Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PEMULIAAN TERNAK

Disusun oleh:
Nama

NPM

Adi Juniar

200110140197

Ramadhan Febriansyah

200110140145

Eka Karmilah

200110140159

Galuh Rahayu

200110140321

Suryani
Kelompok:9

200110130206
Kelas:F

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ILMU PEMULIAAN TERNAK
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

Disusun oleh:
Nama

NPM

1. Suryani

200110130206

2. Ramadhan

200110140145

Tanda Tangan

Febriansyah
3. Eka Karmilah

200110140159

4. Adi Juniar H

200110140197

5. Galuh Rahayu

200110140321

Telah diterima dan disyahkan oleh Dosen Mata Kuliah Ilmu


Pemuliaan Ternak Pada Tanggal

Menerima dan mengesyahkan


Dosen Mata Kuliah Ilmu Pemuliaan ternak

Nama: Prof. Dr. Ir. Sri Bandiati Komar


NIP

: 195009404 197602 2 001

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
kami

dapat

menyelesaikan

laporan

akhir

praktikum

ilmu

pemuliaan ternak ini dengan baik meskipun banyak kekurangan


didalamnya.
Kami sangat berharap laporan akhir praktikum ini dapat
berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan
kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah
ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan laporan akhir praktikum yang telah kami buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa

saran

yang

membangun.

Semoga laporan akhir praktikum ini dapat dipahami bagi


siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah
disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa
depan.

Sumedang, 9 Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ................................................................... 1
Lembar Pengesahan.............................................................
...................................................................2
Kata Pengantar ................................................................... 3
Daftar Isi
................................................................... 4
Praktikum 1 : Analisis Deskripsi Populasi
1.1 Pendahuluan
......................................................
1.2 Tujuan Praktikum ......................................................
1.3 Tinjauan Kepustakaan.................................................
7
1.4 Metoda Praktikum ......................................................
1.5 Hasil dan Pembahasan................................................
8
1.6 Kesimpulan
......................................................
1.7 Daftar Pustaka
......................................................

6
6

11
12

Praktikum 2 : Pendugaan Nilai Repitabilitas


2.1 Pendahuluan
......................................................
2.2 Tujuan Praktikum ......................................................
2.3 Tinjauan Kepustakaan.................................................
13
2.4 Metoda Praktikum ......................................................
2.5 Hasil dan Pembahasan................................................
16
2.6 Kesimpulan
......................................................
2.7 Daftar Pustaka
......................................................

13
13

15

18
18

Praktikum 3 : Pendugaan Nilai Heritabilitas Dengan Pola Regresi


3.1 Pendahuluan
......................................................
3.2 Tujuan Praktikum ......................................................
3.3 Tinjauan Kepustakaan.................................................
19
3.4 Metoda Praktikum ......................................................

19
19

21

3.5 Hasil dan Pembahasan................................................


22
3.6 Kesimpulan
......................................................
3.7 Daftar Pustaka
......................................................

23
23

Halaman
Praktikum 4 : Pendugaan Nilai Heritabilitas Pola Half-Sib Analisis
Ragam
4.1 Pendahuluan
......................................................
4.2 Tujuan Praktikum ......................................................
4.3 Tinjauan Kepustakaan.................................................
25
4.4 Metoda Praktikum ......................................................
4.5 Hasil dan Pembahasan................................................
30
4.6 Kesimpulan
......................................................
4.7 Daftar Pustaka
......................................................

24
25

25

31
32

Praktikum 5 : Menyusun Indeks Seleksi


5.1 Pendahuluan
......................................................
5.2 Tujuan Praktikum ......................................................
5.3 Tinjauan Kepustakaan.................................................
34
5.4 Metoda Praktikum ......................................................
5.5 Hasil dan Pembahasan................................................
38
5.6 Kesimpulan
......................................................
5.7 Daftar Pustaka
......................................................

33
34

34

39
39

Praktikum 6 : Simulasi Respon Seleksi


6.1 Pendahuluan
......................................................
6.2 Tujuan Praktikum ......................................................
6.3 Tinjauan Kepustakaan.................................................
41
6.4 Metoda Praktikum ......................................................
6.5 Hasil dan Pembahasan................................................
50

40
40

47

6.6 Kesimpulan
6.7 Daftar Pustaka

......................................................
......................................................

56
56

PRAKTIKUM 1
ANALISIS DESKRIPSI POPULASI
1.1

Pendahuluan
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek

subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang


ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2004). Secara umum belum dilakukan
intervensi atau spesies yang terkandung di dalamnya. Dalam
pemuliaan, populasi dasar perlu dianalisis secara deskriptif
menggunakan analisis statistik. Analisis deskriptif terhadap
populasi meliputi ukuran tendensi pusat atau ukuran pemusatan,
merupakan gambaran populasi yang ada dalam populasi diduga
menyebar

secara

normal.

Dalam

ukuran

terdensi

pusat

digunakan untuk menghitung suatu keragaman dalam populasi


Dimensi tubuh merupakan faktor yang erat hubungannya
dengan penampilan dan sifat produksi seekor ternak. Informasi
mengenai bobot badan seekor sapi sangat diperlukan bagi
mereka yang mempunyai kegiatan yang berhubungan dengan
ternak sapi seperti, jual beli ternak, penentuan dosis obat dan
keperluan dalam pengelolaan peternakan.
Ukuran-ukuran tubuh ternak mempunyai banyak kegunaan
antara lain untuk menaksir bobot badan dengan ketelitian cukup

tinggi. Ukuran-ukuran tubuh ternak dapat berbeda satu sama


lain. Setiap komponen tubuh Ansar Halid Mahasiswa Peternakan,
Nibras K.Laya, Muhammad Sayuti Masud mempunyai kecepatan
pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda, karena
pengaruh genetik maupun lingkungan, tetapi dapat berkorelasi
satu sama lain.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Mengetahui deskripsi populasi dasar pada populasi sapi.
2. Mengetahui ukuran penyebaran untuk menggambarkan
keragaman atau variasi tiap individu.
1.3

Kajian Kepustakaan
Menurut Hidayat syah penelitian deskriptif adalah metode

penelitian yang digunakan untuk menemukan pengetahuan yang


seluas-luasnya terhadap objek penelitian pada suatu masa
tertentu. Sedangkan menurut Punaji Setyosari ia menjelaskan
bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan
untuk menjelaskan

atau

mendeskripsikan

suatu

keadaan,

peristiwa, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait


dengan variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik dengan
angka-angka maupun kata-kata. Hal senada juga dikemukakan
oleh

Best

bahwa

penelitian

deskriptif

merupakan

metode

penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi


objek sesuai dengan apa adanya.
Sukmadinata (2006:72) menjelaskan Penelitian deskriptif
adalah

suatu

bentuk

penelitian

yang

ditujukan

untuk

mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena


alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa
berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan,
kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan
fenomena lainnya

Pengertian lainnya, diungkapkan oleh Nawawi (Margono, 2004:


118).
Ia menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek
penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan,
tumbuh-tumbuhan,

gejala-gejala,

nilai

tes,

atau

peristiwa-

peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karaktersitik


tertentu di dalam suatu penelitian. Kaitannya dengan batasan
tersebut, populasi dapat dibedakan berikut ini.
1.

Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi


yang memiliki bataskuantitatif secara jelas karena memilki
karakteristik yang terbatas. Misalnya jumlah sapi yang

2.

Produktif sebanyak 50 ekor dalam populasi sapi 120 ekor.


Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni
populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya,
sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah
secara kuantitatif.

Misalnya sapi PO local, yang berarti

jumlahnya harus dihitung sapi PO sampai sekarang dan


yang akan datang.
Pangestu

Subagyo

(2003:1)

menyatakan

statistika

deskriptif adalah bagian statistika mengenai pengumpulan data,


penyajian,

penentuan

nilai-nilai

statistika,

pembuatan

diagramatau gambar mengenai sesuatu hal, disini data yang


disajikan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami atau dibaca.
Sudjana

(1996:7) menjelaskan

fase statistika

dimana

hanya berusaha melukiskan atau mengalisa kelompok yang


diberikan tanpa membuat atau menarik kesimpulan tentang
populasi atau kelompok yang lebih besar dinamakan statistika
deskriptif.
1.4

Metode Pelaksanaan

10

Metode simulasi dengan data-data populasi ternak yang


ada kemudian diolah menjadi gambaran umum bagi praktikan
mengenai kondisi suatu peternakan.
1.5 Hasil Dan Pembahasan
1.5.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Ukuran lingkar dada dan tinggi pundak sampel
populasi
Tinggi

Lingkar Dada

(x- x )

(x-

(y-

pundak (cm)

(cm)

(y- y )

x )2

y )2

175,5

275,6

74,36

27,0

204,4

2
3
4
5
6
7

167,7
171,6
170,3
169,0
167,7
162,5

253,5
263,9
260,0
266,5
252,2
253,5

20,28
3,38
0
-6,76
23,66
60,84

4
6,76
1,69
0
1,69
6,76
60,8

9
60,84
6,76
1,69
27,04
82,81
60,84

11,83
40,56

4
1,69
27,0

82,81
60,84
27,04

No

8
9

162,0
175,5

252,2
269,1

10

174,2

266,5

20,28

4
15,2

Jumla

1703

2613

248,43

1
148,

615,1

h
Rata-

72

170,3

261,3

rata
Parameter
n;
Minimum;
Maksimum;
Ragam Sampel

X
10
162,5
175,5
16,524

y
10
252,2
275,6
68,351

Penjelasan
Jumlah sampel
Nilai minimum
Nilai maksimum
148,72
Ragam (x) =
9

11

16,524
Ragam (y) =

615,16
9

=68,351

Rata-rata

170,3

261,3

StDev

4,065026992

Peragam

27,60333333

Korelasi

0,821344412

8,26747307

Akar ragam

9
=
=

248,43
= 27,603
9
27,603
(4,065 x 8,267)

=0,8213
Koefisien
Regresi (b)

1,670454545

27,603
16,524

=1,6704

1.5.2 Pembahasan
Analisis deskriptif adalah bentuk analisis data penelitian
untuk menguji generalisasi hasil penelitian berdasarkan satu
sampel. Analisa deskriptif dilakukan dengan pengujian hipotesis
deskriptif. Hasil analisisnya adalah, apakah hipotesis penelitian
dapat

digeneralisasikan

atau

tidak,

ukuran

pemusatan

merupakan gambaran populasi .


n

Rata-rata : =

Xi
i=l

untuk rata-rata populasi :

N
Dari hasil praktikum yang dilakukan rumus tersebut
digunakan untuk mengetahui rata-rata lingkar dada dan tinggi
pundak, didapat rata-rata lingkar dada 261,3 adalah, dan tinggi
pundak adalah 170,3. Deskripsi Terhadap populasia meliputi
ukuran tendensi pusat atau ukuran pemusatan, merupakan
gambaran populasi yang dalam populasi panmixia diduga

12

menyebar normal. Random mating (panmixia) adalah suatu


perkawinan dimana tiap individu dlm populasi mempunyai
kesempatan yg sama untuk kawin dengan individu lain dlm
populasi

tersebut.

