Anda di halaman 1dari 9

I.

Handling Cytotoxic
Handling sitotoksik dalam farmasi adalah penangan suatu agen sitotoksik dalam

pelaksanaan kegiatan di rumah sakit. Pelaksanaan kegiatan preparasi obat sitostatika yang aman
dan menghasilkan produk yang bermutu, harus disusun dahulu standar prosedur kerja sebagai
pedoman petugas dalam melaksanakan kegiatan ( Hanafi et al,2015 ). Standar Prosedur Kerja
meliputi :

Fasilitas fisik yang dibutuhkan untuk melindungi operator dan produk yaitu menggunak
Laminar Air Flow (LAF) yang diletakan di ruangan steril dengan dilengkapi dengan
HEPA filter. LAF yang digunakan bisa Type ISOLATOR yaitu dengan aliran Vertikal.
Tekanan Udara di dalam LAF lebih negatif dibanding didalam Clean Room dan tekanan
udara didalam Clean lebih positif dibandingkan diluar. Transportasi keluar masuknya
obat-obatan dan alat-alat pendukung preparasi obat dilakukan melalui Pass Box, untuk
meminimalkan kontaminasi udara kedalam clean room. Komunikasi petugas didalam
clean room dengan petugas diluar dilakukan dengan intercom (SPHA Committee, 2005).

Pakaian pelindung yang melindungi operator dan produk yaitu pakaian yang dapat
melindungi personal dalam penanganan obat sitotoksik. Pakaian yang digunakan seperti
pakaian, sarung tangan, tutup kepala, tutup kaki, masker, kaca mata harus berbeda dengan
pakaian yang biasa digunakan di luar ruang steril (SPHA Committee, 2005).

Prosedur pelatihan untuk personal agar semua personal yang bertugas memeliki
kemampuan dalam menangani obat sitoksik dalam preparasi obat sitotoksik (SPHA
Committee, 2005).
Teknik khusus yang diperlukan untuk safe handling cytotoxic meliputi standar atau teknik

preparasi sediaan sitotoksik baik steril maupun non steril untuk menghindari petugas agar tidak
terpapar bahan sitotoksik, prosedur pembersihan tumpahan obat baik diluar LAF atau di dalam
LAF, dan pemberian label sitotksik ; pengemasan sediaan sitotoksik agar aman untuk dibawa
keruang perawatan dengan terdapat label peringatan (SPHA Committee, 2005).

II.

Kesimpulan
Proses pembuatan i.v admixture harus dilakukan dalam kondisi steril secara aseptis.

Handling Cytotoxic merupakan prosedur kerja dengan agen-agen sitotoksik untuk


meminimalisasi kemungkinan agen mengontaminasi personal atau operator.

Validasi proses handling cytotoxic harus dilakukan secara berkala untuk menjamin keamanan
prosedur tersebut.

Hanafi et al, 2015 , Safe Handling of Cytotoxic Drugs and Risks of Occupational Exposure to
Nursing Staffs, Journal of Pharmaceutical care 2015; 3(1-2): 11-15.
SHPA Committee of Specialty Practice in Oncology, 2005, SHPA Standards of Practice for the
Safe Handling of Cytotoxic Drugs in Pharmacy Departments, J Pharm Pract Res,
Australia.

Intravenous admixture

a. Dasar Teori
Intravena admixture adalah suatu larutan steril yang dimaksudkan untuk penggunaan
parenteral (diberikan melalui intervana) yang dibuat dengan cara mencampurkan satu atau
lebih produk parenteral ke dalam satu wadah ( Nagaraju et al, 2015 ). Pada saat ini program
IV admixture makin banyak digunakan. Latar belakang mengapa iv admixture menjadi
tanggung jawab farmasis, dan tenaga kesehatan lain yang ada di rumah sakit adalah
pertimbangan:
1. Farmasis menguasai problem yang berkaitan dengan kontaminan, inkompatibilitas fisika,
kimia maupun inkompatibilitas terapeutik serta sekaligus dapat mengatasinya jika

