Anda di halaman 1dari 6

Jawab Soal

Pertanyaan:
Apa hukum syara tentang perusahaan yang muncul dan tumbuh
dengan pesat dan kadang disebut perusahaan asuransi taawuni atau takaful
atau Islami? Perlu diketahui bahwa para pengusung dan pecintanya
mengatakan bahwa asuransi ini berbeda dari asuransi komersial yang haram,
karena merupakan kerjasama atau tolong menolong di antara kaum Muslim
dalam hal sebagian membantu sebagian yang lain ketika terjadi peristiwa
terhadap salah seorang di antara mereka sebagai kompensasi angsuran yang
mereka bayarkan? Dalam konteks itu mereka menyebutkan hadits pujian
Rasul saw kepada keluarga al-Asyariyun atas kerjasama dan tolong
menolong mereka sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan terkait
masalah tersebut. Kami berharap jawaban secara rinci, semoga Allah SWT
memberi balasan yang lebih baik kepada Anda.
Jawab:
Saya telah menelaah masalah yang Anda kirimkan. Demikian pula saya
telah menelaah sumber-sumber lain. Dari semua itu telah jelas bagi saya halhal berikut:
Pertama, fakta asuransi tersebut:
1. Asuransi taawuni, takaful dan Islami itu dari sisi metode pembentukannya
dan aktifitasnya tidak berbeda (dengan asuransi komersial). Dan hukum
dalam masalah itu adalah sama.
2. Orang-orang yang menjalankannya, mereka memasarkannya bahwa itu
adalah tabarru (donasi) dari pribadi-pribadi dalam jumlah tertentu untuk
membantu sebagian terhadap sebagian yang lain jika terjadi peristiwa
bahaya seperti kebakaran, kecelakaan, atau yang lain Meski demikian,
akad itu ditandatangani (dilakukan) dengan mutabarri (para donatur) oleh
perusahaan asuransi!
3. Orang-orang yang menjalankannya mengatakan bahwa asuransi ini tidak
berdiri dengan maksud mendapat keuntungan, akan tetapi dia adalah
kerjasama atau tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan.
4. Orang-orang yang menjalankan asuransi ini mengatakan bahwa asuransi
ini berbeda dari asuransi komersial yang haram yang berdiri dengan
maksud mengejar keuntungan dan menginvestasikan harta yang
dibayarkan oleh para nasabah dengan maksud mendapat keuntungan
Dan yang di dalamnya ada gharar dari sisi nasabah (pihak tertanggung)
membayar premi keikutsertaannya dan tidak tahu kapan akan terjadi
suatu peristiwa terhadapnya!
5. Orang-orang yang menjalankan asuransi takaful, asuransi Islami, atau
asuransi taawuni ini dalam menyatakan kesyariannya, mereka berdalil
kepada hadits al-asyariyun, bahwa ketika kelaparan melanda, mereka
menempatkan makanan yang ada pada setiap orang dari mereka di satu
tempat, lalu mereka makan bersama-sama. Muhammad ibn al-Ala telah
menceritakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Hamad ibn
Salamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa, ia berkata: Nabi saw
bersabda:

