Anda di halaman 1dari 25

Telaah Ilmiah

MIOPIA PATOLOGIS

Oleh:
Ismel Tria Pratiwi, S.Ked

Pembimbing
dr. Hj. Ani, SpM(K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Telaah Ilmiah
Miopia Patologis
Oleh:
Ismel Tria Pratiwi, S.Ked
04054821618029

Referat ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti Kepaniteraan
Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 21 Maret 2016 s.d 25
April 2016.

Palembang, 14 April 2016

dr. Hj. Ani, SpM(K)

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas berkat rahmat dan
karunia-Nya Telaah Ilmiah yang berjudul Miopia Patologis ini dapat diselesaikan
tepat waktu. Telaah Ilmiah ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat ujian
kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada dr. Hj. Ani, SpM(K) atas
bimbingannya sehingga penulisan ini menjadi lebih baik.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan
Telaah Ilmiah ini. Oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan untuk
penulisan yang lebih baik di masa yang akan datang.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN ...............................................................................ii
KATA PENGANTAR ...........................................................................................iii
DAFTAR ISI .........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................2
2.1 Anatomi Mata.............................................................................................2
2.2 Fisiologi Melihat.......................................................................................12
2.3 Miopia Patologis.......................................................................................13
2.3.1 Definisi...........................................................................................13
2.3.2 Epidemiologi..................................................................................14
2.3.3 Etiologi...........................................................................................14
2.3.4 Patofisiologi...................................................................................15
2.3.5 Tanda dan Gejala............................................................................16
2.3.6 Diagnosis........................................................................................17
2.3.7 Diagnosis Banding.........................................................................23
2.3.8 Penatalaksanaan.............................................................................23
2.3.9 Prognosis........................................................................................24
BAB III KESIMPULAN.....................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................26

BAB I
PENDAHULUAN

Miopia atau sering disebut sebagai rabun jauh adalah suatu keadaan anomali
refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di depan retina ketika mata tidak
dalam berakmodasi. Miopia berasal dari bahasa yunani muopia yang memiliki
arti menutup mata.1
Secara klinis miopia dibagi menjadi miopia fisiologi dan miopia patologis.
Miopia patologis ditandai dengan pemanjangan mata progresif yang disertai
dengan penipisan dan atrofi pada koroid dan epitel retina di makula. Miopia
patologis merupakan miopia yang lebih besar dari miopia 8 dioptri atau axial
lenght (AL) lebih dari 32,5 mm.2
Miopia patologis pertama kali diidentifikasi oleh Vn Graefe pada tahun
1864 merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di Amerika Serikat dan jauh
lebih sering lagi di Timur Jauh dan jepang. Miopia patologis merupakan masalah
kesehatan yang penting di dunia seiring dengan penanganan yang kurang efektif
sehingga kebanyakan ahli ophtalmologis beranggapan bahwa penyebabnya tidak
diketahui atau hilang. Sebagai hasilnya, kondisi ini menyebabkan hilangnya
penglihatan dari begitu banyak orang selama bertahun-tahun pada periode
pertengahan kehidupan dan usia tua.3
Maka dari itu pembahasan mengenai miopia patologis ini sangat penting
untuk mengetahui epidemiologi, etiologi, faktor risiko, patofisiologi, tanda dan
gejala, diagnosis, diagnosis banding dan tatalaksananya. Telaah ilmiah ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan informasi dan sumber bacaan
terkait miopia patologis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Mata
2.1.1 Palpebra
Kelopak mata (palpebra) superior dan inferior adalah modifikasi lipatan
kulit yang dapat menutupi dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip

dapat membantu menyebarkan tear film yang dapat melindungi kornea dan
konjungtiva dari dehidrasi.
Kelopak mata terdiri atas 5 lapisan penting. Dari superfisial ke dalam, terdiri
atas lapisan kulit, lapisan otot (orbicularis oculi), jaringan areolar, jaringan
fibrous (tarsal plate), dan lapisan membran mukus (konjungtiva palpebra).
Kelopak memiliki lapis kulit yang tipis pada bagian depan, sedang pada
bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.
Pada kelopak mata terdapat beberapa kelenjar, seperti kelenjar sebasea, kelenjar
moll atau kelenjar keringat, kelenjar Zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar
2.1.2

Meibom pada tarsus


Aparatus Lakrimalis
Kompleks lakrimalis terdiri atas kelenjar lakrimal, kelenjar lakrimal
aksesorius, kanalikuli, saccus lakrimalis, dan ductus nasolakrimal. Kelenjar
lakrimal terdiri atas struktur- struktur berikut ini:
1. Bagian orbita berbentuk kenari, terletak di dalam fossa glandula lakrimalis
di segmen temporal atas anterior orbita yang dipisahkan dari bagian
palpebra oleh kornu lateralis muskulus levator palpebra.
2. Bagian palpebra yang lebih kecil terletak tepat diatas segmen temporal
forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimal, yang bermuara
pada sekitar sepuluh lubang kecil, menghubungkan bagian orbita dan
palpebra kelenjar lakrimal dengan forniks konjungtiva superior.
Kelenjar lakrimal aksesorius ( Glandula Krause dan Wolfring) terletak di
dalam substansia propia di konjungtiva palpebra.

