Anda di halaman 1dari 6

Sintesis dan Modifikasi Zeolit

Mineral zeolit adalah material silikat kristal dengan struktur yang sangat teratur
dan porositas tinggi. Rumus umum zeolit adalalah Mx/n(AlxSiyO2 (x+y)). z H2O (M :
kation logam dengan muatan n). Zeolit merupakan material yang penting untuk katalis,
penukar ion, adsorben dan aplikasi saringan molekuler (molecular sieve). Sintesis zeolit
biasanya dilakukan melalui proses hidrotermal, yaitu proses kristalisasi gel
aluminasilikat dalam sistem hidrotermal tertutup pada suhu yang bervariasi antara suhu
kamar sampai suhu 200C. Sistem hidrotermal memakai air sebagai pelarut, sehingga
dihasilkan tekanan uap air pada sistem tersebut (Tovina, 2009).
Tahap awal pembentukan zeolit adalah pembentukan gel aluminasilikat dalam
suasana basa. Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan gel tergantung pada
konsentrasi masing-masing spesies yang ada. Pada kondisi hidrotermal dan dengan
adanya kation logam serta molekul-molekul pengarah, gel aluminasilikat tersebut tertata
ulang membentuk struktur zeolit yang diinginkan. Bahan dasar sintesis zeolit biasanya
meliputi sumber silika, sumber alumina, ion hidroksida dari basa kuat, zat pengarah
(structure directing agent) dan air sebagai pelarut (Krisnandi, 2006). Kondisi sintesis
tergantung pada komposisi material yang diinginkan, ukuran partikel, morfologi dan
sebagainya (Schubert dan Husing, 2000). Proses sintesis adalah sensitif terhadap
sejumlah variabel seperti temperatur, pH, sumber silika dan alumina, jenis kation alkali
dan waktu reaksi maupun surfaktan.
Sistem hidrotermal didefinisikan sebagai metode pembuatan kristal yang
tergantung pada kelarutan mineral dalam air panas di bawah kondisi tekanan tinggi
(Byrappa, 2007). Pembuatan kristal dengan sistem hidrotermal meliputi berbagai
macam teknik pembentukan kristal dari larutan berair pada suhu dan tekanan uap tinggi.
Pada sistem hidrotermal, pertumbuhan kristal dilakukan dalam suatu piranti yang terdiri
dari wadah baja tertutup rapat yaitu autoklaf. Keuntungan sistem hidrotermal
dibandingkan metode pertumbuhan kristal yang lain meliputi kemampuan untuk
menciptakan tahap pembentukan kristal yang tidak stabil pada titik lelehnya.
Keuntungan lain adalah material yang mempunyai tekanan uap yang tinggi, dekat titik
lelehnya juga dapat tumbuh dengan sistem hidrotermal. Sistem hidrotermal juga sesuai
untuk pertumbuhan kristal dengan kualitas yang baik dengan komposisi yang dapat
dikontrol (Byrappa, 2007).
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sintesis Zeolit
Komposisi Kimia
Komposisi kimia dalam proses sintesis pada umumnya dalam bentuk formula
oksida, SiO2 (P2O5), Al2O3, bMxO, cNyO, dR, dan eH2O, di mana M dan N
merupakan ion logam (alkali) dan R merupakan bahan organik. Banyaknya Si, P,
Al, M, N, dan R, merupakan salah satu faktor kunci menentukan hasil kristalisasi.
Zeolit sintesis dengan kandungan silika yang tinggi membutuhkan penambahan
molekul organik kedalam campuran reaksi, selain itu juga membutuhkan suhu

yang lebih tinggi (lebih dari 100C) untuk proses kristalisasinya. Suhu ini lebih
tinggi daripada suhu yang biasa digunakan untuk proses kristalisasi zeolit yang
kaya kandungan aluminium (mendekati 100C). Zeolit yang kaya aluminium,
misalnya, ZA, X, P, sodalite, chabazite (CHA), dan edingtonite (EDI), memiliki
volume pori dalam kisaran 0.4-0.5 cm3/void.

