Anda di halaman 1dari 32

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua
Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat
majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit,
agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam
masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang
lain.
Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan
masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk
menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala
gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik
Indonesia.
Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan.
Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa,
warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dan keutuhan Negara Kesatuan Rebublik
Indonesia itu juga dipengaruhi oleh ketahanan nasional yang dimiliki Negara tersebut.
Adapun unsur atau gatra delapan dalam ketahanan nasional adalah penduduk, sumber daya
alam, wilayah, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan Astagatra?
2. Ada berapa unsur-unsur gatra dalam ketahanan nasional?

3. Apa itu perdamaian dunia dan Bagaimana strategi Indonesia dalam usaha mencapai
perdamaian dunia?

1.3 Tujuan
Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Astagatra
2. Untuk mengetahui unsur-unsur gatra dalam ketahanan nasional
3. Untuk mengetahui arti dari perdamaian dunia dan strategi Indonesia dalam usaha mencapai
perdamaian dunia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia


Unsur-unsur kekuatan nasional di Indonesia diistilahakan dengan gatra dalam ketahanan
nasional Indonesia. Sedangkan unsur-unsur kekuatan nasional Indonesia dikenal dengan nama
Astagatra yang terdiri atas Trigatra dan Pancagatra.
1) Trigatra adalah aspek alamiah yang terdiri atas penduduk, sumber daya alam, dan wilayah.
2) Pancagatra adalah aspek sosial yang terdiri atas ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
dan pertahanan keamanan.
Unsur-unsur tersebut dianggap mempengaruhi negara dalam hal mengembangkan kekuatan
nasionalnya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang bersangkutan.
Dalam praktiknya kondisi ketahanan nasional dapat kita ketahui melalui pengamatan atas
delapan gatra yang sudah disebutkan diatas. Sedangkan lemah/menurunnya tingkat ketahanan
nasional akan menurunkan kemampuan bangsa dalam menghadapi ancaman kekuatan yang
terjadi.
2.2 Penjelasan Atas Tiap Gatra dalam ketahanan Nasional
2.2.1

Gatra Penduduk
Penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan nasional negara yang

a.

bersangkutan. Faktor yang bersangkutan dengan penduduk negara meliputi dua hal berikut:
Aspek kualitas mencakup tingkat pendidikan, ketrampilan, etos kerja, dan kepribadian.

b. Aspek kuantitas yang mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan, dan
perimbangan penduduk di tiap wilayah.
2.2.2

Gatra Wilayah
Wilayah turut pula menentukan kekuatan nasional Negara. Adapun hal yang terkait dengan

wilayah Negara meliputi:


a. Bentuk wilayah Negara dapat berupa Negara pantai, Negara kepulauan, dan Negara kontinental.
b. Luas wilayah Negara; ada Negara dengan wilayah luas dan Negara dengan wilayah sempit
(kecil).
c. Posisi geografis, astronomis, dan geologis Negara.
d. Daya dukung wilayah Negara; ada wilayah yang habitable dan ada wilayah yang unhabitable.
2.2.3

a.

Gatra Sumber Daya Nasional


Hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai elemen ketahanan
nasional, meliputi:
Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencakup sumber daya alam hewani,

nabati, dan tambang.


b. Kemauan mengeksplorasi sumber daya alam.
c. Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan dan lingkungan hidup.
d. Kontrol atas sumber daya alam.
2.2.4

Gatra di Bidang Ideologi


Ideologi mendukung ketahanan suatu bangsa oleh karena ideologi bagi suatu bangsa

memiliki dua fungsi pokok, yaitu:


a. Sebagai tujuan atau cita-cita dari kelompok masyarakat yang bersangkutan, artinya nilai-nilai
yang terkandung dalam ideologi itu menjadi cita-cita yang hendak dituju.
b. Sebagai sarana pemersatu dari masyarakat yang bersangkutan, atinya masyarakat yang banyak
dan beragam itu bersedia menjadikan ideologi sebagai milik bersama dan menjadikannya
bersatu.
2.2.5

a.
b.
c.
d.
2.2.6

Gatra di Bidang Politik


Politik penyelengaraan bernegara sangat memengaruhi kekuatan nasional suatu Negara.
Penyelenggaraan bernegara dapat ditinjau dari beberapa aspek, seperti :
Sistem politik yang dipakai yaitu apakah sistem demokrasi atau non demokrasi.
Sistem pemerintahan yang dijalankan apakah sistem presidensil atau parlementer.
Bentuk pemerintahan yang dipilih apakah republik atau kerajaan.
Susunan Negara yang dibentuk apakah sebagai Negara kesatuan atau Negara serikat.
Gatra di Bidang Ekonomi

Ekonomi yang dijalankan oleh suatu Negara merupakan kekuatan nasional Negara yang
bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang ekonomi berperan langsung dalam
upaya pemberian dan distribusi kebutuhan warga Negara.
2.2.7

Gatra di Bidang Sosial Budaya


Unsur budaya di masyarakat juga menentukan kekuatan nasional suatu Negara. Hal-hal
yang dialami sebuah bangsa yang homogen tentu saja akan berbeda dengan yang dihadapi
bangsa yang heterogen (plural) dari segi sosial budaya masyarakatnya.

2.2.8

Gatra di Bidang Pertahanan Keamanan


Pertahanan keamanan suatu Negara merupakan unsur pokok terutama dalam mengahadapi
ancaman militer Negara lain. Oleh karena itu, unsur utama pertahanan keamanan berada di
tangan tentara (militer). Pertahanan keamanan Negara juga merupakan salah satu fungsi
pemerintahan Negara.

2.3 perdamaian dunia dan Bagaimana strategi Indonesia dalam usaha mencapai perdamaian
dunia
Perdamaian dalam pengertian negatifnya adalah suatu kondisi tidak
adanya peperangan, konflik kekerasan, ketegangan dan huru-hara kerusuhan
berskala besar, sistematis serta kolektif. Namun demikian, berlanjutnya
tindak kekerasan seperti terorisme, diskriminasi dan penindasan terhadap
minoritas dan kaum wanita serta anak-anak, kekerasan struktural oleh
sebab-sebab kemiskinan dan pengangguran, intoleransi agama, dan rasisme
serta sentimen kesukuan, bisa dikatakan merupakan keadaan tidak adanya
situasi

damai

bagi

mereka

yang

menjadi

korban.

Oleh

karena

itu,

perdamaian harus dirumuskan pula secara lebih positif, tidak hanya dengan
meniadakan peperangan dan konflik bersenjata berskala besar, melainkan
juga memberantas berbagai tindak kekerasan, ketidakadilan, kriminalitas,
penindasan dan eksploitasi manusia oleh manusia lainnya yang lebih kuat
serta berkuasa.
Cita-cita perdamaian mungkin sudah berumur sama dengan usia
manusia itu sendiri. Namun demikian, kegagalan-kegagalan menciptakan
perdamaian juga sama usianya dengan cita-cita damai sepanjang zaman.
Hal itu menyebabkan berbagai konsekuensi, antara lain pesimisme bahwa

perdamaian abadi dianggap merupakan sebuah utopia belaka, mengingat


kenyataan bahwa kodrat manusia yang ditakdirkan heterogen dalam cita-cita
kelompok, keyakinan, serta kepentingan sosial politik, sudah mengandung
implikasi bahwa potensi konflik adalah sebuah keniscayaan di muka bumi ini.
Kalau demikian halnya, mengapa manusia modern di awal millennium ke-3
ini, masih terus mencoba tidak kehabisan akal untuk mencari cara dalam
mengupayakan terciptanya perdamaian bagi diri, keluarga, kelompok,
bangsa, serta perdamaian global? Salah satu jawabannya adalah bahwa
selain kodrat manusia yang berbeda-beda dan bertentangan berdasarkan
suku, bangsa, ras, agama, dan perbedaan kelompok-kelompok secara
primordial maupun pertentangan kepentingan politik dan ideologi, maka
merupakan kodrat/naluri (instinct) manusia pula untuk mempertahankan
jenisnya

agar

tidak

mengalami

kemusnahan

total

oleh

saling

menghancurkan dan memusnahkan. Itulah sebabnya, dalam sejarah, setelah


peperangan demi peperangan, kekerasan demi kekerasan dilakukan oleh
sesama

manusia,

maka

manusia

secara

akumulatif

selalu

berusaha

menciptakan mekanisme-mekanisme untuk mewujudkan pemulihan keadaan


damai.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan oleh Negara Indonesia dalam
menciptakan sebuah perdamaian Negara adalah:
1) Menghargai Keberagaman
Indonesia yang terdiri dari berbagai unsur dan bermacam-macam
kelompok, hanya akan terpelihara eksistensinya, apabila ada kerelaan untuk
saling menerima keberagaman dari setiap komponen bangsa terhadap
komponen atau kelompok lainnya. Setiap warga negara mesti menyadari,
tidak mungkin kedamaian dibangun secara hakiki, apabila suatu kelompok
agama tertentu menganggap dirinya adalah kelompok agama yang lebih
istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. Salah satu potensi besar dalam
menyumbang terhadap perdamaian adalah dengan kembali kepada ajaranajaran pokok setiap agama, karena mayoritas sangat besar dari bangsa

