Anda di halaman 1dari 5

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

Page 1

PENGARUH PENAMBAHAN MGSO4 DAN KH2PO4 TERHADAP


PEMBENTUKAN ASAM SITRAT DARI SARI BUAH BELIMBING
(Averrhoa carambola) OLEH Aspergillus niger
)

Aprilia Pratama P, Faqihudin Mubarok, Muhammad Ridwan*


Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jln. Prof. Soedarto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7460058
Abstrak
Asam sitrat adalah asam organik lemah yang terdapat dalam daun dan tumbuhan bergenus citrus.
Asam sitrat juga dapat disintesis dengan cara fermentasi glukosa oleh Aspergillus niger. Yieald akhir
yang diperoleh dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pemberian nutriennya. Pada
percobaan ini akan diuji pengaruh kadar P dengan mengatur penambahan KH2PO4 dan kadar Mg
dengan penambahan MgSO4 yang merupakan trace element yang dibutuhkan oleh A. niger terhadap
yield asam sitrat yang dihasilkan. Pembahasan difokuskan pada penentuan jumlah asam sitrat
dengan metode alkalimetri dan gravimetri endapan kalsium sitrat serta hubungan waktu fermentasi
dengan pH dan kebutuhan volume titran.
Kata kunci : asam sitrat, KH2PO4, MgSO4, Aspergillus niger
Abstract
[The influences of MgSO4 and KH2PO4 on Citric Acid Production from Starfruit extract by
Aspergillus niger]. Citric acid is weak organic acid which found in citrus leaves and of all citrus
fruits. Citric acid also can be made by fermentation of glucose by A. niger. Yield produced influenced
by various factors, including amount of the nutrients. The effect of KH2PO4 and MgSO4
concentration in the media is going to be tested in this experiment. The review will be focused on
determining amount of citric acid produced by alkalimetry and gravimetry method and also corelation
of the time fermentation with pH and the needs of titrant volume.
Keywords : citric acid, KH2PO4, MgSO4, Aspergillus niger

Pendahuluan
Asam sitrat (2-dihidroxypane-1,2,3-tricarboxylic
acid) merupakan asam organik lemah yang
ditemukan pada daun dan tumbuhan bergenus Citrus.
Asam sitrat mudah larut dalam air, alkohol, dan
etanol. Asam sitrat tidak berbau dan terasa asam.
Penggunaan dari asam sitrat ini cukup luas di dunia
industri, misalnya digunakan sebagai bahan tambahan
dalam industri makanan, juga digunakan sebagai
pelarut aspirin dan bahan pengisi untuk multivitamin

dalam industry farmasi. Asam sitrat ini juga dapat


digunakan sebagai bahan pengawet alami pada keju
-----------------------------------------------------------------*)

Telp +62-877-4800-1575
Email : ridwanm13@student.undip.ac.id

dan sirup. Saat ini umumnya asam sitrat dibuat secara


fermentasi menggunakan Aspergillus niger dari
bahan yang mengandung karbohidrat dan gula. Cara
lain pengisolasian asam sitrat adalah dengan ekstraksi
menggunakan larutan hidrokarbon senyawa basa
organik trilauramina yang diikuti dengan re-ekstraksi
dari larutan organik tersebut dengan air (Hasibuan,
2010) Aspergillus niger mampu mensintesa asam
sitrat dalam medium fermentasi ekstraseluler dengan
konsentrasi yang cukup tinggi, jika dibiakkan dalam
media yang kadar garamnya rendah dan mengandung
gula sebagai sumber karbon.
Kandungan Gizi Sari Buah Belimbing
Dalam percobaan ini dipilih sari buah
belimbing sebagai bahan baku karena kandungan
karbohidratnya yang cukup tinggi. Berikut
kandungan gizi sari buah belimbing tiap 100 gr
bahan.

