Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kematian perinatal merupakan tolok ukur kemampuan
suatu

negara

kesehatan

dalam

yang

upaya

bermutu

menyelenggarakan

dan

menyeluruh.

pelayanan

Akibat

makin

tingginya kematian perinatal menunjukkan bahwa pelayanan


kesehatan yang buruk. BBLR merupakan salah satu dari tiga
penyebab utama kematian perinatal. Salah satu penyebab
tingginya

angka

kematian

perinatal

atau

sekitar

70%

disebabkan oleh persalinan prematur, (Habib, 2011). Makin


rendah masa gestasi dan berat lahir bayi makin tinggi angka
kematian bayi sebagai akibat berbagai morbiditas neonates,
menurut Rahayu, 2009, (Kurniasih, Shinta, 2009).
Persalinan prematur merupakan hal yang berbahaya
karena potensial meningkatkan kematian perinatal sebesar
65%-75% umumnya berkaitan dengan berat lahir rendah,
(Sujiyatini, 2009) disamping itu Persalinan prematur menjadi
perhatian utama dalam bidang obstetrik karena erat kaitannya
dengan morbiditas dan mortalitas perinatal dan persalinan

prematur merupakan penyebab utama yaitu 60-80% morbiditas


dan mortalitas neonatal di seluruh dunia, (Habib, 2011).
Berdasarkan data WHO (World Healtd Organization), pada
tahun 2010 kelahiran prematur mencapai 30-70% dari seluruh
bayi dan 75-80% yang meninggal pada usia kurang dari 28 hari.
Data

dari

WHO

ini,

menunjukkan

angka

yang

sangat

memprihatinkan terhadap kematian bayi di dunia, (Kurniasih.


Shinta,

2011). Di

Asia

angka

kematian

neonatal

yang

disebabkan karena prematur sebesar 30% (413.000) dari


kelahiran hidup di tahun 2010. Indonesia pada tahun 2010,
memiliki angka kejadian prematur sekitar 19% dari 9%-30%
BBLR dan merupakan penyebab utama kematian perinatal.
Sebesar 25 % bayi yang lahir dengan BBLR meninggal dan 50 %
meninggal sejak bayi. Sekitar 50-60% prematur terjadi spontan
tanpa diketahui dengan jelas etiologinya. Kejadian Bayi Berat
Lahir Rendah (BBLR) dan premature di Indonesia jauh lebih
tinggi daripada di Negara maju lainnya, (Evariani. A, 2010).
Berdasarkan profil Dinas Kesehatan, pada tahun 2010
ditemukan 146.233 kelahiran bayi yang terdiri dari 145.306 bayi
lahir hidup dan 927 bayi meninggal, sebanyak 2.751 (1,89 %)
BBLR yang terdiri dari premature 1.098 (39,9%) dari seluruh

kelahiran di Profinsi Sulawesi Selatan. Kota Makassar sendiri


secara keseluruhan terdapat 19.550 kelahiran bayi yang terdiri
dari 19.496 lahir hidup dan 54 bayi meninggal, sebanyak 432
(2,22%) BBLR yang terdiri dari premature 242 (56,01%) dan
dismatur 190 (43,9%). Khusus di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sitti
Fatimah Makassar (buku register periode JanuariDesember
2010) ditemukan 336 bayi (15,20 %) yang dilahirkan dengan
BBLR dari 2.210 ibu bersalin yang terdiri dari 55 (2,48%) bayi
prematur dan 281 (12,71%) bayi dengan dismatur.
Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam
jangka pendek untuk menekan angka kematian bayi adalah
melalui Program Making Pregnancy Safer (MPS), dengan visi
semua perempuan di Indonesia dapat menjalani kehamilan dan
persalinan dengan aman dan bayi dilahirkan hidup dan sehat
dengan

target

tahun

2010

menurunkan

angka

kematian

neonatal menjadi 15 per 1.000 kelahiran hidup, menurut


Depkes, 2001,dan Visi Program Nasional Bagi Anak Indonesia
(PNBAI) 2015 yaitu anak Indonesia yang sehat tumbuh dan
berkembang, cerdas, ceria, berakhlak mulia, terlindung dan aktif
berpartisipasi

disamping

ibunya

yang

sejahtera.

Apabila

kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak tidak diberikan

prioritas dan perhatian khusus maka kondisi bangsa dan negara


Indonesia pada tahun 2015-2020 akan semakin terpuruk lagi
karena buruknya kualitas SDM, Depkes RI, 2004, (Habib, 2011).
Beberapa

faktor

penyebab

prematur

yang

berkaitan

dengan penelitian ini meliputi umur dam paritas ibu. Umur yang
dianggap beresiko adalah <20 tahun dan >35 tahun. Pada umur
<20 tahun fungsi dari alat reproduksinya belum matang
sehingga mengganggu perkembangan janin. Pada usia >35
tahun terjadi degenerasi fungsi alat reprouksinya sehingga
dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada janin. Umumnya
kejadian BBLR prematur dan kematian perinatal meningkat
seiring dengan meningkatnya paritas ibu, terutama bila paritas
lebih dari 3. Paritas yang terlalu tinggi akan mengakibatkan
terganggunya uterus terutama dalam hal fungsi pembuluh
darah. Hal ini akan mempengaruhi nutrisi ke janin sehingga
menyebabkan

janin

lahir

dengan

berat

badan

rendah,

(Hidayanti, 2009).
Kelahiran prematur merupakan kelahiran yang berisiko
tinggi terhadap bayi yang dilahirkan yang dapat menimbulkan
berbagai masalah kesehatan pada bayi dan nantinya berdampak
pada kematian bayi dan masalah kesehatan pada ibu. Oleh

karena

itu,

maka

penulis

terdorong

untuk

memaparkan

permasalahan yang dituangkan dalam karya tulis ini melalui


penelitian tentang kelahiran bayi prematur khususnya pada
faktor umur dan paritas ibu.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan hal yang telah diuraikan dalam latar belakang
tersebut di atas, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai
berikut :
1.

