Anda di halaman 1dari 22

1

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rusa merupakan salah satu alternatif sebagai hewan yang mempunyai potensi untuk
ditingkatkan statusnya mengingat ketersediaannya yang meluas hampir di setiap
pulau di Indonesia dan rendahnya kandungan lemak dalam venison (dagingnya) serta
keunggulan lain berupa hasil ikutan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Peternakan rusa telah dikenal dan berkembang semenjak lama di luar negeri, terutama
di daerah-daerah sub-tropis seperti Australia, New Zealand, Cina, Amerika dan lainlain. Penelitian yang dilakukan di New Zealand menunjukkan bahwa, peternakan rusa
di negara tersebut menjadi penyumbang devisa terbesar dibandingkan dengan
peternakan sapi potong, sapi perah dan domba (Subekti, 1995 dan Aliambar 2000).
Sebenarnya pengembangan rusa di Indonesia sampai saat ini masih menimbul kan
perdebatan. Kelompok pertama menganggap rusa termasuk golongan satwa langka
yang harus dilindungi, sehingga apabila dilakukan pengembangan secara komersial
akan menyebabkan kepunahan. Kelompok kedua, justru menganggap rusa merupakan
hewan dengan nilai ekonomi yang tinggi, sehingga perlu dikembangkan secara
komersial untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kelompok ini berdalih,
pengembangan secara komersial justru dapat menjaga rusa dari kepunahan.
Untuk memperoleh solusi optimal dalam pengembangan budidaya rusa perlu
dipertimbangkan daya dukung dan tetap memperhatikan pengembangan untuk tujuan
konservasi. Pengembangan komoditas baru tentu harus disesuaikan faktor-faktor
fisiologi, biofisik dan sosial ekonomi yang merupakan sumber keunggulan wilayah

Saat ini keberadaan rusa sambar semakin terancam. Hal tersebut dikarenakan semakin
luasnya pembukaan kawasan hutan menjadi non-hutan yang menyebabkan
habitat rusa sambar semakin terdesak, selain itu perburuan liar yang terus
berlangsung semakin mempercepat penurunan populasi rusa sambar di habitat
alaminya. Dalam upaya untuk mengurangi tekanan-tekanan terhadap kehidupan rusa
sambar di alam, terutama akibat perburuan liar maka perlu ditingkatkan kegiatankegiatan konservasi ex-situ yang salah satu diantaranya melalui kegiatan penangkaran
rusa sambar.
Seperti dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati Dan Ekosistemnya menyebutkan bahwa pemanfaatan hidupan liar
dimungkinkan dilakukan baik dalam bentuk pengkajian, penelitian dan
pengembangan, penangkaran, perburuan, perdagangan, peragaan, pertukaran,
budidaya tanaman obat-obatan atau pemeliharaan untuk kesenangan. Penangkaran
Rusa merupakan awal dari usaha pemanfaatan secara menyeluruh, sebelum
berkembang lebih lanjut ke arah peternakan.
Di masyarakat umum sumber daging masih terbatas dari ternak-ternak konvensional
misalnya sapi, kerbau, kambing, domba dan unggas. Padahal Indonesia mempunyai
potensi sumber daging yang sangat besar yang belum dikembangkan secara komersil,
diantaranya adalah Rusa Sambar. Saat ini daging rusa banyak diminati
olehmasyarakat. Sedangkan satu-satunya institusi yang bertugas untuk melaksanakan
penangkaran rusa sambar yaitu UPTD Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur
di Api-api sampai saat ini belum memanfaatkan daging rusa sebagai sumber protein
hewani.Sehingga pasokan daging rusa yang ada di masyarakat berasal dari kegiatan
perburuan liar. Untuk itu perlu adanya informasi tentang prospek pengembangan rusa
sambar dan potensi yang ada di dalamnya, sehingga diaharapkan banyak pihak yang
tergerak untuk menyelamatkan rusa sambar dari kepunahan melalui kegiatan
pemanfaatan secara lestari.

B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Mengetahui mengenai budidaya serta manajemen pemeliharaan rusa
Sambar

II. ISI

1.

Asal-Usul Ternak Rusa

Jenis rusa yang asli Indonesia ini, bersama anggota genus Muntiacus lainnya,
dipercaya sebagai jenis rusa tertua. Kijang berasal dari Dunia Lama dan telah ada
sejak 15 35 juta tahun yang silam.
Rusa jantan mempunyai ranggah (tanduk) yang pendek, tidak melebihi setengah dari
panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar. Kijang atau
menjangan (Muntiacus muntjak) merupakan binatang soliter. Kijang jantan menandai
wilayahnya dengan menggosokkan kelenjar frontal preorbital yang terdapat di kepala
mereka di tanah dan pepohonan. Selain itu kijang jantan juga menggoreskan kuku ke
tanah atau menggores kulit pohon dengan gigi sebagai penanda kawasan. Jenis rusa
asli Indonesia ini biasanya aktif di malam hari meskipun sering kali tetap melakukan
aktifitas di siang hari. Makanan utamanya adalah daun-daun muda, rumput, buah, dan
akar tanaman. Kijang merupakan binatang poligami. Jenis rusa ini tidak memiliki
musim kawin tertentu sehingga perkawinan terjadi sepanjang tahun. Kijang betina
dapat melahirkan sepanjang tahun dengan usia kehamilan berkisar 6-7 bulan. Dalam
sekali masa kehamilan, kijang melahirkan 1-2 ekor anak.
Berikut merupakan klasifikasi rusa Sambar
Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Mammalia

Ordo:

Artiodactyla

Upaordo:

Ruminantia

Famili:

Cervidae

Upafamili:

Cervinae

Genus:

Cervus

Spesies:

C. unicolor

2.