Adapun Ukuran pemusatan yang dicari dari suatu populasi


sebanyak 10 sapi adalah :
Nilai minimum tinggi pundak dari 10 ekor sapi sebesar
162,5 cm dan lingkar dadanya sebesar 252,5 cm.
Nilai maksimum tinggi pundak dari 10 ekor sapi sebesar
175,5 cm dan lingkar dadanya seesar 275,6 cm.
Ragam dan standar deviasi dalam praktikum

yang

dilakukan guna mengetahui rata-rata dari nilai simpangan


dan

ukuran

penyebaran

dalam

penghitungan

tinggi

pundak dan lingkar dada. Ragam dapat dihitung dengan


menggunakan formula:

Ragam x =

148,72

X i X

= 14,872

10
Ragam y = 615,16

= 61,516

10
Ragam yang didapat dari tinggi pundak sebesar 14,8,
dan ragam untuk lingkar dada sapi sebesar 61,5
Simpangan baku atau standar diviasi merupakan gambaran
nilai penyimpangan dari tiap individu terhadap rataratanya, maka standar deviasiasinya didapat ragam x 4,06
dan ragam y= 8,26

13

Koefisien keragaman atau koefisien variasi, merupakan


gambaran keragaman suatu sifat yang diukur, digunakan
untuk membandingkan sifat sifat yang diukur degan
satuan yang berbeda. Koefisien keragaman lebih muda
dihitung dalam presentasi.
KK= / 100% pada populasi
KV (TP)=

4,0650
170,3

x 100% = 2,38 %

KV (LB)=

8,2674
261,3

x 100% = 3,164 %

Koefesien Korelasi
cov ( x , y )
r=
=
Sx Sy

27,6
(4,06)(8,26)

0,82

Koefisien Regresi
Berdasarkan hasil perhitungan didapat koefisien regresi
sebesar 1,67
1.6 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan praktikum dari sebuah
populasi ternak sebanyak 10 ekor dengan menggunakan analisis
deskripsi populasi, dapat ditarik kesimpulan bahwa koefisien
variasi antara tinggi pundak dan lingkar dada kurang dari 10%,
itu artinya data tersebut seragam atau kurang baik untuk
dilakukan seleksi. Sedangkan koefisien korelasi yang didapatkan
adalah 0,821. Hal ini menunjukan baha hubungan antara tinggi
pundak dan lingkar dada berpengaruh satu sama lain, karena
hasil perhitungan yang didapat berada pada nilai >0,5.

1.7

Daftar Pustaka

14

Abdee. 2012. Populasi Dasar. www.scribd.com/doc/66268464/1Deskripsi-Populasi-Dasar (Diakses pada 09 Mei pukul 18.50
WIB)
E. J. Warwick, dkk. 1990. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada
University Press:Yogyakarta.
Sudjana. (1996) Teknik Analisis Regresi Dan Korelasi. Tarsito:
Bandung.
Riska.2012.Makalah
https://riskanurfajriahsetiawan.wordpress.com.
pada 09 Mei pukul 21.20 WIB)

Populasi.
(Diakses

15

PRAKTIKUM 2
PENDUGAAN NILAI RIPITABILITAS
2.1

Pendahuluan
Ripitabilitas

dalam

pemuliaan

ternak

berarti

suatu

kemampuan seekor individu/kelompok ternak untuk mengulang


produksi selama hidupnya. Produksi yang dimaksud bisa produksi
susu untuk ternak sapi perah, produksi telur untuk ternak unggas
petelur, produksi wol untuk ternak domba, dan sebagainya.
Rumusan nilai ripitabilitas meliputi semua pengaruh genetik,
ditambah pengaruh lingkungan yang bersifat permanen.
Dalam suatu perusahaan ternak yang bergerak dalam
bidang pemuliaan (breeding) nilai ripitabilitas menjadi salah satu
acuan dalam meningkatkan produktivitas ternak. Peningkatan
produktivitas ternak dapat dilakukan melalui manajemen pakan
dan manajemen breeding, namun hanya manajemen breeding
yang dapat meningkatkan mutu genetik seekor ternak. Mutu
genetik

yang

baik

dapat

mempertahankan

kemampuan

produktivitas tinggi secara permanen karena dapat diwariskan ke


generasi berikutnya. Mutu genetik yang baik dari suatu ternak
dapat dilihat dari nilai ripitabilitas produksinya. Nilai ripitabitas
juga dapat menjadi acuan dalam menduga produktivitas ternak
pada masa yang akan datang.
2.2

Tujuan Praktikum

1. Menduga nilai ripitabilitas dari catatan produksi susu dari 8


ekor kerbau lumpur.
2.3

Tinjauan Kepustakaan

16

Ripitabilitas atau repeatability berasal dari kata repeat


yang berarti pengulangan dan ability yang berarti kemampuan.
Dengan

demikian

ripitabilitas

berarti

kemampuan

seekor

individu/kelompok ternak sapi perah untuk mengulang produksi


selama hidupnya. Atau merupakan sebuah ukuran kekuatan
hubungan antara ukuran yang berulang-ulang suatu sifat dalam
populasi. Sifat dapat ditentukan pada individu yang umumnya
mempunyai catatan produksi lebih dari satu, misalnya produksi
susu pada sapi perah. (Warwick. et. all, 1983)
Setiap hasil pengamatan produksi menggambarkan hasil
kerjasama antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Apabila
pengamatan dilakukan berulang kali maka hasil pengamatan
pada lingkungan yang pertama akan berbeda dengan lingkungan
ke dua dan lingkungan pada pengamatan ke dua tidak sama
dengan lingkungan pada pengamatan berikutnya. Sejauh mana
hubungan antara produksi pertama dengan produksi yang
berikutnya pada individu tersebut inilah yang disebut angka
pengulangan (ripitabilitas). (Warwick. et. all, 1983)
Secara statistik ripitabilitas merupakan korelasi/kemiripan
antara catatan, misalnya antar laktasi pada sapi perah. Atau
ripitabilitas

merupakan

disebabkan

oleh

bagian

perbedaan

dari

antar

ragam
individu

fenotip
yang

yang

bersifat

permanen. Oleh sebab itu, ripitabilitas meliputi semua pengaruh


genetik

ditambah

pengaruh

faktor

lingkungan

permanen.

Lingkungan permanen adalah semua pengaruh yang bukan

17

bersifat

genetik

tetapi

mempengaruhi

produktivitas

seekor

hewan selama hidupnya. Konsep ripitabilitas (r) digunakan untuk


mempelajari bagian ragam total suatu sifat pada suatu populasi
yang disebabkan oleh keragaman antar individu yang bersifat
permanen pada periode produksi yang berbeda. (Warwick. et. all,
1983)
Konsep ripitabilitas hampir sama dengan konsep korelasi
fenotip, dalam analisis statistik adalah bentuk korelasi antar
catatan.

Bedanya

dengan

korelasi

merupakan

hubungan

keeratan dalam sifat yang sama ataupun sifat yang berlainan,


seperti korelasi produksi susu dengan kadar lemak atau produksi
susu laktasi pertama dengan laktasi kedua dan contoh sifat
lainnya. Sedangkan ripitabilitas dikatakan bagaimana seekor
hewan akan mengulang sifat yang sama selama hidupnya. Dua
konteks

ini

hampir

sama

dengan

heritabilitas,

padahal

heritabilitas merupakan kemampuan bagaimana suatu sifat akan


diturunkan terhadap generasi yang akan datang. (Dalton, 1980)
Rumusan nilai ripitabilitas adalah meliputi semua pengaruh
genetik, ditambah pengaruh lingkungan yang akan bersifat
permanen (Warwick. et. all., 1983). Dimana pengaruh permanen
adalah semua pengaruh yang bukan bersifat genetik, tetapi
mempengaruhi produktivitas seekor hewan selama hidupnya,
seperti pengaruh penyakit, gizi dan induk, selama dikandung
oleh induk dan sebagainya (Hardjosubroto, 1994).
2.4 Metoda Praktikum

18

Pelaksanaan

praktikum

pendugaan

nilai

ripitabilitas

menggunakan fitur analisis data Anova: Single Factor dari


perangkat lunak Microsoft Excel 2016. Metoda manual untuk
mengerjakan praktikum ini adalah menggunakan model analisis
statistik tabel sidik ragam.
Tabel 2. Sidik Ragam Komponen Ragam
Sumber
keragaman
Antar

Derajat
bebas
N-1

Jumlah
kuadrat
JKw

Kuadrat
tengah
KTw

Komponen
ragam
2E +k 1 2w

individu
Dalam

N(M-1)

JKE

KTE

2E

individu
Tabel 3. Perhitungan Varians
Sumber
keragaman
Faktor
koreksi
Antar

db

JK

Y
m.

N-1

JKw =

individu

Dalam

N(M-1)

Yk

mk . FK

JKw=

KT

KTw =
JKw
( N1)
Ktw =

individu
Y

Yk
Y 2km i.. mk
.
km

JKE
N (m1)

Keterangan:
N

= jumlah individu

= jumlah pengukuran per individu = jumlah untuk setiap

individu

19

m.