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

Tabel 2.1 Kandungan gizi sari buah belimbing per


100 gram bahan
Energy

31 kcal

1.5%

Carbohydrates

6.73 gr

5%

Protein

1.04 gr

2%

Total Fat

0.33 gr

1%

Cholesterol

0 mg

0%

Dietary Fiber

2.80 g

7%

Folates

12 g

3%

Niacin

0.367 mg

2,25%

Pyridoxin

0.017 mg

1,50%

Riboflavin

0.016 mg

1,25%

Thiamin

0.014 mg

1%

Vitamin A

61 IU

2%

Vitamin C

34.4 mg

57%

Vitamin E

0.15 mg

1%

Vitamin K

0 mg

0%

Aspergillus niger
Kondisi spora licin, tidak berwarna atau
kuning kecoklatan, lemak atau merupakan campuran
tiga warna atau lebih, konidia berkepala hitam
coklat/ungu coklat besar dan berbentuk bola. Dalam
kepala yang besar terdapat bubuk bola yang
mengembang. Serbuk pada seluruh permukaan
kepalanya kering, menyusut menyerupai kubah dari
konidia spora pendek. Konidia spora terlihat
bertangan besar dan berwarna coklat hitam.
Hal-Hal yang Berpengaruh
Menurut Rahmatullah (2014) ada beberapa
faktor yang berpengaruh dalam pembuatan asam
sitrat dengan cara fermentasi oleh A. niger yaitu :
a) Waktu 7 hari adalah optimum, bila kurang dari
7 hari, bahan baku belum terfermentasi semua.
Bila lebih mungkin asam sitrat berubah
menjadi asam oksalat.
b) Mikroba
Pada percobaan ini digunakan jamur
Aspergillus
niger.
Keuntungan
dari
penggunaan jamur ini adalah penanganannya
mudah, dapat digunakan bahan baku yang
murah, yield tinggi dan konsisten, serta
ekonomis.
c) Jangan menaruh petri dalam keadaan keadaan
terbalik, karena percobaan dalam surface
culture.
d) Konsentrasi gula awal
Konsentrasi gula awal menentukan yield asam
sitrat dan asam organik lain. Untuk
Aspergillus niger adalah 15-18%, jika lebih
dari 18% tidak ekonomis dan jika kurang dari
15% terbentuk asam oksalat.

Page 2

e) pH
Pengaturan pH sangat penting dalam
fermentasi. Ini disebabkan pada pH tertentu,
strerilisasi mudah dilakukan. Sterilisasi mulamula dilakukan pada pH 2,2 atau lebih rendah.
Sebagai pengatur digunakan asam klorida.
Sedang pH yang baik 3,4 - 4,5. Pada pH tinggi
dihasilkan asam oksalat. Untuk kondisi
tertentu (misal percobaan) kadang akan
menghasilkan enzim yang hanya berfungsi
mengubah karbohidrat menjadi asam sitrat.
Untuk kondisi lain akan dihasilkan enzim
yang lain pula.
f) Pemberian Oksigen
Pemberian oksigen yang terlalu banyak
menimbulkan efek merugikan bagi hasil asam
sitrat. Sebaliknya, bila pemberian oksigen
terlalu sedikit akan kurang menguntungkan.
g) Suhu
Suhu yang baik adalah 26 28oC. Jika lebih
dari 30oC, keasaman naik dan akibatnya ada
asam oksalat.
h) Komposisi Media Fermentasi
Sebelumnya telah dilakukan beberapa
penilitian untuk memproduksi asam sitrat dengan
cara fermentasi menggunakan Aspergillus niger.
Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh
Rintis Manfaati untuk mengetahui pengaruh
komposisi media fermentasi terhadap produksi asam
sitrat oleh Aspergillus niger. Dari penelitian yang
dilakukan diketahui produksi asam sitrat sangat
dipengaruhi oleh komposisi media fermentasi.
Produksi asam sitrat tertinggi dicapai pada
konsentrasi gula 14 22% (w/v). Sumber nitrogen
dalam bentuk amonium dan urea tidak mempengaruhi
produksi asam sitrat.
Percobaan ini bertujuan untuk membuat asam
sitrat dari sari buah belimbing dengan cara fermentasi
menggunakan Aspergillus niger dan untuk
mengetahui pengaruh penambahan nutrien yang
berbeda terhadap kadar asam sitrat yang dihasilkan.
Bahan dan Metode
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini
adalah sari buah belimbing, sekam padi, bekatul,
urea, KH2PO4, MgSO4, Aspergillus niger, Ca (OH)2,
H2SO4, NaOH dan aquadest. Alat yang digunakan
dalam percobaan adalah beaker gelas, erlemeyer,
cawan petri, gelas ukur, pipet tetes, buret, klem,
statif, termometer, pengaduk, dan inkubator goyang.
Metode yang digunakan adalah fermentasi
dengan bahan baku sari buah belimbing dan variabel
sebagai berikut :
1.

2.