Jenis-Jenis Ternak Rusa

1.

Rusa sambar

Rusa sambar (disebut juga rusa sambur, sambhur, Tamil: Kadaththi man), adalah
jenis rusa besar yang umum berhabitat di Asia. Spesies yang umum memiliki ciri
khas tubuh yang besar dengan warna bulu kecoklatan. Sambar dapat tumbuh setinggi
102 cm - 160 cm sampai bahu dengan berat sekitar 546 kg. Sambar umumnya
berhabitat di hutan dan bergantung pada tanaman semak atau rerumputan. Mereka
umumnya hidup dalam kelompok dengan anggota 5 - 6 anggota banyak terdapat di
Pulau Sumatera danKalimantan di Indonesia.

2.

Rusa bawean

Rusa bawean (Axis kuhlii) adalah sejenis rusa yang saat ini hanya ditemukan di
Pulau Bawean di tengah Laut Jawa, Secara administratif pulau ini termasuk dalam
Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
3.

Cervus timorensis

Jenis Cervus timorensis, memiliki bulu coklat dengan warna bagian bawah perut dan
ekor berwarna putih. Hewan jantan relatif lebih besar dibandingkan dengan
betinanya. Tinggi badannya antara 91-102 cm dengan berat badan 103-155 kg, lebih
kecil bila dibandingkan dengan Sambar (Cervus unicolor). Rusa jantan mempunyai
tanduk yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan umur 8
bulan. Setelah dewasa, ranggah menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya
3 ujung runcing.
4.

Kijang atau muncak

Kijang atau muncak adalah kerabat rusa yang tergabung dalam genus Muntiacus.
Kijang berasal dari Dunia Lama dan dianggap sebagai jenis rusa tertua, telah ada
sejak 15-35 juta tahun yang lalu, dengan sisa-sisa dari masa Miosen ditemukan
di Perancis dan Jerman.
Kijang tidak mengenal musim kawin dan dapat kawin kapan saja, namun perilaku
musim kawin muncul bila kijang dibawa ke daerah beriklim sedang. Jantannya
memiliki tandukpendek yang dapat tumbuh bila patah.
5.

Rusa totol

Rusa totol (Axis axis) merupakan hewan herbivora yang menyukai segala jenis
tumbuhan terutama rumput dan dedaunan. Rusa totol dewasa (pubertas) pada umur
10-15 bulan (rusa betina) dan pada jantan pada umur 12-16 bulan (pada jantan).
Seekor rusa betina akan bunting selama 234 hari, dan mempunyai jarak antar
kelahiran sekitar 275 hari. Usia rusa yang menjadi ikon Istana Bogor ini berkisar
antara 20-30 tahun.
3.

Sistem Perkawinan Ternak Rusa

Reproduksi adalah suatu proses biologi yang terjadi antara jantan dan betina
dengan tujuan membentuk satu individu baru di dalam kehidupannya. Perbandingan
yang ideal di dalam suatu penangkaran adalah 1 : 4 atau 5 yaitu 1 individu jantan dan
4 atau 5betina. Berahi menandakan bahwa betina telah mengalami dewasa kelamin
dan bersediamenerima pejantan dalam perkawinan. Tanda-tanda berahi pada betina
adalah nafsumakan berkurang, tidak tenang, berdiri tenang apabila dinaiki pejantan
atau sesamabetina, sering kencing, mencium dan menjilat alat kelamin
jantan, vulva (alat kelaminbetina paling luar) terlihat membengkak, merah, dan
apabila dipegang terasa hangat.Tanda-tanda berahi pada jantan adalah sering
meraung, berkubang, menancapkan ranggah ke tanah atau pohon, bahkan sering
mencium dan membaui urine yang dikeluarkan rusa betina sambil menjulurkan lidah.
Lama berahi pada rusa diamati mulai dari permulaan timbulnya keinginan untuk
kawin hingga saat terakhir yakni 2,25 hari dengan siklusberahi 20,25 hari.
Pubertas atau dewasa kelamin pada jantan ditandai oleh kesanggupan
berkopulasi(kawin) dan menghasilkan sperma, serta perubahan-perubahan kelamin
sekunder lain.Pubertas pada betina ditandai oleh terjadinya estrus, ovulasi, dapat
bereproduksi ataumenghasilkan keturunan walau belum mencapai ukuran bobot
badan dewasa, pubertaspada rusa jantan 8 bulan dan betina 8,13 bulan. Perkawinan
pertama pada rusa timor betina dara dilakukan beberapa bulan setelah mencapai
dewasa kelamin (pubertas). Apabila perkawinan dilakukan pada saat pubertas, induk
akan sulit melahirkan bahkan anak yang dilahirkan cenderung lemah, kurang sehat,
bobot lahir rendah, dan pertumbuhan induk akan kerdil karena organorgan reproduksi
belum berkembang secara sempurna. Umur yang tepat untuk mengawinkan betina
dara pada rusa timor adalah 15,25 bulan dan jantan 12,67 bulan.
Rata-rata lama kawin 2,33 detik dengan frekuensi kawin 2,14 kali/hari. Permulaan
pembuahan pada rusa sulit diketahui, sehingga yang dijadikan tolok ukur dalam
menentukan kebuntingan adalah perilaku setelah terjadi perkawinan dimana terlihat
rusa betina lebih tenang, perut sebelah kanan membesar, susu (ambing) menurun, dan
selalu menolak atau menghindar apabila didekati pejantan. Rata-rata lama bunting

