Anda di halaman 1dari 61

Program Pengembangan Lumbung

Pangan Masyarakat (LPM)

Disusun Oleh :
Ricky Zubaidi (145040100111016)

Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,
karena berkat rahmat dan hidayahnya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan buku ini. Buku ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat
Dalam Agribisnis. Penulis mengucapkan terima kasih banyak
kepada

pihak-pihak

menyelesaikan

yang

penyusunan

telah
buku

ini,

membantu

untuk

terutama

dosen

pembimbing Pemberdayaan Masyarakat Dalam Agibisnis,


Bapak Prof.Dr.Ir.Sugiyanto.Ms.
Penulis menyadari bahwa penyusunan buku ini masih
banyak terdapat kesalahan. Oleh karena itu, penulis
menerima saran dari pembaca.
Semoga buku ini bermanfaat bagi penulis dan para
pembaca.
Malang, Oktober 2016

Penulis

Daftar Isi
Cover Dalam
Kata Pengantar ----------------------------------------------- i
Daftar Isi ------------------------------------------------- iii
Tentang Program Pengembangan Lumbung Pangan
Masyarakat -------------------------------------------------- 1
A. Pengertian Progrram ---------------------------------- 3
B. Latang Belakang Program ------------------------------ 3
C. Tujuan Program----------------------------------------- 4
D. Sasaran Program --------------------------------------- 5
E. Pelaksanaan Program ----------------------------------- 5
F. Pencapaian Program ----------------------------------- 21
Permasalahan Program Pengembangan LPM --------------- 25
A.Studi Kasus di Bandung Jawa Barat ------------------ 27
B.Studi Kasus di Sukoharjo Jawa Tengah -------------- 28
C.Studi Kasus di Gorontalo ----------------------------- 30
Pemberdayaan dan Solusi dari Permasalahan Program
Pengembangan LPM ----------------------------------------- 31
A.Studi Kasus di Bandung Jawa Barat ------------------ 33
B.Studi Kasus di Sukoharjo Jawa Tengah -------------- 37

C.Studi Kasus di Gorontalo ------------------------------41


Kesimpulan dan Saran -------------------------------------- 43
A. Kesimpulan ------------------------------------------- 45
B. Saran ------------------------------------------------ 45
Daftar Pustaka
Lampiran

A. Pengertian Program Pengembangan LPM


Program Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat
Desa merupakan salah satu program yang dijalankan oleh
Badan Ketahanan Pangan dibawah Kementrian Pertanian
yang bertujuan untuk bertujuan untuk mengembangkan
penyediaan Cadangan Pangan bagi masyarakat di suatu
wilayah. Sebenarnya lumbung pangan yang ada di
masyarakat sudah ada sejak lama, namun Pengembangan
Lumbung Pangan Masyarakat di Badan Ketahanan Pangan
dilaksanakan mulai tahun 2009 dengan mengalokasikan
dana dekosentrasi yang digunakan untuk pembangunan
fisik lumbung pangan.
B. Latar Belakang Program
Ketahanan pangan nasional masih merupakan isu yang
strategis bagi Indonesia mengingat kecukupan produksi,
distribusi dan konsumsi pangan memiliki dimensi yang
terkait dengan dimensi sosial, ekonomi dan politik.
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang
terintegrasi yang terdiri atas berbagai subsistem,
subsistem utamanya adalah ketersediaan pangan,
keterjangkauan dan pemenuhan konsumsi pangan.
Terwujudnya ketahanan pangan merupakan sinergi dari
interaksi ketiga subsistem tersebut. Subsistem
ketersediaan pangan mencakup aspek produksi, cadangan
serta keseimbangan antara impor dan ekspor pangan.
Ketersediaan pangan harus dikelola sedemikian rupa
sehingga walaupun produksi pangan bersifat musiman,
terbatas dan tersebar antar wilayah, tetapi volume
pangan yang tersedia bagi masyarakat harus cukup

jumlah dan jenisnya serta stabil penyediaannya dari


waktu ke waktu. Untuk itu aspek cadangan pangan
merupakan salah satu komponen penting dalam
ketersediaan pangan yang dapat berfungsi menjaga
kesenjangan antara produksi dengan kebutuhan,
disamping itu juga dapat digunakan untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya kekurangan pangan yang
bersifat sementara disebabkan gangguan atau
terhentinya pasokan 2 bahan pangan, misalnya karena
putusnya prasarana dan sarana transportasi akibat
bencana alam.
C. Tujuan Program
Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat bertujuan
untuk:
a. meningkatkan volume stok cadangan pangan di
kelompok lumbung pangan untuk menjamin akses dan
kecukupan pangan bagi anggotanya terutama yang
mengalami kerawanan pangan;
b. meningkatkan kemampuan pengurus dan anggota
kelompok dalam pengelolaan cadangan pangan; dan
c. meningkatkan fungsi kelembagaan cadangan pangan
masyarakat dalam penyediaan pangan secara optimal
dan berkelanjutan.

D. Sasaran Program
Sasaran Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat
Tahun 2016 adalah 54 (lima puluh empat) kelompok baru
(tahap pengembangan) sedangkan tahap kemandirian
pada tahun 2016 tidak diberikan bantuan pemerintah.
E. Pelaksanaan Program
a. Tahap Pengembangan
1. Sasaran
Sasaran untuk Tahap Pengembangan kegiatan
Lumbung Pangan Tahun 2016 adalah 54 (lima puluh
empat) kelompok lumbung pangan masyarakat
pengelola lumbung yang dibangun melalui Dana Alokasi
Khusus (DAK) bidang pertanian yang belum
mendapatkan fasilitasi pengisian cadangnan pangan
pada 4 (empat) provinsi, yaitu: Propinsi Aceh,
Sumatera Utara, Lampung dan Papua.
2. Indikator
Beberapa indikator kinerja yang digunakan
untuk mengukur keberhasilan tahap pengembangan
antara lain:
Indikator masukan (input)
Dana Bantuan Pemerintah Tahun Anggaran 2016
bagi 54 (lima puluh empat) kelompok lumbung;
dan
2) sebanyak 54
(lima puluh empat kelompok
lumbung terseleksi.
1)

Indikator keluaran (output)


Tersalurkannya Dana Bantuan Pemerintah
kepada 54 (lima puluh empat) kelompok lumbung
pangan untuk pengadaan gabah/beras, dan/atau
pangan pokok lokal spesifik lainnya sebagai cadangan
pangan.