2.
3.
4.
5.

problem ini muncul, serta menguasai


problem yang berkaitan dengan stabilitas.
Efisiensi cost
Menurunnya potensial errors (kesalahan)
Kualitas meningkat
Merupakan salah satu dari pengamalan pharmaceutical care
(Ansel, 2005)
Beberapa keuntungan yang didapat melalui pemberian obat dengan cara iv admixture,

adalah:
1. Lebih praktis karena larutan infus yang telah dicampur obat dapat sekaligus berfungsi
ganda yaitu larutan infus sebagai pemelihara keseimbangan cairan tubuh dan obat yang
berada didalamnya dapat berfungsi mempertahankan kadar terapetik obat dalam darah.
2. Pada pemberian banyak obat (multiple drugs therapy) cara ini merupakan altematif yang
paling baik mengingat terbatasnya pembuluh vena yang tersedia, sehingga lebih
convenience (nyaman ) bagi penderita.
(Rahman, 2009)
Namun perlu diperhatikan bahwa pemberian obat melalui cara ini apabila dilakukan
secara sembarangan dapat menimbulkan beberapa kerugian. Kerugian yang di maksud
berkaitan dengan pemberian obat secara intravena pada umumnya adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Air embolus
Bleeding (perdarahan)
Reaksi alergi
Phlebitis/iritasi vena
Pirogen
Ekstravasasi
(Rahman, 2009)

Prosedur penanganan obat sitostatika yang aman perlu dilaksanakan untuk mencegah
risiko kontaminasi pada personel yang terlibat dalam preparasi, transportasi, penyimpanan
dan pemberian obat sitostatika baik melalui melalui inhalasi, absorpsi, atau ingestion.
Potensial paparan pada petugas pemberian sitostatika telah banyak diteliti. Toksisitas yang
sering dilaporkan berkenaan dengan preparasi dan handling sitostatika berupa toksisitas pada
liver, neutropenia ringan, fetal malformation, fetal loss, atau kasus timbulnya kanker. Tahun
1983 Sotaniemi, dkk. Melaporkan adanya kerusakan liver pada 3 orang perawat yang bekerja
pada ward oncology. Di dua rumah sakit di Italy telah dilakukan penelitian ditemukan
cyclophosphamide dan ifosfamide dalam urine perawat dan staf farmasi yang tidak mengikuti
peraturan khusus dalam menangani obat-obat kanker. Selain untuk melindungi petugas dan
lingkungan dari keterpaparan obat kanker, preparasi obat sitostatika secara aseptis diperlukan
untuk 3 tujuan, yaitu:

Produk harus terlindung dari kontaminasi mikroba dengan teknik aseptis

Personal yang terlibat harus terlindung dari exposure bahan berbahaya

Lingkungan harus terhindar dari paparan bahan berbahaya

III. Pembahasan
a. Analisis Farmakologi
Aminofilin memiliki khasiat sebagai bronkodilator, antispasmodikum, dan diuretikum
(Depkes RI, 1979). Aminofilin diindikasikan untuk meredaka dan mengatasiobstruksi
saluran pernapasan yang berhubungan dengan asma bronkial dan penyakit paru obstruksi
kronik (PPOK) lainnya seperti emfisema dan bronkitis kronik (MIMS, 2011).
b. Preformulasi
Aminofilin (Teofin Etilendiamin)
Rumus molekul : C16H24N10O4 atau C16H24N10O4.2H2O
Bobot molekul : 420,43 atau 456,46
Aminofilin adalah senyawa anhidrat atau mengandung tidak lebih dari 2 molekul
hidrat. Mengandung tidak kurang dari 84,0% dan tidak lebih dari 87,4% teofilin
anhidrat, C7H8N4O2, dihitung terhadap zat anhidrat.
Pemerian : Butir atau serbuk putih atau agak kekuningan; bau amonia lemah, rasa
pahit. Jika dibiarkan di udara terbuka, perlahan-lahan kehilangan etilendiamina dan
menyerap karbon dioksida dengan melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa terhadap
kertas lakmus.