pada rusa timor 8,38 bulan dan umur kebuntingan pertama 17,00 bulan. Aktivitas
kelahiran (partus) pada rusa sama seperti halnya mamalia lainnya, terdiri dari tiga
tahap yakni kontraksiuterus, pengeluaran anak (foetus), dan pengeluaran placenta.
Rusa timor termasuk golongan beranak tunggal dan rata-rata umur beranak pertama
25,50 bulan dengan interval kelahiran pertama dan kedua 13,25 bulan.
4.

Manajemen dan Penangkaran Ternak Rusa

Penangkaran rusa timor tersebut menggunakan lahan seluas 7,0 ha yang terdiri
dari: Sistem semi terkurung, dilakukan dalam bentuk mini ranch dengan cara
memeliharapada areal yang luas ( 1,0 ha), dipagari, dan rusa dibiarkan merumput
sendiri tetapikadang-kadang pakan disuplai dari luar apabila pakan di dalam areal
tidak mencukupi.Sistem bebas (ranch) adalah sistem penangkaran rusa yang
dilakukan secara ekstensifdalam areal yang luas dan berpagar ( 1,0 5,0 ha atau
tergantung ketersediaan lahan dan tujuan penangkaran). Rusa dibiarkan merumput
secara alami tanpa campur tangan manusia kecuali mengontrol dan mengatur daya
dukung.
Pemeliharaan rusa dengan sistem ranch dan mini ranch sebaiknya
memenuhikebutuhan hidup seperti habitat alamnya. Oleh sebab itu, habitat buatan
dalam kandang penangkaran yang berpagar keliling dapat dilengkapi dengan
areal pepohonan dan bersemak, sumber air, tempat pakan dan lapangan perumputan.
Areal berpohon sangat bermanfaat untuk berlindung dan tempat tidur, sedangkan
areal bersemak dapat dijadikan tempat istirahat, pengasuhan anak dan kebutuhan
biologis lainnya. Jenis-jenis pohon yang ditanam mempunyai tajuk yang cukup
rindang sebagai peneduh, seperti: beringin, sawo, mangga, lengkeng, dan berbagai
jenis tanaman hutan lainnya. Beberapa jenis pohon sering dimakan kulitnya oleh rusa.
Oleh sebab itu, pemagaran beberapa jenis pohon perlu dilakukan apabila dikuatirkan
cepat rusak atau mati karena dimakan kulitnya oleh rusa.
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam penetapan lokasi
penangkaran rusa, antara lain berada di luar kawasan suaka alam; terletak di tempat
yang tenang; aman dari gangguan; mudah dicapai atau ditempuh pada musim hujan

