Anda di halaman 1dari 6

BULLETIN TAMAN ISLAM

Edisi Perdana 2011

unia memang masih menjadi orientasi utama banyak orang. tdk heran harta yg
berlimpah jabatan popularitas dan berbagai bentuk kesenangan lain menjadi
buruan manusia siang malam. Padahal dunia adl fatamorgana kesenangan yg
dirasakan akan menyisakan kehampaan kepedihan dan keletihan. Ha ilmu
agama yg bisa meredam ambisi manusia terhadap sifat serakah terhadap dunia.
Siapa
tdk

yg

mengharapkan
anak
menjadi seorang yg punya
kedudukan?
Seperti
hampir tdk ada orangtua
yg tdk memiliki bayangan
cita-cita setinggi langit
utk anak mereka. Biasa
sejak si anak masih dlm
buaian
mereka
telah
menyimpan
berbagai
keinginan dan harapan.
Pokok yg terbaiklah yg
ada dlm angan-angan.
Semoga anakku menjadi
orang semoga memiliki
masa depan yg lbh baik
dari pada ibu bapak
semoga jadi orang yg
paling ini paling itu . dan
sejuta
lambungan
semoga yg lainnya.
Tak berhenti sampai di
situ bahkan segala yg
dapat mendukung tercapai

cita-cita itu pun turut


disediakan sejak dini.
Mulai dari tabungan biaya
pendidikan
sampai
prasarana yg diperkirakan
menunjang pun disiapkan
baik-baik.
Berbagai
pendidikan
prasekolah
pun
diikuti
agar
melicinkan jalan si anak
memperoleh cita-cita atau
justru
cita-cita
orangtuanya.
Namun di balik segala
cita-cita
ada
sebuah
kemuliaan yg seringkali
justru terluputkan bahkan
diremehkan oleh banyak
orangtua. Padahal inilah
kemuliaan hakiki yg akan
didapatkan oleh si anak
jika
dia
benar-benar
meraihnya. Kemuliaan yg
disebutkan oleh Allah
Subhanahu wa Taala dlm
Kitab-Nya yg mulia:

Allah akan mengangkat


orang2 yg beriman di
antara kalian dan orang2
yg berilmu beberapa
derajat.
Demikianlah dlm kalamNya ini Allah Subhanahu
wa Taala menyatakan
bahwa
Dia
akan
mengangkat derajat orang
yg beriman lagi berilmu
di atas orang yg beriman
namun
tdk
berilmu.
Ketinggian derajat akan
diperoleh di dunia berupa
kedudukan yg tinggi serta
reputasi yg baik juga akan
dicapai pula di akhirat
berupa kedudukan yg
tinggi di dlm surga.
Mengapa
tdk
cukup
kedudukan dan kekayaan
sebagai bekal? Bukankah

dgn itu anak akan


mendapatkan segalanya?
Nampak benar bila kita
tdk mengkaji dalam-

dalam. Namun sesungguh


Rasulullah
Shallallahu
alaihi wa sallam pernah
mengatakan sebagaimana

yg disampaikan oleh
Abu
Kabsyah
AlAnmari
radhiyallahu
anhu:

DICARI
CALON
PENGHUNI
SYURGA
DAFTARKAN
SEKARANG
JUGA


:



Dunia itu diberikan kepada empat golongan: seorang hamba yg Allah anugerahi harta dan
ilmu mk dia pun bertakwa kepada Rabb dlm hal harta menggunakan harta utk menyambung
tali kekerabatan dan mengetahui bahwa Allah memiliki hak dlm harta itu mk dia berada pada
derajat yg paling mulia di sisi Allah. Dan seorang hamba yg Allah karuniai ilmu namun tdk
diberi harta dia adl seorang yg benar niatnya. Dia katakan Seandai aku memiliki harta aku
akan beramal seperti amalan Fulan mk dgn niat itu pahala mereka berdua sama. Juga seorang
hamba yg Allah beri harta namun tdk dikaruniai ilmu sehingga dia gunakan harta tanpa ilmu.
Dia tdk bertakwa kepada Rabb dlm harta itu tdk menggunakan utk menyambung tali
kekerabatan dan tdk pula mengetahui ada hak Allah dlm harta mk dia berada pada derajat yg
paling hina di sisi Allah. Dan seorang hamba yg tdk Allah beri harta maupun ilmu lalu dia
mengatakan Seandai aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan Fulan mk dgn
niat
itu
dosa
mereka
berdua
sama.
Dengan begitu jelaslah bahwa sekedar bekal harta takkan cukup bagi seseorang. Perlu sesuatu
yg lbh penting daripada itu yg justru nanti akan menyelamatkan dari kerusakan dlm
mengelola harta yg dimilikinya. Itulah ilmu. Akan berbeda tentu orang yg mengetahui syariat
Allah Subhanahu wa Taala dgn orang yg tdk mengetahui bagaikan perbedaan siang dan
malam
sebagaimana
Allah
firmankan
dlm
Tanzil-Nya:


