Anda di halaman 1dari 10

NASOPALATINE DUCT CYST

DEFINITION
Nasopalatina duct merupakan penghubung antara rongga nasalis dengan region anterior dari
maxilla. Lokasi tepat pada midline palatum sekitar dibelakang insisif palatal. Neurovascular
untuk nasopalatinum berada pada duct tersebut.1
Nasopalatine duct cyst atau

anterior middle cyst, maxillary midline cyst, anterior middle

palatine cyst, and incisor duct cyst atau incisive canal cyst. menurut klasifikasi WHO, kista ini
termasuk kista non odontogenic. Nasopalatine duct cyst merupakan kista non odontogenic yang
paling sering terjadi dibandingkan kista non odontogenic lainnya. Nasopalitina duct cyst terjadi
1% pada populasi di dunia dibandingkan kista pada maxilla lainnya. Prevalensi penderita laki
laki dibandingkan perempuan yaitu 3:1. Range usia penderita dewasa yaitu 40 60 tahun.
Namun lesi ini juga dapat terjadi pada anak usia lebih dari 8 tahun.1

AETIOLOGY
Lesi kista nasopalinum duct merupakan lesi yang ditandai adanya proliferasi epitel embrionik
residual saat proses fusi. Etiology pasti masih belum jelas namun ada dugaan-dugaan yang dapat
didefinisikan sebagai pemicu dari lesi ini yaitu trauma, penggunaan gigi tiruan yang tidak pas,
proliferasi secara spontan (idiopatik), local infeksi, factor genetic dan ras (Caucasian, black or
asia).1,2,5

CLINICAL PRESENTATION
Nasopalatine duct cyst dapat terjadi di canal, jaringan lunak palatum durum, dan papilla palatina
(pintu canal nasopalatina). Kista ini bersifat asimtomatik namun sering juga bersifat simtomatik
namun ringan ditandai adanya pembekakan berukuran kecil, nyeri, gatal, laserasi dan drainase
pada palatum durum.1,5

Pembekakan yang timbul biasanya pada bagian anterior midline palatum durum atau pada
alveolar ridge bagian palatal gigi incisive central. Kista menimbulkan fluktuasi arah labial dan
palatal. Bulging atau tonjoln juga dapat timbul pada dasar rongga nasalis.2 Pembekakan dapat
meluas hingga posterior palatum durum. Ukuran kista bervariasi dari 1 cm sampai 2,5cm
berbentuk oval hingga bulat. Terkadang kista dapat mebesar hingga posterior superior dari
palatum hingga dapat di diagnosis sebagai median palatina cyst.6
Rasa nyeri yang timbul berasal dari kista yang menekan saraf nasopalatine yang berada di sekitar
kista. Tidak hanya nyeri, tekanan dari kista juga dapat menimbulkan rasa sensasi terbakar bahkan
mati rasa pada mukosa sekitar.3 Pada penderita terkadang mengeluh karena adanya rasa asin dan
busuk (foul taste) dimulut pasien. Hal tersebut dikarenakan drainase purulent dari kista.6
Kondisi gigi incisive central masih vital namun dapat terjadi displacement karena kista
menyebakan destructive pada perforasi labial dan tulang palatum2. Resopsi akar gigi incisive
central oleh kista dan terdorongnya hingga ke posisi lateral.6

Gambar 1. Swelling kista pada anterior maxilla atau posterior incisive central.6

Gambar 2. Swelling kista yang meluas hingga posterior dan lateral palatum durum.6

Gambar 3. Swelling kista nasopalatine duct pada anak.4

HOW TO DETECT
Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi kista tidak hanya pemeriksaan subjektif dan
objektif, juga dibutuhkan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan
untuk kasus ini yaitu pemeriksaan radiografi dan histopatology.
Pemeriksaan X-ray periapical , panoramic, occlusal, Multimodal Tomography, MRI dan CT scan
digunakan untuk menunjang pemeriksaan nasopalatine duct cyst. 1,3,6 Pada proses radiograph
examination terlihat radiolusensi pada periapical gigi inscisive central berbentuk bulat atau elipse
bahkan ada yang berbentuk heart shaped dengan range 9 52 mm. 3.6 Hasil radiolusen terkadang
tampak superimpose karena gabaran radiographi dari spinal nasalis.5 Terkadang adanya
gambaran akar gigi incisive central teresopsi walaupun sedikit dan juga gambar terdorongnya
akar gigi ke lateral. Pada gambaran hasil CTscan lesi kista yang besar terlihat adanya destruktif
tulang.6