dan musimkemarau; tersedia air yang banyak sepanjang tahun untuk keperluan
minum,
1. Kandang
Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung dari hujan, panas, dan predator;
tempat berteduh, beristirahat, berkembangbiak, makan dan minum; perawatan bagi
yang sakit; dan untuk memudahkan dalam pengontrolan. Bahan kandang yang
digunakan terdiri dari kayu, paku, besi, kawat harmonika atau ram, batako, semen,
dan pasir. Tiang-tiang beton dibangun di atas pondasi dengan ukuran kandang untuk
satu individu rusa dewasa adalah 2,0 m. Kandang rusa diberi pintu, agar mudah
dalam penanganan untuk pemberian pakan, penangkapan untuk penimbangan,
pengukuran, pemberian tanda, pemeriksaan kesehatan, atau pemberian perlakuan.
Drainase pada lantai kandang dibuat agak miring dan diusahakan agar tidak becek;
kandang rusa sebaiknya disekat sesuai dengan status fisiologis.
Kandang rusa terdiri dari berbagai bentuk tergantung kegunaannya, antara
lainbangunan peneduh. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat berteduh
karena mempunyai atap dan dinding sehingga terhindar dari terpaan air hujan.
Bangunan ini sangat diperlukan dalam penangkaran rusa yang menganut sistem
terkurung (kandang). Atap bangunan terdiri dari genteng, alang-alang atau rumbia,
sedang dindingnya dari tembok dengan tinggi minimal 50 cm. Bangunan berukuran 1
m untuk satu individu rusa dewasa. Penangkaran rusa yang menggunakan sistem
bebas (ranch), dapat menggunakan pohon-pohon yang rindang atau semak belukar.
- Kandang pembiakan (kandang tertutup yang berukuran 6 x 2 m2 dan disekat
menjaditiga ruang yakni untuk kandang kawin (2 x 3 m2), kandang melahirkan dan
menyusui (2 x 1,5 m2) dan kandang sapih anak (2 x 1,5 m2),
- Kandang individu dan penelitian (masing-masing berukuran 2 x 2 m),
- Kandang transit (kandang terbuka seluas 560 m2 untuk menampung rusa
yang baru datang),
- Kandang pembesaran seluas 288 m2 yang dibagi menjadi empat sub unit
masingmasing seluas 72 m2 untuk seleksi pasangan, pembesaran anak dan
pelatihan(exercise) bagi salah satu pasangan untuk menyegarkan kondisi tubuh dari

10

kandangpembiakan, serta isolasi untuk kasus tertentu. Kandang ini biasanya


disebut yard dan sebaiknya berbentuk bulat atau melingkar yang digunakan untuk
perawatan rusa, dan tempat bagi rusa yang sedang bunting atau melahirkan. Dinding
kandang yard terbuat dari papan yang kuat dengan tinggi minimum 2,0 m, dan
tertutup rapat agar rusa mudah diberi perlakuan tanpa menimbulkan kepanikan atau
stres. Kandang berbentuk bulat agar rusa lebih mudah diberi perlakuan karena rusa
akan berada di bagian tengah kandang. Namun apabila kandang berbentuk persegi,
rusa cenderung lebih senang berada di sudut-sudut sehingga sulit untuk
memberi perlakuan. Lantai kandang terdiri dari lantai kasar ataupaving block.
- Kandang pedok atau mini ranch (kandang pemeliharaan terbuka ukuran 38 x 38
m2),pengolahan limbah (untuk mengolah dan memanfaatkan limbah pakan dan
kotoran rusa, terdiri dari 2 buah masing-masing berukuran 4 x 2 x 1 m3 dan 2 x 2 x 1
m3),
- Gudang pakan (bangunan permanen berukuran 8 x 6 m2 yang digunakan
sebagaigudang pakan, obat-obatan dan peralatan penangkaran),
- Pusat informasi (bangunan permanen berukuran 10 x 6 m untuk pusat data
daninformasi penangkaran rusa serta kegiatan administrasi dan pelatihan).
2. Pagar
Pagar dibuat mengelilingi areal penangkaran dan bahannya adalah tiang pagar
(besi, beton, atau pohon hidup), dan kawat (harmonika atau ram, kawat duri). Tinggi
tiangpagar minimum 2,5 m dari permukaan tanah, ditanam 50 75 cm dengan
pondasi beton dan ujung bagian atas dibengkokkan sepanjang 0,5 m dan diberi kawat
duri sebanyak 3 4 baris. Jarak antar tiang pagar maksimal 2,0 m. Tiang pagar
yang berasal dari pohon hidup, ditanam di sekitar pagar setinggi 2,5 m dari
permukaan tanah dengan diameter batang minimum 10 cm dan ditanam 50 75 cm.
Pohon hidup ditanam di antara tiang besi siku, untuk membantu penguatan
pagar. Pemagaran pohon dilakukan setinggi 1-2 meter menggunakan bahan bambu,
kayu atau kawat harmonika. Apabila peneduh alami dianggap kurang, peneduh
buatan (shelter) dapat dibuat dengan ukuran setinggi 2 meter dari bahan yang tidak