Bahwa keluarga al-Asyariyun jika mereka kehabisan bekal di dalam


peperangan atau makanan keluarga mereka di Madinah menipis, maka
mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki di dalam satu lembar kain
kemudian mereka bagi rata di antara mereka dalam satu wadah, maka
mereka itu bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka (Hr
Muttafaq alayh)
6. Perusahaan yang bersifat tolong menolong (asy-syirkt at-tawuniyah)
ini melakukan reasuransi, yaitu perusahaan asuransi takaful lokal atau
kecil memberikan premi-premi dari tertanggung yang dimilikinya kepada
perusahaan
asuransi
besar
agar
mengelola
harta
dan
menginvestasikannya
Berikut adalah apa yang dinyatakan di dalam buku-buku, leaflet-leaflet
mereka seputar reasuransi:
(Karena perusahaan asuransi kecil tidak bisa menutupi kompensasi
bahaya-bahaya besar, dan tidak mampu menanggung asuransi yang lebih
berresiko terhadap kapal dan pesawat, oleh karena itu kita mendapati diri
kita terpaksa, supaya bisa terjamin, untuk mengasuransikan kepada
perusahaan-perusahaan asuransi raksasa yang ada di ibukota negara
besar seperti Eropa dan Amerika dan ini disebut reasuransi)
7. Orang-orang yang menjalankan asuransi taawuni ini.. mereka tidak
mengingkari pengharaman asuransi komersial. Karena fatwa-fatwa yang
dikeluarkan oleh berbagai lembaga tentang pengharaman asuransi
komersial, mereka akui kesyariannya, misalnya:
- Haiah Kibr al-Ulam di Saudi
- Majma al-Fiqh al-Islm ad-Dawl di bawah OKI yang bermarkas di
Jedah
- Al-Majma al-Fiqh al-Islm dibawah Rabithah al-Alam al-Islami dan
bermarkas di Mekah
- Majma Buhts al-Islmiyah di al-Azhar
Hanya saja, mereka mengatakan bahwa asuransi taawuni berbeda
dengan asuransi komersial sehingga asuransi taawuni adalah halal. Mereka
menganggapnya sebagai tabarru (donasi), bukan investasi komersial.
Mereka mengganggapnya tidak melakukan reasuransi kepada perusahaan
asuransi komersial Mereka berupaya mengeksploitasi keputusan Haiah
Kibar Ulama Saudi pada tanggal 4/4/1397 dalam mempromosikan asuransi
ini.
Dalam rangka memberikan penjelasan, kami memandang baik untuk
menjelaskan bagaimana keputusan itu dikeluarkan dan bagaimana Haiah
mengoreksi keputusannya, meski Haiah terkait dengan pemerintah Di
dalam hal itu apa yang ada. Akan tetapi supaya fair kami sebutkan apa yang
terjadi:
Orang-orang yang menjalankan asuransi taawuni itu menyodorkan
perkara kepada Haiah Kibar Ulama Saudi bahwa asuransi yang mereka
jalankan adalah tabarru untuk kebaikan dan ketakwaan, bukan dengan

tujuan investasi atau keuntungan sebagaimana telah dijelaskan di atas. Maka


Haiah mengambil keputusan pada tanggal 4/4/1397 H dengan nomor 51. Di
dalam keputusan itu Haiah memperbolehkan asuransi taawuni berdasarkan
informasi-informasi yang diberikan kepada Haiah. Haiah di awal
keputusannya mengatakan:
(Asuransi taawuni termasuk akad tabarru (donasi) yang dimaksudkan
untuk mengantarkan pada tolong menolong terhadap kepingan-kepingan
bahaya dan partisipasi dalam menanggung tanggungjawab ketika terjadi
bencana. Hal itu dengan jalan kontribusi seseorang dengan sejumlah uang
tertentu yang dikhususkan untuk memberi kompensasi orang yang ditimpa
bahaya. Kelompok asuransi taawuni tidak bertujuan komersial, ataupun
keuntungan finansial dari harta selain mereka. Melainkan mereka bertujuan
mendistribusikan bahaya diantara mereka dan tolong menolong untuk
memikul bahaya) selesai.
Keputusan itu ditutup dengan permintaan dari Haiah (Hendaknya
sekelompok ahli dalam masalah ini yang dipilih oleh negara menetapkan
point-point rinci untuk perusahaan asuransi taawuni ini. Setelah mereka
selesai melakukan hal itu, apa yang mereka tulis disampaikan kepada majlis
Haiah Kibar Ulama untuk dipelajari dan dikaji berdasarkan kaedah-kaedah
syariah, wallh al-muwaffiq).
Jelas dari keputusan Haiah bahwa Haiah menganggap asuransi
taawuni itu sebagai tabarru (donasi). Di dalamnya tidak ada ruang untuk
keuntungan atau mencari keuntungan. Karena sifat aktifitas itu sebagai akad
tabarru bukan muawadhah dari dua pihak. Anggapan Haiah itu berdasarkan
informasi-informasi yang diberikan kepada Haiah oleh orang-orang yang
menjalankan asuransi taawuni itu.
Karena asuransi yang disebutkan ternyata bukan tabarru, dan
perusahaan menyadari hal itu, maka perusahaan berupaya memasarkan
aktifitas-aktifitasnya dengan memanfaatkan keputusan Haiah itu. Hal itu
mendorong Komite Tetap Pembahasan Ilmiah (al-Lajnah ad-Daimah li alBuhuts al-Ilmiyah) di Haiah mengeluarkan penjelasan yang di dalamnya
dinyatakan: (amma badu. Sebelumnya telah dikeluarkan oleh Haiah Kibar
Ulama keputusan pengharaman asuransi komersial dengan semua jenisnya
dikarenakan di dalamnya terdapat dharar dan bahaya besar dan memakan
harta manusia dengan cara batil Sebagaimana telah dikeluarkan oleh
Haiah Kibar Ulama akan kebolehan asuransi taawuni yaitu asuransi yang
dibentuk dari donasi para dermawan dan dimaksudkan untuk membantu
orang yang membutuhkan dan mendapat bencara (kesusahan), dan tidak
ada pengembalian apapun bagi orang-orang yang berpartisipasi baik modal,
keuntungan ataupun returinvestatif apapun-. Karena maksud orang yang
berpartisipasi adalah untuk mendapat pahala Allah SWT dengan membantu
orang yang membutuhkan, bukan mengharap pengembalian duniawi. Hal itu
tercakup dalam firman Allah :