Bagaimanakah gambaran tentang kejadian prematur ditinjau


dari

aspek umur ibu?

2. Bagaimanakah gambaran tentang kejadian prematur ditinjau


dari

aspek paritas ibu?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran tentang kejadian prematur di
Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Periode JanuariDesember 2010.
2. Tujuan Khusus
a.Diperolehnya informasi kejadian prematur menurut umur
ibu.

b.Diperolehnya informasi kejadian prematur menurut paritas


ibu.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Sebagai sumber pengalaman yang sangat berharga bagi
peneliti dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang
diperoleh pada bangku kuliah.
2. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan
ilmiah dan informasi tambah wawasan serta menjadi acuan
bagi peneliti selanjutnya.
3. Manfaat bagi Peneliti
Hasil penelitian sebagai pengakuan ilmiah yang berharga dan
dapat meningkatkan pengetahuan dan mengubah wawasan
tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian bayi lahir
prematur.

4. Manfaat Institusi
Sebagai pedoman atau acuan bagi institusi pendidikan
kebidanan untuk penulisan karya tulis ilmiah berikutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Bayi Berat Lahir Rendah


1. Pengertian
a. BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2.500
gram, tanpa memandang masa gestasinya, (Evariani A,
2010).
b. BBLR ialah bayi yang berat badan lahirnya kurang dari
2.500 gram, (Pantiawati Ika, 2010, hal.1).
c. BBLR adalah neonatus yang berat badan kurang dari
2.500 gram pada saat lahir. Bayi yang lahir dengan usia
kehamilan kurang dari 37 minggu disebut berat badan
rendah prematur dan bayi yang lahir dengan berat badan
rendah di usia kehamilan besar 37 minggu disebut
dismatur, (Miyati Sitti, dkk. 2010, hal. 148).
2. Klasifikasi BBLR (Pantiawati Ika, 2010, hal. 6)
Adapun BBLR diklafisikasikan atas 2 golongan yaitu :
a.

Prematuritas
1) Pengertian
Prematuritas adalah bayi dengan masa kehamilan
kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai
dengan usia kehamilan atau disebut Neonatus Kurang

Bulan Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK), (Pantiawati


Ika, 2010, hal. 6).
2) Karakteristik Prematuritas (Manuaba,dkk, 2010, hal
438)
Tanda-tanda yang ditemukan pada bayi prematur
menurut Manuaba, dkk, 2010, antara lain :
a) Berat badan kurang dari 2500 gram.
b) Panjang badan kurang dari 45 cm.
c) Lingkar kepala kurang dari 33 cm.
d) Lingkar dada kurang dari 30 cm.
e) Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
f) Jaringan lemak belum sempurna. Labia minora
belum tertutup oleh labia mayora pada bayi
perempuan, pada bayi laki-laki testis belum turun
ke dalam skrotum.
g) Pernafasan sekitar 45-50 kali permenit.
h) Frekuensi nadi 100-140 kali per menit.
b. Dismaturitas
1) Pengertian

10

Dismaturitas adalah bayi dengan berat badan kurang


dari

berat

badan

yang

seharusnya

untuk

usia

kehamilan, (Pantiawati, 2010, hal 41).


Dismatur adalah bayi lahir dengan berat badan kurang
dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, hal
ini karena mengalami gangguan pertumbuhan dalam
kandungan dan merupakan bayi yang Kecil Masa
Kehamilan

(KMK).

Dismatur

dapat

terjadi

dalam

preterm, aterm dan post tem, (Mariam.A, 2009. Hal.


90).
2) Penyebab dismaturitas (Deslidel, dkk. 2011, hal. 108)
Faktor yang dapat menimbulkan dismaturitas janin atau
IUGR diantaranya:
a) Faktor Ibu
(1)Malnutrisi,

usia,

ras,

Kehamilan

diluar

pernikahan
(2)Penyakit ibu : Hipertensi, penyakit paru-paru,
eklamsia
(3)Komplikasi

hamil

Preeklamsia,

eklamsia,

pendarahan antepartum
(4)Kebiasaan ibu : merokok, peminum alcohol

11

b) Faktor uterus dan placenta (Manuaba, 2010, hal.