Indonesia adalah umat beragama. Agama melalui para pemeluknya harus


belajar meninggalkan sikap memutlakkan ajaran agama (absolutisme
agama) sendiri sebagai satu-satunya kebenaran yang ada di dunia, dan
sebaliknya dapat berbagi ruang hidup secara lapang dada dengan menerima
keanekaragaman agama-agama (pluralisme agama) di Indonesia.
2) Dialog Perdamaian
Dalam dialog perdamaian ini, sekali lagi harapan dibebankan kepada
para pemeluk-pemeluk agama. Hal ini didasarkan oleh kenyataan, bahwa
sudah begitu banyak kekejaman dan kekerasan yang dilakukan oleh manusia
terhadap manusia lainnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, justru
dengan justifikasi yang berasal atas ajaran agama-agama tertentu. Apalagi
agamalah tampaknya yang paling sering menjadi alat politik untuk
membenarkan kelompok sendiri, serta menyalahkan kelompok lainnya.
Padahal, setiap orang beragama umumnya sepakat, bahwa pesan inti agama
adalah memelihara kehidupan damai serta saling mengasihi antar sesama
manusia. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya dari pesan-pesan pokok
setiap agama, tentulah telah terjadi kesalah pahaman antar pemeluk agama.
Untuk itulah dialog perdamaian antar agama perlu dilakukan secara terusmenerus. Momentum dialog antar agama mulai dirasakan keperluannya dan
kemungkinan-kemungkinan keberhasilannya di zaman modern ini, setelah
para uskup agama Katolik seluruh dunia menyelenggarakan Konsili Vatikan II,
tahun 1964. Pada waktu itu antara lain dibahas agar soal umat Katolik
menjalin dialog dengan pemeluk agama dan berbagai kebudayaan lain yang
ada di dunia ini. Inisiatif dialog ini kemudian disambut dengan baik oleh
kalangan Islam. Dewasa ini sudah cukup banyak organisasi dan forum-forum
dialog agama-agama internasional, tidak hanya antara Islam dan Kristen,
melainkan juga antara Kristen dengan Yahudi, Kristen dengan Hindu, juga
yang bersifat multilateral antara berbagai agama. Hal ini kalau dilakukan
secara terus-menerus dengan semangat saling menghargai serta sikap yang
dilandasi ketulusan dan kejujuran, diharapkan besar kemungkinan akan
memberikan sumbangan berarti bagi Perdamaian.

3) Menegakkan Kebenaran dan Keadilan


Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam proses awal menciptakan
perdamaian

yang

hakiki

adalah

dengan

upaya

melakukan

upaya

pengungkapan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM yang


terjadi di masa lalu. Tidak akan mungkin tercipta perdamaian yang hakiki
dengan tindakan menutup-nutupi atau menyembunyikan berbagai tindakan
kekerasan terhadap HAM di masa lalu, dan melepaskan para pelaku
penyalahgunaan kekuasaan politik atas nama Negara terhadap masyarakat
yang lemah yang seharusnya dilindungi oleh negara.
4) Melalui Pendekatan Cultural (Budaya)
Untuk mewujudkan perdamaian kita harus mengetahui budaya tiap-tiap
masyarakat ataupun sebuah Negara. Jika tidak, maka akan percuma saja
segala upaya kita. Dengan mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat atau
sebuah Negara maka kita bisa memahami karakteristik dari masyarakat atau
Negara tersebut. Atas dasar budaya dan karakteristik masyarakat atau suatu
Negara, kita bisa mengambil langkah-langkah yang tepat dan efektif dalam
mewujudkan perdamaian disana. Dan pendekatan budaya ini merupakan
cara yang paling efektif dalam mewujudkan perdamaian di masyarakat
Indonesia serta dunia.
5) Melalui Pendekatan Sosial dan Ekonomi
Dalam hal ini pendekatan sosial dan ekonomi yang terkait masalah
kesejahteraan dan faktor-faktor sosial di masyarakat yang turut berpengaruh
terhadap upaya perwujudan perdamaian dunia. Ketika masyarakatnya
kurang sejahtera tentu saja lebih rawan konflik dan kekerasan di dalamnya.
Masyarakat atau Negara yang kurang sejahtera biasanya akan cuek atas
isu dan seruan perdamaian. Boro-boro mikirin perdamaian dunia, buat
makan untuk hidup sehari-hari saja susahnya minta ampun, begitu fikir
mereka yang kurang sejahtera. Maka untuk mendukung upaya perwujudan
perdamaian

dunia

yang

harus

dilakukan

terlebih

dahulu

adalah

meningkatkan pemerataan kesejahteraan seluruh masyarakat dan Negara di


dunia ini.
6) Melalui Pendekatan Politik
Melalui pendekatan budaya dan sosial ekonomi saja belum cukup efektif
untuk mewujudkan perdamaian dunia. Perlu adanya campur tangan politik,
dalam artian ada agenda politik yang menekankan dan menyerukan
terwujudnya perdamaian dunia. Terlebih lagi bagi Negara-negara maju dan
adidaya yang memiliki power atau pengaruh dimata dunia. Negara-negara
maju pada saat-saat tertentu harus berani menggunakan power-nya untuk
melakukan sedikit penekanan pada Negara-negara yang saling berkonflik
agar bersedia berdamai kembali. Bukan justru membuat situasi semakin
panas, dengan niatan agar persenjataan mereka terus dibeli.
7) Melalui Pendekatan Religius (Agama)
Pada hakikatnya seluruh umat beragama di dunia ini pasti menginginkan
adanya perdamaian. Sebab tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan,
kekerasan ataupun peperangan. Semua Negara mengajarkan kebaikan, yang
diantaranaya kepedulian dan perdamaian. Maka dari itu setiap kita yang
mengaku beragama dan ber-Tuhan tentu harus memiliki kepedulian dalam
turut serta mewujudkan perdamaian di masyarakat maupun di kancah dunia.
Para tokoh agama yang dianggap memiliki kharisma dan pengaruh besar di
masyarakat harus ikut serta aktif menyerukan perdamaian.

BAB III
KESIMPULAN

Untuk mencapai ketahanan nasional menurut Indonesia diperlukan


beberapa gatra delapan, yaitu:
1) Gatra Penduduk
2) Gatra Sumber Daya Alam

3)
4)
5)
6)
7)
8)

Gatra Wilayah
Gatra Ideologi
Gatra Politik
Gatra Ekonomi
Gatra Sosial Budaya
Gatra Pertahanan Keamanan
Dari delapan Gatra tersebut kita juga bisa mengetahui seberapa kuat
ketahanan yang dimiliki Negara kita, dan kita bisa menilai serta
membandingkan ketahanan Negara kita dengan Negara lain.
Dengan adanya ketahanan nasional di Negara kita, maka perdamaianpun akan mudah
diciptakan dalam lingkup hidup bermasyarakat dalam satu Negara. Selama masyarakat kita
bersifat terbuka dan bisa menerima perbedaan agama maupun budaya.
Pada dasarnya pencipta perdamaian adalah tokoh yang mengatasi kekerasan dan konflik
yang dihadapi melalui kepemimpinan dan visi untuk mencapai perdamaian.

DAFTAR PUSTAKA

Satriya, Bambang. 2009. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan di Perguuan Tinggi.


Nirmana Media: Jakarta
www.indo-media.com. 4 september 2011
http://id.wikipedia.org/wiki/Perdamaian
file:///H:/Mewujudkan%20Perdamaian%20Dunia.htm
. Aspek Trigatra yang Merupakan Aspek Alamiah
1. Posisi dan lokasi geografi negara
2. Keadaan dan kekayaan alam
3. Keadaan dan kemampuan penduduk
B. Aspek Pancagatra yang merupakan aspek sosial kemasyarakatan /
Ipoleksosbudhankam
1. Ideologi
2. Politik
3. Ekonomi
4. Sosial Budaya / Sosbud
5. Pertahanan Keamanan / Hankam
C. Aspek Astagatra / Antargatra

Merupakan gabungan dari aspek trigatra dan pancagatra / ipoleksosbudhankam di


mana antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat timbal balik dengan
hubungan yang erat / korelasi yang saling ketergantungan / interdependensi.