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,


dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS alMaidah [5]: 2)
Dan tercakup dalam sabda Rasul saw :

Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba menolong saudaranya

Ini adalah jelas dan tidak ada keraguan. Akan tetapi pada waktu-waktu
belakangan dari beberapa lembaga dan perusahaan muncul, penyelimutan
perkara
atas
masyarakat
dan
terjadi
perubahan
atau
pemutarbalikan kebenaran, di mana asuransi komersial yang haram
disebut asuransi taawuni. Pendapat tentang kebolehannya
dinisbatkan kepada Haiah Kibar Ulama dalam rangka mengelabuhi
masyarakat dan untuk propaganda perusahaan-perusahaan mereka.
Haiah Kibar Ulama berlepas diri dari aktifitas itu secara total.
Karena keputusan Haiah adalah jelas dalam membedakan antara
asuransi komersial dan asuransi taawuni. Perubahan nama tidak
bisa merubah hakikat. Dalam rangka memberikan penjelasan kepada
masyarakat dan membongkar kover dan mengungkap kebohongan
dan pemalsuan, maka penjelasan in dikeluarkan) selesai. (sumber:
Baynt wa Fatw Muhimmah, al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-Ilmiyah
wa al-Ifta, Dar Ibn al-Jawzi, Damam, Saudi. 1999/1421).
Kedua, asuransi ini tidak berbeda dari asuransi komersial kecuali
hanya dengan permainan kata saja:
1. Asuransi ini bukanlah taawun dalam rangka kebaikan dan ketakwaan.
Akan tetapi dia merupakan investasi untuk harta yang dibayarkan dan
mendistribusikan keuntungan kepada orang-orang yang berpartisipasi.
Akan tetapi tidak mereka namanan keuntungan atau bunga, sebagaimana
penyebutan oleh perusahaan-perusahaan asuransi komersial, bank. Tetapi
mereka sebut surplus!
2. Asuransi taawuni (takafuli) bukanlah tabarru. Akan tetapi, partisipasi
dengan saham seperti dalam asuransi komersial. Buktinya adalah bahwa
partisipan di dalam asuransi ini seandainya tidak diberi keuntungan atas
partisipasinya dengan apa yang disebut surplus, maka ia akan
mengeluh dan mengajukan komplain. Seandainya itu adalah tabarru
maka ia tidak akan memiliki hak itu. Demikian juga, tabarru adalah
tasharruf dari satu pihak saja. Tidak perlu penandatanganan akad dan
syarat-syarat yang menjadi obyek negosiasi Karena orang yang
berderma maka perannya berakhir dengan donasinya itu.
3. Asuransi taawuni merupakan investasi harta para partisipan. Dana donasi
tidak ditempatkan di kotak tanpa investasi. Maka itu sama seperti
investasi harta asuransi komersial
4. Ia juga mengatakan reasuransi. Yaitu memberikan harta perusahaan
kepada perusahaan besar yang lebih mampu melakukan investasi
sebagaimana yang dilakukan oleh asuransi komersial
5. Manajemen urusannya dilakukan oleh direksi yang mewakili para
partisipan sesuai partisipasi mereka saham mereka. Orang yang
partisipasinya lebih banyak maka dia yang mengendalikan di dalam
Dewan Direksi, seperti asuransi komersial.
6. Gharar terjadi di dalamnya seperti asuransi komersial. Jadi orang yang
berpartisipasi tidak tahu kapan peristiwa akan terjadi terhadapnya
7. Program-program asuransi tersebut tidak berbeda dari program-program
asuransi komersial. Diantaranya program asuransi kebakaran, kecelakaan,