2.1.3

Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris).
Konjungtiva terdiri atas 3 bagian, yaitu:
i. Konjungtiva tarsal, yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal
sukar digerakkan dari tarsus.
ii. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari
sklera di bawahnya.
iii. Konjungtiva fornix

yang

merupakan

tempat

peralihan

konjungtiva tarsal dan konjungtiva bulbi.


2.1.4

Sklera

Sklera adalah jaringan fibrosa pelindung mata di bagian luar, yang hampir
seluruhnya terdiri atas kolagen. Jaringan ini padat dan berwarna putih serta
berbatasan dengan kornea di sebelah anterior dan duramater nervus optikus di
posterior. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh sebuah lapisan tipis
jaringan elastik halus, episklera, yang mengandung banyak pembuluh darah yang
memperdarahi sklera.
2.1.5

Kornea
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus
cahaya, merupakan lapisan jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan
terdiri atas 5 lapis, yaitu epitel, membran bowman, stroma, membran descement,
dan endotel. Kornea merupakan salah satu media refraksi yang membantu proses
penglihatan.

2.1.6 Traktus Uvealis


1. Iris
Iris adalah perpanjangan korpus siliar ke anterior. Iris berupa permukaan
pipih dengan apertura bulat yang terletak di tengah, pupil. Iris terletak
bersambungan dengan permukaan anterior lensa , memisahkan bilik mata depan
dengan bilik mata belakang, yang masing-masing berisi aquos humor. Di dalam
stroma iris terdapat sfingter dan otot-otot dilator. Iris terdiri dari otot polos yang
tersusun sirkuler dan radier. Otot sirkuler bila kontraksi akan mengecilkan pupil,
dirangsang oleh cahaya sehingga melindungi retina terhadap cahaya yang sangat
kuat. Otot radier bila kontraksi menyebabkan dilatasi pupil. Bila cahaya lemah,
otot radier akan kontraksi, sehingga pupil dilatasi untuk memasukkan cahaya
lebih banyak. Iris berfungsi untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata
dan dikendalikan oleh saraf otonom.
Kedua lapisan berpigmen pekat pada permukaan posterior iris merupakan
perluasan neuroretina dan lapisan epitel pigmen retina ke arah anterior.
2. Badan Siliar
Corpus atau badan siliar secara kasar berbentuk segitiga pada potongan
melintang, membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris.
Badan siliar terdiri atas zona anterior yang berombak-ombak, pars plicata, dan
zona posterior yang datar, pars plana.

Musculus ciliaris, tersusun dari gabungan serat-serat longitudinal, sirkular


dan radial. Fungsi serat-serat sirkular adalah untuk mengerutkan dan relaksasi
serat-serat zonula. Otot ini mengubah tegangan pada kapsul lensa sehingga lensa
dapat mempunyai berbagai fokus baik objek yang berjarak dekat maupun berjarak
jauh dalam lapangan pandang.
Badan siliaris berfungsi untuk menghasilkan aqueous humour.
3. Koroid
Koroid adalah segmen posterior uvea, di antara retina dan sklera. Koroid
adalah membran berwarna coklat, yang melapisi permukaan dalam sklera. Koroid
tersusun atas tiga lapis pembuluh darah koroid; besar, sedang, dan kecil. Koroid
melekat erat ke posterior pada tepi-tepi nervus opticus. Di sebelah anterior ,
koroid bergabung dengan corpus cilliare.
Koroid berfungsi memberikan nutrisi ke retina dan badan kaca, dan
mencegah refleksi internal cahaya.
2.1.7

Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan hampir
transparan sempurna. Lensa tergantung pada zonula zinni di belakang iris. Zonula
zinni menghubungkannya dengan badan siliar. Di sebelah anterior lensa terdapat
aquos humor, di sebelah posteriornya, terdapat vitreus. Kapsul lensa merupakan
membran semipermeabel (sedikit lebih permeabel dari pada dinding kapiler) yang
akan memperbolehkan air dan elektrolit masuk.