439)
(1)Gangguan pembulu darah
(2)Gangguan insersi tali pusat
(3)Kelainan bentuk placenta
(4)Perkapuran placenta
c) Faktor janin
(1)Kelainan kromosom
(2)Hamil ganda

(3)Infeksi dalam rahim


(4)Cacat bawaan
3) Gejala Klinis
Gejala klinis yang tampak sangat bervariasi karena
dismatur sdapat menjadi preterm, aterm dan posterm.
Bayi dismatur preterm akan terlihat gejala fisik bayi
prematur

ditambah

dengan

gejala

retardasi

pertumbuhan dan pelisutan. Pada bayi cukup bulan dan


posterm dengan dismaturitas, gejala yang menonjol
ialah pelisutan, (Pantiawati Ika. 2010, hal. 42).
3. Prognosis BBLR

12

Kematian perinatal pada BBLR delapan kali lebih besar


dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis
akan lebih buruk lagi apabila berat badan makin rendah.
Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh
seringnya dijumpai kelainan, komplikasi neonatal seperti
asfiksial, aspirasi, pneumonia, perdarahan intracranial dan
hipoglikemia, bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai
kerusakan pada saraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ
rendah dan gangguan lainnya, (Mochtar Rustam, 1998, hal
445)
Bayi BBLR seperti yang telah diuraikan di atas dapat
berupa bayi prematur murni atau dismatur. Hal ini sangat
penting dibedakan karena :
a. Morbiditas yang berlainan, misalnya prematuritas murni
mudah menderita komplikasi seperti membrane hialin,
pendarahan intravaskuler dan pneumonia aspirasi.
b. Bayi

dismatur

mekonium,

mudah

menderita

hipoglikemia

sindrom

aspirasi

sintormatik

dan

hiperbilirubinemia.
c. Pada bayi dismatur yang preterm dengan sendirinya
komplikasi bayi prematuritas mungkin juga dapat terjadi.

13

d. Membedakan hal ini sangat penting karena bayi dismatur


harus mendapat makanan dini yang lebih cepat dari pada
premature, (Hasan Rusepno, 1997, hal 1053)
4. Cara Menilai BBLR (Winkjosastro. H, 2007, Hal 773-774)
Adapun cara menilai aktivitas neuromuscular yaitu :
a. Posture
: Dinilai bila bayi posisi terlentang dan
b. Square window

tenang.
: Tangan bayi difleksikan antara ibu jari

dan

telunjuk pemeriksa lalu diukur sudut

antara
c. Arm recoil

shypothenareminence dengan foream.


: Lakukan fleksi lengan bawah selama 5
detik,

kemudian

lengan

dilepas.

Nilailah

diekstensikan dan
derajat kembalinya ke
semula.
d. Pobliteal angle

posisi

Bayi tidur terlentang paha dipegang


sedemikian

terdapat posisi

lutut-dada

setelah itu

dilakuakn

ukurlah
e. Carf Sign

rupa

sehingga

(kneechest

position)

ekstensi

tungkai

bawah,

sudut dibawah lutut tersebut.


: Posisi terlentang, peganglah salah satu
lengan bayi dan usahakan tengan

tersebut

mencapai leher posterior dari bahu sisi


lainnya

angkat

dan

geserlah

14

siku bayi
dimana
f. Heal to ear

diatas dadanya dan lihat sampai


siku tersebut dapat digeser.
: Posisi terlentang, gerakan kaki bayi ke
telinga dari sisi yang sama. Perhatikan

jarak

yang

ekstensi

lutut.

tidak

mencapai

Tabel 1. Bagan Kemantangan Neuromuskular

telinga

dan

15

S
umber

: Surasmi A, 2003

Tabel 2. Ciri Kematangan Fisik Pada Bayi Menurut Ballard

16

Kulit

Merah
seperti
agaragar
transpar
an

Merah
muda
licin/
Halus

Daerah
pucat
retakratak
vena
jarang

Seperti
kertas
kulit,
retak
lebih
dalam,ti
dak ada
vena

Seper
ti
retakretak
meng
kerut

Lanuga

Tidak
ada

Banyak

Permuka
an
sedikit
mengelu
pas
dengan/
tanpa
ruam
sedikit
vena
Menipis

Menghilan
g

Lipatan
plantar

Tidak
ada

Tanda
merah
sangat
sedikit

Lipatan
2/3
anterior

Payudara

Hamper
tidak
ada

Daun telinga

Datar
tetap
terlipat

Areola
datar,
tidak
ada
tonjolan
Sedikit
melengk
ung,luna
k,
lambat
membali
k

Kelamin lakilaki

Skrotum
kosong,ti
dak ada
rugae

Hanya
lipatan
anterior
yang
melintan
g
Areola
seperti
titik
tonjolan
1-2 mm
Bentukn
ya lebih
baik,
lunak
dan
mudah
membali
k
Testis
turun,
sedikit
rugae

Umumny
a tidak
ada
Lipatan
di
seluruh
telapak

Kelamin
perempuan

Klitoris
dan
labia
minora
menonjo
l

Labia
mayora
dan
minora
samasama

Areola
lebih jelas
tonjolan
3-4 mm

Areola
penuh
tonjolan
5-6 mm

Bentuk
sempurna
membalik
seketika

Tulang
rawan
tebal,teli
nga
lebih
kaku

Testis di
bawah,
rugaenya
bagus

Testis
bergantu
ng,
rugaeny
a dalam

Labia
mayora
besar dan
labia
minora
kecil

Klitoris
dan
labia
minora
di tutupi
labia

17

menonjo
l

mayora.

Sumber : Surasmi A, 2003


Ballard menilai maturitas neonatus berdasarkan 7 tanda
kematangan

fisik

dan

tanda

kematangan

neuromuscular.

Penilaian dilakukan dengan cara :


a.
b.
c.
d.

Menilai 7 tanda kematangan fisik


Menilai 6 tanda kematangan neurologik
Hasil penilaian aspek kematangan fisik dan neurologik di jumlah
Jumlah nilai kedua aspek kematangan tersebut dicocokkan
dengan tabel patokan tingkat kematangan menurut Ballard.

