Anda di halaman 1dari 11

1.

Jelaskan patofisiologi diare karena bakteri dan diare karena virus


Jawab
VIRUS -> enterosit (sel epitel usus halus) -> infeksi & kerusakan villi usus halus
Enterosit rusak diganti oleh enterosit baru (kuboid/sel epitel gepeng yang belum matang) -> fungsi belum
baik
Villi usus atropI -> tidak dapat mengabsorbsi makanan & cairan dengan baik -> Tekanan Koloid Osmotik
usus meningkat -> motilitas meningkat -> Diare
BAKTERI INVASIF (Salmonella, Shigella , E. coli invasif,Champylobacter)
Bakteri menginvasi sel mukosa usus halus -> reaksi sistemik (demam, kram perut) dan
bisa sampai terdapat darah dalam tinja
BAKTERI NON-INVASIF (Vibrio cholerae, E. coli patogen)
Masuk lambungduodenumberkembang biak mengeluarkanenzim
mucinasebakteri masuk ke membranmengeluarkansubunit A & Bmengeluarkan
(cAMP)merangsang sekresicairan usus, menghambat absorbsi tanpa menimbulkan
kerusakan selepitelvolume ususdinding usus teregangDIARE
Sumber : Umar Zein dkk, Diare Akut Disebabkan Bakteri, Fakultas Kedokteran,Divisi Penyakit Tropik &
Infeksi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, USU
2. Etiologi diare pada anak dan dewasaa
Jawab :
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
a) Faktor Infeksi
1) Infeksi enteral : Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak. Infeksi parenteral ini meliputi: (a) Infeksi
bakteri: Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas
dan sebagainya. (b) Infeksi virus: Enteroovirus (Virus ECHO, Coxsackie,
Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain. (c) Infestasi parasite
: Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), protozoa (Entamoeba
histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis), jamur (candida albicans).
2) Infeksi parenteral : Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat
pencernaan, seperti Otitis Media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia,
Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak
berumur dibawah 2 tahun.
b) Faktor Malabsorbsi
1) Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltose dan sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak
yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktrosa.
2) Malabsorbsi lemak
3) Malabsorbsi protein
c) Faktor makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
d) Faktor psikologis: rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat menimbulkan diare
terutama pada anak yang lebih besar.
e) Faktor umur balita : Sebagian besar diare terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun.
Balita yang berumur 12-24 bulan mempunyai resiko terjadi diare 2,23 kali dibanding
anak umur 25-59 bulan.
f) Faktor lingkungan : Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasisi
lingkungan. Dua faktor yang dominan yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja.
Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor
lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan
perilaku manusia yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka
dapat menimbulkan penyakit diare.

g) Faktor terhadap Laktosa (susu kalemg) : Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6
bulan pada pertama kehidupan. Pada bayi yang tidak diberi ASI resiko untuk menderita
diare lebih besar daripada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita
dehidrasi berat juga lebih besar. Menggunakan botol susu ini memudahkan
pencemaran oleh kuman sehingga menyebabkan diare. Dalam ASI mengandung
antibody yang dapat melindungi kita terhadap berbagai kuman penyebab diare seperti
Sigella dan V. Cholerae.
Sumber : penyakit diare.usu.pdf
3. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada orang diare
Jawab
Yang harus dihindari yaitu melakukan pembatasan makanan. hal ini akan menyebabkan
penurunan berat badan sehingga diare menjadi lebih lama dan kembalinya fungsi usus akan
lebih lama. Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah
sembuh. Tujuannya adalah memberikan makanan kaya nutrien sebanyak anak mampu
menerima. Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu makannya timbul kembali setelah
dehidrasi teratasi. Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi
usus yang normal termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien,
sehingga memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak dikurangi.
Makanan yang diberikan pada anak diare tergantung kepada umur, makanan yang disukai dan
pola makan sebelum sakit serta budaya setempat. Pada umumnya makanan yang tepat untuk
anak diare sama dengan yang dibutuhkan dengan anak sehat. Bayi yang minum ASI harus
diteruskan sesering mungkin dan selama anak mau. Bayi yang tidak minum ASI harus diberi
susu yang biasa diminum paling tidak setiap 3 jam. Pengenceran susu atau penggunaan susu
rendah atau bebas laktosa secara rutin tidak diperlukan. Pemberian susu rendah laktosa atau
bebas laktosa mungkin diperlukan untuk sementara bila pemberian susu menyebabkan diare
timbul kembali atau bertambah hebat sehingga terjadi dehidrasi lagi. Setelah diare berhenti,
pemberian tetap dilanjutkan selama 2 hari kemudian coba kembali dengan susu atau formula
biasanya diminum secara bertahap selama 2 3 hari.
( buku ajar gastroenterolgi IDAI)
4. Derajat dehidrasi pada anak dan cara menilainya
Jawab
Tabel 2.2. derajat dehidrasi menurut WHO
Tanpa
Dehidrasi
Dehidrasi
Dehidrasi
Ringan Sedang
Berat
Keadaan Umum
BAIK /sadar gelisah
tidak sadar
Mata
Normal
Cekung
Sangat Cekung
Haus
Normal
Sangat Haus
Tidak bisa minum
Turgor
Normal
Lambat
Sangat lambat