2.1.8

Sudut Bilik Mata Depan


Sudut bilik mata dibentuk oleh jaringan korneosklera dengan pangkal iris.
Pada bagian ini terdapat pengaliran keluar cairan bilik mata. Bila terdapat
hambatan pengaliran keluar cairan mata akan terjadi penimbunan cairan bilik
mata di dalam bola mata sehingga tekanan bola mata meningkat atau glaukoma.
Berdekatan dengan sudut ini didapatkan jaringan trabekulum, kanal Schlemm,
baji sklera, garis Schwalbe, dan jonjot iris.

2.1.9

Retina
Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan dan
multilapis yang melapisi bagian dalam 2/3 poterior dinding bola mata. Retina

membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan corpus sillier, dan berakhir di
tepi ora serrata. Pada orang dewasa, ora serrata berada disekitar 6,5 mm di
belakang garis Schwalbe pada sisi temporal dan 5,7 mm di belakang garis ini pada
sisi nasal. Permukaan luar retina sensorik bertumpuk dengan lapisan epitel pigmen
retina sehingga juga bertumpuk dengan membrana Bruch, koroid, dan sklera. Di
sebagian besar tempat, retina dan epithelium pigmen retina mudah terpisah hingga
membentuk ruang subretina. tetapi pada discus optikus dan ora serrata, retina dan
epithelium pigmen retina saling melekat kuat.
Retina mempunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 0,23 mm pada
sentral retina. Di tengah-tengah retina posterior terdapat macula. Di tengah
macula, sekitar 3,5 mm sebelah lateral discus optikus terdapat fovea. Retina
menerima asupan darah dari dua sumber : khoriokapilaria yang berada tepat di
luar membrana Bruch yang memperdarahi sepertiga luar retina, termasuk lapisan
pleksiformis luar dan lapisan inti luar fotoreseptor dan lapisan epitel pigmen
retina; serta cabang-cabang dari ateria sentralis retina yang memperdarahi dua
pertiga sebelah dalam. Berdasarkan topografi, retina dibagi menjadi retina sentral
yaitu kurang lebih sama dengan daerah macula dan retina perifer yaitu di daerah
retina di luar daerah macula.
Fungsi retina pada dasarnya ialah menerima bayangan visual yang dikirim
ke otak. Bagian sentral retina atau daerah makula mengandung lebih banyak
fotoreseptor kerucut daripada bagian perifer retina yang memiliki banyak sel
batang.
Retina manusia terdiri atas sepuluh lapis. Urutan lapisan-lapisan tersebut
(ke arah kornea) adalah:
1. Retinal pigment epithelium (RPE)
2. Lapisan fotoreseptor, merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel
batang yang mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucu (Rods/Cones).
3. Membran limitans eksterna, merupakan membran ilusi.
4. Lapisan nukleus luar, merupakan susunan lapis nucleus sel batang dan kerucut.
Ketiga lapis diatas avaskuler dan mendapat metabolism dari kapiler koroid.
5. Lapisan plexiformis luar, atau dikenal sebagai "Lapisan serat Henle"

(Fiber layer of Henle) merupakan lapisan aseluler dan merupakan tempat sinapsis
sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.
6. Lapisan nukleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal
dan sel muller. Lapis ini mendapat metabolism dari arteri retina sentral.
7. Lapisan plexiformis dalam, merupakan lapisan aseluler, tempat sinaps sel bipolar,
sel amakrin dengan sel ganglion.
8. Lapisan sel ganglion, merupakan lapisan yang terdiri dari inti sel ganglion dan
merupakan asal dari serat saraf optik.
9. Lapisan serabut saraf, merupakan lapisan akson sel ganglion menuju kearah saraf
optik. Di dalam lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retrina.
10. Membran limitans interna, merupakan membran hialin antara retinadan badan
kaca.
Epitel pigmen retina ( RPE ) terbentuk dari satu lapis sel, melekat longgar
pada retina kecuali di perifer ( ora serata ) dan disekitar lempeng optik. RPE ini
membentuk mikrovili yang menonjol diantara lempeng segmen luar sel batang
dan sel kerucut dan menyeimbanginya. Lapisan ini berfungsi memfagosit sisa
segmen eksternal sel batang dan kerucut, memfasilitasi pasase nutrien dan
metabolit antara retina dan koroid, serta berperan dalam regenerasi rodopsin dan
opsin sel kerucut, pigmen visual fotoreseptor yang mengolah kembali vitamin A.
RPE juga mengandung granula melanin yang mengabsorpsi cahaya yang
terpencar.
Lapisan luar retina atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dari
koroid. Batang lebih banyak daripada kerucut, kecuali didaerah makula, dimana
kerucut lebih banyak. Fotoreseptor kerucut berfungsi untuk sensasi terang, bentuk
serta warna. Fovea hanya mengandung fotoreseptor kerucut. Apabila fovea atau
daerah makula menderita penyakit, maka visus sentral (dan tajam penglihatan)
akan terganggu. Fotoreseptor batang berfungsi untuk melihat dalam suasana gelap
atau remang-remang. Apabila bagian retina perifer menderita penyakit, maka
penglihatan malam, adaptasi gelap dan penglihatan samping akan terganggu.
Daerah papil saraf optik terutama terdiri atas serabut saraf optik dan tidak
mempunyai daya penglihatan (bintik buta). Penyakit retina biasanya tidak

