Anda di halaman 1dari 10

Reaksi Kondensasi Terkatalisis Basa: Sintesis Dilantin

Adrian Ferrariski Putra (1406601113), Adysta Nandya, Hayatul Husna


Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia
Kampus UI Depok, 16424, Depok, Jawa Barat, Indonesia
E-mail: adrian.ferrariski@ui.ac.id
Abstrak
Benzoin, -ketoalkohol mudah mengalami oksidasi membentuk diketon kuning, benzil, dan keduanya dapat
tereduksi menjadi spesi diolnya, hidrobenzoin. Kondensasi terkatalisis basa dibenzil dengan urea dapat
menghasilkan sebuah turunan heterosiklik yaitu dilantin yang dapat digunakan dalam pengobatan karena sifat
anticolvunsantnya. Sintesis Dilantin memiliki prinsip reaksi kondensasi reversible antara katalis basa dari
benzil dengan urea yang menghasilkan turunan heterosiklik Dilantin, dimana Dilantin merupakan obat dari
golongan hidantoin yang mempunyai sinonim Difenilhidantoin (DPH) atau berdasarkan nama IUPAC 5,5Difenilimidazolidin-2,4-dion. Proses ini melibatkan penataan ulang dari rangka (skeletal rearrangement)
dengan kedua gugus fenil sampai ujung atom karbon yang sama. Metode yang digunakan yaitu metode
ekstraksi mengikuti kaidah prinsip refluks, dimana prinsip refluks ialah pemanasan, kondensasi, dan sistem
tertutup. Hasil yang diperoleh dari percobaan kali ini, yaitu pada Dilantin, dimana Dilantin berbentuk padatan
berwarna putih. Berdasarkan data hasil praktikum, didapat massa Dilantin sebesar 2,21 gram dengan % Yield
dari perhitungannya sebesar 460,42% dan dan Kesalahan Relatifnya sebesar 360,42% yang membuktikan
bahwa pada hasil percobaan ini terdapat kesalahan positif.
Kata kunci: Sintesis Dilantin, Kondensasi, dan Refluks
1. PENDAHULUAN
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan dilantin dari bahan dasar benzil dan urea,
mengetahui mekanisme reaksi kondensasi dengan katalis basa, serta memahami reaksirearrangement yang
terjadi dalam sintesis dilantin.
Benzoin, -ketoalkohol, mudah mengalami oksidasi membentuk diketon kuning, benzil, dan keduanya
dapat tereduksi menjadi spesi diolnya, hidrobenzoin. Kondensasi terkatalisis basa dibenzil dengan urea dapat
menghasilkan sebuah turunan heterosiklik yaitu dilantin yang dapat digunakan dalam pengobatan karena
sifat anticolvunsantnya. Kondensasi terkatalisis basa dari benzil dengan dibenzil keton akan menghasilkan
keton siklik, tetrasiklon, senyawa ungu yang tidak biasa. Reduksi dari benzil dengan Natrium Borohidrida
akan menghasilkan campuran dari diastereomer, rasemik- dan meso-hidrobenzoin. Jumlah diastereomer
Meso akan mendominasi dan dapat diisolasi dengan cara kristalisasi dari air, di mana senyawanya harus
lebih sukar larut daripada diastereomer rasemat.