Apakah sama antara orang yg berilmu dgn orang yg tdk berilmu?
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah menasehatkan tentang
keutamaan
ilmu
dibandingkan
dgn
harta:


Ilmu itu lbh baik daripada harta krn ilmu akan menjagamu sementara harta harus engkau
jaga. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dgn diamalkan sementara harta akan
terkurangi dgn penggunaan. Dan mencintai seorang yg berilmu adl agama yg dipegangi. Ilmu
akan membawa pemilik utk berbuat taat selama hidup dan akan meninggalkan nama yg
harum setelah matinya. Sementara orang yg memiliki harta akan hilang seiring dgn hilang
harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenar dia masih hidup. Sementara
orang yg berilmu akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada namun
mereka
tetap
ada
di
hati
manusia.
Al-Imam
Al-Hasan
Al-Bashri
rahimahullahu
pernah
pula
mengatakan:

Satu bab ilmu agama yg dipelajari oleh seseorang lbh baik bagi daripada dunia seisinya.
Ayat-ayat di dlm Al-Qur`an maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yg

menyebutkan kemuliaan orang yg berilmu amat berbilang banyaknya. Ayat dlm surah AlMujadilah di atas adl salah satunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Taala tdk memerintahkan
Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam utk meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu:

Dan
katakanlah:
Wahai
Rabbku
tambahkanlah
ilmu
padaku.
Ash-Shadiqul Mashduq Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa orang
berilmu akan mendapatkan kebaikan hakiki dari sisi Allah Subhanahu wa Taala. Hal ini
disampaikan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhuma ketika berkhutbah:
:


Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yg Allah
kehendaki mendapatkan kebaikan mk Allah akan faqihkan dia dlm agama.
Ucapan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ini menunjukkan keutamaan ilmu dan
memahami agama serta berisi anjuran utk mendapatkannya. Karena semua ini akan menuntun
seseorang
utk
bertakwa
kepada
Allah
Subhanahu
wa
Taala.
Dari sini bisa dipahami pula bahwa orang yg tdk memahami agama dalam arti mempelajari
kaidah-kaidah Islam dan segala yg berkaitan dengannya berarti Allah Subhanahu wa Taala
haramkan
dari
kebaikan.
Inilah yg dicita-citakan oleh para pendahulu kita yg shalih. Mereka tdk bercita-cita agar anak
mereka kelak menjadi hartawan atau penguasa krn mereka sangat memahami kemuliaan dan
kebaikan mana yg hakiki. Oleh krn itu mereka senantiasa berupaya agar anak-anak mereka
menjadi anak-anak yg berhias dgn adab yg tinggi dan berbekal dgn ilmu. Mereka merasakan
kebanggaan bila si anak memiliki pemahaman terhadap syariat Allah Subhanahu wa Taala
ini lbh dari kebanggaan apa pun dan merasakan penyesalan bila si anak terlewatkan dari
keutamaan
seperti
ini.
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu menyertakan putra Abdullah bin Umar
radhiyallahu anhuma utk duduk di majelis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersama
orang2 dewasa dari kalangan para sahabat. Ibnu Umar adl peserta termuda dlm majelis
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ini. Umar pun merasa bangga bila sang putra
memiliki ilmu lbh daripada yg dimiliki orang lain yg ada di situ. Peristiwa ini dikisahkan
sendiri
oleh
Abdullah
bin
Umar
radhiyallahu
anhuma:

: .
.
. : . :

: . : :


Kami dulu pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu beliau berta
pada kami Beritahukan padaku tentang sebuah pohon yg menyerupai atau seperti seorang
muslim tdk pernah gugur daun tdk demikian dan demikian selalu berbuah sepanjang waktu.
Ibnu Umar berkata Waktu itu terlintas dlm benakku bahwa itu adl pohon kurma. Namun aku
melihat Abu Bakr dan Umar tdk menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan pula utk
menjawabnya. Ketika para shahabat tdk menjawab sedikit pun Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam bersabda Itu pohon kurma. Saat kami telah bubar kukatakan pada ayahku Umar
Wahai ayah demi Allah sesungguh tadi terlintas dlm benakku itu adl pohon kurma. Ayahku
pun berta Lalu apa yg membuatmu tdk menjawab? Ibnu Umar menjawab Aku melihat