Variabel tetap
Sari buah belimbing 20 ml, sekam 5 gr, bekatul
7 gr, urea 2 gr dan waktu fermentasi 7 hari
Variabel berubah

Variabel 1: MgSO4 2 gr, KH2PO4 2 gr, pH


3

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

Variabel 2 : MgSO4 2 gr, KH2PO4 5 gr, pH


3

Variabel 3 : MgSO4 4 gr, KH2PO4 5 gr, pH


5
Respon yang diamati dalam percobaan yaitu
pH dan kebutuhan volume titran. Selanjutnya data
yang diperoleh dianalisa dan diolah kemudian
disajikan dalam bentuk grafik.
Pelaksanaan Percobaan
Fermentasi Media
Menyiapkan sari buah belimbing masingmasing 20 ml untuk 3 variabel sebagai media
fermentasi. Media fermentasi dimasukkan ke dalam
erlenmeyer, lalu ditambah nutrien sesuai dengan
variabel yang telah ditentukan dan tutup dengan
aluminium foil. Sterilkan media yang sudah ditambah
nutrisi pada autoclave selama 15 menit. Dinginkan
sampai suhu ruangan dan tanami dengan suspensi
spora (Aspergillus niger). Inkubasikan selama 7 hari
pada inkubator goyang.
Analisa Hasil
Setelah diinkubasi saring dengan kertas saring.
Filtrat yang diperoleh dipanaskan hingga 70C lalu
ditambah larutan Ca(OH)2 sehingga diperoleh
endapan kalsium sitrat. Keringkan endapan dan
ditimbang beratnya. Endapan dilarutkan dengan
H2SO4, disaring dan filtratnya dititrasi dengan NaOH
untuk mengetahui kadar asam sitrat.
Hasil dan Pembahasan
Hubungan Waktu Fermentasi dan pH
Tabel 1 Hasil analisa pH
pH

Hari

Variabel 1
5
5
4
3
3

1
2
3
4
5

Variabel 2
5
5
3
3
2

Variabel 3
4
4
3
3
2

Page 3

gambar diatas diketahui pH mengalami penurunan


seiring dengan semakin lamanya waktu fermentasi.
Pada variabel 1 pH mulai dari hari 1-5 berturut-turut
adalah 5, 5, 4, 3, 3, 3. pH variabel 2 mulai dari hari 15 berturut-turut adalah 5, 5, 3, 3, 2. pH variabel 3
berturut-turut mulai dari hari 1-5 adalah 4, 4, 3, 3, 2.
Secara keseluruhan variabel 1, 2 dan 3 mengalami
penurunan pH, hal ini disebabkan oleh metabolisme
A. niger yang menghasilkan asam sitrat, asam
glukonat, asam galat (gallic acid) dan beberapa jenis
enzim sehingga menyebabkan pH menurun seiring
dengan semakin lamanya waktu fermentasi karena
jumlah asam yang dihasilkan semakin tinggi
konsentrasinya (Anam, 2010).
Namun pada variabel 1 dan variabel 2 terjadi
lonjakan pH di hari pertama fermentasi dari pH
awalnya. pH awal untuk variabel 1 dan variabel 2
adalah 3, namun menlonjak menjadi 5 dihari pertama
fermentasi. Peristiwa ini terjadi karena urea yang
ditambahkan sebagai nutrien terurai menjadi NH3+
dan CO2. NH3+ bereaksi dengan air membentuk
NH4OH yang merupakan basa lemah sehingga
menyebabkan pH sedikit mengalami kenaikan dari
pH awal sebelum fermentasi ( Manfaati, 2011).
Seharusnya variabel 1 memiliki pH yang
lebih rendah dibanding variabel 2 dan 3 karena kadar
optimum penambahan MgSO4 pada fermentasi asam
sitrat adalah 0.2 gr/l 0.5 gr/l (Luciana, 2011).
Artinya jumlah MgSO4 yang harus ditambahkan
dalam 20 ml sampel adalah sebanyak 0.004 - 0.01 gr.
Jumlah ini lebih didekati oleh variabel 2 dan variabel
3. Sama halnya dengan penambahan KH2PO4. Kadar
optimum penambahan KH2PO4 pada fermentasi asam
sitrat adalah 0.5 - 5 gr/l (Soccol, 2009). Artinya 0.01
0.1gr KH2PO4 harus ditambahkan untuk 20 ml
sampel, dan jumlah ini lebih didekati oleh variabel 1.
Namun hal ini tidak sesuai dengan hasil praktikum
yang diperoleh. Karena menurut Hasibuan (2010)
semakin banyak jumlah MgSO4 yang ditambahkan
akan semakin besar kadar asam sitrat yang diperoleh
dan penambahan KH2PO4 tidak mempengaruhi nilai
pH dan kadar asam sitrat yang diperoleh lebih
ditentukan oleh kadar gula dan nilai pH.

