Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Luka merupakan suatu keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan. Luka
akan mengakibatkan kerusakan pada kulit dan luka yang lebih besar akan berpengaruh pada
seluruh sistem tubuh pasien dan akan muncul komplikasi dari luka tersebut (Mansjoer, 2000).
Organ ini berperan sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain dengan mengatur
keseimbangan air serta elektrolit, termoregulasi, dan berfungsi sebagai barier terhadap
lingkungan luar termasuk mikroorganisme (Junquiera, 2005).
Komplikasi yang timbul akibat terjadinya luka adalah terbukanya jaringan kulit yang
akan memicu daerah pada luka tersebut menjadi sumber infeksi yaitu masuknya benda-benda
asing ke dalam jaringan kulit, termasuk juga mikroorganisme yang dapat menimbulkan suatu
infeksi. Selain infeksi, masalah lainnya adalah waktu penyembuhan luka yang tidak singkat.
Ada beberapa factor yang mempengaruhi lamanya penyembuhan luka seperti luka yang tidak
terawat dan tidak diobati. Luka yang tidak terawat atau luka kotor akan menjadi sumber
infeksi dan pada akhirnya proses penyembuhn luka tersebut membutuhkan wakru yang lebih
lama. Setelah luka tersebut mengalami penyembuhan, ada dampak lain yang muncul yaitu
adanya bekas luka atau jaringan sikatriks (Ismardianita et al, 2003).
Penyembuhan luka adalah proses yang dinamis yang meliputi unsur-unsur tubuh,
pembuluh darah, fibroblast, dan sel epitel. Pada mulanya, darah yang terdapat dalam luka
akan membeku, kemudian diikuti dengan proses peradangan yang akan membersihkan sel
mati dan bakteri (Sabiston, 1995). Penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase, yaitu fase

inflamasi (peradangan), fase proliferasi dan fase maturasi (Sjamsuhidajat, 2004; Robbin 2007).
Pada awal terjadinya luka akan terjadi vasokonstriksi awal pada arteriol yang berlangsung
singkat, kemudian disertai eksudat protein dan meningkatnya permeabilitas dan eksudat sel
radang di daerah luka (Price & Wilson, 2006). Pada fase proliferasi, terjadi proses reepitelisasi.
Pada proses reepitelisasi terjadi migrasi, proliferasi dan diferensiasi keratinosit. Proses migrasi
dimulai beberapa jam setelah terjadi kerusakan pada laminin, sehingga pada kulit yang luka
terjadi kontak antara keratinosit dengan kolagen. Proses migrasi dimulai dari tepi luka pada
stratum basalis yang merupakan lapisan paling dalam dari epidermis dan sisa adneksa yaitu sisa
folikel rambut yang terletak di lapisan dermis, menuju ke stratum korneum yang terletak di
bagian terluar epidermis (Harrison et al, 2006).

Lidah buaya (Aloe vera) merupakan tanaman yang banyak dikembangkan dan
digunakan untuk pengobatan, salah satunya untuk penyembuhan luka (Kalangi & Sonny,
2007). Lidah buaya dapat tumbuh dari daerah dataran rendah sampai daerah pegunungan.
Daya adaptasi tinggi sehingga tempat tumbuhnya menyebar keseluruh dunia mulai daerah
tropika sampai ke daerah sub tropika. Tanah yang dikehendaki lidah buaya adalah tanah
subur, kaya bahan orgaik dan gembur. Kedalaman 30 cm kesuburan tanah sangat diperlukan,
karena akarnya yang pendek, tanaman ini tumbuh baik di daerah bertanah gambut yang pH
nya rendah.
Tanaman lidah buaya tergolong keluarga Liliaceae, mempunyai potensi yang cukup
besar sebagai bahan baku obat alami. Peluang tanaman obat saat ini semakin besar, sehingga
kecenderungan masyarakat untuk beralih ke bahan-bahan alami. Bahan alami berpeluang
untuk menjadi komoditas perdagangan yang besar. Tumbuhan lidah buaya yang berasal dari
Afrika ini mempunyai lebih dari 300 jenis. Spesies-spesies dari genus Aloe yang komersil
antara lain Aloe barbadansis, Aloe perryl dan Aloe ferox. Spesies Aloe barbadansis atau
sering disebut Aloe vera memiliki potensi tertinggi sebagai bahan baku farmasi
(Suryowidodo; 1988).