= jumlah total data

k1 untuk jumlah pengukuran perindividu sama = M


ki untuk jumlah pegukuran perindividu tidak sama menggunakan
rumus
1
mk ]
[m .
N 1
m.
2

k1 =

Setelah mendapatkan nilai

gunakan rumus dibawah untuk

mendapatkan nilai ripitabilitas.


2w
r= 2 2
w + e
2.5

Hasil dan Pembahasan

2.5.1 Hasil
Pengu

Kerbau
4
5

kuran
1

19.2

18.7

18.7

17.7

3
19.2

5
20.6

5
21.1

3
20.2

8
20.2

Total
6

17.3

17.

16.

15.

9
18.2

1
18.7

31
17.

35
18.

39
17.

6
18.7

7
18.7

5
19.2

31
17.

27
17.

31
17.

5
54.8

3
55.2

31
51.

79
52.

79
50.

441.

58.6

59.6

5
58.6

6
114

3
118

6
115

1
100

9
102

93
898

41
91

49
852

88
8178

7.63
k=3

7.26
N=2

0.87

1.84

0.99

.91

7.6

.97

.072

n=8

Sumber
keragaman
Antar individu

Db

JK

KT

Komponen

28.1265

4.018176

2E +k 1 2w

20

(W)
Dalam individu

2
E

(E)
Total
= 0,8874

16

3
14.1986

23

42.5213

0.887412

2w = 1,0435
2

w
r= 2 2
w + e
S.E (r) =
2.5.2

= 0,5404

2 ( 1r ) [ 1+ ( k 1 1 ) r ]
k 1 ( k 11 ) ( N 1 )
Pembahasan

= 0,1446

Menurut Rice, et. all (1957) kategori nilai ripitabilitas


terbagi menjadi 3 yaitu rendah (low repeatable) dengan nilai r <
0,2; sedang (moderately repeatable) dengan nilai r 0,2 0,4;
tinggi (highly repeatable) dengan nilai r > 0,4.
Berdasarkan

hasil

perhitungan

kelompok

kami

nilai

ripitabilitas dari pengukuran total solid produksi susu dari 8 ekor


kerbau lumpur yang didapat adalah 0,5404 dengan standar eror
0,1446. Jika nilai ripitabilitas tersebut dibandingkan dengan
literatur maka nilai ripitabilitas produksi susu dari 8 ekor kerbau
lumpur termasuk tinggi dengan nilai 0,5404> 0,4.
Besarnya nilai ripitabilitas berkisar antara 0 dan 1 dan
selalu lebih besar atau sama dengan nilai heritabilitas karena
nilai ripitabilitas dipengaruhi oleh lingkungan permanen (rh 2)
(Hardjjosubroto, 1994). Berdasarkan perhitungan kelompok kami
nilai ripitabilitas produksi susu 8 ekor kerbau lumpur tidak sama
dengan nol hal tersebut menunjukkan lingkungan permanen
memberikan respon terhadap daya ulang produksi susu dari 8

21

ekor kerbau lumpur.


Menurut Warwick, et. al., (1983) nilai ripitabilitas dari
kerbau perah terhadap produksi susu yaitu 35-50%. Apabila nilai
perhitungan ripitabilitas produksi susu 8 ekor kerbau lumpur di
konversikan ke dalam persen maka nilai ripitabilitas sebesar
54,04%. Hasil perhitungan tersebut tidak sesuai dengan literatur,
hal ini mungkin disebabkan perbedaan faktor spesies dan
lingkungan.
2.6

2.7

Kesimpulan
Kemampuan daya ulang produksi susu dari 8 ekor kerbau
lumpur selama hidupnya sebesar 54,04%.
Daftar Pustaka

Dalton, D.C. 1980. An Introduction to Practical Animal Breeding.


Granada Publ. Ltd. London.
Hardjosubroto, Wartono. 1994. Aplikasi
Lapangan. Grasindo. Jakarta.

Pemuliabiakan

di

Rice, V.A., F.N. Andrews, E.J Warwick and J.E. Legates. 1957.
Breeding and Improvement of Farm Animals. McGrow-Hill
Book Company Inc. KogakushaCompany, Ltd. Tokyo
Warwick, E.J., J. Maria Astuti, dan W. Hardjosubroto. 1983.
Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

22

PRAKTIKUM 3
PENDUGAAN NILAI HERITABILITAS DENGAN POLA REGRESI
3.1. Pendahuluan
Terdapat berbagai macam cara yang dapat dilakukan untuk
mendapatkan ternak yang bermutu. Salah satunya yaitu dengan
mewariskan sifat yang baik dari suatu induk ternak ke generasi
selanjutnya.Pewarisan sifat yang baik bisa melalui perkawinan,
namun sebelum melakukan perkawinan, suatu ternak yang akan
dikawinkan atau induknya harus memiliki performa yang baik
dan

memiliki

produktivitas

produktifitas
suatu

ternak

tinggi.
akan

Sebab
diturunkan

performa
ke

dan

generasi

berikutnya. Untuk dapat mengetahui kemampuan suatu induk


atau tetua yang memiliki performa dan produktifitas yang baik,
maka harus ada suatu ilmu dasar yang mempelajarinya. Salah
satu ilmu dasarnya adalah heritabilitas (suatu tolak ukur yang
digunakan dalam suatu seleksi untuk mengetahui kemampuan
tetua dalam menurunkan kesamaan sifat kepada keturunanya).
Heritabilitas dalam pemuliaan ternak berarti kekuatan
suatu sifat dari tetua yangdapat diturunkan kepada anaknya.
Semakin tinggi nilai heritabilitas pada suatu ternak maka
semakin baik respon yang diharapkan dari ternak tersebut dalam
program pemuliaan.
3.2

Tujuan Praktikum

1. Menduga nilai heritabilitas dari performa berat lahir pedet


(anak sapi) dan bapaknya.
3.3

Tinjauan Kepustakaan

23

Heritabilitas

berasal

dari

kata

heredity

yang

artinya

keturunan dan ability yang artinya kemampuan, sehingga dapat


disimpulkan

bahwa

heritabilitas

adalah

kemampuan

untuk

menurunkan sifat kepada turunannya. Heritabilitas merupakan


parameter genetik yang sangat penting dalam seleksi, untuk
mengukur berapa besar variasi gen aditif suatu sifat yang
diturunkan dari tetua kepada anaknya. Heritabilitas didefinisikan
sebagai proporsi dari ragam genetik terhadap ragam fenotip
(Hardjosubroto, 1994)
Heritabilitas adalah angka keturunan yaitu seberapa besar
tetua dapat menurunkan gennya kepada keturunannya yang
mempunyai kesamaan sifat. Heritabilitas adalah istilah yang
digunakan untuk menunjukan bagian dari keragaman total (yang
diukur dengan ragam) dari suatu sifat yang diakibatkan oleh
pengaruh genetik Terdapat dua pengertian heritabilitas yaitu
dalam arti luas dan arti sempit, akan tetapi yang digunakan
secara umum adalah heritabilitas dalam arti sempit. (Warwick.
et. all, 1983)
Prinsip

dasar

dalam

menduga

nilai

heritabilitas

ada

beberapa cara utama:


1.Etimilasi nilai heritabilitas dapat dianalisis dari ragam suatu
populasi yang isogen( ragam yang sama ), dibandingkan dengan
ragam populasi umum
2. Melalui seleksi dalam populasi bila dilakukan suatu seleksi
maka frekuensi gennya akan berubah dan perubahan frekuansi

24

gen inilah yang diduga sebagai kemampuan genetik yang


diperoleh dari tetuanya.
3. Melalui perhitungan korelasi dan regresi dari induk atau orang
tua dengan anaknya.Cara ini merupakan paling akurat, karena
dianalisis berdasarkan kekerabatannya secara genetik.(Johnson
and Rendel, 1966)
Bila seekor ternak menunjukan keunggulan pada sifat yang
mempunyai nilai heritabilitas tinggi maka dapat diharapkan
bahwa anaknya pun kelak akan mempunyai keunggulan dalam
hal sifat tersebut (Hakim and Widodo, 1981)

3.4

Metoda Praktikum

Pelaksanaan

praktikum

pendugaan

nilai

heritabilitas

dengan pola regresi menggunakan fungsi COVAR, VARP, dan


SLOPE dari perangkat lunak Microsoft Excel 2016. Metoda manual
untuk mengerjakan praktikum ini adalah menggunakan analisis
regresi.

Persamaan umum regresi linear adalah :


Y =bx
Y

= dugaan performans anak pada tetua tertentu

= performans anak

25

= koefisien regresi

Dimanab =

Cov ( x , y )
Vx

Pada analisis regresi salah satu tetua dengan anak h =2b


karena salah satu tetua hanya menurunkan dari keunggulan
genetik, atau :
1
Cov ( x , y )
2
1 Cov (x , y ) jadi
b=
=
Vx
2
Vx

Cov (x , y )
=2 b atau h = 2b
Vx

Pada regresi antara nilai tengah tetua dengan anak, h = b


karena ke dua tetua tersebut menurunkan masing-masing
faktor genetiknya.
1
1
Cov [ xp+ xi , y ]
Cov (x , y )
2
2
b=
=
jadi
Vx
Vx

Cov ( x , y )
=b
Vx

atau h =

3.5

xp

= performan pejantan

xi

= performan induk

Hasil dan Pembahasan

3.5.1

No

Hasil
Performa Berat Lahir Pedet dan Bapaknya
Bapak
Anak
2
( X i X )
( X X ) ( Y Y )
(X)
(Y)

26

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Ratarata

h2 =
3.5.2

25.84
31.52
34.1
34.18
35.17
36.03
36.72
37.84
37.92
38.48
40.93
40.98
41.32
42.1
42.78
42.87
44.72
643.5
37.8529
4

2 Cov ( X , Y )

39.13
42.27
41.97
45.15
46.44
44.72
44.72
44.07
42.74
44.29
43.97
46.35
41.45
41.97
47.73
44.76
44.5
746.23
43.895
88

