Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PAKAN

Pengolahan Fisik Bahan Pakan Secara Fisik

Kelas A
Kelompok
Nanda Yuditia
Yusinta Nurhanifah
Fajar Nur Fadhilah
Eha Rohimah
Santi Agustini
Wahidiyat Suyudi
Anies Nuraeini
Abdul Zaenal M
Apritama Adha

6
200110130256
200110140007
200110140013
200110140118
200110140124
200110140193
200110140206
200110140216
200110140303

LABORATORIUM NUTRISI TERNAK UNGGAS NON RUMINANSIA DAN


INDUSTRI MAKANAN TERNAK
UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PETERNAKAN
SUMEDANG
2016

I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi

ternak. Ketersediaan pakan harus seimbang dengan laju pertumbuhan populasi ternak
yang setiap tahunnya mengalami peningkatan. Populasi ternak ini dipengaruhi oleh
permintaan di pasar. Pemecahan masalah tersebut adalah dengan jalan menyediakan
pakan ternak dengan jumlah yang banyak dan berkualitas tinggi.
Pemenuhan kebutuhan pakan tersebut dapat diperoleh dengan cara
pengolahan pakan. Pengolahan fisik merupakan salah satu upaya mengubah sifat
pakan melalui proses atau perlakuan perubahan temperatur sehingga pakan pada akhir
proses akan mengalami penurunan kandungan air yang salah satunya bermanfaat
untuk memperpanjang masa simpan suatu bahan pakan. Bahan pakan yang dapat
diolah secara fisik yakni bahan pakan yang berbentuk butiran seperti jagung, oleh
karena itu mahasiswa peternakan harus memiliki pemahaman dan keterampilan dalam
pengolahan pakan secara fisik.
1.2

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka masalah yang akan dibahas

dalam makalah ini adalah :


1.

Bagaimana pengamatan secara visual dari proses penggilingan butiran jagung


dengan menggunakan ukuran screen 2.

2.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengolahan fisik pada
butiran jagung dengan menggunakan screen 2.

3.

Bagaimana cara perhitungan produktivitas mesin dalam proses penggilingan


jagung.

4.

Bagaimana proses penyaringan sampel jagung halus hasil penggilingan.

5.

Berapa persentase kehilangan sampel jagung pada proses penyaringan.

1.3

Maksud dan Tujuan

1.

Mengetahui proses penghancuran butiran jagung dengan menggunakan


ukuran screen 2.

2.

Mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengolahan fisik pada


butiran jagung dengan menggunakan screen 2.

3.

Mengetahui cara perhitungan produktivitas mesin dalam proses penggilingan


jagung.

4.

Mengetahui proses penyaringan sampel jagung halus hasil penggilingan.

5.

Mengetahui persentase kehilangan sampel jagung pada proses penyaringan.

1.4

Waktu dan Tempat


Hari / Tanggal

: Senin, 26 September 2016 dan 3 Oktober 2016

Waktu

: 12.30 14.30

Tempat

: Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas Non Ruminansia


dan Industri Makanan Ternak dan Gedung Feedmill
Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran.

II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Pakan
Pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan, dapat dicerna sebagian atau

seluruhnya dan bermanfaat bagi ternak, oleh karena itu apa yang disebut pakan adalah
segala sesuatu yang dapat memenuhi persyaratan tersebut di atas dan tidak
menimbulkan keracunan bagi ternak yang memakannya (Anggorodi, 1999).
Kebutuhan pakan terkait erat dengan jenis ternak, umur ternak, tingkat produksi.
Konsumsi bahan kering (DW) pakan ditentukan oleh tubuh ternak. Macam ransum,
umur, penyakit, lingkungan, kondisi ternak dan defisiensi nutrient tertentu (Hartadi,
Reksodiprojo, dan Tillman, 1997).
2.2.