10

memberi keluhan nyeri dan mata tidak merah. Pemeriksaan retina dilakukan
dengan oftalmoskop direk atau oftalmoskop indirek, foto fundus biasa dan
angiografi.

2.2 Fisiologi Melihat


Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan
menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal,
pupil dapat dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika
sedang konstriksi maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen
kontraktil pada iris yaitu papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler
dan papillary dilator yang terdiri dari sel-sel epitelial kontraktil yang telah
termodifikasi. Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai myoepithelial cells.
Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan melebarkan
pupil sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki mata. Kontraksi dan dilatasi
pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas cahaya berubah dan ketika kita
memindahkan arah pandangan kita ke benda atau objek yang dekat atau jauh. Pada
tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata, pembentukan bayangan pada
retina bergantung pada kemampuan refraksi mata.
Beberapa media refraksi mata yaitu kornea, aqueous humour, dan lensa.
Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa hanya
berfungsi untuk menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada
benda yang dekat dan jauh. Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil
dan mencapai retina, tahap terakhir dalam proses visual adalah perubahan energi

11

cahaya menjadi aksi potensial yang dapat diteruskan ke korteks serebri. Proses
perubahan ini terjadi pada retina .
Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan sensory
retina. Pada pigmented retina, terdapat selapis sel-sel yang berisi pigmen melanin
yang bersama-sama dengan pigmen pada koroid membentuk suatu matriks hitam
yang mempertajam penglihatan dengan mengurangi penyebaran cahaya dan
mengisolasi fotoreseptor-fotoreseptor yang ada. Pada sensory retina, terdapat tiga
lapis neuron yaitu lapisan fotoreseptor, bipolar dan ganglionic. Badan sel dari
setiap neuron ini dipisahkan oleh plexiform layer dimana neuron dari berbagai
lapisan bersatu. Lapisan pleksiform luar berada diantara lapisan sel bipolar dan
ganglionic sedangkan lapisan pleksiformis dalam terletak diantara lapisan sel
bipolar dan ganglionic .Setelah aksi potensial dibentuk pada lapisan sensori retina,
sinyal yang terbentuk akan diteruskan ke nervus optikus, optic chiasm, optic tract,
lateral geniculate dari thalamus, superior colliculi, dan korteks serebri.
2.3 Miopia Patologis
2.3.1 Defenisi
Miopia adalah kelainan refraksi dimana sinar paralel yang masuk ke dalam
mata difokuskan di depan retina tanpa akomodasi.3
Klasifikasi Miopia:1
Miopia aksial
Miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan
kornea dan lensa yang normal.
Miopia refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada
katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga
pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia indeks, miopia yang terjadi
akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.
Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam:
Miopia ringan
Miopia kecil dari ada 1-3 dioptri
Miopia sedang
Miopia lebih antara 3-6 dioptri
Miopia berat atau tinggi
Miopia lebih besar dari 6 dioptri

12

Menurut perjalanan miopia:


Miopia stasioner
Miopia yang menetap setelah dewasa
Miopia progresif
Miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah
panjangnya bola mata
Miopia maligna (miopia degeneratif)
Miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasio
retina dan kebutaan.
Secara klinik miopia dibagi menjadi 2 kelompok yaitu miopia fisiologi dan
miopia patologi:4
Miopia fisiologi (simple, school) adalah suatu keadaan refraksi dengan
struktur bola mata masih dalam batas normal. Kurvatura kornea dan
lensa ataupun peningkatan aksial dari bola mata sesuai dengan laju
pertumbuhan normal.
Miopia patologi menurut American Academy of Ophthalmology (AAO)
disebutkan dengan istilah miopia tinggi atau miopia degeneratif. Miopia
patologi adalah miopia tinggi yang disertai dengan perubahan segmen
posterior dari mata.
Miopia patologis adalah miopia yang memiliki pemanjangan progresif dari mata
dimana dapat membentuk penipisan dan degenerasi dari koroid dan RPE (epitel pigmen
retina). Miopia patologis merupakan miopia yang lebih besar dari 8 dioptri atau
memiliki axial length lebih dari 32,5 mm.2
2.3.2