Menurut WHO 1995

Penilaian

Lihat :
Keadaan
umum

Baik, sadar

*gelisah, rewel

Normal

Cekung

Ada

Tidak ada

Basah

Kering

Minum biasa tidak


haus

*haus, ingin minum


banyak

Periksa :
turgor kulit

Kembali cepat

*kembali lambat

*kembali sangat lambat

Hasil
pemeriksaan

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi
ringan/sedang bila :
lebih dari 2 gejala
yang di timbulkan

Dehidrasi berat : NB
ditemukan >> 2 gejala
yang ditimbulkan

Mata
Air mata
Mulut dan
lidah

*lesu, lunglai atau tidak


sadar
Sangat cekung
Kering
Sangat kering
*malas minum atau
tidak bisa minum

Rasa haus

Sumber : derajat dehidrasi anak


5. Bagaimana prognosis pada dewa dan dewi berdasarkan klinisnya
Jawab
Prognosis diare dapat ditentukan oleh derajat dehidrasi, sehingga penatalaksanaannya sesuai
dengan ketepatan cara pemberian rehidrasi. Apabila penanganan yang diberikan tepat dan
sesegera mungkin, maka dapat mencegah komplikasi diare tersebut. Pada pasien dewa dan
dewi prognosisnya adalah baik karena derajat dehidrasinya masih tergolong ringan-sedang.
Sumber :aryurau,2010 dehidrasi ringan-sedang,scribe
6. Jelaskan mekanisme penyerapan air dan mineral didalam usus
Jawab
Mekanisme penyerapan air
- Mukosa usus halus mempunyai kemampuan absorpsi Na tinggi & gradien potensial
listrik yang diciptakan oleh absorpsi Na juga menyebabkan absorpsi Cl.
- Adanya taut erat di antara sel-sel epitel usus lebih erat dari pada di usus halus
mencegah difusi kembali ion-ion ini
- Sekresi ion bikarbonat membantu menetralisir produk akhir asam dari kerja
bakteri di dalam usus.
- Absorpsi ion Na & Cl menciptakan gradien osmotik di sepanjang usus besar yang
kemudian menyebabkanabsorpsi air.
Kemampuan absorpsi maksimal usus besar
Usus besar dapat mengabsorpsi maks : 5-8 liter cairan dan elektrolit setiap hari

Bila jumlah cairan yang masuk ke usus besar total melebihi jumlah ini

Kelebihan cairan akan muncul dalam feses sebagai diare


Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada usus halus bagian
proksimal tersebut bersifat hipertonis dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan
tekanan osmose antara lumen usus dan darah maka pada segmen usus jejenum yang bersifat
permeabel, air akan mengalir ke arah lumen jejenum, sehingga air akan banyak terkumpul air
dalam lumen usus. Na akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan
terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na yang normal. Sebagian kecil
cairan ini akan diabsorpsi kembali, akan tetapi lainnya akan tetap tinggal di lumen oleh
karena ada bahan yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukose, sukrose,laktose, maltose di
segmen illeum dan melebihi kemampuan absorpsi kolon, sehingga terjadi diare. Bahan-bahan
seperti karbohidrat dari jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah
berlebihan, akan memberikan dampak yang sama.
Sumber: mekanisme penyerapan dalam usus,scribe
7. Bagaimana penggolongan dan penanganan diare berdasarkan ketetapan dari WHO dan
nasional (IDAI)
Jawab
JIKA YA,
TANYAKAN:
Sudah berapa lama?
Adakah darah dalam
tinja

LIHAT dan RABA:


Lihat keadaan umum anak :
Apakah:
- Letargis atau tidak sadar?
- Gelisah dan rewel/mudah marah?
Lihat apakah matanya cekung?
Beri anak minum. Apakah :
- Tidak bisa minum atau malas minum?
- Haus, minum dengan lahap?
Cubit kulit perut untuk mengetahui turgor.
Apakah kembalinya :
- Sangat lambat (lebih dari 2 detik)?

