Anda di halaman 1dari 50

MODUL FISIKA DASAR

SEMESTER GENAP

INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG

Modul Praktikum Fisika Dasar

Disusun oleh :
Suparno Satira
Deny Rachmat
Fadli Rohman
Ni Njoman Manik

INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG

Pengantar
Modul ini dibuat sebagai panduan praktikum Fisika Dasar bagi seluruh
mahasiswa ITSB yang mengambil praktikum Fisika Dasar 1 dan 2. Dalam buku
panduan praktikumFisika Dasar ini terdapat :
1. Pedoman mahasiswa dalam mengikuti kegiatan praktikum
2. Modul - modul pelaksanaan praktikum Fisika Dasar
Modul praktikum dalam buku ini adalah materi praktikum yang digunakan di
semester genap, dan disesuaikan dengan kurikulum yang ada di tiap prodi. Di buku
modul ini juga dilengkapi tabel data pengamatan.Tujuan dari tabel ini adalah agar
praktikan memiliki gambaran bagaimana penyajian data pengamatan yang
memadai.Walaupun demikian, praktikan tetap dapat menyajikan data pengamatan
percobaan sesuai dengan kondisi di laboratorium.
Para praktikan harus mengerjakan / melaksanakan praktikum di dalam
laboratorium sebagai tugas kelompok (kerjasama). Namun demikian dalam
pembuatan tugas pendahuluan maupun laporan, para praktikan harus menyerahkan
kepada asisten sebagai tugas individual.
Setiap mahasiswa yang mengikuti kegiatan praktikum Fisika Dasar, wajib
membaca dan memahami isi buku ini. Keteledoran dan kesalahan berbagai hal yang
sudah dituliskan dalam buku ini dapat dikenai sanksi. Sanksi yang telah tercantum
dalam buku ini sifatnya tidak ada tawar menawar dan harus dilaksanakan oleh para
mahasiswa dengan penuh tanggungjawab.

Pedoman Praktikum
1. Kehadiran.
(a) Praktikum harus diikuti sekurang-kurangnya 75 persen dari jumlah praktikum
yang diberikan. Jika tidak dipenuhi maka praktikumnya tidak lulus sehingga
mengakibatkan ketidaklulusan pada mata kuliah Fisika Dasar 1 dan atau
Fisika Dasar 2.
(b) Ketidakhadiran karena sakit harus disertai surat keterangan resmi untuk
diserahkan ke Dosen Penanggung jawab Praktikum Fisika paling lambat
dua minggu sejak ketidak-hadirannya. Jika tidak dipenuhi maka dikenakan
SANKSI 3.
(c) Keterlambatan kurang dari duapuluh menit dikenai SANKSI 1.
(d) Keterlambatan lebih dari duapuluh menit dikenai SANKSI 3.

2. Persyaratan Mengikuti Praktikum


Berperilaku dan berpakaian sopan ( memakai kemeja dan bersepatu ). Selama
praktikum, praktikan wajib mengenakan jas lab. Jika tidak dipenuhi maka sekurangkurangnya dikenakan SANKSI 1.

3. Pelaksanaan Praktikum
(a) Mentaati tata tertib yang berlaku di Laboratorium Fisika Dasar.
(b) Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Asisten dan Dosen sebagai
Penanggung Jawab Praktikum.
(c) Memelihara kebersihan dan bertanggung jawab atas keutuhan alat-alat
praktikum.
(d) Praktikan mengembalikan peralatan praktikum ke tempat semula
(e) Aktivitas praktikum termasuk bagaimana sikap praktikan selama di
laboratorium masuk ke bagian penilaian akhir modul tersebut.

4. Penilaian
(a) Nilai praktikum ditentukan dari nilai Test Awal, Aktivitas dan Laporan Praktikum.
(b) Nilai akhir praktikum (AP) dihitung dari rata-rata nilai praktikum, yaitu jumlah
nilai seluruh modul praktikum dibagi jumlah praktikum yang wajib dilaksanakan.
ii

(c) Kelulusan praktikum ditentukan oleh nilai akhir praktikum (AP >50 %)dan
keikutsertaan praktikum harus ( >75%).

5. Sanksi Administrasi
Sanksi administrasi diberikan bagi praktikan yangselama praktikum berlangsung
menimbulkan kerugian, misalnya memecahkan/merusakkan alat. Praktikan yang
bertanggungjawab atas kerugian tersebut WAJIB mengganti alat dengan spesifikasi
sama atau setara. Penggantian alat paling lama dilakukan pada akhir masa praktikum/
sebelum nilai akhir praktikum diserahkan ke dosen penanggungjawab praktikum. Jika
alat yang rusak belum diganti maka akan dikenakan SANKSI 4

6. Lain-lain
(a) Praktikum yang tidak dapat dilaksanakan karena hari libur, kegagalan arus listrik
PLN dsb., akan diberikan praktikum pengganti setelah seluruh sesi praktikum
reguler selesai.
(b) Secara umum tidak diadakan Praktikum Susulan, kecuali bagi yang benar-benar
sakit. Praktikum Susulan akan dilaksanakan setelah praktikum reguler berakhir
atau mengikuti regu dari prodi lain sesuai dengan arahan dari Dosen penanggung
jawab praktikum
(c) Tata tertib berperilaku sopan di dalam laboratorium meliputi diantaranya larangan
makan, minum, merokok, menggunakan walkman dan sejenisnya.
(d) Tata tertib berpakaian sopan di dalam laboratorium meliputi diantaranya larangan
memakai sandal dan sejenisnya serta memakai kemeja.

Sanksi-sanksi :
1. SANKSI 1 : Nilai Modul yang bersangkutan dikurangi 10%.
2. SANKSI 2 : Nilai Modul yang bersangkutan dikurangi 50%
3. SANKSI3 : tidak diperkenankan praktikum, sehingga Nilai Modul yang
bersangkutan = NOL.
4. SANKSI 4 : Jika alat yang rusak belum diganti maka nilai SELURUH
anggota regu pada modul tersebut akan ditunda. Dan jika sampai masa UAS
berakhir tidak ada penggantian alat maka nilai SELURUH anggota regu
pada modul tersebut akan di Nolkan.
iii

iv

Daftar Isi
Kata Pengantar

Pedoman Praktikum

ii

Modul 1 : Arus Listrik Searah

Modul 2 : Arus Listrik Bolak Balik

11

Modul 3 : Pengukuran Indeks Bias

21

Modul 4 : Difraksi dan Resolusi

25

Modul 5 : Metode Transformasi Data

30

Modul 6 : Sifat Lensa dan Cacat Bayangan

35

Modul 1
Arus listrik searah
1.1 Tujuan Percobaan
Melalui pelaksanaan modul percobaan ini diharapkan mahasiswa :
1. memahami sifat arus listrik se arah dalam rangkaian
2. memahami perilaku komponen listrik dalam rangkaian
3. mampu menggunakan alat ukur listrik dan mengubah batas ukurnya