Epidemiologi
Miopia patologis adalah salah satu kelompok miopia yang diketahui
memiliki persentase 3% diseluruh dunia merupakan salah satu penyebab utama
kebutaan di Amerika Serikat dan lebih sering lagi di Timur Jauh dan Jepang.
Prevalensi dari miopia patologis di Eropa sebesar 0,1%-0,5% sedangkan di Asia
lebih besar yaitu 0,2%-1,4%.5

2.3.3

Etiologi
Etiologi miopia patologis dapat dibagi menjadi: 6

13

Faktor Keturunan
Penelitian ginekologis telah memberikan banyak bukti bahwa faktor
keturunan merupakan faktor etiologi utama terjadinya miopia patologi. Cara
transmisi dari miopia patologi adalah autosomal resesif, autosomal dominan,
sex linked dan derajat miopia yang diturunkan ternyata bervariasi.
Faktor Perkembangan
Bukti yang ada menunjukkan bahwa faktor prenatal dan perinatal turut
berperan serta menyebabkan miopia patologi. Penyakit ibu yang dikaitkan
dengan penderita miopia kongenital adalah hipertensi sistemik, toksemia dan
penyakit retina. Faktor lain yang dianggap berhubungan dengan miopia
patologi adalah kelahiran prematur yakni berat badan lahir kurang dari 2500
gram. Brain menyebutkan bahwa hal ini berkaitan dengan defek mesodermal
yang berkaitan denga prematuritas.
2.3.4

Patofisiologi
Berbagai macam teori dikemukakan mengenai terjadinya miopia
degeneratif, namun terdapat dua teori yang saling bertentangan, yaitu : 6
Teori Mekanik
Timbul pada abad ke 19, yang mengatakan bahwa terjadinya miopia
degeneratif disebabkan karena peregangan sklera. Peregangan ini dapat terjadi
pada sklera yang normal ataupun yang sudah lemah.
Adanya konvergensi yang berlebihan, akomodasi yang terus menerus dan
kontraksi muskulus orbikularis okuli akan mengakibatkan tekanan intraokuler
meningkat yang selanjutnya menimbulkan peregangan sklera.
Selain itu pada akomodasi dimana terjadi kontraksi muskulus ciliaris akan
menarik koroid, sehingga akan menyebabkan atropi. Konvergensi dan posisi bola
mata ke arah inferior pada waktu menyebabkan pole posterior tertarik ke arah
nervus optikus.
Teori Biologi

14

Teori ini timbul setelah pengamatan bahwa miopia aksial adalah herediter,
penipisan bola mata hanya di daerah pole posterior, degenerasi retina terjadi
sekunder setelah atrofi yang tidak sesuai dengan besarnya pemanjangan bola
mata.
Vogt mengatakan bahwa faktor timbulnya miopia terdapat pada jaringan
ektodermal yaitu retina, sedangkan jaringan mesodermal di sekitarnya tetap
normal. Retina tumbuh lebih menonjol dibanding dengan koroid dan sklera.
Pertumbuhan retina yang abnormal ini diikuti dengan penipisan sklera dan
peregangan koroid. Koroid yang peka terhadap regangan akan menjadi atrofi.
Seperti diketahui pertumbuhan sklera berhenti pada janin berumur 5 bulan
sedangkan bagian posterior retina masih tumbuh terus sehingga bagian posterior
sklera menjadi palong tipis.
2.3.5

Tanda dan Gejala6,2,7


Berikut merupakan tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada penderita
miopia patologis:
1. Penurunan tajam penglihatan (visus).
Penurunan visus yang bertahap setelah usia pertengahan disebabkan
proses degenerasi yang melibatkan makula, tapi bisa juga karena katarak,
ablasio retina, dan glaukoma.
Bila penderita mengeluh penurunan visus tiba-tiba, harus dilakukan
pemeriksaan fundus perifer karena kemungkinan hal ini diakibatkan adanya
retinal tear yang mengenai pembuluh darah kecil dengan konsekuensi
perdarahan intravitreal.
2. Floaters.
Merupakan keluhan lapangan pandang paling sering. Hal ini terjadi
pada awal dari proses degenerasi vitreous. Keluhan berupa bayangan berupa
goresan di dalam lapangan pandang, dan bila bayangan goresan itu bertambah
merupakan tanda adanya vitreous detachment dan hyaloid hole di dekat aksis
visualis.

