Anda di halaman 1dari 8

JAWABAN PENUNTUT UMUM

TERHADAP NOTA PEMBELAAN TIM PENASEHAT HUKUM


DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI

ATAS NAMA TERDAKWA


DZAKKY HUSSEIN, S.T., M.T.

Hakim Ketua Majelis dan Anggota Majelis Hakim yang kami muliakan,
Panitera Pengganti yang kami hormati,
Saudara Tim Penasehat Hukum terdakwa yang kami hormati,
Saudara Terdakwa yang kami hormati,
Serta peserta sidang pengadilan yang kami muliakan

Sebelumnya marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat


Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan berkat dan rahmatNya pada kita
semua, sehingga dapat bertemu di ruang siding yang mulia ini dalam keadaan
sehat
walafiat.
Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih pada siding majelis hakim
Pengadilan Negeri Subang yang memeriksa dan mengadili perkara ini, yang telah
memberikan kesempatan kepada kami, Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini,
untuk mengajukan tanggapan atas pembelaan saudara penasehat hukum terdakwa
Ir.I Ketut Dharma Putra Yoga.
Dalam bukunya Dari Bismar Untuk Bismar, Bismar Siregar pernah
mengatakan jika suporemasi hukum itu adlah pilihan utama untuk meuwujudkan
rasa keadilan masyarakat banyak (maslahat hukum), satu satu nya cara adalah
mengedapnkan sikaf adil. Artinya harus selalu ada kesadaran bahwa bersikuku
dengan kebenaran sendiri (menganggap diri sebagai pihak yang paling berhak
menunjukan kebenaran) adalah sikap yang sangat tidak adil. Karena hukum yang
tidak mengutamakan kemasalahan umum tidak harus dipatuhi. Bahkan harus
dilawan.
Selain itu, prinsip equality before the law memandang bahwa persamaan
dimata hukum mengisyartatkan bahwa hukum ditegakkan setegaktegaknya

walaupun siapa pelakunya, dimana perinsip tersebut diakui secara normatif yang
fdilakasanakan secara empiris.
Berangkat dari pendapat tersebut, maka kami berusaha kembali lagi
memberikan pemahaman dan tanggapan mengenai pembahasan unsur-unsur yang
ada dalam surat tuntutan kami agar kekeliruan dan keterbatasan penasihat hukum
terdakwa dapat diluruskan, serta membantu poenasihat hukum terdakwa untuk
benar benar merasakan nilai-nilai keadilan dan dampak dari adanya tindak pidana
korupsi.
Bahwa majelis hakim telah memberikan kesempatan kepada kami selaku
penuntut umum untuk menyampaikan jawaban atas pembelaan team penasihat
hukum terdakwa dalam upaya mempertahankan requesitoir atau tuntutan pidana
yang telah kami sampaikan. Kami penuntut umum menyampaikan terimakasih
kepada majelis hakim yang terhormat atas kesempatan yang diberikan dalam
menyampaikan jawaban ini. Kami berniat untuk meluruskan pemahaman penasihat
hukum terdakwa yang cenderung keliru dalam menginterprestasikan pembahasan
unsur didalam surat tuntutan kami. Sehingga kami mengkhwatirkan terjadinya
kesesatan dalam pemahaan surat tuntutan yang telah kami sampaikan
sebelumnya. Namun hal itu dapatlah kami maklumi sebagai keterbatasan manusia
yang sifatnya alamiah.
Sehubungan dengan hal tersebut ijinkan lah kami selaku penuntut umum
dalam perkara terdakwa Dzakky Hussein, S.T., M.T. pada kesempatan ini, untuk
mengajukan jawaban terhadap pembelaan team penasihat hukum terdakwa yang
telah dibacakan dipersidangan pada hari senin tanggal 5 mei 2014. Adapun
jawaban ini kami susun dengan sistematika sederhana agar dipahami sebagai
berikut:

I.