11

mudah rusak dengan jumlah dan penempatan peneduh yang terpisah sesuai
kebutuhan.
3. Areal pengembangan pakan
Areal pengembangan pakan merupakan salah satu sarana yang sangat penting
didalam penangkaran karena produktivitas dan perkembangbiakan rusa
sangat tergantung oleh pakan. Oleh karena itu perlu dikelola secara intensif untuk
menjaga kualitas dan kuantitas jenis pakan. Jenis pakan yang ditanam disesuaikan
dengan jenis-jenis yang disukai rusa, tahan terhadap kekeringan yang terdiri dari jenis
rumput (poaceae) danleguminosae. Pakan rusa berupa hijauan, baik jenis rumput,
rambatan maupun dedaunan, dan pakan tambahan (konsentrat). Pakan hijauan rumput
antara lain rumput gajah, rumput raja, rumput setaria, sorghum, dan rumput lapangan
seperti kolonjono, rumput pait,aawian, gewor, bayondah, dan padi-padian. Pakan
hijauan rambatan dan dedaunan,antara lain mikania, kangkung, daun ubi, daun
kacang, kaliandra, daun jagung, daunnangka, daun jati, daun lamtoro, daun turi, daun
beringin, daun Acacia l., daunmangkokan, daun nampong, dan daun gamal. Jenis
pakan tambahan berupa dedak, kulit kacang, bungkil kelapa, kulit pisang, ubi, jagung
dan kulitnya, wortel, pellet ternak Selain itu, diberikan pula vitamin organik, obatobatan, dan pupuk organik. Pengadaan bahan tersebut digunakan untuk memacu
pertumbuhan dan reproduksi rusa. Pakan diberikan 2 atau 3 kali sehari, terutama pagi
dan sore hari, dengan rata-rata persentase kebutuhan pakan segar berdasarkan bobot
badan (BB) rusa masing masing sebesar 28,70% - 18,75% (umur kurang dari 12
bulan), kemudian semakin menurun menjadi 19,60% - 13,91% (umur 12 - 24 bulan)
dan 12,32% - 10,93% (umur 2436 bulan). Waktu pemberian pakan terbanyak adalah
pada sore hari
4. Tempat makan
Tempat makan yang biasa digunakan berbentuk palungan berukuran panjang 1,5
2,0 m dan lebar 0,5 m atau berbentuk bulat segi enam berukuran diameter 50 75
cmdengan tinggi 30 cm dari atas permukaan tanah. Bahan yang digunakan terdiri
dari papan, kayu, atau seng polos atau licin. Tempat makan diletakkan di tengah atau
di sudut kandang dan diusahakan setiap kandang terdapat satu buah tempat

12

makan. Tempat pakan harus mudah dijangkau petugas yang memberi pakan,
tetapi penempatannya memungkinkan bagi rusa memakan dari segala arah. Tempat
pakan diberi peneduh untuk menghindari pakan mudah kering karena kepanasan atau
basah karena kehujanan. Apabila jumlah rusa yang ditangkar cukup banyak dalam
satu areal penangkaran, tempat pakan dapat dibuat di beberapa tempat agar tidak
terjadi persaingan makanan antara individu rusa. Ukuran tempat pakan yang
disesuaikan dengan jumlah rusa yang dipelihara. Lantai tempat pakan dapat dibuat
dari semen atau papan. Bentuk tempat pakan yang dibuat panggung akan mengurangi
sisa pakan yang terbuang karena diinjak-injak atau bercampur dengan kotoran
(faeses dan urine).
5. Tempat minum
Rusa memerlukan air untuk minum, dan berkubang sehingga sebaiknya selalu
bersih dan sering diganti. Pada musim kawin, rusa jantan sangat menyenangi air
sebagaitempat berkubang. Tempat minum yang digunakan berbentuk kolam
dilengkapi dengan pembuangan untuk menghindari rusa jantan yang sering menanduk
terutama apabila memasuki musim kawin. Letak tempat minum berada di tengah atau
di sudut kandang dan setiap kandang diusahakan terdapat satu tempat minum.
6. Jalan kontrol
Jalan kontrol berfungsi untuk pengontrolan dan pemberian pakan dengan lebar
jalan 1,5 2,0 m dan sebaiknya terletak di sepanjang pinggiran kandang atau pagar.
7. Saluran air
Air diperlukan untuk mengairi pakan, pemeliharaan kandang dan rusa.
Penangkaran sebaiknya mempunyai bak penampung dan menara air lengkap dengan
generator. Saluran air perlu dibersihkan setiap hari agar tidak tergenang dan
menimbulkan bau yang kurang sedap, serta sebaiknya dibuat agak miring menuju
tempat pembuangan.
8. Gudang dan peralatan
Bangunan ini berfungsi untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan
penangkaran, pemeliharaan pakan (alat-alat pertanian), pakan, dan obat-obatan. Di
samping itu, diperlukan pula sarana dan prasarana pendukung penangkaran berupa

13

sekat harmonika, sekat portable, kandang jepit, instalasi air (sumur, menara air,
tanki air, pipa saluran), instalasi listrik (pemasangan listrik PLN 3.500 VA, tiang dan
kabel, lampu penerangan, gardu meteran), dan pos jaga.
5. Teknik Pemeliharaan Ternak Rusa
A. Pemeliharaan Rusa
Pemeliharaan rusa terdiri dari pengelompokan rusa, penyapihan anak, kesehatan,
dan penandaan atau pemberian nomor (tagging).
1. Pengelompokkan rusa
Rusa dikelompokkan berdasarkan status fisiologi yakni jantan dan betina yang telah
siap kawin, jantan yang belum siap kawin (baru disapih), betina yang belum siap
kawin (baru disapih), betina yang sedang bunting, betina yang melahirkan, dan rusa
yang sakit. Pengelompokan tersebut bermanfaat untuk memudahkan
dalam pemberian pakan sesuai kebutuhan, memudahkan dalam pengaturan
perkawinan, menjaga pejantan agar tidak mengganggu rusa yang lain, keamanan bagi
induk yang bunting dalam proses kelahiran, ketenangan bagi induk yang menyusui
dalam merawat anak, menghindari perkawinan sebelum waktunya, memperoleh
kesempatan makan bagi rusa yang baru disapih, dan memudahkan penanganan bagi
rusa yang sakit
2. Penyapihan rusa
Penyapihan adalah induk betina bersatu dengan anaknya sampai berumur 4
bulan,agar anak rusa mendapat air susu lebih banyak. Penyapihan sebelum berumur
4 bulan, misalnya ditinggal mati oleh induk, diperlukan penambahan air susu dari
luar dengan menggunakan dot atau sendok.
3. Kesehatan
Kesehatan rusa perlu diperhatikan agar produktivitas semakin meningkat.
Kematian dalam penangkaran rusa lebih banyak terjadi pada musim hujan dan
penyakit yang sering menyerang adalah pneumonia (radang paru-paru) karena