Keberadaan Air dalam Sintesis Zeolit


Seperti disebutkan sebelumnya, zeolit dapat disintesis hanya dengan metode
hidrothermal. Fleksibilitas dari sifat kimia hidrothermal banyak disebabkan
keberadaan air. Pada sistem hidrotermal, air sebagai pelarut harus mampu
memfasilitasi pengintian dan pertumbuhan kristal. Air menstabilkan struktur zeolit
dengan mengisi rongga dan membentuk jenis larutan padat. Efek stabilisasi adalah
sedemikian rupa sehingga aluminosilikat berpori tidak akan terbentuk tanpa
adanya molekul yang ditambahkan (guest molecule), yang mungkin menjadi
molekul garam serta air. Namun, konsentrasi air atau tingkat pengenceran kurang
penting untuk sintesis ZSM-5, yang dapat mengkristal keluar dari gel dengan
jangkauan rasio H2O/SiO2 yang sangat luas.

Suhu dan Waktu


Suhu dan waktu memiliki pengaruh positif pada proses pembentukan zeolit yang
terjadi pada rentang atau perbedaan suhu yang cukup besar. Kenaikan suhu akan
meningkatkan tingkat pengintian dan laju pertumbuhan linier. Suhu dapat
mempengaruhi jenis produk yang akan mengalami pengkristalan. Kenaikan suhu
menyebabkan kristalisasi produk yang lebih padat dalam fase cair, yang harus
menstabilkan produk berpori dengan mengisi pori-pori itu sendiri. Pada
prinsipnya, memungkinkan sintesis terbuka dengan suhu yang tinggi pada struktur
berpori (zeolit) karena pada saat terjaadi pemanasan, penguapan pada pori akan
diisi oleh kation. Suhu jelas dapat mempengaruhi laju pengintian dan
pertumbuhan kristal.

Alkalinitas (pH)
Alkalinitas sebagai media yang memainkan peran penting dalam pertumbuhan
kristal, sintesis/persiapan bahan, dan pengolahan secara keseluruhan. Derajat
keasaman (pH) mempengaruhi kejenuhan larutan, kinetika, morfologi, ukuran,
dan kristalinitas. Derajat keasaman (pH) dipengaruhi oleh reaktan dan
konsentrasi/rasio, diikuti oleh suhu dan waktu. Lebih lanjut, dengan penambahan
bahan organik, pH berubah dengan cepat dalam sistem, maka pH sebagai salah
satu parameter kunci dalam menentukan tingkat kristalisasi. Peningkatan
konsentrasi ion OH- umumnya akan membawa pertumbuhan kristal menjadi lebih
cepat dan waktu penahanan lebih singkat. Peningkatan pH akan mempercepat
pertumbuhan kristal dan memperpendek waktu. Derajat keasaman (pH) yang

tinggi menyebabkan larutan jenuh dari silikat dan aluminat dan pembentukan inti
dalam jumlah besar.

Templating
Dalam sintesis zeolit istilah template digunakan dalam arti luas, khususnya untuk
mengacu pada pengisian ruang - ruang kosong dari struktur zeolit oleh kation
organik/anorganik. Template digunakan sebagai struktur pengisi atau sebagai zat
structure stabilizing. Template berkontribusi pada pembentukan kisi zeolit selama
zeolitization tersebut. Templating berfungsi untuk stabilitas struktur melalui
bentuk interaksi. Selain itu perubahan dalam kepadatan kation dipengaruhi oleh
sifat fisik dari template akan tercermin dalam komposisi kimia (rasio Si/Al).
Dalam memilih template, harus dipertimbangkan beberapa kriteria umum
mengenai potensi template dalam proses zeolitization. Seperti kelarutan dalam
larutan, stabilitas dalam kondisi sintesis, stabilisasi kerangka, dan yang paling
penting adalah kemampuan untuk menghapus template tanpa merusak kerangka.
Template yang berupa kation dapat membentuk struktur atau dapat juga digunakan
sebagai zat pemecah. Kation sangat mempengaruhi jenis zeolit yang mengkristal
dalam sistem hydrothermal. Hal yang sama juga ditemukan dalam laboratorium,
kation pada zeolit sintesis menempati tempat yang penting, tidak hanya sebagai
zat yang mempengaruhi bentuk struktur dan komposisi zeolit, tetapi juga sebagai
zat yang mempengaruhi tingkat keberhasilan sintesis zeolit.