OH
O
O
O

HNO3
Ph

Ph

benzil
O

aB

benzoin

NH2
H 2N

OH

urea

OH
hydrobenzoin diastereomers

tetracyclone
HN
NH
O

dilantin

Reaksi Pembentukan Dilantin


Sumber: Tim KBI Kimia Organik.2016. Diktat Penuntun Praktikum Kimia Organik. Depok :
Departemen Kimia FMIPA UI.
Dalam percobaan ini, dilantin disintesis pertama-tama dengan dengan cara mencampurkan benzil, urea,
etanol, dan NaOH. Setelah semua reagen awal tercampur, dilakukan pemanasan dengan bantuan pendingin
tegak atau refluks selama 60 menit, kemudian didinginkan dan ditambahkan air suling serta HCl (p) secara
perlahan. Campuran kemudian didiamkan selama 15 menit dan setelah itu padatannya disaring
menggunakan corong buchner. Pada proses penyaringan, etanol digunakan sebagai larutan pencuci.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Benzil
Benzil (sistematis dikenal sebagai 1,2-diphenylethane-1,2-dion) adalah senyawa organik dengan
rumus (C6H5CO)2, umumnya disingkat (PhCO)2. Benzil merupakan salah satu diketones paling umum.
Penggunaan utamanya adalah sebagai fotoinisiator dalam kimia polimer. Benzil berupa padatan berwarna
kuning dengan titik leleh 950C dan titik didih 6560F. Senyawa ini memiliki berat molekul 210,23 gr/mol.
Senyawa ini larut dalam air panas dan air dingin. Benzil memiliki bahaya kronik dapat menyebabkan
kerusakan pada organ yang terlibat, dapat menyebabkan iritasi, dan berbahaya jika terhirup maupun
tertelan. Pertolongan pertama jika terpapar benzil adalah sebagai berikut: Jika terkena mata, cuci dengan
air dingin selama 15 menit. Air hangat juga harus digunakan. Jika terkena kulit, cuci dengan air selama
15 menit. apabila terhirup, keluar ke udara terbuka.

Gambar 1. Struktur Benzil


2.2 Urea
Urea adalah senyawa nitrogen yang mengandung gugus karbonil terikat pada dua kelompok
amina dengan aktivitas diuretik osmotik. Secara In vivo, urea terbentuk di hati melalui siklus urea dari
amonia dan merupakan produk akhir akhir metabolisme protein. Urea berbentuk kristal pelet putih yang
tidak berbau dengan densitas 1,335 g/cc. Urea cukup larut dalam air dan tidak mudah terbakar.

Gambar 2. Strukur Urea


2.3 Etanol absolut
Alkohol murni atau etanol absolut merupakan sejenis cairan yang mudah menguap, mudah
terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan seharihari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan
termometer modern. Etanol adalah salah satu obat rekreasi yang paling tua. Etanol termasuk ke dalam
alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Ia merupakan isomer
konstitusional dari dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan singkatan
dari gugus etil (C2H5).
2.4 Dilantin (Fenitoin)
Dilantin berupa padatan putih dengan titik leleh 2950C. Senyawa ini memiliki berat molekul
252,27 gram/mol dan tekanan uap 1,2 mmHg pada 200C. Dilantin dapat dengan mudah larut dalam air
yang biasanya menghasilkan larutan agak keruh karena terhidrolisis sebagian dan menyerap CO2, dilantin
dapat larut dalam etanol namun tidak larut dalam eter dan kloroform.

