliki nilai pembuktian dengan perkara a quo;

ep

ka

ah

Menimbang bahwa, berdasarkan pertimbangan tersebut keberatan

Menimbang, bahwa petitum ke-2 (dua) Pemohon pada pokoknya


meminta Majelis Hakim menyatakan BPSK Kota Bukittinggi tidak berwenang

ng

yaitu berdasarkan posita point ke-2 yang mendalilkan BPSK Kota Bukittinggi

on

tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara a quo karena menyimpangi

es

memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara a quo dengan alasan hukum

In
d

gu

Halaman 11 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 11

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

ketentuan Pasal 23 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan


Konsumen yang secara limitatif mengatur gugatan konsumen dapat diajukan

ng

ditempat kedudukan konsumen dan juga memperhatikan ketentuan dalam

Keputusan Presiden Nomor 108 tahun 2004 tentang Pembentukan Badan

gu

Penyelesaian Sengketa Konsumen yang menyatakan setiap konsumen yang

dirugikan atau ahli warisnya dapat menggugat pelaku usaha melalui BPSK di

tempat domisili konsumen terdekat, sehingga berdasarkan ketentuan ini dan

memperhatikan alamat atau tempat tinggal Termohon yang termasuk wilayah

administratif Kabupaten Padang Pariaman sehingga seharusnya menurut

ub
lik

ah

hukum keberatan Termohon diajukan kepada pihak BPSK Pariaman dan bukan
mengajukannya kepada BPSK Kota Bukittinggi;

am

Menimbang, bahwa terhadap petitum ini Majelis Hakim memberikan


pertimbangan yuridis sebagai berikut :

ep

Bahwa ketentuan Pasal 23 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999

ah
k

ditelaah secara gramatikal dengan melihat rangkaian kalimat pada pasal

ini tercantum kata dapat, sehingga apabila dihubungkan dengan sifat

kata dapat

A
gu
ng

tercantumnya

keberlakuan pasal ini

pada

pasal

ini

In
do
ne
si

keberlakuan suatu norma hukum maka diperoleh fakta yuridis yaitu


berimplikasi

terhadap

yaitu termasuk kelompok norma hukum yang

bersifat fakultatif (aanvullendrecht) dan keberlakuannya hanya sebagai


hukum pelengkap dan secara konkret apabila terjadi kesepakatan diantara

para pihak maka ketentuan ini dapat dikesampingkan. Dalam konteks ini,
ketentuan pasal ini juga mengandung makna memberikan kebebasan

lik

institusi atau lembaga (choice of law) yang dianggapnya dapat melindungi


kepentingan hukumnya sebagai perwujudan memberikan perlindungan
terhadap Termohon selaku konsumen yang biasanya lebih lemah dari

ub

ah

kepada konsumen atau Termohon untuk memilih tempat kedudukan

berbagai aspek daripada Pemohon atau pelaku usaha;

ep

ka

Bahwa petitum ini apabila ditelaah dalam konteks choice of law dan
dihubungkan dengan bukti P-1 maka diperoleh fakta yuridis yang makin

ah

melemahkan posita permohonan khususnya ketentuan Pasal 3 ayat (7)

ng

memilih Pengadilan Negeri di wilayah Pemohon. Dalam konteks ini,

on
In
d

gu

berdasarkan bukti P-1 dan P-2 kantor Pemohon berada di wilayah Kota

es

secara limitatif mengatur para pihak sepakat dalam hal terjadi perselisihan

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 12

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bukittinggi sehingga konsekuensi yuridisnya adalah setiap mekanisme


penyelesaian sengketa antara Pemohon dengan Termohon melalui proses

ng

non litigasi adalah menjadi kompetensi institusi atau lembaga yang berada
di wilayah Kota Bukittinggi, hal demikian penyelesaian melalui litigasi
Pemohon

dan

Termohon

menjadi

kompetensi

gu

antara

Pengadilan Negeri Bukittingi;

relatif

dari

Bahwa mengenai dalil Pemohon yang menggunakan ketentuan

Keputusan Presiden Nomor 108 tahun 2004 tentang Pembentukan Badan


Penyelesaian Sengketa Konsumen sebagai justifikasi posita, Majelis

ub
lik

ah

Hakim berpendapat posita ini tidak memiliki justifikasi hukum karena


berdasarkan telaah yuridis ternyata materi dalam keputusan presiden

am

tersebut adalah mengenai pembentukan lembaga Badan Penyelesaian


Sengketa Konsumen (BPSK) di beberapa wilayah kota/kabupaten dan

ah
k

wilayah

ep

dalam ketentuan tersebut tidak termasuk pembentukan lembaga BPSK di


Kabupaten

Padang

Pariaman

maupun

Kota

Pariaman

sebagaimana tercantum dalam posita Pemohon serta ketentuan tersebut

A
gu
ng

konsumen;

In
do
ne
si

juga tidak mengatur mengenai mekanisme penyelesaian sengketa

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan yuridis di atas, maka

Majelis Hakim berpendapat adalah patut dan tepat apabila petitum ke-2 (dua)
Pemohon ditolak;

Menimbang, bahwa petitum ke-3 (tiga) Pemohon meminta kepada

Majelis

Hakim

dalam

amar

putusannya

menyatakan

Putusan

Badan

lik

BKT/III/2014 adalah cacat hukum dan tidak mempunyai kekuatan hukum;