Beberapa Contoh Kajian Sintesis, Modifikasi dan Karakterisasi Zeolit


Ertan dan Ozkan (2005) melakukan modifikasi dengan perlakuan asam terhadap
zeolit alam dari Gordes, Turki. Zeolit alam tersebut kaya akan klinoptilolit dan
memiliki komposisi kimia (% berat oksida) 14.1 Al2O3, 64.2 SiO2, 1.8 MgO, 1.7
Na2O, 5.3 K2O, 1.0 CaO, 1.8 Fe2O3, dan 10.3 H2O. Hasil modifikasi
menunjukkan bahwa zeolit yang telah diberi perlakuan asam memiliki sifat yang
mirip dengan zeolit sintesis tipe A dan tipe X. Zeolit alam dari Turki yang kaya
akan klinoptilolit, ketika diberi perlakuan asam dengan menggunakan HCl,
H3PO4, H2SO4, dan HNO3, mengalami penurunan jumlah kation. Penurunan
jumlah kation ini bergantung pada jenis asam yang digunakan serta kondisi pada
perlakuan asam. Selain menyebabkan terjadinya penurunan jumlah kation,
perlakuan asam juga menyebabkan terjadinya peningkatan rasio Si/Al. Setelah
perlakuan asam, volume dan luas permukaan mengalami peningkatan. Perlakuan
dengan H3PO4 yang merupakan suatu asam lemah menyebabkan struktur
mikropori meningkat tanpa menurunkan kristalinitas. Pada perlakuan dengan
asam kuat (HCl dan HNO3) terdapat kerusakan pada struktur kristal.
Mockovciakova dkk (2007) melakukan modifikasi terhadap zeolit alam dari
Nizny Hrabovec, Slovenia yang komponen utama penyusunnya adalah
klinoptilolite dengan komposisi (Ca, K2, Na2, Mg)4 Al8 Si40O96.24H2O.
Modifikasi yang dilakukan adalah dengan membuat komposit zeolit alam/besi

oksida untuk meningkatkan sifat adsorpsi dari zeolit alam. Hasil analisis dengan
XRD menunjukkan bahwa zeolit alam yang digunakan lebih dari 80%
merupakan klinoptilolit tetapi juga memiliki kandungan silika tinggi. Setelah
dilakukan modifikasi terlihat bahwa puncak pada 2:22.27, 22.78, 28.34,
36.19 mengalami penurunan tetapi sifat kristal zeolit masih tetap ada. Hasil
analisis menunjukkan bahwa sistem zeolit alam-besi oksida bukan hanya sistem
campuran fisis dari dua struktur mesopori. Komposit yang dibuat pada 20, 50,
dan 85C mengalami penurunan pada luas permukaan dan volume pori
dibanding zeolit alam yang dianalisis dengan metode BET. Pada zeolit alam,
hanya volume mikropori yang sangat kecil yaitu 0.0003 cm3/g yang tidak
terpengaruh oleh penambahan besi oksida dalam pembuatan komposit. Hasil
analisis SEM menunjukkan bahwa struktur agregat maghemite teradsorpsi pada
permukaan zeolit.
Yuanita (2010) melakukan modifikasi terhadap zeolit alam Wonosari-Indonesia
dengan perlakuan asam (HCl) dan penyisipan Si pada kerangka zeolit
menggunakan natrium silikat. Hasil analisis dengan XRD menunjukkan bahwa
zeolit Wonosari mengandung kristal mordenit dan klinoptilolit. Zeolit alam awal
memiliki rasio Si/Al 6,05 namun setelah dilakukan perlakuan asam dan
penyisipan Si, rasio Si/Al meningkat menjadi 9,71. HCl bereaksi dengan zeolit
sehingga menyebabkan terekstraknya Al dari zeolit. Hal ini mengakibatkan
turunnya kandungan Al dalam zeolit sehingga rasio mol Si/Al naik. Penambahan
natrium silikat pada zeolit akan menyebabkan terjadinya penyisipan Si dalam
kerangka zeolit. Si akan menempati ruang yang ditinggalkan oleh Al atau dapat
dikatakan bahwa Si mensubstitusi Al sehingga kandungan Si dalam sampel
zeolit meningkat. Kandungan logam seperti Ca, Fe pada zeolit mengalami
penurunan setelah perlakuan karena terjadinya pertukaran ion antara
kationkation dari zeolit dengan proton dari HCl. Sedangkan luas permukaan
spesifik, rerata jejari pori dan volume total pori katalis mengalami peningkatan
setelah perlakuan asam dan penambahan natrium silikat. Peningkatan ini lebih
disebabkan karena terjadinya pembukaan pori zeolit alam yang semula tertutupi
oleh pengotor melalui dengan dan refluks dengan HCl. Pada saat refluks dengan
natrium silikat terjadi penyisipan Si dalam kerangka zeolit. Hal ini menyebabkan
peningkatan luas permukaan zeolit akibat perlakuan asam menjadi tidak terlalu
besar. Kristalinitas padatan zeolit ditunjukkan oleh besarnya intensitas puncak
pada difraktogram difraksi sinar X. Intensitas puncak-puncak zeolit sebelum
dimodifikasi maupun setelah modifikasi tidak banyak mengalami perubahan.
Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan asam dan penyisipan Si tidak merusak
sifat kristal dari katalis.
Mahardiani melakukan modifikasi terhadap zeolit alam Wonosari-Indonesia
dengan perendaman HF 1%, refluks dengan HCl 6M dan perlakuan dengan
NH4Cl 1 M. Analisis dengan XRD menunjukkan bahwa zeolit Wonosari
mengandung kristal mordenit dan klinoptilolit. Hasil analisis menggunakan XRF