Pengolahan Pakan
Pemilihan terhadap cara pengolahan yang tepat terhadap bahan pakan perlu

dilakukan sehingga pengolahan yang dilakukan akan benar-benar bermanfaat


meningkatkan kualitas nutrisinya. Pengolahan pakan dapat dilakukan melalui 5
macam cara :
Pengolahan mekanik
Pengolahan fisik
Pengolahan kimia
Pengolahan Biologi, dan
Gabungan dari keempat cara diatas (Mujnisa, 2007).
2.2.1. Pengolahan Mekanik
Pengolahan mekanik merupakan suatu upaya untuk mengubah sifat pakan
melalui proses mekanik. Pengolahan mekanik mencakup dehulling, grinding, rolling,
chopping.

2.2.2. Pengolahan Fisik


Pengolahan fisik merupakan upaya mengubah sifat pakan melalui proses atau
perlakuan perubahan temperatur sehingga pakan pada akhir proses akan mengalami
penurunan kandungan air. Keuntungan pengolahan fisik ini adalah memperpanjang
masa simpan bahan pakan dan menginaktifkan beberapa zat anti nutrisi

seperti

antitrypsin dalam kedelai mentah dan HCN dalam ubi kayu.


2.2.3. Pengolahan Kimia
Pengolahan kimia merupakan upaya mengubah sifat pakan melalui
penambahan bahan kimia. Pengolahan kimia dapat dilakukan dengan penambahan
alkali, dan penambahan asam.
2.2.4. Pengolahan Biologi
Pengolahan bahan pakan secara biologi dilakukan dengan enzim melalui
bantuan mikrobia yang sesuai yang disebut proses fermentasi. Kelebihan perlakuan
secara biologis ini adalah waktu singkat dan efisien, tidak tergantung cuaca tetapi
perlu kondisi yang optimum bagi pertumbuhan mikrobia (suhu, kelembaban, pH dan
lainnya).
2.2.5. Pengolahan secara gabungan
Pengolahan

gabungan

adalah

pengolahan

yang

dilakukan

dengan

menggabungkan beberapa cara pengolahan (mekanik, fisik, kimia dan biologi).


Pengolahan gabungan ini dilakukan pada bahan pakan yang kualitasnya sangat
rendah dan atau bahan yang kandungan zat antinutrisinya tinggi, contoh Perlakuan
awal penggilingan pada bahan pakan akan memperluas permukaan bahan yang
kemudian jika dilakukan pengolahan secara biologi (fermentasi) akan sangat
memudahkan penetrasi enzim mikroba.

2.3.

Jagung
Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/

graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya


cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu. Batang jagung terdiri
atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama
lain. Bunga jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim
terjadi penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari pendek, jumlah daunnya
ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan dikendalikan oleh genotipe, lama
penyinaran, dan suhu. Secara umum jagung mempunyai pola pertumbuhan yang
sama, namun interval waktu antartahap pertumbuhan dan jumlah daun yang
berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga
tahap yaitu
1.

fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan

2.

biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama.


fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka
sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase ini

3.

diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk.


fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis
(Subekti dkk., 1990). Tjitrosoepomo (1991) tanaman jagung dalam tata nama atau
sistematika (Taksonomi) tumbuh-tumbuhan jagung diklasifikasi sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Graminae

Famili

: Graminaceae

Genus

: Zea

Spesies

: Zea mays L

Jagung dimanfaatkan sebagai sumber energi dengan istilah energi metabolis.


Walaupun jagung mengandung protein sebesar 8,5%, tetapi pertimbangan
penggunaan jagung sebagai pakan adalah untuk energi. Energi yang terdapat pada
jagung masih kurang, misalnya untuk pakan ayam broiler, biasanya ditambahkan
minyak agar energi ransum sesuai dengan kebutuhan ternak. Kontribusi energi jagung
adalah dari patinya yang mudah dicerna. Jagung juga mengandung 3,5% lemak,
terutama terdapat di bagian lembaga biji. Kadar asam lemak linoleat dalam lemak
jagung sangat tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan ayam, terutama ayam
petelur. Jagung mempunyai kandungan Ca dan P yang relatif rendah dan sebagian
besar P terikat dalam bentuk fitat yang tidak tersedia seluruhnya untuk ternak
berperut tunggal.
Ransum unggas, baik ayam broiler maupun petelur, jagung menyumbang
lebih dari separuh energi yang dibutuhkan ayam. Tingginya kandungan energi jagung
berkaitan dengan tingginya kandungan pati (>60%) biji jagung. Di samping itu,
jagung mempunyai kandungan serat kasar yang relatif rendah sehingga cocok untuk
pakan ayam. Kadar protein jagung (8,5%) jauh lebih rendah dibanding kebutuhan
ayam broiler yang mencapai >22% atau ayam petelur > 17%. Sebenarnya, ayam
memerlukan asam amino yang terdapat dalam protein. Karena itu, untuk menilai
kandungan gizi jagung perlu memperhatikan kandungan asam aminonya. Kandungan
lisin, metionin, dan triptofan jagung relatif rendah sehingga untuk membuat pakan
ayam perlu ditambahkan sumber protein yang tinggi seperti bungkil kedelai. Untuk
melengkapi kandungan asam amino dalam ransum pakan ayam dapat ditambahkan
asam amino sintetis seperti L Lisin, DL Metionin atau L Treonin.(Tangendjaja dan
Wina, 2002).
2.4.