Menimbang, bahwa terhadap petitum di atas, Pemohon menyatakan

ub

pada posita ke-3 (tiga) penyelesaian sengketa oleh pihak BPSK Kota Bukittinggi
bertentangan dengan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999

ep

tentang Perlindungan Konsumen yang secara limitatif pihak BPSK wajib


mengeluarkan putusan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari setelah gugatan
diterima, sedangkan terhadap perkara a quo ternyata pihak BPSK menjatuhkan
a quo melebihi batas waktu yang diatur dalam ketentuan

on

ng

tersebut yaitu baru menjatuhkan putusan pada tanggal 10 Maret 2014

es

putusan perkara

ka

ah

Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi No. 01/PTS-BPSK/

In
d

gu

Halaman 13 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 13

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

sedangkan berkas masuk dan terdaftar pada BPSK Kota Bukittinggi pada
tanggal 14 November 2013;

ng

Menimbang, bahwa terhadap petitum ini Majelis Hakim memberikan


pertimbangan yuridis sebagai berikut :

gu

Bahwa pemberlakuan batas waktu penyelesaian sengketa konsumen

oleh pihak Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) merupakan


ketentuan khusus (lex specialis) guna memberikan rasa keadilan dan

kepastian hukum bagi pelaku usaha dan konsumen, prinsip ini

bersesuaian dengan adagium hukum yang berkembang akhir-akhir ini

ub
lik

ah

yaitu justice delayed is justice denied atau keadilan yang tertunda adalah
menciptakan ketidakadilan, namun demikian senyatanya (de facto)

am

penerapan ketentuan ini tidaklah mudah apabila dihubungkan dengan


kondisi

geografis

negara

Indonesia

sehingga

dalam

melakukan

ep

pemanggilan para pihak berdasarkan praktek peradilan membutuhkan

ah
k

waktu antara 7 (tujuh) hari sampai dengan 10 (sepuluh) hari maupun

mekanisme atau prosedur administrasi maupun tahapan yang harus dan

In
do
ne
si

berlaku pada internal lembaga BPSK. Dalam konteks ini, apabila

A
gu
ng

dihubungkan dengan proses pemeriksaan perkara a quo oleh lembaga


BPSK Kota Bukittinggi sebagaimana tercantum dalam Putusan No. 01/

PTS-BPSK/BKT/III/2014 tanggal 10 Maret 2014 diperoleh fakta yaitu pihak

Pemohon sendiri pada hari persidangan pertama yang ditetapkan tidak


hadir melainkan hanya mengirimkan surat dan baru pada hari persidangan

berikutnya berdasarkan panggilan ulang oleh pihak BPSK Kota Bukittinggi

lik

Bahwa pemberlakuan ketentuan batas waktu selama 21 (dua puluh


satu) hari kerja terhitung sejak gugatan di terima pihak BPSK berdasarkan
prinsip

keberlakuan

(dwingendrecht)

norma

hukum

adalah

ub

ah

pihak Pemohon hadir;

bersifat

imperatif

dan keberlakuannya adalah sebagai hukum yang

ep

ka

memaksa dan wajib untuk dipatuhi serta dilaksanakan. Namun demikian


apabila dilakukan telaah yuridis terhadap ketentuan pada Undang-Undang

ah

Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen diperoleh fakta

ng

hukum sebagai implikasi atau konsekuensi yuridis dengan tidak

on
In
d

gu

terpenuhinya atau tidak terlaksananya ketentuan Pasal 55 tersebut

es

yuridis yaitu undang-undang tersebut tidak mengatur mengenai sanksi

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 14

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

termasuk didalamnya sanksi batal demi hukum atau setidak-tidaknya


cacat hukum maupun tidak memiliki kekuatan mengikat terhadap putusan

ng

lembaga BPSK yang dijatuhkan apabila melebihi batas waktu yang telah
ditetapkan oleh undang-undang;

gu

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan yuridis di atas, maka


Majelis Hakim berpendapat petitum ini tidak memiliki justifikasi hukum sehingga

adalah patut dan tepat apabila petitum ke-3 (tiga) Pemohon ditolak;

Menimbang, bahwa petitum ke-4 (empat) Pemohon meminta Majelis

Hakim dalam amar putusannya menyatakan membatalkan Putusan Badan

ub
lik

ah

Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi No. 01/PTS-BPSK/


BKT/III/2014;

am

Menimbang, bahwa terhadap petitum ini Pemohon menyatakan pada


point ke- 5 (lima) posita yaitu pihak BPSK Kota Bukittinggi dalam putusannya

ep

telah melebihi dan memutuskan materi yang tidak dituntut oleh Termohon dan

ah
k

juga pada posita point ke-6 (enam) Pemohon juga menyatakan majelis BPSK

Kota Bukittinggi juga mengadili dan memutus melebihi batas kewenangannya;

In
do
ne
si

Menimbang, bahwa terhadap petitum ke-4 (empat) Majelis Hakim

A
gu
ng

memberikan pertimbangan yuridis sebagai berikut :

Bahwa terhadap posita ke-5 Pemohon Majelis Hakim berpendapat

posita ini apabila dikaji dalam kerangka yuridis formal atau hukum acara

adalah termasuk dalam klasifikasi dalil ultra petitum partium atau lazim
disebut dengan istilah ultra petita yang secara khusus diatur dalam
ketentuan Pasal 189 ayat (3) RBg dan Pasal 50 Rv. Dalam konteks ini,

lik

mengabulkan diluar materi posita dan petitum walaupun putusan tersebut


dijatuhkan atas dasar itikad baik (good faith) maupun berdasarkan
kepentingan umum (public interest) karena tindakan demikian termasuk

ub

ah

pengertian atau defenisi ultra petita adalah apabila suatu putusan yang

kategori tindakan yang tidak sah (llegal). Namun demikian berdasarkan

ep

ka

prinsip keadilan berdasarkan norma yang tercantum dalam Putusan


Mahkamah Agung Nomor 556 K/.Sip/1971 tanggal 10 November 1971,

ah

norma ultra petita boleh dilakukan dengan syarat amar putusan tersebut

ng

lainnya apabila amar putusan yang termasuk klasifikasi ultra petita

on

tersebut masih sesuai dengan kejadian materil atau fakta sebenarnya;

es

masih dalam kerangka yang sesuai dengan inti petitum primair atau syarat

In
d

gu

Halaman 15 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 15

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Bahwa berdasarkan bukti P-3 diperoleh fakta yuridis yaitu petitum


