Anda di halaman 1dari 1

BERTEKUN DALAM IMAN

Kolose 1:15-23 by Pdt. Heru Tri Budiyanto S.PAK


Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau
digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan diseluruh alam
dibawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya (ayat 23)

Iman adalah respon positif manusia terhadap anugerah Allah. Iman tidak tumbuh secara otomatis.
Iman adalah sesuatu yang dinamis dan aktif. Kesejatian iman akan nampak dalam pikiran, sikap dan
tindakan. Nats Alkitab hari ini memperlihatkan proses Ilahi yang dilakukan Yesus untuk mengubah
segala sesuatu menjadi baru: Pribadi Kristus mendamaikan segala sesuatu (termasuk manusia
berdosa) dalam tubuh jasmani-Nya di atas kayu salib, kemudian Ia memposisikan kita sebagai
pribadi yang kudus, tak bercela dan tak bercacat (ay. 15:22).
Posisi baru sebagai orang kudus dan berkenan di hadapan Allah tersebut merupakan
anugerah Allah yang kita terima karena iman, bukan karena perbuatan baik atau kesalehan kita.
Sudah seharusnya kita mengucap syukur kepada-Nya dan bertanggung jawab dengan posisi
tersebut. Di ayat 23 kemudian Paulus menunjukkan jalan hidup yang seharusnya sebagai wujud
tanggung jawab anugerah dan posisi yang telah dimiliki orang-orang Kristen. Tanggung jawab itu
adalah bertekun dalam iman.
Dibutuhkan tekad yang kuat untuk bisa hidup sesuai dengan posisi sebagai orang kudus
di tengah-tengah dunia yang cemar dan gelap. Akan ada banyak cobaan, godaan dan tantangan
serta berbagai penderitaan yang mencoba menarik kita tetap dalam hidup kita yang lama. Maka
tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bertekun dalam iman. Tidak ada jalan mudah dan cepat, kita
harus berani membuat komitmen, ulet, tegas dan tidak mau kompromi dengan pengajaranpengajaran yang bertentangan dengan Injil Yesus.
Bertekun dalam iman secara alami berarti meneladani berbagai ketekunan jemaat mulamula. Tetapi secara pribadi kita bisa membangun kebiasaan kudus dengan cara menghayati (dan
memeditasikan) pribadi Kristus sebagaimana telah dijelaskan di ayat 15-22 dan pengorbanan-Nya
yang sudah membayar lunas semua dosa dan masalah hidup kita. Dengan cara demikian kita selalu
diarahkan untuk fokus pada kasih karunai Allah yang menjadi dasar seluruh kehidupan kita. Dengan
kasih karunia-Nya kita tidak akan menyerah kalah dengan berbagai tantangan, tetapi kita akan tetap
teguh berdiri dalam pengharapan kita. (htb/V/2014)
Dibutuhkan tekad yang kuat untuk bisa hidup sesuai dengan posisi sebagai orang kudus di tengahtengah dunia yang cemar dan gelap