Proses Pengolahan Fisik Menggunakan Hammer Mill

Pengolahan fisik salah satunya dilakukan dengan Grinding atau pencacahan.


Grinding adalah proses pengurangan ukuran partikel bahan dari bentuk kasar menjadi
ukuran yang lebih halus untuk menyempurnakan proses mixing yaitu hasil
pencampuran yang merata dan menghindari segregasi partikel-partikel bahan
(Retnani, 2011). Grinding atau pencacahan akan memperkecil ukuran partikel pakan,
meningkatkan kecernaan khususnya bagi butiran yang bijinya keras. Partikel yang
lebih kecil akan memperluas permukaan sehingga kecernaannya akan meningkat,
mengakibatkan laju aliran pakan dalam saluran pencernaan

meningkat, saluran

pencernaan cepat kosong, dan pada gilirannya akan meningkatkan konsumsi pakan.
Penggilingan juga penting jika bahan itu akan dicampurkan dengan lainnya sehingga
akan bercampur secara mesra (homogen), seragam dan meningkatkan kegunaan
ransum tersebut bagi ternak (Anggorodi, 1999).
Tujuan dari proses grinding atau pencacahan antara lain meningkatkan luas
permukaan partikel bahan terhadap sistem pencernaan sehingga meningkatkan daya
cerna bahan. Memperbaiki cara penanganan terhadap bahan baku. Memperbaiki
karakteristik mixing dari setiap bahan pakan sehingga bisa diperoleh hasil mixing
yang lebih homogen. Meningkatkan efisiensi pelleting dan kualitas pellet karena
persentase tepung bisa dikurangi dan mengurangi pekerjaan ulang dari proses
pelleting akibat banyaknya tepung yang kembali ke sistem pellet (Agus, 2007).
Bahan - bahan yang harus melewati proses grinding adalah jagung, sorghum,
cassava chips, groundnut meal, rape seed meal, linseed meal, soyabean meal, copra
meal. Kebanyakan sumber protein asal hewani sudah dalam bentuk halus sehingga
tidak perlu digiling. Sistem feedmill mengadopsi teknik grinding dengan 2
pendekatan yaitu sistem pre grinding dan post grinding. Sistem pre grinding, semua
bahan baku kasar yang harus dihaluskan akan masing-masing menjalani proses
grinding untuk kemudian ke tahap mixing. Sistem ini cocok untuk pakan tepung
khususnya ayam petelur dan memungkinkan mengatur komposisi ukuran partikel

hasil grinding sehingga tidak semua ukuran partikel akhir menjadi seragam
menyebabkan tampilan pakan lebih menarik misalnya ukuran jagung yang lebih besar
sehingga terlihat lebih kuning. Sistem post grinding, hasil mixing akan disalurkan ke
hammer mill untuk proses grinding yang kedua kalinya. Cara ini akan diperoleh hasil
pakan yang sangat halus dan kualitas pellet yang jauh lebih baik. Sistem post
grinding cocok untuk feedmill dimana persentase pakan pellet atau butiran sangat
dominan (Bahnke, 1996).
Alat yang digunakan antara lain karung dan hammer mill namun tidak
melakukan praktikum grinding tetapi diperkenalkan mesin untuk grinding antara lain
hammer mill, disk mill, willey mill. Hammer mill memiliki beberapa bagian penting
salah satunya adalah grinder untuk menggiling bahan pakan. Proses grinding cukup
penting mengingat proses pencampuran bahan baku akan berjalan dengan baik
apabila bahan baku yang akan dicampur sudah memiliki besar butir yang relatif
seragam. Pengecilan bahan pakan