ASTAGATRA DALAM BIDANG EKONOMI

1.

Pengertian Astagatra
Hakekat ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa
untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara.
Konsepsi dasar ketahanan nasional adalah Model AstaGatra yang merupakan
perangkat hubungan bidang kehidupan manusia dan budaya yang berlangsung di atas
bumi ini dengan memanfaatkan segala kekayaan alam yang dapat dicapai
menggunakan kemampuannya. Model ini menyimpulkan adanya 8 unsur aspek
kehidupan nasional :
Trigatra kehidupan alamiah
Gatra letak dan kedudukan geografi
Gatra keadaan dan kekayaan alam
Gatra keadaan dan kemampuan penduduk
Panca gatra kehidupan sosial
Gatra ideologi
Gatra politik
Gatra ekonomi
Gatra sosial budaya
Gatra pertahanan keamanan
Tri Gatra merupakan komponen strategi trigatra yaitu gatra geografi,
sumber kekayaan alam dan penduduk. sedangkan Panca Gatra merupakan gatra
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Antara Trigatra
dan Pancagatra itu terdapat hubungan timbal balik yang erat dinamakan hubungan

(korelasi)

dan

ketergantungan

(interdependensi).

Trigatra

dan

Pancagatra

merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh yang dinamakan ASTAGATRA.

2. Astagatra bidang Ekonomi


Bidang ekonomi merupakan suatu bidang kegiatan manusia dalam rangka
mencukup kebutuhannya disamping alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Hal
tersebut dalam ilmu ekonomi menyangkut berbagai bidang antara lain permintaan,
penawaran, produksi, distribusi barang dan jasa. Bidang ekonomi tidak bias
dilepaskan dengan faktor-faktor lainnya yang saling berkaitan perekonomian selain
berkaitan dengan wilayah geografi suatu Negara, juga sumber kekayaan alam,
sumber daya manusia, cita-cita masyarakat yang lazimnya disebut ideologi,
akumulasi kekuatan, kekuasaan, serta kebijaksanaan yang akan diterapkan dalam
kegiatan distribusi dan produksi, nilai sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan
yang memberikan jaminan lancarnya roda kegiatan ekonomi suatu bangsa.
Ekonomi yang dijalankan oleh suatu Negara merupakan kekuatan nasional
Negara yang bersangkutan terlebih di era global yang sekarang ini. Bidang ekonomi
berperan langsung dalam upaya pemberian dan distribusi kebutuhan warga Negara.
Kemajuan pesat dibidang ekonomi tentu saja menjadikan Negara yang bersangkutan
tumbuh sebagai kekuatan dunia. Contoh jepang dan cina.
Setiap Negara memiliki sistem ekonomi dalam rangka mendukung kekuatan
ekonomi bangsanya. sistem ekonomi secara garis besar di kelompokkan menjadi dua
macam yaitu sistem ekonomi liberal dan sistem ekonomi sosialis. Suatu Negara
dapat pula mengembangkan sistem ekonomi yang dianggap sebagai cerminan dari
nilai dan ideologi bangsa yang bersangkutan. Contoh, bangsa Indonesia menyatakan
sistem ekonomi pancasila yang bercorak kekeluargaan.

a. Ketahanan Pada Aspek Ekonomi

Ketahanan ekonomi adalah merupakan suatu kondisi dinamis kehidupan perekonomian


bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, kekeuatan nasional dalam menghadapi
serta mengatasi segala tantangan dan dinamika perekonomian baik yang datang dari
dalam maupun dari luar Negara indoneia, dan secara langsung maupun tidak langsung
menjamin kelangsungan dan peningkatan perekonomian bangsa dan Negara republik
Indonesia yang telah diatur berdasarkan UUD 1945.
Pencapaian tingkat ketahanan ekonomi yang diinginkan memerlukan pembinaan
berbagai hal, yaitu antara lain:
1)

Sistem ekonomi Indonesia diarahkan untuk dapat mewujudkan kemekmuran dan


kesejahteraan yang adil dan merata diseluruh wilayah Negara Indonesia, melalui
ekonomi kerakyatan serta menjamin kesinambungan pembangunan nasional dan
kelangsungan hidup bangsa dan Negara yang berdasarkan UUD 1945.

2) Ekonomi kerakyatan harus menghindarkan diri dari:


a. Sistem free fight liberalism yang hanya menguntungkan pelaku ekonomi yang
bermodal tinggi dan tidak memungkinkan berkembangnya ekonomi kerakyatan.
b. Sistem etatisme, dalam arti Negara beserta aparatur ekonomi Negara bersifat
dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi
diluar sektor Negara.
c. Pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang
merugikan masyarakat dan bertentangan dengan cita-cita keadilan sosial.
3) Struktur ekonomi dimantapkan secara seimbang dan saling menguntungkan dalam
keselarasan dan keterpaduan antara sektor pertanian perindustrian serta jasa.
4) Pembangunan ekonomi, yang merupakan usaha bersama atas dasar asas kekeluargaan
dibawah pengawasan anggota masyarakat, memotivasi dan mendorong peran serta
masyarakat secara aktif. Keterkaitan dan kemitraan antar para pelaku dalam wadah
kegiatan ekonomi, yaitu pemerintah, badan usaha milik Negara, koperasi badan

usaha

swasta,

dan

sektor

informal

harus

diusahakan

demi

mewujudkan

pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas ekonomi.


5) Pemerataan pembangunan dan pemanfaatan hasil-hasilnya senantiasa dilaksanakan
dengan memperhatikan keseimbangan dan keserasian pembangunan antar wilayah
dan antar sektor.
6)

Kemampuan bersaing harus di tumbuhkan secara sehat dan dinamis untuk


mempertahankan serta meningkatkan eksistensi dan kemandirian perekonomian
nasional. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya nasional secara
optimal serta sarana iptek yang tepat guna dalam menghadapi setiap permasalahan,
dan dengan tetap memperhatikan kesempatan kerja.
Ketahanan ekonomi yang hakikatnya merupakan suatu kondisi kehidupan
perekonomian bangsa berlandaskan UUD 1945 dan dasar filosofi pancasila, yang
menekankan keejahteraan bersama, dan mampu memelihara stabilitas ekonomi yang
sehat dan dinamis serta menciptakan kemandirian perekonomian nasional dengan
daya saing yang tinggi.
Sejumlah problematika tersebut di atas dapat diselesaikan dengan baik bila pemerintah (baca:
negara) menghadirkan pembangunan daerah yang berkeadilan dan merata di seluruh tanah air
dengan mengelola 8 aspek kehidupan atau Astagatra masyarakat secara baik dan terpadu.
Astagatra dimaksud terdiri dari Trigatra statis yaitu geografi, SKA, dan demografi; dan
Pancagatra dinamis terdiri dari aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya (termasuk hukum
& HAM dan Iptek), serta Pertahanan-Keamanan (Hankam).

Secara garis besar, tiap gatra atau aspek kehidupan masyarakat tidak bisa dikelola secara terpisah
tetapi harus komprehensif mengingat problem atau masalah yang muncul dalam satu gatra terkait
dengan gatra lainnya. Contoh, masalah paham dan gerakan fundamentalis-radikal yang
mengancam ideologi Pancasila ternyata berkaitan pula dengan lemahnya pengawasan wilayah
perbatasan (geografi), kurang pedulinya masyarakat, adanya problem pendidikan (sosial-budaya)
dan merupakan ancaman nyata bagi pertahanan-keamanan (Hankam).

Lainnya, desakan jumlah penduduk dan ketimpangan penyebarannya (demografi) berkaitan


dengan tingginya angka kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, merebaknya
penyakit sosial (ekonomi, sosbud), perusakan hutan dan penambangan liar yang menimbulkan
bencana alam, dan munculnya gangguan keamanan. Pendeknya, problem satu gatra bisa
berpengaruh pada gatra lainnya secara berantai maupun bersamaan. Begitu pun solusinya.

Kebijakan Strategis

Menurut hemat penulis, untuk menangani beragam masalah Ketahanan Nasional yang muncul
pada tiap gatra membutuhkan satu kebijakan strategis yang tepat. Kebijakan strategis adalah satu
kebijakan yang menjadi simpul utama untuk mengurai beragam persoalan dan menyediakan
jalan atau menjadi fasilitator bagi terlaksananya konsep solusi atas sebuah persoalan dengan
baik.