pH

Hubungan Waktu Fermentasi dan Volume Titran


6
5
4
3
2
1
0

Tabel 2 Hasil analisa volume titran.

variabel 1
variabel 2
variabel 3
0

10

t ( hari )
Gambar 1 grafik hubungan waktu (t) vs pH
Hubungan antara waktu fermentasi dan
volume titran dapat dilihat pada gambah diatas. Dari

Hari
1
2
3
4
5

Volume Titran (NaOH 0.1 N) (ml)


Variabel 1

Variabel 2

Variabel 3

1.1
1.9
2.0
2.3
2.8

4.1
3.9
4.3
4.2
4.7

2.8
4.3
4.8
4.9
5.1

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

Fungsi Penambahan KH2PO4 dan Kadar


Optimumnya pada Fermentasi Asam Sitrat

6
volume titran (ml)

Page 4

5
4
3

variabel 1

variabel 2

variabel 3

0
0

10

t ( hari )

Gambar 2 grafik hubungan waktu (t) vs volume


titran.
Dari gambar di atas terlihat semakin lama
waktu fermentasi maka volume titran yang
dibutuhkan semakin besar. Peristiwa ini sesuai
dengan teori karena semakin lama waktu fermentasi
konsentrasi asam yang dihasilkan juga semakin besar.
Berdasarkan hasil praktikum variabel 3 meiliki
kebutuhan volume titran paling besar, diikuti variabel
2 dan variabel 1. Hal ini tidak sesuai dengan teori
karena seharusnya variabel 1 meiliki kebutuhan titran
paling besar diikuti variabel 2 dan variabel 3. Karena
jika ditinjau dari ketersediaan nurisinya, kadar
optimum MgSO4 untuk fermentasi asam sitrat adalah
0.2 gr/l 0.5 gr/l (Luciana, 2011). Atau 0.004 - 0.01
gr untuk setiap 20 ml sampel dan kadar optimum
penambahan KH2PO4 untuk fermentasi asam sitrat
adalah 0.5 - 5 gr/l (Soccol, 2009). Artinya untuk
setiap 20 ml sampel penambahan KH2PO4 yang
optimal adalah 0.01 0.1gr. Kadar optimum
penambahan MgSO4 dan KH2PO4 ini lebih didekati
oleh variabel 1, kemudian variabel 2 dan variabel 3.
Menurut Hasibuan (2010) hal ini terjadi karena
semakin banyak jumlah MgSO4 yang ditambahkan
maka akan semakin besar pula konsentrasi asam yang
dihasilkan sehingga menyebabkan kebutuhan volume
titran semakin besar. Dan konsentrasi KH2PO4 tidak
perlu dibatasi jika konsentrasi trace elemen seperti
Fe, Zn dan Mn sangat terbatas. Namun jika
konsentrasi trace elemennya cukup besar dan tidak
dapat dikendalikan jumlah KH2PO4 harus dibatasi.
Sementara untuk variabel 2 kebutuhan
titrannya juga semakin meningkat, namun pada hari
kedua dan hari keempat volume titrannya mengalami
sedikit penurunan padahal nilai pH nya semakin
kecil, seharusnya kebutuhan titrannya semakin besar.
Menurut R.A. Day, Jr dan A.L. Underwood peristiwa
ini terjadi karena adanya galat tidak pasti yang
tercermin dari menurunnya kebutuhan volume titran
padahal nilai pH nya semakin kecil. Galat artinya
perbedaan numerik antara nilai yang dihitung dengan
nilai sebenarnya. Nilai sebenarnya dari suatu
kuantitas adalah sesuatu yang tidak pernah diketahui
secara pasti. Penyebab galat tidak pasti tidak dapat
ditentukan secara pasti dan tidak dapat dihindarkan
jika pengukuran dilakukan oleh manusia.