Untuk dehidrasi :
GEJALA

KLASIFIKASI

TINDAKAN PENGOBATAN

Terdapat dua atau


lebih tanda-tanda
berikut :
-Letargis atau tidak
sadar

BERAT
DEHIDRASI
DIARE

-Mata cekung.

Jika tidak ada klasifikasi berat


lainnya
-Beri cairan untuk dehidrasi
berat (Rencana Terapi C,
termasuk pemberian tablet
Zinc).
Jika anak juga mempunyai
klasifikasi berat lainnya:

-Tidak bisa minum


atau malas minum.

-RUJUK SEGERA

-Cubitan kulit perut


kembali sangat
lambat.

-Jika masih bisa minum


berikan ASI dan larutan oralit
selama perjalanan
-jika ada kolera didaerah
tersebut,beri antibiotik untuk
kolera

Terdapat 2 atau
lebih tanda-tanda
berikut:
-Gelisah, rewel
/mudah marah.

DIARE
DEHIDRASI
RINGAN/
SEDANG

-Mata cekung
-Haus, minum
dengan lahap.

Jika diare 14 hari atau lebih :

-Jika anak juga mempunyai


klasifikasi berat lainnya: Rujuk
segera. jika masih bisa minum
berikan ASI dan larutan oralit
selama perjalan
-nasihati kapan kembali segera

-Cubitan kulit perut


kembali lambat.
Tidak cukup tandatanda untuk
diklasifikasikan
sebagai diare
dehidrasi berat atau
ringan/sedang

-Beri cairan & makanan sesuai


Rencana Terapi B (termasuk
pemberian tablet Zinc)

-kunjungi ulang 5 hari jika


tidak ada perbaikan
DIARE TANPA DEHIDRASI

-Beri cairan dan makanan


sesuai rencana dengan terapi A
dan tablet zinc
-nasehati kapan kembali segera
-Kunjungi ulang 5 hari jika
tidak ada perbaikan

Ada dehidrasi

DIARE PERSISTEN
BERAT

-Atasi dehidrasi sebelum


dirujuk,kecuali ada klasifikasi
berat lain
-Rujuk

Tanpa dehidrasi

DIARE PERSISTEN

-Nasihati pemberian makan untuk


dehidrasi persisten
-Kunjungi ulang 5 hari

Dan jika ada darah dalam tinja :


Ada darah dalam
tinja

DISENTRI

-Beri antibiotik yang sesuai


-Nasihati kapan kembali segera
-Kinjungi ulang 2 hari

Sumber : Bagan diare anak menurut IDAI


8. Komplikasi dehidrasi berat terhadap keseimbangan elektrolit, asam basa
Jawaban
a) Hipernatremia :Suatu keadaan dimana kadar Na+ serum >145 mEq/l, dan osmolalitas lebih
besar 295 mOsm/kg. Karena Na+ ini fungsinya sebagai larutan impermeabel maka ia
berperan dalam tonisitas dan gerakan air menembus sel membran. Hipernatremia ditandai
dengan hipertonisitas dari CES dan hampir selalu menyebabkan dehidrasi selular.
Hipernatremia terjadi karena defisit air dibanding dengan kadar Na+ tubuh. Hal ini
disebabkan oleh jumlah bersih Na+ atau jumlah bersih air yang hilang. Pemberian Na+
secara cepat tanpa disesuaikan jumlah air yang masuk akan menyebabkan hipernatremia.
Hipernatremia juga bisa terjadi apabila timbul kehilangan air lebih banyak dibanding
jumlah kehilanagn Na+. Hal ini terjadi pada keadaan peningkatan kehilangan lewat
respirasi pada keadaan panas atau latihan yang berat, diare cair, atau saat pemberian
makanan lewat pipa lambung dengan sedikit air.
b) Hiponatremia :Hiponatremia terjadi apabila konsentrasi Na+ kurang dari 135 mEq/l.
Karena efek partikel aktif lainnya terhadap osmolalitas CES seperti glukosa, maka
hiponatremia berhubungan dengan tinggi rendahnya tonisitas.Hiponatremia hipovolemik
terjadi jika air hilang disertai Na tetapi jumlah Na+ lebih banyak yang hilang, ini terjadi
pada keadaan banyak berkeringat pada cuaca panas, muntah dan diare.
c) Hiperkalemia : Penyebab hiperkalemia yang paling sering adalah turunnya fungsi ginjal.
Hiperkalemia kronis selalu berhubungan dengan gagal ginjal. Biasanya glomerular
filtration rate (GFR) turun secara sampai kurang dari 10 ml/menit sebelum terjadi
hiperkalemia. Beberapa kelainan ginjal, seperti sickle cell nephropathy, nefropati karena
logam, nefritis lupus sistemis dapat merusak sekresi kalium di tubulus tanpa menyebabkan
gagal ginjal. Asidosis juga menyebabkan berkurangnya pengeluaran kalium oleh ginjal,
sehingga gagal ginjal akut yang disertai dengan asidosis laktat atau ketoasidosis akan
meningkatkan risiko hiperkalemia. Koreksi asidosis biasanya akan memperbaiki
hiperkalemia.