Kebijakan strategis dimaksud dalam konteks mewujudkan Ketahanan Nasional yang tangguh
adalah penguatan otonomi daerah secara proporsional dengan desentralisasi asimetris.

Penguatan otonomi daerah secara proporsional berarti otonomi daerah diletakkan dalam bingkai
untuk memperkuat pemerintahan nasional dan tercapainya Tujuan Nasional secara efektif.
Urusan yang menjadi kewenangan pusat seperti moneter, peradilan, hubungan luar negeri,
agama, dan pertahanan-keamanan, efektifitasnya tidak boleh terganggu oleh penerapan kebijakan
otonomi daerah. Bahkan, sebaliknya, penerapan otonomi daerah harus memperkuat efektifitas
urusan pemerintah pusat tersebut.

Sementara desentralisasi asimetris adalah penerapan kebijakan desentralisasi yang tidak seragam
antara satu daerah dengan daerah lain. Penerapannya disesuaikan dengan karakterisrik potensi
masing-masing daerah, baik potensi peluang, hambatan, ancaman, dan tantangannya. Jumlah
urusan atau kewenangan yang didesentralisasikan antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa
berbeda sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerah. Di Indonesia, kebijakan desentralisasi

asimetris baru terlaksana secara terbatas dalam wujud Otsus Papua, Otsus Aceh, dan Otsus DKI
Jakarta.

Otonomi daerah semacam tersebut di atas, yang dapat mempercepat pemerataan pembangunan
daerah yang berkeadilan, dan menyejahterakan masyarakat daerah sehingga mereka bangga
menjadi bangsa Indonesia. Pada saat itulah, Pemerintah (Pusat) memiliki mitra yang kuat di
daerah dalam membangun Ketahanan Nasional yang tangguh.

KETAHANAN NASIONAL SEBAGAI GEOSTRATEGI INDONESIA


Setiap bangsa dalam mempertahankan eksistensi dan mewujudkan cita-citanya perlu
memiliki pemahaman mengenai geopolitik dan geostrategi. Geopolitik bangsa Indonesia
diterjemahkan dalam konsep Wawasan Nusantara, sedangkan geostrategi bangsa Indonesia
dirumuskan dalam konsep Ketahanan Nasional.
Sesuai dengan bagan paradigma ketatanegaraan Negara Republik Indonesia, maka
Ketahanan Nasional (Tannas) merupakan salah satu konsepsi politik dari Negara Republik
Indonesia. Ketahanan Nasional dapat dikatakan sebagai konsep geostrateginya bangsa Indonesia.
Dengan kata lain, geostrategi bangsa Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional.
Geostrategi adalah suatu cara atau pendekatan dalam memanfaatkan kondisi lingkungan
untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan Nasional. Ketahanan Nasional sebagai
geostrategi bangsa Indonesia memiliki pengertian bahwa konsep ketahanan Nasional merupakan
pendekatan yang digunakan bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan dalam rangka
mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya. Ketahanan nasional sebagai suatu pendekatan
merupakan salah satu pengertian dari konsepsi ketahanan nasional itu sendiri.
PENGERTIAN
Ketahanan Nasional merupakan kondisi dinamis suatu bangsa berisi keuletan dan
ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional didalam
menghadapi dan mengatasi ATHG baik langsung, tidak langsung dari dalam maupun dari luar
yang membahayakan, Integrasi, idenditas kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta
perjuangan mengejar tujuan Negara.
Secara skematis, rumusan konseptual ketahanan nasional dapat digambarkan sebagai
berikut.

Skema Konsepsi Ketahanan Nasional

Dari sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep ketahanan nasional Indonesia
berawal dari konsep ketahanan nasional yang dikebangkan oleh kalangan militer. Pemikiran
konseptual ketahanan nasional ini mulai menjadi doktrin dasar nasional setelah dimasukan ke
dalam GBHN.

1.

1.
a.
b.
2.
a.
b.
3.

4.
a.
b.
c.
5.

UNSUR-UNSUR KETAHANAN NASIONAL


Gatra dalam Ketahanan Nasional
Unsur, elemen atau faktor yang mempengaruhi kekuatan/ketahanan nasional suatu
Negara terdiri atas beberapa aspek. Para ahli memberikan pendapatnya mengenai unsur-unsur
kekuatan nasional suatu Negara.
Unsur kekuatan nasional menurut Hans J. Morgenthou
Unsur ketahanan nasional negara terbagi menjadi beberapa faktor, yaitu
Faktor tetap (stable factors) terdiri atas geografi dan sumber daya alam;
Faktor berubah (dynamic factors) terdiri atas kemampuan industri, militer, demografi, karakter
nasional, modal nasional, moral nasional, dan kualitas diplomasi.
Unsur kekuatan nasional menurut James Lee Ray
Unsur kekuatan nasional negara terbagi menjadi dua faktor, yaitu
Tangible factors terdiri atas penduduk, kemampuan industry, dan militer.
Intangible factors terdiri atas karakter nasional, moral nasional, dan kualitaS kepemimpinan.
Unsur kekuatan nasional menurut Palmer & Perkins
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas tanah, sumberdaya, penduduk, teknologi, idiologi,
moral, dan kepemimpinan.
Unsur kekuatan nasional menurut Parakhas Chandra
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas tiga, yaitu
Alamiah terdiri atas geografi, sumberdaya, dan penduduk;
Sosial terdiri atas perkembangan ekonomi, struktur politik, budaya dan moral nasional;
Lain-lain: ide, inteligensi, dan diplomasi, kebijakan kepemimpinan.
Unsur kekuatan nasional menurut Alfred T. Mahan

6.

7.

a.
b.

Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas letak geografi, wujud bumi, luas wilayah, jumlah
penduduk, watak nasional, dan sifat pemerintahan.
Unsur kekuatan nasional menurut Cline
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas sinergi antara potensi demografi dan geografi,
kemampuan ekonomi, militer, strategi nasional, dan kemauan nasional.
Unsur kekuatan nasional model Indonesia
Unsur-unsur kekuatan nasional di Indonesia diistilahkan dengan gatra dalam ketahanan nasional
Indonesia. Pemikiran tentang gatra dalam ketahanan nasional dirumuskan dan dikembangkan
oleh Lemhanas. Unsur-unsur kekuatan nasional Indonesia dikenal dengan nama Astagatra yang
terdiri atas Trigatra dan Pancagatra.
Trigatra adalah aspek alamiah (tangible) yang terdiri atas penduduk, sumber daya alam, dan
wilayah.
Pancagatra adalah aspek social (intangible) yang terdiri atas idiologi, politik, ekonomi, sosial
budaya dan pertahanan keamanan.
Bila dibandingkan perumusan unsur-unsur kekuatan nasional/ketahanan nasional di atas,
pada hakikatnya dapat dilihat adanya persamaan. Unsur-unsur demikian dianggap mempengaruhi
Negara dalam mengembangkan kekuatan nasionalnya untuk menjamin kelangsungan hidup
bangsa dan negara yang bersangkutan. Pertanyaan dasarnya adalah dalam kondisi apa atau
bagaimana unsur-unsur tersebut dapat dikatakan mendukung kekuatan nasional suatu negara.
Bila mana suatu unsur justru dapat melemahkan kekuatan nasional suatu negara?
Pertanyaan demikian dapat diperinci dan diperjelas. Misalnya, penduduk yang
bagaimanakah yang mampu mendukung kekuatan nasional suatu negara, wilayah atau geografi
yang seperti apa dapat mengembangkan kekuatan sebuah bangsa, dan seterusnya. Jawaban
eksploratif atas pertanyaan tersebut sampai pada kesimpulan bahwa pada hakikatnya ketahanan
nasional adalah sebuah kondisi atau keadaan.
Dalam praktiknya kondisi ketahanan nasional dapat diketahui melalui pengamatan atas
sejumlah gatra dalam suatu kurun waktu tertentu. Hasil pengamatan yang mendalam itu akan
menggambarkan tingkat ketahanan nasional. Apakah ketahanan nasional Indonesia
kuat/meningkat atau lemah/menurun. Lemah atau turunnya tingkat ketahanan nasional akan
menurun kemampuan bangsa dalam menghadapi ancaman yang terjadi. Apakah pengamatan
tersebut kita lakukan pada sejumlah gatra yang ada pada tingkat wilayah atau regional maka akan
menghasilkan kondisi ketahanan regional.