Gambar 3. Struktur Dilantin


Dilantin (Fenitoin) merupakan obat dari golongan hidantoin yang mempunyai sinonim
Difenilhidantoin (DPH) atau berdasarkan nama IUPAC 5,5-Difenilimidazolidin-2,4-dion. Fenitoin
merupakan obat antiepilepsi nonsedatif tertua, dikenal sejak tahun 1938 (Harknee, 1989; Yuen 1989).
2.5 Metode Ekstraksi Dan Kondensor Refluks
Metode ekstraksi itu sendiri merupakan metode pemisahan yang melibatkan proses pemindahan
satu atau lebih senyawa dari satu fasa ke fasa yang lain berdasarkan prinsip kelarutan dimana senyawa
tersebut larut dalam pelarut polar dan senyawa satunya larut dalam pelarut non polar.
Refluks adalah salah satu metode dalam ilmu kimia untuk mensintesis suatu senyawa, baik
organik maupun anorganik. Umumnya digunakan untuk mensistesis senyawa-senyawa yang mudah
menguap atau volatile. Pada kondisi ini jika dilakukan pemanasan biasa maka pelarut akan menguap
sebelum reaksi berjalan sampai selesai. Prinsip dari metode refluks adalah pelarut volatil yang digunakan
akan menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang
tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi
sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung. Sedangkan aliran gas N 2 diberikan agar tidak
ada uap air atau gas oksigen yang masuk terutama pada senyawa organologam untuk sintesis senyawa
anorganik karena sifatnya reaktif.
2.6 Reaksi Kondensasi Katalis Basa dan Rearrangement
Reaksi kondensasi aldol dapat dilangsungkan oleh senyawa aldehida yang mempunyai hidrogen .
Reaksi kondensasi aldol terjadi pada satu jenis aldehida dengan adanya asam atau basa encer. Senyawa
hasil reaksi kondensasi aldol adalah aldehida -hidroksi yang sering disebut dengan senyawa aldol.
Senyawa aldol adalah senyawa yang memiliki gugus fungsi aldehida dan alkohol sekaligus.
Reaksi rearrangement atau reaksi penataan ulang adalah reaksi dalam kimia organik yang
membentuk senyawa baru dengan rumus molekul sama tetapi strukturnya berbeda (Isomer). Ciri khas
dari reaksi penataan ulang ditandai oleh adanya suatu gugus yang berpindah dari suatu atom ke atom
yang lain dalam suatu molekul. Mekanisme reaksi yang terjadi pada kondensasi aldol adalah sebagai
berikut.

Penjelasan Mekanisme yang terjadi pada bagian pertama reaksi ini adalah sebuah reaksi aldol,
sedangkan bagian kedua reaksi ini adalah reaksi dehidrasi. Dehidrasi dapat diikuti oleh dekarboksilasi
ketika terdapat sebuah gugus karboksil yang aktif. Produk adisi aldol dapat didehidrasi via dua
mekanisme, yakni mekanisme enolat yang menggunakan basa kuat dan mekanisme enol yang
menggunakan katalis asam.
3. METODE PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain labu bulat yang berfungsi sebagai wadah
terjadinya reaksi, gelas ukur untuk mengukur volume reagen, pendingin tegak (refluks) serta penyaring
Buchner yang digunakan untuk menyaring sisa fasa cairan yang masih menempel di endapannya.
Sedangkan untuk bahan yang digunakan pada percobaan Dilantin ini, yaitu : 0,4 g sampel benzil, 0,2 g
urea, 6 mL etanol absolut, 1,2 mL larutan NaOH 30%, HCl Pekat dan 10 mL air suling.
3.2 Pembuatan Dilantin
Pertama-tama, ditempatkan 0,4 g sampel benzil ke dalam labu bulat 25 mL bersama dengan 0,2 g
urea, 6 mL etanol absolut dan 1,2 mL larutan NaOH 30%. Kemudian ditambahkan batu didih dan sebuah
kondensor reflux dipasangkan. Campuran lalu dipanaskan dengan bantuan reflux selama 35 45 menit.
Didiamkan selama 10 menit pada suhu ruang, setelah itu, bagian luar labu bulat dialiri air keran agar
dingin. Selanjutnya ditambahkan 10 mL aquadest dan HCl pekat sampai campuran dalam labu bulat
menjadi asam. Keasaman campuran harus diuji dengan menggunakan kertas lakmus. Setelah campuran
bersifat asam, lalu dilakukan penyaringan dengan penyaring Buchner dan endapan dicuci dengan etanol.
Endapan yang didapat kemudian dikeringkan dan ditimbang.
3.3 Data Pengamatan

Campuran 0,4 gr Benzil +


0,2 gr urea + 6 mL Etanol
Absolut + 1,2 mL lat
NaOH 30% di atas heater

Campuran setelah
ditambahkan 10 mL
Aquades dan HCl(p).
Aquades berfungsi untuk
mengubah laktim (enol)
menjadi laktam (keto).

