Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keracunan merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh bahan organik ataupun
bahan anorganik yang masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan tidak normalnya
mekanisme di dalam tubuh. Akibat-akibat dari keracunan dapat menurunkan kesadaran
bahkan pada kasus-kasus tertentu dapat menyebabkan kematian, jika cara penanganan yang
salah. Keracunan seperti yang diketahui masyarakat luas, hanya menyerang bagian saluran
pencernaan saja. Namun sebenarnya keracunan dapat menyerang saluran pernafasan juga.
Misalnya keracunan akibat menghirup gas beracun yang dapat menyebabkan kepala pusing,
dan mual. Pada banyak kasus yang ada akibat keracunan sebagai first stander dapat
melakukan pertolongan pertama bagi setiap orang yang mengalami atau menjadi korban
keracunan. Untungnya kasus ini sudah menurun dengan adanya kemasan produk yang baik
dan banyaknya pusat-pusat pengendali keracunan (National Safety Council, 2006)).
Menurunnya kasus keracunan juga disebabkan karena adanya Poison Prevention Packaging
Act tahun 1970 yang mengatur bahwa beberapa obat berbahaya dan produk rumah tangga
tertentu harus dijual dalam wadah yang sulit dibuka oleh anak-anak. Akan tetapi, masalah
keracunan masih menjadi kekhawatiran bermakna dalam bidang kesehatan (Wong, 2008).
Pada makalah ini akan dibahas tentang bagaimana cara bagi penolong pertama apabila
menemui korban yang menderita keracunan obat tidur, apa sajakah tindakan yang harus kita
lakukan. Selain itu akan dibahas pula tata cara penanggulangannya jika sudah melewati masa
kritis (keracunan). Dengan dibahasnya tentang tata cara pertolongan pertama dan cara
penanggulangan terhadap korban keracunan penulis berharap agar tingkat kesalahan dalam
menolong dan penaggulangan dapat dibuat seminimal mungkin.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil adalah bagaimana cara menolong orang
yang keracunan jika sebagai first stander, hal apa sajakah yang harus dilakukan saat
berada di tempat kejadian.

C. Tujuan Penulisan
[Type text]

Page 1

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:


1.
2.
3.
4.

Untuk mengetahui pengertian keracunan


Untuk mengetahu jalur masuk racun ke dalam tubuh
Untuk mengetahui gejala keracunan obat tidur
Untuk mengetahui penanganan pertama pada orang yang keracunan obat tidur

D. Manfaat Penulisan
1 Bagi Pembaca
a Dapat menambah wawasan pembaca mengenai keracunan obat tidur beserta
b
2

penanganannya
Dapat menjadikan referensi untuk makalah pembaca selanjutnya dengan adanya kritik

dan saran untuk penulisan.


Bagi Penyusun
a Dapat berbagi informasi dan menambah wawasan penyusun tentang keracunan oleh
b

obat tidur.
Dapat dijadikan sumber tambahan referensi dalam penyusunan makalah selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Keracunan
[Type text]

Page 2

Istilah racun bersinonim dengan kata toksin dan bisa, namun memiliki definisi yang berbeda
antara yang satu dengan lainnya. Kata "toksin" didefinisi sebagai racun yang dihasilkan dari
proses biologi, atau sering disebut sebagai biotoksin. Sementara, bisa didefinisikan sebagai
cairan mengandung racun yang disekresikan atau dihasilkan oleh hewan selama proses
pertahanan diri atau menyerang hewan lain dengan gigitan maupun sengatan.
Racun adalah sesuatu yang bila masuk kedalam tubuh kita menyebabkan keadaan tidak sehat
dan bisa membahayakan jiwa ( Ircham Machfoed, dkk, 2012:87). Racun dapat berupa obat yang
diminum dengan dosis yang berlebihan, seperti misalnya obat penghilang rasa nyeri dan pusing
yang banyak dijual ditoko obat bebas, obat tidur dan lain-lainnya. Bisa juga zat-zat kimia seperti
obat pemati serangga, cairan pembersih rumah tangga atau terkena serangan gigitan ular,
serangga, atau terhisap gas-gas melalui paru-paru, pestisida yang terserap melalui pori-pori kulit
dan lain-lain.
Dalam sebuah buku forensik medis yang ditulis oleh JL Casper, racun diklasifikasikan
menjadi 5 golongan, yaitu:
a.