2. Penjelasan Atas Tiap Gatra dalam Ketahanan Nasional


a. Unsur atau Gatra Penduduk
Penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan nasional negara yang
bersangkutan, faktor yang berkaitan dengan penduduk negara meliputi dua hal berikut.
1) Aspek kualitas mencakup tingkat pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan kepribadian.
2) Aspek kualitas yang mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran; perataan dan
perimbangan penduduk di tiap wilayah negara. Terkait dengan unsur penduduk adalah faktor
moral nasional dan karakter nasional. Moral nasional menunjukan pada dukungan rakyat secara

penuh terhadap negaranya kita menghadapi ancaman. Karakter nasional menunjukan pada ciriciri khusus yang dimiliki suatu bangsa sehingga bias dibedakan dengan bangsa lain. Moral dan
karakter nasional mempengaruhi ketahanan suatu bangsa.
b. Unsur atau Gatra Wilayah
Wilayah turut pula menentukan kekuatan nasional negara. Hal yang terkait dengan
wilayah negara meliputi:
1) Bentuk wilayah negara dapat berupa negara pantai, negara kepulawan atau negara kontinental;
2) Luas wilayah negara; ada negara dengan wilayah yang luas dan negara dengan wilayah yang
sempit (kecil);
3) Posisi geografis, astronomi dan geologis negara;
4) Daya dukung wilayah negara; ada wilayah yang habitable dan ada wilayah yang unhabitable.
Dalam kaitannya dengan wilayah negara, pada masa sekarang ini perlu dipertimbangkan
adanya kemajuan teknologi, kemajuan informasi dan komunikasi. Suatu wilayah yang pada
awalnya sama sekali tidak mendukung kekuatan nasional, karena penggunaan teknologi maka
wilayah itu kemudian menjadi unsur kekuatan nasional negara. Misalnya, wilayah kering dibuat
saluran atau sungai buatan.
c. Unsur atau Gatra Sumber Daya Alam
Hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai elemen ketahanan
nasional, meliputi:
1) Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencakup sumber daya alam hewani,
nabati dan tambang;
2) Kemampuan mengeksplorasi sumber daya alam;
3) Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan dan lingkungan hidup;
4) Kontrol sumber daya alam.
Dewasa ini, kemampuan melakukan kontrol atas sumber daya alam menjadi semakin
penting bagi ketahanan nasional dan kemajuan suatu negara. Banyak negara yang kaya akan
sumber daya alam seperti minyak di negara-negara Afrika, tetapi negara tersebut tetaplah miskin.
Negara-negara berkembang belum mampu melakukan kontrol atas sumber daya alam yang
berasal dari miliknya. Justru negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam seperti
Singapura dan Jepang bias maju oleh karena mampu melakukan kendali atas jalur perdagangan
sumber daya alam dunia.
d. Unsur atau gatra di Bidang Idiologi
Idiologi adalah seperangkat gagasan, ide, cita dari sebuah masyarakat tentang kebaikan
bersama yang dirumuskan dalam bentuk tujuan yang harus dicapai dan cara-cara yang digunakan
untuk mencapai tujuan itu. (Ramlan Surbakti, 1999) Idiologi itu berisikan serangkaian nilai
(norma) atau sistem dasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang
oleh suatu masyarakat atau bangsa sebagai wawasan atau pandangan hidup mereka. Nilai yang
terkandung didalam idiologi tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai nilai yang baik, adil dan
benar sehingga berkeinginan untuk melaksanakan segala tindakan berdsarkan nilai tersebut.

1.
2.

e.

1)
2)
3)
4)

f.

g.

Idiologi mengandung ketahanan suatu bangsa oleh karena idiologi bagi suatu bangsa
memiliki dua fungsi pokok, yaitu
Sebagai tujuan atau cinta-cinta dari kelompok masyarakat yang bersangkutan, artinya nilai-nilai
yang terkandung dalam idiologi itu menjadi cita-cita yang hendak dituju secara bersama;
Sebagai sarana pemersatu dari masyarakat yang bersangkutan, artinya masyarakat yang banyak
dan beragam itu bersedia menjadikan idiologi sebagai milik bersama dan menjadikannya bersatu.
Sejarah dunia telah membuktikan bahwa idiologi dapat digunakan sebagai unsur untuk
membangun kekuatan nasional negara. Bagi bangsa Indonesia, Pancasia telah ditetapkan sebagai
idiologi nasional melalui kesepakatan. Pancasila adalah kesempatan bangsa, rujuk bersama,
common denominator yang mampu memperkuat persatuan bangsa. Kesepakatan atas Pancasila
menjadikan segenap elemen bangsa bersedia bersatu di bawah negara Indonesia.
Unsur atau Gatra di Bidang Politik
Politik penyelenggaraan bernegara amat memengaruhi kekuatan nasional suatu negara.
Penyelenggara bernegara dapat ditinjau dari beberapa aspek, seperti
Sistem politik yang dipakai yaitu apakah sistem demokrasi atau nondemokrasi;
Sistem pemerintahan yang dijalankan apakah sistem presidensiil atau parlementer;
Bentuk pemerintah yang dipilih apakah republik atau kerajaan;
Suatu negara yang dibentuk apakah sebagai negara kesatuan atau negara serikat.
Pemilihan suatu bangsa atas politik penyelenggaraan bernegara tertentu saja tergantung
pada nilai-nilai dan aspirasi bangsa yang bersangkutan. Dalam realitasnya, sebuah bangsa bias
mengalami beberapa kali perubahan dan pergantian politik penyelenggaraan bernegara. Misalnya
negara Prancis dari bentuk kerajaan menjadi republik. Indonesia pernah mengalami pergantian
dari presidensiil ke parlementer dan pernah berubah dalam bentuk negara srikat.
Bangsa Indonesia sekarang ini telah berketetapan untuk mewujudkan negara Indonesia
yang bersusunan kesatuan, berbentuk republik dengan sistem pemerintahan presidensiil. Adapun
sistem politik yang dijalankan adalah sistem politik demokrasi (Pasal 1 ayat (2) UUD 1945).
Unsur atau Gatra di Bidang Ekonomi
Ekonomi yang dijalankan oleh suatu negara merupakan kekuatan nasional negara yang
bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang ekonomi berperan langsung dalam
upaya pemberian dan distribusi kebutuhan warga negara. Kemajuan pusat di bidang ekonomi
tertentu saja menjadikan negara yang bersangkutan tumbuh sebagai kesatuan dunia. Contoh,
Jepang dan Cina.
Setiap negara memiliki sistem ekonomi dalam rangka mendukung kekuatan ekonomi
bangsanya. Sistem ekonomi secara garis besar dikelompokan menjadi dua macam yaitu sistem
ekonomi liberal dan sistem ekonomi sosialis. Suatu negara dapat pula mengembangkan sistem
ekonomi yang dianggap sebagai cerminan dari nilai dan idiologi bangsa yang bersangkutan.
Contoh, bangsa Indonesia menyatakan sistem ekonomi Pancasila yang bercorak kekeluargaan.
Unsur atau Gatra di Bidang Sosial Budaya
Unsur budaya di masyarakat juga menentukan kekuatan nasional suatu negara. Hal-hal
yang dialami sebuah bangsa yang homogen tentu saja akan berbeda dengan yang dihadapi
bangsa yang heterogen (plural) dari segi sosial budaya nasyarakatnya. Contohnya, bangsa