PENDAHULUAN

Majelis Hakim yang Mulia,


Pada kesempatan ini ijinkanlah kami menyampaikan sebuah pepatah dari tanah
batak mengenai kebenaran sebagai berikut: naso matanggak di hata, naso
matahut dibohi (berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah)
Sebuah sajak dalam kisah ramayana berikut sepertinya tepat untuk diojadkan
bahan konteplasi kita bersama dalam penegakan hukum perakara ini.
prihen temen dhrama duma ranang sarat
saraga sang saduh sirekatutana

tanarh tan kamapidonia tan yasa


yasaki sang sajjana dharma raksaka
Artinya:
utamakanlah kebenaran dengan sungguh-sungguh
kepribadian orang budiman yang patut ditiru bukan keinginan,
bukan balas jasa yang menjadi tujuan kekuatan orang yang
berbuat baik adalah kebenaran dipegang teguh (kakawin ramayana, sargah 24.59).
Begitu pula sebuah ayat Alkitab berikut ini semoga menjadi perenungan bagi
kita semua terutama bagi yang mulia majelis hakim dalam memutus perkara dan
bagi tim penasihat hukum dalam membela hak-hak hukum terdakwa sebagai
berikut:
janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan., janganlah engkau
membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh
oleh orang-rang besar, tetapi engkaui harus mengadili orang sesama mu dengan
benar (Imamat 19 : 15)
Berangkat dari pepatah dan perenungan tersebut, kami penuntut umum
akan berusaha untuk menyajikan kebenaran yang sebenar-benarnya untuk
membuat terang perkara ini. bahwa dalam proses pencarian kebenaran meterril
dalam perkara ini, kami akan mencoba melakukan pembahasan secara progresif
sebagaimana diperkenalkan oleh sang bengawan hukum prof. Satjipto rahardjo, S.H.
Mengutip pendapat dari Alm. Prof. Satjipto Rahardjo, S.H. dalam bukunya
hukum progresif (suatu pengenalan), menyatakan bahwa hukum progresif adalah
hukum yang membebaskan. hukum untuk manusia, dan oleh karena itu, apabila
terjadi
hambatan-hambatan
terhadap
pencapaian
maka
dilakukan
pembebasanpembebasan, baik dalam berilmu, berteori dan berpraktek. Perspektif
hukum progresif tidak bersifat ridle bound (Rbo). yang menggarap hukum sematamata menggunakan rule and logic atau rechtdognaticheid. dengan alur berpikir
linier, marsinal, dan deterministic. bahwa paradigma hukum progresif akan
senantiasa berpikir (rule breaking). Dalam berpikir Rbt, kita harus berani untuk
tidak selalu tunduk dan mengikuti alur linier, marsinal, deterministic. Dan perlu
disadari bahwa hukum bukanlah institusi hukum yang absolut dan final, hukum
selalu dalam proses menjadi (law As Proses, Law Indemaking).
Bahwa hukum progresif sama sekali tidak bermaksut untuk
mengesampingkan hukum itu sendiri, namun kereatifitas dalam memberi
penafsiran dan membaca hukum secara progresif dengan alat berpikir logika
peraturan. Implementasi paradigme hukum progresif secara nyata telah

menempatkan hukum lebih terhormat dan fungsional karena ia tampil sebagai


humanus, dimana menempatkan kepentingan dan unsur manusia diatas undangundang.
Meskipun paradigma hukum progresif menempatkan manusia sebagai inti
atau pusat bekerjanya hukum dan berusaha melepaskan jeruji atau kerangkeng
kekakuan hukum dalam arti teks undang-undang, tidak berarti harus menafikkan
hukum. Agar paradigma hukum progresif tidak terjebak dalam absolutisme
manusia, dalam arti peniadaan rambu-rambu atau aturan hukum , konsep progresif
haruslah berakar pada sikap menghargai hukum dan menempatkan hukum
sebagai pijakan, meskipun tidak absolut.
Berangkat dari penjelasan dan teori diatas, maka dalam menguraikan
unsurunsur perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa, kami penuntut umum akan
melakukan penelaahan secara komprehensif dengan mencoba berfikir rule breaking
dan menggandeng hukum progresif dalam membuktikan setiap unsur yang
didakwakan. Hal ini diharapkan dapat memenuhi rasa keadilan dan tidak
menafikkan kepentingan dimasyarakat. Selain itu, diharapkan kepada tim
penasehat hukum terdakwa agar tidak memandang perkara ini secara sepotongsepotong tanpa melihat sisi perbuatan materiil terdakwa yang mengancam dan
telah menimbulkan duka yang cukup dalam didalam masyarakat.
Semoga hati kita semua disini terbuka untuk benar-benar menyadari arti
kebenaran dan tidak disesatkan kepada pihak-pihak yang ingin memutar balikkan
fakta.

II.