terdiri dari 3 tahap yaitu penggilingan kasar

dengan hammer mill (kalau perlu didahului dengan crusher atau penghancur),
penggilingan halus dengan dish mill, dan pengayakan dilakukan dengan ukuran mash
halus (Alamsyah, 2008).
Hammer mill merupakan alat untuk menggiling jagung. Mesin ini mempunyai
suatu bagian yang berfungsi sebagai penghancur bahan baku, yaitu pisau hammer
mill. Mesin ini akan menghancurkan/menggiling bahan baku pakan ternak yang
semula berbentuk butiran besar menjadi butiran kecil yang seragam.

Alat ini

bergesekan langsung dengan bahan baku sehingga akan mengalami keausan. Maka
dibutuhkan pisau hammer mill yang mempunyai sifat mekanis yang sangat bagus.
(Anwar dan Umardani 2012).
Berdasarkan kerja atau cara pembebanannya terhadap bahan yang akan
diproses, mesin pemecah dibagi dalam tiga golongan, yaitu mesin pemecah dengan
beban tekan, mesin pemecah dengan beban impact, dan mesin pemecah berputar.

Pada mesin pemecah dengan beban tekan, pecahnya bahan terjadi karena adanya
beban tekan yang diberikan oleh alat kepada bahan. Besamya beban tekan relatif
lebih besar dari pada kekuatan yang dimiliki bahan. Menurut cara pembebanannya,
ada dua jenis mesin pemecah dengan beban tekan, yaitu tekanan bolak-balik (jaw
crusher, gyratory crusher, dan disc crusher dan tekanan kontinu. Pada mesin pemecah
dengan beban impact, pecahnya bahan adalah akibat beban impact yang ditimbulkan
oleh tumbukan antara komponen mesin yang bergerak cepat dengan bahan.
Jenis-jenis mesin pemecah dengan beban impact di antaranya hammer
crusher; dual rotor impact breaker, vertical impact crusher dan rotary knife cutter.
Prinsip kerja mesin pemecah berputar adalah ruang pemecah berputar pada
sumbunya. Untuk menentukan banyaknya alat penggiling jagung yang akan
dioperasikan dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah produksi jagung, energi
yang dibutuhkan dan yang tersedia untuk proses penggilingan, serta jumlah produksi
jagung tergiling yang diinginkan. Alat penggiling jagung ini dibuat untuk
meningkatkan nilai tambah jagung dan untuk mempertahankan serta meningkatkan
daya simpan jagung.
2.5.

Keambaan (Densitas) Bahan Pakan


Kerapatan bahan pakan pada setiap jenis bahan berbeda-beda dan kerapatan

jenis perlu dilakukan berguna untuk mengetahui kerapatan jenis masing-masing


bahan. Kerapatan jenis yaitu kontrol infentaris digudang yang berguna dalam proses
penanganandan pencampuran bahan pada saat akan dimasukkan ke mixer
(Soeharsono & B. Sudaryanto, 2006).
Setiap bahan yang telah diterima dan ditentukan kerapatan jenisnya maka
dapat dengan jelas diketahui apakah bahan tersebut karapatan bahannya bagus atau
jelek. Kerapatan bahan pakan merupakan perbandingan antara berat dan volume

bahan dan biasanya standar mutu bahan pakan sudah ditentukan sesuai dengan
standarnya masing-masing (Sutardi, 2003).

III
ALAT, BAHAN DAN METODE
3.1

Alat

1.

Karung

2.

Neraca digital

3.

Hammer mill

4.

Screen 2

5.

Saringan no. 14(1,5 mm), 18(1 mm) dan 30 (0,59 mm)

6.

Wadah atau baki penampung

7.

Neraca analitik

8.

Kalkulator

3.2

Bahan
Butiran jagung 5 kg

3.3

Metode

1.