Indonesia yang heterogen berbeda dengan bangsa Israel atau bangsa Jepang yang relatif
homogen.
Pengembangan integrasi nasional menjadi hal yang amat penting sehingga dapat
memperkuat kekuatan nasionalnya. Integrasi bangsa dapat dilakukan dengan 2 (dua) strategi
kebijakan, yaitu assimilationist policy dan bhinneka tunggal ika policy (Winarno, 2002).
Strategi pertama dengan cara penghapusan sifat-sifat cultural utama dari komunitas kecil yang
berbeda menjadi sebuah kebudayaan nasional. Strategi kedua dengan cara penciptaan kesetiaan
nasional tanpa menghapuskan kebudayaan lokal, Tidak dapat ditentukan strategi mana yang
paling benar. Negara dapat pula melakukan kombinasi dari keduanya. Kesalahan dalam strategi
dapat mengantarkan bangsa yang bersangkutan ke perpecahan bahkan perang saudara. Misal,
perpecahan etnis di Yugoslavia, pertentangan antara suku Huttu dan Tutsi di Rwanda, perang
saudara antara bangsa Sinhala dan Tamil di Sri Lanka.
h. Unsur atau Gatra di bidang Pertahanan Keamanan
Pertahanan keamanan suatu negara merupakan unsur pokok terutama dalam menghadapi
ancaman militer negara lain. Oleh karena itu, unsur utama pertahanan keamanan berada di
tangan tentara (militer). Pertahanan keamanan negara juga merupakan salah satu fungsi
pemerintahan negara.
Negara dapat melibatkan rahyatnya dalam upaya pertahanan negara sebagai bentuk dari
hak dan kewajiban warga negara dalam membela negara. Upaya melibatkan rakyat
menggunakan cara yang berbeda-beda sesuai dengan sistem dan politik pertahanan yang dianut
oleh negara. Politik pertahanan negara disesuaikan dengan nilai filosofis bangsa, kepentingan
nasional dan konteks zamannya.
Bangsa Indonesia dewasa ini menetapkan politik pertahanan sesuai dengan Undangundang Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pertahanan Negara. Pertahanan negara Indonesia bersifat
semesta dengan menempatkan tentara sebagai komponen utama pertahanan.
Ketahanan Nasional Indonesai dikelola berdasarkan unsur Astagrata yang meliputi unsurunsur (1) geografi, (2) kekayaan alam, (3) kependudukan, (4) idiologi, (5) politik, (6) ekonomi,
(7) sosial budaya, dan (8) pertahanan keamana. Unsur (1) geografi, (2) kekayaan alam, (3)
kependudukan disebut Trigatra. Unsur keamanan disebut Pancagatra.
Kebutuhan Nasional adalah suatu pengertian holistik, dimana terdapat saling hubungan
antara gatra dalam keseluruhan kehidupan nasional (Astagrata). Kualitas Pancasila dalam
kehidupan nasional Indonesai tersebut terintegrasi dan dalam integrasinya dengan Trigrata.
Keadaaan kedelapan unsur tersebut mencerminkan kondisi Ketahanan Nasional Indonesia,
apabila ketahanan nasional kita kuat atau lemah. Kelemahan disalahsatu gatra dapat
mengakibatkan kelemahan di gatra lain dan memengaruhi kondisi secara keseluruhan. Ketahanan
Nasional Indonesia bahkan merupakan suatu penjumlahan ketahanan segenap gatranya,
melainkan suatu hasil keterkaitan yang integrative dari kondisi dinamik kehidupan bangsa di
seluruh aspek kehidupan.
PEMBELAAN NEGARA

Terdapat hubungan antara ketahanan nasional suatu negara dengan pembelaan negara.
Kegiatan pembelaan negara pada dasarnya merupakan usaha dari warga negara untuk
mewujudkan ketahanan nasional.
Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah
kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada Tentara Nasional
Indonesia. Padahal berdsarkan Pasal 27 dan 30 UUD 1945, masalah bela negara dan pertahanan
negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara Republik Indonesai. Bela negara
adalah upaya setiap warga negara untuk mempertahankan Republik Indonesia terhadap ancaman,
baik dari luar maupun dalam negeri.
Dimasa demokrasi dan kebutahuan sekarang ini, tentu timbul pertanyaan apakah bela
negara masih relevan dan dibutuhkan? Seperti apakah pembelaan negara yang harus dilakukan
warga negara dewasa ini?
ASAS MAWAS KE DALAM DAN MAWAS KE LUAR
Sistem kehidupan nasional merupakan perpaduan segenap aspek kehidupan bangsa yang
saling berinteraksi. Di samping itu, sistem kehidupan nasional juga berinteraksi dengan
lingkunagan sekelilingnya. Dalam proses interaksi tersebut dapat timbul berbagai dampak, baik
yang bersifat positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan sikap mawas kedalam maupun ke
luar.
a. Mawas ke Dalam
Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan kondisi kehidupan nasional
itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang propesiaonal untuk meningkatkan kualitas
derajat kemandirian bangsa ulet dan tangguh. Hal ini tidak berarti bahwa Ketahanan Nasional
mengandung sikap isolasi atau nasionalisme sempit.
b. Mawas keluar
Mawas keluar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan berperan serta mengatasi dampak
lingkungan strategis luar negeri dan menerima kenyataan adanya interaksi dan ketergantungan
dengan dunia internasional. Kehidupan nasional harus mampu mengembangkan kekuatan
nasional untuk memberikan dampak ke luar dalam bentuk daya tangkal dan daya tawar. Interaksi
dengan pihak lain diutamakan dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.

ASAS KEKELUARGAAN
Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong
royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Asas ini mengakui adanya perbedaan. Perbedaan tersebut harus dikembangkan secara
serasi dalam hubungan kemitraan agar tidak berkembang menjadi konflik yang bersifat saling
menghancurkan.
SIFAT KETAHANAN INDONESIA

1.

2.

3.

4.

Ketahanan Nasional mempunyai sifat yang terbentuk dari nilai-nilai yang terkandung
dalam landsan dan asas-asasnya, yaitu:
Mandiri
Ketahanan nasional percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri serta pada keuletan
dan ketangguhan, yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah, dengan tumpuan pada
idenditas, integrasi dan kepribadian bangsa. Kemandirian (independency) ini merupakan
persyaratan untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dalam perkembangan global
(interdependent)
Dinamis
Ketahanan Nasional tidaklah tetap. Ia dapat meningkat atau menurun, tergantung pada
situasi dan kondisi bangsa, negara, sertas lingkungan strategisnya. Hal ini sesuai dengan hakikat
bahwa segala sesuatu di dunia ini senantiasa berubah dan perubahan itu senantiasa berubah pula.
Karena itu, upaya peningkatan Ketahanan Nasional harus senantiasa diorientasikan ke masa
depan dan dinamikanya diarahkan untuk pencapaian kondisi kehidupan nasional yang lebih baik.
Wibawa
Keberhasilan pembinaan Ketahanan Nasional Indonesia secara berlanjut dan
berkesinambungan akan meningkat kemampuan dan kekuatan bangsa. Makin tinggi tingkat
ketahanan Nasional Indonesia, makin tinggi pula nilai kewibawaaan dan tingkat daya tangkal
yang dimiliki oleh bangsa dan negara Indonesia.
Konsultasi dan Kerjasama
Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan
antagonistis, tidak mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata, tetapi lebih
mengutamakan sikap konsultatif. Kerjasama, serta saling menghargai dengan mengandalkan
kekuatan moral dan kepribadian bangsa.

HAK ASASI MANUSIA


1. Pengertian Hak Asasi Manusia
Musthafa Keal (2002) menyatakan hak asasi manusia merupakan hak-hak dasar yang
dibawa manusia sejak lahir yang melekat pada esensinya sebagai anugerah Allah SWT. Pendapat
lain yang senada menyatakan bahahwa hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa
sejak lahir dan melekat dengan potensinya sebagai mahluk dan wakil Tuhan. Rumusan sejak
lahir sekarang ini dipertanyakan, sebab bunyi yang ada dalam kandungan sudah memiliki hak
untuk hidup. Oleh karena itu, rumusan yang lebih sesuai adalah hak dasar yang melekat pada
manusia sejak ia hidup.
Kesadaran akan hak asasi manusia didasarkan pada pengakuan bahwa semua manusia
sebagai mahluk Tuhan memiliki derajat dan martabat yang sama. Dengan pengakuan akan
prinsip dasar tersebut, setiap manusia memiliki hak dasar yang disebut hak asasi manusia. Jadi
kesadaran akan adanya hak asasi manusia tumbuh dari pengetahuan manusia sendiri bahwa
mereka adalah sama dan sederajat.
Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan, sebagai berikut.

1) Landsan yang langsung dan pertama, yakni kodrat manusia. Kodrat manusia adalah sama derajat
dan martabatnya. Semua manusia adalah sederajat tanpa membedakan ras, agama, suku, bangsa
dan sebagainya.
2) Landasan yang kedua dan yang lebih dalam: Tuhan menciptakan manusia. Semua manusia
adalah mahluk dari pencipta yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu dihadapan
Tuhan manusia adalah sama kecuali nanti pada amalnya.
Istilah hak asasi manusia bermula dari Barat yang dikenal dengan right of man untuk
menggantikan natural right. Karena istilah right of man tidak mencakup right of women maka
oleh Eleanor Roosevelt diganti dengan istilah human right yang lebih universal dan netral.
Istilah natural right berasal dari konsep John Locke mengenai hak-hak alamiah manusia.
John Locke menggambarkan bahwa kehidupan manusia yang asli sebelum bernegara (state of
nature) memiliki hak-hak dasar perorangan yang alami. Hak-hak alamiah itu merupakan hak
untuk hidup, hak kemerdekaan dan hak milik. Setelah bernegara, hak-hak dasar itu tidak lenyap
tetapi justru harus dijamin dalam kehidupan bernegara.
2. Macam Hak Asasi Manusia
Berdasarkan pada undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
dinyatakan bahwa hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugarah-Nya yang
wajib dihormati, dijungjung tinggi, dan dilindungi oleh negara hukum, pemerintah dan setiap
orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
a. Hak asasi manusia menurut Piagam PBB tentang Deklarasi Universal of Human Rights 1948,
meliputi
a. Hak berpikir dan mengeluarkan pendapat,
b. Hak memiliki sesuatu,
c. Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran,
d. Hak menganut aliran kepercayaan atau agama,
e. Hak untuk hidup,
f. Hak untuk kemerdekaan hidup,
g. Hak memperoleh nama baik,
h. Hak untuk memperoleh pekerjaan dan
i. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.
b. Hak asasi manusia menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
meliputi:
a. Hak untuk hidup,
b. Hak berkeluarga,
c. Hak mengembangkan diri,
d. Hak keadilan,
e. Hak kemerdekaan,
f. Hak berkomunikasi,
g. Hak keamanan,
h. Hak kesejahtraan dan
i. Hak perlindungan

a.
b.
c.
d.

e.
f.

