Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kualitas hidup menjadi istilah yang umum untuk menyatakan status
kesehatan, meskipun istilah ini juga memiliki makna khusus yang memungkinkan
penentuan rangking penduduk menurut aspek objektif maupun subjektif pada
status kesehatan. Kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan Health-related
Quality of Life (HQL) mencakup keterbatasan fungsional yang bersifat fisik
maupun mental, dan ekspresi positif kesejahteraan fisik, mental, serta spiritual.
HQL dapat digunakan sebagai sebuah ukuran integrative yang menyatukan
mortalitas dan morbidilitas, serta merupakan indeks berbagai unsur yang meliputi
kematian, morbidilitas, keterbatasan fungsional, serta keadaan sehat sejahtera
(well-being).
Kualitas hidup diartikan sebagai istilah yang merujuk pada emosional,
sosial dan kesejahteraan fisik seseorang serta kemampuan aktifitas dalam
kehidupan sehari-hari, kualitas hidup dapat dikategorikan atas; kualitas hidup
buruk dengan skor 0-50 dan kualitas hidup baik 51-100.
Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu tentang posisinya
dalam kehidupan, dalam hubungannya dengan sistem budaya dan nilai setempat
dan berhubungan dengan cita-cita, pengharapan, dan pandangan-pandangannya,
yang merupakan pengukuran multidimensi, tidak terbatas hanya pada efek fisik
maupun psikologis pengobatan.
Setiap individu memiliki kualitas hidup yang berbeda tergantung dari
masing-masing individu dalam menyikapi permasalahan yang terjadi dalam
dirinya. Jika menghadapi dengan positif maka akan baik pula kualitas hidupnya,
tetapi lain halnya jika menghadapi dengan negatif maka akan buruk pula kualitas
hidupnya.
Pada makalah ini akan dijelaskan dan dipaparkan mengenai apa yang
dimaksud dengan kualitas hidup, bagaimana pemilihan instrumen untuk
pengukuran kualitas hidup serta bagaimana pengukuran kualitas hidup dalam
farmakoekonomi

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kualitas hidup?
2. Bagaimana pemilihan instrumen untuk pengukuran kualitas hidup?
3. Bagaimana pengukuran kualitas hidup dalam farmakoekonomi?
1.3. Tujuan
1. Mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan kualitas hidup
2. Untuk mengetahui bagaimana pemilihan instrumen untuk pengukuran
kualitas hidup
3. Untuk mengetahui bagaimana pengukuran kualitas hidup dalam
farmakoekonomi

BAB II
ISI
2.1. Pengertian Kualitas Hidup
Kualitas hidup merupakan ukuran konseptual atau operasional yang sering
digunakan dalam situasi penyakit kronik sebagai cara untuk menilai dampak dari
terapi pada pasien. Pengukuran konseptual ini mencakup; kesejahteraan, kualitas
kelangsungan hidup, kemampuan seseorang untuk secara mandiri dalam
melakukan kegiatan sehari-hari.
Kualitas hidup diartikan sebagai persepsi individu mengenai keberfungsian
mereka di dalam bidang kehidupan. Lebih spesifiknya adalah penilaian individu
2

terhadap posisi mereka di dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan system
nilai dimana mereka hidup dalam kaitannya dengan tujuan individu, harapan,
standar serta apa yang menjadi perhatian individu.
Hunt (dalam Post, Witte, dan Schrijvers, 1999) mengemukakan bahwa
kalimat

kualitas

hidup

merupakan

kalimat

yang

sulit

untuk

dioperasionalisasikan. Kualitas hidup dapat disamakan dengan keadaan kesehatan,


fungsi fisik tubuh, perceived health status, kesehatan subjektif, persepsi mengenai
kesehatan, simptom, kepuasan kebutuhan, kognisi individu, ketidakmampuan
fungsional, gangguan psikiatri, kesejahteraan dan bahkan terkadang dapat
bermakna lebih dari satu pada saat yang sama.
Menurut WHO (1994) dalam (Bangun 2008), kualitas hidup didefenisikan
sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau wanita dalam hidup, ditinjau dari
konteks budaya dan system nilai dimana mereka tinggal, dan berhubungan dengan
standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Hal ini merupakan
konsep tingkatan, terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik, status
psikologis, tingkat kebebasan, hubungan social dan hubungan kepada karakteristik
lingkungan mereka.