TANGGAPAN TERHADAP UNSUR

Majelis Hakim yang Mulia,

Adapun pembantahan unsur yang akan kami lakukan BUKANLAH Pasal


perpasal melainkan secara menyeluruh dan TIDAK akan melakukan pengulangan
terhadap unsur yang sama dalam tiap pasalnya. Kami, Penuntut Umum akan
menanggapi Pembelaan dari Tim Penasehat Hukum sebagai berikut:
A. UNSUR SETIAP ORANG
Dalam Pembelaannya, Tim Penasehat Hukum Terdakwa menyatakan bahwa
uraian Tuntutan mengenai Unsur Setiap Orang sangat prematur dan bukan
merupakan unsur delik inti dari Pasal 2 Ayat (1) Jo Pasal 18 Ayat (1) Undang-undang
Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang
sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun

2001 Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana dalam dakwaan kesatu dan dari
Pasal 12 Huruf a Jo. Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang sebagaimana telah dirubah dan
ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1
KUHP sebagaimana dalam dakwaan kedua.
Kami TIDAK SEPENDAPAT dengan pembelaan Tim Penasehat Hukum
Terdakwa dengan uraian sebagai berikut :
- Bahwa unsur setiap orang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus dihubungkan
dengan perbuatan-perbuatan selanjutnya, yaitu apakah perbuatan yang
didakwakan tersebut memenuhi unsur tindak pidana atau tidak. Jika unsur lainnya
terpenuhi barulah unsur setiap orang dapat dinyatakan terpenuhi atau terbukti.
Dengan demikian, pembuktian serta penjabaran terhadap unsur-unsur tindak
pidana tersebut haruslah dimulai dengan pembahasan terhadap unsur-unsur ke-2,
ke-3, ke-4, ke-5, ke-6 dan seterusnya, baru kemudian dapat dilihat apakah unsur ke1 setiap orang terbukti atau tidak.
- Bahwa karena dalam pembahasan unsur selanjutnya unsur-unsur yang
didakwakan kepada Terdakwa tidak terbukti, maka dengan sendirinya unsur setiap
orang juga tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. - Unsur pertama setiap
orang dijelaskan pada pasal 1 (3) Undang Undang No. 20 Tahun 2001 tentang
perubahan atas Undang Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi yaitu orang perseorangan atau termasuk korporasi.
- Korporasi dijelaskan pada Unsur pertama setiap orang dijelaskan pada pasal 1 (3)
Undang Undang No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang Undang No.
31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yaitu kumpulan orang
atau kekayaan yang terorganisir baik merupakan badan hukum maupun bukan
badan hukum.
- Sedangkan yang dimaksud setiap orang dalam hukum pidana adalah subyek
hukum dari pelaku suatu pelaku pidana dengan siapa saja baik sipil, militer,
maupun polisi sebagai pelaku perbuatan pidana,dan orang tersebut adalah orang
yang mampu bertanggung jawab serta dapat dipetanggungjawabkan atas
perbuatannya secara hukum. Dalam hal ini yang diajukan sebagai setiap orang
adalah terdakwa Dzakky Hussein, S.T., M.T.
- Bahwa di persidangan ditemukan fakta-fakta sebagai berikut:
i. Bahwa benar TERDAKWA adalah Ir. I Ketut Dharma Putra Yoga, Kepala
Dinas Kehutanan Wilayah Lampung Utara
ii. Bahwa terdakwa Ir. I Ketut Dharma Putra Yoga selama persidangan
membenarkan identitas yang dibacakan kepadanya. Terdakwa juga
menerangkan kepada Majelis Hakim bahwa terdakwa berada dalam keadaan

sehat dan tidak berada dalam tekanan. Maka dengan keterangan tersebut
tidak ditemukan adanya alasan pembenar dan atau alasan pemaaf sehingga
kepada terdakwa dipandang mampu bertanggungjawab atas seluruh
perbuatan pidana yang telah dilakukannya.
Dengan demikian, unsur Setiap Orang dalam Dakwaan Kesatu dan
Dakwaan Kedua telah terpenuhi.

B. Memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri;


Bahwa terdakwa membagi-bagikan sisa dana reboisasi kepada para
pegawainya dan kepada dirinya sendiri, padahal itu adalah uang negara
yang tidak sepantasnya dipergunakan untuk hal seperti itu.
Dengan demikian, unsur membagikan hadiah kepada pegawai
telah terpenuhi.
C. Dengan mengingat kekuasaan atau wewenang
melekat pada jabatan atau kedudukannya.