Gambar 4. Gambaran Radiografi dari canal nasopalatine yang normal.6

Gambar 5. Gambaran radiography Nasopalatinal Duct Cyst pear-shaped.6

Gambar 6. Gambaran radiography Nasopalatinal Duct Cyst terlihat akar insisif central terdorong
ke lateral.6

Gambar 7. Gambaran radiography Nasopalatinal Duct Cyst.6

Gambar 8. Gambaran radiography CTscan Nasopalatinal Duct Cyst. Terlihat adanya destruktif
tulang karena kista.6

Pemeriksaan Histopatology juga dibutuhkan untuk menentukan diagnosi yang tepat untuk kasus
ini. Pada gambaran histology adanya gambaran stratified squamosal, cuboid, pseudo columinar
epitel.7 Terkdang terlihat kombinasi dengan epitel respirasi. Ditemukan juga adanya mukosa pada
pada lapisan epitel.2 Karakteristiknya yaitu adanya gambaran true kelenjar mukosa, pembuluh
darah dan nervus yang besar, dan jaringan ikat.7

Gambar 9. Histology nasopalatinal duct cyst.7

Gambar 10. Histology nasopalatinal duct cyst. Terlihat jelas adanya gambaran kelenjar mukosa. 7

Gambar 11. Histology nasopalatinal duct cyst. Adanya gambaran pembuluh darah serta nervus. 7
DIFFERENTIAL DIAGNOSE
Berbagai macam kelainan di rongga mulut dipertimbangkan dalam proses mendiagnosis
nasopalatine cyst. Seperti, canal insisif yang lebar, central giant cell granuloma, a radicular cyst
terkait upper central incisors, follicular cyst terkait dengan mesiodens, primordial cyst,
keratocyst odontogenic tumour ,nasoalveolar cyst dan fistula dari osteitis. 1,2 Namun yang sering
jadi pengecoh dalam proses diagnosis yaitu kista Radicular. 2
Nasopalatinal duct cyst merupakan cyst yang etiologynya masih belum diketahui sedangkan
kista radicular (kista inflamasi) gigi incisive central rahang atas jelas berasal dari gigi nonvital
yang terjadi infiltrasi bakteri ke periapical. Yang menjadi pertimbangan yaitu lokasi kista. Kedua
kista berlokasi di apical gigi insisif. Hal ini dapat dibedakan melalui histology diagnosis. Pada
radicular cyst, epitelnya yaitu stratified squamous dengan irregular rete, gambaran nottrue
kelenjar mucosa dan tidak terlihat adanya pembuluh darah dan nervus seperti pada gambaran
histology dari nasopalatinal duct cyst. 2,7

TREATMENT
Simple enuclesi sangat dianjurkan untuk perawatan kasus ini. Pemeriksaan vitalitas gigi juga
dibutuhkan untuk kasus ini namun terkadang hasilnya false negative sehingga harus dilakukan
retesting di pertengahan proses perawatan. Anastesi local blok palatum dibutuhkan untuk
perawatan ini
Pada perawatan dengan enucleasi, diperlukan flap thickness periosteum untuk akses perawatan.
Flap dibuat dari posterior palatum durum. Pada proses membuat flap harus berhati-hati karena
kista berhubungan langsung dengan mukosa periosteum palatum. Setelah itu lalukan enucleasi.
Untuk mempermudah proses penyembuhan, beberapa literature menyarankan membuat
thermoplastic splint (gambar 13) yang akan letakan di palatal. Hal ini dapat meningkatkan
kenyamanan pasien, proteksi jaringan, proses penyembuhan jaringan mukosa serta tulang dalam
proses osteogenesis. Bone grafting tidak disarankan karena akan terjadi self generate tulang.
Diharapkan tidak terjadi rekurensi setelah perawatan selesai. 5

Gambar 12. Saat proses pembedahan. Terlihat jelas canal nasopalatine dan terjadi destructive
tulang. 5

Gambar 13. Thermoplastic splint. 5

DAFTAR PUSTAKA
1. