Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Lemak merupakan zat yang penting bagi tubuh manusia selain karbohidrat, air,
protein dan vitamin. Lemak mempunyai banyak kegunaan untuk kehidupan manusia
antara lain untuk minyak goreng, mentega, sabun, detergen, biodisesel, kosmetik dan lainlain. Banyaknya kegunaan lemak dalam kehidupan manusia membuat perlunya suatu cara
untuk dapat menganalisa lemak dalam suatu sampel atas bahan.
Analisa untuk mengetahui kandungan minyak atau lemak dalam suatu bahan itu
sangat penting karena dalam proses pengolahan suatu bahan pasti dipengaruhi oleh
beberapa kandungan zat yang ada didalam bahan tersebut termasuk lemak. Dalam dunia
industri, analisa lemak berguna untuk menentukan proses pengolahan bahan makanan
yang mengandung lemak. Oleh karena itu, di masa pendidikannya, para mahasiswa teknik
kimia sangat dianjurkan untuk mempelajari bagaimana analisa suatu bahan untuk
mengetahui kandungannya, salah satunya adalah dapat menganalisa kandungan gizi pada
bahan pangan secara kualitatif maupun kuantitatif, misalnya saja lemak sehingga dapat
menciptakan bahan pangan yang kandungannya lebih baik. Oleh karena itu, analisa lemak
dengan prosedur benar diperlukan untuk mengetahui kadarnya.

I.2 Tujuan Percobaan


1.
2.
3.
4.
5.

Menentukan kadar lemak pada kacang kedelai


Memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa lemak
Menyusun rangkaian alat analisa lemak dan mengoperasikannya
Menentukan kadar air pada kacang kedelai
Menentukan kadar abu pada kacang kedelai

I.3 Manfaat Percobaan


1. Mahasiswa mampu menentukan kadar lemak pada kacang kedelai
2. Mahasiswa mampu memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa lemak
3. Mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat analisa lemak dan
mengoperasikannya
4. Mahasiswa mampu mementukan kadar air pada kacang kedelai
5. Mahasiswa mampu menentukan kadar abu pada kacang kedelai

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
II.1. Pengertian Lemak
Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air
tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar. Lemak termasuk
ester yang tersusun atas asam lemak dan gliserol, di mana
ketiga radikal hidroksil dari gliserol diganti dengan gugus
ester.
Istilah fat (lemak) biasanya digunakan untuk trigliserida
yang berbentuk padat atau lebih tepatnya semi padat pada suhu
kamar, sedang istilah minyak (oil) digunakan untuk trigliserida
yang pada suhu kamar berbentuk cair.
II.2. Komponenkomponen lemak a.
Gliserol
Sering disebut gliserin atau propantial 1,2,3 adalah
bermatabat tiga yang
strukturnya adalah
H2

OH

OH

H2

OH

Gambar1. Struktur gliserol


Sifat fsisnya yaitu berbentuk kristal, rasa manis, tidak
berwarna, dalam keadaan murni bersifat higroskopis, netral
terhadap lakmus. Tidak larut dalam benzena dan karbon
disulfida.
b. Asam lemak
Yaitu asam karboksilat yang rantainya lurus dan
radikal karboksilatnya terletak di ujung rantai.
II.3. Asam lemak penyusun utamanya adalah :
1. Asam stearat (C17H35COOH)

2. Asam oleat (C17H33COOH)


3. Asam linoleat (C17H31COOH)

II.4. Rumus umum


lemak

O
H 2C

R1
O
HC

R2
O
H 2C

R3

Gambar 2. Struktur Lemak


Ada berbagai cara untuk mengambil minyak atau lemak
dari tumbuh- tumbuhan atau jaringan hewan. Cara tersebut antara
lain :
Cara pressing
(penekanan)
Pressing (pengepresan mekanis) merupakan suatu cara
ekstraksi lemak/minyak, terutama bahan yang berasal dari
biji-bijian. Cara ini dilakukan untuk memisahkan lemak dari
bahan yang berkadar lemak tinggi (30% - 70%). Adapun
perlakuan pendahuluan terhadap sampel sebelum sampel
dipress yaitu mencakup pembuatan serpih, perajangan dan
penggilingan serta tempering/pemasakan.
Tahap-tahap
pressing
Bahan yang mengandung lemak

perajangan

penggilingan

pemasakan

pengepresan

minyak kasar
Ampas/bungkil

Cara umum pengepresan


mekanis a) Pengepresan
hidraulik
Bahan dipres dengan tekanan sekitar 136 atm. Banyaknya
lemak yang dapat diekstrak tergantung dari lamanya
pengepresan,

tekanan

yang

dipergunakan,

serta

kandungan lemak bahan aral.Bungkil masih mengandung


minyak/lemak sekitar 4-6%.
b) Pengepresan berulir (Expeller Pressing)
Prosesnya berlangsung
dengan tekanan 15-

pada

temperature

115,5OC

20ton/inch2. Kadar air lemak yang dihasilkan berkisar 2,53,5%.

