Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PAPER MATA KULIAH SISTEM PROTEKSI

MENENTUKAN JARAK PEMASANGAN ARRESTER


SEBAGAI PENGAMAN TRAFO TERHADAP SAMBARAN
PETIR
Yang dibimbing oleh Slamet Hani, ST., MT.

Disusun oleh:
Nama

: Daniel Septian Tambunan

Nim

: 141041029

Falkultas

: Teknologi Industri

Jurusan

: Teknik Elektro

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND


YOGYAKARTA
2016/2017

PEMASANGAN ARRESTER
A. PENGERTIAN ARRESTER (LIGHTNING ARRESTER)
Arrester atau biasa juga disebut Lightning Arrester adalah suatu alat
pelindung bagi peralatan sistem tenaga listrik terhadap surja petir (surge)
dengan cara membatasi surja tegangan lebih yang datang dan mengalirkannya
ke tanah. Dipasang pada atau dekat peralatan yang dihubungkan dari fasa
konduktor ke tanah.Sesuai dengan fungsinya itu maka arrester harus dapat
menahan tegangan sistem pada frekuensi 50 Hz untuk waktu yang terbatas dan
harus dapat melewatkan surja arus ke tanah tanpa mengalami kerusakan pada
arrester itu sendiri. Arrester berlaku sebagai jalan pintas di sekitar isolasi.
Arrester membentuk jalan yang mudah untuk dilalui oleh arus kilat atau petir,
sehingga tidak timbul tegangan lebih yang nilainya tinggi pada peralatan.

Gambar 1. Pemasangan Arrrester Pada Trafo Distribusi


Selain melindungi peralatan dari tegangan lebih yang diakibatkan oleh
tegangan lebih eksternal, arrester juga melindungi peralatan dari tegangan
lebih yang diakibatkan oleh tegangan lebih internal seperti surja hubung.Surja
hubung merupakan suatu gangguan tegangan lebih yang muncul secara
internal yang disebabkan oleh lepas beban (karena gangguan alam) dan
fluktuasi beban. Selain itu arrester juga merupakan kunci dalam koordinasi
isolasi suatu sistem tenaga listrik. Bila surja hubung datang ke gardu induk

maka arrester akan bekerja melepaskan muatan listrik serta mengurangi


tegangan abnormal yang mengenai peralatan dalam gardu induk.
Lightning arrester bekerja pada tegangan tertentu di atas tegangan operasi
untuk membuang muatan listrik dari surja petir dan berhenti beroperasi pada
tegangan tertentu di atas tegangan operasi agar tidak terjadi arus pada
tegangan operasi, dan perbandingan dua tegangan ini disebut rasio proteksi
arrester. Tingkat isolasi bahan arrester harus berada di bawah tingkat isolasi
bahan transformator agar apabila sampai terjadi flashover, maka flashover
diharapkanterjadi pada arrester dan tidak pada transformator.

B. PRINSIP KERJA ARRESTER


Pada

umumnya

prinsip

kerja

arrester

cukup

sederhana

yaitu

membentuk jalan yang mudah dilalui oleh petir, sehingga tidak timbul tegang
an yang lebih tinggi pada peralatan listrik lainnya. Pada kondisi kerja yang
normal, arrester berlaku sebagai isolasi tetapi bila timbul surja akibat adanya
petir maka arrester akan berlaku sebagai konduktor yang berfungsi
melewatkan aliran arus yang tinggi ke tanah. Setelah tegangan surja itu hilang
maka arrester harus dengan cepat kembali berlaku sebagai isolator, sehingga
pemutus tenaga (PMT) tidak sempat membuka. Pada kondisi yang normal
(tidak terkena petir), arus bocor arrester tidak boleh melebihi 2 mA. Apabila
melebihi angka tersebut, berarti kemungkinan besar lightning arrester
mengalami kerusakan.

C. SYARAT PEMASANGAN LIGHTENING ARRESTER


Sebelum melakukan instalasi lightening arrester, ada beberapa persyaratan
yang harus dipenuhi, diantaranya adalah:
a. Tegangan percikan (sparkover voltage) dan tegangan pelepasannya
(discharge voltage), yaitu tegangan pada terminalnya pada waktu
pelepasan, harus cukup rendah, sehingga dapat mengamankan isolasi
peralatan. Tegangan percikan disebut juga tegangan gagal sela (gap
breakdown voltage) sedangkan tegangan pelepasan disebut juga tegangan
sisa (residual voltage) atau jatuh tegangan (voltage drop) Jatuh tegangan
pada arrester.

b. Arrester harus mampu memutuskan arus dinamik dan dapat bekerja terus
seperti semula. Batas dari tegangan system dimana arus susulan ini masih
mungkin, disebut tegangan dasar (rated voltage) dari arrester.
c. Arrester harus mampu memutuskan arus susulan, dan dapat bekerja
kembali seperti semula.
d. Arrester harus memiliki

harga

tahanan pentanahan di bawah 95

ohm.