Indikator hasil (outcome)


Tersedianya
cadangan
pangan
(gabah/beras/Pangan Pokok lokal spesifik lainnya) di
54 (lima puluh empat) kelompok lumbung pangan.

Indikator manfaat (benefit)


Terbangunnya pengelolaan kelembagaan
pangan yang mandiri dan berkelanjutan.

lumbung

Indikator dampak (impact)


Tercukupinya kebutuhan pangan masyarakat
sepanjang waktu.

3. Kriteria dan Penentuan Calon Kelompok


Kelompok yang akan menjadi penerima Dana
Bantuan Pemerintah kegiatan Pengembangan Lumbung
Pangan Masyarakat Tahun 2016 merupakan kelompok
yang sudah ada/telah eksis, dengan kriteria sebagai
berikut :
a. masyarakat yang tergabung dalam suatu kelompok
usaha harus memiliki nama kelompok, nama ketua
kelompok dan alamat yang jelas;

b.
c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

memiliki lumbung yang dibangun melalui Dana


Alokasi Khusus Bidang Pertanian;
apabila tanah tempat lumbung dibangun
merupakan tanah yang dihibahkan maka sudah
mempunyai surat hibah yang jelas dari pihak yang
menghibahkan dan ditanda tangani oleh ahli
warisnya dengan saksi kepala desa yang dibuat
diatas kertas bermaterai.
memiliki
organisasi
kepengurusan
(Ketua,
Sekretaris, Bendahara) yang dikelola oleh
masyarakat di lokasi lumbung tersebut dan masih
aktif hingga saat ini, dengan format struktur
kelompok sebagaimana tercantum dalam Format
1;
memiliki anggota minimal 20 (dua puluh) orang
yang sebagian besar anggotanya merupakan
masyarakat miskin ;
melaksanakan pertemuan rutin kelompok yang
dapat dibuktikan dengan absensi dan notulen
rapat;
bersedia membuat aturan dan sanksi secara
tertulis baik untuk pengurus maupun anggota yang
dituangkan dalam AD/ART;
bersedia membuat administrasi pembukuan yang
rapi dan teratur, baik pembukuan keuangan
maupun pembukuan arus keluar masuk Cadangan
Pangan;
bersedia menyimpan Cadangan Pangan di lumbung
sepanjang
waktu
sebagai
iron
stock.
Jumlah/volume iron stock tersebut setara
dengan kebutuhan konsumsi kelompok, minimal
untuk kebutuhan 3 (tiga) bulan;

j.

tidak mendapat fasilitas lain untuk kegiatan yang


sama/sejenis pada saat yang bersamaan atau
pada tahun-tahun sebelumnya (kecuali kegiatan
yang diprogramkan secara bertahap dan saling
mendukung);
k. tidak bermasalah dengan perbankan, kredit atau
sumber permodalan lainnya;
l. mempunyai nomor rekening kelompok di Bank
Pemerintah;
m. bersedia untuk mengirimkan laporan bulanan
(tertulis)
secara
rutin
kepada
Badan/dinas/kantor/unit kerja yang menangani
Ketahanan Pangan di kabupaten/kota; dan
n. mempunyai nomor telepon yang dapat dihubungi
(ketua kelompok).
b. Mekanisme Pelaksanaan
1.

Verifikasi Lokasi Sasaran


Verifikasi desa lokasi sasaran dilakukan
dengan melakukan peninjauan langsung ke desa yang
telah melakukan pembangunan fisik lumbung melalui
Dana Alokasi Khusus Tahun-tahun sebelumnya.

Verifikasi
Kelompok
Sasaran
Tahap
Pengembangan
1) provinsi menentukan jumlah kelompok sasaran
sesuai dengan alokasi Dana Bantuan Pemerintah
untuk kegiatan Pengembangan Lumbung Pangan
yang tersedia;

2) verifikasi kelompok dilakukan dengan peninjauan


langsung terhadap kelompok yang telah
mendapatkan bantuan pembangunan fisik
lumbung melalui Dana Alokasi Khusus Bidang
Pertanian yang belum mendapatkan fasilitasi
pengisian cadangan pangan;
3) kelompok sasaran adalah kelompok yang telah
ada atau kelompok baru yang memiliki potensi
untuk melakukan pengembagan cadangan pangan
masyarakat, berasal dari desa lokasi sasaran,
dan memiliki jumlah anggota minimal 20 (dua
puluh) orang; dan
4) kelompok sasaran tersebut belum pernah
mendapat Bantuan Pemerintah untuk penguatan
modal pada saat yang bersamaan atau pada
tahun-tahun sebelumnya.
2.

Sosialisasi Kegiatan
Sosialisasi kegiatan kepada kelompok sasaran
dilakukan oleh provinsi dengan melibatkan aparat
kabupaten.

3.

Penetapan Kelompok Sasaran


Kelompok sasaran ditetapkan dengan Surat
Keputusan
Kepala Badan/Instansi pelaksana
Ketahanan Pangan di provinsi. Penetapan kelompok
sasaran harus memenuhi kriteria kelompok yang telah
ditetapkan. Setelah dilakukan penetapan kelompok
tahapan berikutnya adalah
a. Pelatihan

b.

Pelatihan dilaksanakan oleh provinsi terhadap


kelompok dalam rangka pemberdayaan untuk
meningkatkan
kapasitas
kelompok
dalam
manajemen pengelolaan lumbung pangan.
Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah
Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah untuk
tahap pengembangan kelompok yang mempunyai
lumbung dibangun pada tanah yang berasal dari
hibah, maka harus sudah mempunyai surat hibah
yang jelas dari pihak yang menghibahkan dan
ditanda tangani oleh ahli warisnya dengan saksi
kepala desa yang dibuat diatas kertas
bermaterei, apabila kelengkapan dokumen ini
belum terpenuhi maka Dana Bantuan Pemerintah
tidak dapat direalisasikan.
Penyaluran
Dana
Bantuan
Pemerintah
ditransfer langsung ke rekening kelompok setelah
seluruh persyaratan terpenuhi secara lengkap,
diantaranya harus melampirkan Berita Acara
Serah Terima Bantuan Pemerintah kepada
kelompok (sebagaimana tercantum dalam Format
7).

c. Pelaksanaan kegiatan di kelompok


Dalam pengembangan lumbung pangan,
kelompok perlu memperhatikan aspek-aspek berikut:
1)
Perencanaan
menyusun Rencana Usaha Kelompok (RUK)
dengan melibatkan seluruh anggota kelompok;
kelompok menghitung kebutuhan pengadaan
bahan pangan untuk cadangan pangan
kelompok dimana jumlah/ volumenya