14

kandang yang becekdan lembab. Kematian pada rusa dewasa lebih banyak
disebabkan oleh faktor makanan, lingkungan, dan stres akibat penanganan. Upaya
pencegahan dan pemberantasan penyakit pada rusa timor, dilakukan dengan beberapa
cara, antara lain sanitasi lingkungan kandang, pemberian pakan yang memenuhi
standar gizi, memperbaiki teknik penanganan, dan vaksinasi, serta pemberian obat
sesuai jenis penyakit dan anjuran medis.
4. Penandaan (tagging)
Penandaan (tagging) pada rusa merupakan hal penting dalam
manajemenpenangkaran. Penandaan sebaiknya dilakukan sebelum anak rusa disapih
dan tujuannya adalah untuk mengetahui silsilah (pedigree), umur, memudahkan
dalam
pengontrolan, memudahkan dalam pengenalan individu, dan untuk memudahkan
pengaturan perkawinan. Cara pemberian nomor pada rusa timor di penangkaran
B. Pemeliharaan Pagar dan Kandang
Pemeliharaan pagar dan kandang dilakukan secara teratur agar rusa tidak ke
luarkandang karena kerusakan pagar. Kerusakan pagar lebih sering terjadi pada
saat musim kawin karena pada saat itu, ranggahnya gatal sehingga kawat adalah salah
satu sasaran yang ditanduk. Lingkungan dan sanitasi dalam kandang harus tetap
terjaga agar tidak lembab terutama pada saat musim hujan. Pemeliharaan kandang
dilakukan dengan cara pembersihan setiap pagi hari sebelum pemberian pakan
sehingga rusa dapat mengkonsumsi pakan dalam kondisi bersih dan kesehatanpun
terjamin. Pencarian dan pengambilan pakan dilakukan pada kebun pakan yang telah
dikelola dan juga berasal dari lingkungan sekitar HP Dramaga. Alokasi tenaga kerja
yang digunakan untuk pemeliharaan kandang, pencarian, pengambilan dan
pemberian pakan, pengolahan kebun pakan, pengolahan limbah penangkaran dan
lingkungan sekitar serta pengamanan rusa dilakukan selama 24 jam secara bergantian.
C. Pemeliharaan Pakan

15

Pemeliharaan pakan dilakukan agar memperoleh pakan yang baik dan selalu
tersedia secara kontinyu sepanjang musim, dengan cara pembersihan, pengolahan
tanah,pemupukan, pendangiran, dan penyiraman. Pembersihan rumput liar dan
pendangirandilakukan tiga bulan sekali sedang pengolahan tanah dan pemupukan
setahun sekali.
D. Teknik Pemberian Pakan
Pemberian pakan segar pada rusa timor didasarkan pada perhitungan 10% x
bobotbadan x 2. Maksud dikalikan dua yakni diperhitungkan dengan jumlah hijauan
yang tidak dimakan karena sudah tua, tidak disenangi, kotor karena terinjak-injak,
dan telahbercampur dengan urine dan faeces. Pemberian pakan selalu disertai
dengan pemberian garam sebagai perangsang nafsu makan dan untuk memenuhi
kebutuhan mineral. Pemberian pakan dilakukan dengan cara pengaritan dimana
hijauan dipotong 3-5 cm lalu diberikan pada rusa dalam kandang, baik musim hujan
maupun musim kemarau. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 atau 3 kali sehari
(pagi, siang, dan sore) sedang pemberian pakan tambahan berupa dedak padi
diberikan tiga kali dalam seminggu, sebanyak 0,5 kg/individu. Pemberian pakan pada
rusa bunting, harus lebih intensif baik kualitas maupun kuantitas karena peranan
makanan sangat penting untuk pertumbuhan janin di dalam rahim dan juga berguna
untuk mempertahankan kondisi tubuh induk. Sedang pemberian pakan pada anak
rusa, dimulai pada umur dua minggu dengan cara memberikan hijauan muda (pucuk)
yang dipotong kecil-kecil. Selain itu, dilakukan pula pemberian vitamin organik,
obat-obatan, dan pupuk organik untuk memacu pertumbuhan dan reproduksi rusa,
serta mengurangi bau kotoran.