Termohon terdiri dari 4 (empat) tuntutan namun selama persidangan

ng

Pemohon tidak dapat memperlihatkan asli surat dari bukti ini, maka Majelis
Hakim berpendapat bukti P-3 tidak memiliki nilai pembuktian;

gu

Bahwa berkaitan dengan petitum Termohon berdasarkan telaah


yuridis Majelis Hakim terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen (BPSK) Kota Bukittinggi Nomor 01/PTS-BPSK/BKT/III/2014

tanggal 10 Maret 2014 diperoleh fakta yuridis yaitu Termohon dalam

permohonannya yang diajukan kepada pihak BPSK Kota Bukittinggi

ub
lik

ah

secara tertulis pada tanggal 14 November 2013 dan terdaftar dalam


sekretariat BPSK Kota Bukittinggi dengan Nomor 08/BPSK/PERKARA/XI/

am

2013 tanggal 14 November 2014 mengajukan tuntutan sebanyak 5 (lima)


buah antara lain : meminta 1 (satu) unit mobil Mitsubishi FE 74 HD nomor

ep

polisi BA 9921 ES yang dibeli melalui mekanisme pembiayaan oleh

ah
k

Tergugat agar dikembalikan kepada Penggugat dan juga menuntut uang

ganti rugi sejumlah Rp 400.000,- (terbilang empat ratus ribu rupiah)

In
do
ne
si

perhari terhitung sejak kendaraan tersebut ditarik oleh Tergugat;

A
gu
ng

Bahwa disisi lain putusan yang dijatuhkan oleh BPSK Kota

Bukittinggi dengan Nomor 01/PTS-BPSK/BKT/III/2014 tanggal 10 Maret

2014 memiliki amar putusan berjumlah 19 (sembilan belas) buah antara


lain menyatakan penarikan 1 (satu) unit mobil Mitsubishi FE 74 HD nomor

polisi BA 9921 ES dari tangan Penggugat oleh Penggugat adalah tidak


sah; memerintahkan Penggugat maupun pihak lainnya yang menguasai

lik

menyatakan menurut hukum apabila Tergugat lalai melaksanakan isi


putusan BPSK terhitung sejak putusan ini mempunyai kekuatan hukum
tetap diwajibkan membayar sanksi administratif sejumlah Rp 50.000.000,(terbilang lima puluh juta rupiah);

ub

ah

kendaraan tersebut berkewajiban mengembalikan kepada Penggugat;

ep

ka

Bahwa Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan


Konsumen mengatur Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)

ah

adalah badan yang bertugas menangani dan menyelesaikan sengketa

ng

tersebut BPSK berdasarkan ketentuan Pasal 52 huruf (a) Undang-Undang

on
In
d

gu

Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dapat memilih

es

antara pelaku usaha dan konsumen. Guna menyelesaikan sengketa

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 16

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

mekanisme mediasi atau arbitrase atau konsiliasi. Dalam konteks ini,


berdasarkan Putusan BPSK Kota Bukittinggi Nomor 01/PTS-BPSK/BKT/

ng

III/2014 tanggal 10 Maret 2014 diperoleh fakta yuridis yaitu mekanisme


yang dipilih oleh pihak BPSK Kota Bukittinggi guna menyelesaikan

gu

sengketa antara Pemohon dengan Termohon adalah melalui forum


arbitrase;

Bahwa

arbitrase

adalah

satu

diantara

bentuk

mekanisme

penyelesaian melalui proses non litigasi atau dalam konteks ilmu hukum
lazim

disebut

alternative

dengan

dispute

resolution

atau

ADR.

ub
lik

ah

Berdasarkan sistem hukum nasional lembaga hukum arbitrase sudah


diatur secara khusus dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 30

am

tahun 1999 tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.


Konsekuensi yuridisnya adalah hukum acara yang berlaku pada proses

ep

arbitrase oleh lembaga BPSK adalah berdasarkan ketentuan yang diatur

ah
k

dalam Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase Dan

Alternatif Penyelesaian Sengketa. Dalam konteks ini, ketentuan Pasal 56

In
do
ne
si

ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase Dan

A
gu
ng

Alternatif Penyelesaian Sengketa secara limitatif mengatur arbiter dalam

menjatuhkan putusan wajib berdasarkan perjanjian yang disepakati para


pihak adalah menurut ketentuan hukum atau sesuai dengan rasa keadilan
dan kepatutan (ex aequo et bono) namun demikian kewenangan yang

diberikan kepada arbiter tidak boleh melanggar ketentuan hukum yang


bersifat memaksa (dwingende regels) tetapi apabila tidak diatur secara

materil sebagaimana putusan pengadilan;

lik

arbiter maka arbiter hanya dapat memutus berdasarkan kaidah hukum

Bahwa berdasarkan pertimbangan yuridis di atas dihubungkan

ub

ah

khusus dalam perjanjian mengenai kewenangan yang diberikan kepada

dengan amar putusan maupun keseluruhan materi Putusan Putusan

ep

ka

BPSK Kota Bukittinggi Nomor 01/PTS-BPSK/BKT/ III/2014 tanggal 10


Maret 2014 diperoleh fakta yuridis yaitu putusan tersebut bertentangan

ah

dengan ketentuan hukum yang bersifat memaksa sebagaimana diatur

ng

limitatif mengatur suatu putusan dilarang melebihi materi posita dan

on

petitum (ultra petita) walaupun putusan tersebut dijatuhkan atas dasar

es

dalam ketentuan Pasal 189 ayat (3) RBg dan Pasal 50 Rv yang secara

In
d

gu

Halaman 17 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 17

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

itikad baik (good faith) maupun berdasarkan kepentingan umum (public

interest). Dalam konteks keadilan, materi putusan BPSK Kota Bukittinggi

ng

tersebut juga tidak memenuhi norma sebagaimana dimaksud dalam


Putusan Mahkamah Agung Nomor 556 K/Sip/1971 tanggal 10 November

gu

1971;

Bahwa fakta yuridis ini dapat dilihat pada posita Termohon

sebagaimana tercantum permohonannya yang diajukan kepada pihak

BPSK Kota Bukittinggi secara tertulis pada tanggal 14 November 2013

dan terdaftar dalam sekretariat BPSK Kota Bukittinggi dengan Nomor 08/

ub
lik

ah

BPSK/PERKARA/XI/2013 tanggal 14 November 2014 hanya terdiri dari 5


(lima) buah petitum, sedangkan amar putusan yang dijatuhkan oleh BPSK

am

Kota Bukittinggi dengan Nomor 01/PTS-BPSK/BKT/III/2014 tanggal 10


Maret 2014 memiliki amar putusan berjumlah 19 (sembilan belas) buah

ep

petitum yang keseluruhan materi tersebut berbeda dengan substansi atau

ah
k

pokok materi yang Termohon minta;