2.2. Dimensi-Dimensi Kualitas hidup


Dimensi-dimensi dari kualitas hidup yang digunakan mengacu pada
dimensi-dimensi mengenai kualitas hidup yang terdapat dalam WHOQOL-BREF
dimana terdapat enam dimensi yaitu (1) kesehatan fisik, (2) kesejahteraan
psikologis, (3) tingkat kemandirian, (4) hubungan sosial, (5) hubungan dengan
lingkungan, dan (6) keadaan spiritual. WHOQOL in kemudian dibuat lagi menjadi
instrumen

WHOQOL-BREF

dimana

enam

dimensi

tersebut

kemudian

dipersempit lagi menjadi empat dimensi yaitu (1) kesehatan fisik, (2)
kesejahteraan psikologis, (3) hubungan sosial, dan (4) hubungan dengan
lingkungan. Keempat dimensi ini kemudian dijabarkan menjadi beberapa fase
sebagai berikut yaitu:

1. Dimensi Kesehatan Fisik


a. Aktifitas sehari-hari: menggambarkan kesulitan dan kemudahan yang
dirasakan individu ketika melakukan kegiatan sehari-hari.
b. Ketergantungan pada obat-obatan dan bantuan medis: menggambarkan
seberapa besar kecenderungan individu dalam menggunakan obatobatan atau bantuan medis lainnya dalam melakukan aktifitas seharihari.
c. Energi dan kelelahan: menggambarkan tingkat kemampuan yang
dimiliki oleh individu dalam menjalankan aktifvitasnya sehari-hari.
Mobilitas: menggambarkan tingkat perpindahan yang mampu dilakukan
oleh individu dengan mudah dan cepat.
d. Sakit dan ketidaknyamanan: menggambarkan sejauh mana perasaan
keresahan yang dirasakan individu terhadap hal-hal yang menyebabkan
individu merasa sakit.
e. Tidur dan istirahat: menggambarkan kualitas tidur dan istirahat yang
dimiliki oleh individu.
f. Kapasitas kerja: menggambarkan kemampuan yang dimiliki individu
untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
2. Dimensi Kesejahteraan Psikologis
a. Bodily image dan appearance: menggambarkan bagaimana individu
memandang keadaan tubuh serta penampilannya.
b. Perasaan negatif: menggambarkan adanya perasaan yang tidak
menyenangkan yang dimiliki oleh individu.
c. Perasaan positif: menggambarkan perasaan yang menyenangkan yang
dimiliki oleh individu.
d. Self-esteem:melihat bagaiman individu menilai atau menggambarkan
dirinya sendiri.
e. Berpikir, belajar, memori, dan konsentarsi: menggambarkan keadaan
kognitif individu yang memungkinkan untuk berkonsentrasi.
3. Dimensi hubungan sosial
a. Relasi personal: menggambarkan hubungan individu dengan orang lain.
b. Dukungan sosial: menggambarkan adanya bantuan yang didapatkan
oleh individu yang berasal dari lingkungan sekitarnya.
c. Aktivitas seksual: menggambarkan kegiatan seksual yang dilakukan
individu.
4. Dimensi hubungan dengan lingkungan.
a. Sumber financial: menggambarkan keadaaan keuangan individu.
b. Freedom, physical safety, dan, security: menggambarkan tingkat
keamanan individu yang dapat mempengaruhi kebebasan dirinya.
4