6. Pemanfaatan Ternak Rusa


Dalam mendukung perlindungan dan pemanfaatan rusa sambar secara lestari
makaMenteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan nomor 362/kpts/TN,
120/5/1990 padatanggal 20 Mei 1990 yang isinya diantaranya memasukkan rusa

16

sebagai kelompok anekaternak yang dapat dibudidayakan sebagaimana ternak


lainnya, termasuk juga tentangpengaturan ijin usahanya (Jacoeb, 1994). Dalam hal
pemanfaatannya hampir semua bagian dari rusa dapat dimanfaatkan. Menurut potensi
pemanfaatannya, pemanfaatan rusa sambar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. pemanfaatan langsung, meliputi
- Pemanfaatan Daging
Daging rusa merupakan komonditi yang mempunyai prospek yang baik,
terutamadalam upaya memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Rusa
sambar sebagai penghasil daging mempunyai keunggulan komparatif dibanding
dengan ternak penghasil daging lainnya. Menurut Dradjat (2002) pada tahun 1978
Yerex dan Spiers melaporkan bahwa rusa dapat menkonversi 30 kg bahan kering
menjadi 3 kg daging. Satwa ini sangat efisien dalam menggunakan pakan untuk
diubah menjadi daging, di Selandia Baru penggunaan pakan rusa lebih efektif 4
5 kali dibandingkan dengan ternak domba atau sapi (Jacoeb, 1994). Keunggulan
lain adalah bila dibandingkan dengan daging sapi kadar proteinnya lebih tinggi
dan kadar lemaknya lebih rendah. Kadar protei daging rusa 21,1 % dan daging
sapi adalah 18,8 %, sedangkan kadar lemak daging rusa 7,0 % dan daging sapi 14,0
% (Putri, 2002) dengan kandungan kolesterol 58 mg/100 gram (Semiadi,
2004).Sehingga daging rusa sangat cocok bagi orang yang berpantang terhadap
kolesterol.
- Pemanfaatan Ranggah Tua,
Ranggah tua yang sudah lepas dapat dijadikan bahan baku kerajianan tangansebagai
hiasan dinding, hiasan meja atau diubah menjadi pernak-pernik yang menarik seperti
pipa rokok atau yang lainnya.
- Ranggah muda (velvet)
Ranggah/tanduk muda rusa tumbuh dari substrat tulang rawan yang di bagianluarnya
dibungkus velvet yang banyak mengandung pembuluh darah dan jaringanvaskuler

17

dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat tradisional. Dalam ranggah muda rusa
mengandung mineral yang tinggi dan sekitar 15 jenis asam amino, yaitu: Alanina,
Arginina, Aspartat, Fenilalanina, Glisina, Glutamat, Histidina, I,leuisin, Leusina,
Lisina, Methionona, Serina, Threonina, Tirosina dan Valina. Ranggah muda dapat
dikembangkan menjadi emping yang merupakan irisan tipis ranggah muda yang
dikeringkan, juga sebagai serbuk dalam bentuk kapsul sebagai peningkat vitalitas
tubuh.
- Produk sampingan
Kulit rusa dapat digunakan sebagai bahan baku produk kerajinan dompet
ikatpinggang dan jaket atau sepatu, hal itu dikarenakan kulit rusa sambar kuat dan
lentur. Jerohan rusa mempunyai peluang untuk dijadikan produk lain,
diantaranya dalam bentuk soto babat rusa.
- Pemanfaatan lainnya
Pada lang kah lebih lanjut dalam penangkaran rusa pada akhirnya juga
diharapkandapat menjadi breeding stock atau penghasil pejantan/induk yang
berkualitas untukpengembangan rusa lebih luas.
2. Pemanfaatan secara tidak langsung
Pemeliharaan selain untuk keperluan komersil, rusa telah lama dipelihara
karenapostur tubuh, corak bulunya dan keindahan ranggahnya. Seperti halnya rusa
totol di Istana Kepresidenan Bogor, yang dipelihara karena keindahan bulunya yang
totol-totol putih. Sedangkan rusa sambar menarik dilihat dari postur tubuhnya yang
tinggi dan tegap padat dengan ranggah yang indah pada rusa jantannya. Selain itu
apabila kegiatan penangkaran sudah berjalan dengan baik, sebagai upaya
diversifikasi pemanfaatan dapat dikembangkan menjadi areal wisata berburu rusa
sangat mungkin untuk diwujudkan.

18

7. Penyakit Utama Dalam Usaha Budidaya Rusa (Cervus Spp)


Teknis budidaya ternak rusa sebenarnya hampir sama dengan Teknis Budidaya
ternak Ruminansia Kecil lainnya seperti Kambing dan Domba. Namun dalam
prakteknya, oleh karena sifat liar masih mendominasi maka kita harus mengenal
karakteristiknya terlebih dahulu sehingga akan diperoleh hasil budidaya yang sesuai
dengan tujuan pemeliharaannya.
Beberapa Penyakit Utama Dalam Usaha Budidaya Rusa (Cervus Spp) menurut
(Semiadi, 1998 ; Saragih, 2000 ; Thohari, 2000) antara lain :
1.