2)

disesuaikan dengan harga gabah atau harga


bahan pangan pokok spesifik lokasi yang
berlaku saat itu, yang dituangkan dalam RUK;
dan
kelompok menyusun kesepakatan bersama
mengenai peraturan dan ketentuan simpan
pinjam bahan pangan (pengisian, peminjaman/
penyaluran, pengembalian dan jasa) untuk
keberlanjutan pengelolaan cadangan pangan.
Pengadaan/Pengisian
mengutamakan pembelian bahan pangan dari
petani anggota kelompok lumbung, petani
setempat atau dari desa sekitarnya;
pengisian lumbung pangan dapat berasal dari
anggota kelompok sebagai simpanan anggota
yang dapat digunakan pada saat dibutuhkan
sesuai kesepakatan bersama; dan
membeli bahan pokok (gabah/beras) atau
bahan pangan pokok spesifik lokasi sesuai
dengan alokasi Dana

Bantuan Pemerintah sebesar Rp 20.000.000,00


(dua puluh juta rupiah) sesuai dengan RUK yang telah
disusun oleh kelompok.
3)

Penggunaan Cadangan Pangan


Sasaran penggunaan Cadangan Pangan adalah
anggota kelompok atau masyarakat umum untuk
keperluan:

pemenuhan kebutuhan anggota kelompok yang


mengalami kekurangan pangan/kerawanan pangan
pada masa paceklik;
dapat juga dipergunakan untuk memenuhi
kebutuhan anggota sewaktu-waktu dengan model
pengelolaan simpan pinjam; dan
penanganan keadaan darurat atau rawan pangan di
tingkat masyarakat sebagai akibat terjadinya
bencana alam atau bencana sosial.
c. Pembinaan
Pembinaan kelompok dimaksudkan untuk
membantu kelompok agar mau dan mampu menolong
dan mengorganisasikan kelompoknya dalam mengakses
teknologi, permodalan, pasar dan sumberdaya lainnya
sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas,
efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya
anggotanya.
Pembinaan kelompok perlu dilakukan secara
berkesinambungan, diarahkan pada perubahan pola
pikir dalam pengelolaan cadangan pangan, sehingga
mampu
menyusun
rencana
kegiatan
untuk
pengembangan dan keberlanjutan cadangan pangan,
mampu memperkirakan kebutuhan penyediaan
cadangan pangan bagi kelompok, serta dapat berupaya
untuk mengatasi kekurangan pangan. Pembinaan
kelembagaan kelompok lumbung juga diarahkan untuk
menumbuh kembangkan kemampuan kelompok dalam
menjalankan fungsinya, serta meningkatkan kapasitas

kelompok melalui pengembangan kerjasama dalam


bentuk jejaring dan kemitraan.
Pembinaan kelompok lumbung pangan dilakukan
secara berjenjang oleh penyuluh pertanian, aparat
kabupaten, aparat provinsi sampai tingkat pusat.
Pembinaan dilaksanakan mulai dari tahap identifikasi,
verifikasi, pencairan bansos sampai pemanfaatan dan
pengelolaaan cadangan pangan oleh kelompok.

d. Titik Kritis Pelaksanaan Kegiatan


Penerapan SPIP di setiap SKPD bertujuan
untuk memberikan keyakinan yang memadai terhadap
4 (empat) hal, yaitu: 1) tercapainya efektivitas dan
efisiensi
pencapaian
tujuan
penyelenggaraan
pemerintahan Negara, 2) keandalan pelaporan
keuangan, 3) pengamanan aset Negara, dan 4)
ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Instrument pengendalian yang digunakan
dalam pelaksanaan kegiatan Pengembangan Lumbung
Pangan Masyarakat Tahun 2016 baik di provinsi
maupun kabupaten/kota antara lain:
(1)
Pedoman Pengelolaan Dan
Penyaluran
Bantuan
Pemerintah Lingkup
Kementerian Pertanian Tahun
Anggaran
2016
(2)
Pedoman Teknis Pengembangan
Lumbung
Pangan Masyarakat Tahun 2016,

(3)

Petunjuk Teknis SPIP Badan Ketahanan


Pangan Tahun 2011.

Untuk mewujudkan akuntabilitas keuangan


negara melalui pencapaian tujuan SPIP, maka pada
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 juga
memberikan pedoman langkah-langkah yang harus
dilaksanakan, yaitu: (1) lingkungan pengendalian, (2)
penilaian risiko, (3) kegiatan pengendalian, (4)
informasi
dan komunikasi,
dan
(5)
pemantauan. Unsur SPIP di Indonesia mengacu pada
unsur Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah yang telah
dipraktikan di lingkungan pemerintahan di berbagai
negara, yaitu meliputi:
1.

Lingkungan pengendalian
Dalam
rangka
pelaksanaan
kegiatan
Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat Tahun
2016 pimpinan SKPD yang menangani Ketahanan
Pangan di provinsi wajib menciptakan dan memelihara
lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku
positif dan kondusif sehingga pelaksanaan kegiatan
Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat berjalan
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam
Pedoman Umum Pengembangan Lumbung Pangan
Masyarakat Tahun 2016. Untuk menciptakan
lingkungan pengendalian tersebut, pimpinan SKPD
yang menangani Ketahanan Pangan di provinsi dan
kabupaten/kota dapat menerapkannya antara lain
melalui: (1) penegakan integritas dan nilai etika, (2)

komitmen terhadap kompetensi, (3) kepemimpinan


yang kondusif, (4) pembentukan struktur organisasi
yang sesuai dengan kebutuhan, (5) pendelegasian
wewenang dan tanggung jawab yang tepat, dan (6)
hubungan kerja yang baik dengan instansi terkait.

2.

