Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Kejahatan seksual universal.

terjadi di seluruh dunia

tiap tingkatan masyarakat

tidak memandang usia dan jenis kelamin.

Menurut ( National Violence against Women Survey), sebanyak 17,6% wanita dan
3% pria pernah mengalami kekerasan seksual membuat laporan ke pihak
berwajib.
Di Indonesia, menurut Komnas Perempuan : 1998-2011 tercatat ada 93.960 kasus
kekerasan seksual terhadap perempuan baik yang sudah dewasa maupun yang
dibawah umur 20 perempuan /hari.
75% dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban.
Kasus kejahatan seksual seperti fenomena gunung es banyak korban enggan
melapor dikarenakan banyak hal seperti malu, perasaan takut disalahkan,
mengalami trauma, atau karena tidak mengetahui bagaimana prosedur pelaporan
yang benar.
Salah satu cara untuk memperjelas angka kejadian kejahatan yaitu dengan
melaporkan dan membuat Visum et Repertum dokter diharapkan mampu untuk
mengetahui dan melakukan pemeriksaan pada korban kejahatan seksual.

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi dan Dasar Hukum

Secara luas: segala jenis kegiatan atau hubungan seksual yang dipaksakan
dan atau tanpa persetujuan dari korban.

Secara sempit: perkosaan dan adanya persetubuhan.

Persetubuhan : adanya penetrasi penis ke dalam vagina.

UU no 23. Tahun 2002


Pasal 1 (15)

Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak


dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari
kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi
dan atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropiksa, dan zat adiktif lainnya,
anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan
baik fisik dan atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban
perlakuan salah dan penelantaran.

Pasal 17(2)

Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang
berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.

Pasal 59

Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung


jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi
darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas
dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan atau seksual,
anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan
narkotika, alkohol, psikotropiksa, dan zat adiktif lainnya, anak korban
penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan
atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah
dan penelantaran.

Pasal 81

(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan
orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun dan
paling singkat tiga tahun dan denda paling banyak tiga ratus juta rupiah dan
paling sedikit enam puluh juta rupiah.

(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 berlaku pula


bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat,
serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan
dengannya atau dengan orang lain.

Aspek Etik dan Medikolegal

Informed consent

diberikan sebelum pemeriksaan dimulai

Isi mencakup tujuan pemeriksaan dan kepentingannya untuk


pengungkapan kasus, prosedur pemeriksaan, teknik pengambilan
barang bukti, dokumentasi berupa foto untuk rekam medis serta
pembuatan visum et repertum.

Persetujuan dari korban/ orang tua/ walinya

Visum et repertum dibuat permintan tertulis / Surat Permintaan Visum (SPV)


dari polisi penyidik yang berwenang dan diantar oleh polisi penyidik sehingga
barang bukti dapat terjamin

Pemeriksaan : objektif-imparsial, konfidensial dan professional

Pemeriksaan

Tujuan pemeriksaan korban kejahatan seksual adalah untuk :

Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan

Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan

Memperkirakan usia

Menentukan pantas atau tidaknya korban untuk dikawin, termasuk tingkat


perkembangan seksual

Prinsip pemeriksaan korban kejahatan seksual :

Pemeriksaan dilakukan sedini mungkin setelah kejadian.

Pemeriksaan dilakukan oleh dokter didampingin dengan satu bidan/ perawat

Sistematis dari ujung kepala sampai ujung kaki, tidak hanya daerah kemaluan
saja dan mencatat semua hasil temuan pemeriksaan.

Anamnesis

Bahasa awam dan yang mudah dimengerti.

Anamnesis dapat dibagi menjadi anamnesis umum dan anamnesis khusus.

Anamnesis Umum

umur

tanggal lahir

status pernikahan

riwayat paritas

riwayat haid

riwayat koitus

riwayat penggunaan alat kontrasepsi

riwayat penggunaaan obat-obatan

riwayat penyakit

keluhan yang dirasakan saat ini

Anamnesis Khusus

Ditanyakan keterangan mengenai kejadian kejahatan seksual yang


dilaporkan

What and how

Jenis tindakan : apakah pemerkosaan, persetubuhan, pencabulan dan


sebagainya

Ada tidaknya kekerasan/ ancaman kekerasan

Ada tidaknya upaya perlawanan

Kesadaran korban saat dan setelah kejadian

Ada tidaknya pemberian makanan/minuman sebelum kejadian

Nyeri daerah kemaluan? Nyeri saat buang air besar/ kecil? terjadi
ejakulasi?