Tabel 3. Penilaian Tingkat Kematangan


Nilai
5 10 15 30 25 30 35 40 45
Mingg

26

28 30 32 34

36 38 40 42

50
44

u
Sumber : Surasmi A, dkk, 2003, hal 42
B. Tinjauan Khusus Tentang Bayi Prematur
1. Pengertian
a. Prematuritas adalah bayi dengan masa kehamilan kurang
dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan usia
kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai
Masa Kehamilan (NKB-SMK), (Pantiawati Ika, 2010, hal. 6).
b. Persalinan prematur adalah salah satu persalinan yang
tidak normal dari segi umur kehamilan, yaitu persalinan
yang terjadi pada umur kandungan kurang dari normal

18

(kurang dari 37 minggu atau 259 hari), (Khurniasih, Shinta,


2010).
c. Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan
yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara
20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2.500
gram (Sujiatini, 2009, hal 38).
2. Derajat Prematur (Wiknjosastro H, 2007, hal. 775)
Menurut

Usher

(1975)

dalam

ilmu

kebidanan

bayi

prematuritas digolongkan dalam 3 (tiga) kelompok yaitu :


a)

Bayi

yang

sangat

prematur

(extremely premature) bayi dengan masa gestasi 24-27


minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang
belum atau sudah berkembang. Bayi dengan masa gertasi
28-30

minggu

masih

mungkin

dapat

hidup

dengan

perawatan yang sangat terlatih dan menggunakan alat


yang canggih agar dicapai hasil yang optimum.
b)

Bayi

pada

derajat

prematur

yang

sedang (moderately prematur) : bayi dengan masa gestasi


31-36 minggu. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup
jauh lebih baik di golongan pertama dan gejala sisa yang
dihadapinya kemudian hari juga lebih ringan asal saja
pengelolaan terhadap bayi ini betul-betul intensif.

19

c)

Boderline prematur : masa gestasi 3739 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan
matur biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola
seperti bayi matur. Akan tetapi sering timbul problematik
seperti

yang

dialami

bayi

matur

misalnya

sindroma

gangguan pernafasan, hiperbilirubinemia dan daya hisap


yang lemah.
3. Penyebab Prematuritas (Wiknjosastro H, 2007, hal 782)
Sampai sekarang penyebab terjadinya kelahiran prematur
sbelum diketahui. Beberapa keadaan yang merupakan faktor
predisposisi terjadi kelahiran prematur yaitu :
a) Faktor Ibu
1) Malnutrisi
2) Jarak dua kelahiran yang terlalu dekat
3) Umur ibu < 20 tahun atau > 35 tahun
4) Penyakit jantung atau penyakit kronik lainnya
5) Melahirkan anak > 3
b.

Faktor Janin
1) Cacat bawaan
2) Kehamilan ganda
3) Infeksi dalam rahim

20

c. Faktor Placenta
1)

Placenta previa

2)

Solusio placentas

4. Karakteristik Prematuritas (Manuaba,dkk, 2010, hal. 438)


Tanda-tanda yang ditemukan pada bayi prematur menurut
Manuaba, dkk, 2010, antara lain :
a) Berat badan kurang dari 2500 gram
b) Panjang badan kurang dari 45 cm
c) Lingkar kepala kurang dari 33 cm
d) Lingkar dada kurang dari 30 cm
e) Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
f) Jaringan lemak belum sempurna. Labia minora belum
tertutup oleh labia mayora pada bayi perempuan, pada bayi
laki-laki testis belum turun ke dalam skrotum.
g) Pernafasan sekitar 45-50 kali permenit
h) Frekuensi nadi 100-140 kali permenit
5. Komplikasi Bayi Prematur (Deslidel, dkk, 2011, hal. 108)
Beberapa penyakit yang berhubungan dengan prematur :
a)

Sindrom

gangguan

idiopatik (penyakit membranhialin)

pernafasan

21

b)

Pneumonia aspirasi, karena refleks


menelan dan batuk belum sempurna

c)

Pendaraan spontan pada vertikel otak


lateral, akibat anoksia otak.

d)

Hiperbilirubinemia, karena fungsi hati


belum matang

e)

Hipotermia,

karena

sumber

panas

pada bayi prematur baik lemak subkutan yang masih


sedikit maupun brown fat belum terbentuk.
6. Penatalaksanaan (Wiknjosastro Hanifa, 2007, hal. 778)
Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh
yang perlu utuk pertumbuhan dan perkembangan dan
penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus,
maka perlu diperhatikan pengaturan suhu badan, makanan
bayi dan menghindari infeksi.
Perawatan bayi ini hampir sama dengan bayi normal,
akan tetapi harus khusus diperhatikan pengaturan suhu
lingkungan, pemberian minum, dan bila perlu pemberian
oksigen. Hal Ini disebabkan belum sempurnanya kerja organorgan

tubuh

yang

diperlukan

untuk

pertumbuhan,

perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan

22

diluar uterus. Biasanya kematian disebabkan oleh gangguan


pernapasan, cacat bawaan, trauma pada sistem saraf pusat
atau otak (perdarahan intracranial, anorexia) dan infeksi.
a.Pengaturan Suhu
Bayi premature mudah dan cepat sekali menderita
hipotermia, bila berada di lingkungan dingin. Kehilangan
panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang
relative luas dibandingkan dengan berat badan, kurangnya
jaringan lemak di bawah kulit dan kurangnya lemak coklat
(Brown fat). Untuk itu diusahakan suhu yang hangat untuk
bayi sehingga tubuh bayi dalam keadaan normal. Bila
menggunakan

inkubator,

suhu

inkubator

untuk

bayi

kurang dari 2000 gram harus 35o C, dan untuk bayi


dengan berat badan antara 2000-2500 gram suhunya 34 o
C supaya ia dapat mempertahankan suhu tubuh sekitar
37o C. suhu inkubator dapat diturunkan 1o C setiap minggu
untuk bayi 2000 gram dan secara berangsur-angsur ia
dapat ditempatkan di tempat tidur bayi dengan suhu
lingkungan

24-27o

C.