1.
2.
3.
4.

1)
2)
3)

4)

Hak asasi manusia meliputi beberapa bidang, sebagai berikut.


Hak asasi pribadi (personal Rights), missal, hak kemerdekaan, hak menyatakan pendapat, hak
memeluk agama.
Hak asasi politik (political Rights), yaitu hak untuk diakui sebagai warga negara. Misalnya,
memilih dan dipilih, hak berserikat, hak berkumpul.
Hak asasi ekonomi (Property Rights) missal, hak memiliki sesuatu, hak mengadakan perjanjian,
hak bekerja, hak mendapatkan hidup layak.
Hak asasi social dan kebudayaan (Social and Cultural Rights), misalnya, mendapatkan
pendidikan, hak mendapatkan santunan, hak pensiun, hak mengembangkan kebudayaan, hak
berekspresi.
Hak untuk mendapat perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintah (rights of Legal
Equality).
Hak untuk mendapat perlakuan yang sama dan tata cara peradilan dan perlindungan (Proceural
Rights).
Pada abad ke XX memualai dicetuskan beberapa hak asasi dengan dirumuskan oleh Fran
Klin D. Roosevelt yang dikenal The Four Freedom yaitu sebagai berikut:
The Freedom of Speech
The Freedoom of Religion
The Freedom of Feor
The Freedom of Waut
SEJARAH PERKEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA
Sejarah Pengakuan Hak Asasi Manusia
Latar belakang sejarah hak asasi manusia, pada hakikatnya, muncul karena inisiatif
manusia terhadap harga diri dan martabatnya, sebagai akibat tindakan sewenang-wenang dari
penguasa, penjajahan, perbudakan, ketidak adilan dan kelazaliman (tirani)
Perkembangan pengakuan hak asasi manusia ini berjalan secara perlahan dan beraneka
ragam. Perkembangannya dapat kita lihat berikut ini
Perjuangan Nabi Musa dalam membebaskan umat Yahudi dan perbudakan (Tahun 6000 sebelum
masehi)
Hukum Hammurabi di Babylonia yang member jaminan keadilan bagi warga negara (Tahun
2000 sebelum Masehi)
Socrates (469-399 SM), Plato (429-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM) sebagai filsuf
Yunani peletak dasar diakuinya hak asasi masusia. Mereka mengajarkan untuk mengkritik
pemerintah yang tidak berdsarkan keadilan, cita-cita dan kebijaksanaan.
Perjuangan Nabi Muhammmad saw. Untuk membebaskan para bayi wanita dan wanita dari
penindasan bangsa Quraisy (Tahun 600 Masehi).
HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA
Pengakuan Bangsa Indonesai Akan Hak Asasi Manusia

Pengakuan akan hak asasi manusia di Indonesia telah tercantum dalam UUD 1945 yang
sebenarnya lebih dahulu ada dibandingkan dengan Deklaraasi Universal PBB yang lahir pada 10
Desember 1945. Pengakuan akan hak asasi manusia dalam Undang-undang Dasar 1945 dan
peraturan perundang-undangan lainnya adalah sebagai berikut.
a. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea Pertama
Hak asasi manusia sebenarnya sudah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh
kerena itu, bias dikatakan bahwa negara Indonesia sendiri sejak masa berdirinya, tidak bias lepas
dari Hak Asasi Manusia itu sendiri. Hal ini dapat dilihat pada alinea pertama berbunyi Bahwa
sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa . Berdasarkan hal ini, bangsa
Indonesia mengakui adanya hak untuk merdeka atau bebas.
b. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea Keempat
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea empat berbunyi, kemudian daripada itu,
untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahtraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamayan abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang terbentuk dalam suatu
Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan
Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan kerahyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta denagan
mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sila kedua pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan landasan idiil akan
pengakuan dan jaminan hak asasi manusia di Indonesia.

c.

Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945


Rumusan hal tersebut mencakup hak dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya
yang tersebar dari pasal 27 sampai dengan Pasal 34 UUD 1945. Namun rumusan-rumusan dalam
konstitusi itu amat terbatas jumlahnya dan dirumuskan secara singkat dan dalam garis besarnya
saja.
Sampai pada berakhirnya era Orde Baru Tahun 1998, pengakuan akan hak asasi manusia
di Indonesia tidak banyak mengalami perkembangan dan tetap berlandasakan pada rumusan
yang ada dalam UUD 1945, yaitu tertuang pada hak dan kewajiban warga negara. Rumusan baru
tentang hak asasi manusia tertuang dalam Pasal 28 A-J UUD 1945 hasil amandemen pertama
Tahun 1999.
d. Ketetapan MPR
Ketetapan MPR mengenai hak asasi manusia Indonesia tentang dalam ketetapan MPR
No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Berdasarkan hal itu, kemudian keluarlah
Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sebagai undang-undang yang
sangat penting kaitannya dalam proses jalannya Hak Asasi Manusia di Indonesia. Selain itu juga
Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Macam-macam hak asasi manusia yang tercantum dalam ketetapan tersebut adalah
Hak untuk hidup,
Hak berkeluarha dan melanjutkan keturunan,
Hak keadilan,
Hak kemerdekaan,
Hak atas kebebasan informasi,
Hak Keamanan,
Hak Kesejahtraan,
Kewajiban,
Perlindungan dan pemajuan.
HAK ASASI MANUSIA (UUD 1945) sebagai berikit:
Berkewajuban menghargai hak orang lain dan pihak lain serta tunduk kepada pembatasan yang
ditetapkan Undang-undang (Pasal 28)
Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan HAM adalah tanggung jawab negara
terutama Pemerintah (Pasal 28 I)
Untuk kehidupan serta mempertahankan hidup dan kehidupan (Pasal 28 A)
Membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 28 B)
Mengembangkan diri, mendapatkan pendidikan memperoleh manfaat dari IPTEK, seni dan
budaya memajuakan diri secara kolektif (Pasal 28 C)
Pengakuan yang sama didepan hukum, hak untuk bekerja dan kesempatan yang sama dalam
pemerintahan, berhak atas status kewarganegaraan (Pasal 28 D)
Kebebasan memeluk agama, meyakini kepercayaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat
tinggal kebebasan berserikat berkumpul dan berpendapat (Pasal 28 E)
Berkomunikasi memperoleh mencari, memilih, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan
informasi (Pasal 28 F)
Perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, harta benda, rasa aman serta rasa
bebas dari penyiksaan.
Hidup sejahtra lahir batin, memperoleh pelayanan kesehatan, mendapatkan kemudahan dan
perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat guna menycapai persamaan dan
keadilan.

Jika Indonesia Tak Impor Barang Itu, Rupiah Pasti Tak Akan
Melemah Seperti Sekarang
Smeaker.com- Di depan para diaspora Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memaparkan
kondisi perekonomian Tanah Air. Pada hari Senin (14/9) waktu setempat Jokowi menerangkan
beberapa penyebab nilai rupiah menurun jika dibandingkan dengan dolar AS.
Menurunnya nilai rupiah tak hanya disebabkan karena factor tekanan global. Tetapi juga karena
Indonesia sering melakukan impor beberapa komoditas. Barang impor tersebut tak hanya barang

elektronik. Beberapa diantaranya juga impor kebutuhan pokok. Misalnya jagung, bawang merah,
gula, garam.
Menurut Jokowi, seandainya Indonesia tidak mengimpor barang tersebut, kemungkinan nilai
tukar rupiah tidak akan melemah seperti sekarang.
Sehingga perlu dilakukan transformasi dari sector konsumsi ke sector produksi. Dengan
melakukan hal tersebut Jokowi berharap sector produksi mengalami penguatan. Misalnya
penguatan produksi beras, kedelai, jagung, gula dan daging.
Jokowi telah memerintahkan Menteri Pertanian untuk mengurus beras, kedelai, dan jagung
dalam waktu 3 tahun, gula 5 tahun. Untuk mengurusi daging membutuhkan waktu 5 tahun lebih.