Aldosteron bekerja pada keadaan dimana kadar kalium dan natrium tubulus distal dalam
kadar pertukaran sehingga kalium ditingkatkan ekresinya sedangkan natrium direabsorpsi.
Sehingga keadaan yang menurunkan aldosteron akan menurunkan ekskresi kalium melalui
ginjal seperti pada penyakit Addisson.
Kelebihan kalium dapat diakibatkan oleh kelebihan pemasukan kalium secara oral dan
intravena. Jika fungsi ginjal dan sistem aldosteron baik maka biasanya pemasukan oral masih
bisa di tolerir untuk tidak menyebabkan hiperkalemia. Lain halnya jika pemberian secara
intravena, terutama jika pemberian terlalu cepat maka biasanya menyebabkan hiperkalemia
yang fatal. Jadi pemberian kalium intravena seharusnya mempertimbangkan fungsi ginjal.
d) Hipokalemia : Meskipun kehilangan kalium dari saluran cerna dan kulit biasanya sedikit,
kehilangan ini bisa meningkat saat kondisi tertentu. Saluran cerna merupakan salah satu
tempat yang sering menjadi tempat kehilangan kalium akut. Muntah-muntah dan aspirasi
saluran cerna memacu terjadinya hipokalemia, sebagian disebabkan oleh kehilangan kalium
dan juga karena kehilangan di ginjal yang berhubungan dengan alkalosis metabolik. Diare dan
aspirasi gastrointestinal juga menyebabkan kehilangan kalium yang banyak
9. Penyebab utama toksin pada makanan yang dapat menyebabkan diare
Jawab :
Intoksikasi
Keracunan pangan yang disebabkan oleh produk toksik bakteri patogen (baik itu toksin
maupun metabolit toksik) disebut intoksikasi. Bakteri tumbuh pada pangan dan memproduksi
toksin. Jika pangan ditelan, maka toksin tersebut yang akan menyebabkan gejala, bukan
bakterinya.Beberapa bakteri patogen yang dapat mengakibatkan keracunan pangan
melalui intoksikasi adalah :
a) Bacillus cereus : Bacillus cereus merupakan bakteri yang berbentuk batang, tergolong
bakteri Gram-positif, bersifat aerobik, dan dapat membentuk endospora. Keracunan
akan timbul jika seseorang menelan bakteri atau bentuk sporanya, kemudian bakteri
bereproduksi dan menghasilkan toksin di dalam usus, atau seseorang mengkonsumsi
pangan yang telah mengandung toksin tersebut. Ada dua tipe toksin yang dihasilkan
oleh Bacillus cereus, yaitu toksin yang menyebabkan diare dan toksin yang
menyebabkan muntah (emesis).
Gejala keracunan
- Bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin penyebab diare, maka
gejala yang timbul berhubungan dengan saluran pencernaan bagian bawah berupa
mual, nyeri perut seperti kram, diare berair, yang terjadi 8-16 jam setelah
mengkonsumsi pangan. bakteri penghasil toksin penyebab diare bisa mencemari sayuran
dan daging.
b) Staphilococcus aureus : Terdapat 23 spesies Staphilococcus, tetapi Staphilococcus
aureus merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan keracunan pangan.
Staphilococcus aureus merupakan bakteri berbentuk kokus/bulat, tergolong dalam
bakteri Gram-positif, bersifat aerobik fakultatif, dan tidak membentuk spora. Toksin yang
dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas sehingga tidak mudah rusak pada suhu
memasak normal. Bakteri dapat mati, tetapi toksin akan tetap tertinggal. Toksin dapat
rusak secara bertahap saat pendidihan minimal selama 30 menit.Pangan yang dapat
tercemar bakteri ini adalah produk pangan yang kaya protein, misalnya daging, ikan,
susu, dan daging unggas; produk pangan matang yang ditujukan dikonsumsi dalam
keadaan dingin, seperti salad, puding, dan sandwich; produk pangan yang terpapar pada
suhu hangat selama beberapa jam; pangan yang disimpan pada lemari pendingin yang