Penilaian risiko
Dalam pelaksanaan kegiatan Pengembangan
Lumbung Pangan Masyarakat perlu diantisipasi
kemungkinan adanya risiko yang akan dihadapi dalam
pelaksanaan. Sehubungan dengan hal tersebut,
pimpinan SKPD yang menangani Ketahanan Pangan di
provinsi dan kabupaten/kota perlu melakukan
penilaian risiko melalui beberapa tahap, yaitu
a. menetapkan tujuan pelaksanaan Pengembangan
Lumbung Pangan Masyarakat Tahun 2016 dengan
cara memuat pernyataan dan arahan yang spesifik,
terukur, dapat dicapai, realistis, dan terikat waktu.
b. menetapkan tujuan pada tingkatan pelaksanaan
kegiatan
Pengembangan
Lumbung
Pangan
Masyarakat Tahun 2016 berdasarkan pada tujuan
dan rencana strategis Kementerian Pertanian dan
Badan Ketahanan Pangan Pusat dan daerah.
c. melakukan identifikasi risiko pada tahapan
persiapan, pelaksanaan dan pemantauan terhadap
pelaksanaan kegiatan
Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat
Tahun 2016 antara lain:

1)

mengenali risiko dari faktor eksternal antara


lain:
terjadinya
pergantian
aparat
di
Badan/dinas/kantor/unit
kerja
yang
menangani Ketahanan Pangan di provinsi dan
kabupaten/kota, dan sumber daya manusia
yang menangani kegiatan Pengembangan
Lumbung Pangan Masyarakat;
kemampuan aparat kabupaten/kota dan
provinsi
yang
melakukan
identifikasi,
verifikasi dan evaluasi terhadap kelompok
tahap pengembangan dan tahap kemandirian;
kemampuan pengurus kelompok lumbung
antara lain dalam membuat RUK, mengelola dan
mengembangkan
cadangan
pangan,
mengembangkan usaha kelompok, membuat
pembukuan keuangan dan pelaporan bulanan;
dan
sumber daya manusia yang menangani proses
pengusulan/pencairan dana di KPPN.
2) Mengenali faktor internal dalam hal kesiapan
provinsi dan kabupaten/kota mulai dari
perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan
pelaksanaan kegiatan Pengembangan Lumbung
Pangan Masyarakat Tahun 2016 antara lain :
persiapan: membuat Juklak, menetapkan tim
Pelaksana Tingkat provinsi dan Koordinator
Pelaksana di kabupaten, menetapkan KPA/PPK
dan bendahara yang akan melakukan proses
pencairan dana keuangan, sosialisasi kegiatan
Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat

3.

2016 kepada pelaksana provinsi, kabupaten


dan kelompok;
pelaksanaan: penetapan kelompok, proses
pengusulan pencairan dana, pemanfaatan Dana
Bantuan Pemerintah;
pemantauan dan evaluasi: keterbatasan
sumber daya manusia daerah (yang akan
melakukan pemantauan dan evaluasi, membuat
laporan hasil pemantauan) dan kemampuan
sumber daya manusia yang akan membina; dan
melakukan analisa risiko untuk menentukan
dampak dari risiko yang telah diidentifikasi
terhadap pencapaian tujuan pelaksanaan
kegiatan Pengembangan Lumbung Pangan
Masyarakat Tahun 2016.
Kegiatan Pengendalian

Kegiatan pengendalian merupakan tindakan


yang diperlukan untuk
mengatasi
risiko
serta penetapan dan pelaksanaan
kebijakan
dan
prosedur untuk memastikan bahwa tindakan
mengatasi risiko telah dilaksanakan secara efektif.
Kegiatan pengendalian dapat dilakukan antara lain:
a. pembinaan
secara
berkelanjutan
terhadap
kelompok dan aparat daerah yang akan melakukan
pembinaan dan/atau yang bertanggungjawab
terhadap pelaksanaan kegiatan Pengembangan
Lumbung Pangan Masyarakat Tahun 2016;
b. pengendalian atas pengelolaan sistem informasi di
daerah;

c. pengendalian Dana Bantuan Pemerintah yang akan


menjadi aset kelompok;
d. penetapan dan review atas indikator dan ukuran
kinerja dalam capaian
pelaksanaan kegiatan
Pengembangan
Lumbung Pangan Masyarakat
Tahun 2016;
e. pencataan yang akurat dan tepat waktu atas
kejadian-kejadian yang terjadi di lapangan
(pencairan Dana Bantuan Pemerintah, pemanfaatan
Dana Bantuan Pemerintah yang tidak sesuai dengan
Pedoman dan RUK yang disusun oleh kelompok); dan
f. dokumentasi yang baik atas Sistem Pengendalian
Intern serta transaksi dan kejadian penting, dan
lain-lain.
4.

Informasi dan komunikasi

Informasi
dan
komunikasi
transparan
kepada
tim
Pelaksana Tingkat provinsi dan
Koordinator Pelaksana di kabupaten perlu dilakukan
agar mereka dapat melakukan pembinaan maupun
bimbingan teknis dengan baik kepada kelompok
sehingga pelaksanaan
kegiatan
Pengembangan
Lumbung Pangan Masyarakat sesuai dengan ketentuan
di dalam Pedoman/Juklak.
Selanjutnya dapat dilakukan
identifikasi
kemungkinan permasalahan yang akan timbul,
melakukan pencatatan dan mengkomunikasikan
secepatnya kepada pimpinan apabila mengalami
masalah di dalam pelaksanaannya. Hal ini perlu
dilakukan
untuk
menghindarkan
terjadinya

kesalahpahaman (misunderstanding) maupun distorsi


informasi sehingga didalam pelaksanaannya berjalan
secara efektif untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Untuk memperoleh informasi yang cepat
dari kabupaten/kota ke provinsi atau sebaliknya
diperlukan komunikasi yang efektif, sehingga setiap
SKPD perlu dilengkapi dengan sarana komunikasi yang
memadai,
mengelola,
mengembangkan,
dan
memperbaharui sistem informasi secara terus
menerus, serta menyediakan dan memanfaatkan
berbagai bentuk dan sarana komunikasi yang ada
semaksimal mungkin.
5.