1.2 Alat-alat yang digunakan


Alat alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain adalah :
1. Sumber potensial (DC Power suply)

5. Amperemeter

2. Kabel-kabel penghubung

6. Voltmeter

3. Baterei

7. Berbagai hambatan

4. Multimeter

8. Bangku hambatan

1.3 Dasar Teori


A. Arus dan potensial listrik
Muatan listrik, yang dalam hal ini adalah elektron, mengalir dalam rangkaian
karena adanya beda potensial diantara dua titik dalam rangkaian yang
bersangkutan. Aliran listrik dalam rangkaian disebut sebagai arus listrik. Aliran
muatan pada suatu kawat, dapat digambarkan sebagai berikut :

: Elektron

Arah arus

Gambar 1.1
Besarnya arus listrik, (i) didefinisikan sebagai jumlah muatan yang melewati
suatu penampang kawat persatuan waktu, dengan satuan Ampere [A].
Perumusan arus listrik pada suatu tempat adalah :
1

i=

q
[A]
t

(1.1)

Karena satuan banyaknya muatan listrik [q] adalah Coulomb [C], maka :
1A =1

C . Dengan sifat arus yang demikian, maka pengukuran arus dilakukan


det

dengan menempatkan amperemeter pada titik dalam jalur rangkaian tersebut,


secara deret (seri).
Beda potensial dinyatakan dalam satuan Volt [V] , dan besarnya arus sebanding
dengan beda potensial , maka berlaku :

V = i.R
(1.2)

dengan R adalah nilai hambatan , dan dianggap sebagai suatu komponen listrik
yang disebut sebagai resistor.
Pengukuran nilai potensial suatu titik senantiasa dilakukan dengan
membandingkan terhadap nilai potensial suatu titik tertentu; oleh karena itu
dinyatakan sebagai beda potensial antara kedua titik dalam rangkaian. Sering
dilakukan titik tertentu yang dipakai sebagai acuan adalah bumi, yaitu
menghubungkan titik tersebut dengan tanah (ground). Titik yang dihubungkan
dengan tanah sering disebut sebagai ground dan memiliki potensial sebesar nol
Volt.

B. Rangkaian seri dan paralel


Resistor dalam rangkaian dapat digandengkan dalam bentuk seri ataupun
paralel. Analogi dengan saluran air, nilai hambatan suatu resistor bersifat
menghambat arus. Oleh karena itu pada susunan resistor secara berderet (seri) ,
seperti ditunjukkan dalam gambar 1.2, maka nilai hambatannya adalah jumlah,
sehingga arus akan mengecil.

A
R1

RS

R2
C

Gambar 1.2
dengan RS = R1 + R2
Pada susunan resistor secara berjajar (paralel) , seperti ditunjukkan dalam
gambar 1.3, maka nilai hambatannya adalah lebih kecil dari yang terkecil,
sehingga arus akan menjadi lebih besar.

R1

A
R2

RP

Gambar 1.3
dengan ,

1
1
1
=
+
R P R1 R 2

C. Batas alat ukur listrik


Alat ukur listrik, amperemeter maupun voltmeter, memiliki batas daerah
pengukuran. Batas daerah pengukuran bukan semata dalam arti ketidakmampuan alat mengukur di luar daerah yang tertera; akan tetapi juga bila alat ini
digunakan di luar daerah batas pengukurannya akan berakibat rusak atau
terbakar.
Batas bawah daerah pengukuran merupakan nilai sekala terkecil alat ukur,
yaitu kemampuan nilai terkecil yang dapat terukur dengan baik. Sebagai contoh:
misal amperemeter mempunyai nilai sekala terkecil 1 ampere, maka bila alat ini
dipergunakan untuk mengukur arus 1 mA kesalahan pengukuran menjadi sangat

besar. Batas atas daerah pengukuran merupakan kemampuan tertinggi alat ukur.
Apabila alat dipergunakan mengukur besaran yang lebih tinggi, maka alat akan
rusak atau terbakar.
Dalam setiap alat ukur listrik, terdapat hambatan dengan nilai tertentu. Nilai
hambatan ini disebut sebagai hambatan dalam (rD). Hambatan dalam inilah
yang menentukan batas ukur alat tersebut. Hambatan dalam voltmeter
dinyatakan sebagai hambatan yang terpasang paralel; dan hambatan dalam
amperemeter dinyatakan sebagai hambatan yang terpasang deret. Keadaan ini
ditunjukkan dalam gambar 1.4 berikut.

A
rD

rD
a.Voltmeter

b.Amperemeter

Gambar 1.4
Batas pengukuran kedua jenis alat ukur listrik tersebut dapat dilakukan dengan
cara menambahkan hambatan luar RL,yang ditempatkan berderet untuk
voltmeter dan berjajar untuk amperemeter. Secara skematik penempatan RL
ditunjukkan oleh gambar 1.5.
A

V
rD

RL

RL
rD

Gambar 1.5
Apabila diinginkan batas ukur alat naik n kalinya maka untuk :
a. voltmeter : R L = ( n - 1 ) rD
b. amperemeter : R L =

1
rD
n -1

1.4 Tugas Pendahuluan


Kerjakan di rumah dan serahkan kepada asisten anda sebelum praktikum
dimulai.
1. Hambat jenis kawat penghantar adalah : =

R.A
. Jelaskan arti hambat jenis
L

dan makna yang terkandung dalam persamaan tersebut.


2. Apabila diberikan rangkaian listrik seperti gambar 1.6 berikut ini, tunjukkan
bahwa :

Rx =

R 1. R 3
R2

+
R1

Rx
V=0

R2

R3

Gambar 1.6
3. Buktikan perumusan untuk memperbesar batas ukur alat yang dibahas pada
butir 1.3 dalam persamaan a , dan b tersebut.
4. Apa yang harus dilakukan, bila dari suatu sumber potensial 12 Volt ingin
ditarik arus 200 mA saja dengan potensial tetap 12 Volt ? Gambarkan skema
rangkaiannya !
5. Gambarkan skema rangkaian dan cantumkan pula nilai-nilai komponen yang
dipakai untuk mengambil arus 100 mA dengan potensial 8 Volt dari suatu
baterei 12 Volt.

1.5Percobaan
1. Buat rangkaian seperti gambar 1.7 berikut ini, dengan R : Resistor, V :
Voltmeter, E : Sumber potensial / Batere, A : Amperemeter dan S : Saklar.
Ukurlah tegangan V dengan multimeter pada titik titik X , Y , dan Z

terhadap titik G, setelah saklar S dihubungkan. Lakukan percobaan anda


beberapa kali agar memberikan keyakinan nilai eksperimental.

