Anda di halaman 1dari 8

Analisis Performansi Mobile Ad-hoc Network Pada Perangkat Android Untuk

Membangun Sistem Komunikasi Pada Kondisi Bencana Alam

1. LATAR BELAKANG
Tiap tahunnya bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tsunami, dan lainnya terjadi di dunia
ini terutama di Indonesia yang terkenal dengan sebutan ring of fire karena memiliki ratusan
gunung berapi yang masih aktif. Tentunya Indonesia tidak terlepas dari bencana alam yang
diketahui kerusakannya akan menimbulkan dampak yang sangat besar. Pada keadaan pasca
bencana alam yang banyak menimbulkan kerusakan terutama dalam sistem komunikasi
diperlukan infrasruktur yang memadai untuk membantu komunikasi antar tim penyelamat
maupun volunteer.
Selama ini terdapat beberapa pilihan sistem komunikasi yang dapat digunakan ketika
komunikasi terisolir antara lain menggunakan perangkat walkie talkie, telepon satelit dan
jaringan ad-hoc yang sangat membantu tetapi juga memiliki keterbatasan. Jaringan ad- hocpun
memiliki beberapa tipe, salah satunya Mobile Ad-hoc Network (MANET) yang diaplikasikan
pada perangkat mobile seperti telepon genggam dan juga laptop.
Banyaknya jumlah pengguna smartphone yang terus meningkat dari tahun ke tahun terutama
pengguna perangkat Android dan sifat open source dari sistem tersebut memungkinkan ad-hoc
diaplikasikan pada sistem operasi Android. Jaringan MANET yang di aplikasikan pada perangkat
Android ini menggunakan protokol Better Approach to Mobile Ad-hoc Networking
(B.A.T.M.A.N.) yang terhubung secara mesh. Mesh memiliki sifat self configuration dimana
node A akan terhubung dengan sendirinya ketika node tersebut memasuki coverage area jaringan
mesh Selain itu jaringan mesh memiliki kemampuan self healing dimana kemampuan ini untuk
mengatasi sering terjadinya resiko terputusnya link antar node dalam jaringan secara tiba-tiba
dikarenakan node bergerak melibihi coverage are jaringan. Oleh karena itu diperlukan analisis
performansi pada sistem ini untuk meminimalisir terjadinya terputusnya link pada saat
melakukan koneksi

2. METODE DALAM SOLVING PROBLEM

3. HASIL PENELITIAN
Setelah dilakukan penelitian, data yang dihasilkan adalah performansi dari jaringan mobile
ad-hoc network berupa daya pancar perangkat, kualitas panggilan suara, pengiriman pesan
singkat, throughput, jitter, dan packet loss yang kemudian dapat menghasilkan jarak maksimum
antar node untuk digunakan dalam skenario bencana alam.
A. Daya Pancar Skenario Tethering

Gambar. 5. Hasil pengukuran daya wifi yang diterima pada 3 perangkat yang berbeda.
Apabila membandingkan ketiga hasil pengukuran daya wifi yang diterima pada perangkat
Hwawei Honor, Sony Xperia L dan Laptop maka didapatkan bahwa daya pancar server yang
diterima oleh node client berbanding terbalik dengan jarak. Semakin jauh jarak antara node client
dengan node server sebagai pemancar daya maka akan semakin melemah daya yang dapat
ditangkap oleh masing-masing perangkat tersebut. Dalam gambar 5 terdapat grafik perbandingan
kekuatan sinyal antar ketiga perangkat tersebut. Dalam grafik terlihat laptop mampu menangkap
sinyal node server lebih kuat dibanding dengan smartphone, tetapi apabila daya sinyal dirasa
tidak cukup kuat untuk melakukan koneksi maka laptop tidak dapat terkoneksi dengan node

server meskipun daya pancar node server masih dapat terdeteksi. Jarak maksimum laptop untuk
melakukan koneksi dengan node server adalah 128 meter. Berbeda dengan laptop, smartphone
memang lebih lemah dalam menangkap sinyal dari node server tetapi mereka akan tetap
terhubung dengan node server hingga sinyal benar-benar tidak dapat ditangkap. Daya wifi yang
ditangkap oleh smartphone Sony lebih kuat dibanding Hwawei, tetapi kedua smartphone tersebut
mampu terkoneksi dengan node server hingga jarak 152 meter.
B. Kualitas Panggilan Suara
Pada percobaan pengukuran kualitas panggilan suara dilakukan dalam 2 skenario, yaitu skenario
ad-hoc single-hop dan ad-hoc multi-hop (3 node).

Gambar. 6. Grafik prosentase suara yang terdengar pada skenario ad-hoc single-hop
Pada skenario ad-hoc single-hop (Gambar 6) didapatkan hasil pada jarak 4 92 meter masih
merupakan jarak yang aman untuk melakukan koneksi panggilan suara dikarenakan koneksi
tidak gampang terputus. Sedangkan pada jarak 96 136 meter bukan merupakan jarak yang baik
untuk melakukan panggilan dikarenakan sering terjadinya koneksi 4 yang terputus dan sulitnya
melakukan koneksi kembali. Jarak diatas 136 meter sudah tidak dapat melakukan koneksi untuk
panggilan suara. Sedangkan untuk penilaian MOS pada jarak 4-120 meter masih berada pada
skala 4-5, dan pada jarak 128- 136 meter berada pada skala 2-4.

