Anda di halaman 1dari 7

TUGAS SPEKTROSKOPI KIMIA

ANALISIS JURNAL

Oleh :
ImaNurisa

16728251024

C. Suci Puji Setyowati

16728251028

Pendidikan Kimia B

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. EndangWidjajanti L. FX MS

PENDIDIKAN KIMIA
PROGRAM PASCASARJANA

UNVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


2016
TEMPERATURE-DEPENDENT FT-IR SPECTROSCOPY STUDY OF SILVER 1,9NONANEDITHIOLATE.
Volume 55, Number 8, 2001 0003-7028 / 01 / 5508-1085$2.00 / 0 APPLIED SPECTROSCOPY
1085
q 2001 Society for Applied Spectroscopy
HYOUK JIN CHOI, SANG WOO HAN, SEUNG JOON LEE, and KWAN KIM*
Laboratory of Intelligent Interface, School of Chemistry and Molecular Engineering and Center
for Molecular Catalysis, Seoul
National University, Seoul 151-742, Korea

A. PENDAHULUAN
Campuran dari Ag+ dan komponen dasar, thiol organik yang tidak bercabang biasanya
membentuk endapan yang sukar larut. Hasilnya berupa padatan dengan lapisan-lapisan yang
tidak terhitung, berupa 2 dimensi dan lapisannya berstruktur non molekuler.
Lapisan AgSR memperlihatkan sifat Kristal cair saat meleleh. Hal ini dikarenakan
koordinasidari Ag ke thiolat berubah dari trigonal menjadi diagonal dengan lapisan-lapisan CH 3
CH3. Komponen berlapis juga terbentuk dari campuran Ag+ dan 1,5 pentanaditiol. Tapi tidak
seperti AgSR, komponen ini tidak menunjukkan sifat Kristal cair ketika meleleh. Hal ini
mungkin disebabkan karena adanya ikatan kovalen antar lapisannya.
Karakteristik struktur dari perak ditiolat menjadi perhatian utama yang menghubungkan
dengan struktur ditiol organic pada Ag dan Ar. Ditiol dikenal dapat menyerap Ar sebagai
monoditiolat berdasarkan penelitian menggunakan SERS. Pada padatan Ag terlarut disimpulkan
bahwa molekul ditiol terserap pada Ag sebagai monoditiolat yang berwujud dua ikatan Ag-S.
Belakangan, ditemukan bahwa lapisan-lapisan ini muncul meskipun dari Ag yang berwujud
ditiol alifatik.

Berdasarkan beberapa acuan tersebut, peneliti ingin melakukan percobaan untuk


menentukan struktur dan sifat termal dari 1,9 nonanaditiolat (AgNDT) dengan pengaruh
temperature dan spektroskopi DRIFT (Diffuse Reflectance Infrared Fourier Transform).
B. EKSPERIMEN
Preparasi perak 1,9 nonanaditiolat. Perak nitrat 99,8%, 1,9-nonanaditilat 97% dan etanol
(>99%) digunakan sebagai bahan utama. Maka, bahan bahan kimia lainnya sebagai pereaksi
(reagen) dan juga digunakan air yang telah di distilasi bertingkat (resistivitas besar dari 18
M.cm). Semua tabung dan wadah dibersihkan menggunakan larutan KOH (1 kg) dalam
campuran isopropanol (18 L) dan air (1 L). semua persiapan sampel dilakukan dalam tabung
yang tertutup alumunium foil untuk meminimalisir pencahayaan. Larutan AgNO 3 (1 mmol)
dalam 20 ml etanol ditambahkan untuk menstabilkan konsentrasi ditiol, juga 20 ml etanol.
Setelah campuran diaduk selama 1 jam, hasil endapan disaring dan dicuci dengan etanol dan
aseton kemudian sampel dikeringkan selama 3 jam dengan alat vacuum.
Karakterisasi. Penyinaran XRD diperoleh dari difraktometer Rigaku Dmax-3C pada
kisaran 2 mulai dari suhu 5 sampai 50. Analisis TGA dan DSC dilakukan menggunakan
analisa Rigaku TAS-100. Analisis dilakukan pada atmosfer nitrogen antara suhu 25 dan 500 C,
suhu dinaikkan 5C tiap menitnya. Analisis dasar menggunakan alat analisis GmbH Vario EL
oleh Korea Basic Science Insitute. Spektrum infrared diukur menggunakan spectrometer FTIR
Bruker IFS 113v dengan sumber cahaya globar dan cairan N 2 dingin. Sampel dilemahkan dengan
KBr dan diubah menjadi ukuran 4 mm diameter tanpa dikompres, tapi hanya ditekan sedikit.
Ruang pereaksi terbuat dari besi stainless dan berada di dalam ruang pencerminan. Kristal CaF 2
digunakan sebagai jendela transparan infrared. Suhu sampel diatur menggunakan pengkontrol
suhu buatan, dan ruangannya disemprotkan dengan nitrogen kering secara terus menerus selama
pengukuran spectrum DRIFT. Dari 32 jumlah pengukuran pada taraf 3500-100 cm1pada resolusi
4 cm1 yang sebelumnya menggunakan pengukuran KBr murni sebagai blanko. Suhu dari sampel
naik 10 K/menit.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