X
S

R1
R2

R3
Y

Z
G

R4

Gambar 1.7

2. Putuskan hubungan dengan melepas saklar S. Letakkan amperemeter pada


titik titik X , sambungkan saklar S dan ukurlah arus pada titik ini.
Demikian pula lakukan cara yang sama untuk mengukur arus yang melewati
titik-titik Y , dan Z .
3. Ulangi percobaan pada butir 1.5.1 , dan 1.5.2 dengan mengganti nilai batere
E yang anda miliki, sebanyak 2 harga E.
4. Buat rangkaian seperti pada gambar 1.8 berikut ini, dengan B adalah Bangku
hambat , V adalah voltmeter dan simbol simbol huruf yang lain sama
dengan rangkaian gambar 1.7.
A

R1

R3
V

R2

R4

Gambar 1.8
Pasanglah bangku hambat pada suatu nilai anda kehendaki , kemudian
sambungkan saklar S dan bacalah nilai arus A , dan nilai potensial V.

5. Lakukan kembali percobaan 1.5.4 untuk harga amperemeter berbeda (arus


yang keluar dari E) dengan memilih nilai pada B. Lakukan untuk 3 harga B
berbeda .
6. Buat pula rangkaian seperti gambar 1.9a , dan lakukan pengukuran nilai V
dan A. Untuk mendapatkan hasil pengamatan sebaik-baiknya , lakukan pada
beberapa nilai berbeda dengan mengubah nilai hambatan dari bangku
hambat B.
A

R
E

R
E
V

(a)

(b)
Gambar 1.9

7. Lakukan percobaan 1.5.6 dengan mengacu pada gambar 1.9b., dan upayakan
pengamatan anda untuk mendapatkan nilai V yang sama seperti percobaan
1.5.6. Pada nilai nilai V tersebut catatlah nilai A nya. Anda lakukan
beberapa kali percobaan 1.5.6 , dan1.5.7 ini.
8. Buat rangkaian seperti pada gambar 1.10 dan amati beberapa nilai V dengan
mengganti nilai R dalam beberapa harga yang anda miliki, tanpa mengubahubah nilai hambatan pada B.

Gambar 1.10

9. Buat rangkaian seperti pada gambar 1.11 dan amati beberapa nilai A dengan
mengganti nilai R dalam beberapa harga yang anda miliki, tanpa mengubahubah nilai hambatan pada B .

B
R
A
E

Gambar 1.11

10. Berikan analisis hubungan arus dan potensial listrik dari hasil percobaan
pada butir 1.5.1 , sampai dengan percobaan 1.5.5.
11. Berikan analisa, dan perhitungan hambatan dalam voltmeter dan
amperemeter yang anda gunakan dari hasil percobaan 1.5.6 dan 1.5.7 yang
anda lakukan .
12. Berikan analisa anda pada hasil percobaan 1.5.8 dan 1.5.9 yang dihubungkan
dengan percobaan sebelumnya.

1.6 Data Pengamatan


1. Percobaan 1.5.1
R1 = ......... ohm

R3

= ......... ohm

R2 = ......... ohm

Pembacaan Voltmeter
(volt)
E

X-G

Y-G

Z-G

2. Percobaan 1.5.2
R2 = ......... ohm

R3

R1 = ......... ohm
8

= ......... ohm

Pembacaan Amperemeter
(ampere)
No

3. Percobaan 1.5.4, 1.5.6 dan 1.5.7


E

= ............... volt

R2

R1

= .............. ohm

R3 = ............... ohm

B (ohm)

V ( volt)

= ..................... ohm

A (ampere)

4. Percobaan 1.5.8
E

= .............. volt

R (ohm)

= ................... ohm

= ...................... ohm

V (volt)

5. Percobaan 1.5.9
E

= ................ volt

R (ohm)

A (ampere)

1.7Daftar Pustaka
1. Suparno Satira, Fisika Pembahasan Terpadu, Penerbit ITB, in press
2. William David Cooper ,and Abert D Helfrick, Electronic Instrumentation
and Measurement Techniques, Prentice Hall Inc , New Yersey ,1987
3. C.S Rangan et coll , Instrumentation Devices and Systems, Mc Draw-Hill
Publ, New Delhi , 1992
4. F.W. Sears , M. W. Zemasky , and H. D. Young , University Physics ,
Addison Wesley Publ. Co. 1987

10

Modul 2
Arus listrik bolak-balik
2.1 Tujuan Percobaan
Pada praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat :
- Menentukan besaran-besaran dalam arus bolak-balik
- Mengukur besaran dalam arus bolak-balik.
- Melakukan percobaan resonansi dalam arus bolak balik.

2.2 Alat-alat yang digunakan


1. Sumber arus searah dan arus bolak-balik
2. 1 buah bangku hambat
3. 1 buah bangku kapasitor
4. 1 buah signal generator
5. 1 buah LCR meter
6. 3 buah kumparan (induktor)

2.3 Dasar Teori


Arus bolak-balik adalah arus listrik yang berubah-ubah besar dan arahnya.Bentuk
arus bolak-balik yang paling sederhana secara matematis adalaharus sinusoidal.

i(t) = Im cos ( t) (2.1)

Kita ketahui bahwa arus didefinisikan perubahan muatan listrik persatuanwaktu.


Dapat ditulis :

11

(2.2)

Arus efektif, (Ief ) , pada arus bolak-balik adalah arus dalam satu periodayang
mengeluarkan kalor sama dengan kalor yang dikeluarkan oleh aruskonstan (arus
searah). Besaran inilah yang terbaca dalam alat ukur analogarus bolak-balik (Ief ) .
Arus efektif sering disebut pula sebagai (Irms) .

Gambar 2.1.
Komponen elektronik yang akan dipelajari dalam praktikum ini adalahinduktor dan
kapasitor. Suatu kumparan (induktor) di dalamnya memilikisifat hambatan RL ,
yang dikenal sebagai hambatan parasitik; dalam skemarangkaian digambarkan
sebagai berikut :

Gambar 2.2.

Induktor murni, L, jika dialiri arus bolak-balik i akan menimbulkan GGLsebesar


=
Sehingga ujung-ujungnya (A-B) berbeda potensial sebesar
=

(2.3)
12

2 cos

2cos

(2.4)
(2.5)

Penulisan di atas dapat juga kita tuliskan dalam bentuk


VAB= Vmcos ( t + ) (2.6)
Untuk mencari Vmdan dapat digunakan diagram fasor. Sesuai denganpers
(2.6)menjadi :
VAB= Vm<
Pada sumbu silang dimiliki vektor (gambar 2. 3) yang dikenal sebagaidiagram
fasor .
VAB= VR+ VL
!

2, dengan sudut fasa 0o


2,

dengan sudut fasa /2

Dengan demikian :
"

=#

Secara umum

"

= *

= &'()

2$

dengan Z disebut impedansi dengan satuanohm ().

Dalam hal ini :


* = $

= #

+ +!

Dengan reaktansi induktif


XL=L. Impedansi Z dapat juga digambar dalam diagram fasor sepertidi bawah
ini:

13

Gambar 2.3.