Kelarutan : Tidak larut dalam etanol dan dalam eter. Larutan 1 g dalam 25 ml air
menghasilkan larutan jernih; larutan 1 g dalam 5 ml air menghablur jika didiamkan dan
larut kembali jika ditambah sedikit etilendiamina.
Sterilisasi : Menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit.
Stabilitas : Tahan hingga suhu panas 135oC. Sensitif terhadap cahaya, menjadi
berwarna kuning jika terekspos cahaya dalam jangka waktu panjang.
Khasiat : Bronkodilator, antispasmodikum, dan diuretikum.
(Depkes RI,1995; Depkes RI, 1979; Trissel, 2003; Lund, 1994)

Injeksi Aminofilin
Injeksi aminofilin adalah larutan steril aminofilin dalam air untuk injeksi, atau larutan
steril teofilin dalam air untuk injeksi yang dibuat dengan penambahan etilendiamina.
Tiap ml mengandung aminofilin setara dengan tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih
dari 107,0% teofilin anhidrat, C7H8N4O2, dari jumlah yang tertera pada etiket. Injeksi
aminofilin boleh mengandung etilendiamina berlebih, tetapi tidak boleh ditambah zat
lain untuk pengaturan pH.
Sterilisasi : Sterilisasi akhir dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121 oC selama 15
menit.
Stabilitas : Tahan hingga suhu panas 135oC. Sensitif terhadap cahaya, menjadi
berwarna kuning jika terekspos cahaya dalam jangka waktu panjang.
pH : antara 8,6 dan 9,0
(Depkes RI, 1995)

Dekstrosa
Rumus molekul : C6H12O6 atau C6H12O6.H2O
Bobot molekul : 180,16 atau 198,17
Dekstrosa adalah suatu gula yang diperoleh dari hidrolisis pati. Mengandung satu
molekul air hidrat atau anhidrat.
Pemerian : Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau serbuk granul putih; tidak
berbau; rasa manis.
Kelarutan : Mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; larut dalam
etanol mendidih; sukar larut dalam etanol.
Sterilisasi : Menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit.
(Depkes RI, 1995)

Injeksi Dekstrosa
Injeksi dekstrosa adalah larutan steril dekstrosa dalam air untuk injeksi. Mengandung
dekstrosa, C6H12O6.H2O, tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105,0% dari

jumlah yang tertera pada etiket. Injeksi dekstrosa tidak mengandung bahan
antimikroba.
pH : antara 3,5 dan 6,5.
(Depkes RI, 1995)
c. Formulasi
Formulasi yang digunakan :
aminiphilin injeksi

10 ml

larutan dekstrosa 5%
d. Sterilisasi
Sterilisasi ampul-ampul injeksi aminofilin dilakukan dengan sterilisasi uap dengan
autoclave pada suhu 120C selama 20 menit. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap
air panas adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial
organisme tersebut. Adanya uap air yang panas dalam sel mikroba, menimbulkan
kerusakan pada temperatur yang relatif rendah (Ansel, 2005). Pensterilan menggunakan
autoklaf karena bahan teofilin yang digunakan tahan terhadap pemanasan dan pemanasan
dengan menggunakan autoklaf lebih efektif karena merupakan pemanasan dengan metodep
uap basah (pemanasan basah).
e. Evaluasi Sediaan
1. Uji pH (Depkes RI, 1995)
Pengujian menggunakan ph meter, penetapan pH ini mengetahui pH sediaan sesuai
dengan persyaratan yang telah ditentukan.
2. Uji Kebocoran (Depkes RI, 1995)
Pengujian kemasannya yaitu dengan melapisi permukaan bawah menggunakan kertas
putih, jika kertas basah maka kemasan sediaan tersebut terdapat kebocoran.
3. Uji dengan larutan warna (Dye Bath Test)
Sejumlah wadah (ampul, vial) yang belum berlabel dipegang pada lehernya. Dibalikkan
perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya gelembung udara, kemudian diputar sedikit
untuk memutar isi larutan di dalamnya. Kemudian wadah dipegang secara horizontal.
Pemeriksaan larutan dalam wadah dilakukan dengan menggunakan latar belakang hitam
putih selang-seling. Wadah yang berisi larutan yang tercemar partikel asing atau wadah
rusak harus dipisah. Bila jumlah wadah yang tercemar melebihi batas persyaratan maka
pemeriksaan diulang atau kemudian produk ditolak..