Bahwa berdasarkan keseluruhan pertimbangan yuridis di atas, maka

In
do
ne
si

Majelis Hakim berpendapat posita ini ini beralasan;

A
gu
ng

Bahwa mengenai materi posita ke-6 (enam) Pemohon Majelis Hakim

berpendapat guna mengetahui wewenang atau kompetensi lembaga


Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dapat dilihat dalam

Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen


khususnya ketentuan Pasal 52 yang secara limitatif mengatur tugas dan
wewenang BPSK. Dalam konteks ini, berdasarkan ketentuan pasal

lik

dan/atau penilaian terhadap suatu surat atau dokumen guna proses


penyelidikan dan/atau pemeriksaan;

Bahwa berdasarkan pertimbangan yuridis di atas dikorelasikan

ub

ah

tersebut pada huruf (j) BPSK antara lain berwenang melakukan penelitian

dengan Putusan BPSK Kota Bukittinggi dengan Nomor 01/PTS-BPSK/

ep

ka

BKT/III/2014 tanggal 10 Maret 2014 khususnya petitum ke-3 (tiga) dan


ke-4 (empat) diperoleh fakta yuridis yaitu amar putusan tersebut

ah

bertentangan dengan ketentuan Pasal 52 huruf (j) Undang-Undang Nomor

ng

Bukittinggi karena secara sepihak BPSK Kota Bukittinggi menyatakan

on
In
d

gu

suatu perjanjian tertulis bahkan dalam bentuk akta otentik yang disepakati

es

8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu BPSK Kota

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 18

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

dan telah ditandatangani oleh Pemohon dengan Termohon mengandung


cacat hukum dan tidak memiliki kekuatan mengikat;
suatu

ng

Bahwa

perjanjian

berdasarkan

ketentuan

Pasal

1338

KUHPerdata berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang

gu

membuatnya, konsekuensi yuridisnya adalah para pihak tersebut wajib


melaksanakan semua hak dan kewajiban yang sudah disepakati kecuali

dalam tertentu ada sesuatu hal yang mengakibatkan perjanjian tersebut

menjadi batal demi hukum dan/atau dapat dibatalkan sebagaimana diatur

dalam ketentuan Pasal 1446 KUHPerdata. Dalam konteks hukum acara,

ub
lik

ah

mekanisme dan pernyataan kebatalan dan pembatalan perjanjian tersebut


hanya dapat dilakukan oleh putusan pengadilan, sehingga amar putusan

am

yang dijatuhkan BPSK Kota Bukittinggi dengan Nomor 01/PTS-BPSK/


BKT/III/2014 tanggal 10 Maret 2014 khususnya petitum ke-3 (tiga) dan

ep

ke-4 (empat) bukan saja bertentangan dengan ketentuan Pasal 52 huruf (j)

ah
k

Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

perjanjian;

In
do
ne
si

tetapi juga melanggar hukum yang secara khusus mengatur mengenai

A
gu
ng

Bahwa berdasarkan keseluruhan pertimbangan yuridis di atas, maka


Majelis Hakim berpendapat posita ini ini beralasan;

Menimbang, bahwa berdasarkan keseluruhan pertimbangan yuridis di

atas, maka Majelis Hakim berpendapat petitum ke-4 (empat) memiliki justifikasi
hukum sehingga adalah patut dan tepat apabila petitum ini dikabulkan;

Menimbang, bahwa petitum ke-5 (lima) Pemohon meminta Majelis

lik

November 2012 adalah sah mengikat bagi Pemohon dan Termohon dengan
segala akibat hukumnya;
bahwa

guna

membuktikan

petitum

ub

Menimbang,

ini

Pemohon

mengajukan alat bukti tertulis yang ditandai dengan bukti P-1 dan juga
Termohon dalam positanya;

ep

menguraikan secara rinci adanya hubungan hukum antara Pemohon dengan

Menimbang, bahwa mengenai petitum ke-5 (lima) maka Majelis Hakim


Bahwa berdasarkan bukti P-1 diperoleh fakta yuridis yaitu berisikan

ng

on

kesepakatan antara Pemohon dengan Termohon mengenai fasilitas

es

memberikan pertimbangan yuridis sebagai berikut :

In
d

gu

Halaman 19 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ik

ah

ka

ah

Hakim menyatakan Perjanjian Pembiayaan Bersama 062812200953 tanggal 27

Halaman 19

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

pembiayaan sejumlah Rp 155.946.000,- (terbilang seratus lima puluh lima


juta sembilan ratus empat puluh enam ribu rupiah) dengan tujuan komersil

ng

dan guna menjamin pembayaran maka Termohon memberikan jaminan


kepada Pemohon berupa 1 (satu) unit mobil tipe truck merek Mitsubishi FE

gu

74 HD dengan nomor polisi BA 9921 ES berikut semua identitas


kendaraan sebagaimana tercantum bukti P-1;

Bahwa terhadap posita ini, Termohon tidak memberikan tanggapan

atau jawaban baik secara lisan maupun tertulis namun berdasarkan bukti
P-4 diperoleh fakta yuridis yaitu Termohon mengakui mengikatkan diri

ub
lik

ah

dalam perjanjian dengan Pemohon untuk pembiayaan 1 (satu) unit mobil


Mitsubishi FE 74 HD dengan nomor polisi BA 9921 ES;

am

Bahwa berkaitan adanya pengakuan Termohon di atas maka dalam


konteks pembuktian, pengakuan berdasarkan ketentuan Pasal 284 RBg

ep

adalah satu diantara alat bukti yang digunakan pihak Penggugat dalam

ah
k

membuktikan suatu dalil ataupun yang digunakan pihak Tergugat guna

Bahwa ketentuan Pasal 311

RBg secara limitatif mengatur

In
do
ne
si

membuktikan dalil bantahannya;