Suatu kapasitor dengan kapasitansi C tak akan dapat dilewati oleh arussearah, tapi
dapat dilewati oleh arus bolak-balik. Terhadap hambatan (resistansi,R ) yang
bersifat parasitis ini, arus bolak-balik yang melewati kapasitorakan mengalami
ketertinggalan fasa sebesar /2. Sebagaimana sifatinduktor , apabila diukur besaran
potensial listriknya, diperlihatkan sepertigambar 2.4.

Gambar 2.4.

Kapasitor murni, C, jika dialiri arus bolak-balik i akan menimbulkanGGL sebesar


1
= .
-

Sehingga ujung-ujungnya (A-B) berbeda potensial sebesar


= +
)

= + / 0
=

2 cos

(2.8)
)

+ 1 /

2cos
14

(2.9)

(2.7)

Penulisan di atas dapat juga kita tuliskan dalam bentuk


=

" cos

, dengan sudut fasa = 0


/

, dengan sudut fasa /2

1
-

(2.10)

2
2

Dengan demikian :
"

= 2

Secara umum

"

= *

1
-

= &'()

1 /

22

1
-

dengan Z disebut impedansi dengan satuanohm ().


Dalam hal ini :

* = 2 +
_

1
= #
-

+ +/

Dengan demikian untuk rangkaian seri dari komponen R - L - C diagramfasornya


ditunjukkan oleh gambar 8.5 ,

Gambar 2.5.
15

dan nilai impedansinya dapat dituliskan sebagai berikut :


Z = $

+ +! +/ = #

1/

(2.11)

Melalui persamaan (2.11) ini tampak bahwa impedansi rangkaian arusbolak-balik


bergantung pada frekuensi. Impedansi mencapai nilai minimumbila total reakstansi
= nol , atau :

artinya :

1
=0
)

! /

(2.12)

Dalam keadaan seperti ini disebut sebagai keadaan resonansi , dan nilai pada
keadaan ini disebut sebagai frekuensi resonansi.
Grafik impedansi rangkaian fungsi dari frekuensi gelombang ditunjukkandalam
gambar 2.6 .

Gambar 2.6.

2.4 Tugas Pendahuluan


Kerjakan di rumah dan serahkan kepada asisten anda sebelum praktikum
dimulai.
1. Turunkan bahwa dalam keadaan resonansi arus yang mengalir dalamrangkaian
paling besar, dan gambarkan grafik arus yang mengalir dalamrangkaian sebagai
fungsi frekuensi.
16

2. Dalam rangkaian arus bolak-balik mungkinkah nilai impedansi seluruhrangkaian


sama dengan nol ? . Uraikan secara singkat jawaban anda.
3. Apabila hambatan R (Ohm) dan Induktansi L (Henry) dihubungkan
secaraparalel, tentukan nilai impedansi total dan bagaimana arus yangmengalir
dalam rangkaian ini.
4. Demikian pula bila hambatan R (Ohm) dan kapasitansi C (Farad)
dihubungkansecara paralel, tentukan nilai impedansi total dan bagaimanaarus
yang mengalir dalam rangkaian ini.

2.5 Percobaan
1. Buatkan rangkaian sebagai berikut dengan R sekitar 120 (Ohm) , dan Cantara 40
F sampai 100 F , pada tegangan ac sekitar 12 Volt. Pakai

Gambar 2.7.
sumber gelombang dari signal generator, dan pilih frekuensi sebarang.Ukurlah
perioda dan tegangan antara titik - titik R dan S , dan antaratitik S dan T melalui
osiloskop serta baca arus pada ampere meter A
2. Ukur pula tegangan antara titik - titik R dan S , dan antara titik S dan T,dengan
multimeter masing-masing 3 kali.
3. Ulangi percobaan butir 2.5.1 sampai butir 8.5.2 dengan mengganti
hargakapasitor yang lain. Ambillah untuk 3 nilai kapasitansi yang berbeda.
4. Ulangi percobaan 2.5.1 dan 2.5.3 dengan mengganti C dengan Induktor ,L yang
ada.
5. Buatlah rangkaian listrik berikut :

17

Gambar 2.8.

Berikan nilai R = 1200 (Ohm) dan pasang sumber tegangan ac mula-mulapada


tegangan dan frekuensi yang anda pilih. Catat nilai semua komponenyang
digunakan dan ukur tegangan dan arus setiap kali pengamatan.
Selanjutnya ubahlah nilai C dari bangku kapasitor C untuk semua hargayang ada
padanya. Jangan lupa catat semua nilai arus setiap kali andamengubah nilai
kapasitansi .
6. Ulangi percobaan 2.5.5 dengan mengubah nilai frekuensi dan tegangansumber
ac.

2.6 Data Pengamatan


1. Rangkaian RC
R

= .. ohm

= .. volt

C (F)

Osiloskop
TRS

TST

VRS

Multimeter
VST

18

VRS

VST

Arus

2. Rangkaian RL
R

= .. ohm

= .. volt

L (H)

Osiloskop
TRS

TST

VRS

Multimeter
VST

VRS

Arus

VST

3. Rangkaian RLC
R

= ohm

= henry

Kapasitor Frek.

Tegangan Arus

( farad)

(volt)

(hertz)

(ampere)

2.7 Tugas Laporan


1. Tentukan nilai impedansi rangkaian setiap pengukuran anda
2. Bila frekuensi arus bolak-balik dari PLN 50 Hz , tentukanlah nilai induktansidari
Induktor yang anda miliki.
3. Buatkan analisa dari hasil percobaan anda dengan menggambarkan
diagramfasornya pada sekala yang mendekati , dan tentukanlah sudut fasauntuk
rangkaian yang anda buat.

2.8 Daftar Pustaka


19

1. Rahmat Hidayat , Sparisoma Viridi et coll, Modul Praktikum FisikaDasar, Lab


Fisika dasar ITB , 2009
2. Suparno Satira , Fisika , Pembahasan Terpadu, 2011
3. D C Giancoli , Physics, Principles With Appilications , Prentice Hall IntlEdition
, third ed , 1991

20

Modul 3
Pengukuran indeks bias zat cair
3.1 Tujuan Percobaan
Melalui pelaksanaan modul percobaan ini diharapkan mahasiswa :
- memahami prinsip perambatan sinar melalui media
- memahami hukum Snellius
- mampu mengukur indeks bias zat cair

3.2 Alat-alat yang digunakan


Alat - alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain adalah :
1. Penggaris
2. Rel kedududukan alat optik
3. Layar
4. Bejana / wadah zat cair
5. Zat cair ( air, minyak , gliserin)
6. Busur derajat
7. Sumber sinar Laser
8. Jangka sorong

3.3 Dasar Teori


Suatu berkas cahaya yang melewati perbatasan dua macam media berbedaakan
mengalami peristiwa pemantulan dan pembiasan (pembelokan). Sudutpantul dan
sudut bias cahaya pada perbatasan media sebagaimana ditunjukkandalam gambar
3.1

bergantung

pada

indeks

bias

kedua

media

yangsaling

berbatasan

tersebut.Saling kebergantungan sudut pantul dan sudut bias dinyatakan olehhukum


Snellius, sebagaimana dituliskan pada persamaan 3.1

21

Gambar 3.1.

ndsin d= nbsin b(3.1)


denganndadalah indeks bias media arah datangnya cahaya , dadalahsudut datang
cahaya pada perbatasan media, nbadalah indeks bias mediayang dimasuki cahaya
setelah meninggalkan perbatasan, dan badalah sudutpembiasan cahaya pada saat
meninggalkan perbatasan media.