Bayi

dalam

incubator

hanya

berpakaian popok. Hal ini penting untuk memudahkan


pengawasan mengenai keadaan umum,perubahan tingkah
laku, warna kulit, pernapasan, kejang dan sebagainya

23

sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini


mungkin dan tindakan segera dapat dilaksanakan segera
mungkin, (Winkjosastro H, 2006, hal 778).
b.Pemberian Makan dan Minum
Pada bayi prematur refleks mengisap, menelan, dan batuk
belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, dan
daya enzim pencernaan terutama lipase kurang. Air Susu
Ibu

(ASI)

merupakan

makanan

yang

paling

utama

sehingga ASI-lah yang paling dahulu diberikan. ASI sangat


mudah diterima oleh bayi. Kualitas ASI pada bayi prematur
mengandung kalori lebih tinggi, ini disebabkan karena
kadar lemak lebih tinggi (+ 25 %) dibanding air susu ibu
yang mempunyai bayi matur. Bila faktor menghisap
kurang, maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan
sendok perlahan-lahan atau dengan sonde lambung.
Permulaan cairan yang diberikan sekitar 50-60 cc/kg
BB/hari, (Manuaba, dkk, 2010, hal. 438-439).
Prinsip pemberian minum ialah early feeding, yaitu minum
sesudah bayi berumur 2 jam untuk mencegah turunnya
berat

badan

lebih

hiperbillirubinemia.

dari

10%,

hipoglikemia,

dan

24

Pedoman pemberian minum bayi yaitu :


Hari ke-I

: 60 ml/kg BB/hari

Hari ke-II

: 80 ml/kg BB/hari

Hari ke-III

: 100 ml/kg BB/hari

Hari ke-IV

: 120 ml/kg BB/hari

Hari ke-V

: 140 ml/kg BB/hari

Hari ke-VI

: 180 ml/kg BB/hari

Lalu tambahkan sedikit demi sedikit setiap hari hingga


mencapai 200 ml/kg BB/hari sekitar hari ke 10-14 sesuai
kondisi bayi.
Rumus untuk satu kali pemberian minum

BB per h ari x jumlah kebutu h an dalam h ari


jumla h pemberian

Contohnya :
Berat lahir
Kebutuhan cairan hari I
Jumlah pemberian

: X gram
: 60 cc
: 12 kali

Rumus untuk satu kali pemberian minum

=.cc

25

Xgram x 60 cc
12

= = X cc / 2 jam

Suradi Rulina, 2003, hal 3.


c. Menghindari infeksi
Bayi prematuritas sekali terkena infeksi, karena daya
tahan tubuh masih lemah, kemampuan leukosit masih
kurang dan pembentukannya belum sempurna. Oleh
karena

itu,

upaya

preventif

sudah

dilakukan

sejak

pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan


prematuritas, (Manuaba, 2010, hal. 439).
Tindakan

aseptic

dan

antiseptic

dapat

mencegah

terjadinya infeksi terutama infeksi silang, oleh karena itu


pada petugas perlu disadarkan akan bahaya infeksi pada
bayi. Selanjutnya perlu :
1). Diadakan pemisahan antara bayi yang terkena infeksi
dengan bayi yang tidak terkena infeksi.
2). Mencuci tangan setiap kali sebelum dan sesudah
memegang seorang bayi.
3). Membersihkan tempat tidur bayi sesudah tidak dipakai
lagi.
4). Membersihkan ruangan pada waktu-waktu tertentu

26

5). Setiap bayi mempunyai perlengkapan sendiri


6). Kalau mungkin bayi dimandikan ditempat tidurnya
masing-masing dengan perlengkapan sendiri
7). Setiap petugas dibangsal bayi harus memakai pakaian
yang telah disediakan
8). Petugas yang menderita penyakit menular harus
dilarang merawat bayi
9). Kulit dan tali pusat bayi harus dibersihkan sebersihbersihnya
10). Para pengunjung orang sakit hanya boleh melihat bayi
dari belakangan kaca, (Wiknjosastro Hanifa, 2007, hal
785).
d. Penimbangan ketat (Sarwono Prawirohardjo, 2006).
Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi/nutrisi
bayi dan

erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh

sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan


dengan ketat
C.