c. Perawatan kesehatan dan social care: ketersediaan layanan kesehatan


dan perlindungan sosial
d. Lingkungan rumah: menggambarkan keadaan tempat tinggal individu.
e. Kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi baru dan
keterampilan (skills): menggambarkan ada atau tidaknya kesempatan
bagi individu untuk memperoleh hal-hal yang baru yang berguna bagi
individu.
f. Partisipasi dan kesempatan untuk melakukan rekreasi atau kegiatan
yang menyenangkan: menggambarkan sejauh mana individu memiliki
kesempatan dan dapat bergabung untuk berkreasi dan menikmati waktu
luang.
g. Lingkungan fisik: menggambarkan keadaan lingkungan sekitar tempat
tinggal individu (air, udara, iklim, polusi, dll)
h. Transportasi: menggambarkan sarana kendaraan yang dapat dijangkau
oleh individu.
2.3. Kualitas Hidup Terkait Kesehatan
Kualitas hidup seringkali diartikan sebagai komponen kebahagiaan dan
kepuasan terhadap kehidupan. Akan tetapi pengertian kualitas hidup tersebut
seringkali bermakna berbeda pada setiap orang karena mempunyai banyak sekali
faktor yang mempengaruhi seperti keuangan, keamanan, atau kesehatan. Untuk
itulah digunakan sebuah istilah kualitas hidup terkait kesehatan dalam bidang
kesehatan.
Aktivitas pencegahan penyakit, kualitas hidup dijadikan sebagai aspek
untuk menggambarkan kondisi kesehat. Adapun menurut (Cohen & Lazarus, 1893
dalam Larasati, 2012) kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan
keunggulan seorang individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka. Kualitas
hidup individu tersebut biasanya dapat dinilai dari kondisi fisiknya, psikologis,
hubungan sosial dan lingkungannya (WHOQOL Group 1998 dalam Larasati,
2012).
Pengertian kualitas hidup terkait kesehatan juga sangat bervariasi antar
banyak peneliti. Definisi menurut WHO, sehat bukan hanya terbebas dari
penyakit, akan tetapi juga berarti sehat secara fisik, mental, maupun sosial.

Seseorang yang sehat akan mempunyai kualitas hidup yang baik, begitu pula
kualitas hidup yang baik tentu saja akan menunjang kesehatan.
Kualitas hidup dalam ilmu kesehatan dipakai untuk menilai rasa
nyaman/sehat (well-being) pasien dengan penyakit kronik atau menganalisis
biaya/manfaat (cost-benefit) intervensi medis, meliputi kerangka individu,
kelompok dan sosial, model umum kualitas hidup dan bidang-bidang kehidupan
yang mempengaruhi.
Kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (health-related quality
of life/HRQOL) menggambarkan pandangan individu atau keluarganya tentang
tingkat kesehatan individu tersebut setelah mengalami suatu penyakit dan
mendapatkan

suatu

bentuk

pengelolaan.

Health-related

quality

of

life

menggambarkan komponen sehat dan fungsional multidimensi seperti fisik,


emosi, mental, sosial dan perilaku yang dipersepsikan oleh pasien atau orang lain
di sekitar pasien (orang tua atau pengasuh).
Menurut De Haan et al. (1993 dalam Rahmi, 2011) kualitas hidup terkait
kesehatan harus mencakup dimensi yang diantaranya sebagai berikut:
a. Dimensi fisik
Dimensi merujuk pada gejala-gejala yang terkait penyakit dan pengobatan
yang dijalani.
b. Dimensi fungsional
Dimensi ini terdiri dari perawatan diri, mobilitas, serta level aktivitas fisik
seperti kapasitas untuk dapat berperan dalam kehidupan keluarga maupun
pekerjaan.
c. Dimensi psikologis
Meliputi fungsi kognitif, status emosi, serta persepsi terhadap kesehatan,
kepuasan hidup, serta kebahagiaan.
d. Dimensi sosial
Meliputi penilaian aspek kontak dan interaksi sosial secara kualitatif
maupun kuantitatif.
2.4. Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup

Berbagai penelitian mengenai kualitas hidup menemukan beberapa faktorfaktor lain yang mempengaruhi kualitas hidup. Berikut beberapa faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup yaitu:
a. Usia
Seiring bertambahnya usia seseorang lebih rentan terhadap penyakit jantung
koroner, namun jarang menyebabkan penyakit serius sebelum 40 tahun dan
meningkat 5 kalilipat pada usia 40 samapi 60 tahun (Price & Wilson, 2006).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 172 pasien penyakit hipertensi,
dilaporkan bahwa 33,2% pasien yang berusia lebih dari 75 tahun mempunyai
kualitas hidup buruk dibandingkan dengan pasien yang berusia lebih muda. Pasien
berusia 18-24 tahun, hanya 7,5% yang mempunyai kualitas hidup buruk.

b. Jenis Kelamin
Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2004) mengatakan bahwa gender adalah
salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Bain, Gillian, Lamnon,
Teunise (2003 dalam Nofitri, 2009) menemukan adanya perbedaan antara kualitas
hidup antara laki-laki dan perempuan, dimana kualitas hidup laki-laki cenderung
lebih baik daripada kualitas hidup perempuan. Bertentangan dengan penemuan
Bain, Gillian, Lamnon, Teunise (2004) menemukan bahwa kualitas hidup
perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki.
c. Pendidikan
Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2004) mengatakan bahwa tingkat
pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup
subjektif. Penelitian yang dilakukan oleh Wahl, Astrid, Rusteun, Hanested (2004)
menemukan bahwa kualitas hidup akan meningkat seiring dengan lebih tingginya
tingkat pendidikan yang didapatkan oleh individu. Penelitian yang dilakukan oleh
Noghani, Asghapur, dan Safa (2007) dalam menemukan adanya pengaruh positif
dari pendidikan terhadap kualitas hidup subjektif namun tidak banyak.
d. Status pernikahan
Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2004) mengatakan bahwa terdapat
perbedaan kualitas hidup antara individu yang tidak menikah, individu bercerai

ataupun janda, dan individu yang menikah atau kohabitasi. Penelitian empiris di
Amerika secara umum menunjukkan bahwa individu yang menikah memiliki
kualitas hidup yang lebih tinggi daripada individu yang tidak menikah, bercerai,
ataupun janda/duda akibat pasangan meninggal. Hal ini didukung oleh penelitian
kualitas hidup dengan menggunakan kuesioner SF-36 terhadap 145 laki-laki dan
wanita, dilaporkan bahwa laki-laki dan perempuan yang sudah menikah memiliki
kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan yang belum menikah atau
yang sudah bercerai. Kualitas hidup yang baik pada laki-laki dan wanita yang
sudah menikah karena adanya dukungan sosial dari pasangannya.
e. Pekerjaan
Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2004) mengatakan bahwa terdapat
perbedaan kualitas hidup antara penduduk yang berstatus sebagai pelajar,
penduduk yang bekerja, penduduk yang tidak bekerja (atau sedang mencari
pekerjaan), dan penduduk yang tidak mampu bekerja (atau memiliki disabiliti
tertentu). Wahl, Astrid, Rusteun & Hanested (2004) menemukan bahwa status
pekerjaan berhubungan dengan kualitas hidup baik pada pria maupun wanita.
f. Keteraturan berobat
Kepatuhan menjalani pengobatan sangat diperlukan untuk mengetahui
tekanan darah serta mencegah terjadinya komplikasi. Keteraturan berobat
dikatakan teratur apabila dilakukan berturut-turut dalam beberapa bulan terahir
dan tidak teratur apabila tidak dilakukan berturut-turut dalam beberapa bulan
terahir (Annisa, 2013). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mubin
(2010) yang mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat
pengetahuan tentang penyakit hipertensi seperti akibat dari penyakit jika tidak
minum obat atau kontrol tekanan darah secara rutin maka akan mengakibatkan
komplikasi penyakit, sehingga mereka meluangkan waktu untuk kontrol tekanan
darah.
g. Tekanan darah
Tekanan darah adalah kekuatan yang diperlukan agar darah dapat mengalir
dalam pembuluh darah dan beredar mencapai semua jaringan tubuh manusia.
Darah yang dengan lancar beredar ke seluruh bagian tubuh berfungsi sangat
penting sebagai media pengangkut oksigen serta zat-zat lain yang diperlukan bagi