Indeks bias suatu media merupakan besaran pembanding laju rambatcahaya


terhadap perambatan dalam ruang vakum; artinya :n = c /v.
Apabila sinar datang tepat tegak lurus bidang perbatasan kedua media, maka akan
diperoleh :
sin b=nd/nb

3.4 Tugas Pendahuluan


1. Turunkan hukum Snellius yang ditunjukkan oleh persamaan 3.1 . Apasatuan
(dimensi) indeks bias suatu bahan ?
2. Gambarkan suatu sketsa perjalanan berkas sinar monokromatik yangmelewati
perbatasan udara dan minyak. Diketahui indeks bias udaraadalah 1,0 dan
indeks bias minyak adalah 1,25 dengan sudut datang 37oterhadap normal.
3. Suatu berkas cahaya dari udara menembus pelat gelas yang kedua
permukaannyasejajar dengan sudut datang 30o. Bila diketahui ketebalanpelat
gelas 2 cm dan indeks bias gelas adalah 1,5; tentukanlah pergeserancahaya saat
meninggalkan dari balik pelat gelas tersebut.

22

3.5 Percobaan
1. Ukur tebal dinding bejana, panjang , dan lebar bagian dalam bejana.Lakukan 3
kali pada tempat berbeda.
2. Susun deretan sumber sinar Laser, bejana kosong, dan layar seperti
dalamgambar 3.2.

HATI-HATI SINAR LASER JANGAN SAMPAI MENGENAI MATA !!!

Gambar 3.2.

Skema gambar dilihat dari atasdengan L adalah sinar Laser , S adalah layar , B
adalah bejana , R adalahrel dan d adalah jarak bejana ke layar.
3. Ukurlah jarak bejana ke layar, d (minimal 60 cm). Ketika sinar Laserdinyalakan,
beri tanda dan catat kedudukan bayangan pada layar setelahmelewati bejana
kosong.
4. Isikan zat cair yang akan ditentukan indeks biasnya ke dalam bejana ,tanpa
mengubah kedudukannya.
5.

Apabila

Laser

dinyalakan

mengalamiperubahan.

Amati

kedudukan

bayangan

dan

jarak

ukur

pada

pergeseran

layar

akan

kedudukan

bayanganpada layar.
6. Ulangi kegiatan pada butir 3.5.2 sampai dengan butir 3.5.5 untuk 5 jarakbejana
ke layar yang berbeda.
7. Ulangi kegiatan pada butir 3.5.2 sampai dengan butir 3.5.6 untuk jeniszat cair
berbeda yang disediakan asisten . Jangan lupa , keringkan bejanaterlebih dahulu
pada saat anda mengganti isinya .

23

3.6 Data Pengamatan


1. Ukuran Bejana
Panjang

Lebar

Tinggi

(cm)

(cm)

(cm)

2. Pengukuran bayangan
Zat cair = .
Jarak Layar

Jarak Bayangan

(cm)

(cm)

3.7 Analisis
1. Tentukan indeks bias zat cair terhadap indeks bias udara dari setiap pengukuran
2. Tentukan nilai rata-rata indeks bias bagi masing-masing jenis zat cair .
3. Bandingkan hasil yang diperoleh dengan referensi. Jelaskan?

3.8 Daftar Pustaka


1. Suparno Satira, Fisika Pembahasan Terpadu, 2011
2. Darmawan Djonoputro, B , Teori Ketidakpastian, Penerbit ITB, 1984
3. Robert M. Dixon , Experiments for Introductory Physics I , Kendall HuntPubl,
Dubuque , Iowa , 1990
4. F.W. Sears , M. W. Zemasky , and H. D. Young , University Physics ,Addison Wesley Publ. Co. 1987
24

Modul 4
Difraksi dan Resolusi
4.1 Tujuan Percobaan
Melalui pelaksanaan modul percobaan ini diharapkan mahasiswa :
1. memahami konsep interferensi dan difraksi
2. mampu mengukur resolusi atau daya pisah kisi

4.2 Alat-alat yang digunakan


Alat - alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain adalah :
1. Penggaris
2. Rel kedududukan alat optik
3. Layar
4. Sumber sinar Laser
5. Garis-garis kisi
6. Pelat difraksi

4.3 Dasar Teori


Kisi adalah sejumlah garis-garis sejajar satu sama lain yang ditorehkan padasuatu
film transparan. Setiap garis tersebut berperan sebagai penghalangbagi berkas
sinar, namun demikian pada antara kedua garis tersebut berkassinar dapat lewat.
Jarak antara garis kisi dinyatakan sebagai lebar celah(w). Suatu berkas cahaya
monokromatik yang melewati suatu kisi akanmengalami peristiwa pembelokan
atau difraksi .

Dalam satu celah dipandang terdapat banyak sekali berkas cahaya yangdipandang
sebagai banyak garis lurus yang melewati celah tersebut. Antaraberkas cahaya akan
25

saling berinterferensi karena perbedaan fasanya masing-masing.Hasil interferensi


pada layar akan membentuk pola difraksi yangbergantung lebar celah ini. Skema
susunan komponen dalam eksperimendari suatu berkas sinar yang melewati satu
celah lebar ditunjukkan dalamgambar 4.1 .

Gambar 4.1.

Hubungan antara nilai intensitas terhadap sudut dinyatakan oleh persamaan10.1.

dengan: =

; sin >

9
8
9 8
8

6 78

(4.1)

Sehingga pada kedududukan sin kelipatan dari nilai , w merupakanintensitas


minimum , atau secara matematis dituliskan sebagai :
sin > = ? @

denganm = 0, 1, 2, 3, 4, ...

(4.2)

Dengan anggapan jarak antara kisi ke layar (L) jauh lebih besar darilebar celah (w),
w << L maka sin tan = (OP)/L.
Intensitas gelombang interferensi hasil pembentukan pola difraksi daricelah lebar
w berbeda untuk suatu sudut tertentu.Intensitas gelombangrelatif terhadap
kedudukan pusat bayangan pada layar (titik O) sebagaifungsi dari sin ditunjukkan
oleh gambar 4.2.
26

Gambar 4.2.

4.4 Tugas Pendahuluan


1. Turunkan persamaan 4.1 dan persamaan 4.2
2. Dalam eksperimen, apa arti yang dinyatakan oleh pola gambar 10.2 padalayar ?
3. Suatu berkas cahaya monokromatis dengan panjang gelombang 6.000Angstrom
melewati celah lebar 0,001 mm . Berapa meter jarak dari pusatbayangan (titik
O) kedudukan intensitas maksimum ke 2 pada layar ?

