Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI DIGITAL

CHAPTER 5
PCM I (Counter Type)

Oleh :
Rizky Puspa Arum Sari (22)
TT-2A

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016

Bab. 5 PCM 1 Seragam (Tipe Counter)

Dalam percobaan ini , kita akan memahami proses konversi dari kedua counter
tipe konverter A/D dan konverter D/A paralel menggunakan metode PCM seragam. Kita
juga akan mendiskusikan penyebab umum dari noise dan distorsi dalam wilayah waktu
dan menentukan Nyquist rate yang berlawanan dengan sinyal informasi dasar pada
teori sampling.

Percobaan ini bisa didemonstrasikan betapa jumlah efek interval quantisasi


noisw dalam wilayah waktu. Hal ini juga bisa menjelaskan efek dari pemfilteran
bandwidth yang lemah dalam quantisasi sinyal eror. Kita bisa mengukur sinyal untuk
perbandingan quantisasi noise dan memahami resolusi yang berlawanan dengan
quantisasi noise dan efek pada amplitudo sinyal informasi.Percobaan 5-1
Konversi A/D & D/A
1. Tujuan percobaan
1.1.
Untuk memaham proses mengkonversi Analog Digital dan Digital
Analog.
1.2.
Untuk memahami metode dari konversi counter tipe A/D.
1.3.
Untuk memahami metode dari konversi paralel D/A.
2. Alat alat percobaan
2.1.
Power supply (U-2920A).
2.2.
Sumber sinyal (U-2920B).
2.3.
Pulse Code Modulation I (tipe counter)(U-2920E).
2.4.
Osiloskop digital (2-Ch, 60 [MHz]).
2.5.
Multimeter digital.
3. Prosedur percobaan
3.1.
Mempersiapkan modul dan mengukur peralatan seperti gambar 5-1.
Atur semua terminal pengaturan ADJ untuk masing masing MIN dan
memberikan daya untuk semua perangkat.

3.2.
3.3.

Frekuensi selektor diatur dalam sumber sinyal untuk 8[KHz].


Hubungkan CLK, RAMP, SINE terminal output dari sumber sinyal
untuk CLK, RAMP, terminal masukan audio dari modul PCM I.

3.4.

Hubungkan 32[KHz] dari pembangkit sinyal dari sumber sinyal untuk

terminal CLKx4 dan hubungkan 128[KHz] untuk terminal CLKx16 dari


modul PCM I.
3.5.
Osiloskop diatur seperti :
TIME/DIV
0.2 [ms]
CH-1 VOLT/DIV
5 [V]
CH-2 VOLT/DIV
5 [V]
MODE TRIGGER
AUTO
SUMBER TRIGGER
CH-1
MODE VERTICAL
DUAL
COUPLING MASUKAN
DC
SLOPE
+
3.6.
Hubungkan probe masukan CH-1 dar osiloskop untuk TP1 dari PCM I,
atur frekuensi untuk 1[KHz] oleh pengaturan frekuensi ADJ. Terminal
kontrol dari pembangkit audio dan atur amplitudo untuk 8 [Vpp] dengan
menggunakan amplitudo ADJ , control terminal.
3.7.
Hubungkan probe masukan CH-1 dar osiloskop untuk TP2 dari PCM I,
atur tegangan ramp 9 [Vpp] oleh pengaturan frekuensi ADJ. Terminal
kontrol dalam pembangkit ramp.
3.8.
Jika CH-1, 2 probe masukan dari osiloskop harus dihubungkan ke TP1
dan J1 dari modul PCM, dua bentuk gelombang tampak seperti gambar 5-2.
3.9.
Pindahkan CH-1, 2 probe masukan dari osiloskop dihubungkan ke
terminal TP1 dan J1 dari modul PCM 1 dan hubungkan terminal J1 dan
terminal J2.

Gambar 5-2 sinyal informasi(atas) dan output sample dan hold(bawah)


-

Apa nama 2 gelombang yang muncul pada gambar 5-2?


Untuk gelombang yang berada pada input merupakan sebuah sinyal informasi
dan outputnya berupa output sample dan hold
Berapa kali sampling dan ukuran fasa dalam satu siklus gelombang sampling
sesaat yang ditunjukkan oleh gambar 5-2?
Terjadi dua kali sampling dalam siklus gelombang tersebut.

(10)
Periksa apakah gelombang dari osiloskop pada gambar 5-8 muncul pada
layar atau tidak,pada saat input probe osiloskop CH-1 akan dikoneksikan dengan
TP3 dari modul PCM-I. pada waktu tersebut ,atur TIME/DIV dari osiloskop ke
0.1ms.

