Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PROSES PERIKANAN

"IKAN ASAP

NAMA

: LAODE ARUWI

NIM

: I1A614006

JURUSAN/PRODI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang tidak asing lagi bagi
masyarakat Indonesia, bahan makanan ini memiliki kelebihan yaitu mengandung
asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya
mencapai 90% dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah dicerna, selain
itu harganya jauh lebih murah dibandingkan sumber protein lainnya (Adawyah,
2007).
Menurut (Moeljanto, 1992), hasil perikanan merupakan komoditi yang
cepat mengalami kemunduran mutu, atau mengalami pembusukan, karena ikan
mempunyai kandungan protein (18-30 %) dan air yang cukup tinggi (70-80%)
sehingga merupakan media yang baik bagi perkembangan bakteri pembusuk.
Disisi lain di Indonesia letak pusat-pusat produksi Ikan, sarana distribusi dan pola
penyebaran konsumen serta pabrik-pabrik penghasil olahan perikanan menuntut
agar ikan dapat bertahan hingga 3 hari (Murniyati dan Sunarman 2000).
Salah satu jenis pengolahan yang dapat digunakan untuk menghambat
kegiatan zat-zat mikroorganisme adalah pengasapan ikan, selain bertujuan
memberikan manfaat untuk mengawetkan ikan pengolahan ikan dengan cara
pengsapan juga memberi aroma yang sedap, warna kecoklatan atau kehitaman,
tekstur yang bagus serta cita rasa yang khas dan lezat pada daging ikan yang
diolah (Wibowo, 1996). Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen
untuk mengkonsumsi olahan tersebut, sehingga pengolahan ikan asap bisa
menjadi usaha yang mempunyai prospek yang bagus dan menguntungkan untuk
ditekuni.
Pengasapan merupakan cara pengolahan atau pengawetan dengan
memanfaatkan kombinasi perlakuan pengeringan dan pemberian senyawa kimia
alami dari hasil pembakaran bahan bakar alami. Melalui pembakaran akan
terbentuk senyawa asap dalam bentuk uap dan butiran-butiran tar serta dihasilkan
panas. Senyawa asap tersebut menempel pada ikan dan terlarut dalam lapisan air

yang ada di permukaan tubuh ikan, sehingga terbentuk aroma dan rasa yang khas
pada produk dan warnanya menjadi keemasan atau kecoklatan (Wibowo, 1996).
Menurut Afrianto, dan Liviawati (1991) dalam proses pengasapan ikan,
unsur yang paling berperan adalah asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu.
Berdasarkan penelitian laboratorium, asap mempunyai kandungan kimia sebagai
berikut : air, asam asetat, alkohol, aldehid, keton, asam formiat, phenol, karbon
dioksida.
Ternyata yang dapat meningkatkan daya awet ikan dalam proses
pengasapan bukan asap, melainkan unsurunsur kimia yang terkandung dalam
asap. Unsur kimia itu dapat berperan sebagai :
v Desinfektan yang menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme
penyebab pembusukan ikan yang terdapat dalam tubuh ikan.
v Pemberi warna pada tubuh ikan, sehingga ikan yang telah diawetkan dengan
proses pengasapan berwarna kuning keemasan dan dapat membangkitkan selera
konsumen. Menurut Oki dan Heru (2007) kulit ikan yang sudah diasapi biasanya
akan menjadi mengkilap. Hal ini disebabkan karena terjadinya reaksi-reaksi kimia
di antara zat-zat yang terdapat dalam asap, yaitu antara formaldehid dengan
phenol yang menghasilkan lapisan damar tiruan pada permukaan ikan sehingga
menjadi mengkilap. Untuk berlangsungnya reaksi ini diperlukan suasan asam dan
asam ini telah tersedia di dalam asap itu sendiri.
v Bahan pengawet, karena unsur kimia yang terkandung dalam asap mampu
memberikan kekuatan pada tubuh ikan untuk melawan aktivitas bakteri penyebab
ketengikan.