4.5 Percobaan
1. Susun deretan sumber sinar Laser, Kisi difraksi, dan layar seperti dalamgambar
4.3.

27

HATI-HATI SINAR LASER JANGAN SAMPAI MENGENAI MATA !!!

Gambar 4.3.

Skema gambar dilihat dari atasdengan L adalah sinar Laser , S adalah layar , K
adalah Kisi , R adalahrel dan d adalah jarak Kisi ke layar.
2. Sebelum kisi ditempatkan pada relnya, nyalakan sinar Laser , dan beritanda serta
catat kedudukan bayangan pada layar . Amati dan ukur puladiameter berkas
sinar laser yang muncul pada layar.
3. Tempatkan kisi pada rel sesuai gambar 4.3, dan ukurlah jarak kisi kelayar, d
(minimal 60 cm).
4. Apabila Laser dinyalakan akan muncul bintik bayangan pada layar. Amatidan
ukur jarak setiap titik bayangan yang muncul dari kedudukanpusat bayangan
pada layar (titik O) ke arah yang lain.
5. Ulangi kegiatan pada butir 4.5.1 sampai dengan butir 4.5.4 untuk 5 jarakkisi ke
layar yang berbeda.
6. Ulangi kegiatan pada butir 4.5.1 sampai dengan butir 4.5.5 , tetapisekarang
dengan menempatkan bejana yang diisi zat cair antara kisi danlayar .

4.6 Data Pengamatan


berkas laser = mm
d

cm

dbejana- laser

= . Cm

28

1. Percobaan 4.5.1
y 1 (mm)

y 2 (mm)

y 3 (mm)

y 4 (mm)

y 5 (mm)

y 3 (mm)

y 4 (mm)

y 5 (mm)

2. Percobaan 4.5.6
y 1 (mm)

y 2 (mm)

4.7 Analisis
1. Gambarkan pola difraksi setiap pengukuran yang anda lakukan
2. Dari setiap percobaan yang anda lakukan, tentukan panjang gelombangsinar
laser yang anda pergunakan dalam eksperimen ini.
3. Tentukan nilai rata-rata panjang gelombang sinar laser yang anda gunakan.
4. Berikan analisis dari pengamatan anda pada butir 4.5.5.
5. Tentukan jumlah garis per cm dari kisi yang anda pergunakan dalameksperimen
ini.
6. Berikan analisis dari hasil pengamatan anda pada percobaan butir 4.5.6

4.8 Daftar Pustaka


1. Suparno Satira, Fisika Pembahasan Terpadu, 2011
2. Darmawan Djonoputro, B , Teori Ketidakpastian, Penerbit ITB, 1984
3. Robert M. Dixon , Experiments for Introductory Physics I , Kendall HuntPubl,
Dubuque , Iowa , 1990
4. F.W. Sears , M. W. Zemasky , and H. D. Young , University Physics ,Addison Wesley Publ. Co. 1987

29

Modul 5
Metoda Transformasi Data
5.1 Tujuan Percobaan
Melalui pelaksanaan modul percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat :
1.

memahami data primer dan data sekunder pada suatu eksperimen

2.

memahami proses pengolahan data dan transformasi Fourier

5.2 Alat-alat yang Digunakan


Alat alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain adalah :
1.

Satu set DAQ ELKAFI

5. Kabel-kabel penghubung

2.

Signal Generator

6. 1 unit komputer

3.

Microphone

4.

Speaker

5.3 Teori Dasar


Sistem Akuisisi Data
Sistim akuisisi data dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang berfungsi
untuk

mengambil,

mengumpulkan

dan

menyiapkan

data,

hingga

memprosesnya untuk menghasilkan data yang dikehendaki. Suatu sistem


akuisisi data pada umumnya dibentuk sedemikian rupa sehingga sistem
tersebut berfungsi untuk mengambil , mengumpulkan dan menyimpan data
dalam bentuk siap yang siap untuk diproses lebih lanjut. Jenis serta metode
yang dipilih pada umumnya bertujuan untuk menyederhanakan setiap langkah
yang dilaksanakan pada keseluruhan proses.

30

Pada mulanya proses pengolahan data lebih banyak dilakukan secara manual
oleh manusia. Sehingga pada saat itu perubahan besaran fisis dibuat kebesaran
yang langsung bisa diamati panca indra manusia. Selanjutnya dengan
kemampuan teknologi pada bidang elektrikal besaran fisis yang diukur sebagai
data dikonversikan kebentuk sinyal listrik, data kemudian ditampilkan
kedalam bentuk simpangan jarum, pendaran cahaya pada layar monitor,
rekorder xy dan lain-lain.

Pada eksperimen dalam semester 1, telah dilakukan pengukuran dan


pengolahan data secara semi otomatis.Besaran fisika yang diukur dilakukan
pencacahan menggunakan alat elektronika yang disebut Analog to Digital
Converter (ADC) dan data yang diperoleh disimpan berupa data elektronik.
[Lihat dan pahami Modul 2 Sistem Akuisisi Data]!!!!

Sistem akuisisi data berkembang pesat sejalan dengan kemajuan dibidang


teknologi digital dan komputer. Pada saat ini, akuisisi data menkonversikan
besaran fisis sumber data ke bentuk sinyal digital dan diolah oleh suatu
computer. Pengolahan dan pengontrolan proses oleh komputer memunkinkan
penerapan akuisisi data dengan software. Software memberikan harapan
proses akuisisi data bisa divariasi dengan mudah sesuai kebutuhan.

Rangkaian percobaan akuisisi data untuk data frekuensi


Pada percobaan ini, besar yang diidentifikasi adalah frekuensi gelombang
bunyi dari suatu sumber bunyi. Sinyal inputan dari suatu signal generator
dengan output berupa suara dari speaker yang dideteksi oleh mikrofon
kemudian tersebut masuk ke dalam alat DAQ ELKAFI untuk dikonversi ke
data digital dan masuk ke dalam komputer berupa data nilai desimal. Adapun
rangkaian yang disusun untuk percobaan ini dapat dilihat pada gambar 6.1

31

Signal
Generator

Mic
Speaker
Gambar 5.1. Skema percobaan/eksperimen

5.4 Tugas Pendahuluan


Kerjakan di rumah dan serahkan kepada asisten anda SEBELUM praktikum
dimulai.
1. Apa yang dimaksud dengan data primer dan data sekunder ?
2. Apa perbedaan pengambilan data melalui Mode Single Ended dan
Differensial pada alat percobaan yang dipakai?
3. Apa perbedaan dan persamaan antara nilai rata-rata dengan nilai efektif.
Jelaskan menggunakan persamaan matematis.
4. Tuliskan dan jelaskan yang dimaksud dengan deret Fourier dan Integral
Fourier