Pemantauan

Pemantauan
pengendalian
intern
pada
dasarnya merupakan untuk memastikan apakah sistem
pengendalian
intern
yang
ada
pada
Badan/dinas/kantor/unit kerja telah berjalan
sebagaimana yang diharapkan dan apakah perbaikanperbaikan yang perlu dilakukan telah dilaksanakan
sesuai dengan perkembangan. Pimpinan SKPD wajib
memberikan perhatian terhadap kegiatan pemantauan
atas pengendalian intern dan perkembangan misi
organisasi. Pengendalian yang tidak dipantau dengan
baik cenderung akan memberikan pengaruh yang
buruk dalam jangka waktu tertentu.
Pada kegiatan Pengembangan Lumbung Pangan
Masyarakat, pemantauan dan evaluasi dilakukan untuk
mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan oleh
kelompok (tahap pengembangan, dan/atau tahap

kemandirian) dan permasalahan yang dihadapi dalam


pengelola cadangan pangan dan pengembangan usaha
kelompok. Selanjutnya setelah pemantauan dan
evaluasi, segera dilakukan penyempurnaan dalam
penyelenggaraan
kegiatan
untuk
mendorong
keberhasilan
dan
keberlanjutan
kegiatan
Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat.
Pemantauan dan evaluasi dilakukan secara
berkala dan berjenjang mulai dari kelompok,
kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat yaitu:
a. Kelompok (tahap pengembangan) melakukan
pemantauan dan evaluasi secara partisipatif dalam
kerangka pengendalian dan pengawasan terhadap
pelaksanaan kegiatan dan pemanfaatan Dana
Bantuan Pemerintah untuk pengisian cadangan
pangan.
b. Badan/dinas/kantor/unit kerja ketahanan pangan
kabupaten/ kota, provinsi dan pusat melakukan
pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap:
pemanfaatan dan perkembangan Dana Bantuan
Pemerintah untuk tahap; dan
pelaksanaan kegiatan tahap pengembangan
sesuai dengan Rencana Usaha Kelompok.

F.

Pencapaian Program

Indonesia telah berhasil mencapai target MDGs poin


1 (satu) dengan menurunkan proporsi tingkat kelaparan dari
19,9 persen di tahun 1990-1992 hingga menjadi 8,6 persen
pada tahun 2010-2012. Prestasi ini melebihi penurunan angka
proporsi yang ditargetkan dalam MDG yaitu sebesar 9,9
persen (catatan FAO, Juni 2013). Badan Ketahanan Pangan,
melalui program seperti Desa Mandiri Pangan, Percepatan
Penganekaragaman Konsumsi Pangan, Lembaga Distribusi
Pangan Masyarakat, dan Lumbung Pangan Masyarakat, aktif
memberdayakan masyarakat agar keluar dari lingkaran
kemiskinan.
Badan Ketahanan Pangan sejak tahun 2010 sampai
dengan 2014 telah melakukan kegiatan pembangunan lumbung
pangan masyarakat secara kumulatif sebanyak 3.106 unit,
yang difasilitasi melalui dana DAK untuk pembangunan fisik
lumbung dan dana APBN dekonsentrasi untuk pengisian
lumbung
sebagai
stimulan
bagi
kelompok
dalam
pengembangan lumbungnya. Pembangunan lumbung tersebut
tersebar pada 32 provinsi.
Berikut ini data jumlah Lumpung Pangan Masyarakat
yang dibangun tahun 2009 - 2012
No

Provinsi

1
2
3
4
5

DKI Jakarta
Banten
Jawa Barat
Jawa Tengah
DIY

2009
5
15
16
6

Lumbung yang dibangun


2010
2011
2012
6
12
53
26
72
89
12
10
-

2013
15
74
106
5

Total
38
168
283
33

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

Jawa Timur
Aceh
Sumatera
Utara
Sumatera
Barat
Riau
Jambi
Sumatera
Selatan
Bengkulu
Lampung
Bangka
Belitung
Kepulauan
Riau
Kalimantan
Barat
Kalimantan
Tengah
Kalimantan
Selatan
Kalimantan
Timur
Sulawesi Utara
Sulawei
Tengah
Sulawesi
Selatan
Sulawesi
Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Bali
NTB
NTT
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat

17
13

50
12

117
25

106
14

290
64

11

23

27

22

83

12

29

15

38

94

11
10

11
12

1
16

5
19

28
57

10

32

48

82

172

8
12

13
47

13
39

2
56

36
154

20

23

18

34

84

22

14

50

13

16

25

25

79

16

10

36

22

20

88

14

43

21

38

116

14

22

29

30

95

19

18

27

73

6
2
11
11
2
3

9
7
9
25
63
12
8
5

11
11
31
16
6
9
-

14
17
39
28
8
6
5

40
7
39
106
118
26
25
20

33

Papua
Total

10

279

690

682

873

28
253
3

Sumber : Statistik Ketahanan Pangan Tahun 2013


Keterangan :
Tahun 2009 dan 2012 dibangun melalui alokasi dana APBN
Tahun 2010, 2011 dan 2013 dibangun melalui aloaksi DAK Bidang
Pertanian

Target Kinerja Kegiatan Badan Ketahanan Pangan Tahun 20152019

Sumber : Renstra Badan Ketahanan Pangan Tahun 2015-2019 (Revisi Ke-1)

Jumlah Kelompok Lumbung Pangan Tahun 2010 -2013

Sumber : Statistik Ketahanan Pangan Tahun 2013

A. Studi Kasus di Bandung Jawa Barat


Walaupun Lumbung Pangan Masyarakat mempunyai
tugas yang berat dan telah mempunyai eksistensi yang kuat
karena terdiri dari berbagai kalangan atau tokoh-tokoh
masyarakat
namun
dalam
kenyataannya
dan
perkembangannya masih banyak kendala dan memerlukan
peningkatan-peningkatan secara menyeluruh.
Berikut ini beberapa masalah yang dihadapi
Organisasi Lumbung Pangan Masyarakat Bandung , yaitu;
1. Tidak adanya anggaran yang jelas baik dari APBN maupun
APBD dalam menunjang program-program LPM sehingga
dalam aktifitasnya ibarat hidup segan mati tak mau.
Berarti walaupun setinggi apapun programnya tanpa
adanya dana penunjang maka program itu tidak akan
tercapai, sehingga dapat dikatakan kebijakan pemerintah
dipandang setengah hati.
2. Asosiasi LPM di tingkat Propinsi dan Kabupaten belum
menampakkan dirinya sebagai Lembaga yang patut
diperhitungkan dalam mengisi pembangunan terutama
dalam menggerakkan masyarakat kearah positif
Bahkan masih ada beberapa Kabupaten yang belum
memiliki dan belum mau membentuk lembaga ini walaupun
Lembaga LPM ini merupakan perintah Undang-Undang.
3. Terbentuknya LPM di kelurahan /Desa sering tidak
aspiratif bahkan antara Ketua LPM dan Lurah ada yang
tak akur bahkan tidak ada koordinasi. Begitu dilantik
selanjutnya berakibat tidak bisa digerakkan alias nato (
No action talk only )
4. Selanjutnya banyak lagi masalah-masalah yang dihadapi
oleh LPM itu sendiri yang terutama sifatnya internal
diantara anggota tidak ada kerja sama bahkan ketua dan

sekretaris jalan sendiri-sendiri. Akan tetapi sebaliknya


diakui ada juga LPM yang sudah berjalan dengan baik dan
selalu menjalin kerja sama dengan Desa adat dan
Kelurahan dan instansi terkait., hal ini disebabkan karena
SDM yang mapan/ kompak dan sumber dana yang
memadai.