B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari dilakukannya pembuatan abon ikan bandeng yaitu untuk


mengetahui proses pembuatan ikan asap dengan cara yang baik dan benar.
Manfaat dari praktikum ini, yaitu agar dapat mengetahui proses pembuatan
ikan asap.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Subsektor perikanan dan peternakan merupakan andalan utama sumber


pangan dan gizi bagi masyarakat indonesia. Ikan, selain merupakan sumber
protein, juga diakui sebagai "functional food" yang mempunyai arti penting bagi
kesehatan karena mengandung asam lemak tidak jenuh berantai panjang (terutama
yang tergolong asam lemak omega-3), vitamin,serta makro dan mikro mineral.
Dibandingkan negara lain, sumbangan perikanan dalam penyediaan protein di
indonesia termasuk besar, yakni 55% . Namun demikian, jumlah ikan yang
tersedia belum memenuhi kondisi ideal kecukupan gizi sebesar 26,55 kg
ikan/kapita/tahun. Dengan produksi ikan sebesar 4,80 juta ton, maka jumlah
ketersediaan ikan hanya 19,20 kg/kapita pada tahun 1998. Diperkirakan angka
konsumsi ikan secara aktual berada di bawah angka ketersediaan tersebut, karena
masih tingginya angka susut hasil ("loss") baik kuantitas, kualitas, maupun nilai
gizinya (Heruwati, 2002).
Ikan asap merupakan salah satu produk olahan yang digemari konsumen
baik di Indonesia maupun di mancanegara karena rasanya yang khas dan aroma
yang sedap spesifik. Proses pengasapan ikan di Indonesia pada mulanya masih
dilakukan secara tradisional menggunakan peralatan yang sederhana serta kurang
memperhatikan aspek sanitasi dan hygienis sehingga dapat memberikan dampak
bagi kesehatan dan lingkungan. Kelemahan-kelemahan yang ditimbulkan oleh
pengasapan tradisional antara lain kenampakan kurang menarik (hangus
sebagian), kontrol suhu sulit dilakukan dan mencemari udara (polusi) (Swastawati
, 2011).
Pengasapan dapat didefinisikan sebagai proses penetrasi senyawa volatil
pada ikan yang dihasilkan dari pembakaran kayu yang dapat menghasilkan produk
dengan rasa dan aroma spesifik umur simpan yang lama karena aktivitas anti
bakteri, menghambat aktivitas enzimatis pada ikan sehingga dapat mempengaruhi
kualitas ikan asap. Senyawa kimia dari asap kayu umumnya berupa fenol (yang
berperan sebagai antioksidan), asam organik, alkohol, karbonil, hidrokarbon dan
senyawa nitrogen seperti nitro oksida, aldehid, keton, ester, eter, yang menempel
pada permukaan dan selanjutnya menembus ke dalam daging ikan ( Isamu,2012).

1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengasapan Ikan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengasapan (Wibowo, 1996),
antara lain :
a.

Suhu Pengasapan
Pada awal pengasapan, ikan masih basah dan permukaan kulitnya

diselimuti lapisan air. Dalam keadaan ini asap akan mudah menempel pada
lapisan air permukaan ikan. Agar penempelan dan pelarutan asap dapat berjalan
efektif, suhu pengasapan awal sebaiknya rendah. Jika dilakukan pada suhu tinggi,
lapisan air pada permukaan tubuh ikan akan cepat menguap dan daging ikan akan
cepat matang. Kondisi ini akan menghambat proses penempelan asap sehingga
pembentukan warna dan aroma asap kurang baik. Setelah warna dan aroma
terbentuk dengan baik, suhu pengasapan dapat dinaikkan untuk membantu proses
pengeringan dan pematangan ikan.
b.

Kelembaban Udara
Kisaran kelembaban udara (Rh) yang ideal untuk pengasapan adalah 60%

- 70% dan suhunya sekitar 29C. Jika Rh yang lebih tinggi dan 79% proses
pengeringan selama pengasapan berjalan lambat karena panas dari hasil
pembakaran masih belum mampu mengurangi kelembaban. Sebaliknya jika Rh
kurang dari 60%, permukaan ikan akan terlalu cepat matang.
c.

Jenis Kayu
Jenis kayu menentukan mutu asap yang dihasilkan dan pada akhirnya

menentukan mutu ikan asap. Untuk pengasapan dingin sebaiknya menggunakan


serbuk gergaji dari jenis kayu keras sedangkan untuk pengasapan panas
menggunakan batang atau potongan kayu keras dari jenis separo kayu jati. Jenisjenis kayu yang mengandung resin atau damar seperti kayu pinus kurang baik
untuk pengasapan karena menghasilkan rasa pahit pada ikan, sehingga tidak enak
untuk dikonsumsi.
d.