2 ( 4,687859 )
21,77075

Pembahasan
2

144.3108
40.10614
14.08457
13.4905
7.198173
3.323115
1.283556
0.000167
0.004497
0.393203
9.468291
9.778497
12.0205
18.03751
24.27591
25.17088
47.1565
370.1028

57.25226
10.29662
7.227723
-4.6063
-6.82572
-1.50232
-0.93368
-0.00225
-0.07751
0.247135
0.228064
7.67417
-8.48002
-8.17934
18.89092
4.335329
4.148511
79.69361

21.77075

4.687859

= 0,430657

Menurut Hardjosubroto(1994) kategori nilai heritabilitas


terbagi menjadi 3 yaitu rendah dengan nilai heritabilitas < 0,1;
sedang dengan nilai heritabilitas 0,1 0,3; tinggi dengan nilai
heritabilitas> 0,3.
Berdasarkan

hasil

perhitungan

kelompok

kami

nilai

heritabilitas dari performa berat lahir pedet dan bapaknya


sebesar 0,430657. Jika nilai heritabilitas tersebut dibandingkan
dengan literatur maka nilai heritabilitas performa berat lahir
pedet dan bapaknya termasuk tinggi dengan nilai 0,430657>
0,3.
Nilai heritabilitas dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu gena

27

bersama, genotip bersama dan lingkungan bersama. Selain itu,


hal yang perlu diperhatikan adalah lingkungan antara anak dan
tetua harus sama, dan pada kondisi yang sama, hubungan
antara tetua dan anak diasumsikan dengan regresi linear.
Kesulitan yang sering timbul apabila anak-anaknya berbeda
dalam tingkat populasi dan harus dirata-ratakan. Misalnya dalam
menduga

pertumbuhan,

anak

jantan

dan

anak

betina

mempunyai tingkat pertumbuhan yang berbeda.


3.6

Kesimpulan
Derajat

3.7

kemiripan

antara

berat

lahir

pedet

dengan

bapaknya sebesar 43%.


Daftar Pustaka

Hakim.L dan W Widodo. 1981. Pemuliaan Ternak. Lembaga


PenerbitanUniversitas Brawijaya. Malang.
Hardjosubroto, Wartono. 1994. Aplikasi
Lapangan. Grasindo. Jakarta.

Pemuliabiakan

di

Johnson, I. and J. Rendel. 1966. Genetiks and Animal Breeding. W.


H. Freeman and Co. San Francisco.
Warwick, E.J., J. Maria Astuti, dan W. Hardjosubroto. 1983.
Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

28

PRAKTIKUM 4
PENDUGAAN HERITABILITAS POLA HALFSIB
4.1

Pendahuluan

Dalam analisis ini derajat kemiripan ternak ternak didalam


kelompok

adalah

saudara

tiri

sebapak

(paternal

halfsib

Correlation),hali ini paling sering digunakan karena

setiap

pejantan dapat mempunyai anak cukup banyak daripada betina.


Taksiran

nilai

heritabilitas

saudara

tiri

sebapak

tidak

memasukkan pengaruh dominan, tetapi memasukkan atau


kurang daripengaruh epistatik dan tidak ada pengaruh induk
(Warwick, dkk., 1983)
Untuk ketepatan penggunaan data saudara tiri sebapak dalam
menduganilai heritabilitas, diperlukan persyaratan :
1. Sekelompok
betina-

pejantan

betinasecara

masingmasing
acak

dalam

dikawinkan
populasi

dengan

yang

akan

digunakan sebagai penguji.


2. Seluruh kelompok anak yang dihasilkan harus dibesarkan
dalamlingkungan yangsama (makanan, pemeliharaan serta
manajemenlannya)
3. Mengoreksi terhadap faktor lain yang menurut peneliti dapat
berpengaruh (memberikan bias).
Komponen-komponen korelasi dalam kelas (intraclass Correlation
= t),yaitu suatu ukuran kemiripan antar saudara tiri ditentukan
sebagaiberikut:

29

Nilai heritabilitas akan sama dengan 4t (h2= 4t), atau dalam


komponenragam menjadi :

4.2

Tujuan Praktikum

Untuk mengetahui nilai heritabilitas pola half sib dengan


analisis ragam
4.3
Metoda Praktikum
Metoda praktikum yang digunakan ialah dengan mengolah
data untuk mengetahui nilai heritabilitas pola half sib
dengan analisis ragam.
4.4

Tinjauan Kepustakaan

Heritabilitas

adalah

istilah

yang

digunakan

untuk

menunjukan bagian dari keragaman total dari suatu sifat yang


diakibatkan

oleh

pengaruh

genetik.

Heritabilitas

dapat

diperhitungkan dalam dua konteks. Secara luas, pengaruh


keturunan termasuk semua pengaruh gen, yaitu aditif, dominan
dan epistatik. Heritabilitas dalam arti luas ini biasanya dituliskan
dengan H.
Akan tetapi, taksiran pengaruh genetik aditif biasanya lebih
penting daripada pengaruh genetik total. Karena itu sekarang
dalam pustaka dan penelitian tentang pemuliaan ternak, istilah
heretabilitas biasanya menunjukan taksiran bagian aditif dari
ragam keturunan dan dituliskan sebagai h2. Kadang-kadang ini
disebut heritabilitas dalam arti sempit. Untuk banyak tujuan, ini
merupakan dugaan yang paling berguna karena menunjukan laju
perubahan yang dapat dicapai dari seleksi untuk sifat tersebut
dalam populasi.

30

Pengetahuan tentang besarnya heretabilitas penting dalam


mengembangkan

seleksi

dan

rencana

perkawinan

untuk

memperbaiki ternak. Pengetahuan ini memberikan dasar untuk


menduga besarnya kemajuan untuk program pemuliaan yang
berbeda-beda, dan memungkinkan para pemulia untuk membuat
keputusan yang penting apakah biaya program sepadan atas
hasil yang diharapkan. Sangat erat dengan manfaat penaksiran
heretabilitas

dalam

membuat

rencana

pemuliaan

adalah

kegunaan untuk menaksir nilai pemuliaan dari suatu individu.


Heretabilitas dalam arti luas:

2 g 2d 2i
2
2
2
2
H g d i e

Heretabilitas dalam arti sempit:

2
h2 g

2g
2 d 2i 2e

Keterangan :

2g = Ragam genetika aditif


2d = Ragam simpangan dominan
2i = Ragam simpangan epistasis
2e = Ragam simpangan lingkungan (non

aditif)
Dalam teori, heretabilitas (h2) dapat berkisar antara 0
sampai 1,0. Tetapi angka ekstreem ini jarang diperoleh untuk
sifat-sifat kuantitatif ternak. Nilai heretabilitas sama dengan 0
sama dengan semua keragaman sifat ditentukan oleh pengaruh
lingkungan, sedangkan nilai heretabilitas sama dengan 1
artinya semua keragaman sifat ditentukan oleh faktor genetik.
Sehingga kedua nilai tersebut menjadi tidak mungkin, hal ini

31

disebabkan karena setiap individu dipengaruhi oleh faktor


genetik dan lingkungan.
Analisa

statistik

kadang-kadang

akan

menghasilkan

taksiran heretabilitas negatif atau taksiran yang lebih dari 1,0.


Secara biologis hal ini sangat tidak mungkin. Kejadian ini dapat
disebabkan oleh :
1. Keragaman

yang

disebabkan

oleh

lingkungan

yang

berbeda untuk kelompok keluarga yang berbeda seperti


saudara tiri, keliru dikira disebabkan oleh keturunan.
2. Metode statistik yang tidak tepat sehingga tidak dapat
memisahkan ragam genetik dan lingkungan dengan efektif.
3. Jumlah sampel yang kecil.
4. Ketidakseimbangan data jika menggunakan analisis jumlah
anak per pejantan atau induk.
5. Keragaman data yang terlalu ekstreem.
6. Kesalahan mengambil contoh.
Yang terakhir ini penting dan dapat sangat besar apabila populasi
yang diteliti kecil.
Prinsip

dasar

dalam

menduga

nilai

heretabilitas

ada

beberapa cara :
Estimasi nilai heretabilitas dapat dianalisis dari ragam
suatu populasi yang isogen, dibandingkan dengan ragam
populasi umum, yaitu:
Vpp = VApp + VLP
VPi = VLP
VPP VPi = VAP

VAP
2
h
V pp

Keterangan : VPP = Ragam fenotip populasi


VPi = Ragam fenotip populasi seleksi

32

VAP = Ragam aditif populasi


Melalui

seleksi

didalam

suatu

populasi,

dimana

bila

dilakukan suatu seleksi maka frekuensi gennya akan


berubah dan perubahan frekuensi gen inilah yang diduga
sebagai kemampuan genetik yang diperoleh dari tetuanya.
Hal ini dengan menggunakan rumus:
G = (XS XP) h2
Keterangan : G = Kemajuan genetik
Xs = Rata-rata fenotip populasi seleksi
Xp = Rata fenotip populasi
Melalui perhitungan korelasi atau regresi dari induk atau
orang tua dengan anaknya. Cara analisis ini merupakan
cara yang paling akurat, karena dianalisis berdasarkan
kekerabatannnya

secara

genetik.

Dengan

analisis

kekerabatan ini tidak saja dengan model regresi dan


korelasi, tetapi dapat pula menggunakan model Rancang
Acak Lengkap atau Pola Terangsang.
Model Statistik
Analisis regresi orang tua dan keturunannya.
Penggunaan analisis ini tidak boleh terjadi inbred, dan
perkawinan secara random. Model statistiknya merupakan
model sederhana, yaitu :
Yi = Xi + ei
Keterangan : Yi = Keturunandari i th tetua
Xi = Pengamatan dari i th tetua
= Koefisien regresi untuk Y dan X
e i = Error yang disebabkan pengaruh keturunan
dari tetua

33

Nilai heretabilitas merupakan nilai koefisien regresinya, yaitu


h2 = byx. Berdasarkan analisis regresi, b adalah nilai estimasi
dari , sebagai koefisien regresi, dimana

xy

b yx

XY
X

X Y

Cov( X , Y )
n

2
( X )
2x
n

Pada analisa regresi tetua dengan keturunan, anak akan

memperoleh faktor genetik dari orangtuanya sehingga rumus


byx akan menjadi :

b yx

Cov( X , Y ) Cov( X , Y )

2x
2x

atau
Cov(X, Y)
2b yx
2x
h2

jadi nilai

byx
Model Genetik
Model genetik digunakan untuk mengetahui koefisien dari ragam
dan peragam gen aditif, dominan dan interaksinya. Dengan
demikian

dapat

diketahui

besarnya

sifat

genetik

yang

diturunkan, baik dari pihak bapak atau induk.Untuk menentukan


hal tersebut perlu dicari koefisien kekerabatan.
= Koefisien kekerabatan untuk efek aditif genetik
Rumus = +
2

34

= Probabilitas dari alel jantan dalam alel yang sama terhadap


alel yang
'

lainnya.