kehidupan sel-sel tubuh. Selain itu, darah juga berfungsi sebagai sarana
pengangkut sisa hasil metabolisme yang tidak digunakan lagi oleh tubuh untuk
dikeluarkan.
Kualitas hidup anak secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor, antara
lain:
1. Kondisi Global, meliputi lingkungan makro yang berupa kebijakan
pemerintah

dan

asas-asas

dalam

masyarakat

yang

memberikan

perlindungan anak
2. Kondisi Eksternal, meliputi lingkungan tempat tinggal (cuaca, musim,
polusi, kepadatan penduduk), status sosial ekonomi, pelayanan kesehatan
dan pendidikan orang tua
3. Kondisi Interpersonal, meliputi hubungan sosial dalam keluarga (orangtua,
saudara kandung, saudara lain serumah dan teman sebaya)
4. Kondisi Personal, meliputi dimensi fisik, mental dan spiritual pada diri
anak sendiri, yaitu genetik, umur, kelamin, ras, gizi, hormonal, stress,
motivasi belajar dan pendidikan anak serta pengajaran agama
Model konsep kualitas hidup dari Wilson dan Cleary dapat dilihat pada
bagan di bawah ini.

2.5. Pengukuran Kualitas Hidup


Pengukuran kualitas hidup mempunyai manfaat yaitu sebagai perbandingan
beberapa alternatif pengelolaan, data penelitian klinis, penilaian manfaat suatu
intervensi klinis, uji tapis dalam mengindentifikasikasi anak-anak dengan
kesulitan tertentu dan membutuhkan tindakan perbaikan secara medis ataupun
bantuan konseling, juga dapat dipakai untuk pengenalan dini sehingga dapat
diberikan intervensi tambahan (non medis yang diperlukan), maupun prediktor
untuk memperkirakan biaya perawatan kesehatan.
Pengukuran kualitas hidup terkait kesehatan seseorang dapat menggunakan
kuesioner yang berisi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Menurut
Hermaini (2006), terdapat tiga alat ukur untuk menentukan kualitas hidup
seseorang, yaitu:
a. Alat Ukur Generik

10

Merupakan alat ukur yang digunakan untuk penyakit maupun usia.


Keuntungan alat ukur ini lebih luas dalam penggunaannya, kelemahan alat ukur
ini tidak dapat mencakup hal-hal khusus pada suatu penyakit tertentu. Contoh alat
ukur ini adalah SF-36, instrument yang digunakan pada penelitian ini untuk
mengukur faktor-faktor kualitas hidup pada penderita hipertensi adalah SF-36,
merupakan suatu isian yang berisi 36 pertayaan yang disusun untuk mensurvey
status kesehatan pada penderita hipertensi yang meliputi:
1. Pembatasan aktifitas fisik karena masalah kesehatan yang ada
2. Pembatasan aktifitas sosial karena masalah fisik dan emosional
3. Pembatasan aktifitas sehari-hari karena masalah fisik, nyeri, kesehatan
mental secara umum
4. Pembatasan aktifitas sehari-hari karena masalah emosional, vitalitas hidup,
dan pandangan kesehatan secara umum.
Instrument SF-36 terkait kualitas hidup terbagi atas delapan dimensi, yang
terdiri dari dimensi fisik (10 pertayaan), peran fisik (4 pertayaan), rasa nyeri (2
pertanyaan), peran emosional (3 pertanyaan), dan kesehatan mental (5 pertayaan)
serta ditambah 2 komponen ringkasan fisik dan mental. SF-36 adalah sebuah
kuisioner yang digunakan untuk survey kesehatan untuk menilai kualitas hidup,
yang terdiri dari 36 pertayaan yang menghasilkan 8 skala fungsional kesehatan
dan skor kesejahteraan yang berbasis psikometri kesehatan fisik dan psikis, serta
merupakan kumpulan dari langkah-langkah dan preferensi kesehatan yang
berbasis indeks. Skor penilaian kualitas hidup antara 0-100 dikatakan baik apabila
skor kualitas hidup 51-100 dan dikatakan buruk apabila skor kualitas hidup 0-50.
SF-36 merupakan instrumen pengukuran kualitas hidup yang digunakan
secara luas untuk berbagai macam penyakit. Kuisioner SF-36 digunakan untuk
mengukur 8 kriteria kesehatan, yang terdiri atas:
1) Pembatasan aktifitas fisik kareana masalah fisik yang ada
2) Pembatasan aktifitas sosial kareana masalah fisik dan emosional
3) Pembatasan aktifitas sehari-hari karena masalah fisik
4) Nyeri pada seluruh badan
5) Kesehatan mental secara umum