Sedangkan

bungkil

yang

masih

mengandung
4

minyak sekitar 4-5%.


Cara extraction (menggunakan solvent)
Ekstraksi merupakan proses pemisahan, penarikan atau
pengeluaran

suatu

komponen

cairan/

campuran

dari

campurannya. Biasanya menggunakan pelarut yang sesuai


dengan komponen yang diinginkan. Cairan dipisahkan dan
kemudian

diuapkan

sampai

pada

kepekatan

tertentu.

Ekstraksi memanfaatkan pembagian suatu zat terlarut


antara dua pelarut yang tidak saling tercampur untuk
mengambil zat terlarut tersebut dari pelarut ke pelarut lain.
Hasil ekstraksi disebut ekstrak.
Jenis
ekstraksi
1)
Ekstraksi
dingin

cara

Metode ini tidak ada proses pemanasan selama proses


ekstraksi. Hal ini untuk menghindari rusaknya senyawa
karena pemanasan. Jenisnya: a) Maserasi
Caranya dengan merendam serbuk simplisia dalam
cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada
temperature kamar, terlindung dari

cahaya,

maka

cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati


dinding sel. Sel-sel akan larut karena proses disuse,
jadi larutan konsentrasi tinggi akan terderek keluar oleh
cairan penyari berkonsentrasi rendah, selama proses
ini, dilakukan pengadukan dan penggantian cairan
penyari setiap hari, hasil akhirnya berupa endapan
yang

lalu

dipisahkan

dan

filtratnya

dipekatkan.

Hasil proses ini disebut maserat.


b) Selektasi
Caranya
dalam

dengan

serbuk

simplisia

ditempatkan

klonsong yang dilapisi kertas saring, cairan

penyari dipanaskan di labu alas bulat

sehingga

menguap dan dikondensasikan menjadi molekul-

molekul cairan yang jatuh ke dalam klonsong, menyari


zat aktif dalam simplisia dan jika cairan penyari telah
mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun
kembali ke dalam labu alas bulat melalui pipa kapiler
hingga terjadi sirkulasi.
c) Perkolasi
Cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan
cairan penyari melalui serbuk simplisia yang lebih
dibasahi.

Prinsipnya

adalah

serbuk

simplisia

ditempatkan dalam suatu bejana sekunder, yang


bagian bawah diberi sekat berpori. Cairan penyari
dibiarkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut,
aliran penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel
simplisia yang dilalui sampai keadaan jenuh. Gerakan
kebawah

disebabkan

oleh

gravitasi, kohesi, dan

berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang


menahan

gerakan

ke

bawah.

Perkolat

yang

diperoleh dikumpulkan lalu dipekatkan.


2) Ekstraksi cara panas
Ada berbagai jenis solvent yang dapat digunakan
sebagai bahan pengekstrak lemak, diantaranya adalah nhexane dan dietil eter. Metode ekstraksi cara panas
melibatkan panas selama prosesnya. Dengan panas,
otomatis

akan

mempercepat

proses

penyarian

dibandingkan cara dingin, jenisnya:


1. Refuks
Prinsip refuks adalah penarikan komponen kimia yang
dilakukan dengan cara: sampel dimasukkan ke dalam
labu alas bulat bersamaan

dengan

cairan penyari

lalu dipanaskan, lalu uapnya terkondensasi menjadi


molekul cairan penyari yang akan turun kembali
menuju labu alas bulat dan berlangsung secara
berkesinambungan

hingga

penyarian

sempurna,
6

pemggantian pelarut dilakukan 3 kali tiap 3-4 jam.


Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
2. Metode Destilasi
Uap
Prinsipnya yaitu penyarian minyak menguap dengan
cara simplisia dan

air

ditempatkan

dalam

labu

berbeda. Air dipanaskan dan akan menguap, uap air


akan

masuk

mengesktraksi

ke

dalam

minyak

labu

menguap

sampel,
yang

sampel
terdapat

dalam simplisia. Uap air dan minyak yang terekstraksi


akan terkondensasi di kondensor, lalu masuk melewati
pipa alonga, campurannya masuk ke corong pisah dan
air serta minyak atsiri akan terpisah. Metode ini
diperuntukkan untuk zat yang mengandung komponen
kimia yang punya titik didih tinggi pada tekanan udara
normal.

II.5. Kegunaan lemak


1.

Untuk obat-obatan.

2.

Untuk minyak goreng.

3.

Untuk cat vernis.

4.

Untuk pembuatan margarin.

5.

Untuk kosmetik.

6.

Untuk menyamak kulit.

7.

Untuk insektisida dan fungisida.

8.