Gambar 5-3 bentuk gelombang TP3


-

Bagaimana sinyal informasi akan dimodulasikan kedalam gelombang tersebut?


Sinyal informasi merubah fasa gelombang pembawa(carrier) dengan amplitude
sinyal pemodulasi.

(11)
Jika input probe osiloskop CH1,2 akan dikoneksikan dengan
SYNC,CLK dan PCM OUTPUT sambungan di modul PCM-I,gelombang
pada osiloskop seperti gambar 5-4 akan dimunculkan. Pada saat itu atur
TIME/DIV dari osiloskop 50us.

Gambar 5-4 sinyal clock(atas) dan sinyal PCM(bawah)


Periksa berapa banyak gelombang pulsa dari CH - 2 yang akan dimasukkan
kedalam CH - 1 gelombang masukan dari ossiloscope . Masukkan kode 4 - bit .
(12)
Jika masukan probe dari ossiloscope CH - 1 , 2 akan terhubung ke J1 dan
terminal PCM OUTPUT dari PCM I modul , gelombang dari osiloskop sebagai
tokoh 5-5 akan muncul . Pada saat itu , menyesuaikan WAKTU / DIV ke 50
[ kami ] untuk membuat ukuran fase kuantisasi muncul di layar osiloskop
dengan sekitar empat potong . Tapi PCM sinyal output langsung akan muncul
dengan penundaan sebanyak satu siklus fase kuantisasi . Artinya , kita dapat
menyadari bahwa itu akan muncul dengan menunda dengan satu siklus ke arah
sisi kanan di osiloskop .

Gambar 5-5 ukuran fasa sampling sesaat(atas) dan sinyal PCM


Berapa banyak pulsa sinyal PCM terhadap ukuran fase maksimum bentuk
gelombang sampel sesaat ?
Terdapat 10 pulsa untuk gelombang sampel sesaat.
Tolong jelaskan skala proses konversi A / D ?
ADC mengonversi sinyal dari analog kedalam bentuk besaran yang merupakan
rasio perbandingan sinyal input dan tegangan referensi.
(13) Hapus INPUT AUDIO dari PCM Saya modul terhubung dengan sinus
masukan dari Signal SUMBER sementara dan juga menghapus jalur koneksi
yang menghubungkan terminal J1 dan J2 terminal sementara.
(14) Hubungkan DC TEGANGAN 5volt terminal output dari POWER SUPPLY
untuk J2 terminal PCM I modul.

(!5)

Membuat Status pencahayaan dari ENCODER DISPLAY Diode


untuk sama dengan tabel 5-1 dengan menyesuaikan DC TEGANGAN kontrol
ADJ terminal. Pada saat itu , mengukur rentang tegangan terminal J2 dan
merekamnya ke dalam tabel 5-1.
Tabel 5-1. 4-bit A/D kode konversi
ENCODE DISPLAY

VOLTAGE
RANGE [V]

D3

D2

D1

D0

ON

ON

ON

ON

ON

ON

ON

OFF

3.6

ON

ON

OFF

ON

2.69

ON

ON

OFF

OFF

2.54

ON

OFF

ON

ON

1.9

ON

OFF

ON

OFF

1.24

ON

OFF

OFF

ON

0.67

ON

OFF

OFF

OFF

0.09

OFF

ON

ON

ON

-0.45

OFF

ON

ON

OFF

-1.3

OFF

ON

OFF

ON

-1.8

OFF

ON

OFF

OFF

-2.6

OFF

OFF

ON

ON

-3.04

OFF

OFF

ON

OFF

-3.9

OFF

OFF

OFF

ON

Tak hingga

OFF

OFF

OFF

OFF

Tak hingga

Ukuran fase konversi A / D ?


(16)
Mulai sekarang , kami akan melakukan tes pada D / A konversi dan PCM
demodulasi .Hubungkan INPUT AUDIO dari PCM Saya modul output sinus dari
SIGNAL SUMBER lagi, menghapus DC TEGANGAN 5V terminal terhubung dengan
terminal J2 , dan kemudian menghubungkan J1 terminal dan terminal J2 lagi.
(17)
Hubungkan SYNC , CLK , CLKx4 , dan PCM OUTPUT dari DECODER untuk
SYNC . CLK , CLKx4 , dan PCM INPUT masing-masing. Dan kemudian
menghubungkan J3 terminal dan terminal J4 .
(18)
Jika kita mengatur masukan coupling dari osiloskop CH-1 , 2 ke AC dan
menghubungkan setiap probe untuk TP1 dan J3 terminal dari PCM I , bentuk

gelombang pada gamgbar 5-6 akan muncul di layar osiloskop.Pada waktu itu ,
atur Time/div osiloskop ke 50 s.

Gambar 5-6 Informasi sinyal pesan ( atas) & D / A keluaran konversi demodulasi
( bawah )
Tolong jelaskan bentuk demodulasi sinyal informasi diproses dengan konversi
D/A
Ketika kita mengukur amplitudo sinyal pesan input dan sinyal pesan
demodulasi.apa perbedaanya ?
(19)
Bandingkan dan amati sinyal pesan input dan sinyal pesan demodulasi
dengan menghubungkan CH - 1 masukan probe osiloskop ke AUDIO OUTPUT
dari modul PCM I.

-Apakah kedua sinyal yang sama?


Tidak. Adanya beda fasa dari kedua sinyal tersebut yaitu beda fasa 180 derajat.
(20)
Hubungkan CH- 2 probe masukan osiloskop ke terminal J3 modul PCM I
(21)
Atur tegangan puncak ke 6 ( Vp - p ) dengan menyesuaikan amplitudo ADJ.
terminal kontrol dari RAMP GENERATOR dari PCM I. Pada saat itu , osiloskop
akan muncul seperti gambar 5-7

Gambar 5-7 sinyal informasi ( atas) & keluaran kliping konversi D / A ( bawah )
Mengapa distorsi terjadi pada sinyal informasi yang dihasilkan
Apa nama dari jenis distorsi tersebur

(22)
Sesuaikan tegangan sampai 9 (Vp-p) dengan mengatur amplitudo ADJ.
Mengontrol terminal RAMP GENERATOR lagi .
Jika kita menghubungkan CH - 2 masukan probe osiloskop ke AUDIO
OUTPUT dari PCM I , bentuk gelombang akan muncul seperti gambar 5-8 (a).
(23)
Sesuaikan frekuensi ke 4 ( kHz ) dengan mengatur frekuensi ADJ. Kontrol
terminal AUDIO GENERATOR di SIGNAL SOURCE .
Jika kita menghubungkan CH - 2 masukan probe osiloskop ke AUDIO OUTPUT
dari PCM, bentuk gelombang akan muncul seperti gambar 5-8 (b) .

Gambar 5-8 sinyal informasi ( atas) & sinyal pesan dimodulasi(bawah)


Mengapa distorsi bisa terjadi di demodulasi pesan sinyal
Apa nama dari jenis distorsi tersebut
(24) Sesuaikan frekuensi untuk 1 ( kHz ) dengan menyesuaikan Frekuensi ADJ
kontrol terminal AUDIO GENERATOR Dalam SIGNAL SOURCE .
(25) Jika kita menghubungkan CH - 1 , 2 masukan probe osiloskop ke J3 terminal
dan AUDIO OUTPUT dari PCM I modul , bentuk gelombang seperti gambar 59 akan muncul dilayar.

(26)

Buatlah kode 3 - bit kata dengan menghubungkan 128 ( kHz ) dari


SIGNAL GENERATOR terhubung ke CLKx16 terminal PCM I modul ke 64
( kHz ) . Jika kita menetapkan VOLT / DIV dari osiloskop untuk 2 ( V ) ,
hasilnya akan ditunjukkan seperti gambar 5-9 ( b )

(27)

Buatlah kode 2 - bit kata dengan menghubungkan CLKx16 dari


SIGNAL GENERATOR ke 32 ( kHz ) . Jika kita menetapkan VOLT / DIV dari
osiloskop untuk 1 ( V ) , hasilnya akan ditunjukkan seperti gambar 5-9 (c)

(28)

Buatlah kode 1 - bit kata dengan menghubungkan CLKx16 terminal


dari 16 ( kHz ) dari SIGNAL GENERATOR .Layar osiloskop muncul seperti
gambar 5-9 ( d ) .