menunjukkan bahwa proses perlakuan asam (HF 1%, dan HCl 6M) pada katalis
menyebabkan terjadinya penurunan kandungan logam Ca, Fe, dan Mg pada
zeolit dan peningkatan keasaman zeolit. Zeolit alam mempunyai rasio Si/Al
sebesar 4,96 dan setelah diberi proses perlakuan asam terjadi peningkatan rasio
Si/Al menjadi 9,80 Aktivasi secara kimia dilakukan dengan pengasaman dengan
tujuan agar terjadi dealuminasi. Dealuminasi menjadi langkah penting
berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai katalis. Tujuan dealuminasi adalah
untuk mengoptimalkan kandungan aluminium dalam zeolit, sehingga zeolit
menjadi lebih stabil pada temperatur tinggi. Dan mengontrol keasaman dan
selektivitas zeolit. Dealuminasi adalah proses perusakan struktur kerangka zeolit
dimana terjadi pemutusan Al dalam kerangka (Al framework) menjadi Al luar
kerangka (Al non-framework) akibatnya rasio Si/Al akan menjadi semakin
meningkat. Luas permukaan spesifik zeolit alam mengalami kenaikan yang
sangat signifikan setelah perlakuan refluks HCl 6M. Peningkatan luas
permukaan spesifik zeolit juga berpengaruh pada peningkatan volume total pori.
Luas permukaan spesifik katalis meningkat karena HCl 6M dapat melarutkan
pengotor baik organik maupun anorganik yang bersifat menutupi pori, sehingga
pori-pori zeolit menjadi terbuka dan permukaannya menjadi lebih luas. Jejari
pori dominan pada kisaran 10-20 (kelimpahan terbesar), kemudian 21-30 ,
31-40 , dan >100 . Hal ini menunjukkan bahwa zeolit yang digunakan
sebagai katalis berukuran mikropori dan mesopori dan tidak ada makropori.
Hasil karakterisasi SEM-EDX melalui perbesaran 40.000x, dapat terlihat bahwa
zeolit setelah diberi perlakuan asam (b) seperti perendaman dengan HF 1%,
refluks HCL 6M dan perlakuan NH4Cl 1M mempunyai banyak pori dan kristal
zeolitnya tertata lebih rapi dibandingkan dengan zeolit alam.
Widya Yuliani Fatiha dkk melakukan sintesis zeolit dari fly ash batubara ombilin
dengan air laut pada temperatur rendah. Zeolit ini disintesis dari fly ash yang
didapatkan dari PLTU Ombilin yang sebelumnya sudah dikarakterisasi dengan
XRF. Berdasarkan data yang didapatkan dari hasil karakterisasi fly ash dengan
mengggunakan XRF dapat terlihat bahwa fly ash dari batubara pembangkit
listrik Ombilin ini memiliki komponen utama SiO2 dan Al2O3 dimana hal ini
menunjukkan adanya kemiripan komponen kimia antara fly ash dan zeolit,
sehingga kita dapat menggunakan fly ash batubara pembangkit listrik Ombilin
sebagai bahan dasar dalam sintesis zeolit yang dilakukan. Kesimpulannya, zeolit
dapat disintesis dari fly ash batubara Ombilin yang dilebur dengan NaOH pada
suhu 550C menggunakan air laut untuk kristalisasi pada suhu rendah yaitu pada
suhu 35C, 45C, dan 60C. Hasil zeolit yang terbentuk dari sintesis zeolit
menggunakan air laut dalam proses alkali hidrotermal dan untuk kristalisasi
cukup baik, karena tidak terdapat lagi SiO2 (quartz). Suhu terbentuknya zeolit
dengan struktur kristal yang lebih baik terjadi pada suhu 60C. Sintesis zeolit
pada suhu rendah dengan menggunakan air laut menghasilkan tipe zeolit berupa
sodalit yang merupakan kerangka dari zeolit tipe X.