Menyiapkan sampel bahan (butiran jagung)

2.

Menyiapkan screen (dies) 2

3.

Menyiapkan dan menyalakan mesin hammer mill dan biarkan beberapa saat
sampai mesin stabil

4.

Menuangkan sampel secara bertahap ke dalam mesin dengan ukuran screen 2


sambil menyalakan timer/stopwatch (catat waktu penggilingan)

5.

Menunggu hingga sampel habis, matikan timer/stopwatch

6.

Menimbang sampel halus yang dihasilkan

7.

Menghitung waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh jagung halus(kg/jam)

8.

Menghitung produktivitas mesin hammer mill

9.

Mengambil sampel halus sebanyak 1 kg

10.

Menyaring sampel halus menggunakan saringan no. 14

11.

Menimbang jagung halus yang tidak lolos di saringan no. 14 dengan


timbangan anallitik

12.

Menyaring jagung halus yang lolos di sringan no. 14 dengan saringan no. 18

13.

Menimbang jagung halus yang tidak lolos di saringan no. 18 dengan


timbangan anallitik

14.

Menyaring jagung halus yang lolos di sringan no. 18 dengan saringan no. 30

15.

Menimbang jagung halus yang tidak lolos di saringan no. 30 dengan


timbangan anallitik

16.

Menimbang jagung halus yang lolos di saringan no. 30 dengan timbangan


anallitik

17.

Menghitung ukuran partikel

18.

Menghitung persentasi dari setiap saringan

Menghitung produktivitas mesin Hammer mill


Jumlah jagung digiling

=A

Lama waktu penggilingan

=B

Produktivitas mesin (kg/jam)

A
60(menit)
B

IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Pengamatan Pengolahan Fisik pada Butiran (Screen 2)


Rumus :
Jumlah jagung digiing = 5,17 kg
Lama waktu penggilingan = 10,58 menit
Produktivitas mesin (kg/ jam) =

5,17 kg
10,58 menit

A
B

X 60 menit

x 60 menit = 29,32 kg/jam

Berat jagung awal = 5,17 kg


Berat jagung akhir = 5,15 kg
Mengalami pengurangan 0,02 kg
4.2

Hasil Pengamatan Penyaringan


O=

TL s 10
A (gram)

x 100 % =

0 gram
1000 gram

x 100% = 0 %

P=

TL s 14
A (gram)

x 100 % =

175 gram
1000 gram

x 100% = 17,5 %

Q =

R=

TL s 18
A (gram)
TL s 30
A ( gram)

x 100 % =

x 100 % =

211 gr am
1000 gram
213 gram
1000 gram

x 100% = 21,1 %

x 100% = 21,3 %

S=

L s 30
A (gram)

x 100 % =

0 gram
1000 gram

x 100% = 39,4 %

O+P+Q+R+S = 0 %+ 17,5 % + 21,1 % +21,3 % +39,4 % = 99,3 %


% Kehilangan = 0,7 %

Tabel 1. Perbedaan Hasil Screen 2 dan 3


O
P
Q
R
S
% kehilangan
4.3

Screen 3 (1,3,5)
0
0
27%
24,4%
25,9%
22,8%
20,3%
22%
26,6%
29,9%
0,2%
0,9%

0
18,9%
27,4%
26,4%
26,7%
0,6%

Screen 2 (2,4,6)
0
0
20,4%
16,5%
20,3%
18,8%
23,8%
22,3%
34,8%
41,3%
0,7%
1,1%

0
17,5%
21,1%
21,3%
39,4%
0,7%

Pengolahan Fisik pada Butiran


Praktikum menjelaskan bahwa pengolahan bahan pakan ini dilakukan untuk

meningkatkan daya cerna pada ternak, hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2007)
yang berpendapat bahwa tujuan dari proses grinding atau pencacahan antara lain
meningkatkan luas permukaan partikel bahan terhadap sistem pencernaan sehingga
meningkatkan daya cerna bahan. Memperbaiki cara penanganan terhadap bahan baku.
Memperbaiki karakteristik mixing dari setiap bahan pakan sehingga bisa diperoleh
hasil mixing yang lebih homogen. Meningkatkan efisiensi pelleting dan kualitas pellet
karena persentase tepung bisa dikurangi dan mengurangi pekerjaan ulang dari proses
pelleting akibat banyaknya tepung yang kembali ke sistem pellet.
Pengolahan yang dilakukan saat praktikum yakni pengolahan secara fisik,
meskipun pengolahan pakan sendiri tidak hanya secara fisik saja ada yang secara
kimia, mekanik, dan lain-lain. Sesuai dengan pendapat Mujnisa A (2007) yang