= Probabilitas peluang dari alel betina dalam alel yang sama


terhadap alel yang lainnya.

= .

Koefisien kekerabatan digunakan untuk menentukan koefisien


relatif, ragam aditif dan dominan dari kedua belah pihak. Adapun
untuk mencari koefisien relatif pada beberapa kerabat adalah:
1. Half-sib (common father or mother)
0
1/4
= 2

= (1/2)(0) = 0
2. Full-sibs

= 2

= (1/2)(1/2) = 1/4
3. Parent offspring
1 0
1/2
= 2

= (1)(0) = 0
4. Monozigotik twin and clones
11
1
= 2

= (1)(1) = 1
4.5
Hasil dan Pembahasan
4.5.1 Hasil
Tabel hasil pengukuran performa anak dari 3 ekor
pejantan

1
8.56

Pejantan
2
8.91

Total
3
9.29

26.76

35

2
3
4
5
6

y2
N = 18
1.
2.
3.
4.

9.73
8.73
9.43
8.72
8.16
53.33
475.71

10.19
8.79
9.13
8.97
9.00
54.99
505.31

8.72
8.98
8.15
8.42
8.58
52.51
453.52
;k=6

28.64
26.5
26.71
26.11
25.74
160.46
1434.93

FK
= 1430.41
JK Total
= y2 FK = 4.52
JK Pejantan
= 0.683
JK galat
= JK Total - JK Pejantan = 3.838

Sumber

Db

Keragaman
Antar Pejantan
Galat
Total

JK

2
15
17

5. 2w = 0.256
6. 2s = 0.014
7. t= 2s

0.683
3.838
4.524

KT

Kompone

0.341
0.256

n
= 2w + k2w
= 2w

= 0.502

2 s + 2 w
h2 = 4t= 0.207
4.5.2 Pembahasan
Dari tabel pengamatan dengan total anak (N) 18 dari 3
penjatan. Anak dari pejantan ke-3 memiliki total performa
tertinggi yakni 54.99 sedangkan anak dari pejantan ke 3 memiliki
total terendah yakni 52.51. Data kemudian diolah lebih lanjut
dengan menggunakan perhitungan annova maka dapat diketahui
beberapa hasil yakni FK, JKT, JKG, JKP, DB.
Setelah perhitungan dari annova diketahui selanjutnya
dapatdihitung nilai heritabilitas dari performa anak dari ketiga
jantan diatas. Perhitungan heritabilitas yakni h2 = 4t, dimana nilai

36

2s sehingga nilai heritabilitasnya yakni 0.207

t merupakan

2 s + 2 w

atau 20.7 %

4.6
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran dapat
disimpulkan bahwa nilai heritabilitas dari anak ketiga pejantan
tersbut

adalah

kemampuan

0.207

menurunkan

atau

20.7%.Hal

kemiripan

dari

ini
tetua

menunjukan
keanaknya

sebesar 0.207 atau 20.7%.

4.7

Daftar Pustaka

Tim penyusun. 2007. Analisis korelasi dan regresi antar sifat


untuk seleksi. Laboratorium pemuliaan dan biometrika.
Fakultas peternakan Universitas padjadjaran.
Warwick, E.J., dkk. 1990. Pemuliaan Ternak. Cetakan 4. Gadjah
Mada University
Warwick, E.J; Maria Astuti ; Hardjosubroto, Wartomo. 1987.
Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta.
Widodo, Widji, dkk. 1981. Pemuliaan Ternak (Animal Breeding).
Universitas Brawijaya Malang.

37

PRAKTIKUM 5
MENYUSUN INDEKS SELEKSI
5.1
Pendahuluan
Nilai Pemuliaan (NP) merupakan suatu ungkapan dari genagena yang dimiliki tetua dan akan diturunkan kepada anakanaknya. NP dapat diduga berdasarkan informasi (catatan
performa) dari:

Performa ternak itu sendiri

Performa saudara-saudaranya

Performa tetuanya, atau

Gabungan ke tiganya
Pendugaan

nilai

pemuliaan

catatan

berulang

pada

dasarnya sama dengan pendugaan heritabilitas melalui catatan


tunggal, yang berbeda hanya koefisien regresinya saja.Kalau
dengan catatan tunggal b = h2, maka untuk catatan berulang.

nh 2
h
1 (n 1)r
2

Dengan demikian, rumus Nilai Pemuliaan catatan berulang


adalah

nh 2
NPX
( Pi P )
1 ( n 1)r
MPPA adalah suatu nilai pendugaan kemampuan produksi
dari seekor ternak yang diungkapkan dalam suatu deviasi
didalam suatu populasi.
MPPA

nr
( Pi P )
1 (n 1)r

n = jumlah pemasaran
r = ripitabilitas

38

nr
1 (n 1)r

merupakan

koefisien

regresi

untuk

menduga

keunggulan seekor/sekelompok ternak dalam suatu populasi


berdasarkan n catatan
-

Pada

MPPA

sedangkan

pembilangnya
pada

NP

menggunakan

catatan

berulang

repitabilitas(r),
menggunakan

heritabilitas (h2).
NP catatan berulang berguna untuk menduga keunggulan

genetik yang mungkin diturunkan pada anaknya


MPPA berguna untuk menduga keunggulan seekor/kelompok
individu untuk mengulang produksinya
5.2
Tujuan Praktikum
Menduga nilai pemuliaan suatu ternak
5.3
Metode Praktikum
Metode yang digunakan pada praktikum ini yaitu mengolah

data dengan menetukan nilai pemuliaan yang selanjutnya dapat


kita merangking bedasarkan nilai pemulian yang di dapat dari
perhitungan.
5.4

Tinjauan Kepustakaan

Dalam pemuliaan ternak, pemilihan ternak ternak terbaik


berdasarkan

keunggulan

genetik,

karena

faktor

ini

akan

diturunkan pada anak anaknya. Nilai Pemuliaan (NP) merupakan


suatu ungkapan dari gena-gena yang dimiliki tetua dan akan
diturunkan kepada anak-anaknya. Sampai sekarang belum ada
metoda yang bisa pasti menduga nilai pemuliaan, tapi hanya
menduga saja. Nilai Pemuliaan dari seekor ternak adalah 1/2 dari
nilai NP induknya dan 1/2 lagi dari nilai NP bapaknya. (Gambar
6.1.).
Induk

Bapak

39

0.5 NP

0.5 NP
Anak

Gambar 6.1. Penurunan Nilai Pemuliaan dari Tetua


NP dapat diduga berdasarkan informasi (catatan performa)
dari:
1. Performa ternak itu sendiri
2. Performa saudara-saudaranya
3. Performa tetuanya, atau
4. Gabungan ke tiganya
Prinsip pendugaannya dapat digambarkan sebagai berikut:

Fenotip
Gambar 6.2. Prinsip Dasar Nilai Pemuliaan
Diasumsikan hubungan antara Fenotip dan NP adalah linier.
Persamaannya dapat diungkapkan sebagai berikut:
NP=bP
Dimana : NP = nilai pemuliaan
b

= koefisien regresi

= fenotip

Apabila pendugaan hanya berdasarkan catatan dari ternakternak bersangkutan, maka b=h2, sehingga persamaannya
dapat diungkapkan:
NP=h2P

40

b adalah koefisien regresi linear untuk menduga nilai genetik


berdasarkan catatan fenotipik. Nilai genetik di sini bisa nilai
genotip atau hanya nilai genetik aditif saja.

Kita misalkan

nilai genetik hanya diwakili oleh efek gena aditif :

Cov ( A, P )
VP

Cov( A, P ) Cov( A, A E )
= Cov( A, A) Cov( A E ) Jika Cov( A E ) 0, Jadi
Cov( A, P ) Cov( A, A) V A

b
Jadi

VA
h2
VP

Rumus di atas dimodifikasi kembali menjadi:


NP h 2 ( Pi P )
dimana

Pi Catatan individu bersangkut an


P Rata - rata populasi

Catatan Berulang
Dalam banyak kasus, suatu sifat mungkin diukur beberapa
kali, misalnya berat badan, laktasi pada sapi perah, dan
banyak lagi sifat yang lain. Kemiripan diantara catatan ini
diungkapkan dengan repitabilitas. Penentuan beberapa
parameter

genetikpun

bisa

menggunakan

catatan

berulang, misalnya heritabilitas catatan berulang dan nilai


pemuliaan
dengan

catatan
catatan

berulang.
berulang

Pendugaan
biasanya

parameter

lebih

cermat

dibandingkan dengan catatat tunggal, tetapi memerlukan


waktu yang lebih lama dan ini tidak menguntungan bila
-

diterapkan dalam program seleksi.


Heritabilitas Catatan Berulang
Untuk catatan berulang fenotipnya diukur lebih dari satu
kali, misalnya n kali.Nilai heritabilitas catatan berulang
adalah:

41

nh 2
h
1 (n 1)r
2
x

dimanan = jumlah catatan, dan r = nilai repitabilitas


-

Nilai Pemuliaan Catatan Berulang


Pendugaan nilai pemuliaan catatan berulang dasarnya sama
dengan pendugaan heritabilitas melalui catatan tunggal, yang
berbeda hanya koefisien regresinya saja.