Massa Dilantin + kertas


saring yang didapat
sebesar 3,15 gr, dengan
massa murni Dilantin
(tanpa kertas saring)
sebesar 2,21 gr

3.4 Perhitungan secara teoritis


M Benzil
= 0,4 gr
M Urea
= 0,2 gr
Mr Benzil
= 210 gr/mol
Mr Urea
= 60.07 gr/mol
Mr Dilantin
= 252 gr/mol
Pertama menentukan berat dilantin secara teoritis ;
Mol reaktan

Mol benzil

Mol Urea

-3

mol

-3

mol

Reaksi yang terjadi :

-3
-3
M:
mol
mol
-3
-3
-3
R:
mol
mol
mol
____________________________________________________________________________
-3
-3
S:
mol
mol

Sehingga didapatkan massa teoritis Dilantin =

-3

mol x 252 gr/mol = 0,4800 gram

3.5 Perhitungan secara percobaan


Dari percobaan didapatkan massanya :

Kertas saringnya 0,94 gr dan Endapannya 3,15 gr (Endapan + Kertas Saring)

Pada percobaan didapatkan massa Dilantin = (massa kertas saring + endapan) (massa kertas
saring) = (3,15 gr 0,94 gr) = 2,21 gr

3.6 Kesalahan Relatif dan Yield

% KR massa

=|
=|

| x 100%

| x 100%

= 360,42 %

% Yield massa =
=

x 100%
x 100%

= 460,42 %

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Ketika dipanaskan, benzil dan urea bersama dengan basa sebagai katalis kondensasi akan
menghasilkan dilantin. Proses ini melibatkan penataan ulang dari rangka (skeletal rearrangement) dengan
kedua gugus fenil sampai ujung atom karbon yang sama. Prinsip dari reaksi sintesis dilantin ini adalah reaksi
kondensasi antara katalis basa dari benzil dengan urea yang menghasilkan turunan heterosiklik dilantin.
Berikut Reaksi secara umumnya:

Gambar 4. Reaksi Sintesis Dilantin


Pada saat ion enolat ini bereaksi maka akan terbentuk lagi yang baru (bersifat reversible). Ion enolat
bereaksi dengan suatu molekul aldehida lain dengan cara mengadisi pada karbon karbonil untuk membentuk
suatu ion alkoksida, yang kemudian merebut sebuah proton dari air untuk menghasilkan aldol produk
tersebut. Syarat aldehida untuk dapat berkondensasi aldol adalah harus memiliki Ha terhadap gugus karbonil
sehingga aldehida dapat membentuk ion enolat dalam basa. Suatu senyawa karbonil b-hidroksi seperti
sebuah aldol mudah mengalami dehidrasi, karena ikatan rangkap dalam produk berkonjugasi dengan gugus
karbonilnya. Bila dehidrasi menghasilkan suatu ikatan rangkap yang berkonjugasi dengan suatu cincin
aromatik maka dehidrasi berlangsung spontan. Mekanisme reaksi yang terjadi, yaitu:

Gambar 5. Mekanisme reaksi sintesis Dilantin

Dalam percobaan ini, disintesis dilantin dengan cara mencampurkan 0,4 g sampel Benzil ke dalam
labu bulat 25 mL bersamaan dengan 0,2 g urea, 6 mL etanol absolut dan 1,2 mL larutan NaOH 30%. Benzil
O