Racun iritan, yaitu racun yang menimbulkan iritasi dan radang. Contohnya asam mineral,
fungi beracun, dan preparasi arsenik.

b.

Racun penyebab hiperemia, racun narkotik, yang terbukti dapat berakibat fatal pada otak,
paru-paru, dan jantung. Contohnya opium, tembakau, konium, dogitalis, dan lain lain.

c.

Racun yang melumpuhkan saraf, dengan meracuni darah, organ pusat saraf dapat lumpuh
dan menimbulkan akibat yang fatal seperti kematian tiba-tiba. Contohnya asam hidrosianat,
sianida seng, dan kloroform.

d. Racun yang menyebabkan marasmus, biasanya bersifat kronis dan dapat berakibat fatal bagi
kesehatan secara perlahan. Contohnya bismut putih, asap timbal, merkuri, dan arsenik.

[Type text]

Page 3

e.

Racun yang menyebabkan infeksi (racun septik), dapat berupa racun makanan yang pada
keadaan tertentu menimbulkan sakit Pyaemia (atau pyemia) dan tipus pada hewan ternak.
Keracunan adalah keadaan darurat yang diakibatkan masuknya suatu zat atau makanan

kedalam tubuh melalui berbagai cara, seperti melalaui saluran pencernaan, saluran pernafasan,
atau melalui kulit (Iskandar Junaidi, 2011:55).
Zat yang dapat menimbulkan keracunan dapat berbentuk :
1. Padat, misalnya obat-obatan, makanan
2. Gas, misalnya CO
3. Cair, misalnya alcohol, bensin, minyak tanah, zat kimia

B. Jalur Masuk Racun


1. Keracunan melalui mulut/alat pencernaan.
Umumnya terkait dengan bahan-bahan yang terdapat di rumah tangga.
a. Obat-obatan misalnya obat tidur/penenang yang dikonsumsi dalam jumlah banyak
atau diminum dengan bahan lain sehingga menimbulkan keracunan.
b. Makanan yang mengandung racun (misal : singkong beracun), makanan
kadaluarsa serta makanan yang tidak dipersiapkan dengan baik/tercemar.
c. Obat nyamuk, minyak tanah, dsj.
d. Makanan/minuman yang mengandung alkohol (minuman keras).

2. Keracunan melalui pernafasan.


Umumnya berupa gas, uap dan bahan semprotan.
a. Menghirup gas/udara beracun, misal : gas mobil dalam keadaan mobil tertutup,
uap minyak tanah, dsj.
[Type text]

Page 4

b. Kebocoran gas industri, misal : amonia, klorin, dsj.


3. Keracunan melalui kulit/kontak (absorbsi).
Racun yang terserap ada kalanya dapat merusak kulit. Racun yang masuk dari kulit
secara perlahan terserap aliran darah.
a. Umumnya zat kimia pertanian seperti insektisida, pestisida maupun zat kimia
yang bersifat korosif.
b. Tanaman.
c. Tersentuh binatang yang mengandung racun pada kulitnya ataupun bagian
tubuhnya yang lain (umumnya pada binatang yang hidup di air).
4. Keracunan melalui suntikan ataupun gigitan.
Zat racun menembus kulit langsung ke dalam tubuh melalui sistem peredaran darah.
a. Obat suntik, misal : penyalahgunaan obat dan narkotika.
b. Gigitan/sengatan binatang yang mengandung bisa racun, misal : kalajengking,
ubur-ubur, dsb.
C. Gejala Keracunan
Gejala Umum Keracunan
1. Penurunan respon, gangguan status mental (gelisah, takut, dsj)
2. Gangguan pernafasan
3. Nyeri kepala, pusing ataupun gangguan pengelihatan.
4. Mual ataupun muntah.
5. Lemas, lumpuh ataupun kesemutan.
6. Pucat ataupun kulit kebiruan.
7. Kejang.
8. Syok.
9. Gangguan irama detak jantung ataupun pernafasan.