menyatakan bahwa pengolahan pakan terdapat 5 macam dan salah satunya adalah
pengolahan fisik. Pengolahan fisik butiran jagung, butiran jagung yang digunakan
adalah sebanyak 10,17 kg. Sampel 10,17 kg jagung tersebut dibagi menjadi dua
bagian, masing-masing sebanyak 5,17 kg dan 5 kg. Pengamatan yang dilakukan
adalah pengamatan waktu proses kerja dari penggilingan butiran jagung dengan
hammer mill menggunakan screen 2 dan screen 3. Hasil pengamatan, didapatkan
bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menggiling jagung dengan screen 2 adalah 10
menit 58 detik sedangkan data yang didapat dari kelompok satu penggilingan butiran
jagung dengan screen 3 membutuhkan waktu selama 4 menit 10 detik. Hal tersebut
memberikan kesimpulan bahwa untuk menghasilkan butiran jagung untuk screen 2
membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan screen 3. Hal ini pun didukung
juga dengan perhitungan rpm masing-masing screen dengan satuan kg/jam. Hasil
pengamatan yang dilakukan, penggunaan screen 2 dalam menggiling jagung
mempengaruhi waktu proses penggilingan yang dihasilkan karena screen 2 memiliki
ukuran lubang penggilingan yang relatif lebih kecil dibandingkan screen 3. Selain
penggunaan screen 2, faktor lain yang mempengaruhi waktu penggilingan adalah
kemahiran praktikan dalam pengoprasian alat dan penguasaan materi. Hal tersebut
menjadi salah satu faktor karena praktikan baru pertama kali mengoperasikan mesin
hammer mill. Keadaan tersebut didukung oleh pendapat Anwar dan Umardani (2012)
yang menyatakan bahwa hammer mill merupakan alat untuk menggiling jagung.
Mesin ini mempunyai suatu bagian yang berfungsi sebagai penghancur bahan baku,
yaitu pisau hammer mill. Mesin ini akan menghancurkan/menggiling bahan baku
pakan ternak yang semula berbentuk butiran besar menjadi butiran kecil yang
seragam. Alat ini bergesekan langsung dengan bahan baku sehingga akan mengalami
keausan.

Setelah butiran jagung digiling, jumlah tepung jagung yang dihasilkan adalah
sebanyak 5.15 kg dari screen 2. Hasil tersebut mengalami penurunan 0,02 kg. Setelah
butiran jagung digiling, jumlah tepung jagung yang dihasilkan adalah sebanyak 5,575
kg dari screen 3. Hasil tersebut mengalami pertambahan sebanyak 0,575 kg. Keadaan
ini disebabkan oleh beberapa faktor yakni : ketepatan melihat angka dipenimbangan
awal, saat dalam proses penggilingan terdapat jagung yang keluar dari mesin dan juga
bisa disebabkan karena bahan lain yang terbawa masuk ke dalam sampel jagung saat
penimbangan awal.

