Anda di halaman 1dari 2

Pertanyaan :

1. Mengapa bahan baku simplisia perlu dikeringkan segera setelah dipanen?


Jawab : karena pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan pada
bahan dengan cara mengurangi kadar air, sehingga proses pembusukan dapat
terhambat. pengeringan bertujuan untuk mencegah kerusakan kandungan zat aktif
yang ada dalam tanaman sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Pengeringan simplisia harus dilakukan secepatnya sebab aktivitas enzim akan naik
dengan adanya air dalam simplisia, apalagi air tersebut dari sisa pencucian. Dengan
pengeringan, kadar air yang terdapat dalam simplisia akan berkurang sampai pada
titik tertentu yang menyebabkan enzim-enzim menjadi tidak aktif. Selain itu, dalam
keadaan kering, dapat mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri. Kapang sudah dapat
berkembang dengan baik pada simplisia dengan kadar air sekitar 18%. Kadar air 10%
sudah cukup untuk meperpanjang waktu simpan simplisia (Hutapea, 1991). Dengan
demikian dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak tahan disimpan
dalam waktu yang lama.
2. Apakah perbedaan antara kadar air dengan susut pengeringan ?
Jawab : kadar air adalah banyaknya hidrat yang terkandung zat atau banyaknya air
yang diserap dengan tujuan untuk memberikan batasan minimal atau rentang tentang
besarnya kandungan air dalam bahan. Sedangkan susut pengeringan adalah
pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 1050 C selama 30 menit
atau sampai berat konstan. Tujuannya untuk memberikan batasan maksimal (rentang)
tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan,nilai atau rentang
yang diperoleh terkait dengan kemurnian dan kontaminasi (Anonim, 1995).

3. Jelaskan tentang beberapa metode penetapan kadar air sediaan herbal ?


Jawab :
Penentuan kadar air dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu metode (Anonim,
1995):
1. Metode gravimetri
Penentuan kadar air dalam bahan pangan dengan metode thermogravimetri
dilakukan dengan penentuan kehilangan berat sampel setelah diletakkan dalam

oven (konveksi, vakum maupun microwave) selama waktu tertentu. Selain air,
senyawa volatile akan ikut hilang selama proses pengeringan dalam oven.
2. Metode destilasi
Metode destilasi pada umumnya digunakan untuk bahan pangan yang memiliki
kadar air tinggi dan mengandung beberapa senyawa- senyawa yang mudah
menguap. Prinsip metode destilasi adalah air dikeluarkan dari bahan dengan
destilasi azeotropik kontinyu menggunakan pelarut immicible.
3. Metode Karl Fischer
Metode ini digunakan untuk mengukur kadar air contoh dengan metode volumetri
berdasarkan prinsip titrasi. Titran yang digunakan adalah pereaksi Karl Fischer
(campuran iodin, sulfur dioksida, dan pridin dalam larutan metanol). Pereaksi karl
fischer pada metode ini sangat tidak stabil dan peka terhadap uap air oleh karena
itu sebelum digunakan pereaksi harus selalu distandarisasi.
4. Metode desikasi kimia
Dengan bantuan bahan kimia yang mempunyai kemampuan menyerap air tinggi,
seperti: fosfor pentaoksida (P2O5), barium monoksida (BaO), magnesium
perklorat (MgCl3), kalsium klorida anhidrous (CaCl2), dan asam sulfat (H2SO4)
pekat. Senyawa P2O5, BaO, dan MgClO3.

Daftar Pustaka
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Syamsuhidayat, S.S and Hutapea, J.R, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia,
edisi kedua, Departemen Kesehatan RI, Jakarta