terlalu penuh atau yang suhunya kurang rendah; serta pangan yang tidak habis
dikonsumsi dan disimpan pada suhu ruang.
Gejala keracunan:
Gejala keracunan dapat terjadi dalam jangka waktu 4-6 jam, berupa mual, muntah (lebih
dari 24 jam), diare, hilangnya nafsu makan, kram perut hebat, distensi abdominal, demam
ringan. Pada beberapa kasus yang berat dapat timbul sakit kepala, kram otot, dan
perubahan tekanan darah.
Infeksi
Bakteri patogen dapat menginfeksi korbannya melalui pangan yang dikonsumsi.
Dalam hal ini, penyebab sakitnya seseorang adalah akibat masuknya bakteri patogen
ke dalam tubuh melalui konsumsi pangan yang telah tercemar bakteri. Untuk
menyebabkan penyakit, jumlah bakteri yang tertelan harus memadai. Hal itu dinamakan
dosis infeksi.Beberapa bakteri patogen yang dapat menginfeksi tubuh melalui pangan
sehingga menimbulkan sakit adalah:
a) Salmonella :Salmonella merupakan bakteri Gram-negatif, bersifat anaerob
fakultatif, motil, dan tidak menghasilkan spora. Salmonella bisa terdapat pada
bahan pangan mentah, seperti telur dan daging ayam mentah serta akan
bereproduksi bila proses pamasakan tidak sempurna. Sakit yang diakibatkan oleh
bakteri Salmonella dinamakan salmonellosis.Cara penularan yang utama adalah
dengan menelan bakteri dalam pangan yang berasal dari pangan hewani yang
terinfeksi. Pangan juga dapat terkontaminasi oleh penjamah yanng terinfeksi,
binatang peliharaan dan hama, atau melalui kontaminasi silang akibat higiene yang
buruk. Penularan dari satu orang ke orang lain juga dapat terjadi selama infeksi.
Gejala keracunan:
Pada kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella, gejala yang terjadi adalah
diare, kram perut, dan demam yang timbul 8-72 jam setelah mengkonsumsi pangan
yang tercemar.
b) Clostridium perfringens : Clostridium perfringens merupakan bekteri Gram-positif
yang dapat membentuk endospora serta bersifat anaerobik. Bakteri ini terdapat
di tanah, usus manusia dan hewan, daging mentah, unggas, dan bahan pangan
kering. Clostridium perfringens dapat menghasilkan enterotoksin yang tidak
dihasilkan pada makanan sebelum dikonsumsi, tetapi dihasilkan oleh bakteri di dalam
usus.
Gejala keracunan:
Gejala keracunan dapat terjadi sekitar 8-24 jam setelah mengkonsumsi pangan yang
tercemar bentuk vegetatif bakteri dalam jumlah besar. Di dalam usus, sel-sel
vegetatif bakteri akan menghasilkan enterotoksin yang tahan panas dan dapat
menyebabkan sakit. Gejala yang timbul berupa nyeri perut, diare, mual, dan
jarang disertai muntah. Gejala dapat berlanjut selama 12-48 jam, tetapi pada kasus
yang lebih berat dapat berlangsung selama 1-2 minggu (terutama pada anak-anak dan
orang lanjut usia).
- Tindakan pengendalian khusus terkait keracunan pangan akibat bakteri ini bagi
rumah tangga atau pusat penjual makanan antara lain dengan melakukan
pendinginan dan penyimpanan dingin produk pangan matang yang cukup dan
pemanasan ulang yang benar dari masakan yang disimpan sebelum dikonsumsi.
c) Escherichia coli : Bakteri Escherichia coli merupakan mikroflora normal pada usus
kebanyakan hewan berdarah panas. Bakteri ini tergolong bakteri Gram-negatif,
berbentuk batang, tidak membentuk spora, kebanyakan bersifat motil (dapat