Tinjauan Tentang Variabel yang Diteliti


1. Umur Ibu

27

Menurut Drs. Adi Gunawan dalam Kamus Praktis Bahasa


Indonesia Tahun 2010, umur adalah lama waktu manusia
hidup atau ada sejak dilahirkan. Dalam reproduksi sehat
dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan
adalah 20-35 tahun (Wiknjosastro Hanifa, 2007, hal. 23).
Umur ibu merupakan salah satu faktor risiko untuk melahirkan
BBLR. Pada umur <20 tahun fungsi dari alat reproduksinya
belum matang sehingga mengganggu perkembangan janin.
terjadi kompetisi antara ibu dan bayi dalam memenuhi nutrisi
selama

masa kehamilan. Pada usia >35 tahun terjadi

degenerasi

fungsi

alat

reprouksinya

sehingga

dapat

menyebabkan terjadinya gangguan pada janin, (Hidayati,


2009).
2. Paritas
Menurut Helen Varney dalam buku saku bidan (2010) paritas
adalah jumlah kehamilan diakhiri dengan kelahiran janin yang
memenuhi

syarat

untuk

melangsungkan

kehidupan

(28

minggu atau 1000 gram), menurut Fortney A. Paritas yang


kemungkinan beresiko bila hamil dan melahirkan adalah
paritas 1 dan paritas >3 (Manuaba, 2010, hal. 39). Pada
paritas 1 disebabkan rahim baru pertama kali menerima hasil

28

konsepsi dan keluwesan otot rahim masih terbatas untuk


menyelesaikan pertumbuhan janin. Sedangkan ibu dengan
paritas 3 disebabkan karena kehamilan yang berulang
sehingga akan menyebabkan endometrium menjadi cacat.
Pada paritas 2 dan 3 adalah paritas paling aman ditinjau dari
sudut kesehatan, (Wiknjosastro Hanifa, 2007, hal. 23, 775).

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL
A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti
Persalinan prematur adalah salah satu persalinan yang tidak
normal dari segi umur kehamilan, yaitu kurang dari 37 minggu
atau 259 hari. Prematur merupakan masalah besar karena
dengan berat badan janin yang kurang dan belum cukup umur
maka alat-alat vital belum sempurna sehingga mengalami
kesulitan

untuk

tumbuh

dan

berkembang

dengan

baik,

(Kurniasih. Shinta, 2010).


1. Umur Ibu
Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk
kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun,(Wiknjosastro

29

Hanifa, 2007, hal 23). Umur ibu merupakan salah satu faktor
risiko untuk melahirkan BBLR. Pada umur <20 tahun fungsi
dari alat reproduksinya belum matang sehingga mengganggu
perkembangan janin. terjadi kompetisi antara ibu dan bayi
dalam memenuhi nutrisi selama masa kehamilan. Pada usia
>35

tahun

terjadi

degenerasi

fungsi

alat

reprouksinya

sehingga dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada


janin, (Hidayati, 2009).

2. Paritas
Menurut Fortney A. Paritas yang kemungkinan beresiko bila
hamil dan melahirkan adalah paritas 1 dan paritas >3
(Manuaba, 2010, hal. 39). Pada paritas 1 disebabkan rahim
baru pertama kali menerima hasil konsepsi dan keluwesan
otot rahim masih terbatas untuk menyelesaikan pertumbuhan
janin. Sedangkan ibu dengan paritas > 3 disebabkan karena
kehamilan

yang

berulang

sehingga

akan

menyebabkan

endometrium menjadi cacat, Pada paritas 2 dan 3 adalah


paritas

paling

aman

ditinjau

dari

(Wiknjosastro Hanifa, 2007, hal. 23, 775).

sudut

kesehatan,

30

B. Kerangka Variabel Yang Diteliti


Dengan uraian di atas, maka dibuat suatu kerangka yang
menjadi dasar pemikiran dalam variabel yang diteliti :
Umur / Ibu

Prematu
r
Paritas Ibu

Keterangan

:
: Variabel yang diteliti
: Variabel Independen
: Variabel Dependen

C. Defenisi Operasional dan Kreteria Objektif


1. Prematur
Prematur adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari
37 minggu dan berat badan sesuai dengan usia kehamilan
atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan
(NKB-SMK), (Pantiawati Ika, 2010, hal. 6).
a.
b.

Ya

: Prematur apabila

umur kehamilan < dari 37 minggu


Tidak : Prematur apabila
umur kehamilannya > dari 37 minggu.

31

2. Umur Ibu
Lama waktu hidup atau sejak dilahirkan sampai pada saat
ibu

melahirkan dan tercatat/tertera dalam register

persalinan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah


Makassar Tahun 2010.
Kriteria Objektif :
Risiko Tinggi

: Apabila umur ibu < 20 tahun atau > 35

tahun
Risiko Rendah

: Apabila umur ibu 20-35 tahun.

3. Paritas
Paritas yang dimaksudkan peneliti adalah banyaknya anak
yang

telah

dilahirkan

oleh

ibu,

dimana

ibu

tersebut

mengalami persalinan
Kriteria Objektif
Risiko Tinggi

: Apabila paritas 1 dan > 3 orang

Risiko Rendah

: Apabila paritas 2 dan 3 orang.


BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan
deskriptif (penggambaran terhadap suatu keadaan) bermaksud

32

melihat Gambaran Kejadian Prematur di Rumah Sakit Ibu dan


Anak Siti Fatimah Makassar Tahun 2010.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Ibu dan Anak
Siti Fatimah Makassar. Penelitian dilakukan selama 5 hari dari
tanggal 1- 5 Juli 2011.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sKeseluruhan sasaran atau sejumlah besar
subjek yang akan di teliti dan memiliki criteria tertentu, (Noor
Hasnah M, 2010 hal.63). Populasi dalam penelitian ini adalah
semua ibu yang melahirkan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti
Fatimah Makassar Tahun 2010 sebanyak 2.210 kelahiran
hidup.