C
C
berfungsi sebagai reagen utama yang memiliki gugus
sehingga dapat bereaksi dengan urea
membentuk suatu amida siklik (laktam). Urea berfungsi sebagai reagen utama yang mempunyai gugus
diamida dengan atom hidrogen- yang bersifat asam, sehingga hidrogen akan mudah lepas dan diserang
oleh suatu nukleofilik. NaOH berfungsi untuk memberi suasana basa dan sebagai Katalis Basa untuk
mempercepat reaksi, serta memiliki ion OH- untuk menyerang hidrogen pada urea, sehingga urea dan
benzil dapat berikatan. Etanol berfungsi sebagai pelarut benzil, urea, dan NaOH karena benzyl dan urea tidak
dapat bercampur menjadi satu fasa. Etanol bersifat semipolar karena memiliki gugus OH yang bersifat
polar dan gugus CH3 yang bersifat nonpolar.
Batu didih ditambahkan ke dalam campuran sebelum dipanaskan dengan metode refluks agar saat
pemanasan tak terjadi bumping. Setelah itu, campurannya direfluks sekitar 35 45 menit, dimana Prinsip
dari metode refluks adalah pelarut volatile yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan
didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada
kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi, sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung.
Pada saat refluks pemanasan dilakukan dengan heating mantle karena agar panas yang diberikan merata
pada labu bulat.
Setelah direfluks, diamkan campuran pada suhu ruang selama 10 menit, dan aliri dinding labu
bulatnya dengan air keran yang mengalir, tujuannya supaya campurannya lebih endotermis dan langsung
bisa dipindahkan ke beaker glass. Lalu, menambahkan 10 mL aquades. Aquades berfungsi untuk mengubah
laktim (enol) menjadi laktam (keto). Pada penambahan aquades, tidak terjadi endapan karena dilantin tidak
bisa mengendap pada suasana basa. Oleh karena itu, dilakukan penambahan HCl pekat untuk membuat
suasana asam sampai terjadi endapan. Menguji keasaman campuran dengan menggunakan kertas lakmus.
Setelah dilakukan penambahan HCl pekat, terdapat endapan kuning yang merupakan endapan dilantin. HCl
juga berfungsi untuk menurunkan kelarutan dilantin sehingga dilantin dapat mengendap. Setelah itu,
endapan disaring dengan penyaring Buchner dan dicuci dengan aquades. Pencucian dengan aquades ini
bertujuan untuk membersihkan endapan dari pengotor-pengotor polar. Didapatkan Endapan Dilantin murni
yang berupa padatan putih tanpa kertas saring sebesar 2,21 gram.
Dilantin (Fenitoin) merupakan obat dari golongan hidantoin yang mempunyai sinonim
Difenilhidantoin (DPH) atau berdasarkan nama IUPAC 5,5-Difenilimidazolidin-2,4-dion. Fenitoin
merupakan obat antiepilepsi nonsedatif tertua, dikenal sejak tahun 1938 (Harknee, 1989; Yuen 1989).
Dilantin berupa padatan putih dengan titik leleh 2950C. Senyawa ini memiliki berat molekul 252,27
gram/mol dan tekanan uap 1,2 mmHg pada 200C.
Dilantin dapat digunakan dalam pengobatan karena sifat antikonvulsantnya yang digunakan terutama
untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi (epileptic seizure). Golongan obat ini lebih tepat
dinamakan antiepilepsi, sebab obat ini jarang digunakan untuk gejala konvulsi lain. Bromida, obat pertama
yang digunakan untuk terapi epilepsi telah ditinggalkan karena ditemukannya berbagai antiepilepsi baru
yang lebih efektif. Fenobarbital diketahui mempunyai efek antikonvulsi spesifik, yang berarti efek
antikonvulsinya tidak berkaitan langsung dengan efek hipnotiknya. Di Indonesia fenobarbital ternyata masih
digunakan, walaupun di luar negeri obat ini mulai banyak ditinggalkan. Fenitoin (difenilhidantoin), sampai
saat ini masih tetap merupakan obat utama antiepilepsi.