A
gu
ng

pengakuan yang diucapkan dalam persidangan adalah bukti yang


sempurna

dan

memberatkan

pihak

yang

mengucapkan

atau

menyatakannya sehingga berdasarkan ketentuan Pasal 313

RBg

mengatur setiap pengakuan secara keseluruhan wajib diterima dan

dianggap benar oleh Majelis Hakim. Aturan ini bersesuaian dengan


Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 546 K/Sip/1983 tanggal 13 Juni 1984

dengan kaidah hukum yaitu suatu pengakuan mempunyai nilai kekuatan

lik

ah

pembuktian yang sempurna, mengikat dan menentukan dan pengakuan


tidak dapat ditarik kembali tanpa alasan yang dibenarkan menurut hukum;

ub

Bahwa berdasarkan fakta yuridis di atas, maka Majelis Hakim


berpendapat posita Pemohon yang menyatakan adanya hubungan hukum

ep

dengan Termohon melalui perjanjian sebagaimana tercantum dalam bukti

ka

P-1 beralasan;

Menimbang, bahwa berdasarkan keseluruhan pertimbangan yuridis di

es

atas, maka Majelis Hakim berpendapat petitum ke-5 (lima) memiliki justifikasi

on
In
d

gu

ng

hukum sehingga adalah patut dan tepat apabila petitum ini dikabulkan;

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 20

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang, bahwa pada petitum ke-6 (enam) Pemohon meminta


Majelis Hakim menyatakan sertifikat jaminan fiducia nomor W3.5400AH.05.01.

ng

TH.2013 tanggal 31 Januari 2013 sah;


Menimbang,

bahwa

guna

membuktikan

petitum

ini

Pemohon

gu

mengajukan alat bukti tertulis yang ditandai dengan bukti P-2A dan P-2B dan

juga menguraikan secara rinci adanya hubungan hukum antara Pemohon

dengan Termohon dalam positanya;

Menimbang, bahwa mengenai petitum ini Majelis Hakim memberikan

pertimbangan yuridis sebagai berikut :

ub
lik

ah

Bahwa fiducia adalah lembaga penjaminan yang selama ini


diterapkan berdasarkan ketentuan yurisprudensi namun menjadi norma

am

hukum dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 42 tahun 1999


tentang

Jaminan

Fiducia.

Dalam

konteks

ini,

perjanjian

fiducia

ep

berdasarkan ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 42 tahun 1999

ah
k

tentang Jaminan Fiducia adalah perjanjian ikutan (accessoir) dari suatu

perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk

In
do
ne
si

memenuhi suatu prestasi;

A
gu
ng

Bahwa berdasarkan bukti P-2A diperoleh fakta yuridis yaitu Akta

Jaminan Fiducia Nomor 34 tanggal 2 Januari 2013 yang dibuat dihadapan


Kasnel Andi Ranof, SH., M.Kn., Notaris di Pasaman Barat adalah
perjanjian

ikutan

(accessoir)

dari

Perjanjian

Pembiayaan

Nomor

062812200953 tanggal 27 November 2012 yang juga diajukan oleh


Pemohon sebagai alat bukti perkara a quo dan ditandai dengan bukti P-1;

lik

maka bukti ini termasuk kategori akta otentik sebagaimana diatur dalam
ketentuan Pasal 1868 KUHPerdata sehingga memiliki nilai pembuktian
yang sempurna (volledig) dan mengikat (bindende) sepanjang tidak

ub

ah

Bahwa bukti P-2A apabila dilihat dari aspek bentuk atau jenisnya

diajukan bukti lawan namun tidak bersifat menentukan sebagaimana diatur

ep

ka

dalam ketentuan Pasal 314 RBg;

Bahwa atas fakta yuridis di atas dikorelasikan dengan pertimbangan

ah

yuridis terhadap petitum ke-5 (lima) perkara a quo maka Majelis Hakim

ng

Bahwa terhadap bukti P-2B Majelis Hakim berpendapat dari aspek

on

bentuknya bukti ini juga memenuhi kriteria sebagai akta otentik sehingga

es

berpendapat posita ini beralasan;

In
d

gu

Halaman 21 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 21

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

guna memenuhi prinsip peradilan cepat dan sederhana mengambil alih

pertimbangan yuridis mengenai bukti P-2A menjadi pertimbangan yuridis

ng

guna membuktikan bukti P-2B sehingga adalah patut dan tepat apabila
Majelis Hakim menyatakan posita ini beralasan;

gu

Bahwa selama persidangan perkara a quo ternyata Termohon hanya


hadir pada hari persidangan pertama dan tidak pernah hadir pada hari

sidang berikutnya atau menunjuk kuasanya guna membela kepentingan

hukumnya sekaligus mengajukan alat bukti guna membantah posita


Pemohon sehingga Majelis Hakim berpendapat dalam perkara a quo tidak

ub
lik

ah

ada alat bukti yang dapat membantah nilai pembuktian atas bukti P-2A
dan P-2B;

am

Menimbang, bahwa berdasarkan keseluruhan pertimbangan yuridis di


atas, maka Majelis Hakim berpendapat petitum ke-6 (enam) memiliki justifikasi

ep

hukum sehingga adalah patut dan tepat apabila petitum ini dikabulkan;

ah
k

Menimbang, bahwa guna merealisasikan asas kemanfaatan bagi


terhadap

putusan

yang

dijatuhkan,

maka

masyarakat

Majelis

Hakim

In
do
ne
si

berpendapat secara ex officio akan mempertimbangkan proses dibuat dan

A
gu
ng

ditandatanganinya bukti P-2A dikorelasikan dengan bukti P-1 sebagai berikut :


Bahwa bukti P-2A dibuat dan ditandatangani pada tanggal 2 Januari

2013 oleh karyawan Pemohon yang bertindak untuk dan atas nama
Pemohon

sekaligus

bertindak

untuk

dan

atas

nama

Termohon

berdasarkan Surat Kuasa tercantum tanggal 27 November 2012;