Daging dari tanaman lidah buaya mengandung saponin dan flavonoid, di samping itu
juga mengandung tanin dan polifenol (Hutapea, 1993). Saponin ini mempunyai kemampuan
sebagai pembersih sehingga efektif untuk menyembuhkan luka terbuka, sedangkan tanin
dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik
dan obat luka bakar. Flavonoid dan polifenol mempunyai aktivitas sebagai antiseptik
(Harborne, 1987). Menurut Wijayakusuma (2008) gel lidah buaya mempunyai kemampuan
untuk menyembuhkan luka, luka bakar, borok/eksim, memberikan lapisan pelindung pada
bagian yang rusak, mempercepat tingkat penyembuhan karena lidah buaya mengandung
Acetylated mannose yang merupakan imunostimulan yang kuat berfungsi meningkatkan
fungsi fagositik dari sel makrofag, respon sel T terhadap patogen serta produksi interferon
dan zat kimia yang meningkatkan sistem imun untuk menstimulasi atau merangsang antibodi.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian, nutrisi yang terkandung dalam lidah buaya yang dapat
dimanfaatkan untuk penyembuhan luka diantaranya yaitu vitamin A dan E, zat aktif glukosa,
glukomannan dan asam krisofan (Widagdo, 2004). Pemanfaatan lidah buaya dalam
pengobatan oleh karena lidah buaya mengandung Aloectin B yang merangsang sistem
kekebalan tubuh sehingga mempercepat penyembuhan luka, luka bakar, luka sayat,
memberikan lapisan pelindung pada bagian yang rusak dan mempercepat tingkat
penyembuhan (Yesaya, 2001). Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui apakah pemberian
gel lidah buaya dapat mempercepat penyembuhan luka sayat pada kulit mencit.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan permasalahan dari penelitian ini
adalah apakah pemberaian gel lidah buaya berpengaruh terhadap kecepatan penyembuhan
luka sayat pada kulit mencit?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh pemberian gel lidah buaya terhadap kecepatan
penyembuhan luka sayat pada kulit mencit.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui ketebalan epitel yang terbentuk luka sayat pada mencit yang di beri gel
lidah buaya.
b. Mengetahui ketebalan epitel yang terbentuk pada proses penyembuhan luka sayat
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan pada hari ke-1, ke-3 dan ke-7.
c. Mengetahui perbedaan kecepatan penyembuhan luka antara kelompok control dan
kelompok perlakuan.

1.4 MANFAAT PENELITIAN


Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1.4.1 Masyarakat
a. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang manfaat gel lidah buaya terhadap
penyembuhan luka sayat
b. Dapat digunakan sebagai informasi bahwa bukan hanya obat generic yang bisa
menyembuhkan luka tapi obat alami juga bisa digunakan
c. Memberikan dasar ilmiah penggunaan lidah buaya pada luka sayat dikaji dari efek-efek
menguntungkannya pada luka yaitu anti-inflamasi, anti mikroba dan analgesik

1.4.2 Peneliti
a. Sebagai salah satu kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu dalam bidang
penelitian, di samping menambah pengalaman dalam bidang penelitian terkait
manfaat obat alami terhadap penyembuhan luka

b. Menambah referensi bidang pengetahuan kesehatan masyarakat, khususnya bidang


kesehatan lingkungan
1.4.3 Instansi Terkait
a. Memberikan dasar ilmiah dalam upaya pengembangan budidaya lidah buaya
b. Sebagai tambahan data dasar untuk penelitian lebih lanjut, khususnya yang berkaitan
dengan penyembuhan luka