4.5 Analisis Hasil


Hasil yang diperoleh dari percobaan kali ini, yaitu Dilantin, dimana Dilantin berbentuk padatan
berwarna putih. Kemudian, endapan dilantin yang diperoleh ditimbang berat massanya. Didapatkan massa
Dilantin murni tanpa kertas saring sebesar 2,21 gr, dengan titik leleh 2950C. Senyawa ini memiliki berat
molekul 252,27 gram/mol dan tekanan uap 1,2 mmHg pada 200C. Dilantin dapat digunakan dalam
pengobatan karena sifat antikonvulsantnya yang digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati
bangkitan epilepsi (epileptic seizure). Dengan % Yield massa dari perhitungannya sebesar 460,42 % yang
membuktikan bahwa pada hasil percobaan terdapat kesalahan positif.
4.7 Analisis Kesalahan
Pada percobaan kali ini, didapatkan % kesalahan relatif sintesis Dilantin dari massanya sebesar
360,42%. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, baik faktor dari praktikan maupun alat dan bahannya.
Kesalahan yang mungkin terjadi antara lain:
4.7.1 Faktor dari Praktikan
Kurangnya ketelitan dalam pengukuran berat senyawa yang telah disintesis.
Kurangnya ketepatan dalam mensintesis pencampuran senyawanya
Kurangnya ketelitian pada penyaringan dengan corong buchner.
Waktu merefluks campuran yang singkat dan panas dari heating mantle yang cukup kecil.
4.7.2 Faktor dari Alat dan Bahan
Tidak dilakukan pengecekan pH setelah ditambahkan air suling dan HCl (p) sehingga
kesempurnaan reaksinya tidak diketahui.
Peralatan yang kurang bersih.
Reagen yang sudah lama dan terkontaminasi.
5. KESIMPULAN
Dilantin digunakan sebagai obat anti kejang dan anti epilepsi dengan cara memerintahkan otak untuk
mengehentikan kejang. Dilantin dapat diperoleh dengan mereaksikan benzil dan urea dalam suasana basa
(NaOH) dan terbentuk dilantin dalam suasan asam (HCl). Reaksi yang terjadi adalah kondesasi aldol dengan
katalis basa dan reaksi rearrangement. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode refluks.
Massa dilantin yang diperoleh sebesar 2,21 gram dengan % KR 360,42% dan % yield sebesar 460,42%.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan saya kesehatan, sehingga saya
dapat melakukan percobaan kali ini mengenai Reaksi Kondensasi Terkatalisis Basa: Sintesis Dilantin dan
dapat menyelesaikan laporan. Terimakasih juga untuk rekan praktikum saya yang telah bekerjasama dalam
melaksanakan percobaan Sintesis Dilantin ini dan tentunya asisten laboratorium saya kak Nanda yang telah
membantu mendampingi saya melakukan percobaan Sintesis Dilantin ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aicardi, Jean. 2008. Epilepsy: a comprehensive textbook (2nd ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer
Health/Lippincott Williams & Wilkins. p. 1431. ISBN 9780781757775.
Fessenden, Ralph J dan Fessenden, Joan S.1986. Kimia Organik Jilid 1 Edisi Ketiga (A. H. Pudjaatmaka,
Penerjemah). Jakarta: Erlangga.
Nasution, Arfin. Catatan Penting Penuntun Praktikum Sintesis Kimia Organik. Depok : Departemen Kimia
FMIPA UI. 2013. handwrite.
N. N. Greenwood, A. Earnshaw, 1997, Chemistry of the Elements, 2nd ed., Butterworth-Heinemann, Oxford,
UK.
Tim KBI Kimia Organik.2016. Diktat Penuntun Praktikum Kimia Organik.Depok: Departemen Kimia FMIPA
UI.

LAMPIRAN
Material Safety Data Sheet (MSDS)
1.

Benzil

a.

Keadaan Fisik

: Padatan

b.

Mr

: 210.23 g/mol

c.

Titik didih

:-

d.

Titik leleh

: 95C (203F)

e.

Kelarutan

: Tidak larut dalam air dingin dan

air panas
f.

Stabilitas

: Stabil

g.