Untuk pembuatan sabun dan deterjen.

9.

Untuk pembuatan biodiesel.

II.6. Dasar Pengukuran Kualitas Lemak


1.

Bilangan penyabunan
Bilangan penyabunan adalah jumlah basa yang
7

dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah minyak.


2.

Bilangan asam
Bilangan asam adalah mg kalium hidroksida yang
diperlukan untuk menetralkan asam bebas dalam 1,0 gram
zat.

3.

Bilangan iod
Bilangan iod adalah besarnya jumlah iod yang diserap oleh
lemak, yang mana menunjukkan banyaknya ikatan rangkap
atau ikatan tak jenuh pada lemak.

II.7. Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ekstraksi :


1. Luas
permukaan
2. Waktu
ekstraksi
3. Temperatur
4. Solvent

: makin luas bidang sentuh, ekstraksi


makin baik.
: makin lama waktu ekstraksi makin
banyak lemak
yang dihasilkan, waktu maksimum 3
jam.
: suhu menentukan, dapat diukur dari
solvent yang
digunakan dan kelarutan lemak.
: jenis solvent akan berpengaruh pada
banyaknya
lemak yang terambil.

BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1. Alat dan Bahan
8

III.1.1. Bahan
1. Kacang kedelai kering dan halus 10 gram
2. Kacang kedelai halus 6 gram
3. n-hexane 150 ml
III.1.2. Alat yang dipakai
1. Statif dan klem
2. Kompor listrik
3. Beaker glass
4. Corong
5. Cawan Porselin
6. Gelas Ukur
7. Timbangan
8. Pendingin balik
9. Oven
10. Labu Destilasi
11. Water Heater
12. Adaptor
13. Erlenmeyer
14. Thermometer
III.2. Gambar Rangkaian Alat

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Ekstraksi

Keterangan
1. Statif
2. Klem
3. Pendingin balik
9

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Tabung soklet
Sampel dalam kertas saring
Pipa aliran embun
Pipa aliran uap
n-hexane
Labu alas bulat
Thermostat
Thermocouple
Heater
Waterbath

Gambar 3.2 Rangkaian Alat Destilasi


Keterangan:
1. Labu Destilasi
2. Pendingin Leibig
3. Thermometer
4. Heater
5. Kompor Listrik
6. Erlenmeyer
7. Tripot
III.3. Cara Kerja
III.3.1 EKSTRAKSI LEMAK
1. Mengeringkan labu ekstraksi dalam oven pada suhu
105C-110C, didinginkan dan ditimbang.
2. Menimbang 10 gram kacang kedelai yang sudah dihaluskan
dan dikeringkan
3. Membungkus sampel dengan kertas saring bebas
lemak dan diikat dengan benang, timbang, lalu

1
0

masukkan ke tabung soklet


4. Masukkan n-hexane sebanyak 150 ml ke dalam labu alas
bulat
5. Lakukan ekstraksi selama 1,5 jam
6. Setelah ekstraksi keringkan sampel beserta kertas bebas
lemak dan benang, lalu timbang
III.3.2 DESTILASI LEMAK
1. Menimbang beaker glass kering
2. Memindahkan n-hexane + lemak yang ada di labu alas
bulat ke dalam labu destilasi
3. Lakukan destilasi untuk menguapkan n-hexane
4. Destilasi dihentikan saat tidak ada lagi n-hexane yang
menetes
5. Pindahkan lemak dalam labu destilasi ke beaker glass lalu
diamkan 1 hari dan timbang.

III.3.3 UJI KADAR AIR


1. Timbang cawan kering yang akan digunakan dalam
keadaan kosong.
2. Letakkan 3 gram sampel di atas cawan kemudian timbang
beratnya.
3. Masukkan cawan berisi sampel ke dalam oven dengan
suhu 100C selama 1 jam, pastikan oven telah panas dan
siap untuk mengeringkan sampel
4.

Setelah selesai dikeringkan, masukkan cawan berisi


sampel ke dalam desikator, didinginkan sampai suhu
konstan dan hingga berat sampel serta cawan tetap.
% air = (wt. sampel basah + cawan) (wt. sampel kering +
cawan) x 100%
(wt. sampel basah + cawan) (wt. cawan)

III.3.4

UJI KADAR ABU

1. Cawan porselen dipanaskan terlebih dahulu dalam


oven, kemudian didinginkan dalam desikator hingga
1
1

mencapai suhu ruangan.


2. Selanjutnya 3 gram sampel ditimbang kemudian dibakar
di dalam cawan porselin sampai tidak berasap dan
diabukan dalam tanur suhu 550C sampai sampel berubah
menjadi abu berwarna abu-abu atau mencapai berat
konstan.
3. Kemudian didinginkan dalam desikator hingga mencapai
suhu ruangan
secara konstan dan ditimbang

1
2