B. Studi Kasus di Kabupaten Sukoharjo


Jawa Tengah
Sebagian besar Lumbung Pangan Masyarakat
Sukoharjo sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya,
sebagian lagi mengalami kepunahan atau sudah tidak bisa
dilacak keberadaanya. Lumbung pangan desa yang
merupakan salah satu kearifan lokal, keberadanya
semakin langka, karena tergerus perkembangan ekonomi
global dan gaya hidup manusia modern yang semakin
masif.
Beberapa hal yang menyebabkan lumbung pangan desa
semakin terabaikan, sebagai instrumen penting
ketahanan pangan.
1. Petani cenderung berprilaku konsumstif.
Masyarakat petani cenderung tidak mau menyimpan
hasil panennya karena dianggap merepotkan (menambah
rantai pekerjaan pasca panen). Sehingga hasil panen yang
melimpah, seringkali tidak disimpan, tetapi langsung
dijual atau petani berfikir segera menerima uang tunai.

2. Perkembangan model-model kelembagaan lain.


Banyak lembaga keuangan yang memberikan fasilitas
perkreditan dengan syarat mudah bagi petani (meskipun
dengan tingkat bunga yang sangat tinggi). Petani
cenderung berpikir praktis tanpa berusaha belajar
mengelola permodalan usahataninya sendiri.
3. Banyak petani yang terjerat dalam sistem ijon.
Kebutuhan yang mendesak seringkali mendorong
petani untuk menjual komoditasnya sebelum masa panen
tiba kepada tengkulak. Akibatnya ketika panen, tidak ada
komoditas pangan yang bisa dikelola lumbung pangan desa
untuk diambil benefitnya.
4. Sikap petani yang cenderung apatis.
Sesuai dengan karakteristik kearifan lokal, lumbung
pangan desa itu keberadaannya berbasis pada budaya
yang
telah hidup dan dipraktekan sangat lama di perdesaan
yaitu sikap kekeluargaan dan kegotongroyongan
masyarakat perdesaan. Namun nilai-nilai luhur itu
mengalami degradasi, karena masuknya budaya kota dan
budaya asing ke perdesaan sehingga mengakibatkan
kelembagaan lumbung pangan desa mulai ditinggalkan.

C. Studi Kasus di Gorontalo


Di Desa Huyula Kecamatan Mootilango Kabupaten
Gorontalo memiliki luas persawahan mencapai 51,3 Ha dan
terdapat masyarakat tani yang memanfaatkan lumbung
pangan desa sebagai tempat untuk menyimpan cadangan
gabah yang meraka bangun di sekitar lokasi persawahan.
Namun Lumbung padi tersebut belum berjalan dengan
optimal. Hal ini terjadi karena beberapa kendala yaitu
No Jenis kendala Potensi kendala pemberdayaan
1
Kendala
- Terbatasnya sumberdaya manusia yang
internal
unggul untuk mengelola LPM
- Terbatasnya anggaran pengembangan
lumbung pangan masyarakat
2

Kendala
eksternal

Belum terjalinnya kemitraan petani


dengan dolog dan koperasi pertanian

A.

Studi Kasus di Bandung

Dalam konsep pemecahan permasalahan selalu kita


mempunyai jalan keluar sepanjang ada semangat untuk
memecahkan masalah, namun terdapat beberapa hal yang
perlu
dikemukakan
tertutama
berkaitan
dengan
memantapkan program kerja LPM secara terpadu.
Ada beberapa methode untuk memantapkan progam
kerja LPM kedepan.

a. Terapkan Manajemen SDM Partisipatif

Dalam beberapa hal organisasi digerakkan oleh


manusia, dan organisasi itu besar karena dibesarkan dan
dikembangkan oleh manusia. Dalam teori manajemen maka
peranan orang atau manusia sebagai faktor yang sangat
menentukan dan dominan didalam menggerakkan organisasi.
Dengan demikian SDM yang baik adalah mempunyai
pendidikan dan pengetahuan dan mau bekerja sama (
partisipatif)., sehingga lengkapnya manajemen tersebut
dinamakan menajemen SDM partisipatif.
Ada beberapa hal yang diperhatikan dalam MSDM
partisipatif
menempatkan orang sesuai dengan keahliannya
mengadakan koordinasi
mengadakan komunikasi
mengadakan pelatihan atau keterampilan
memberikan peluang kepada seluruh anggota untuk
bisa aktif dan partisipatif serta peduli kepada
pekerjaannya

b. Kerja sama dengan Perguruan Tinggi Negeri /PTS atau


LSM yang peduli atau mempunyai Visi dan Misi yang
hamper sama.
PTN dan PTS dengan konsep Tri Darma Perguruan
Tinggi mempunyai Visi dan misi bahkan program kerja LPM
yaitu sama sama bertumpu kepada pengabdian masyarakat.
Demikian juga LSM yang memang peduli kepada
pemberdayaan masyarakat.
Namun dalam hal ini LPM dapat mempergunakan
PTS/PTN dalam bidang pendidikan, misalnya
1). dapat memberikan penyuluhan/pendidikan kepada
anggota LPM atau stake holders yang yang di desa
2). Penyuluhan hukum , ekonomi, pertanian dan iptek
dsb.nya
3). Sebagai mitra kerja LPM dalam hal PTS/PTN
melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di desa.
Caranya :
Dengan memberitahukan keberadaan LPM di Kelurahan
bahkan asosiasi LPM Propinsi dapat mengimpormasikan
mengenai keberadaan LPM yang ada di Kelurahan /Desa.
Bilamana perlu dengan memperkenalkan diri kekampus
mengadakan seminar bersama dan atau membuat kerja sama
( Mou )

c. Penyusunan Program kerja LPM (terpadu)