Bahwa fakta yuridis ini apabila dikorelasikan dengan bukti P-1 maka

lik

bersamaan dengan waktu ditandatanganinya bukti P-1 atau dengan kata


lain adanya rentang waktu hampir 2 (dua) bulan antara ditandatanganinya
bukti P-1 dengan bukti P-2A;

ub

ah

diperoleh fakta yuridis surat kuasa yang diberikan Termohon tersebut

Bahwa terhadap praktek di atas secara umum sudah lazim dilakukan

ep

ka

dalam dunia perbankan dan lembaga pembiayaan non perbankan


sebagaimana yang disepakati antara Pemohon dengan Termohon dalam
a quo. Dalam konteks ini, praktek demikian tidak melanggar

ah

perkara

es

prinsip maupun norma hukum tetapi Majelis Hakim berpendapat

on
In
d

gu

ng

mekanisme ini termasuk kategori penyelundupan hukum;

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 22

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Bahwa atas praktek atau kebiasaan di atas apabila dilihat dari aspek

perlindungan konsumen termasuk tindakan merugikan konsumen, karena

ng

secara materi atau nominal lazimnya suatu perjanjian kredit maupun


pembiayaan konsumen sebelum menandatangani perjanjian pokok dan
ikutannya

gu

perjanjian

terutama

pembebanan

fiducia

dan/atau

hak

tanggungan sebagai jaminan setiap konsumen sudah dibebani membayar


biaya pembuatan akta dan pendaftaran pembebanan tersebut namun

senyatanya (de

facto)

praktek

yang

terjadi

adalah

pada

waktu

penandatanganan perjanjian pokok pihak pelaku usaha sekaligus meminta

ub
lik

ah

konsumen menandatangani surat kuasa yang menyatakan pelaku usaha


diberikan kuasa oleh konsumen untuk membuat dan menandatangani akta

am

jaminan fiducia dan/atau akta pembebanan hak tanggungan;


Bahwa guna mengantisipasi praktek yang berlangsung selama ini

ep

dan berpotensi melanggar hak konsumen adalah patut dan wajar apabila

ah
k

pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku instansi pengawas usaha jasa

keuangan/pembiayaan dan perbankan membuat aturan khusus dan

In
do
ne
si

melarang melakukan mekanisme atau proses yang selama ini diterapkan

A
gu
ng

oleh pihak perbankan maupun lembaga pembiayaan non perbankan


sebagaimana tersebut di atas;

Menimbang, bahwa pada petitum ke-7 (tujuh) Pemohon meminta

Majelis Hakim menyatakan Termohon melakukan tindakan wanprestasi dan

dalam positanya point ke-13 (tiga belas) menyatakan sejak angsuran ke-3 (tiga)
hingga

angsuran

ke-9

(sembilan)

Termohon

tidak

pernah

melakukan

lik

sudah disepakati dan tercantum dalam perjanjian yaitu setiap tanggal 27 (dua
puluh tujuh) tiap bulannya Pemohon menerima pembayaran dari Termohon;

pertimbangan yuridis sebagai berikut :

ub

Menimbang, bahwa mengenai petitum ini Majelis Hakim memberikan


Bahwa wanprestasi secara gramatikal bersumber dari Bahasa

ep

ka

ah

pembayaran kewajiban angsuran tepat pada waktunya sebagaimana yang

Belanda dengan arti prestasi buruk sedangkan berdasarkan interpretasi

ah

yuridis kata ini memiliki makna suatu keadaan disebabkan kelalaian atau

es

kesalahan sehingga suatu pihak tidak dapat memenuhi prestasi yang

on

ng

sudah disepakati dan/atau tercantum dalam perjanjian;

In
d

gu

Halaman 23 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 23

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa berdasarkan doktrin ilmu hukum satu diantara bentuk

wanprestasi menurut Prof. Subekti, SH., dalam bukunya berjudul Hukum

ng

Perjanjian adalah melakukan isi perjanjian namun terlambat atau tidak

tepat waktu sebagaimana yang telah disepakati. Doktrin ini bersesuaian

gu

dengan pendapat Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH. MS., menyatakan dalam
bukunya berjudul Hukum Komersil tindakan yang dapat diklasifikasikan

sebagai wanprestasi apabila suatu pihak memenuhi suatu prestasi namun

tidak tepat waktunya;

Bahwa terhadap posita ini, Termohon tidak memberikan tanggapan

ub
lik

ah

atau jawaban baik secara lisan maupun tertulis namun berdasarkan bukti
P-4 diperoleh fakta yuridis yaitu Termohon mengakui terhitung sejak

am

angsuran ke-3 (tiga) tidak dapat melakukan pembayaran karena usahanya


pailit namun pada bulan berikutnya kembali melakukan pembayaran;

ep

Bahwa berkaitan pengakuan Termohon di atas maka dalam konteks

ah
k

pembuktian, pengakuan berdasarkan ketentuan Pasal 284 RBg adalah

satu diantara alat bukti yang digunakan pihak Penggugat dalam

In
do
ne
si

membuktikan suatu dalil ataupun yang digunakan pihak Tergugat guna

A
gu
ng

membuktikan dalil bantahannya;


Bahwa ketentuan Pasal 311

RBg secara limitatif mengatur

pengakuan yang diucapkan dalam persidangan adalah bukti yang


sempurna

dan

memberatkan

pihak

yang

mengucapkan

atau

menyatakannya sehingga berdasarkan ketentuan Pasal 313

RBg

mengatur setiap pengakuan secara keseluruhan wajib diterima dan

dianggap benar oleh Majelis Hakim. Aturan ini bersesuaian dengan

lik

ah

Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 546 K/Sip/1983 tanggal 13 Juni 1984


dengan kaidah hukum yaitu suatu pengakuan mempunyai nilai kekuatan

ub

pembuktian yang sempurna, mengikat dan menentukan dan pengakuan


tidak dapat ditarik kembali tanpa alasan yang dibenarkan menurut hukum;
Bahwa berdasarkan fakta yuridis di atas, maka Majelis Hakim

ep

ka

berpendapat posita Pemohon yang meminta agar Termohon dinyatakan


melakukan wanprestasi adalah beralasan;

ng

atas, maka Majelis Hakim berpendapat petitum ke-7 (tujuh) memiliki justifikasi

on
In
d

gu

hukum sehingga adalah patut dan tepat apabila petitum ini dikabulkan;

es

Menimbang, bahwa berdasarkan keseluruhan pertimbangan yuridis di

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 24

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Menimbang, bahwa Pemohon pada petitum ke-8 (delapan) meminta


kepada Majelis Hakim mensahkan tindakan penarikan terhadap obyek jaminan

ng

fiducia dan positanya point ke-17 (tujuh belas) membuat surat kuasa penarikan

guna mengambil unit mobil dari penguasaan Termohon. Dalam konteks ini,

gu

posita ke-18 (delapan belas) Pemohon juga mendalilkan tindakan penarikan

yang dilakukan berdasarkan isi perjanjian pada angka ke-14 (empat belas)

huruf g sebagaimana tercantum dalam bukti P-1;