11

6) Pembatasan aktifitas sehari-hari karena masalah emosional


7) Vitalitas hidup
8) Pandangan kesehatan secara umum. Dalam dimensi tersebut dapat digolongkan
menjadi 2 komponen yaitu komponen fisik dan komponen mental.

b. Alat Ukur Spesifik


Merupakan alat ukur yang spesifik untuk mengukur penyakit-penyakit
tertentu, biasanya berisi pertayaan-pertayaan khusus yang sering terjadi pada
penyakit yang diderita oleh klien. Kelebihan alat ukur ini yaitu dapat memberikan
hasil yang lebih tepat yang terkait keluhan atau hal khusus yang berperan dalam
suatu penyakit tertentu. Kelemahan pada alat ukur ini tidak dapat digunakan pada
pengukuran penyakit lain dan biasanya pertanyaan-pertanyaanya sulit untuk

12

dimengerti oleh klien. Contoh alat ukur ini Kidney Desease Quality of Life
Short From (KDQOL-SF).
c. Alat Ukur Utility
Merupakan

suatu

pengembangan

alat

ukur,

biasanya

generik.

Pengembangan dari penilaian kualitas hidup menjadi parameter, sehingga dapat


memiliki manfaat yang berbeda. Contoh alat ukur ini European Quality of Life 5
Dimension (EQ-5D) yang telah dikonfersi menjadi Time Trede Off (TTO) yang
dapat berguna dalam bidang ekonomi, yaitu dapat digunakan untuk menganalisa
biaya kesehatan dan perencanaan keuangan kesehatan Negara.
2.6. Instrumen Pengukuran Kualitas Hidup
1. Instrumen WHOQOL-BREF
Instrumen WHOQOL-BREF (World Health Organization Quality Of
Life-BREF) merupakan penggembangan dari instrumen WHOQOL-100. Kedua
instrumen ini dibuat oleh tim dari World Health Organization (WHO). Instrumen
WHOQOL-BREF adalah alat ukur yang valid (r= 0.89-0.95) dan reliable (R=
0.66-0.87). Instrumen WHOQOL-BREF ini merupakan rangkuman dari World
Health Organization Quality Of Life (WHOQOL)100 yang terdiri dari 26
pertanyaan. WHOQOL BREF terdiri dari dua bagian yang berasal dari kualitas
hidup secara menyeluruh dan kesehatan secara umum, dan satu bagian yang
terdiri dari 24 pertanyaan yang berasal dari WHOQOL100.
Menurut Raudhah (2012) dalam (Koesmanto, 2013) untuk menilai
WHOQOL BREF, maka ada empat domain yang digabungkan yaitu domain
fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Semua pertanyaan berdasarkan
pada skala Likert lima poin (1-5) yang fokus pada intensitas, kapasitas, frekuensi
dan evaluasi. Skala respon intensitas mengacu kepada tingkatan dimana status
atau situasi yang dialami individu. Skala respon kapasitas mengacu pada kapasitas
perasaan, situasi atau tingkah laku. Skala respon frekuensi mengacu pada angka,
frekuensi, atau kecepatan dari situasi atau tingkah laku. Skala evaluasi mengacu
pada taksiran situasi dari situasi, kapasitas atau tingkah laku.
Pertanyaan nomor 1 dan 2 pada kuesioner mengkaji tentang kualitas
hidup secara menyeluruh dan kesehatan secara umum. Domain 1 Fisik terdapat
13