4.4

Proporsi Ukuran Bahan Pakan Hasil Penggilingan dengan Screen 2 dan 3


Pada proporsi ukuran bahan pakan hasil penggilingan, prinsip kerjanya adalah

memperkecil dan homogenisasi ukuran bahan pakan butiran. Hal tersebut dilakukan
dengan menggunakan saringan nomor 14 yang partikel penyaringnya berukuran 2
mm, saringan nomor 18 yang partikel penyaringnya berukuran 1 mm, saringan nomor
30 yang partikel penyaringnya berukuran 0,59 mm. Homogenisasi ini dilakukan
untuk menyimpan bahan pakan butiran yang telah digiling yang berukuran sama.
Selain itu, dengan melakukan homogenisasi dengan penyaringan butiran yang telah
digiling, dapat diketahui berapa persen butiran jagung yang lolos penyaringan yang
menunjukkan seberapa baik hasil penggilingan yang dilakukan.
Proses homogenisasi ukuran bahan pakan butiran tersebut dilakukan dengan
meratakan sejumlah sampel diatas plastik sampai merata yang kemudian dibagi
menjadi empat bagian yang sama. Lalu praktikan mengambil satu bagian secara acak
dan melakukan penimbangan sampel. Proses homogenisasi dengan menggunakan
sampel dilakukan agar proses homogenisasi lebih efektif dan efisien .

Hasil pengamatan, didapatkan bahwa berat awal sampel tepung jagung yang
digunakan adalah masing-masing 1 kg per masing-masing screen. Lalu, berat sampel
screen 2 yang tidak lolos saringan nomor 14 adalah 175 g, berat sampel screen 2 yang
tidak lolos saringan nomor 18 adalah 211 g, berat sampel screen 2 yang tidak lolos
saringan nomor 30 adalah 213 g, berat sampel screen 2 yang lolos penyaringan adalah
394 g dengan presentasi sebagai berikut: Berat sampel screen 2 yang tidak lolos
saringan nomor 14 = 17,5%, Berat sampel screen 2 yang tidak lolos saringan nomor
18 = 21,1%, Berat sampel screen 2 yang tidak lolos saringan nomor 30 = 21,3%,
Berat sampel yang lolos penyaringan = 39,4%. Keseluruhan hasil perhitungan
presentasi bahan pakan yang lolos saringan dan bahan pakan yang tidak lolos
saringan dengan berat awal sampel, dapat diidentifikasi dengan perhitungan berikut :
100% 17,5% 21,1% 21,3% 39,4% = 0,7 %.
Hasil pengamatan, didapatkan bahwa berat awal sampel tepung jagung yang
digunakan adalah masing-masing 1 kg per masing-masing screen. Data screen 3
mengambil dari kelompok satu. Lalu, berat sampel screen 3 yang tidak lolos saringan
nomor 14 adalah 270 g, berat sampel screen 3 yang tidak lolos saringan nomor 18
adalah 259 g, berat sampel screen 3 yang tidak lolos saringan nomor 30 adalah 203 g,
berat sampel screen 3 yang lolos penyaringan adalah 266 g dengan presentasi sebagai
berikut: Berat sampel screen 3 yang tidak lolos saringan nomor 14 = 27%, Berat
sampel screen 3 yang tidak lolos saringan nomor 18 = 25,9%, Berat sampel screen 3
yang tidak lolos saringan nomor 30 = 20,3% , Berat sampel yang lolos penyaringan =
26,6%. Keseluruhan hasil perhitungan presentasi bahan pakan yang lolos saringan
dan bahan pakan yang tidak lolos saringan dengan berat awal sampel, dapat
diidentifikasi dengan perhitungan berikut : 100% 27% - 25,9% - 20,3% - 26,6% =
0,2 %

Seharusnya dari 100% berat awal jika dikurangi presentasi keseluruhan


butiran yang lolos dan butiran yang tidak lolos hasilnya adalah nol, yang berarti
seluruh sampel tidak ada yang hilang. Akan tetapi, hasil perhitungan menunjukkan
bahwa hasilnya bukan nol, melainkan 0,7% pada screen 2 dan 0,2% pada screen 3.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat butiran yang hilang sebanyak 0,7 % pada screen
2 dan 0,2% pada screen 3 saat proses homogenisasi berlangsung. Kehilangan tersebut
bisa terjadi karena faktor kesalahan praktikan, alat, bahan baku yang bulky, ketepatan
melihat angka di neraca, pemindahan sampel dari tempat satu ke tempat lain,
berterbangannya sampel saat dilakukan penyaringan, menempelnya sampel pada
saringan serta menempelnya sampel di tangan. Namun, diluar dari kesalahan saat
proses homogenisasi dengan siever yang digunakan, data pengamatan menunjukkan
bahwa rata-rata presentasi butiran yang lolos saringan semua kelompok (6 kelompok)
pada screen 2 adalah 38,5%. Rata-rata butiran yang lolos di screen 3 yakni 26,7%.
Hal ini menunjukan bahwa lebih banyak butiran yang lolos saat penyaringan yakni
dari screen 2.