[Type text]

Page 5

Gejala Khusus Keracunan


1. Keracunan melalui mulut/alat pencernaan.

Mual ataupun muntah.

Nyeri perut.

Diare.

Nafas ataupun mulut yang berbau.

Suara parau, nyeri di saluran cerna (mulut dan kerongkongan).

Luka bakar atau sisa racun di daerah mulut.

Produksi air liur yang berlebih ataupun mulut menjadi berbusa.

2. Keracunan melalui pernafasan.

Gangguan pernafasan ataupun pernafasan.

Kulit kebiruan.

Nafas berbau.

Batuk ataupun suara parau.

3. Keracunan melalui kulit.

Daerah kontak berwarna kemerahan, nyeri, melepuh dan meluas.

Syok anafilaktik (gejala alergi yang mengancam nyawa yang dapat menyebabkan
penderita tidak sadarkan diri, melebarnya pembuluh darah, naiknya denyut nadi,
menurunnya tekanan darah, menyempitnya saluran nafas, ruam pada kulit, mual
dan anggota gerak yang hangat.

4. Keracunan melalui suntikan ataupun gigitan.

Luka di daerah suntikan ataupun gigitan berupa luka tusuk atau bekas gigitan.

Nyeri pada daerah sekitar suntikan ataupun gigitan dan kemerahan.

[Type text]

Page 6

D. Pencegahan Keracunan secara Umum


1. Mencegah / menghentikan penyerapan racun
a. Racun melalui mulut (ditelan / tertelan)
Encerkan racun yang ada di lambung dengan : air, susu dan norit.
Kosongkan lambung (efektif bila racun tertelan sebelum 4 jam) dengan cara
dimuntahkan dan bilas lambung.
b. Racun melalui melalui kulit atau mata
Pakaian yang terkena racun dilepas.
Cuci / bilas bagian yang terkena dengan air dan sabun atau zat penetralisir (asam
cuka / bicnat encer).
Hati-hati : penolong jangan sampai terkontaminasi.
c. Racun melalui inhalasi
Pindahkan penderita ke tempat aman dengan udara yang segar.
Pernafasan buatan penting untuk mengeluarkan udara beracun yang terhisap,
jangan menggunakan metode mouth to mouth.
d. Racun melalui suntikan
Pasang torniquet proximal tempat suntikan, jaga agar denyut arteri bagian distal
masih teraba dan lepas tiap 15 menit selama 1 menit.
Beri epinefrin 1/1000 dosis : 0,3-0,4 mg subkutan/im.
Beri kompres dingin di tempat suntikan.
2. Mengeluarkan racun yang telah diserap
Diuretic : lasix, manitol
Dialisa
Transfusi exchange
3. Pengobatan simptomatis / mengatasi gejala
Gangguan sistem pernafasan dan sirkulasi : RJP.
Gangguan sistem susunan saraf pusat:
Kejang : beri diazepam atau fenobarbital
Odem otak : beri manitol atau dexametason.
E. Keracunan Obat Tidur
Ada berbagai jenis obat tidur dengan manfaat dan risiko berbeda. Ada yang dapat membuat
Anda tidur lebih lama atau membantu Anda untuk lebih mudah tidur. Obat tidur dalam
kelompok benzodiazepines disebut sebagai penenang sistem saraf pusat yang berperan
memperlambat kerja sistem saraf. Sementara kelompok lain, non-benzodiazepine, memiliki
efek samping lebih aman.
Oleh karenanya, agar dapat menemukan obat yang tepat, sebelum meresepkan obat tidur,
dokter biasanya akan mengajukan berbagai pertanyaan kepada Anda mengenai hal-hal berikut:
[Type text]

Page 7

Pola tidur Anda dan berbagai aktivitas lain yang memengaruhi hal tersebut.

Tes untuk mendeteksi kondisi yang melatarbelakangi gangguan tidur.

Diskusi tentang jenis, dosis, dan efek samping obat tidur, termasuk ada tidaknya obat
tidur generik dengan harga lebih ringan.

Jika memang diperlukan, dokter akan meresepkan obat tidur untuk periode waktu tertentu
untuk melihat efek samping dan manfaatnya.