2. Sampel
Sampel adalah

bagian dari populasi yang dipilih dengan

kreteria dan cara tertentu sehingga mewakili populasinya,


(Noor Hasnah M, 2010 hal.63). Sampel dalam penelitian ini
adalah semua ibu yang melahirkan bayi prematur di Rumah

33

Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar Tahun 2010


sebanyak 55 bayi.
3. Prosedur pengambilan sample
Teknik pengambilan sampel secara total sampling yaitu
semua bayi yang lahir Prematur dan dirawat di Rumah Sakit
Ibu dan Anak Sitti Fatimah Makassar Tahun 2010.
D.

Metode Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yaitu data yang
diperoleh dari buku pencatatan dan pelaporan di Rumah Sakit
Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar Tahun 2010.

E.

Pengolahan dan Penyajian Data


Data

diolah

disajikan

secara

dalam

manual

bentuk

menggunakan

table,

distibusi

kalkulator

frekuensi

dengan

persentase dan penjelasan tabel.

F. Analisa Data
Data dapat dianalisa dengan presentase berdasarkan rumus :
P=

f
n

x 100%

dan

34

Keterangan :
f

: Jumlah pengamatan (observasi)

P : Presentase yang dicari


n : Jumlah sampel

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian

35

Penelitian mengenai Gambaran Kejadian


Rumah

Sakit

Ibu

dan

Anak

Siti

Fatimah

Prematur di

Makassar

yang

dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 1 - 5 Juli 2010 dengan


menggunakan data sekunder dan didapatkan sebanyak 55 bayi
lahir dengan Prematur dari 2.210 ibu yang melahirkan di Rumah
Sakit Ibu dan anak Siti Fatimah Makassar. .
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan, maka hasil
penelitian ini selengkapnya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Umur Ibu
Sesuai dengan tujuan penelitian ini yang mengacu kepada
faktor umur yang merupakan variabel independen diperoleh
bahwa distribusi umur dari 55 sampel terlihat umur terendah
adalah 17 tahun dan tertua 45 tahun dengan rata-rata 20
tahun. Selanjutnya untuk melihat bagaimana gambaran
tentang kelahiran Prematur berdasarkan kategori umur dapat
dilihat pada tabel berikut :

36

Tabel 4 : Distribusi Kejadian prematur menurut Umur


di Rumah
Sakit Ibu dan Anak Sitti Fatimah
Makassar Tahun 2010
Umur Ibu (Tahun)

Frekuensi

Persentase

Risiko Tinggi

12

21,8

Risiko Rendah

43

78,2

Jumlah

55

100

Sumber :
Sakit Ibu dan
2010
Secara

Data sekunder dari hasil pencatatan di Rumah


Anak Siti Fatimah Makassar Tahun
keseluruhan

berdasarkan

tabel

4,

memperlihatkan bahwa dari 55 ibu yang melahirkan bayi


Prematur di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar,
diperoleh jumlah prematur terbanyak pada kelompok umur
20-35 tahun sebanyak 43 orang (78,2 %) yang secara medis
merupakan umur dengan kelompok risiko rendah, sedangkan
untuk kelompok umur risiko tinggi diperoleh distribusi 12
orang (21,8%) untuk kelompok umur <20 dan >35 tahun.

37

2. Paritas
Tabel 5 : Distribusi
Paritas di
Fatimah Makassar

Kejadian
Prematur
menurut
Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti
Tahun 2010

Paritas

Frekuensi

Persentase

Risiko Tinggi

31

56,3

Risiko Rendah

24

43,7

Jumlah

55

100

Sumber : Data sekunder dari hasil pencatatan di Rumah


Sakit Ibu
dan Anak Siti Fatimah Makassar Tahun
2010.
Berdasarkan table 5, memperlihatkan bahwa dari 55 ibu
yang melahirkan bayi prematur di Rumah Sakit Ibu dan Anak
Siti Fatimah Makassar, diperoleh jumlah prematur terbanyak
pada kelompok paritas 1 dan > 3 sebanyak 31 orang (56,3%),
dimana merupakan paritas dengan risiko tinggi, sedangkan
kelompok paritas risiko rendah, diperoleh distribusi 24 orang
(43,7%) pada paritas 2-3.

38

3. Umur dan Paritas


Tabel 6 : Distribusi Kejadian Prematur menurut umur
dan Paritas di Rumah Sakit Ibu dan Anak
Siti Fatimah Makassar Tahun 2010
Paritas
Umur
(Tahun)
Risiko
Tinggi
Risiko
Rendah
Jumlah
Sumber :
Sakit Ibu
2010s.

Total

Risiko
Tinggi
F
%

Risiko
rendah
F
%

16,1

33,3

13

23,6

26

83,9

16

66,7

42

76,4

31

100

24

100

55

100

Data sekunder dari hasil pencatatan di Rumah


dan Anak Siti Fatimah Makassar Tahun

Berdasarkan tabel 6, menunjukkan bahwa dari 55 ibu


yang melahiran bayi prematur di Rumah Sakit Ibu dan Anak
Sitti Fatimah Makassar, dengan melihat keterkaitan umur
dengan paritas sebanyak 26 orang (83,9%) ditemukan pada
umur 20-35 tahun dengan paritas 1 dan > 3, yang termasuk
dalam umur resiko rendah tetapi berisiko tinggi dalam
paritasnya.