Kalau dengan

catatan tunggal b=h2, maka untuk catatan berulang


nh 2
1 (n 1 )r
Dengan demikian, rumus Nilai Pemuliaan catatan berulang
h2

adalah:

NPX

nh 2
(Pi P)
1 (n 1)r

Most Probable Producing Ability (MPPA)


MPPA adalah suatu pendugaan nilai kemampuan produksi
dari seekor ternak yang diungkapkan dalam suatu deviasi
didalam suatu populasi.Metoda ini sering digunakan pada
sapi perah. Rumusnya adalah:

MPPA

nr
(Pi P)
1 (n 1)r

Dimana:n=jumlah catatan
r=nilai repitabilitas
nr
1 (n 1)r

merupakan

koefisien

regresi

untuk

menduga

keunggulan seekor/sekelompok ternak dalam suatu populasi


berdasarkan n catatan.

42

Rumus ini mirip dengan rumus pendugaan Nilai Pemuliaan


Catatan Berulang, perbedaanya adalah pada pembilang. Pada
MPPA menggunakan repitabilitas(r),

sedangkan pada NP

catatan berulang menggunakan heritabilitas (h 2). Dengan


demikian NP catatan berulang berguna untuk menduga
keunggulan genetik yang mungkin diturunkan pada anaknya,
tetapi

MPPA

berguna

untuk

menduga

keunggulan

seekor/kelompok individu untuk mengulang produksinya.


5.5
5.5.1

Hasil dan Pembahasan


Hasil

ID

Prod.

Berat

NP

NP BB

Index

Rankin

Ternak

Susu

Lahir

Prod.

lahir

NP

Test

(Kg)

Susu

day
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
Rata-

(liter)
6.0
7.3
7.9
8.0
8.2
8.4
8.5
8.8
8.8
9.0
8.09

total

Test
12.5
15.2
16.4
16.5
17.0
17.4
17.7
18.3
18.3
18.6
16.89

Day
-0.418
-0.158
-0.038
-0.018
0.022
0.082
0.142
0.142
0.182
0.182

-1.317
-0.507
-0.147
-0.117
0.333
0.153
0.243
0.423
0.423
0.513

-1.735
-0.665
-0.185
-0.135
0.355
0.215
0.325
0.565
0.565
0.695

10
9
8
7
4
6
5
3
2
1

rata
Heritabilitas Produksi susu test day`
Heritabilitas Berat lahir

= 0.2

= 0.3

5.5.2
Pembahasan
Nilai pemuliaan diperoleh dari heretabilitas dikalikan selisih
suatu sifat dengan rataannya. Np=h2 ( p p) . Dari data diatas
diperoleh beerbagai nilai pemuliaan. Nilai pemuliaan dapat

43

bernilai negative ( - ). Jika nilai pemuliaan suatu ternak negative,


maka ternak tersebut berada dibawah rata rata.Semakin tinggi
nilai pemuliaan semakin baik suatu ternak, begitupun sebaliknya.
Ternak dengan ID A-D memiliki nilai pemuliaan yang negative
pada produksi susu test diary dan berat lahir hal ini menunjukan
bahwa ternak tersebut berada dibawah rata-rata ternak lainya
dalam hal produksi susu dan berat lahir. Setelah diketahui indeks
nilai pemuliaan (NP) total maka ternak dapat di ranking sesuai
dengan indeks total NP. Ranking tertinggi yakni pada ternak
dengan ID J dengan indeks total NP yaitu 0.695 sedangkan
ranking paling akhir di dapat oleh ternak

ID A

dengan nilai

indeks total NP yaitu -1.735.


5.6
Kesimpulan
Nilai Pemuliaan (NP) merupakan suatu ungkapan dari genagena yang dimiliki tetua dan akan diturunkan kepada anakanaknya. Nilai pemuliaan diperoleh dari heretabilitas dikalikan
selisih suatu sifat dengan rataannya. Np=h2 ( p p)
5.7

Daftar Pustaka

Anang, Asep, dkk. 2013. Penuntun Praktikum Ilmu Pemuliaan


Ternak.
Sumedang: Laboratorium Pemuliaan Ternak
dan Biometrika FakultasPeternakan Universitas Padjadjaran.
E.J. Warwick, dkk. 1995.
University Press.

Pemuliaan ternak. Gadjah Mada

Hakim, Lukman dan Widji Widodo. 1981. Pemuliaan Ternak


(Animal Breeding). Universitas Brawidjaya Malang, Malang.
Hardjosubroto, Wartono. Aplikasi Pemuliabiakan di Lapangan.
Grasindo. Jakarta. 1994
Komar Prajoga, SB. Buku Ajar Genetika
Peternakan. Universitas Padjadjaran

Ternak.

Fakultas

Noor, Ronny Rachman. 1996. Genetika Ternak. Swadaya : Jakarta


Rachman Noor, Ronny .Dr. Ir. 2000. Genetika Ternak. PT. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Tim

penyusun. 2007. Analisis heritabilitas pola regresi.


Laboratorium
pemuliaan
dan
biometrika.Fakultas
peternakan Universitas padjadjaran.

44

45

PRAKTIKUM 6
SIMULASI RESPON SELEKSI

6.1

Pendahuluan
Dalam konteks pemuliabiakan ternak, seleksi adalah suatu

proses memilihternak yang disukai yang akan dijadikan sebagai


tetua untuk generasi berikutnya. Tujuan umum dari seleksi
adalah

untuk

meningkatkan

produktifitas

ternak

melalui

perbaikan mutu genetik bibit. Dengan seleksi, ternak yang


mempunyai sifat yang diinginkan akan dipelihara , sedangkan
ternak yang mempunyai sifat yang tidak diinginkan akan
disingkirkan. Seleksi menunjukan keputusan yang diambil oleh
para pemuliaan pada setiap generasi untuk menentukan ternak
mana yang akan terpilih sebagai tetua pada generasi berikutnya
dan mana yang akan disisihkan sehingga tidak memberikan
keturunan.
Seleksi juga menentukan apakah beberapa dari
yang terpilih

individu

akan dibiarkan memiliki banyak keturunaan

sedangkan yang lain hanya beberapa keturunan saja.

Seleksi

merupakan dasar utama dalam pemuliaan ternak. Akibat seleksi


dalam populasi adalah meningkatnya rataan dalam suatu sifat ke
arah yang lebih baik dan diikuti oleh peningkatan keseragaman
atau

dengan

perkataan

lain

simpangan baku.

6.2

Tujuan Praktikum

penurunan

keragaman

atau

46

1. Untuk mengetahui tentang seleksi pada satu sifat dan lebih


dari satu sifat produksi.

6.3

Tinjauan Kepustakaan

6.3.1

Seleksi

Seleksi adalah suatu tindakan untuk memilih ternak yang


dianggap mempunyai mutu genetik baik untuk dikembang
biakan lebih lanjut serta memilih ternak yang dianggap kurang
baik untuk disingkirkan dan tidak di kembang biakan lebih lanjut.
Yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak melalui
perkawinan mutu genetik ternak.
Seleksi terbagi menjadi 2 yaitu seleksi alam dan seleksi
buatan, seleksi alam yaitu seleksi yang terjadi melalui suatu
proses ketahana yang paling tegar dalam suatu lingkungan
tertentu. Individu yang paling baik memyesuaikan dengan
lingkungannya tertentu akan mendapatkan ketentuan terbanyak
Sedangkan seleksi buatan yaitu seleksi yang dilakukan manusia
dan diarahkan sedemikian rupa sehingga hasilnya sesuai dengan
kepentingan

manusia.

Tujuan

seleksi

adalah

untuk

meningkatkan produktivitas trnak melalui perbaikan mutu bibit.


Seleksi dibedakan berdasarkan atas

1. Seleksi atas dasar satu sifat yaitu antara lain:


a) Seleksi individu yang dilakukan dengan pengamatan satu
kali dan pengamatan berulang
b) Seleksi atas dasar perfomans

47

c) Seleksi family
d) Uji zuriat
2. Seleksi terhadap beberapa macam sifat. Terdapat 3 macan
seleksi metode yaitu:
a) Tendem seleksi
b) Independent culling level
c) Seleksi index.

1.

Seleksi Individu
Seleksi ini berdasarkan pada fenotif dari individu, fenotif

disini satu sifat tunggal atau kombinasi sifat index dari beberapa
sifat. Seleksi individu sangat berguna bagi sifat-sifat yang diukur
untuk

suatu

program

efektif

hanya

diperlukan

catatan

panampilan produksi yang dibuat pada seluruh populasi dimana


seliksi akan dilakukan. Seleksi individu mempunyai beberapa
keterbatasan yaitu
1. Untuk sifat-sifat yang hanya tampak pada betina seperti
hasil susu dan telur atau sifat induk pada ternak potong
yang

jantan

tidak

dapat

dipilih

berdasarkan

pada

penampilannya sendiri.
2. Catatan penampilan produksi susu telur dan kualitas induk
baru tersedia setelah dewasa, bila seleksi dilakukan
sebelum ternak itu dewasa harus digunakan beberapa
criteria selain penampilan individu.

48

3. Untuk sifat-sifat yang nilai h2 rendah penampilan individual


dapat merupakan indicator nilai pemuliaan yang jelek
4. Penilaian penampilan individu atau bentuk tubuh yang
mudah dilakukan sering menarik pemulia untuk terlalu
menekan pada sifat itu dalam seleksi dibandingkan dengan
penggunaan optimum dari alat-alat lain seperti seleksi
silsilah atau uji keturunan
2.

Seleksi Atas Dasar Performans Tetua


Merupakan salah satu cara seleksi dengan menggunakan

informasi atau performance keluarganya untuk penganbilan


keputusan dalam melakukan seleksi dalam cara ini informasi
yang digunakan adalah infornasi moyangnya dalam arti kata
induk yang dikenala sebagai seleksi silsilah.

3.

Seleksi Family
Seleksi dengan menggunakan performans dari saudaranya

saudara bap[ak seinduk atau saudara sekandung. Pada trenak


istilah keluarga family adalah :
1. Keluarga satu induk satu bapak ( full sit ) dengan R = 0.5
2. Keluarga satu bapak saudara tiri ( half sit ) dengan R =
0.25
3. Keluarga satu induk ( half sit ) dengan R = 0.2
4.