Sebaiknya Anda tidak mengonsumsi obat tidur jenis lain, jika obat yang sedang Anda
gunakan tidak bekerja sesuai harapan

Keracunan obat penenang atau obat tidur dapat terjadi apabila diminum secara berlebihan
atau tidak mengikuti petunjuk,aturan,atau resep dokter. Obat tidur sendiri jika dikonsumsi
dalam jangka panjang akan menimbulkan efek samping.
a. Efek Samping Obat Tidur
Seperti halnya obat-obatan lain, obat tidur juga memiliki efek samping. Efek samping setiap obat
tidur berbeda-beda tergantung jenisnya. Berikut beberapa efek samping yang umum terjadi:

Napsu makan berubah.

Rasa terbakar atau geli pada kaki, lengan, tangan.

Diare.

Susah buang air besar atau konstipasi

Susah menjaga keseimbangan.

Sakit kepala.

Mulut atau tenggorokan kering.

Buang angin.

Nyeri ulu hati.

Mengantuk di siang hari.

Lemas.

Nyeri perut.

Gangguan pada ingatan dan tidak fokus.

[Type text]

Page 8

Membuat anggota tubuh bergetar.

Mual.

Reaksi alergi parah yang disebut anafilaksis. Reaksi ini dapat meliputi angioedema, yaitu
bengkak parah pada wajah.

Menimbulkan ketergantungan. Tanpa obat tidur, Anda menjadi merasa semakin sulit
tidur. Bahkan aktivitas tidur bisa menjadi saat yang paling mencemaskan.

Detak jantung tidak teratur.

Berat badan bertambah.

b. Gejala keracunan luminal dan obat tidur


Refleks berkurang
Depresi pernapasan
Pupil kecil akhirnya dilatasi (melebar)
Shock bisa koma
c. Pertolongan Pertama
Bila penderita sadar, berikan minum hangat serta upayakan agar penderita muntah
Bila penderita tidak sadar, bersihkan saluran pernapasan
Penderita dibawa ke sarana kesehatan terdekat

d. Pertolongan di Sarana Kesehatan


1. Beri cairan Intravena
2. Lakukan Bilas Lambung
3. Pasang Urine Kateter untuk memantau cairan
4. Beri bantuan Oksigen
5. Kolaborasi dalam pemberian obat
6. Pantau secara kontinyu kesadaran penderita
[Type text]

Page 9

BAB IV
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Keracunan merupakan masuknya zat yang mengandung racun kedalam tubuh baik
melalaui saluran pencernaan, saluran pernafasan, atau melalui kulit atau mukosa yang
menimbulkan timbul gejala klinis. Keracunan merupakan masalah serius karena dapat
menyebabkan meninggal dunia. Dari data statistik diketahui bahwa penyebab keracunan
[Type text]

Page 10

yang banyak terjadi di Indonesia secara umum adalah akibat paparan pestisida, obat-obatan,
hidrokarbon, bahan kimia korosif, alcohol dan beberapa racun alamiah termasuk bisa ular,
tetradotoksin, asam jengkolat dan beberapa tanaman beracun lainnya .
Kematian karena keracunan telah menurun secara dramatis pada dua decade terakhir.
Meski demikian penanganan yang baik akan mencegah perburukan dari keracunan, sehingga
perlu penanganan secara tepat dan hati-hati untuk kasus keracunan.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga pembaca
bisa memvalidasi dengan referensi yang tersedia untuk mendapatka teori yang lebih
benar. Kritik dan saran penulis harapkan demi perbaikan makalah yang memuat
keracunan

[Type text]

ini.

Page 11

DAFTAR PUSTAKA
Berman, Audrey. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawtan Klinis Kozier & Erb. Jakarta:EGC
Cecily, Lynn Betz. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta:EGC
Kisanti, Annia. 2012. Panduan Lengkap Pertolongan Pertama pada Darurat
Klinis. Yogyakarta :Araska.
National Safety Council. 2006. Pertolongna Pertama dan RJP pada Anak. Jakarta:Arcan.
Sartono. 2002. Racun dan Keracunan cetakan 1. Jakarta : Widya Medika.
Smeltzer, Suzanne. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah volume 3.
Jakarta : EGC.
Wong, Donna L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Jakarta:EGC.

[Type text]

Page 12