pada pertanyaan nomor 3, 4, 10, 15, 16, 17, dan 18. Domain 2 - Psikologis ada
pada pertanyaan nomor 5, 6, 7, 11, 19, dan 26. Domain 3 - Hubungan sosial ada
pada pertanyaan nomor 20, 21, dan 22. Domain 4 - Lingkungan ada pada
pertanyaan nomor 8, 9, 12, 13, 14, 23, 24, dan 25. Instrumen ini juga terdiri atas
pertanyaan positif, kecuali pada tiga pertanyaan yaitu nomor 3,4, dan 26 yang
bernilai

negatif.

Pada

penelitian

ini

skor

tiap

domain

(raw

score)

ditransformasikan dalam skala 0-100.

a. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah kuesioner
yang kita gunakan mampu mengukur apa yang hendak kita ukur. Alat ukur ini
telah diadaptasi ke berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia oleh Dr. Riza
Sarasvita dan Dr. Satya Joewana untuk penelitian pada drug user namun belum
ada uji psikometrinya. Selain itu, alat ukur adaptasi ini juga digunakan untuk
meneliti kualitas hidup pada dewasa muda lajang. Uji validitas ini dilakukan oleh
Wardhani (2006) terhadap alat ukur WHOQOL - BREF dan hasilnya adalah
bahwa alat ukur WHOQOL BREF adalah alat ukur yang valid dan reliable
dalam mengukur kualitas hidup. Uji validitas yang dilakukan oleh Wardhani
(2006) adalah uji validitas item dengan cara menghitung korelasi skor masing
masing item dengan skor dari masingmasing dimensi WHOQOL BREF. Hasil
yang didapat adalah ada hubungan yang signifikan antara skor item dengan skor
dimensi (r = 0,409 0,850) sehingga dapat dinyatakan bahwa alat ukur
WHOQOL BREF adalah alat ukur yang valid dalam mengukur kualitas hidup
b. Uji Reliabilitas

14

Uji reliabilitas ini bertujuan untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan
sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap sama hasilnya apabila
dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap hal yang sama dengan alat
ukur yang sama. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan coefficient Alpha
Cronbach dengan bantuan SPSS 11.5, menghasilkan nilai r = 0, 8756 sehingga
dapat dikatakan bahwa alat ukur WHOQOL - BREF berbentuk kuesioner yang
berisi 26 pertanyaan dari empat dimensi dari kualitas hidup adalah alat ukur yang
reliable dalam mengukur kualitas hidup.
2. Instrumen Pediatric Quality of Life Inventory TM (Peds QL)
Pemilihan instrumen pengukur kualitas hidup pada anak berdasarkan atas
konsep, keandalan, kesahihan dan kepraktisan instrumen tersebut. Pediatric
Quality of Life Inventory TM (Peds QL) merupakan salah satu instrument
pengukur kualitas hidup anak, dikembangkan selama 15 tahun oleh Varni dkk
(1998). Peds QL mempunyai 2 modul: generik dan spesifik penyakit. Peds QL
generik didesain untuk digunakan pada berbagai keadaan kesehatan anak,
instrumen ini dapat membedakan kualitas hidup anak sehat dengan anak yang
menderita suatu penyakit akut atau kronik. Peds QL spesifik penyakit telah
dikembangkan untuk penyakit-penyakit keganasan, asma, arthritis, diabetes anak,
fibrosis kistik, penyakit sickle cell, palsi serebralis dan kardiologi
Konsep Peds QL generik adalah menilai kualitas hidup sesuai dengan
persepsi penderita terhadap dampak penyakit dan pengelolaan pada berbagai
bidang penting kualitas hidup anak yang terdiri dari 6 bidang dengan 30
pertanyaan yaitu: fisik (8 pertanyaan), emosi (5 pertanyaan), sosial (5 pertanyaan),
sekolah (5 pertanyaan), kesehatan (5 pertanyaan) dan persepsi terhadap kesehatan
secara menyeluruh (1 pertanyaan). Keandalan instrumen ini ditunjukkan dengan
konsistensi internal yang baik, dengan koefisien alfa secara umum berkisar antara
0.70-0.92. Kesahihannya ditunjukkan pada analisis tingkat bidang maupun
pertanyaan yang memberikan penurunan nilai sehubungan dengan adanya
penyakit dan pengelolaan, yang tidak hanya mewakili penyakit kronis saja. Peds
QL praktis untuk digunakan, pengisian 30 pertanyaan hanya memakan waktu