(a)

(b)

Gambar 2. a) pemasangan lightning Arrester yang salah. b) pemasangan lightning


Arrester yang benar.

D. JENIS ARRESTER

1.

JENIS EKSPULSI
Arrester jenis ekspulsi/tabung pelindung pada prinsipnya terdiri
dari sela percik yang berada dalam tabung serat dan sela percik batang
yang berada di luar di udara atau disebut dengan sela seri. Arrester ini
digunakan untuk melindungi trafo distribusi bertegangan 3-15 kV, tetapi
belum memadai untuk melindungi trafo daya. Selain itu digunakan juga
pada saluran transmisi untuk mengurangi besar tegangan surja petir yang
masuk ke gardu induk.

Gambar 1. Arrester ekspulsi

2.

JENIS KATUP
Arrester ini terdiri dari beberapa sela percik yang dihubungkan seri
(series gap) dengan resistor tak linier. Resistor ini memiliki sifat khusus
yaitu tahanannya rendah saat dialiri arus besar dan sebaliknya tahanan
yang besar saat dialiri arus kecil. Resistor yang umum digunakan untuk
arrester terbuat dari bahan silicon karbid. Arrester jenis ini umumnya
dipakai untuk melindungi alat-alat yang mahal pada rangkaian, biasanya
dipakai untuk melindungi trafo daya. Arrester katup ini dibagi menjadi
empat jenis, yaitu sebagai berikut.
1. Arrester Katup Jenis Gardu
Pemakaiannya secara umum pada gardu induk besar untuk
melindungi alat-alat yang mahal pada rangkaian mulai dari 2,4-287 kV.

Gambar 2. Arrester katup

2.

Arrester Katup Jenis Saluran


Arrester jenis saluran lebih murah dari arrester gardu. Arrester jenis
saluran ini dipakai pada sistem tegangan 15-69 kV.

Gambar 3. Arrester katup jenis saluran

3. Arrester Katup Jenis Distribusi


Seperti namanya arrester ini digunakan untuk melindungi
transformator pada saluran distribusi. Arrester jenis ini dipakai pada
peralatan dengan tegangan 120-750 volt.

Gambar 4. Arrester katup jenis distribusi

4. Arrester Katup Jenis Gardu untuk Mesin


Arrester jenis gardu ini khusus untuk melindungi mesin-mesin
berputar. Pemakaiannya untuk tegangan 2,4-15 kV.

3.

Jenis Seng oksida


Arrester seng oksida yang disebut juga metal oxide arrester
(MOA) merupakan arrester yang tidak memiliki sela seri, terdiri dari satu
atau lebih unit yang kedap udara, yang masingmasing berisikan blok-blok
tahanan katup sebagai elemen aktif dari arrester.
Pada dasarnya prinsip kerja arrester ini sama dengan arrester katup.
Karena arrester ini tidak memiliki tahanan sela seri, maka arrester ini
sangat bergantung pada tahanan yang ada dalam arrester itu sendiri.
Apabila terkena petir, tahanan arrester akan langsung turun sehingga
menjadi konduktor dan mengalir petir ke bumi. Namun setelah petir lewat,
tahanan kembali naik sehingga bersifat isolator.

Gambar 3 Arrester seng oksida

E. LOKASI PENEMPATAN ARRESTER


Arrester ditempatkan sedekat mungkin dengan peralatan yang dilindungi.
Tetapi untuk memperoleh kawasan perlindungan yang lebih baik, maka ada
kalanya arrester ditempatkan dengan jarak tertentu dengan perlatan yang
dilindungi. Jarak arrester dengan peralatan yang dilindungi berpengaruh
terhadap besarnya tegangan yang tiba di peralatan. Jika jarak arrester terlalu
jauh, maka tegangan yang tiba pada peralatan dapat melebihi tegangan yang
dapat dipikulnya. Peralatan masih dapat dilindungi dengan baik apabila jarak
arrester dengan peralatan masih dalam batas yang diijinkan.
1. Jarak Maksimum Arrester Dan Transformator yang Dihubungkan
dengan Saluran Udara
Perlindungan yang baik diperoleh jika arrester ditempatkan sedekat
mungkin dengan transformator. Tetapi, dalam kenyataannya, arrester harus
ditempatkan dengan jarak tertentu, agar perlindungan dapat berlangsung
dengan baik.
Kawat Kabel
S

Arrester

Ea
Trafo

Gambar 4 Jarak tansformator dan arrester sebesar S


Jika arrester dihubungkan dengan menggunakan saluran udara
terhadap alat yang dilindungi, maka untuk menentukan jarak yang baik
antara arrester dengan trafo, dinyatakan dengan persamaan.