bergerak) menggunakan flagela, ada yang mempunyai kapsul, dapat


menghasilkan gas dari glukosa, dan dapat memfermentasi laktosa. Kebanyakan
strain tidak bersifat membahayakan, tetapi ada pula yang bersifat patogen terhadap
manusia, seperti Enterohaemorragic Escherichia coli (EHEC). Escherichia coli
O157:H7 merupakan tipe EHEC yang terpenting dan berbahaya terkait dengan
kesehatan masyarakat.E.coli dapat masuk ke dalam tubuh manusia terutama
melalui konsumsi pangan yang tercemar, misalnya daging mentah, daging yang
dimasak setengah matang, susu mentah, dan cemaran fekal pada air dan pangan.
Gejala keracunan:
Gejala penyakit yang disebabkan oleh EHEC adalah kram perut, diare (pada beberapa
kasus dapat timbul diare berdarah), demam, mual, dan muntah. Masa inkubasi
berkisar 3-8 hari, sedangkan pada kasus sedang berkisar antara 3-4 hari.
(Sumber : keracunan makanan akibat toksin.pdf)
10. Pencegahan diare dimasyarakat
Jawab
1) Air minum yang bersih dari sumur
2) Pengolahan makanan yang dimasak dengan baik, untuk menghindari kontaminasi
3) Cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar, sebelum makan dan sebelum
menyiapkan makanan
4) Gunakan jamban untuk anak kecil atau yang sakit, buang cepat tinja dengan cara
memasukkannya ke dalam jamban atau menguburkannya
5) Berikan asi selama 4-6 bulan pertama, teruskan pemberian asi paling sedikit untuk 1
tahun pertama
Sumber : buku ajar gastrointestinal anak)
11. Jenis mekanisme utama patofisiologi nyeri viseral dan nyeri somatik di perut
Jawab
Nyeri viseral : biasanya menjalar dan mengarah ke daerah permukaan tubuh
jauh dari tempat nyeri namun berasal dari dermatom yang sama dengan asal nyeri.
Sering kali, nyeri viseral terjadi seperti kontraksi ritmis otot polos. Nyeri viseral seperti keram
sering bersamaan dengan gastroenteritis, penyakit kantung empedu, obstruksi ureteral,
menstruasi, dan distensi uterus pada tahap pertama persalinan. Nyeri viseral, mencetuskan
refleks kontraksi otot otot lurik sekitar, yang membuat dinding perut tegang ketika proses
inflamasi terjadi pada peritoneum. Nyeri viseral karena invasi malignan dari organ lunak dan
keras sering digambarkan dengan nyeri difus, menggrogoti, atau keram jika organ lunak
terkena dan nyeri tajam bila organ padat terkena. Distensi pada organ lunak terjadi nyeri
karena peregangan jaringan dan mungkin iskemia karena kompresi pembuluh darah sehingga
menyebabkan distensi berlebih dari jaring an. Rangsang nyeri yang berasal dari sebagian
besar abdomen dan toraks menjalar melalui serat aferen yang berjalan bersamaan dengan
sistem saraf simpatis, dimana rangsang dari esofagus, trakea dan faring melalui aferen vagus
dan glossopharyngeal, impuls dari struktur yang lebih dalam pada pelvis dihantar melalui
nervus parasimpatis di sakral. Impuls nyeri dari jantung menjalar dari sistem saraf simpatis ke
bagian tengah ganglia cervical, ganglion stellate, dan bagian pertama dari empat dan lima
ganglion thorasik dari sistem simpatis. Impuls ini masuk ke spinal cord melalui nervus torak
ke 2, 3, 4 dan 5. Penyebab impuls nyeri yang berasal dari jantung hampir semua berasal dari
iskemia miokard. Parenkim otak, hati, dan alveoli paru adalah tanpa reseptor. Adapun,
bronkus dan
pleura parietal sangat sensitif pada nyeri