Kasus Capture Myophathy sering terjadi di berbagai tempat


penangkaran rusa baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini
disebabkan karena hewan tersebut mudah mengalami stres, dan penanganan
yang dilakukan tidak hati-hati. Sindrom yang kelihatan adalah, kematian
mendadak dan tiba-tiba, tanpa diketahui gejalanya IJl terIebih dulu. Kasus
ini terjadi setelah penangkapan dan pembiusan untuk memindahkan hewanhewan tersebut ke lokasi baru dari habitatnya. Untuk mencegah masalah ini
perIu penanganan yang baik dan hati-hati, karena sampai sekarang belum
ditemukan prosedur yang efektif untuk pengobatan jika telah timbul kasus
(Spraker, 1993 ; Aliambar, 2000).

2.

Rusa seperti ruminansia lainnya, bisa terinfeksi berbagai macam


penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa, ektoparasit dan
endoparasit. Penyakit virus yang sering dilaporkan adalah Malignant
Catarrhal Fever, Blue Tongue, Epizootic Hemorrhagic Disease dan Chronic
Wasting Disease. Kejadian penyakit virus bisa ditularkan dari ternak
domestik seperti sapi dan domba, serta pakan tambahan yang tercemar virus
tersebut (Reenen, 1982 ; Tapscott, 1998).

3.

Penyakit bakteri yang sering dilaporkan adalah : Penyakit Anthrax,


Bruselosis, ParatuberkulosisUon;s Disease, Yersiniosis dan Salmonelosis.
Penyakit -penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut bersifat zoonosis
(Reenen, 1982 ;

4.

Menurut Direktorat Bina Kesehatan Hewan, 1993 ; Akoso, 1996 ;


Tapscott, 1998). Ektoparasit yang cukup berbahaya bagi rusa maupun hewan

19

lainnya, termasuk manusia adalah Tick Paralysis yang disebabkan oleh


gigitan caplak Dermacentor variabilis. Gigitan caplak tersebut bisa
menimbulkan kematian mendadak pada induk semang. Infeksi cacing secara
umum menyebabkan penurunan kondisi hewan yang bersangkutan (Reenen,
1982; Fowler, 1993).
Adanya informasi tentang penyakit yang bisa menginfeksi rusa ini, diharapkan akan
membantu para peternak rusa di Indonesia. Sehingga persiapan dan antisipasi bisa
dilakukan sedini mungkin untuk menghindari resiko penyakit, dalam upaya
mencapai nilai ekonomis yang tinggi pada suatu usaha peternakan.

20

III. KESIMPULAN

Dalam mendukung perlindungan dan pemanfaatan rusa sambar secara lestari maka.
Menteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan nomor 362/kpts/TN, 120/5/1990
padatanggal 20 Mei 1990 yang isinya diantaranya memasukkan rusa sebagai
kelompok aneka ternak yang dapat dibudidayakan sebagaimana ternak lainnya,
termasuk juga tentang pengaturan ijin usahanya (Jacoeb, 1994). Dalam hal
pemanfaatannya hampir semua bagian dari rusa dapat dimanfaatkan. Sehingga ternak
dapat dikelompokkan dalam salah satu komoditas yang sangat ekonomis. Dengan
adanya perkembangan rusa sebagai komoditas aneka ternak diharapkan dapat
memnuhi kebutuhan masyarakat akan permintaan daging dan dapat menanggulangi
terjadinya kepunahan ternak rusa. Namun penggunaan ternak rusak sebagai
komoditas rusa juga harus memperhatikan konservasinya di habitatnya serta menjaga
animal welfare ternak rusa.

21

DAFTAR PUSTAKA

Dradjat, A.S. 2002. Potensi Biologi dan Reproduksi Rusa Sebagai Hewan
Ternak.Seminar Prospek Penangkaran Rusa di Indonesia. Yogyakarta.
Jacoeb, T.N., Wiryosuhanto, S.D. 1994. Prospek Budidaya Ternak Rusa. Penerbit
:Kanisius. Yogyakarta.
Maruf, A., Atmoko, T., Syahbani, I. 2006. Teknologi pengakaran rusa sambar
(Cervusunicolor) di Desa Api-api Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan
Timur.
Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi Teknologi untuk Kelestarian Hutan
danKesejahteraan Masyarakat. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam,
BadanLitbang Departemen Kehutanan.
Sutedja, IGNN., Taufik, M. 1990. Mengenal Lebih Depkat Satwa yang
Dilindungi.Mamalia. Biro Hubungan Masyarakat, Sekretaris Jenderal
Departemen Kehutanan.
Semiadi, G. 1998. Budidaya Rusa Tropika Sebagai Hewan Ternak. Masyarakat
ZoologiIndonesia. Jakarta
Semiadi, G., Nugraha, R.T.P. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. Puslit
BiologiLIPI. Bogor.

22

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi


SumberDaya Alam Hayati D