15

3. Asthenopia
Asthenopia disebabkan kemampuan mata yang hanya dapat melihat
pada jarak dekat dan memerlukan konvergensi berlebihan tanpa menggunakan
kacamata koreksi.
4. Cephalgia
Sakit kepala dan daerah mata atau periorbital kadang-kadang
dikeluhkan oleh penderita.
5. Fotopsia
Melihat kilat yang diasumsikan sebagai adanya traksi retina dan awal
dari suatu ablasio retina atau ada goncangan vitreous yag encer.
6. Metamorfopsia
Adalah gejala gangguan penglihatan yang sangat serius karena
biasanya disebabkan transudasi atau perdarahan pada area makula yang
sebelumnya sudah terbentuk membran neovaskular subretina. Bila kelainan ini
terdapat diluar daerah fovea dapat disarankan terapi laser.
7. Diplopia
Juga merupakan keluhan pada penglihatan bila kerja otot luar bola
mata terganggu akibat memakai kacamata dengan ukuran koreksi yang tidak
sesuai.
8. Penurunan Rigiditas Okular
Pada miopia degeneratif, rigiditas okular menurun. Tidak ada korelasi
antara rigiditas okular dengan tingginya refraksi.
2.3.6

Diagnosis3,6,8
Anamnesis:
Pasien datang dengan gejala berikut :
Penurunan Visus
Floaters
Asthenopia
16

Cephalgia
Fotopsia
Metamorfopsia
Diplopia
Penurunan Rigiditas Okular

Pemeriksaan fisik:

Pemeriksaan generalis
Pemeriksaan oftamologi
Pada miopia patologis perlu pemeriksaan funduskopi agar dapat melihat
kelainan pada segmen posterior yang khas, dapat dijumpai:

Penipisan sklera
Penipisan sklera dan lokalisasi ektasia di pole posterior adalah
khas untuk miopia degeneratif. Pemanjangan diameter bola mata anteroposterior (AP) disertai penipisan sklera di posterior tampak sebagai
posterior ectasia atau stafiloma. Curtin pada tahun 1977 menemukan
stafiloma tersebut di daerah pole posterior, area makular, area peripapil,
area nasal atau inferior. Juga ditemukan bentuk campuran dan kompleks.
Penelitian tersebut stafiloma posterior terdapat pada 19% mata miopia
dengan

axial

length

26,5

mm.

Peningkatan

usia

juga

sangat

mempengaruhi timbulnya stafiloma posterior dan adanya stafiloma


posterior merupakan petunjuk bagi prognosa visus, sebab 19,6%
diantaranya termasuk dalam keadaan buta sosial. Sesudah usia 60 tahun,
53,3% mata dengan stafiloma termasuk buta sosial. Stafiloma posterior
merupakan tanda karakteristik pada miopia degeneratif.

Retina schisis
Pada miopia pembesaran bola mata tidak disertai pemanjangan
vassa retina sebagaimana retina. Dan inilah salah satu mekanisme
terjadinya retina schisis yaitu pemisahan vassa retina yang besar pada
membrana limitan interna dari lapisan retina yang lain. Perubahan
degenerasi pada lapisan koroid pada awalnya akan melibatkan
koriokapilaris, vitreous, dan retinal pigment epitel (RPE).
17

Lacquer cracks
Bila proses degenerasi pada koroid berlanjut timbul pembentukan
jaringan kolagen menggantikan jaringan koriokapilaris. Tetapi bila hal ini
tidak terjadi, penipisan koroid akan berkembang sampai ke membran
Bruchs dan akan terjadi robekan. Klein dan Curtin tahun 1975
memperkirakan bahwa robekan-robekan ini akan membaik lalu mengecil
dan kemudian membentuk garis kuning tak beraturan, bercabang, dan
membentuk garis bersilang di sekitar pole posterior. Garis-garis tersebut
disebut dengan lacquer cracks yang hanya tampak pada 4,3% penderita
miopia tinggi

dan terdapat pada kelompok laki-laki muda. Pada

penelitian Clein dan Curtin ditemukan 22 pasien dengan lacquer cracks,


semuanya mengalami stafiloma dan temporal crescent.

Gambar 1. Lacquer cracks

18

Gambar 2. Staphyloma

Perdarahan koroid sepanjang lacquer cracks dan membran neovaskular


Keadaan ini diperkirakan merupakan proses robeknya membran
Bruch dan merupakan faktor predisposisi terbentuknya membran
neovaskular pada sub RFE yang selanjutnya bisa berakibat timbulnya
perdarahan maupun sikatrik.