Nyeri somatik: nyeri yang dipicu oleh adanya kerusakan jaringan yang terjadi pada bagian
permukaan tubuh, meliputi kulit dan jaringan muskulo-skeleta atau deep somatic, yaitu : otot
sendi ligamen dan tulang. Kualitas nyerinya tajam dengan lokalisasi berbatas tegas. Nyeri
somatik dideskripsikan sebagai sakit, menggerogoti , dan tajam dalam hal kualitas. Secara
umum dapat dilokalisasi dan diinisiasi oleh aktivitas nosiseptor dijaringan kulit dan jaringan
dalam. Contoh nyeri somatik termasuk nyeri akut pasca operasi dan patah tulang. Hal ini
dikarenakan terjadi pelepasan zat-zat kimia antara lain prostaglandin, histamine, serotinin,
bradikinin, substansi P, leukotrien. Dimana zat-zat tadi akan ditransduksi oleh nosisptor dan
ditransmisikan oleh serabut saraf A delta dan C ke neuroaksis.
12. Farmakologi rasional penanganan diare dan mekanismenya (antispasme, antivomitus,
antibiotik)
Jawab
Departemen Kesehatan mulai melakukan sosialisasi Panduan Tata Laksana Pengobatan Diare
pada balita yang baru didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, dengan merujuk pada
panduan WHO. Tata laksana ini sudah mulai diterapkan di rumah sakit-rumah sakit. Rehidrasi
bukan satu-satunya strategi dalam penatalaksanaan diare.28,29,30 Memperbaiki kondisi usus
dan menghentikan diare juga menjadi cara untuk mengobati pasien. Untuk itu, Departemen
Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua kasus diare yang diderita
anak balita baik yang dirawat di rumah maupun sedang dirawat di rumah sakit, yaitu:
1. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
3. ASI dan makanan tetap diteruskan
4. Antibiotik selektif
5. Nasihat kepada orang tua
farmakologi
Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare seperti: antibiotika, antidiare,
adsorben, antiemetik dan obat yang mempengaruhi mikroflora usus. Beberapa obat
mempunyai lebih dari satu mekanisme kerja, banyak diantaranya mempunyai efek toksik
sistemik dan sebagian besar tidak direkomendasikan untuk anak umur kurang dari 2 3
tahun. Secara umum dikatakan bahwa obat-obat tersebut tidak diperlukan untuk pengobatan
diare akut.
a) Antibiotika pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh karena sebagian
besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self limited dan tidak dapat dibunuh
dengan antibiotika. Hanya sebagian kecil (10 20%) yang disebabkan oleh bakteri
patogen seperti V. cholera, Shigella, Enterotoksigenik E. coli, Salmonella, Camphylobacter
dan sebagainya
b) Obat antidiare :Obat-obat ini meskipun sering digunakan tidak mempunyai keuntungan
praktis dan tidak diindikasikan untuk pengobatan diare akut pada anak. Beberapa dari
obat-obat ini berbahaya. Produk yang termasuk dalam kategori ini adalah :
1) Adsorben (Contoh: kaolin, attapulgite, smectite, activated charcoal, cholestyramine).
Obat-obat ini dipromosikan untuk pengobatan diare atas dasar kemampuannya untuk
mengikat dan menginaktifasi toksin bakteri atau bahan lain yang menyebabkan diare
serta dikatakan mempunyai kemampuan melindungi mukosa usus. Walaupun
demikian, tidak ada bukti keuntungan praktis dari penggunaan obat ini untuk
pengobatan rutin diare akut pada anak.
2) Antimotilitas (Contoh: loperamide hydrochloride, diphenoxylate dengan atropine,
tinctura opii, paregoric, codein). Obat-obatan ini dapat mengurangi frekuensi diare
pada orang dewasa akan tetapi tidak mengurangi volume tinja pada anak. Lebih dari

itu dapat menyebabkan ileus paralitik yang berat yang dapat fatal atau dapat
memperpanjang infeksi dengan memperlambat eliminasi dari organisme penyebab.
Dapat terjadi efek sedatif pada dosis normal. Tidak satu pun dari obat-obatan ini boleh
diberikan pada bayi dan anak dengan diare.
c) Obat-obat lain : Anti muntah ->Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine
yang dapat menyebabkan mengantuk sehingga mengganggu pemberian terapi rehidrasi oral.
Oleh karena itu obat anti muntah tidak digunakan pada anak dengan diare, muntah karena
biasanya berhenti bila penderita telah terehidrasi
Sumber : buku ajar gastrointestinal anak