Efek kronis pada manusia : Berbahaya jika tersentuh kulit (iritasi), kontak mata (iritasi), iritasi
pernapasan. Benzyl beracun untuk kulit, sistem saraf pusat. Sentuhan berulang atau berkepanjangan
dengan benzyl bisa menghasilkan kehancuran target-target organ.

2.

Urea

a.

Keadaan Fisik

: Padatan

b.

Mr

: 60,06 g/mol

c.

Titik didih

:-

d.

Titik leleh

: 132.7C (270.9F)

e.

Kelarutan

: Mudah larut dalam air dingin dan

air panas
f.

Stabilitas

: Stabil

g.

Efek kronis pada manusia : Berbahaya jika tersentuh kulit (iritasi), kontak mata (iritasi), iritasi
pernapasan.

NaOH 30%

a.

Keadaan Fisik

: Cairan

b.

Mr

:-

c.

Titik didih

: 100C (212F)

d.

Titik leleh

:-

e.

Kelarutan

: Mudah larut dalam air dingin

f.

Stabilitas

: Stabil

g.

Efek kronis pada manusia : Sangat berbahaya jika tercerna. Berbahaya jika kontak kulit (iritasi), kontak
mata (iritasi), sangat berbahaya jika terhirup.

Etanol Absolut

a.

Keadaan Fisik

: Cairan

b.

Mr

:-

c.

Titik didih

: 78.5C (173.3F)

d.

Titik leleh

: -114.1C (-173.4F)

e.

Kelarutan

: Mudah larut dalam air dingin, air panas, metanol, dietil eter, aseton.

f.

Stabilitas

: Stabil

g.

Efek kronis pada manusia : Sangat berbahaya jika tercerna. Berbahaya jika kontak kulit (iritasi), kontak
mata (iritasi), sangat berbahaya jika terhirup.

3.

HCl pekat

a.

Keadaan Fisik

: Cairan

b.

Mr

: 36,5 g/moll

c.

Titik didih

: 108.58C @ 760 mm Hg (untuk

20.22% HCl dalam air) 83C @ 760 mm Hg (untuk 31%


HCl dalam air) 50.5C (untuk 37% HCl dalam air)
d.

Titik leleh

: -62.25C (-80F) (20.69% HCl dalam air) -46.2C (31.24% HCl dalam air) -

25.4C (39.17% HCl dalam air)


e.

Kelarutan

: Larut dalam air dan dietil eter

f.

Stabilitas

: Stabil

g.

Efek kronis pada manusia : Sangat berbahaya jika tersentuh kulit (korosif, iritasi), kontak mata (iritasi,
korosif). Berbahaya untuk saluran pencernaan, pernapasan. Sedikit berbahaya untuk kontak kulit
(korosif). Inflamasi mata ditandai dengan kemerahan, berair, dan gatal. Inflamasi kulit ditandai dengan
gatal, bersisik, kemerahan, atau, kadang-kadang, melepuh.

h.

Pertolongan pertama

: Jika terkena mata, cuci dengan air dingin selama 15 menit. Air hangat juga

harus digunakan. Jika terkena kulit, cuci


dengan air selama 15 menit. Apabila terhirup, keluar ke udara terbuka.

4.

Dilantin (Fenitoin)

a.

Keadaan Fisik

: Padatan

b.

Mr

: 252.27 g/mol

c.

Titik didih

:-

d.

Titik leleh

: 295C (563F)

e.

Kelarutan

: Tidak larut dalam air dingin

f.

Stabilitas

: Stabil

g.

Efek kronis pada manusia : Sangat berbahaya jika tercerna. Berbahaya jika kontak dengan mata (iritasi)
pernapasan. Sedikit berbahaya jika kontak dengan kulit (iritasi). Interaksi yang berlebihan dapat
menyebabkan kematian.

h.

Pertolongan pertama

: Jika terkena mata, cuci dengan air dingin selama 15 menit. Air hangat juga

harus digunakan. Jika terkena kulit, cuci dengan air selama 15 menit. Apabila terhirup, keluar ke udara
terbuka.