Ada beberapa cara untuk membuat program kerja LPM
agar mempunyai eksistensi dan mengakar dalam masyarakat.
1). Duduk bersama
Pengurus LPM berinisiatip mengadakan loka karya
penyusunan program kerja LPM dengan mengundang stake
horloders yang ada di Desa /Kelurahan., dengan cara duduk
bersama. Loka karya ini dipandu oleh beberapa fasilitator .
2). Identifikasi masalah
Identifikasi masalah maksudnya adalah dengan
menggali masalah-masalah yang ada di desa /kelurahan dan
ditulis dalam kertas dan masalah yang kita hadapi ( bahasa
singkat tapi tegas) sebanyak-banyaknya sesuai dengan seksi
yang ada dalam buku pedoman LPM misalnya dalam bidang
hukum penertiban penduduk pendatang dll.
3). Pengelompokan masalah
Beberapa masalah yang dikumpulkan kemudian
dikelompokkan menjadi tiga kelompok , yaitu :
a. Kelompok masalah mendesak ( segera bisa dilaksanakan)
b. Kelompok masalah penting ( bisa dilaksanakan tahun depan)
c. Kelompok masalah ditunda ( bisa ditunda untuk diatas 2
tahun)
d. Ukur masalahnya dengan rumus 5 W 2 H
Masalah Who Why
When Where How
How
mendesak Siapa Mengapa Kapan Dimana Bgmana much
(What)
Berapa

Catatan :
Keunggulan dari Program kerja yang dibuat bersama oleh
Para Tokoh Masyarakat ( Stake holders ) adalah secara
hukum dan politis program itu kuat karena disusun dan
dibuat secara demokratis oleh tokoh-tokoh masyarakat
setempat dan merekalah yang mengerti dan tahu masalahmasalah yang ada di desanya . Selanjutnya bilamana perlu
dikuatkan menjadi keputusan bersama antara desa adat
dan dinas ( Lurah).
4). Menggali sumber dana bersama
Duduk bersama juga dilanjutkan tentang bagaimana
Kelurahan LPM dan Desa Adat bisa bersama-sama menggali
sumber dana bersama, caranya dengan menggali potensipotensi yang telah ada dalam rapat kerja bersama. Sehingga
keputusan bersama mengenai penggalian dana bersama
mendapat dukungan masyarakat dibandingkan dengan
masing-masing Lembaga ( Lurah, LPM dan Desa Adat )
sendiri-sendiri mengambil dana langsung dari masyarakat.
Misalnya
a. Retribusi parkir
b. Retribusi para pedagang, rumah kost/hotel, pendatang,
dsb.nya.
Dengan cara-cara tersebut di atas maka program
kerja yang disusun bersama akan mempunyai kekuatan dan
akan didukung oleh masyarakat yang bersangkutan.

B. Studi Kasus di Sukoharjo Jawa Tengah


Berdasarkan Permasalahan Lumbung Pangan Masyarakat di
Sukoharjo, maka perlu Revitalisasi fungsi dan peran LPM di
daerah tersebut yaitu dengan Model sebagai berikut

Bagan diatas menunjukan model revitalisasi fungsi


dan peran lumbung pangan desa yaitu suatu model yang
menjelaskan bagaimana proses metamorfosa dari lumbung
pangan desa yang berfungsi tunggal sebagai buffer stock
(hanya untuk menyimpan padi) berubah menjadi lembaga
keuangan mikro syariah (yang disebut dengan BMT-D)
dengan menjalankan fungsi dan peran yang lebih luas. Rumah
tangga atau masyarakat perdesaan yang masuk dalam
kategori rawan pangan merupan prioritas utama yang menjadi
ladang garapan program peningkatan ketahanan pangan.
Keberadaan lumbung pangan desa konvensional, selama ini
belum bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk
mengatasi terjadinya rawan pangan di perdesaan, karena
secara fisik fungsinya hanya sebagai penyimpan hasil panen
padi untuk mengatasi kemungkinan terjadinya anomali iklim,
bencana alam, dan rawan pangan transien.
Hasil
penelitian
di
daerah
tersebut
merekomendasikan bahwa perlu adanya pengembangan
(revitalisasi) kelembagaan lumbung pangan desa menjadi
lembaga keuangan mikro syariah yang disebut dengan BMTD yang menjalankan dua fungsi utama yaitu: (1) baitul maal
(fungsi sosial) yaitu mengelola zakat hasil panen petani;
menyimpan cadangan bahan pangan; menyalurkan dana
bantuan sosial (BANSOS) dari pemerintah; pengadaan bibit
unggul, pupuk dan obat-obatan secara gratis; memberikan
bantuan permodalan (hibah/qordhul hasan) kepada
masyarakat/petani yang masuk dalam kategori ranwan
pangan dan (2) baitul tamwil (fungsi bisnis) yaitu pengadaan
dan meminjamkan bibit unggul, pupuk dan obatobatan

pertanian dengan sistem bagi hasil yang tidak memberatkan;


mengendalikan harga pangan; memberikan pinjaman modal
(loan) dengan bagi hasil yang sangat lunak dan menyediakan
fasilitas tabungan baik berupa bahan pangan maupun uang
tunai (deposit).
Dalam menjalankan fungsinya BMTD didukung penuh
pemerintah desa, sebagai pemilik (komisaris). Dalam hal ini
pemerintah desa merupakan penyetor modal awal yang
sumber dananya berasal dari anggaran pendapatan dan
belanja desa (APBDes). Untuk menguatkan kapasitas lembaga
dan meningkatkan produktifitas kerja BMT-D, maka juga
diperlukan dukungan pendanaan yang sumbernya berasal dari
anggaran pendapatan dan belanja daerah/kabupaten (APBD).
Untuk menjalankan fungsi sosial (baitu maal)
terutama untuk mengelola penerimaan dan penyaluran Zakat,
Infaq dan Shadaqoh (ZIS), BMT-D bisa melakukan
penggalangan dana yang bersumber dari para wajib zakat
(muzakki) dan para petani pemilik lahan yang sudah wajib
zakat hasil panen. Dalam hal ini masyarakat golongan kaya
bisa menyalurkan ZISnya melalu BMTD. Selanjut BMT-D
menyalurkan dana hasil pengumpulan ZIS masyarakat
perdesaan tersebut kepada mayarakat dan atau rumah
tangga petani yang termasuk kategori rentan pangan,
kuranga pangan dan rawan pangan.
Penyaluran dana ZIS kepada masyarakat kurang
mampu, tidak hanya untuk kebutuhan pokok (konsumtif),
tetapi juga bantuan permodalan produktif, bantuan bibit
unggul, pupuk dan obat-obatan. Dalam kaitan itu, diperlukan
peran strategis BMT-D untuk melakukan pemberdayaan