Tindakan yang dilakukan setelah kejadian? ( Ganti baju? Berkemih?)

When

Tanggal dan jam kejadian dibandingkan dengan waktu saat melapor.

Frekuensi kejadian?

Where

Who

Pelaku dikenal atau tidak

Jumlah pelaku

Usia pelaku

Hubungan antara pelaku dengan korban

(Ilmu Kedokteran Forensik, 1997)

Pemeriksaan Fisik

Tingkat kesadaran

Keadaan umum

Tanda vital

Penampilan : rapi, dandanan menor

Afek : tampak takut, tampak sedih, emosi

Pakaian: kotor, robek

Status generalis : tinggi dan berat badan, rambut, gigi mulut ( pertumbuhan
gigi molar kedua dan ketiga), kuku, tanda perkembangan seksual sekunder,
tanda intoksikasi NAPZA serta status lokalis luka yang terdapat pada bagian
tubuh lain selain kemaluan.

Pemeriksaan Fisik Khusus

Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan

Persetubuhan dipengaruhi oleh besar penis dan elastisitas selaput


darah/hymen.

Tidak selalu hymen akan robek saat ada alat kelamin/benda asing lain
yang masuk bila hymen elastis. Oleh karena itu, tanda pasti terjadi
adanya persetubuhan adalah ditemukannnya cairan mani dalam
vagina.

Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan

Berupa cakaran akibat kuku, luka gigitan dan luka memar.

Tindakan memberi obat bius atau racun juga merupakan tindak


kekerasan.

Semakin cepat rentang waktu pemeriksaan, maka hasil yang


diharapkan akan semakin akurat

Memperkirakan usia

Menentukan pantas atau tidaknya korban untuk dikawin, termasuk tingkat


perkembangan seksual

Pemeriksaan daerah pubis, vulva, labia mayor, labia minor, vestibulum, dan
vagina untuk melihat ada tidaknya perlukaan pada jaringan lunak atau
bercak cairan mani

Penyisiran rambut pubis untuk melihat kemungkinan adanya rambut milik


pelaku

Melihat hymen/ selaput dara : catat bentuk, diameter,elastisitas, ketebalan,


warna, lokasi robekan dan arahnya, robekan mencapai dasar/ insersio atau
tampak perdarahan, atau sudah ada tanda penyembuhan.

Melihat serviks dan portio untuk mencari tanda-tanda pernah melahirkan

Pemeriksaan pada uterus untuk mencari tanda-tanda kehamilan

Pemeriksaan pada anus, perianal, dan mulut bila ada indikasi.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk memperoleh bukti-bukti tindak


kejahatan seksual pada korban.

Sampel yang digunakan dapat diperoleh dari ;

Pakaian korban saat kejadian

Rambut pubis

Kerokan kuku

Swab : diambil dari kulit sekitar vulva, vestibulum, vagina, forniks, kulit
bekas ciuman, rongga mulut, anus dan

Darah

Urin

Pemeriksaan Laboratorium Pelaku

Tujuan : untuk menentukan adanya epitel vagina pada penis

Cara :

Kaca objek ditempelkan mengelilingi corona glandis dan diletakkan di


atas cairan lugol

Hasil yang diharapkan : epitel dinding vagina berbentuk hexagonal tampak


berwarna coklat kekuningan.

Kesimpulan

Kejahatan seksual adalah kejahatan yang universal.

Kejahatan seksual ini dapat terjadi di seluruh dunia dan pada tiap tingkatan
masyarakat tidak memandang usia dan jenis kelamin.

Kejahatan seksual memiliki dasar hukum berdasarkan Kitab Undang-undang


Hukum Pidana (KUHP) bab XIV tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan yang
meliputi persetubuhan di dalam perkawinan maupun di luar perkawinan.

Dalam melakukan pemeriksaan, dokter harus bersikap objektif-imparsial,


konfidensial dan professional.

Penatalaksaan yang baik dan sesuai prosedur akan sangat membantu


pengungkapan kasus kejahatan seksual. Dokter juga harus memperhatikan
aspek etika dan medikolegal agar dapat membantu korban mendapatkan
keadilan tanpa menambah penderitaan korban.