Dalam pertemuan ini, Jokowi juga memaparkan perbedaan kondisi krisis yang dialami pada
tahun 1998 dan sekarang. Pada krisis 1998, nilai tukar rupiah dari Rp 1.800 per USD menjadi
Rp 15.000 per USD.
Walaupun saat ini rupiah melemah, tetapi Jokowi tetap optimis bahwa pemerintah akan dapat
mengatasinya.

Jokowi juga menerangkan terkait rencana pembangunan infrastruktur di Indonesia kepada para
WNI yang tinggal di Doha. Ia mengatakan aka nada rencana pembangunan jalan tol TransSumatera, jalur kereta api di Sulawesi, dan jalur kereta api di Papua.
Agar menjadi Negara yang makmur, kuncinya adalah memperbanyak uang yang beredar di
Negara Indonesia. Pemerintah akan memberikan izin bagi investor yang akan berinvestasi di
bidang apa pun.
Jokowi dijadwalkan akan kembali ke Tanah air setelah menyelesaikan kegiatannya di Doha.
Jokowi bersama presiden akan menggunakan pesawat kepresidenan Boeing Business Jet 2
menuju Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Kabut Asap di Indonesia Picu Keprihatinan Dunia


Home / Berita / Kabut Asap di Indonesia Picu Keprihatinan Dunia
Print This Article

Kabut asap memberi dampak buruk pada Indonesia (Foto: citraindonesia)


Dibaca: 1.31k Kali

Senin, 12-10-2015 17:15

TIMESINDONESIA, JAKARTA - Bencana kebakaran hutan dan kabut asap memang terjadi di
wilayah Indonesia, namun dampaknya meluas hingga membuat sebagian besar dunia merasa
prihatin. Demikian diungkapkan Duta Besar Kerajaan Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik.
"Masyarakat dunia juga khawatir atas kebakaran di Indonesia. Dampak kabut asap menurunkan
kualitas kehidupan, seperti gangguan kesehatan, anak-anak tidak bisa sekolah dan kegiatan
ekonomi terhenti," ujarnya di hadapan mahasiswa peserta Klinik Menulis Perubahan Iklim Bagi
Orang Muda di Jakarta pada Senin (12/10/2015).
Menurut Stig, kebakaran hutan yang memicu bencana kabut asap di Sumatera dan Kalimantan
saat ini membutuhkan perhatian banyak pihak, tak terkecuali masyarakat internasional. Selain
itu, ia juga mendorong masyarakat untuk mengawal penuh upaya pemerintah mengatasi masalah
tersebut.
"Anda pun bisa berperan dengan memanfaatkan media jejaring sosial dengan menyebarkan
informasi kebakaran dan kabut asap. Kita bisa menggalang kepedulian bersama, termasuk
memantau upaya apa saja yang dilakukan pihak berwenang" tegasnya. (*)
MESINDONESIA, MALANG - Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri
Malang (UM) hadirkan berbagai media pembelajaran dan atribut budaya Jerman sebagai bahan
edukasi yang menarik minat masyarakat untuk mempelajari budaya Jerman.
Mulai dari media pembelajaran menggunakan video, kartu pos Jerman, permainan khas, peta,
notepad, topeng opera, pakaian tradisonal dan lain sebagainya.
Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Jerman, Hifdzullah Iman mengatakan,
beberapa media-media ini dibuat oleh mahasiswa sastra jerman untuk mempermudah cara
mempelajari sekaligus menggambarkan budaya-budaya Jerman.
Namun, untuk kartu pos langsung didatangkan dari Jerman.
"Kartu pos ini sampul depannya adalah makanan-makanan tradisional jerman, yang menjelaskan
nama, asal usul, bahan dasar dan cara menyantap makanan tersebut. Kartu pos ini juga dijual,
biasanya banyak yang koleksi," kata Iman, panggilan karibnya.
Selain itu, karena jurusan sastra Jerman memiliki prodi bahas mandari, maka stand ini tidak
hanya memerkan kebudayaan Jerman, namun juga mandarin. Seperti, topeng, pakaian tradisional

masa dinasti ming dan bahan-bahan permainan legenda. Menariknya, pengunjung diperbolehkan
untuk mencoba pakaian masa dinasti ming yang kini umumnya digunakan dalam opera
mandarin.
"Kami juga ajarkan cara memakai, fungsi dan kebiasaan saat orang-orang mandarin
mengenakan pakaian itu," ujarnya ditemui saat pameran akademik berlangsung di gedung Graha
Cakrawala UM, Kamis (15/10/2015).
Selain Fakultas Sastra, masih ada 24 stand akademik lainnya yang berpartisipasi dalam pameran
ini. Pameran akademik merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka dies natalis UM ke-61 dan
hanya berlangsung hingga hari ini. Pameran akan ditutup dengan pemilihan duta kampus UM
malam ini. (*)
MESINDONESIA, MALANG - Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri
Malang (UM) hadirkan berbagai media pembelajaran dan atribut budaya Jerman sebagai bahan
edukasi yang menarik minat masyarakat untuk mempelajari budaya Jerman.
Mulai dari media pembelajaran menggunakan video, kartu pos Jerman, permainan khas, peta,
notepad, topeng opera, pakaian tradisonal dan lain sebagainya.
Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Jerman, Hifdzullah Iman mengatakan,
beberapa media-media ini dibuat oleh mahasiswa sastra jerman untuk mempermudah cara
mempelajari sekaligus menggambarkan budaya-budaya Jerman.
Namun, untuk kartu pos langsung didatangkan dari Jerman.
"Kartu pos ini sampul depannya adalah makanan-makanan tradisional jerman, yang menjelaskan
nama, asal usul, bahan dasar dan cara menyantap makanan tersebut. Kartu pos ini juga dijual,
biasanya banyak yang koleksi," kata Iman, panggilan karibnya.
Selain itu, karena jurusan sastra Jerman memiliki prodi bahas mandari, maka stand ini tidak
hanya memerkan kebudayaan Jerman, namun juga mandarin. Seperti, topeng, pakaian tradisional
masa dinasti ming dan bahan-bahan permainan legenda. Menariknya, pengunjung diperbolehkan
untuk mencoba pakaian masa dinasti ming yang kini umumnya digunakan dalam opera
mandarin.
"Kami juga ajarkan cara memakai, fungsi dan kebiasaan saat orang-orang mandarin
mengenakan pakaian itu," ujarnya ditemui saat pameran akademik berlangsung di gedung Graha
Cakrawala UM, Kamis (15/10/2015).
Selain Fakultas Sastra, masih ada 24 stand akademik lainnya yang berpartisipasi dalam pameran
ini. Pameran akademik merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka dies natalis UM ke-61 dan

hanya berlangsung hingga hari ini. Pameran akan ditutup dengan pemilihan duta kampus UM
malam ini. (*)

Cegah Penambangan Liar, Polisi Siaga di Pantai Utara Sumenep


Home / Berita / Cegah Penambangan Liar, Polisi Siaga di Pantai Utara Sumenep
Print This Article

Ilustrasi patroli polisi (Foto: cnnindonesia)


Dibaca: 512 Kali

Kamis, 15-10-2015 14:22

TIMESINDONESIA, SUMENEP - Polres Sumenep, Madura, Jawa Timur mulai meningkatkan


pengawasan di kawasan pantai utara wilayah setempat. Tujuannya demi mencegah dan
mendeteksi terjadinya penambangan pasir secara liar.

"Ada 20 anggota Polres Sumenep yang secara khusus disiagakan di kawasan pantai utara. Setiap
hari mereka berada di kawasan yang sebelumnya sering menjadi lokasi penambangan pasir
secara liar," tegas Kasubag Humas Polres Sumenep, AKP Hasanuddin pada Kamis (14/10/2015).
Selain anggota polres yang siaga penuh di area dengan cara bergiliran, personel dari polsek
setempat juga dikerahkan untuk melakukan patroli di kawasan pantai mulai dari Ambunten
hingga Pasongsongan.
Peningkatan intensitas pengamanan itu dilakukan sejak kasus pembakaran pikap yang diduga
akan mengangkut pasir hasil penambangan liar beberapa waktu lalu di Pantai Pandan, Desa
Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten. (*)

Anda mungkin juga menyukai