Perlakuan sebelum pengasapan


Biasanya dengan penggaraman ikut menentukan mutu pengasapan. Faktor

lain yang berpengaruh adalah mutu ikan yang akan diasap, jumlah asap dan
ketebalan asap. Mutu ikan akan berpengaruh karena bila ikan yang diasap sudah

mengalami kemunduran mutu maka produk yang dihasilkan juga akan tidak
sesuai dengan harapan. Sedangkan jumlah asap dan ketebalan asap akan
berpengaruh pada cita rasa, bau dan warna. Semakin tebal asap semakin baik pula
produk yang akan dihasilkan.
2. Jenis-Jenis Pengasapan
Menurut Murniyati dan Sunarman (2000) Pengasapan dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu pengasapan panas (hot smoking) dan pengasapan dingin
(cold smoking), namun dewasa ini seiring dengan perkembangan jaman
pengasapan juga bisa dilakukan dengan pengasapan elektrik serta pengasapan cair
(liquid). Lebih jelas mengenai jenis - jenis pengasapan adalah sebagai berikut :
a.

Pengasapan Panas
Menurut Abu Faiz (2008) Pengasapan panas (hot smoking) adalah proses

pengasapan ikan dimana akan diasapi diletakkan cukup dekat dengan sumber
asap.Suhu sekitar 70100 oC, lamanya pengasapan 2 4 jam
Pengasapan panas dengan mengunakan suhu pengasapan yang cukup
tinggi, yaitu 80-90oC. Karena suhunya tinggi, waktu pengasapan pun lebih
pendek, yaitu 3-8 jam dan bahkan ada yang hanya 2 jam. Melalui suhu yang
tinggi, daging ikan menjadi masak dan perlu diolah terlebih dahulu sebelum
disantap.
Suhu pengasapan yang tinggi mengakibatkan enzim menjadi tidak aktif
sehingga dapat mencegah kebusukan. Proses pengawetan tersebut juga
dikarenakan karena asap. Jika suhu yang digunakan 30-50 oC maka disebut
pangasapan panas dengan suhu rendah dan jika suhu 50-90oC, maka disebut
pangasapan panas pada suhu tinggi (Adawyah, 2007).
b. Pengasapan Dingin
Menurut Abu Faiz (2008) Pengasapan dingin (cold smoking) adalah proses
pengasapan dengan cara meletakkan ikan yang akan diasap agak jauh dari sumber
asap (tempat pembakaran kayu), dengan suhu sekitar 40 50 oC dengan lama
proses pengasapan beberapa hari sampai dua minggu. Menambahkan pengertian
tersebut pengasapan dingin merupakan cara pengasapan pada suhu rendah, yaitu

tidak lebih tinggi dari suhu 33oC (sekitar 15-33oC). Waktu pengasapannya dapat
mencapai 4-6 minggu. Penggunaan suhu rendah dimaksudkan agar daging ikan
tidak menjadi masak atau protein didalamnya tidak terkoagulasi. Akibatnya ikan
asap yang dihasilkan masih tergolong setengah masak sehingga sebelum ikan asap
disantap masih perlu diolah kembali menjadi produk siap santap (Adawyah,
2007).
Dari tulisan di atas maka dapat disimpulkan perbedaan antara pengasapan
panas dan pengasapan dingin, adalah sebagai berikut :
Tabel 1 : Beberapa perbedaan pengasapan panas dan pengasapan dingin
Jenis pengasapan

Temperetur

Waktu

Pengasapan dingin 40-50C


1-2 minggu
Pengasapan panas
70-100C
Beberapa jam
Sumber : (Murniyati dan Sunarman, 2000)
c.

Daya awet
2-3 minggu sampai bulan
Beberapa hari

Pengasapan Elektri
Ikan asap dengan asap dari pembakaran gergaji (serbuk gergaji) yang

dilewatkan medan listrik dengan tegangan tinggi. Ikan pun mengalami tahap
pengeringan untuk mempersiapkan permukaan ikan menerima partikel asap,
kemudian tahap pengasapan, dan tahap pematangan. pada ruang pengasap
dipasang kayu melintang dibagian atas dan dililiti kabel listrik. Ikan digantung
dengan kawat pada kayu berkabel listrik tersebut (Adawyah, 2007).
d. Pengasapan cair
Menurut Susanti, M, Hatmodjo, dan Kurniawan (2009) proses pengasapan
secara langsung yang umum dilakukan oleh perajin ikan asap