KH2PO4
merupakan
senyawa
yang
mengandung phospat. KH2PO4 memiliki manfaat
sebagai penyedia sumber fosfat yang memberi nutrisi
pada Aspergillus niger. Dengan adanya pemberian
KH2PO4, diharapkan asam sitrat dapat terbentuk lebih
cepat dan lebih banyak.Namun, penambahan phospat
tetap ada batasannya jika konsentrasi trace elemen
(Fe, Zn dan Mn) tidak bisa dikendalikan.
Penambahan phospat yang terlalu banyak akan
mengakibatkan pembentukan asam glukonat sehingga
asam sitrat yang dihasilkan kurang optimal (Latifah,
2013).
Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh
Carlos R. Soccol kadar optimum penambahan
KH2PO4 pada fermentasi asam sitrat adalah sebesar
0.5 gr/l 5 gr/l. Artinya untuk dibutuhkan 0.01 0.1
gr KH2PO4 untuk setiap 20 ml sampel.
Fungsi Penambahan MgSO4 dan Kadar Optimumnya
pada Fermentasi Asam Sitrat
Penambahan
MgSO4 berfungsi
untuk
mempercepat terbentuknya asam sitrat dari
metabolisme Aspergillus niger. Magnesium sulfat
mempengaruhi produksi enzim selulase yang
berfungsi untuk memecah senyawa disakarida
menjadi monosakarida. Sehingga jika pemecahan
senyawa
disakarida
menjadi
monosakarida
berlangsung lebih cepat seharusnya konsentrasi asam
sitrat yang dihasilkan juga semakin besar. ( Hasibuan,
2010)
Menurut percobaan yang dilakukan oleh
Luciana P kadar optimum MgSO4 yang harus
ditambahkan pada fermentasi asam sitrat adalah 0.2
gr/l 0.5 gr/l. Artinya untuk setiap 20 ml sampel
dibutuhkan 0.004 0.01 gr MgSO4.
Kesimpulan
Semakin lama proses fermentasi yang dilakukan,
nilai pH akan semakin turun dan kebutuhan volume
titran NaOH (0,1 N) akan semakin besar karena
semakin banyak asam yang dihasilkan. KH2PO4
berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi Aspergillus
niger yang berupa fosfat dan kadar optimumnya pada
fermentasi asam sitrat adalah 0.5 gr/l 5 gr/l. MgSO4
berfungsi sebagai sumber nutrisi berupa magnesium
bagi Aspergillus niger dan kadar optimumnya pada
fermentasi asam sitrat adalah 0.2 gr/l 0.5 gr/l.
Daftar Pustaka
Anam, Chairul. 2010. Produksi Asam Sitrat dari
Aspergillus niger dalam Bioreaktor. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
Anonym.2010. Produksi Asam Sitrat dari Aspergillus
Niger
dalam
Bioreactor.
http://www.scribd.com/doc/83796649/Kand

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

ungan-Gizi-Buah-Pir. Diakses pada tanggal


14 April 2016 pukul 16.48 WIB
Dharma.1992. Perbedaan Media Semi Padat dan
Cair.
https://www.scribd.com/doc/222204421/Per
bedaan-Media-Semi-Padat-Dan-Cair.
Diakses pada tanggal 14 April pukul 17.05
WIB
Hasibuan, Mhd Maulana Abdullah.2010.Pra
Rancangan Pabrik Pembuatan Asam Sitrat
Melalui Proses Fermentasi Kulit Buah
Nenas dengan Kapasitas 3 Ton/hari. Jurusan
Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Luciana, P.S.2011. Microbial Production of Citric
Acid. Universit de Technologie de
Compigne, France.
Madona, Naomi et all.2009. Fermentasi ampas ubi
jalar menjadi asam sitrat menggunakan
metodesurface culture. Jurusan Teknik
Kimia,
Fakultas
Teknik
Universitas
Diponegoro, Semarang.
Manfaati. Rintis 2011. Perngaruh komposisi media
fermentasi terhadap produksi asam sitrat.
Tenik kimia politeknik bandung.
Rahmatullah, M.W. 2014.Produksi Asam Organik
(Asam Sitrat) dengan Kultivasi Cair dan
Substrat Padat. Departemen Teknologi
Industri Pertanian, Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Soccol, Carlos.R.2009.Production of Organic
Acids.Bio-Technical Resources, Wisconsin,
USA.Biotechnology Vol IV.
Underwood, A.L. & JR, R.A. Day.2002. Analisa
Kimia Kuantitatif.6th Ed. Jakarta. Erlangga.

Page 5