5.5 Percobaan
A. Kalibrasi DAQ ELKAFI
Pada proses kalibrasi DAQ ELKAFI, kita tidak memakai piranti microphone
dan speaker. Namun, besar frekuensi yang dikeluarkan dari Signal Generator
langsung diidentifikasi alat DAQ ELKAFI. Perlu diperhatikan bahwa frekuensi
dari Signal Generator antara 1 Hz sampai 100 Hz saja. PERHATIKAN :
JANGAN MENCOBA MEMASUKKAN SINYAL DENGAN FREKUENSI
YANG TINGGI (orde KHz)
1. Susun dan rangkailah beberapa alat yang dibutuhkan dalam proses kalibrasi
DAQ ELKAFI seperti Gambar 5.2berikut :
32

Signal
Generator

Gambar 5.2

2. Sebelum tombol CONNECTED pada software dinyalakan, pastikan semua


koneksi sudah terhubung.
3. Setelah dihubungkan dan CONNECTED, ambillah beberapa nilai frekuensi
yang berbeda (20 nilai). Mode inputan yang dipakai yaitu mode differensial
1 seperti pada Praktikum Semester 1(Set rentang waktu 0,01 sekon)
4. Simpanlah data yang diambil ke dalam format Excel.

B. Eksperimen
Pada eksperimen/percobaan ini kita menggunakan speaker media gelombang
bunyi dan microphone sebagai media sensornya.
1. Susunlah beberapa alat percobaan seperti pada Gambar 5.2.
2. Sebelum tombol CONNECTED pada software dinyalakan, pastikan semua
koneksi sudah terhubung.
3. Setelah dihubungkan dan CONNECTED, ambillah beberapa nilai frekuensi
yang berbeda (20 nilai). Mode inputan yang dipakai yaitu mode differensial
1 seperti pada Gambar 5.2 .(Set rentang waktu 0,01 sekon)
4. Simpanlah data yang diambil ke dalam format Excel.
33

5.6 Tugas Laporan


1. Gambarkan secara teliti hasil pengukuran anda untuk satu perioda saja
2. Tentukan nilai tegangan output yang diperoleh dengan mengkonversi nilai
ADC desimal data yang diperoleh menjadi suatu tegangan outputnya
3. Buatlah kurva kalibrasi antara frekuensi sumber dengan tegangan output
yang diperoleh dan tentukanlah fungsi transfernya.
4. Tentukan nilai tegangan output yang diperoleh dari hasil eksperimen
dengan mengkonversi data nilai ADC desimal yang diperoleh menjadi
suatu tegangan output.
5. Buat pula kurva frekeunsi vs tegangan output dan tentukanlah fungsi
transfernya.

5.7 Daftar Pustaka


1. Tim Lab.Elektronika Fisika ITB, Manual User Guide DAQ 8 Channel, Fisika
ITB , Bandung ,2003
2. Abu Hasan, Sistem Akuisisi Data, Teknik Elektro ITB, Bandung, 1999

34

Modul 6
Sifat Lensa dan Cacat Bayangan
6.1 Tujuan Percobaan
Modul ini bertujuan agar mahasiswa dapat :
1. Menentukan jarak fokus lensa cembung
2. Menentukan jarak fikus lensa cekung
3. Mengenal berbagai cacat bayangan

6.2 Alat-alat yang digunakan


1. Lensa konvergen kuat (tanda ++)
2. Lensa konvergen (tanda +)
3. Lensa divergen (tanda -)
4. Benda berupa anak panah
5. Lampu pijar untuk benda
6. Layar untuk menangkap bayangan
7. Diafragma
8. Bangku optik
9. Kabel-kabel penghubung dan sumber tegangan listrik

6.3 Teori Dasar


A. Lensa
Lensa adalah sistem optik yang dibatasi oleh dua atau lebih permukaan
pembias yang mempunyai sumber persekutuan. Bila dibatasi oleh dua
permukaan pembias maka disebut lensa sederhana, sedangkan bila dibatasi
oleh lebih dari dua permukaan bias disebut lensa susun. Permukaan pembias
dapat berupa permukaan cekung (lensa cekung/negatif/divergen), dapat juga
berupa permukaan cembung (lensa cembung/positif/konvergen). Diagram
penampang untuk bentuk stadar dari lensa sederhana dapat digambarkan
sebagai berikut:
35

Gambar 6.1 Penampang macam-macam lensa


Persoalan umum pembiasan pada lensa dapat diselesaikan dengan
menerapkan cara pembiasan pada setiap permukaan secara berurutan.

Dalam sistem pembiasan permukaan sferis biasanya ada dua titik yang
menjadi perhatian, yaiut titik fokus dan titik utama. Kedua titik terebut dapat
ditentukan dengan peninjauan dalam hal-hal khusus. Titik fokus permukaan
pembias pertama F dapat ditentukan dengan menganggap bahwa bayangan
oleh permukaan pembias kedua terletak di tak hingga ( s2 = ).

Gambar 6.2 Titik fokus 1

Bidang datar yang melalui F dan tegak lurus sumbu lensa disebut bidang
fokus pertama. Titik fokus permukaan pembias kedua F dapat dicari dengan
menganggap benda-benda terletak jauh sekali (s = ) dan bidang datar
melalui F serta tegak lurus terhadap sumbu lensa disebut bidang fokus kedua

36

Gambar 6.3 Titik fokus 2

Berkas cahaya divergen dari titik fokus F mengalami deviasi pada kedua
permukaan dan bila sinar datang serta sinar yang telah dideviasikan kita
proyeksikan ke depan atau belakang, maka akan berpotongan pad suatu titik
yang terletak pada suatu bidang. Bidang ini disebut bidang utama dengan
sumbu lensa disebut titik utama H.

Jarak antara titik fokus dengan bidang utama merupakan titik fokus f.
Untuk sinar-sinar paraksial, maka bidang fokus dengan bidang utamanya
merupakan bidang datar.

Lensa tipis dapat dipandang sebagai lensa kedua bidang utamanya


berimpit pada satu bidang datar melalui pusat optik dan pusat optik ini
berimpit dengan puncak-puncak lensa. Hubungan antara jarak benda s dan
jarak bayangan s adalah
)

+ 6A =
6

(6.1)

Dengan f adalah jarak fokus. Persamaan ini disebut persamaan Gaussian.