15

kurang dari 5 menit, rasio kehilangan data sekitar 0,01%, penilaian sangat mudah
dengan memberi nilai 0-4 pada setiap jawaban pertanyaan dan secara mudah
dikonversikan dalam skala 0-100 untuk interpretasi standar. Pengisian kuesioner
dapat diwakili orang tua pada anak usia 2-18 tahun dan pengisian sendiri pada
anak umur 5-18 tahun, pengisian sendiri oleh anak umur 5-7 tahun dibantu oleh
interviewer, pertanyaan pada kedua bentuk ini prinsipnya sama, berbeda hanya
pada bentuk kalimat tanya untuk orang pertama atau ketiga. Instrumen telah diuji
dalam bahasa Inggris, Spanyol dan Jerman, dan saat ini telah diadaptasi secara
Internasional.
Berdasarkan penelitian Varni, Skarr, Seid dan Burwinkle (2002) nilai total
kualitas hidup anak sehat secara umum adalah 81,38 15,9. Anak dengan nilai
total Peds QL dibawah standar deviasi (SD) disebut kelompok beresiko.
Kelompok beresiko dengan nilai total Peds QL <-1SD sampai -2SD memerlukan
pengawasan dan intervensi medis jika perlu, kelompok beresiko dengan nilai total
Peds QL <-2SD memerlukan intervensi segera.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kualitas hidup merupakan ukuran konseptual atau operasional yang sering
digunakan dalam situasi penyakit kronik sebagai cara untuk menilai dampak dari
terapi pada pasien. Pengukuran konseptual ini mencakup; kesejahteraan, kualitas

16

kelangsungan hidup, kemampuan seseorang untuk secara mandiri dalam


melakukan kegiatan sehari-hari.
Dimensi-dimensi dalam kualitas hidup meliputi: dimensi kesehatan fisik
dimensi kesejahteraan psikologis, dimensi hubungan sosial dan dimensi hubungan
dengan lingkungan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup
adalah usia, jenis kelamin, status pernikahan, pekerjaan, pendidikan, keteraturan
minum obat dan tekanan darah.
Terdapat tiga alat ukur untuk menentukan kualitas hidup seseorang, yaitu:
alat ukur generik, alat ukur spesifik dan alat ukur utility. Instrumen yang
digunakan untuk alat ukur kualitas hidup adalah Instrumen WHOQOL-BREF dan
Instrumen Pediatric Quality of Life Inventory TM (Peds QL).
3.2. Saran
Demi sempurnanya makalah ini kami mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca agar makalah ini bisa menjadi lebih baik untuk
selanjutnya. Serta kami menyarankan kepada pembaca agar mulai memperhatikan
kualitas hidu untuk memperoelh kehidupan yang lebih baik serta mendapatkan
kesehatan yang lebih baik dengan memperhatikan kualitas hidup.

DAFTAR ISI
Santiya, Sri. 2015. Gambaran Kualitas Hidup Lansia Dengan Hipertensi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Rendang Pada Periode 27 Februari Sampai 14
Maret 2015. ISSN: 2089-9084 ISM, VOL. 4 NO.1. Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana.

17

Anda mungkin juga menyukai