(d) satu bit codeword


28. Lepaskan Audio Input pada Modul PCM I dan hubungkan dengan SINE pada
Power Supply dan kemudian putuskan hubungan antara terminal J1 dan J2.
29. Hubungkan output terminal DC VOLTAGE 5V pada Power Supply ke J2 pada
Modul PCM I.
30. Atur Multimeter Digital pada range 20V dengan memposisikan probe merah
untuk Ground dan probe hitam untuk J3.
31. Atur keadaan lampu dari Dioda ENCODER DISPLAY agar sama dengan tabel
5-2 dengan mengatur DC VOLTAGE pada terminal kontrol
Kemudian , hitung tegangan di terminal J3 dengan menggunakan Multimeter
Digital dan catat pada tabel 5-2.
Pada multimeter digital , mengukurnya dengan probe (+) dihubungkan dengan
GND dan probe (-) dihubungkan ke terminal J3.
Karena sinyal akan dibalik oleh internal amplifier.

Tabel 5-2. 4 bit D/A Conversions Output Voltage


DECODE DISPLAY
D3
ON
ON
ON
ON
ON
ON
ON
ON
OFF
OFF
OFF
OFF
OFF
OFF
OFF

D2
ON
ON
ON
ON
OFF
OFF
OFF
OFF
ON
ON
ON
ON
OFF
OFF
OFF

D1
ON
ON
OFF
OFF
ON
ON
OFF
OFF
ON
ON
OFF
OFF
ON
ON
OFF

D0
ON
OFF
ON
OFF
ON
OFF
ON
OFF
ON
OFF
ON
OFF
ON
OFF
ON

OFF

OFF

OFF

OFF

OUTPUT
VOLTAGE (V)
7.46
6.66
6.47
5.92
5.55
5.06
4.55
4.07
-3.41
-2.92
-2.41
-1.92
-1.49
-1.00
-0.49
0

Apa yang dimaksud step size pada konversi D/A


Step size pada adc disebut dengan lebar undak (LSB) Least Significant Bit yang
digunakan untuk unit rujukan konversi.
(32) Atur semua tombol power agar OFF dan lepas semua yang terhubung

Analisa Data
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat dianalisis bahwa praktikum PCM
ini menggunakan 1 set peralatan khusus yang terdiri dari Modul PCM (Counter
Type U-2920E), Power Supply (U-2920A) dan Signal Source (U-2920B. Pada
percobaan ini PCM terdiri dari Encoder dan Decoder, untuk langkah percobaan
(1) sampai (15) merupakan PCM Encoder. Dengan menggunakan CH1 dari
Osiloskop yang dihubungkan ke TP1 pada Modul PCM dan CH2 ke J1, lalu
antara J1 dan J2 dihubungkan menggunakan Banana to Banana memiliki
tampilan di bagian atas layar merupakan Sinyal Informasi dan yang bawah
merupakan Outputan PCM yang telah tersampling (dicuplik) dimana
bentuknya mengikuti bentuk Sinyal Informasinya(Figure 5-2). Saat posisi
probe di TP1 sinyal inputan berbentuk Sinyal Sinus, di TP2 berbentuk gigi
gergaji dan di TP3 berbentuk Sinyal Kotak, dimana dari ketiga titik tersebut
saat di TP1 dan TP2 amplitude tetap konstan namun saat di TP3 amplitudonya
sedikit mengecil. Jika inputan CH1 pada Osiloskop dihubungkan ke SYN,
CLK dan CH2 ke PCM Output maka tampilan pada Osiloskop dibagian atas
merupakan bentuk Sinyal Clock , dibagian bawah Sinyal langsung dari PCM
dengan nilai Biner [ 0111,0101,0011,0000] (Figure 5-4). Kemudian CH1
diubah kembali dengan meletakkan ke J1 memiliki tampilan pada Osiloskop
yaitu di bagian atas merupakan ukuran Phase dari Sinyal Input yang
tersampling dan di bagian bawahnya Sinyal langsung dari PCM Output.
Setelah dilakukan perubahan pada inputan tadi kembalikan rangkaian seperti
ketentuan pada Langkah (9) dan tidak lupa menghubungkan DC VOLTAGE
5V pada Power Supply ke terminal J2. Dengan memutar tombol pada DC
VOLTAGE ADJ dapat mengatur lampu pada Encoder Display nyala atau mati
sesuai dengan ketetuan dalam tabel. Encoder Display memiliki 4 led/lampu
bewarna merah yaitu D0, D1, D2 dan D3, setelah mengatur lampu sesuai tabel
maka letakkan Multimeter Digital pada Modul PCM tepatnya probe merah ke
TP2 dan hitam ke Ground. Hasil dari pengukuran tegangan yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa apabila led dalam keadaan nyala semua