Uji Zuriat
Uji zuriat ini adalah salah satu cara untuk menduga nilai

pemuliaan dari seekor pejantan atas dasar penampilan anaknya.

49

Uji ini paling popular digunakan dalam pemilihan calon pejantan


sapi perah atas dasar produksi susu. Dalam pelaksanaanya
sekelompok pejantan yang sedang di uji dikawinkan dengan
sekelompok

induk-induk

membentuk

keluarga

performance

berdasarkan

keturunannya

hubungan

saudara

akan
tiri

sebapak.
5.

Tendem Seleksi
Metode seleksi yang bertujuan memilih satu sifat saja

dalam periode tertentu sampai perbaikan tercapai dan kemudian


dapat di lanjutkan terhadap sifat ke dua dan akhirnya terhadap
sifat ke tiga kemungkinan seleksi dapat di ulang kembali
terhadap sifat yang pertama, kemudian seleksi sifat yang ke dua
dan seterusnya sampai tercapai tingkat tertentu yang diharapkan

6.

Independent Culling Level


Independent culling level adalah seleksi yang memakai

suatu niali atau harga fenotif minimum yang diatur untuk


masing-masing sifat dan individu ternak yang tidak dapat
mencapai nilai minimum ini harus disingkirkan (culling) meskipun
mereka telah mencapai nilai minimum untuk sifat tertentu atau
tudak.

7.

Seleksi Index
Beberapa

sifat

diadakan

pembobotan

dan

kemudian

dilakukan seleksi berdasarkan nilai index yang memberikan hasil

50

terbaik secara ekonomis. Dalam tenden seliksi ini penyebaran


kurva diperhatikan pada bagain ujung terhadap salah satu nilai
tertentu dan semua ternak yang memiliki nilai diatas harga batas
dipelihara dalam peternakan untuk melanjutkan usaha. Pada
sistem ini semua ternak dinilai untuk sesuai kriteria yang
diseleksi semua kriteria ini diberi penilaian dan pada saat ternak
akan di seleksi diberi index. Kecuali pemberian nilai atas dasar
performans terhadap setiap kriteria dapat pada di beri bobot
yang berbeda bergantung pada nilai ekonomis atau angka
pewarisan dari criteria tersebut.

6.3.2

Metode Penyeleksian

1. Seleksi Individu
Seleksi individu berguna untuk sifat-siafat yang dapat
diukur pada ke-2 jenis kelamin sebelum dewasa atau sebelum
perkawinan

pertama,

beberapa

sifat

yang

temasuk

kedalamnya laju pertumbuhan, skor bentuk tubuh berat bulu,


wool, ketebalan lemak punggung dan lain-lain. Untuk suatu
program yang efektif hanya diperlukan catatan penampilan
produksi yang dibuat pada seluruh populasi dimana seleksi
akan dilakukan, akan tetapi penggunaan yang tepat dari
seleksi individu memberikan banyak keuntungan.selanjutnya
perhitungan faktor-faktor dasar yang mempengaruhi efektifitas
seleksi paling sederhana pada setiap individu pada seleksi
individu

semakin

rumit

pada

tipe

keterbatasan seleksi individu antara lain :

seleksi

yang

lain

51

a. Untuk sifat-sifat yang hanya tampak pada betina seperti


susu, telur dan sifat-sifat induk
b. Catatan penampilan produksi baru tampak setelah dewasa
c. Untuk

sifatsifat

dengan

heritabilitasnya

rendah,

penampilan individual merupakan indikator nilai pemuliaan


yang jelek
d. Penilaian penampilan dilakukan hanya ditekankan pada
sifat tertentu saja yang dianggap baik
2. Seleksi Penggunaan Silsilah
Seleksi menggunakan silsilah adalah seleksi individu yang
kebagian atas informasi nenek moyang. Secara historis yang
terbawa

sampai

menyalahgunakan

sekarang,

para

silsilah

dalam

pemula
seleksi

kadang-kadang
yaitu

terlalu

memperhatikan nama-nama famili atau keturunan dari satu


garis keturunan dalam silsilah. Banyak pemuliaan ternak
secara tradisi memegang peranan penting dalam prosedur
pemuliaan yang masih menyalahgunakan silsilah.
3. Seleksi Penggunaan Infomasi Saudara Koleteral
Saudara kolateral adalah ternak-ternak yang ada hubungan
keluarga

dengan

seekor

individu

tetapi

bukan

nenek

moyangnya pun keturunannya. Saudara tiri atau saudara


kandung

adalah

atau

saudara

kolateral

yang

banyak

diperhatikan dalam perbaikan ternak. Penggunaan informasi


tentang saudara keturunan dalam seleksi sering disebut
seleksi famili. Pada ternak yang mempunyai banyak anak tiap

52

pelahiran dan pada unggas famili adalah kelmpok saudara


kandung dengan nilai R= 0,50.
4. Seleksi Uji Keturunan
Seleksi uji keturunan adalah penggunaan catatan hasil dari
keturunannya untuk memperkirakan nilai pemuliaan dari
seekor ternak, erat hubungannya dengan uji saudara.catatan
hasil dari keturunan seekor ternak dapat digunakman unuk
memutuskan apakah satu atau lebih dari keturunan dapat
dipilih intuk dalam pemuliaan. Dalam uji keturunan catatan
ternak-ternak

yang

sama

digunakan

untuk

menentukan

apakah orang tua dari kelompok saudara harus dipilih untuk


diternakkan selanjutnya dalam populasi itu.

Uji keturunan

digunakan dalam tiga hal :


1. Jantanjantan muda dikawinkan dengan betina betina dari
suatu kelompok penguji khusus dan jantan-jantan yang
mempunyai keturunan nggul dalam populasi.
2. Jantan-jantan muda dikawinkan dengan betina-betina muda
dalam populasi yang akan diperbaiki sehingga akan
menghasilkan keturunan yang diperlukan untuk pengujian.
3. Jantan-jantan dalam populasi yang akan diperbaiki mulamula

dipilih

keturunan,

berdasarkan

dan

digunakan

kriteria-kriteria
terus

selain

menerus.

uji

Setelah

diperoleh catatan keturunan jantan yang keturunannya


jelek disisihkan, dan yang baik digunakan terus.

6.3.3 Penilaian Sifat objektif dan Subjektif

53

Seleksi dilakukan untuk memperoleh ternak yang memiliki


sifat unggul. Biasanya ini dilakukan untuk breeding. Dalam
program

breedeng

kita

sebagai

pemulia

harus

dapat

membedakan antara breeding objektif ddan kriteria seleksi.


Suatu

gambaran

yang

dimaksud

objektif

dalam

suatu

perusahaan adalah semua yang dapat dihitung dalam produksi,


termsuk input dan output dari semua asal bentuk income.
Sehingga keputusan tentang apakah sifat yang akan diseleksi
sebaiknya ada relevansinya terhadap nilai ekonomis, yaitu dapat
diukur dan memiliki nilai heritabilitas tinggi. Ada dua sifat yang
menjadi kriteria seleksi, yaitu sifat objektif dan sifat subjektif.
Sifat objektif adalah sifat yang dapat didefinisikan dan dapat di
ukur dengan tepat (teliti), sedangkan sifat subjektif adalah sifat
yang tidak dapat dinyatakan dengan cara yang tepat.
Dalam

mengukur

terhadap

sifat

objektif

dapat

menggunakan alat ukur yang akurat dengan satuan nilai tertentu


(seperti mistar, timbangan, pita ukur, dan alat ukur lainnya).
Sehingga

setiap

personal

yang

menggunakan

pengukuran

tersebut mempunyai interpretasi yang sama.


Sifat subjektif, merupakan sifat yang diamati yang memiliki
keakuratan yang tidak pasti. Setiap personal yang mengevaluasi
akan memberikan subjektivitas yang tinggi atau interpretasi
berbeda karena tidak menggunakan alat tertentu. Oleh karena
itu untuk mengukur sifat subjektif diperlukan adanya keahlian
khusus

atau

pengalaman

yang

cukup

lama,

dan

juga

memerlukan banyak personil untuk memperkecil bias yang

54

terjadi dari hasil penilaian. Korelasi antara sifat objektif dan


subjektif

kecil

sekali,

sehingga

dalam

seleksi

sebaiknya

digunakan sifat objektif.

6.4

Metoda Praktikum
Pelaksanaan

praktikum

simulasi

respon

seleksi

menggunakan metode dugaan respon seleksi, intensitas


seleksi, dan simulasi respon seleksi.
1. Dugaan Respon Seleksi
Pada dugaan respon seleksi terdapat seleksi diferensial (S)
=

x 1 - x 0

Generasi ke 1
x 0 s

Penurunan sifat

x 1

h2
Generasi ke 2

x 2
R= x 2 - x 1

x 0

= rata-rata generasi ke 1

x 1

x 1
= rata-rata generasi ke 1 ternak terseleksi
=S . h2=
R
= rata-rata generasi ke 2

x 2

55

= respon (kemajuan) seleksi

= dugaan respon (kemajuan) seleksi

Seleksi diferensial adalah perbedaan rata-rata performa individu


yang terseleksi dengan rata-rata performa individu pada populasi
awal.
Respon seleksi atau kemajuan seleksi adalah perbandingan
antara rata-rata performa anak dengan rata-rata performa tetua.
Respon bisa diduga dengan rumus R = Sh2
Keterangan : R = dugaan kemajuan seleksi per generasi
S = seleksi diferensial
h2 = heritabilitas
Rumus kemajuan seleksi per tahun
2
Sh
R=
Dimana I = interval generasi
I

2. Intensitas Seleksi
Intensitas seleksi (i) adalah persentase individu yang akan
dijadikan tetua untuk generasi berikutnya, atau persentase
individu yang akan diberi peluang untuk memberikan
keturunan.
Nilai intensitas seleksi
Terpilih (%)

Nilai i

2,06

10

1,76

15

1,66

20

1,55

56

25

1,40

30

1,27

40

0,97

50

0,80

60

0,64

70

0,50

80

0,35

90

0,20

3. Simulasi respon seleksi


Yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah simulasi
respon seleksi pada ayam petelur.