Menimbang, bahwa terhadap petitum ini Majelis Hakim memberikan

pertimbangan yuridis sebagai berikut :

ub
lik

ah

Bahwa bukti P-1 adalah perjanjian yang disepakati oleh Pemohon


dengan Termohon mengenai perjanjian pembiayaan sejumlah Rp

am

155.946.000,- (terbilang seratus lima puluh lima juta sembilan ratus empat
puluh enam ribu rupiah) oleh Pemohon dan Termohon diwajibkan

ep

membayar cicilannya sekaligus menyerahkan jaminan berupa 1 (satu) unit

ah
k

mobil jenis truck merek Mitsubishi FE 74 HD nomor polisi BA 9921 ES

berikut identitas kendaraan lainnya yang tercantum dalam bukti P-1;

In
do
ne
si

Bahwa berdasarkan bukti P-1 diperoleh fakta yuridis adanya

A
gu
ng

ketentuan klausula baku dalam bukti tersebut dan berada pada halaman
belakang surat perjanjian yang ditandatangani oleh Pemohon dengan
Termohon;

Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 3 ayat (1) bukti P-1 Pemohon

dan Termohon sepakat tunduk pada isi perjanjian maupun syarat-syarat


perjanjian yang tercantum pada halaman belakang bukti tersebut. Dalam

lik

dibenarkan karena sebelum ditandatangani pihak Termohon mengetahui


adanya persyaratan tertentu yang sudah Pemohon tetapkan dan dengan
tindakan menandatangani perjanjian tersebut maka Termohon secara

ub

ah

konteks hukum perjanjian, kondisi demikian secara hukum (de jure) dapat

tidak langsung menyetujui persyaratan yang sebelumnya Pemohon

ep

ka

tetapkan sehingga isi perjanjian tersebut wajib dipatuhi dan dilaksanakan


oleh Pemohon dan Termohon;

ah

Bahwa pencantuman dan pemberlakuan klausula baku apabila dilihat

ng

kepentingan hukum bahkan hak-hak keperdataan Termohon karena

on

secara riel (de facto) kedudukan diantara mereka yang membuat

es

dari aspek perlindungan konsumen tentunya berpotensi merugikan

In
d

gu

Halaman 25 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 25

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

perjanjian tidak sama atau tidak sederajat. Berkaitan dengan kondisi

tersebut guna melindungi hak-hak konsumen sekaligus antisipasi


kondisi

yang

ng

terciptanya

diberlakukannya

merugikan

Undang-Undang

Nomor

konsumen
8

tahun

maka

1999

sejak

tentang

gu

Perlindungan Konsumen ketentuan mengenai pencantuman klausula baku


diperbolehkan dalam hal-hal tertentu sebagaimana diatur dalam

ketentuan Pasal 18 ayat (1);

Bahwa ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf (d) Undang-Undang Nomor

8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen secara limitatif antara lain

ub
lik

ah

menyatakan pelaku usaha dilarang membuat atau mencantumkan


klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila

am

menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik


secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan

ep

sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli konsumen secara

ah
k

angsuran. Dalam konteks ini, berdasarkan ketentuan ayat (3) pasal

tersebut setiap klausula baku yang telah ditetapkan pelaku usaha pada

In
do
ne
si

dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana diatur

A
gu
ng

dalam ayat (1) dinyatakan batal demi hukum;

Bahwa terhadap posita ke-18 (delapan belas) Pemohon apabila

dikorelasikan dengan pertimbangan yuridis di atas maka secara Majelis


Hakim secara ex officio menyatakan klausul perjanjian angka ke-14
(empat belas) huruf (g) batal demi hukum sehingga konsekuensi

yuridisnya adalah semua tindakan yang dilakukan Pemohon berdasarkan

lik

justifikasi hukum;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan yuridis di atas, maka

ub

Majelis Hakim berpendapat adalah patut dan tepat apabila petitum ke-2 (dua)
Pemohon ditolak;

ep

Menimbang, bahwa berdasarkan asas kemanfaatan bagi masyarakat


terhadap putusan yang dijatuhkan, maka Majelis Hakim berpendapat secara ex
officio akan menjelaskan mekanisme yang dapat Pemohon maupun pelaku

ka

ah

klausul tersebut tidak sah menurut hukum karena dilakukan tanpa

es

usaha lainnya lakukan guna melindungi kepentingan hukumnya dalam hal

on
In
d

gu

ng

Termohon maupun konsumen apabila wanprestasi, sebagai berikut :

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 26

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

pembiayaan

Bahwa secara umum dalam suatu perjanjian dalam lingkup jasa


guna

melindungi

kepentingan

hukum

pelaku

usaha

ng

senantiasa diikuti dengan pembuatan perjanjian ikutan (accessoir) berupa

perjanjian jaminan dalam bentuk fiducia ataupun hak tanggungan. Dalam

gu

konteks fiducia, secara umum ketentuan Undang-Undang Nomor 42 tahun


1999 tentang Jaminan Fiducia sudah memberikan previlege kepada

pelaku usaha untuk melindungi kepentingan hukumnya antara lain

diberikannya kekuatan eksekutorial pada sertifikat jaminan fiducia;