memiliki

kelemahan, di antaranya produksi asap sulit dikendalikan dan pencemaran asap


dapat mengganggu kesehatan pekerja dan lingkungan. Untuk mengatasi masalah
tersebut, perlu diupayakan proses pengasapan yang aman dan bebas pencemaran,
tetapi tujuan proses pengasapan tetap tercapai. Salah satu alternatif ialah
pengasapan menggunakan asap cair, yaitu dispersi uap dalam cairan sebagai hasil
kondensasi asap dari pirolisis kayu. Menurut (Mubarokhah, 2008) asap cair atau

liquid smoke merupakan kondensat alami bersifat cair dari hasil pembakaran kayu
yang mengalami aging dan filtrasi untuk memisahkan senyawa tar dan bahanbahan yang tidak diinginkan lainnya.
Asap liquid pada dasarnya merupakan asam cukanya (vinegar) kayu yang
diperoleh dari destilasi kering terhadap kayu. pada destilasi tersebut, vinegar kayu
dipisahkan dari tar dan hasilnya diencerkan dengan air lalu ditambahkan garam
dapur secukupnya, kemudian ikan direndam dalam larutan asap tersebut selama
beberapa jam. Faktor penting yang perlu diperhatikan pada pengasapan liquid,
adalah konsentrasi, suhu larutan asap, serta waktu perendaman, setelah itu ikan
dikeringkan ditempat teduh ( Adawyah, 2007). Senyawaan hasil pirolisa itu dari
asap cair merupakan kelompok fenol, karbonit dan kelompok asam yang secara
simultan mempunyai sifat antioksidasi dan antimikroba. Kelompok-kelompok itu
mampu mencegah pem-bentukan spora dan pertumbuhan bakteri dan jamur serta
menghambat kehidupan bakteri dan jamur serta menghambat kehidupan virus.
Sifat-sifat itu dapat dimanfaatkan untuk pengawetan makanan (Waluyo, 2002).
Kelebihan penggunaan asap cair dalam pengasapan adalah:
Beberapa aroma dapat dihasilkan dalam produk yang seragam dengan
konsentrasi yang lebih tinggi
Lebih intensif dalam pemberian aroma
Kontrol hilangnya aroma lebih mudah
Dapat diaplikasikan pada berbagai jenis bahan pangan
Dapat digunakan oleh konsumen pada level komersial
Lebih hemat dalam pemakaian kayu sebagai sumber asap
Polusi lingkungan dapat diperkecil
Dapat diaplikasikan ke dalam berbagai kehidupan seperti penyemprotan,
pencelupan, atau dicampurkan langsung kedalam makanan
Menurut Pakan dalam Adawyah (2007), alat pembuat asap cair dapat
dibuat dari dua buah drum yang dihubungkan oleh pipa, berfungsi mengalirkan
asap dari drum tempat pembakaran kayu ke drum yang berfungsi untuk
mendinginkan asap sehingga dihasilkan asap cair. Drum yang berfungsi sebagai
pendingin diisi dengan air untuk membantu proses pendinginan asap.
3. Senyawa Kimia dalam Pengasapan

Menurut Murniyati dan Sunarman (2000), komponen-komponen asap yang


merupakan bahan pengawet adalah sebagai berikut:
a.
b.

Alcohol (metil alcohol dan etil alcohol)


Aldehid (formaldehid dan asetaldehid)

Asam-asam organic (asam semut dan asam cuka).


Menurut Komar (2001), Reaksi kimia secara alami, terjadi senyawa
formaldehid dengan phenol yang menghasilkan damar tiruan pada permukaan
ikan,

untuk

itu

diperlukan

suasana

asam sebagaimana tersedia dalam

komponen asap itu sendiri. Perubahan warna ikan asap menjadi kuning
kecoklatan, warna ini akibat reaksi kimia phenol dengan oksigen dari udara
hasil pembakaran secara langsung dalam bentuk bara dari pembakaran tak
semporna (in-complite). Oksidasi akan berjalan dengan laju lebih tinggi bila
pada lingkungan asam, hal ini juga sudah tersedia pada tubuh ikan itu sendiri.
Selain studi tentang toksisitas, keamanan dari asap cair tersebut tidak
terlepas dari komposisi senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Asap cair
yang berasal dari bahan baku berbeda dan metode pirolisis yang berbeda, akan
menghasilkan komponen kimia yang berbeda. Asap cair komersial yang banyak
digunakan dalam skala industri maupun laboratorium, telah diteliti komposisinya,
aktivitas antimikrobialnya, dan pengaruhnya terhadap sifat organoleptik produk
perikanan. Komposisi dari asap cair sangat kompleks dan terdiri dari komponen
yang berasal dari kelompok senyawa kimia yang berbeda, seperti aldehid, keton,
alkohol, asam, ester, turunan furan dan pyran, turunan fenolik, hidrokarbon, dan
nitrogen (Budijanto et al., 2008).