yang

Bahwa terdakwa dengan jelas telah menyalahgunakan wewenangnya


terkait dengan
dana yang mengalir dari Kementrian Kehutanan dan
Kementrian Lingkungan Hidup, ia memanfaatkan wewenangnya untuk
mendapatkan dana lalu tidak melaporkan bunga dari dana tersebut ke pihak
yang terkait serta menggunakan dana untuk kepentingan kelompoknya.
D. UNSUR MEMPERKAYA DIRI SENDIRI ATAU ORANG LAIN ATAU SUATU
KORPORASI
Dalam Pembelaannya, Tim Penasehat Hukum Terdakwa berpendapat bahwa
tidak ada beberapa perbuatan terdakwa yang harus dipandang sebagai perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dilakukan Terdakwa dalam melakukan
perbuatan sebagaimana dalam Surat Dakwaan.
Kami TIDAK SEPENDAPAT dengan pembelaan Tim Penasehat Hukum
Terdakwa dengan uraian sebagai berikut:
- Bahwa secara harfiah, kata memperkaya merupakan suatu kata kerja
yang menunjukan perbuatan setiap orang untuk bertambah kaya atau adanya
pertambahan kekayaan. Itu berarti, kata memperkaya dapat juga dipahami
sebagai perbuatan yang menjadikan setiap orang yang belum kaya menjadi kaya
atau orang yang sudah kaya menjadi lebih kaya.
- Bahwa memperkaya diri sendiri, artinya dengan perbuatan melawan hukum
itu pelaku menikmati bertambahnya kekayaan atau harta miliknya sendiri.

- Bahwa memperkaya korporasi, yakni akibat dari perbuatan melawan hukum


dari pelaku, suatu korporasi, yaitu kumpulan orang-atau kumpulan kekayaan yang
terorganisir, baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum (Pasal 1
ayat (1) UU No. 20 Tahun 2001) yang menikmati bertambahnya kekayaan atau
bertambahnya harta benda.
Dengan demikian unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi dalam Dakwaan Jaksa Penuntut Umum telah
terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.

III.

PERMOHONAN

Majelis Hakim yang Mulia,


Berdasarkan uraian-uraian diatas, ijinkanlah kami Penuntut Umum untuk
mengajukan permohonan sebagai berikut :
1. MENOLAK pembelaan dari Tim Penasehat Hukum Terdakwa Ir. I Ketut
Dharma Putra Yoga tertanggal 5 Mei 2014 untuk seluruhnya
2. Mengabulkan surat tuntutan Penuntut Umum tertanggal 28 April 2014
untuk seluruhnya
Namun apabila yang Mulia Majelis Hakim ingin memberikan putusan ataupun
pertimbangan lain atas jawaban yang telah kami ajukan ini, mohon diputuskan
dengan seadil-adilnya berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

IV.

PENUTUP

Majelis Hakim yang Mulia,

Tibalah kami pada akhir jawaban ini yang merupakan kesempatan terakhir
bagi kami yang disediakan oleh Undang-Undang untuk mengungkapkan fakta dan
kebenaran dalam perkara ini. Sebelum kami menutup jawaban ini, ijinkalah kami
menyampaikan beberapa addendum yang kiranya dapat dijadikan oleh yang Mulia
Majelis Hakim dalam memberikan pertimbangan dan putusan pada perkara ini.
Selain itu, semoga addendum ini juga dapat menggugah hati dan membuka mata
dari Tim Penasehat Hukum Terdakwa dalam memandang dan menjunjung tinggi
nilai kebenaran.

Buah terbaik dari keadilan adalah ketentraman. (epicurius) Jujurlah meskipun


kejujuran itu membawa kita keneraka didunia.
Tidak ada nada keadilan bisa ditegakkan selama kita masih acuh terhadap hukum
yang masih ada dan mementingkan kepentingan pribadi.
Meskipun bisa mengelak dari hukuman, orang melarikan diri tidak mungkin bisa
hidup tenang, karena mereka selalu dikejar ketakutan akan masa yang akan datang
maupun masa kini. (epicurius). Demikianlah jawaban Penuntut Umum terhadap
pembelaan Tim Penasehat Hukum Terdakwa ini kami sampaikan. Kami berharap,
dengan adanya jawaban ini majelis hakim tidak menyimpan keraguan dan
kebimbangan dalam memutus perkara aquo.
Semoga Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa dan mengadili perkara a quo diberikan
keteguhan hati dan iman untuk memutus perkara ini dengan adil dan bijaksana
dengan memperhatikan seluruh pemaparan yang telah kami uraikan.

Jakarta 12 Mei 2014


JAKSA PENUNTUT UMUM
HOTDO NAULI,S.H.,M.H
ANDI KURNIAWAN,S.H.,M.H