Ep=Ea+2 A S /v
Dengan:

Ep = Tingkat Isolasi Dasar trafo (kV)


Ea = tegangan pelepasan arrester (kV)
A = kecuraman gelombang (kV/s)
S = jarak antara arrester dengan transformator (m)
v = kecepatan merambat gelombang (m/s)

2. Pengaruh TID terhadap jarak maksimum


Untuk meningkatkan keandalan sistem dari gangguan sambaran
petir, peralatan yang dipasang di gardu indukharus memiliki tingkat isolasi
yang baik (disesuaikan dengan arrester ).Dari hasil perhitungan jarak
maksimum arrester, diketahui bahwa pemasangan peralatan dengan nilai
TID ( BIL ) yang semakin besar akan diperoleh nilai jarak maksimum
penempatan arrester didepan peralatan semakin besar.Hal ini dikarenakan
nilai TID yang semakin besar dari peralatan yang dilindungi,maka
semakin besar kemampuan peralatan untuk mengatasi kegagalan
isolasiterhadap tegangan lebih maksimum yang sampai ke terminal
peralatan. Artinyatingkat isolasinya makin baik.
3. Perhitungan Jarak Maksimum Arrester Dengan Peralatan Yang
Dilindungi
Secara umum arrester melindungi peralatan-peralatan pada gardu
induk Srondol terhadap sambaran-sambaran petir. Arrester ini memiliki
jarak maksimum untuk melindungi peralatan. Letak dari arrester tersebut
tidak boleh lebih dari perhitungan jarak yang ada, dengan kata lain arrester
memiliki cakupan daerah yang terbatas.
Jadi dengan menggunakan persamaan 1 jarak cakupan arrester
yang terdapat pada gardu induk Srondol dapat dihitung.
Ep=Ea+2 A S /v
Dengan nila-nilai:
Ep = 650 kV

Ea = 460 kV
A = 1000 kV/s
v

= 300 m/s

maka:
650=460+2

1000 S
300

S=28,5 meter

Didapatkan jarak menurut perhitungan antara arrester dengan


peralatan adalah 28,5 meter, sedangkan dalam kenyataan di lapangan jarak
antara arrester dengan peralatan sejauh 25 meter untuk arrester yang
terpasang pada ujung saluran, dan 2 meter yang terpasang sebelum trafo
(apabila dilihat dari ujung saluran), sehingga pemasanganya masih di
bawah harga maksimum. Untuk jarak perlindungan ini dapat dikatakan
aman bagi peralatan. Untuk mendapatkan perlindungan yang optimal,
maka jarak antara arrester dan peralatan (S) harus sekecil mungkin agar Ep
yang didapatkan tidak melebihi kekuatan isolasi alat (BIL).

F. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa dan evaluasi Kerja Praktek secara langsung pada
PT. PLN (Persero) P3B JB Region Jawa Tengah dan DIY UPT Semarang,
maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut.
1. Arrester yang digunakan untuk melindungi peralatan di Gardu Induk
150 kV Srondol (UPT Semarang) yaitu arrester jenis/tipe seng oksida
dengan keunggulan memiliki reaksi yang cepat dalam membumikan petir.
2. Dari perhitungan analisis didapatkan jarak maksimum arrester dengan
peralatan (transformator) yaitu 28,5 meter, sedangkan jarak di lapangan
yaitu 25 meter.
3. Menurut hasil analisis, jarak arrester dengan peralatan yang diterapkan
pada Gardu Induk 150 kV Srondol (UPT Semarang), mampu melindungi

paralatan dari gangguan surja karena masih di bawah harga jarak


maksimum.
4. Untuk mendapatkan operasi yang optimal diperlukan pemeliharaan
yang

baik

dan berkala pada arrester sesuai prosedur dan (IKA),

mengingat fungsinya sebagai proteksi terhadap gangguan surja petir.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hutahuruk, TS, Gelombang Berjalan dan Proteksi Surja, Erlangga,


Jakarta, 1989,
2. Tobing, Bonggas L, Peralatan Tegangan Tinggi, PT Gramedia
Pustaka
Utama, Jakarta, 2003.
3. PT PLN, Buku Petunjuk Operasi & Memelihara Peralatan, PT PLN
Pembangkitan dan Penyaluran Jawa Bagian Barat, Jakarta, 1981.
4. PT PLN, Lightning Arrester, PT PLN Pembangkitan dan Penyaluran
Jawa Bagian Barat, Jakarta, 1981.
5. Zoro, Reynaldo, Masalah Tegangan Tinggi, Institut Teknologi Bandung,
Bandung, 1986.