4. Karsinogenik Pada Pengasapan Ikan


Perbincangan terhadap asap sebagai agen penyebab kanker (karsinogen) dan
perubahan gen (mutagen) semakin marak. Asap, tidak hanya asap rokok, tetapi
juga asap paga daging ikan yang dipanggang, dibakar, atau diasap, dicurigai
sebagai agen kanker yang berbahaya. Ada tiga kelompok senyawa piliciclic

aromatic hydrocarbon (PAH), N-nitroso compound (NNC), dan heterocyclic


aromatic amine (HAA). Senyawa PAH biasanyaditemukan pada ikan asap, NNC
pada daging asap, dan HHA pada ikan dan daging bakar atau panggang.
5. SNI Pengasapan Ikan
Menurut Nastiti (2006), nilai organoleptik ikan asap menurut SNI No. 012725-1992 adalah > 7 dengan kriteria kenampakan menarik dan bersih, bau asap
cukup tanpa ada tambahan mengganggu, rasa enak, konsistensi padat, kompak
serta kering antar jaringan. Persyaratan mutu ikan asap menurut SNI No. 01-27251992 tercantum dalam Tabel :
Tabel 4. SNI Pengasapan
Jenis Uji
A. Organoleptik
Nilai minimum
Kapang

Satuan

Persyaratan Mutu

7
Tidak tampak
B.

C.

Cemaran Mikroba
ALT, maksimum
Escheriscia coli
Salmonella sp.*
Stapilococus aureus*

Cemaran Kimia
Air, maksimum
Garam, Maksimum
Abu, tidak larut dalam
Asam, maksimum

CFU / gram

5x105

APM / gram

<3

Per 25 gram

Negatif

Per 25 gram

Negatif

% b/b

60

% b/b

% b/b

1,5

III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


B. Alat dan Bahan

C. Prosedur Kerja

IV. PEMBAHASAN

A. Pembahasan
Ikan Bandeng merupakan salah satu jenis ikan budidaya air payau
sehingga dapat ditemukan hidup di laut maupun perairan tawar. Memiliki nama
ilmiah Chanos chanos dan terdapat dalam famili chanidae dan dikenal juga
dengan nama milikfish. Menurut Nico (2010), ikan Bandeng mampu beradaptasi
terhadap perubahan lingkungan seperti suhu, pH, dan kekeruhan air serta tahan
terhadap serangan penyakit.
Ikan bandeng (Chanos chanos) adalah ikan pangan populer di Asia
Tenggara. Ikan ini merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam suku
Chanidae (bersama enam genus tambahan dilaporkan pernah ada namun sudah
punah)[1]. Dalam bahasa Bugis dan Makassar dikenal sebagai ikan bolu, dan dalam
bahasa Inggris milkfish)
Mereka hidup di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan cenderung
berkawanan di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan terumbu koral. Ikan yang
muda dan baru menetas hidup di laut selama 23 minggu, lalu berpindah ke rawarawa bakau berair payau, dan kadangkala danau-danau berair asin. Bandeng baru
kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak.
Klasifikasi ikan bandeng :
Kingdom