anda semua tdk berbicara sehingga aku merasa segan pula utk menjawab atau mengatakan
sesuatu. Kata Umar Sungguh kalau tadi engkau menjawab itu lbh kusukai daripada aku
memiliki
ini
dan
itu!.
Para pendahulu kita amat bersemangat agar anak-anak mereka memiliki pendidik semenjak
kecil dan benar-benar berpesan pada si anak agar bersemangat belajar. Mereka pun betulbetul perhatian dgn memberikan sarana yg akan digunakan anak mereka utk menuntut ilmu.
Seperti Utbah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu yg berpesan kepada pendidik putranya:
Ajarilah dia Kitabullah puaskan dia dgn hadits dan jauhkan dia dari syiir.
Banyak gambaran dlm kehidupan salafush shalih yg melukiskan semangat mereka terhadap
pendidikan anak yg dilatari dan dilandasi dgn Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam. Mereka ajarkan pada si anak tentang berat perjalanan menuntut ilmu dgn
segala aral merintang. Bahkan mereka tdk segan kehilangan harta utk perjalanan anak-anak
mereka menuntut ilmu agar kelak dapat memberikan manfaat pada diri si anak sendiri dan lbh
dari
itu
pada
Islam
dan
kaum
muslimin.
Ali bin Ashim Al-Wasithi rahimahullahu menceritakan tentang kesungguhan pengorbanan
ayah Ayahku pernah memberiku uang seratus ribu dirham sambil berkata Pergilah utk
menuntut ilmu dan aku tdk ingin melihat wajahmu kecuali setelah engkau menghapal seratus
ribu hadits!. Ali pun pergi jauh utk menuntut ilmu kemudian pulang utk mengajarkan ilmu
yg didapatkan sampai-sampai yg hadir di majelis lbh dari tigapuluh ribu orang.
Begitu pula Al-Mutamir bin Sulaiman mengisahkan tentang pesan sang ayah Ayahku
pernah menulis surat padaku saat aku berada di Kufah Belilah buku dan catatlah ilmu krn
harta
itu
akan
musnah
sementara
ilmu
itu
akan
kekal.
Bila ilmu dimiliki oleh seseorang mk kehormatan dan kemuliaan akan datang tanpa diundang
dan dicari-cari.Tak memandang apakah dia keturunan bangsawan atau seorang budak ataukah
dia seorang rupawan atau tidak. Memang bila akhirat menjadi tujuan seseorang mk dunia pun
akan Allah Subhanahu wa Taala datangkan kepadanya. Sebalik bila dunia yg menjadi citacita mk kehinaan semata yg akan dia dapatkan. Demikian dikatakan oleh Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu anhu pernah mendengar beliau
Shallallahu
alaihi
wa
sallam
bersabda:




Barangsiapa yg akhirat menjadi tujuan Allah akan jadikan kekayaan dlm hati dan Allah
kumpulkan bagi urusan yg tercerai-berai dan dunia akan mendatangi dlm keadaan tdk suka
kepadanya. Dan barangsiapa yg dunia menjadi cita-cita Allah akan jadikan kefakiran di depan
mata Dia cerai-beraikan urusan dan dunia tdk akan mendatangi kecuali hanya apa yg telah
ditentukan
baginya.
Ibnul Jauzi rahimahullahu pernah menasihati putra dan menganjurkan utk menyibukkan diri
dgn ilmu. Beliau berkata Ketahuilah ilmu itu akan mengangkat orang yg hina. Banyak
kalangan ulama yg tdk memiliki nasab yg bisa dibanggakan dan tdk punya wajah yg
rupawan.
Bahkan Atha` bin Abi Rabah rahimahullahu adl seorang yg berkulit hitam dan berwajah
jelek namun didatangi oleh Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik bersama dua orang putranya.
Mereka duduk di hadapan Atha` utk berta masalah manasik haji. Atha` pun menjelaskan
pada mereka bertiga sambil memalingkan wajah dari mereka. Sang Khalifah berkata kepada

kedua putra Bangkitlah dan jangan lalai dan malas utk mencari ilmu. Aku tdk akan pernah
melupakan
kehinaan
kita
di
hadapan
budak
hitam
ini.
Kalau demikian kenyataan tentu orangtua tdk akan membiarkan angan-angan melambung
tanpa arah. Mengantarkan anak menjadi seorang yg mengerti tentang syariat Allah
Subhanahu wa Taala dan segala seluk-beluk berarti mengantarkan anak menjadi seorang yg
akan
dimuliakan
di
dunia
dan
di
akhirat.
Oleh krn itu hendak orangtua selalu berusaha membimbing anak-anak utk mengikuti halaqahhalaqah ilmu menekankan dan menyemangati mereka agar bersungguh-sungguh dlm
menempuh jalan utk menuntut ilmu tanpa rasa bosan dan letih. Karena jalan ini akan
menyampaikan mereka pada ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Taala yg berujung
jannah-Nya yg kekal abadi. Benarlah janji Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yg
disampaikan oleh sahabat yg mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu:


Barangsiapa menempuh suatu jalan utk mencari ilmu Allah akan mudahkan bagi dgn ilmu
tersebut
jalan
menuju
surga.
Wallahu taala alamu bish-shawab.