kepada masyarakat disekitar BMT-D berdiri. Pemberdayaan


masyarakat
bisa
dilakukan
dengan
menggandeng
kementerian pertanian untuk menyediakan para penyuluh
pertanian. BMT-D juga bisa bekerjasama dengan perguruan
tinggi dan atau konsultan bisnis pertanian untuk
mengembangkan petani biasa menjadi petani wirausahawan
(agripreneur).
Untuk menjamin pemberdayaan masyarakat yang
dilakukan BMT-D itu berkelanjutan dan berkesinambungan,
maka diperlukan perekrutan dan pembinaan terhadap petani
atau kelompok tani yang menjadi mitra BMT-D. Misalnya
setiap dua pekan sekali diadakan kegiatan temu kelompok
tani yang digagas dan diselenggarakan oleh BMT-D untuk
mengikuti program-program pemberdayaan. Sehingga
diharapkan dari hasil kegiatan pemberdayaan ini, masyarakat
dan atau rumah tangga petani yang rawan pangan bisa naik
kelas menjadi masyarakat tahan pangan atau dari mustahik
menjadi muzakki atau dari petani biasa menjadi agripreneur.
Karena sudah naik kelas menjadi muzakki otomatis dengan
sukarela masyarakat akan menyalurkan ZISnya kepada BMTD.

C. Studi Kasus di Gorontalo


Adanya kendala internal ini dapat menyebabkan
manajemen pengelolaan dan motivasi petani dalam
memperkuat kelembagaan lumbung pangan desa menjadi
berkurang, karena pengelolaan kelembagaan lumbung pangan
desa memerlukan sumberdaya manusia yang memiliki
kompetensi manajemen usahatani serta membutuhkan
anggaran yang cukup besar untuk melindungi hasil panen yang
dititipkan petani pada lumbung pangan terutama
perlindungan terhadap serangan hama gudang yang dapat
menurunkan kualitas produksi beras.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hermanto (2009) yang
menjelaskan bahwa potensi SDM dan penyediaan anggaran
berpengaruh pada proses revitalisasi kelembagaan lumbung
pangan desa. Untuk mencegah kendala tersebut, maka
diperlukan program pelatihan manajemen organisasi bagi
petani dan penyediaan anggaran pada setiap tahunnya melalui
dinas instansi terkait, sehingga keberadaan lumbung pangan
desa dapat bertahan sesuai dengan perkembangan jaman.
Kendala eksternal dalam proses pemberdayaan
masyarakat tani melalui penguatan kelembagaan lumbung
pangan desa, yaitu belum terjalinnya kemitraan antara petani
dengan dolog dan koperasi pertani dalam pengelolaan lumbung
pangan desa. Menurut Hermanto (2009), pola kemitraan pada
kebijakan program ketahanan pangan diarahkan pada proses
ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan yang dilakukan
antara pemerintah (dolog) dengan petani sebagai produsen.
Pola kemitraan tersebut bersifat simbiosis mutualisme yang
berdampak baik bagi pengembangan program ketahanan
pangan dan penguatan kelembagaan lumbung pangan desa.

Sehingga, di Desa Huyula perlu Pemberdayaan


masyarakat tani melalui penguatan kelembagaan Lumpung
Pangan Masyarakat melalui proses berikut :
No

Proses pemberdayaan
masyarakat
Menciptakan situasi atau iklim
sosial

Dimensi pemberdayaan

Memperkuat potensi atau daya


yang dimiliki masyarakat tani

- Memberikan akses informasi


pasar
- Membangun jalan akses
usahatani

Melindungi masyarakat tani


dari segala kelemahannya

Menetapkan harga dasar


pembelian gabah dari usaha
pemerintah

Memotivasi masyarakat tani


dalam memperkuat
kelembagaan lumbung pangan
desa

A.Kesimpulan
Dari beberapa pembahasan di bab sebelumnya,
maka dapatlah disimpulkan bahwa :
1. LPM sebagai mitra kerja pemerintah merupakan
lembaga yang sangat berperan dalam memperdayakan
masyarakat kearah pembangunan partisipatif
2. Namun dalam kenyataannya LPM masih mengalamai
kendala-kendala terutama masalah pendanaan, kurang
kompaknya pengurus dan belum optimalnya program
kerja terpadu.
3. Masih terdapat kesenjangan antara pengurus desa
adat denagn pengurus LPM bahkan dengan pihak
kelurahan, walapun sudah ada LPM yang dengan cukup
bagus menjalin kerja sama dengan pihak Desa Adat dan
kelurahan.

B. Saran
1. Perlu peningkatan SDM anggota LPM melalui
manajemen SDM dengan mengadakan pelatihan dan
pendidikan secara rutin. Periodik
2. Perlu melibatkan LPM dalam pesta demokrasi Pemilu,
Pilkada dan Program-program Pemerintah seperti PPK

Daftar Pustaka
Badan Ketahanan Pangan.2014. Statistik Ketahanan Pangan
Tahun 2013. Jakarta: Badan Ketahanan Pangan
Kementerian Pertanian
Badan Ketahanan Pangan.2015. Rencana Strategis Badan
Ketahanan Pangan Tahun 2015-2019 (Revisi 1).
Jakarta: Badan Ketahanan Pangan Kementerian
Pertanian

Bahoa, Mohamad Ikbal. 2011. Pemberdayaan

Masyarakat Tani Melalui Penguatan Kelembagaan


Lumbung Pangan di Desa Huyula Kecamatan
Mootilango Kabupaten Gorontalo. Gorontalo:

Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo


Mardalis, Ahmad. 2015. Model Revitalisasi Fungsi dan Peran
Lumbung Pangan Desa untuk Meningkatkan Ketahanan
Pangan. Surakarta: FEB Universitas Muhammadiyah
Surakarta
Menteri Pertanian.2016.Petunjuk Teknis Pengembangan
Lumbung Pangan Masyarakat Tahun 2016. Jakarta:
Kementerian Pertanian
Rachmat, Muchjidin.2011. Lumbung pangan masyarakat:

keberadaan dan perannya dalam penanggulangan


kerawanan pangan. Bogor: Pusat sosial ekonomi dan

kebijakan pertanian
Soemarno.2010. Model Pengembangan Lumbung Pangan
Masyarakat Desa. Malang: PSDAL-PDIP PPS FPUB
www.pertanian.go.id
www.bkp.pertanian.go.id
www.bps.go.id

Lampiran Presentasi Layout Buku