Anda di halaman 1dari 3

1.

Latar Belakang
Attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD) adalah
gangguan psikiatrik yang paling umum terdiagnosis pada
anak(1). Studi tentang epidemiologi ADHD di seluruh dunia
telah mengungkapkan berbagai tingkat prevalensi yang
bergantung pada beberapa faktor, seperti budaya, etnis,
jenis kelamin, dan usia. Sebuah meta-analisis dari tinjauan
penelitian menunjukkan rata-rata 5.5% dari anak-anak
didiagnosis ADHD, dengan perbandingan laki-laki dan
perempuan 3:1 (2).
Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas dapat
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari anak usia sekolah
sampai remaja, bahkan berlanjut sampai usia dewasa(3).
Anak dengan ADHD menunjukkan ciri gejala utama
aktivitas yang berlebihan (hyperactive), tidak dapat diam,
selalu bergerak, tidak mampu memusatkan perhatian
(inattention) dan menunjukkan impulsivitas(5). Gejala
ADHD dapat dikenali mulai anak usia 2 tahun saat anak
pada umumnya sudah mulai berjalan dan belajar aktifitas
sosial, meskipun diagnosis mantap dapat ditegakkan pada
saat anak berusia diatas tiga tahun(4).
Beberapa penelitian sebelumnya mengenai kedekatan
antara orangtua dan anak (attachment) pada bayi dan
masa kanak-kanak menunjukkan bahwa eksternalisasi
masalah perilaku berhubungan dengan kedekatan orang
tua dan anak yang dirasa tidak aman (insecure
attachment)(11).
Masalah yang dialami oleh anak-anak ADHD ternyata
tidak hanya sebatas perilaku mereka yang inattention,
implusive, dan hyperactive. Anak-anak dengan ADHD usia
pra sekolah juga mengalami keterlambatan dalam
kemampuan
berbahasa
dan
belum
bisa
menginternalisasikan bahasa sehingga mereka tidak bisa
menggunakan instruksi mental atau monitoring diri untuk
mengubah perilakunya(7).
Anak dengan ADHD memiliki prevalensi yang lebih
tinggi terhadap masalah bicara dibandingkan kontrol
setelah disesuaikan dengan sosiodemografi dan komordibiti
(odds ratio, 2.8; 95% confidence interval [CI] 1.5 to 5.1).

Dibandingkan dengan anak dengan ADHD saja, mereka


yang memiliki masalah bahasa memiliki kemampuan lebih
buruk dalam bidang membaca (mean difference [MD],
-11.6; 95% CI 16.4 sampai -6.9; effect size, -0.7),
perhitungan matematika (MD, -11.4; 95% CI, -14.0 sampai
-6.1; effect size, -0.7) (10). Masalah bicara dapat berupa:
kemampuan bahasa yang tertunda, gangguan bahasa
reseptif dan ekspresif, dan ketertinggalan dalam
kemampuan bahasa, yang terakhir (kesulitan pragmatis)
menjadi yang paling representatif dari gangguan bicara(8).

1.2

Perumusan masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, dapat
diuraikan rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1.2.1

1.3

Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas terdapat beberapa
pertanyaan sebagai berikut:

1.4

Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui angka kejadian gangguan bicara pada
ADHD di rumah sakit
1.4.2 Tujuan Khusus

1.5

Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan memberikan pengertian dan
pemahaman mengenai
1.5.2 Manfaat Praktis
A. Manfaat Bagi Peneliti
1. Memenuhi tugas akhir sebagai suatu syarat kelulusan
untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran di Universitas
Yarsi Jakarta.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu
pengetahuan tentang
3. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan ilmu
pengetahuan bagi peneliti untuk mengedukasi pasiennya
untuk
B. Manfaat Bagi Masyarakat

1. Penelitian ini diharapkan dapat


pengetahuan mengenai
C. Manfaat Bagi Ilmu Pengetahuan

memberikan

ilmu