4. Uji Kejernihan (Depkes RI, 1995)


Tujuan uji ini memastikan larutan terbebas dari pengotor Prinsip uji ini membandingkan
kejernihan larutan uji dengan suspensi padanan dilakukan dibawah cahaya yang terdifusi
tegak lurus ke arah bawah tabung dengan latar belakang hitam sesuatu cairan dikatakan
jernih jika kejernihannya sama dengan air atau pelarut yang digunakan bila diamati di
bawah kondisi seperti tersebut di atas atau jika opalesensinya tidak lebih nyata dari suspensi
padanan I. Persyaratan untuk derajat oplesensi dinyatakan dalan suspensi padanan I, II, dan
III.

5. Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, terdapat beberapa cara uji sterilitas, antara lain:
a. Media Thioglikolat Cair
pH media setelah sterilisasi 7,1 0,2. Media thioglikolat cair digunakan untuk
inkubasi dalam kondisi aerob.
b. Media Thioglikolat Alternative
pH media setelah sterilisasi 7,1 0,2. Media ini digunakan dengan menjamin kondisi
anaerob selama masa inkubasi.
c. Soybean-casein digest medium
pH medium setelah sterilisasi 7,3 0,2. Uji ini menggunkan inkubasi dalam kondisi aerob.
Cara Pembuatan

IV.

Proses pencampuran obat suntik secara aseptis, mengikuti langkah-langkah sebagai


berikut.

Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)


Melakukan dekomentasi dan desinfeksi sesuai prosedur tetap
Menghidupkan Laminar Air Flow (LAF) sesuai prosedur tetap
Menyiapkan meja kerja LAF dengan memberi alas penyerap cairan dalam LAF
Menyiapkan kantong buangan sampah dalam LAF untuk bekas obat
Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan alcohol 70%
Mengambil alat kesehatan dan obat-obatan dari pass box
Melakukan pencampuran secara aseptis

Proses pencampuran obat aminofilin dari ampul kedalam infus dekstrose 5%


1. Membuka ampul larutan aminofilin :
a. Pindahkan semua larutan obat dari leher ampul dengan mengetuk ngetuk bagian atas
ampul atau dengan melakukan gerakan J-motion.

b. Seka bagian leher ampul dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.