B. Septiyana dan D. Prasetyoko melakukan sintesis ZSM-5 berbahan dasar


kaolin sebagai sumber aluminium dan silikon dengan menggunakan metode
hidrotermal. ZSM-5 (Zeolite Secony Mobile-5) adalah salah satu jenis zeolit
yang banyak digunakan. ZSM-5 adalah zeolit dengan rasio silika dan alumina
yang tinggi. ZSM-5 merupakan material yang seluruh strukturnya mempunyai
struktur pori dua dimensi yang menyilang. ZSM-5 mempunyai dua jenis pori,
keduanya dibentuk oleh oksigen cincin enam. Jenis pori yang pertama berbentuk
lurus dan elips. Jenis pori yang kedua porinya lurus pada sudut kanan, polanya
zig-zag dan melingkar. ZSM-5 merupakan salah satu zeolit dengan kerangka tipe
MFI, memiliki diameter pori 0.54 nm dan rasio Si/Al bervariasi dari 10 sampai
ratusan. Zeolit ini biasa disintesis dengan menggunakan kation Na+ sebagai ion
penyeimbang kerangka yang bermuatan negatif. Ion Na+ dapat ditukar dengan
kation lain yang dapat memasuki pori dalam modifikasi zeolit (Petushkov, dkk.,
2011). ZSM-5 telah berhasil disintesis dengan bahan dasar kaolin menggunakan
metode hidrotermal. Sintesis dilakukan dengan tetrapropilamonium bromida
sebagai templat serta LUDOX sebagai sumber tambahan silika. ZSM-5 dengan
rasio Si/Al 25 setelah pengadukan dan pemeraman selama 12 jam disintesis pada
suhu 175 C dengan variasi waktu kristalisasi dari 0-5 hari. Padatan
dikarakterisasi menggunakan teknik difraksi sinar-X (XRD), spektroskopi
inframerah (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil XRD
menunjukkan fase kristal dari ZSM-5 telah terbentuk dilihat dari puncak yang
muncul dan diperkuat dari hasil analisa spektroskopi inframerah. Scanning
Electron Microscopy (SEM) menunjukkan bentuk morfologi sampel yang
bermacam-macam seperti kubus, bola, atau batang. Ukuran partikelpun teramati
bervariasi dari mikro hingga nano. Dapat disimpulkan bahwa zeolit berjenis
ZSM-5 dapat disintesis menggunakan bahan dasar kaolin dengan metode
hidrotermal langsung. Zeolit jenis ini mulai terbentuk dan terlihat jelas setelah
kristalisasi selama 1 hari. Kemurnian yang paling baik didapatkan dari sampel
dengan waktu kristalisasi 1 hari. Transformasi kaolin dapat diamati dari larutnya
silika pada campuran, diikuti dengan terbentuknya alumina silikat sampai
terbentuknya ZSM-5.
Referensi :
http://repository.unand.ac.id/20600/1/Jurnal.pdf (diakses pada 24 Oktober 2016
pukul 14:47)
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-paper-25627-1408100065-Paper.pdf (diakses
pada 24 Oktober 2016 pukul 17:35)
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20295798-S1718-Savitri%20Octaviani.pdf
(diakses pada 24 Oktober 2016 pukul 17:35)
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dewi%20Yuanita%20Lestari,
%20S.Si.,%20M.Sc./kajian%20modifikasi%20zeolit.pdf (diakses pada 24
Oktober 2016 pukul 15:50)