39

B. Pembahasan
Setelah melakukan penelitian mengenai Gambaran Kejadian
Prematur di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar
Tahun 2010 terdapat 336 ibu yang melahirkan BBLR dan
ditemukan Prematur

sebanyak 55 orang (16,4 %).Untuk lebih

jelasnya, maka secara sistematik hasil penelitian ini dapat


dibahas

berdasarkan

variable-variabel

penelitian

sebagai

berikut :
1. Umur Ibu
Menurut Wikmjosastro Hanifa, 2007 mengatakan bahwa
dalam kurun reproduksi sehat dikatakan usia yang aman
untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Hasil
penelitian menunjukan bahwa kejadian Prematur menurut
golongan umur di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah
Makassar Tahun 2010 paling banyak terdapat pada umur ibu
20 - 35 tahun yaitu 43 (78,2 %).
Secara reproduktif bahwa wanita dalam usia tersebut
dianggap kecil kemungkinan untuk terjadi komplikasi dalam
kehamilan termasuk lahirnya anak dengan Prematur. Hasil
penelitian ini berbeda dengan teori tersebut apabila umur
dipandang sebagai faktor tunggal namun perlu dipahami

40

bahwa selain umur masih terdapat faktor lain yang dapat


menimbulkan resiko tersebut yang dalam penelitian ini tidak
diperkirakan

menjadi

faktor

penting

dalam

kelahiran

Prematur. Selain itu, berdasarkan fakta lapangan perlu


diketahui bahwa sebagian besar ibu yang melahirkan bayi
prematur di Rumah sakit Siti Fatimah Tahun 2010 berusia 2035 tahun. Oleh karena itu, secara tidak langsung, kelahiran
prematur yang tertinggi terjadi pada rentan umur 20-35
tahun, (Rekam Medik, RSIA Siti Fatiamah 2010). Pembahasan
ini pun, didukung oleh penelitian Intan T Simamora di RS St.
Elisabeth Medan, yang menyatakan tingginya proporsi ibu
yang melahirkan bayi prematur pada umur 20-35 tahun
karena umur demikian merupakan kelompok usia subur untuk
hamil dan melahirkan, (Simamora intan, 2008).
2. Paritas
Paritas yang berisiko bila hamil dan melahirkan adalah
paritas 1 dan paritas > 3 (Manuaba, 2010, hal. 39). Pada
paritas 1 disebabkan rahim baru pertama kali menerima hasil
konsepsi dan keluwesan otot rahim masih terbatas untuk
menyelesaikan pertumbuhan janin. Sedangkan ibu dengan

41

paritas > 3 disebabkan karena kehamilan yang berulang


sehingga akan menyebabkan endometrium menjadi cacat.
Hasil

penelitian

ini,

sesuai

dengan

teori

yang

mengatakan paritas 1 dan > 3 beresiko untuk melahirkan bayi


prematur. Hal ini, terbukti dengan jumlah prematur pada
paritas resiko tinggi tersebut sebesar 31 orang (56,3%) dan
bila

dilihat

dari

keterkaitan

antara

umur

dan

paritas

kecenderungan terbesar untuk melahirkan prematur pada


paritas 1 dan >3. Hal ini, disebabkan karena pada paritas 1
rahim baru pertama kali menerima hasil konsepsi dan
keluwesan otot rahim masih terbatas untuk menyelesaikan
pertumbuhan janin dan pada paritas > 3 disebabkan karena
kehamilan

yang

berulang

sehingga

menyebabkan

endometrium menjadi cacat, (Wiknjosastro Hanifa,2007, hal


23,775).
Penelitian ini juga, membuktikan bahwa masyarakat
sudah mempunyai kesadaran dan pengetahuan yang tinggi
tentang usia reproduksi yang aman untuk melahirkan terbukti
dengan sebesar 78,2% ibu yang melahirkan di usia 20-35
tahun. Walaupun pada realita yang ada bahwa pada usia 20

42

35 dengan paritas 2-3 tetap bisa melashirkan bayi dengan


Prematur, (Rekam Medik, RSIA Siti Fatimah 2010).

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

Kesimpulan

43

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah


diuraikan tentang Gambaran kejadian Prematur di Rumah Sakit
Ibu

dan

Anak

Siti

Fatimah

Makassar

Tahun

2010,

maka

disimpulkan sebagai berikut :


1.

Kejadian

prematur

berdasarkan

umur

ibu

saat

melahirkan, dimana menunjukkan bahwa kejadian prematur


tertinggi terjadi pada ibu yang berisiko rendah yaitu sebesar
2.

78,2%.
Kejadian prematur berdasarkan paritas ibu, dimana
menunjukkan bahwa kejadian prematur tertinggi terjadi pada
ibu yang berisiko tinggi yaitu sebesar 56,3%

B.

Saran
1. Perlu perhatian dari instansi kesehatan maupun Rumah Sakit
untuk

menberikan

penyuluhan

yang

berkesinambungan

tentang penyebab terjadinya BBLR khususnya prematur dan


pentingnya mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi
seimbang agar bayi yang dikandungnya

tumbuh dan

berkembang dengan baik sehingga lahir dengan berat badan


normal karena berat lahir bayi merupakan penentu indicator
kualitas hidup selanjutnya.

44

2. Peningkatan

pelayanan

kesehatan

ibu

dan

anak

yang

berorientasi pada norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera


serta peningkatan penyuluhan kepada ibu tentang resiko
melahirkan paritas yang tinggi yaitu paritas 1 dan > 3.