c. Lilitkan kassa sekitar ampul.
d. Pegang ampul dengan posisi 45, patahkan bagian atas ampul dengan arah menjauhi
petugas. Pegang ampul dengan posisi ini sekitar 5 detik
e. Berdirikan ampul.
f. Bungkus patahan ampul dengan kassa dan buang ke dalam kantong buangan.
2. Pegang ampul dengan posisi 45, masukkan spuit ke dalam ampul, tarik seluruh larutan
dari ampul, tutup needle.
3. Pegang ampul dengan posisi 45, sesuaikan volume larutan dalam syringe sesuai yang
diinginkan dengan menyuntikkan kembali larutan obat yang berlebih kembali ke ampul
4. Tutup kembali needle
5. Untuk permintaan infus Intra Vena , suntikkan larutan obat ke dalam botol infus dengan
posisi 45 perlahan-lahan melalui dinding agar tidak berbuih dan tercampur sempurna
6. Untuk permintaan Intra Vena bolus ganti needle dengan ukuran yang sesuai untuk
penyuntikan
7. Setelah obat disuntikkan kedalam larutan IV, larutan yang tercampur kemudian digojog
untuk memperoleh larutan yang homogen dan persebaran obat dalam larutan merata
8. Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi ke dalam kantong
buangan tertutup
Praktikum steril kali ini yaitu pencampuran aminophillin ke dalam larutan dektrosa 5%
(I.V admixtures) dan validasi proses handling cytostatic agents. Namun yang validasi proses
handling cytostatic agents tidak di lakukan karena keterbatasan alat yang tersedia di laboratorium
kami, jadi hanya pencampuran aminophillin ke dalam larutan dektrosa 5% (I.V admixtures) yang
kita lakukan percobaannya.
Persiapan pertama kali yang di lakukan yaitu melakukukan sterilisasi pada ruang black
area dengan mengganti pakaian, sepatu, menggunakan cover kepala, sarung tangan, dan kaca
mata, kemudian di semprot dengan alcohol 70% pada sarung tangan untuk menghindarkan
kontaminasi mikroba. Setelah pakaian steril (dari ujung rambut hingga ujung kaki tertutup rapat
bebas mikroorganisme), kita memasuki ruangan grey area. Ruangan Grey area kontaminan
mikroorganismenya lebih sedikit daripada black area. Pintu yang terhubung satu arah dan
menggunakan tekanan yang lebih besar (positif) dari pada diluar agar mikroorganisme dari luar
tidak masuk, kemudian di dalam ruang grey area di lakukan persiapan bahan, lalu memasuki
ruang white area. White area adalah ruangan dimana praktikan membuat sediaan steril didalam
LAF (Laminar Air Flow). Hal yang pertama dilakukan adalah menyalakan sinar uv terlebih

dahulu yaitu mencegah terkontaminasi mikroorganisme, kemudian dinyalakan aliran udara. LAF
yang digunakan yaitu Type vertikal laminar airflow, dimana udara yang terfilter bergerak dari
atas alat menuju kebawah dan mengarah de sisi depan dan belakang alat. Kemudian sinar uv
dimatikan, lalu masukan bahan dan alat yang digunakan, lalu disemprot dengan alcohol 70%
untuk membunuh mikroorganisme.
Setelah itu, mulailah untuk membuat larutan i.v admixtures. Ampul yang berisi
aminophillin dipotong dengan menekan menggunakan ibujari, setelah ampul terbuka ambil
cairan menggunakan jarum yang sudah terpasang pada syringes. Ambil cairan dalam ampul
sebanyak 10 ml dengan kemiringan 20 derajat diambil dengan spuit atau syringes. Setelah
aminophillin tertahan dalam syringe, masukkan kedalam botol yang berisi dektrosa 5%. Setelah
itu, dihomogenkan dengan mengojog secara perlahan. Lalu di beri etiket dalam wadahnya.
Larutan siap pakai, kemudian dimasukkan ke dalam box penampung sediaan steril yang
sudah siap pakai. Sediaan tersebut juga dilakukan uji yaitu uji cemaran pengotor, yaitu dengan
cara melewatkan atau mendekatkan sediaan yang sudah dikemas dengan dilewatkan pada
background warna putih dan hitam, sehingga akan terlihat jika ada kontaminasi benda atau
pengotor. Setelah itu juga dilakukan uji deteksi mikroorganisme dengan cara menstreak larutan
kedalam media biakan mikroorganisme yang sudah tersedia (media agar), uji yang terakhir ini
dilakukan kurang lebih selama 1 minggu, sehingga diketahui bahwa sediaan tersebut terdeteksei
mengandung cemaran mikroorganisme atau tidak (Lachman L., Liberman H.A., Kanig J. 1994).

Nagaraju et al, 2015 , ASSESSMENT OF INTRAVENOUS ADMIXTURES


INCOMPATIBILITIES & THE INCIDENCE OF INTRAVENOUS DRUG
ADMINISTRATION ERRORS