Data hasil spektrum XRD untuk AgNDT. Hanya beberapa puncak yang teridentifikasi
pada spectrum XRD untuk perak 1,5 pentanaditiolat. Hal ini dikarenakan AgNDT mempunyai
struktur berlapis yang berkualitas rendah tiap lapisannya. Analisis menunjukkan perbandingan
dari sulfur dan perak yaitu 1,24 : 1,00. Hasil perbandingan yang demikian disebabkan karena
variasi perbandingan molar pada komponen pertama yang disintesis, karena perak kurang reaktif
terhadap sulfur. Jadi, ikatan Ag-S akan lebih sukar terjadi dibanding AgSR.
AgSR diketahui mempunyai komposisi materi yang detail karena proses terbentuknya
melalui 2 tahapan mekanisme kristalisasi, ikatan koordinasi antara Ag dan S yang terjadi sangat
kuat karena terbentuk secara natural dan adanya gaya Van Der Waals.
Pada AgNDT, ditiol memiliki 2 grup SH yang dapat berkoordinasi dengan ion Ag +.
Dalam hal ini, peneliti menduga bahwa pada proses pembentukan AgNDT, bidang-bidang kecil
yang terdapat pada AgNDT terbentuk pada tahap awal pembentukan Kristal AgNDT. Bidangbidang ini saling melekat dalam 3 dimensi sesuai yang tergambar pada skema 1. Proses inilah
yang menyebabkan kekurangan Ag dan buruknya kualitas struktur AgNDT.

Fakta bahwa band sempit single (lebar penuh pada setengah maksimum) diamati pada
pada 1467 cm1 menunjukkan bahwa AgNDT ada dalam subcell kemasan heksagonal seperti
pada perak monothiolat. Band muncul di wilayah 720-930 cm 1 karena band CH2 (Px) dan pada
posisi puncak, berdasarkan data,juga dengan subcell kemasan heksagonal. Band di wilayah 1150
1330 cm1 pada gambar 2 dapat dikaitkan dengan getaran vibrasi (Wx) dari kelompok CH2. Hal
ini menunjukkan bahwa rantai alkil menganggap konfirmasi semua trans sebagai posisi puncak
modes d

dan d , bahwa interband pada pemisahan mode Wx di AgNDT sedikit lebih teratur

daripada di perak monothiolat. Bahkan keberadaan dari puncak lemah di 1451 cm 1, gerakan
scissosing kelompok metilen sebelah obligasi. Juga mengamati W x dari ketegaran (GTG) dan
double gauche (GG) cacat, meskipun lemah di 1366 cm 1 dan 1349 di cm1. Selain itu, puncak
sangat lemah 747cm1 harus timbul dar C-S peregangan getaran cacat gauche yaitu, n (CS) G.
Intensitasnya jauh lebih lemah dari yang pengamatan untuk perak 1,5-pentanadithiolate.

Dalam rangka mendapatkan informasi mengenai stabilitas dan kemungkin fase transisi di
AgNDT, diukur spektrum DRIFT sebagai fungsi temperatur. gambar 3 menunjukkan serangkain
spektrum DRIFT diperoleh di suhu wilayah 298-600 K. Semua spektrum diukur pada suhu yang
ditunjukkan, dengan suhu konstan pada pada kurang lebih 1 K selama 5 menit sementara

spektrum sedang tercatat, suhu dibesarkan pada 10 K. Perubahan frekuensi dan intensitas di
seluruh variasi suhu memberikan informasi yang signifikan tentang sifat struktural dari materi.
Dapat disimpulkan beberapa struktur mengalami perubahan pada suhu ~530 K.

Untuk kasus AgSr. Dua atau lebih fase berubah ketika temperature dinaikkan. Pada
spectrum DRIFT, fase transisi jelas tidak terlihat untuk kasus AgNDT. Vibrasi spektroskopi jauh
lebih sensitive dibandingkan kalorimetri untuk menganalisis perubahan struktur AgNDT
menggunakan variasi suhu. Peneliti juga menyimpulkan dari spectrum DRIFT yang didapat
setelah perlakuan siklus termal bahwa AgNDT tidak menunjukkan

sifat Kristal cair saat

mencair.
D. KESIMPULAN
Struktur dan sifat termal dari perak 1,9 nonanaditiolat (AgNDT) menggunakan
spektroskopi DRIFT (Diffuse Reflectance Infrared Fourier Transform), sinar-X (XRD),
analisistermogravimetri (TGA), DSC (Differential Scanning Calorimetry), dan analisis dasar.
Menurut data XRD, AgNDT memiliki struktur berlapis dengan kualitas yang rendah. Kualitas
rendah ini dikarenakan kandungan kadar Ag sebanyak 20% dan berikatan pada atom sulfur. Data
spektroskopi DRIFT mengindikasikan bahwa rantai karbon mengikat ikatan trans disekitarnya.
Spektroskopi DRIFT menyarankan bahwa AgNDT harus bersuhu >530 K tanpa ada fase

termodinamik, hasil ini juga ditunjukan pada analisis TGA dan DSC. AgNDT tidak
menampakkan sifat Kristal cair saat dipanaskan karena adanya dua ikatan Ag-S pada AgNDT,
walaupun setiap atom Ag berikatan trigonal dengan sulfur, seperti pada perak monotiolat
(AgSR).