Anda di halaman 1dari 2

Diagnosis Banding Dermatitis Perioral

Dermatitis Perioral
Epidemiologi

Dermatitis perioral dewasa lebih banyak


terjadi pada wanita

Etiologi

Penyebab pasti belum diketahui, beberapa


kasus akibat penyalahgunaan kortikosteroid
topikal (fluorinat atau non fluorinat),
kortikosteroid inhalal asi, kontak alergi
dengan fluorid atau kandungan lain pada
pasta gigi
Patogenesis sesuai etiologi

Patogenesis

Manifestasi
klinis

Lesi primer adalah papul, vesikel dan pustul


yang diskret atau berkelompok, biasanya
simetrik tapi dapat juga unlitaeral dan tampak
di daerah perioral, daerah sekitar tampak
eritem dan bersisik. Ditemukan sensasi
terbakar atau gatal.

Predileksi

Daerah perioral

Pemeriksaan
Penunjang
Terapi

Uji tempel dan histopatolgi

Dermatitis Kontak Alergi (DKA)


Berhubungan dengan pekerjaan. (60%). 2/3
kasus DKA akibat pekerjaan mengenai
tangan.
Logam, kosmetik, produk perawatan kulit,
baju dan sepatu, obat, dan tumbuhtumbuhan.

Fase sensitisasi/ Fase aferen : kontak


pertama kulit dengan hapten dan
memungkinkan terbentuknya haptenspesific T-cells dalam limfonodus
2 Fase elisitasi / fase eferen : mulai dar
adanya hapten yang sama menempel di
kulit hingga menimbulkan lesi kulit.
Akut: Ereitem, edema (pada kulit yang tipis
edema akan lebih cepat terjadi). Pajanan
alergen persisten: dominan likenifikasi dan
skuama

Dermatitis Kontak Iritan (DKI)


80 % dari dermatitis kontak

Iritan/ zat toksik yang paling sering


menyebabkan DKI adalah sabun,;
deterjen; asam; alkali; semen; fenol,;
pelarut di industri: turpentin, aseto, karbon
dioksida; tumbuh-tumbuhan : kapsaicin
1.Hilangnya lipid permukaan kulit dan zat
yang dapat menahan air
2.Rusaknya membran sel
3.Denaturasi keratin epidermal
4.Efek sitotoksik langsung

1 Keluhan subjektif berupa rasa terbakar,


tersengat, sensasi nyeri beberapa menit
setelah terpajan., dan gatal
2 Efloresensi bervariasi sesuai tipe DKI:
eritem, vesikel, erosi, eksudasi dengan
pembentukan bula,pada kasus berat
dapat nekrosis.
Pada area yang kontak: kepala, wajah dan Predileksi berbeda suseuai jenis DKI:
kelopak mata, leher, batang tubuh, aksila, pungung dan jari tangan (reaksi Iritan),
tangan dan kaki, perioral dan perianal,
wajah, kepala dan leher
Uji Tempel
-

Mengentikan kortikosteroid topikal dan jika - menghindari


menggunakan kortikosteroid fluorinat maka
penyebab

kontak

ulang

dengan 1 Mengetahui zat iritan penyebab dan


proteksi terhadap bahan tersebut

diganti dengan kerim hidrokortison dosis


potensi rendah. Topikal dapat diberi
metronidazol (2x/hari), tetrasiklin (250-500
mg 2x/hari), doksisiklin (50-100 mg 2x/hari),
minosiklin (50-100 mg 2x/hari) oral selama
8- 10 minggu merupakan terapi yang efektif.
Jika alergi tetrasiklin dapat digunakn
eritromisin

- pada lesi akut vesikuler, diberkan kompres 2 Steroid sebagai antiinflamasi


3 Emolian untuk kulit kering
misalnya NaCl 0,9% atau lainnya
- pada kronik dengan lesi likenifikasi paling 4 Antibiotik topikal maupun oral jika ada
infeksi bakteri
baik diberikan emolien.
- Keluhan gatal dapat diberi antipruritus
topikal atau antihistaminoral
- Kortiokosteroid topikal dan sistemik
merupakan gold standar
- Fototerapi dicoba untuk pasien refrakter,
pasien yang tidak responsif terhadap
kortikosteroid dan pasien yang tidak
dapat menghindari faktor provokasi.