komoditas laut, darat dan udara, kapal, minyak dan gas Perbedaannya
hanyalah, asuransi komersial menyebut asuransi secara gamblang,
sedangkan asuransi takafuli di dalam programnya tertulis: program
asuransi takaful untuk kebakaran, program asuransi takaful atas
kecelakaan, program asuransi takaful atas komoditas darat, udara dan
laut. Dsb.
Ketiga, pendapat bahwa asuransi takaful berbeda dari asuransi
komersial dari sisi bahwa asuransi taawuni, takafuli, atau asuransi Islami
memiliki dalil syara. Yaitu hadits al-Asyariyun. Ini adalah istidlal yan tidak
benar. Karena hadits al-Asyariyun adalah setelah terjadinya kejadian. Mereka
tolong menolong dalam menghadapi kejadian yang telah terjadi, dan pada
paceklik, kelaparan, atau bencana yang mereka hadapi dengan masingmasing menyerahkan apa yang bisa digunakan untuk menghadapi kejadian
itu, bukannya mereka berserikat dalam membayar sebelum terjadinya
kejadian.
Teks hadits itu jelas:

Bahwa keluarga al-Asyariyun jika mereka kehabisan bekal di dalam


peperangan atau makanan keluarga mereka di Madinah menipis, maka
mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki di dalam satu lembar kain
kemudian mereka bagi rata diantara mereka dalam satu wadah, maka
mereka itu bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka (Hr Muttafaq
alayh)
Jadi mereka jika kehabisan bekal mereka maka pada saat itu mereka
mengumpulkan apa yang ada pada mereka di satu pakaian dan mereka bagi
sama rata.
Keempat, hukum syara dalam hal asuransi ini adalah haram. Hal itu:
1. Asuransi ini bukan tabarru. Jadi asuransi ini tidak boleh dibahas
berdasarkan asas sebagai tabarru.
2. Asuransi ini adalah pertanggungan (dhamn) dari perusahaan asuransi
yang terbentuk dari orang-orang yang berserikat terhadap partisipan yang
mengalami kejadian. Karena itu syarat-syarat pertangungan (adhdhamn) di dalam Islam wajib diterapkan terhadapnya:
a. Di sana wajib ada hak yang wajib ditunaikan yang berada di dalam
tanggungan. Yaitu bahwa kejadian yang terjadi kemudian
perusahaan memberikan pertanggungan kepada seseorang yang
mengalami kejadian. Artinya membayar konsekuensi yang muncul
dari kejadian itu.
b. Di sana harus tidak ada kompensasi. Yakni penanggung tidak
mengambil kompensasi baik disebut keuntungan atau surplus atau
partisipasi (premi)
c. Akad syirkah asuransi harus merupakan akad yang syari dengan
memenuhi syarat-syarat syirkah di dalam Islam. Yaitu adanya harta
dan badan, bukan syirkah harta saja. Asuransi yang dipaparkan
untuk dibahas ini adalah syirkah harta. Semuanya hanya menyetor

harta. Hingga dewan direksi yang mengelola urusan syirkah adalah


representasi dari harta mereka bukan reresentasi bagi badan
mereka. Jadi tidak ada seorang pun dari mereka yang berserikat
dengan badannya, aka tetapi hanya dengan hartanya. Fakta
asuransi itu dilihat dari sisi syirkah adalah sama seperti syirkah
musahamah, yaitu syirkah harta.
d. Di sana tidak boleh ada investasi harta dengan jalan yang tidak
syari, melalui perusahaan lain, apapun nama dan sebutannya baik
disebut investasi ataupun reasuransi
Dalil-dalil hal itu adalah dalil-dalil syirkah harta dan dalil-dalil adhdhamn. Semuanya dipaparkan di Nizhm al-Iqtishd.
Ringkasnya, asuransi taawuni, takafuli atau Islami tidak memenuhi
syarat-syarat adh-dhamn di dalam Islam. Juga tidak memenuhi syarat-syarat
syirkah di dalam Islam. Jadi asuransi tersebut secara syari tidak boleh.
24 Jumaduts Tsani 1431 H
07 Juni 2010 M