Fuchs spot
Sebanyak 5,2% penderita miopia degeneratif yang telah diteliti
mempuyai lesi berpigmen di area sentral dan dikenal dengan Fuchs spot.
Lesi ini berbeda dengan degenerasi makula senilis yang juga mempunyai
kecenderungan tinggi terbentuknya deposit pigmen. Pada miopia hal ini
terjadi pada daerah atrofi korioretinal. Kebanyakan Fuchs spot diikuti
neovaskularisasi koroid yang menembus membran Bruch kemudian
hingga mengakibatkan detachment RPE tipe serous dan hemorraghic.
Secara histologi, tampak bercak sebagai jaringan sikatriks fibrovaskular.

19

Gambar 3. Fuchs spot

Degenerasi Lattice
Pertama kali dideskripsikan oleh Gonin tahun 1904. Merupakan
bercak penipisan retina berbatas tegas, terletak di lapisan retina dalam.
Beberapa lesi bisa disertai dengan hiperpigmentasi atau tanpa pigmen. Di
daerah tersebut tampak vitreous encer dan kondensasi serabut vitreous
tampak melekat di daerah tersebut. Merupakan hal yang serius pada
miopia degeneratif karena merupakan predileksi timbulnya robekan dan
ablasio retina. Biasanya terdapat dikuadran supratemporal. Pada
penelitian terhadap 1437 mata oleh Karlin dan Curtin tahun 1976 ada
hubungan positif diantara prevalensi keempat tanda degenerasi yaitu
stafiloma posterior, lattice degenerasi, pavingstone appearance, dan white
without pressure dengan axial length mata.

20

Gambar 4. Degenerasi Lattice

Degenerasi peripapil nervus optikus.


Degenerasi juga meliputi daerah peripapil yang merupakan tanda awal
yang dapat dilihat, sehingga terlihat lapisan koroid di area tersebut. Pada
papil nervus optikus terlihat gambaran klasik akibat miopia. Dengan
oftalmoskop papil nervus optikus arahnya tampak miring ke arah sisi
temporal (tilted disc) dengan permukaan datar, tampaknya peningkatan
ratio cup dan disc yang sesuai dengan axial length. Di daerah temporal
disc terlihat kresen putih terang dari sklera yang dipinggirnya ada
pigmentasi. Pigmen di daerah kresen disebabkan oleh hipertrofi dan
kadang-kadang hiperplasia RPE.

Pemeriksaan Penunjang:

Ultrasonography
Dapat digunakan untuk mendeteksi adanya staphyloma dan mengukur
panjang axial dari mata
Fluorescein angiography
Untuk melihat kondisi pembuluh darah di koroid dan retina. Pemeriksaan ini
dilakukan apabila pasien diduga memiliki Choroidal Neovascularization.
Optical Coherence Tomography

21

Merupakan salah satu teknik imaging yang digunakan untuk menentukan


adanya vitreomacular traction dan macular schisis.
Diagnosis Banding

2.3.7

2.3.8

Age-Related Macular Degeneration

Ocular Histoplasmosis

Tilted Disc

Gyrate Atrophy

Toxoplasmosis

Penatalaksanaan6
Koreksi Refraksi
Langkah pertama dalam penatalaksanaan miopia patologi adalah koreksi
refraktif baik dengna lensa oftalmik maupun lensa kontak. Koreksi refraktif
yang paling sesuai adalah koreksi refraksi minimal yang memberikan tajam
penglihatan maksimal.

Modifikasi Lingkungan
Beberapa penelitian mendukung efektivitas diet dalam pengelolaan
miopia, tapi penelitian yang lain masih belum mendukung. Telah dianjurkan
pada penderita miopia yang terpapar secara genetik untuk meningkatkan
konsumsi protein hewani, mengurangi karbohidrat dan gula. Duke Elder
manyarankan diet kaya vitamin D dan kalsium untuk penderita miopia ini.
Aktivitas lingkungan yang dianjurkan adalah olahraga luar ruang misal jogging,
namun aktivitas lain yang cenderung meningkatkan tekanan intrakranial dan
stres sebaiknya dihindari, misal angkat berat.

Tindakan Operatif
Tindakan operatif kornea tidak disarankan pada penderita miopia
patologis, misal tindakan LASIK, namun implantasi IOL merupakan tindakan
bedah refraksi yang disarankan.

Fotokoagulasi Laser

22

Bila terdapat choroidal neovascularization membran dilakukan argon


laser photokoagulasi, tetapi harap dipertimbangkan bahwa pada miopia patologi
ini terdapat pemanjangan dan peregangan bola mata sehingga sikatrik
diakibatkan oleh laser akan menambah peregangan bola mata tersebut.