: Animali

Pilum

: Chordata

Subpilum

: Vertebrata

Kelas

: Osteichthyes

Ordo

: Gonorynchiformes

Famili

: Chanidae

Genus

: Chanos

Spesies

: Chanos chanos

Morfologi ikan bandeng


Ikan bandeng memiliki bentuk tubuh yang memanjang, ramping, pipih dan
oval. Panjang ikan ini berkisar 5 -10 cm bahkan lebih, dan juga memiliki
ketinggian badan berkisar 2-4 cm. Sedangkan ukuran kepala pada ikan bandeng
ini sejajar atau berukuran seimbang dengan ukuran badanya yang memiliki bentuk
lonjong dan tidak memiliki sisik. Selain itu, ikan bandeng ini memiliki kepala
depan yang mendekati mulut dan sedikit meruncing.
Ikan bandeng memiliki warna keputihan, abu-abu dan silver. Ikan bandeng
memiliki sisik kecil yang berdiameter 0,01 -0,005 bahkan lebih. Sisik tersebut
memiliki warna yang sama dan juga tidak mengkilap. Sirip badan ikan bandengan
ini memiliki beberapa lapisan seperti lilin, memiliki bentuk segitiga dan terletak di
insang di bawah perut. Sedangkan sirip bagian punggung ikan bandeng ini
memiliki tulang yang tersusun 14 batang. Salah satunya sirip yang terletak di
bagian atas punggung memiliki fungis untuk mengontrol berenag ikan. Selain itu,
sirip di bagian perut ikan bandengn ini terdapat di dekat bagian anus, yang
memiliki fungi untuk mengatur keseimbangan berenang. Sedangkan sirip lainnya
pada ikan bandeng ini terletak di bagian belakang sangat besar, berwarna

kehitaman atau kecoklatan dan juga runcing di bagian ujung. Sirip ini berfungsi
untuk mengemudi kecepatan berang pada ikan bandeng.
Perlu di ketahui bahwa ikan bandengan adalah salah satu jenis ikan
eurihalin, yang dapat berkembangbiak di sungai air tawar, air payau, dan air laut.
Namun, untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan bandeng ini sangat relatif
cepat yaitu 1-2 kg per ekornya bahkan juga bisa lebih tergantung pemeliharan
ikan bandeng.

V. PENUTUP
Kesimpulan
Pengasapan adalah salah satu cara memasak, memberi aroma,
atau proses pengawetan makanan, terutama daging, ikan. Makanan
diasapi dengan panas dan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu,
dan tidak diletakkan dekat dengan api agar tidak terpanggang atau
terbakar.

DAFTAR PUSTAKA
Adawyah, Rabiatul. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Bumi
Aksara. Jakarta.
Bloom, P.N dan Boone, L.N. 2006. Strategi Pemasaran Produk. Prestasi
Pustaka. Jakarta.
Moeljanto. 1992. Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Budijanto, Slamet., Rokhani Hasbullah., Sulusi Prabawati., Setyadjit., Sukarno.,


Ita Zuraida. 2008. Identifikasi Dan Uji Keamanan

Asap Cair Tempurung Kelapa

Untuk Produk Pangan. Ipb. Bogor


Djatmika, D. H., Farlina, Sugiharti E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. Cv
Simplex. Jakarta.

Heruwati, endang sri. 2002. Pengolahan ikan secara tradisional: prospek dan
peluang pengembangan. Pusat riset pengolahan produk dan sosial
ekonomi kelautan dan perikanan, Jakarta.
Isamu Kobajashi T., Hari Purnomo Dan Sudarminto S. Yuwono. 2012.
Karakteristik Fisik, Kimia, Dan Organoleptik

Ikan

Cakalang

(Katsuwonus Pelamis) Asap Di Kendari. Jurnal

Teknologi Pertanian

Vol. 13 No. 2 [Agustus 2012] 105-110


Kusmajadi, S., Lilis S., Dan Balqis B. 2011. Keempukan Dan Akseptabilitas
Daging Ayam Pada Berbagai Temperatur Dan Lama Pengasapan. Jurnal
Ilmu Ternak. Volume 11 Nomor 1
Komar, Nur. 2001. Penerapan Pengasap Ikan Laut Bahan-

Bakar Tempurung

Kelapa (Applied Of Sea Fish Curing In Sawdust Fuel) . Jurnal Teknologi


Pertanian, Vol.

2, No. 1, April 2001 : 58-67

Murniyati, A. S Dan Sunarman. 2000. Pendinginan, Pembekuan Dan Pengawetan


Ikan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Swastawati, Fronthea. 2011. Studi Kelayakan Dan Efisiensi Usaha Pengasapan
Ikan Dengan Asap Cair Limbah Pertanian. Fakultas Perikanan Dan Ilmu
Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang
Yulstiani, Ratna. 2008. Monograf Asap Cair Sebagai Bahan Pengawet Alami Pada
Produk Daging Dan Ikan.Upn Veteran Jawa Timur.
Yusroni, Nanang. 2009. Analisis Profit Margin Untuk Meningkatkan Nilai
Tambah Pendapatan Antar

Pengrajin Pengasapan Ikan Manyung, Ikan

Tongkol Dan Ikan Pari Di Bandarharjo Semarang. Fakultas Ekonomi


Universitas Wahid Hasyim. Semarang