6.5

Hasil dan Pembahasan

6.5.1 Hasil pengamatan

Simulasi 1: Parameter Produksi Ayam Lokal


N

Parameter

Betina

1.

Populasi (ekor)

1200

2.

Produksi Telur per bulan (butir)

15

3.

Lama Koleksi Telur (bulan)

4.

Setting Egg

95%

o.

57

5.

Fertilitas

85%

6.

Daya Tetas

90%

7.

Survival Anak Sampai 60 Hari

80%

8.

Survival Anak Sampai Bertelur

70%

Perhitungan :
Jumlah telur yang ditetaskan untuk pengganti = 1200 x 15
x 3 = 5400
Jumlah DOC yang dihasilkan = 5400 x 95% x 85%x 90% =
39244,50
39244,50
Jumlah DOC jantan dan betina (1:1)
=
= 19622,25
2
Jumlah survival sampai 60 hari = 19622,25 x 80% =
15697,80
Jumlah survival sampai bertelur = 15697,80 x 70% =
10988,46
Intensitas seleksi
1200
a. Betina =
10988,46
interpolasi) 120
10988,46
b. Jantan = =
x

x 100% = 10,92% = 1,68 (hasil

100%

1,09%

interpolasi)
Dugaan respon bobot badan
a. Betina = 0,30 x 35 x 1,68 = 17,64
b. Jantan = 0,40 x 50 x2,51 = 50,20
Dugaan respon bobot badan generasi ke 2
a. Betina = 600 + 17,64 = 617,64 gram
b. Jantan = 650 + 50,20 = 700,20 gram
Dugaan respon bobot badan generasi ke 3

2,51

(hasil

58

a. Betina = 617,64 + 17,64 = 635,28 gram


b. Jantan = 700,20 + 50,20 = 750,40 gram
Dugaan respon bobot badan generasi ke 4
a. Betina = 635,28 + 17,64 = 652,92 gram
b. Jantan = 750,40 + 50,20 = 800,60 gram

Dugaan Bobot Badan Ayam


Generasi

Jenis Kelamin

Jantan

700,20

740,40

800,60

Betina

617,64

635,28

652,92

Simulasi 2 : Dugaan Bobot Badan setelah terjadi Penurunan


2,5% pada Produksi Telur dan Fertilitas.
Jenis Kelamin

Generasi
2

Jantan

596,20

592,40

598,80

Betina

581,84

582,20

582,15

Perhitungan :
Generasi ke 2
Produksi telur = 2,5% x 15 = 0,4 (15 - 0,4 = 14,6)
Fertilitas = 85% - 2,5% = 82,5%
Jumlah DOC yang dihasilkan = 52560 x 95% x 82,5%x 90%
= 37074,50

59

37074,50
Jumlah DOC jantan dan betina (1:1)
=
2
18537,25

Jumlah survival sampai 60 hari = 18537,25x 80% =


14829,80
Jumlah survival sampai bertelur = 14829,80x 70% =
10380,90
Intensitas seleksi
1200
a. Betina =
10380,90
120
interpolasi)
10380,90
b. Jantan =

x 100% = 11,55% = 1,73 (hasil

x 100% = 1,15% = 2,69 (hasil

interpolasi)

Dugaan respon bobot badan


a. Betina = 0,30 x 35 x 1,73 = 18,16
b. Jantan = 0,40 x 50 x 2,69 = 53,80
Dugaan respon bobot badan generasi ke 2
a. Betina = 600 - 18,16 = 581,84 gram
b. Jantan = 650 - 53,80 = 596,20 gram
Generasi ke 3
Produksi telur = 2,5% x 14,6 = 0,4 (14,6 - 0,4 = 14,2)
Fertilitas = 82,5% - 2,5% = 80%
Jumlah DOC yang dihasilkan = 51120 x 95% x 80% x 90%
= 3605,90
Jumlah DOC jantan dan betina (1:1) =

3605,90
2

= 1802,94

Jumlah survival sampai 60 hari = 1802,94 x 80% =


1442,35

60

Jumlah survival sampai bertelur = 1442,35 x 70% =


1009,65
Intensitas seleksi
1200
1009,65
interpolasi)

x 100% = 11,88% = 1,70 (hasil

120
1009,65
interpolasi)

x 100% = 1,18% = 2,88 (hasil

a. Betina =

b. Jantan =

Dugaan respon bobot badan


a. Betina = 0,30 x 35 x 1,70 = 17,82 gram
b. Jantan = 0,40 x 50 x 2,88 = 57,60 gram
Dugaan respon bobot badan generasi ke 2
a. Betina = 600 - 17,82 = 582,20 gram
b. Jantan = 650 - 57,60 = 592,40 gram
Generasi ke 4
Produksi telur = 2,5% x 14,2 = 0,4 (14,2 - 0,4 = 13,8)
Fertilitas = 80% - 2,5% = 77,5%
Jumlah DOC yang dihasilkan = 49680 x 95% x 77,5% x 90%
= 35043,03
Jumlah DOC jantan dan betina (1:1) =

35043,03
2

17521,52
Jumlah survival sampai 60 hari = 17521,52 x 80% =
14017,21
Jumlah survival sampai bertelur = 14017,21 x 70% =
9812,05
Intensitas seleksi

61

a. Betina = 1200
9812,05
interpolasi)

x 100% = 12,23% = 1,70 (hasil

120
9812,05
interpolasi)

x 100% = 1,22% = 2,56 (hasil

b. Jantan =

Dugaan respon bobot badan


a. Betina = 0,30 x 35 x 1,70 = 17,85 gram
b. Jantan = 0,40 x 50 x 2,56 = 51,20 gram
Dugaan respon bobot badan generasi ke 2
a. Betina = 600 - 17,85 = 582,15 gram
b. Jantan = 650 - 51,20 = 598,80 gram

Simulasi 3 : Generasi 1
Parameter

Betina

Jantan

Populasi (ekor)

Produksi

telur

per

bulan (butir)
Lama

koleksi

telur

(bulan)
Jumlah telur
Setting Egg

95%

Fertilitas

85%

Daya Tetas

90%

600

650

35

50

0,30

0,30

Bobot 60 hari (gram)


Standar
(gram)
Heritabilitas

deviasi

62

Intensitas seleksi

1,71

1,58

Nilai i

5,41

5,00

Dugaan respon (gram)

32,5

30,0

682,5

630

Parameter

Betina

Jantan

Populasi (ekor)

1200

120

Dugaan bobot badan


generasi ke 2 (gram)

Generasi 2

Produksi

telur

per 15

bulan (butir)
Lama

koleksi

telur 3

(bulan)
Jumlah telur

5400

Jumlah DOC (ekor)

19622,25

19622,25

Bobot 60 hari (gram)

655,28

750,40

Standar

35

50

Heritabilitas

0,30

0,40

Intensitas seleksi

10,92%

1,09%

Nilai i

391,80

480,36

Dugaan respon (gram)

56,30

80,06

Setting Egg

95%

Fertilitas

85%

Daya Tetas

90%

deviasi

(gram)

63

6.5.2 Pembahasan
Ayam petelur (layer) merupakan jenis ayam yang produk
utamanya telur. Telur yang dihasilkan tentunya harus memiliki
kriteria yang baik. Agar telur yang dihasilkan dalam kualitas baik,
maka ayam petelur yang dipilih harus dalam kualitas baik pula.
Salah satu cara untuk mendapatkan ternak terbaik adalah
dengan melakukan seleksi. Parameter yang digunakan dalam
perhitungan, yaitu jumlah populasi, produksi telur per bulan,
lama koleksi, jumlah DOC, jumlah telur, setting egg, fertilitas,
daya tetas, standar deviasi, heritabilitas, intensitas seleksi, nilai I,
dugaan respon, dan bobot 60 hari.
Dari data yang didapat, ayam petelur pada simulasi 1 jika
dilihat dari dugaan respon bobot badan dari generasi 1 hingga
generasi 4 selalu mengalami peningkatan. Sedangkan pada
simulasi ke 2 dengan adanya penurunan produksi telur dan
fertilitas sebanyak 2,5% sehingga menurunkan pula dugaan
bobot badan dari generasi 2 hingga generasi ke 4. Penurunan
sebanyak 2,5% mengakibatkan dugaan respon bobot badan pada
betina berkurang 17,82, sedangkan pada jantan 57,60. Pada
simulasi ke 3. Dugaan respon generasi ke 2 lebih besar daripada
dugaan respon generasi ke 1. Sehingga dapat diprediksi bahwa
hasil produksi maupun respon bobot badan dari generasi ke
generasi cenderung akan mengalami peningkatan bila tidak ada
suatu parameter yang berubah.
6.6

Kesimpulan

64

Berdasarkan hasil pengamatan simulasi respon seleksi,


dugaan sifat bobot badan ayam dari generasi ke generasi
cenderung mengalami peningkatan bila tidak ada sifat produksi
yang berubah.
6.7 Daftar Pustaka
Bunghatta. 2014. Manfaat heritabilitas dalam pemuliaan ternak.
diakses tanggal 3 Mei 2016 pukul 08.46
E.J. Warwick, dkk. 1995. Pemuliaan ternak. Gadjah Mada
University Press.
Hardjosubroto, Wartono. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan di
Lapangan. Grasindo. Jakarta.
Komar Prajoga, SB. Buku Ajar Genetika Ternak. Fakultas
Peternakan. Universitas Padjadjaran Bandung.
Noor, Ronny Rachman. 1996. Genetika Ternak. Swadaya : Jakarta.
Sandra. 2009. Manfaat heritabilitas dalam pemuliaan ternak.
diakses tanggal 3 Mei 2016 pukul 08.51
Widodo, Widji, dkk. 1981. Pemuliaan Ternak (Animal Breeding).
Universitas Brawijaya Malang.
Wiradana. 2011. http://wiradana-syaoran.blogspot.com/ diakses
tanggal 3 Mei 2016 pukul 08.42

Anda mungkin juga menyukai