Pengawasan Tekanan Intraokuler


Tekanan intraokuler harus dipantau karena memiliki peranan dalam
pemanjangan aksial bola mata. Black merekomendasikan bahwa penderita
miopia patologi harus memiliki tekanan intraokuli dibawah 20 mm Hg.

2.3.9

Komplikasi
Rhegmatogenous Retinal Detachment
Disebabkan oleh lepasnya vitreus bagian posterior, degenerasi lattice,

asymptomatic atropic holes, macular holes dan reibeknya retina.


Choroidal Neovascularization
Foveal Retinoschisis
Macular Hole
Dapat muncul secara spontan maupun setalah trauma ringan, dan berhubungan

dengan pelepasan retina. Vitrectomy merupakan terapi yang efektif.


Katarak
Glaukoma
Amblyopia
Dislokasi Lensa

2.3.10 Prognosis
Prognosis pasien dengan miopia patologis bervariasi dilihat dari
perubahan yang muncul pada retina dan okular. Pemeriksaan mata secara
berkala perlu dilakukan tergantung dari keparahan dari perubahan retina dan
okular. Pemeriksaan retina, pemeriksaan lapangan pandang, pengukuran tekanan
intraokuler merupakan pemeriksaan yang penting untuk dilakukan.9

BAB III
KESIMPULAN

23

Miopia patologis adalah miopia yang memiliki pemanjangan progresif dari mata
dimana dapat membentuk penipisan dan degenerasi dari koroid dan RPE (epitel pigmen
retina), Biasanya besar refraksi lebih besar dari 8 dioptri atau memiliki axial length
lebih dari 32,5 mm. manifestasi klinis dari miopia patolos dapat bervariasi mulai dari
gangguan penglihatan, floaters, asthenopia, sefalgia, fotopsia, metamorfopsia, diplopia
hingga penurunan rigiditas okular.
Dapat dilakukan koreksi refraksi pada pasien penderita miopia patologis .
Koreksi refraksi yang paling sesuai adalah koreksi refraksi minimal yang memberikan
tajam penglihatan maksimal. Modifikasi Lingkungan dapat dilakukan dengan cara
meningkatkan konsumsi protein hewani, mengurangi karbohidrat dan gula. Bila terdapat
choroidal neovascularization membran dilakukan argon laser photokoagulasi. Hal ini
dapat dapat dilakukan sehingga pasien mampu menjalani aktifitasnya dengan baik.
Pemeriksaan mata secara berkala perlu dilakukan tergantung dari keparahan dari
perubahan retina dan okular. Pemeriksaan retina, pemeriksaan lapangan pandang,
pengukuran tekanan intraokuler merupakan pemeriksaan yang penting untuk dilakukan.
Tekanan intraokuler harus dipantau karena memiliki peranan dalam pemanjangan aksial
bola mata. Black merekomendasikan bahwa penderita miopia patologi harus memiliki
tekanan intraokuli dibawah 20 mm Hg.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit
FKUI.
2. American Academy of Ophthalmology. 2014-2015. Phatologic Myopia, Dalam:
Retinal and Vitreous, hal: 85-86
3. Riordan-Eva Paul. 2007. Optik dan Refraksi, Dalam: Vaughan & Asbury
Oftalmologi Umum. Ed. 17. Jakarta. EGC, hal. 393.

24

4. Urserkar, TN. 1983. Classification, Etiology And Pathology Of Miopia. Indian


Journal Of Ophthalmology. Available on : http://www.ijo.in/printarticle.asp?
issn=03014738;year=1983;volume=31;issue=6;spage=709;epage=711;aulast=Ur
sekar
5. Sundy, Meryl. 2015. Pathologic Myopia (Myopic Degeneration). American
Academy
Of
Opththslmology.
http://eyewiki.aao.org/Pathologic_myopia_(myopic_degeneration) .
6. Widodo, W. 2007. Miopia Patologi. Jurnal Oftalmologi Indonesia. Available on :
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/TinjPus3.pdf
7. Kunimoti, DY.2004. The Wills Eye Manual. Lippincott Williams And Wilkins.
USA. 267-268.
8. Schwann, PG. Fundus Changes In Miopia An Overview. Available on :
http://www.optometry.co.uk/uploads/articles/3427a9882d77448071ae72ce987fc
4cb_swann20020322.pdf
9. Goss, DA. 2006. Care of the Patient with Miopia. American Opthometric
Association. Available on : http://www.aoa.org/documents/optometrists/CPG15.pdf

25