Bahwa secara khusus dalam hal konsumen wanprestasi aturan

ub
lik

ah

mengenai fiducia sudah mengatur mekanisme penyelesaiannya terhadap


benda yang menjadi obyek jaminan fiducia guna menghapuskan atau

am

setidak-tidaknya meminimalisir kerugian yang pelaku usaha alami


sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 42

ah
k

Menimbang,

ep

tahun 1999 tentang Jaminan Fiducia;


bahwa

berkaitan

dengan

petitum

ke-9 (sembilan)

membayar semua biaya perkara

a quo, maka Majelis Hakim memberikan

In
do
ne
si

Pemohon yang meminta kepada Majelis Hakim supaya menghukum Penggugat

A
gu
ng

pertimbangan yuridis sebagai berikut :

Bahwa Majelis Hakim berpendapat atas petitum ini termasuk kategori

kabur (obscuur libel) karena pada posita dan petitum perkara a quo pihak

PT. Adira Dinamika Multi Finance, Tbk., mendalilkan sebagai Pemohon,


namun dalam petitum ini secara tegas menyatakan sebagai Penggugat;

Bahwa berkaitan dengan pembebanan biaya perkara berdasarkan

lik

kalah maka harus dihukum membayar biaya perkara yang dalam perkara
a quo yang seharusnya dihukum tersebut adalah pihak Termohon. Namun
demikian Majelis Hakim berpendapat dengan melihat aspek kemampuan

ub

ah

ketentuan Pasal 192 ayat (1) RBg adalah bagi pihak yang dinyatakan

keuangan pihak Pemohon selaku pelaku usaha dan termasuk kategori

ep

ka

perseroan dengan status go public sekaligus sebagai pengingat supaya


dimasa mendatang Pemohon tidak lagi lalai dalam menyebutkan pihaknya

ah

sehingga adalah patut dan tepat apabila Pemohon dibebani membayar

es
on

ng

biaya perkara namun perintah ini bukan sebagai bentuk penghukuman;

In
d

gu

Halaman 27 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 27

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan yuridis tersebut diatas


permohonan keberatan Pemohon dikabulkan sebagian dengan perbaikan

ng

redaksional sebagaimana di bawah ini;

Memperhatikan Pasal 18 ayat (1) huruf d dan ayat (3), Pasal 23, Pasal

gu

52 huruf a dan J dan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen juncto Pasal 4 dan Pasal 29 Undang-Undang Nomor

42 tahun 1999 tentang Jaminan Fiducia juncto Pasal 1338, Pasal 1446 dan

Pasal 1868 KUHPerdata juncto Pasal 189 ayat (3), Pasal 284, Pasal 311, Pasal
313, Pasal 314 RBg juncto Pasal 50 Rv juncto Pasal 6 ayat (5) Peraturan

ub
lik

ah

Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2006 dan peraturan perundang-undangan


lain yang bersangkutan;

1.

Mengabulkan permohonan keberatan sebagian;

2.

Membatalkan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

ep

ah
k

am

MENGADILI :

2014;
3.

In
do
ne
si

Kota Bukittinggi Nomor 01/PTS-BPSK/BKT/III/2014 tanggal 10 Maret

Menyatakan Perjanjian Pembiayaan Nomor 062812200953 tanggal

A
gu
ng

27 November 2012 adalah sah dan mengikat Pemohon dan


Termohon berikut dengan segala akibat hukumnya;

4.

Menyatakan

Sertifikat

Jaminan

Fiducia

Nomor

W3.5400.AH.05.01.TH.2013 tanggal 31 Januari 2013 yang diterbitkan


oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

5.

Menyatakan Termohon melakukan wanprestasi;

6.

Menolak permohonan keberatan selain dan selebihnya;

7.

Memerintahkan Pemohon membayar biaya perkara yang sampai hari

lik

ah

Kantor Wilayah Sumatera Barat adalah sah;

ub

ini ditetapkan sejumlah Rp 251.000,- (terbilang dua ratus lima puluh

satu ribu rupiah).

ep

Demikian diputuskan dalam sidang permusyawaratan Majelis Hakim


Pengadilan Negeri Bukittinggi, pada hari Rabu tanggal 21 Mei 2014, oleh kami

Afrina, SH, KN., masing-masing sebagai Hakim Anggota yang ditunjuk

on
In
d

gu

ng

berdasarkan Surat Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Bukittinggi Nomor 2/

es

Ahmad Taufik, SH., selaku Hakim Ketua, Dini Damayanti, SH., dan Rozza El

ka

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

ah

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Halaman 28

ep
u

hk
am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

In
do
ne
si
a

putusan.mahkamahagung.go.id

Pdt.G/BPSK/2014/PN-BT tanggal 21 Maret 2014, putusan tersebut diucapkan


pada hari Senin tanggal 26 Mei 2014 dalam persidangan terbuka untuk umum

ng

oleh Ahmad Taufik, SH., selaku Hakim Ketua dengan dihadiri oleh Dini
Damayanti, SH., dan Juandra, SH., masing-masing Hakim Anggota, Martin,

gu

Panitera Pengganti dan kuasa Pemohon akan tetapi tidak dihadiri oleh pihak
Termohon maupun kuasanya.

Hakim Ketua Majelis,

Ttd.//

Ttd.//

ub
lik

ah

Hakim Anggota,

Dini Damayanti, SH.,

Ahmad Taufik, SH.,

am

Ttd.//
Juandra, SH.,

ah
k

ep

Panitera Pengganti,

In
do
ne
si

Martin

A
gu
ng

Ttd.//

es
on

ng

ah

ep

ka

ub

lik

ah

Rincian biaya :
1. Biaya Pendaftaran
Rp
30.000,2. Biaya Proses
Rp
75.000,3. Biaya Panggilan
Rp 135.000,4. Materai
Rp
6.000,5. Redaksi
Rp
5.000,Jumlah
Rp 251.000,(terbilang dua ratus delapan lima puluh satu ribu rupiah).

In
d

gu

Halaman 29 dari 29 Putusan Nomor 2/Pdt/G/BPSK/2014/PN.BT

ik

Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id
Telp : 021-384 3348 (ext.318)

Halaman 29