Gambar. 7. Grafik prosentase suara yang terdengar pada skenario ad-hoc multi-hop
Hasil yang didapatkan pada gambar 7 yaitu jarak 10 100 meter dari node perantara
merupakan jarak yang aman untuk melakukan panggilan suara dikarenakan suara masih
terdengar dengan jelas (berada pada skala 5) dan koneksiberada tidak terputus-putus,
sedangkan jarak 110 meter dari node perantara bukan merupakan jarak yang baik untuk
melakukan panggilan suara pada skenario multi-hop karena seringnya terputusnya koneksi dan
suara yang terdengar tidak terlalu jelas. Pada jarak 110 meter kualitas suara yang terdengar pada
skala 2.
C. Kualitas Pesan Singkat
Kualitas pesan singkat diukur dengan cara mengamati interval waktu antara pesan dikirim
oleh node pengirim dan diterima oleh node penerima ini dilakukan pada skenario ad- hoc singlehop dan multi-hop (3 node). Sistem ini menggunakan protokol UDP sehingga tidak ada jaminan
bahwa pesan akan diterima oleh node penerima, dan juga tidak ada pemberitahuan bahwa pesan
telah berhasil terkirim ataupun tidak. Sehingga dalam hal pengiriman pesan apabila node
pengirim dan penerima telah diluar batas jarak jangkauan untuk mengirim pesan maka pesan
tidak akan terkirim dan pengirim tidak menetahui bahwa pesan yang dikirim belum sampai.

Gambar. 8. Grafik rata-rata interval waktu pengiriman SMS pada skenario ad- hoc singlehop.
Dari hasil percobaan pesan singkat pada gambar 8 terlihat bahwa sebagian besar atau ratarata waktu yang dibutuhkan untuk mengirim pesan dari satu node ke node yang lain yang masih
dalam jangkauan adalah 2 detik. Dalam grafik perbandingan dapat disimpulkan bahwa rata-rata
waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan pesan tidak hanya dipengaruhi oleh jarak, tetapi
pesan bisa saja memakan waktu yang lama untuk terkirim karena keluar masuknya paket dalam
system yang banyak. Sedangkan jarak maksimum pengiriman pesan pada skenario ad-hoc singlehop adalah 132 meter.

Gambar. 9. Grafik rata-rata interval waktu pengiriman SMS pada skenario ad- hoc multi-hop.
Dalam grafik rata-rata interval waktu (gambar 9) antar dua node dalam skenario ad-hoc
multi-hop didapatkan hasil pada jarak 90 meter keatas dari node perantara sudah merupakan
jarak yang tidak aman bagi skenario pengiriman pesan singkat multi-hop karena rata-rata interval

waktu sudah melebihi 1 menit. Jarak lebih dari 110 meter dari node perantara sudah tidak dapat
melakukan koneksi.
D. Throughput

Gambar. 10. Grafik rata-rata throughput pada skenario ad-hoc single-hop


throughput dalam skenario ad-hoc single-hop dipengaruhi oleh besarnya ukuran data yang
ditransmisikan. Dalam skenario ad-hoc dapat dilihat (gambar 10) bahwa jarak juga
mempengaruhi besarnya throughput. Semakin jauh jarak node server dan client akan semakin
kecil besar throughput.
E. Delay Jitter

Gambar. 11. Grafik rata-rata delay jitter pada skenario ad-hoc single-hop

Dalam grafik jitter (gambar 11) terlihat terjadi delay jitter yang besar pada jarak 90 100 meter
dikarenakan pada jarak tersebut terjadi banyak antrian paket dan juga dipengaruhi oleh besar
throughput.
F. Packet Loss
Dalam pengukuran packet loss yang menggunakan software iperf pada pengikiran skenario
ad-hoc yang 5 menggunakan 2 node (single-hop). Dalam hasil yang didapatkan dari pengukur
dapat dilihat bahwa packet loss yang tinggi dapat mempengaruhi kualitas pesan singkat dan
panggilan suara.

Gambar. 12. Grafik rata-rata packet loss pada skenario ad-hoc single-hop
pada skenario ad-hoc single-hop data hasil analisis packet loss (gambar 12) juga terlihat
dipengaruhi oleh delay jitter dan jarak. Semakin besar delay jitter maka semakin besar pula paket
yang hilang.

4. KESIMPULAN
Daya wifi yang dipancarkan dalam scenario tethering oleh node server (Hwawei Honor
U8860) dalam kondisi tanpa beban (tidak melakukan transmisi data) dapat diterima oleh
laptop hingga 128 m, dan diterima oleh smartphone Sony Xperia L dan Hwawei Honor

U8860 hingga jarak 152 m.


Dalam skenario ad-hoc single-hop jarak maksimum untuk melakukan panggilan suara
yaitu 136 m, sedangkan untuk mengirimkan pesan singkat 132 m.

Throughput berbanding terbalik dengan jarak dan berbanding lurus dengan besar daya

wifi, semakin jauh jarak antar server ke client maka semakin kecil besar throughput.
Packet loss dipengaruhi oleh jitter, semakin besar jitter prosentase packet loss juga
semakin besar. Sedangkan besar jitter diperngaruhi oleh throughput, semakin besar
throughput maka semakin kecil delay jitter.