maka tegangan akan lebih besar dibandingkan saat semua led dalam keadaan
mati.
Percobaan selanjutnya yaitu PCM Demodulasi, dengan menghubungkan Audio
Input pada Modul PCM ke SINE output pada Signal Source serta J1 dan J2
dihubungkan menggunakan Banana to Banana. Kemudian menghubungkan
SYN, CLK Encoder ke SYN,CLK Decoder, CLKx4 Encoder ke CLKx4
Decoder dan PCM Output Encoder ke PCM Input Decoder. CH1 pada
Osiloskop dihubungkan ke TP1 dan CH2 ke J3 maka tampilan pada Osiloskop
dibagian atas merupakan Sinyal Informasi dan dibagian bawah output
demodulasi dari konversi D/A (Figure 5-6). Untuk Langkah percobaan (19)
membandingkan dan mengamati 2 sinyal saat CH1 dihubungkan ke TP1 dan
CH2 ke Audio Output memiliki perbedaan fase diantar kedua sinyal tersebut
sebesar 180 derajat, namun amplitudo pada CH2 lebih kecil 0,6 dari amplitudo
pada CH1. Mengubah CH2 input pada Osiloskop ke J3 lalu mengatur Ramp
Voltage sebesar 6 Vpp memiliki tampilan pada osiloskop dibagian atas
merupakan Sinyla informasi dan di bagian bawah Output dari konversi D/A
yang mengalami pemotongan (Figure 5-7). Saat Ramp Voltage diperbesar
sampai 9Vpp dan CH2 ke Audio Output maka tampilan Sinyal Informasi dan
Sinyal Demodulasi tanpa Aliasing, dimana kedua sinyal berbentuk sinyal sinus
dengan beda phase 180 derajat. Untuk selanjutnya tidak hanya mengatur
voltage tapi frekuensinya dirubah 4kHz maka tampilan Sinyal Demodulasi
terjadi Aliasing. Frekuensi dkecilkan sampai 1kHz dengan mengatur Frequency
Adjust dengan menghubungkan CH1ke terminal J3, memiliki 4 hasil yaitu :
1. Menghasilkan kode 4 bit dengan tampilan pada Osiloskop di bagian atas
berbentuk sinyal Sampling dan di bagian bawah outputan yang berbentuk
sinyal sinus dengan beda phase 180 derajat.
2. Menghasilkan kode 3 bit ( CLKx16 dihubungkan ke 128kHz dan 64kHz ;
CLKx4 ke 32kHz) memiliki hasil hampir mirip seperti pada hasil pertama di
atas.
3. Menghasilkan kode 2 bit ( CLKx4 dan CLKx16 dihubungkan ke 32kHz)
memiliki hasil yang berbeda dari kedua hasil diatas, dimana perbedaannya
yaitu pada sinyal sampling memiliki frekuensi yang lebih kecil jadi bentuk
pulsa samplingnya terlihat semakin lebar dan outputannya berbentuk sinyal
sinus yang terdapat noise.

4. Menghasilkan kode 1 bit ( menghubungkan CLK x16 ke 16kHz ), terlihat


bebeda bentul sinyal samplingnya, untuk hasil keempat ini berbentul sinyal
kotak yang menggambarkan Biner 0 dan1 kemudian outputanny semakin tidak
bagus.
Mengembalikan posisi seperti semula yaitu CLKx16 ke 128kHz, hubungan J1
dan J2 dilepas kemudian memasang DC VOLTAGE 5V ke J2 untuk mengukur
tegangan pada tabel konversi D/A. Sama seperti Tabel Encoder Display, namun
untuk tabel yang berikut ini merupakan Tabel Decoder Display dengan
mengubah posisi probe merah ke Ground dan probe hitam dari Multimeter
Digital ke J3. Dari tabel tersebut dapat dianalisa bahwa saat 4 lampu Decoder
Display matimemiliki output Voltage 0 Volt dan saat 4 lampu tersebut nyala
maka tegangan pada output tersebut sebesar 7,48 Volt.
Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. PCM merupakan proses modulasi yang mengalami 3 langkah dalam
pengubahan dari sinyal analog menjadi digital yaitu sampling(pencuplikan),
quantization (dilevelkan) dan encoding (dikodekan).
2. Semakin besar bit yang digunakan, maka semakin besar pula jumlah level yang
digunakan.
3. Semakin kecil jumlah level, maka proses modulasi akan semaki teliti sehingga
sinyal yang diperoleh semakin mendekatiaslinya.
4. Dalam percobaan diatas terdapat Aliasing, dimana Aliasing dapat terjadi jika
frekuensi sampling lebih kecil sama dengan 2 kali sinyal informasinya.