V
KESIMPULAN
1.

Proses pengolahan yang dilakukan saat praktikum yakni pengolahan secara


fisik (penghancuran) dengan hammermill menggunakan screen 2 dan screen
3, meskipun pengolahan pakan sendiri tidak hanya secara fisik saja ada yang
secara kimia, mekanik, dan lain-lain.

2.

Waktu yang dibutuhkan untuk menggiling jagung dengan screen 2 adalah


10,58 menit sedangkan data yang didapat dari kelompok satu penggilingan
butiran jagung dengan screen 3 membutuhkan waktu selama 4,10 detik. Hal
tersebut menunjukan bahwa untuk menghasilkan butiran jagung untuk screen
2 membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan screen 3.

3.

Cara menghitung produktivitas mesin Hammer mill

a.

Jumlah jagung digiling

=A

b.

Lama waktu penggilingan

=B

c.

Produktivitas mesin (kg/jam)

4.

Pada proses penyaringan sampel jagung halus hasil penggilingan, prinsip

A
60(menit)
B

kerjanya adalah memperkecil dan homogenisasi ukuran bahan pakan butiran.


Hal tersebut dilakukan dengan menggunakan saringan nomor 14 yang partikel
penyaringnya berukuran 2 mm, saringan nomor 18 yang partikel
penyaringnya berukuran 1 mm, saringan nomor 30 yang partikel
penyaringnya berukuran 0,59 mm.
5.

Keseluruhan hasil perhitungan presentasi bahan pakan yang lolos saringan dan
bahan pakan yang tidak lolos saringan dengan berat awal sampel, dapat
diidentifikasi dengan perhitungan berikut : 100% 17,5% 21,1% 21,3%
39,4% = 0,7 %.

DAFTAR PUSTAKA
Agus, A. 2007. Membuat Pakan Ternak Secara Mandiri. Cetakan Pertama. PT Citra
Aji Parama : Yogyakarta.
Alamsyah, A. 2008. Panduan Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Ardana Media :
Yogyakarta.
Anwar, S., Y. Umardani. 2012. Pengujian Sifat Mekanis Dan Struktur Mikro Pisau
Hammer Mill Pada Mesin Penggiling Jagung. PT Charoen Pokphand
Indonesia Cabang Semarang. Journal Foundry.
Anggorodi, R. 1999. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia : Jakarta.
Bahnke, K. C. 1996. Feed Manufacturing Technology : Current Issues and
Challenges. Animal Feed Science. 62 : 49-57.
Hartadi, H., S. Reksodiprodjo dan A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Bahan
Makanan Ternak Untuk
Indonesia. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta.
Mujnisa, A. 2007. Uji sifat fisik jagung giling pada berbagai ukuran partikel.Buletin
Nutrisi dan Makanan Ternak, 6(1): 1-9.
Nista, D., Hesty Natalia dan A. Taufik. 2007. Teknologi Pengolahan Pakan.
Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan Balai
Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam : Sembawa.
Retnani, I. 2011. Proses Produksi Pakan Ternak. Ghalia : Bogor
Soeharsono & B. Sudaryanto. 2006. Tebon jagung sebagai sumber hijauan pakan
ternak strategis di lahan kering Kabupaten Gunung Kidul. Prosiding
Lokakarya Nasional Jejaring Pengembangan Sistem Integrasi Jagung Sapi.
Pontianak, 9-10 Agustus 2006. Puslitbang Peternakan, Bogor. Hal: 36-141
Subekti N. A., Syafruddin, R. Efendi, dan S. Sunarti. 1990. Maros Morfologi
Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia.

Sutardi T. R. 2003. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. UNSOED : Purwokerto.


Tangendjaja B. dan E. Wina. 2002. sLimbah Tanaman dan Produk Samping Industri
Jagung untuk Pakan. Balai Penelitian Ternak : Bogor.
Tjitrosoepomo, C. 1991. Taksonomi Tumbuhan. Gajah Mada Universy Press :
Yogyakarta.