Pembesaran lensa M didefinisikan sebagai perbandingan antara tinggi


bayangan h dengan tinggi benda sebenarnya :
B=

CA
C

(6.2)

Dapat dibuktikan juga bahwa :

37

B=

6A
6

(6.3)

Dengan s adalah jarak bayangan terhadap pusat optik dan s adalah jarak
bayangan benda terhadap pusat optik. Dari pers. (6.3), diperoleh :
D=

66A

6E6A

(6.4)

Dengan menggunakan persamaan (6.3) maka persamaan di atas menjadi


6A

D = )EF

(6.5)

B. Susunan Lensa
Pada alat-alat optik banyak digunakan lensa bersusun (lensa susunan)
dengan tujuan meminimumkan cacat bayangan. Untuk lensa susunan yang
tejadi dari dua lensa

tipis dengan fokus masing-masing f dan f dan

dipisahkan dengan jarak t maka jarak lensa susunan adalah :

Gambar 6.4 Susunan dua lensa tipis


)

Bila dua lensa diimpitkan (t=0) maka


)

38

)
)

(6.6)

(6.7)

C. Cacat Bayangan
Rumus lensa yang telah anda kenal sebenarnya hanya berlaku untuk
sinar-sinar paraksial, yaitu sinar yang membentuk sudut kecil dengan sumbu
optik lensa. Bila bukan sinar paraksial maka bayangan yang terjadi pada
umumnya tidak jelas. Ketidakjelasan ini dapat berupa warna atau bentuk
bayangan berbeda dengan bentuk aslinya. Gejala ini disebut cacat
bayangan atau aberasi. Ada beberapa jenis cacat bayangan, antara lain
aberasi khromatis, aberasi sferis, distorsi dan astigmastis.

D. Menentukan jarak fokus lensa konvergen dengan cara


Bessel
Menentukan fokus f untuk lensa konvergen dapat juga dibentuk dengan
mencari dua posisi lensa yang menghasilkan bayangan yang jelas dari
sebuah benda L adalah jarak benda terhadap layar, pada posisi 1 diperoleh
bayangan yang jelas pada layar dan dengan menggeser-geser lensa, pada
posisi 2 diperoleh lagi bayangan yang jelas pada layar.
Bila jarak antara posisi 1 dan 2 adalah Le maka menurut Bessel :
D=

39

!8 (!8G
H!

(6.8)

Posisi 1

Posisi 2

Le

Gambar 6.5 Penentuan jarak fokus dengan cara Bessel

6.4 Tugas Pendahuluan


Kerjakan di rumah dan serahkan kepada asisten anda sebelum praktikum
dimulai
1. Apakah yang dimaksud dengan sinar-sinar istimewa pada lensa?
2. Apa yang dimaksud dengan aberasi khromatis, aberasi sferi, distorsi dan
astigmatisme?
3. Bagaimana sifat bayangan untuk lensa cekung?
4. Bagaimana sifat bayangan untuk lensa cembung?
5. Bagaimana menentukan letak bayangan dari kedua lensa tersebut (cekung
dan cembung)?

6.5 Percobaan
Pada modul ini dilakukan beberapa percobaan antara lain:

1. Lensa Konvergen
(1) Ukurlah tinggi (panjang) anak panah yang dipakai sebagai benda
(2) Susunlah sistem optik berurutan sebagai berikut:
40

a. Benda dengan lampu di belakang


b. Lensa konvergen (tanda+)
c. Layar
(3) Ambillah jarak benda ke layar lebih besar dari satu meter
(4) Ukurlah dan catatlah jarak benda ke layar (L)
(5) Geser-geserkan lensa hingga didapat bayangan yang jelas pada layar
(6) Catatlah kedudukan lensa dan ukur tinggi bayangan pada layar
(7) Geserkan lagi kedudukan kensa hingga didapat bayangan jelas yang lain
(jarak benda ke layar L jangan diubah) dan ukur lagi jarak bayangan.
(8) Ulangi percobaan no 6.5.1.3 s/d 6.5.1.7 beberapa kali (ditentukan asisten)
dengan harga L yang berlainan.
(9) Ulangi percobaan no 6.5.1.2 s/d 6.5.1.8 untuk lensa konvergen kuat (++)

2. Lensa Divergen
(1) Untuk menentukan jarak fokus lensa negatif buatlah bayangan dari anak
panah yang jelas pada layar dengan lensa positif
(2) Letakkan lensa negatif antara lensa positif dan layar. Ukurlah jarak negatif
ke layar.
(3) Geserkan layar sehingga terbentuk bayangan yang jelas pada layar.
Ukurlah jarak lensa negatif ke layar.
(4) Ulangi percobaan 6.5.2.1 s/d 6.5.2.4 beberapa kali (ditentukan oleh
asisten)

3. Lensa Gabungan
(1) Untuk menentukan jarak fokus susunan lensa, rapatkan lensa konvergen
kuat (tanda ++) dan lensa konvergen (tanda +) serapat mungkin
(2) Gunakan cara Bessel (Gambar 6.5) untuk menentukan jarak fokus susunan
lensa

4. Cacat Bayangan
(1) Untuk mengamati aberasi khromatik gunakan lensa positif kuat (tanda ++)
dan lampu pijar sebagai benda. Geser-geserkan layar, sedikit saja, amati
dan catat keadaan bayangan tiap-tiap kedudukan layar.
41

(2) Pasang diafragma di depan lampu pijar. Ulangi percobaan 6.5.4.1 dan catat
apa saja yang terjadi pada bayangan dari lampu
(3) Ulangi 6.5.4.2 dengan menggunakan diafragma berlainan
(4) Untuk mengamati astigmatisme letakkan (bidang) lensa miring terhadap
sumbu sistem benda dan layar. Letakkan kaca baur (benda) di depan
lampu. Geser-geserkan layar dan amatilah bayangan dari benda
(5) Kemudian letakkan diafragma di depan benda (kaca baur) dan gesergesrkan layar. Catat perubahan apa yang terjadi pada bayangan

6.6 Data Pengamatan


1. Lensa Konvergen
Jenis Lensa

Jarak Lensa

Bayangan 1

Bayangan 2

Konvergen

(cm)

(cm)

(cm)

Jenis Lensa

Jarak Lensa

Bayangan 1

Bayangan 2

Divergen

(cm)

(cm)

(cm)

2. Lensa Divergen

3. Lensa Gabungan
Jarak L = .................. mm

Jarak Le = ........................... mm
42

6.7 Tugas Laporan


1. Tentukan jarak fokus lensa konvergen (+) dan lensa konvergen kuat (++)
dengan menggunakan pers (6.1) dan (6.5). Perbesaran yang digunakan
adalah perbesaran dari tinggi benda.
2. Tentukan jarak fokus lensa divergen (-) dengan menggunakan (6.1) dan
(6.5).
3. Tentukan jarak fokus lensa gabungan dengan persamaan (6.6)
4. Menurut anda, di antara jarak fokus yang dihitung dengan persamaan (6.1)
dan (6.5), manakah yang mendekati nilai sebenarnya? Berikan alasannya.
5. Bandingkanlah jarak fokus yang didapat dengan menggunakan pers (6.8)
dan (6.5)
6. Cacat bayangan apa saja yang anda amati dalam percobaan ini

6.8 Daftar Pustaka


1. Rahmat Hidayat, Sparisoma Viridi et coll, Modul Praktikum Fisika Dasar,
Lab Fisika Dasar ITB, 2009
2. D C Giancoli, Physics, Principes With Applications, Prentice Hall Intl
Edition, third ed, 1991

43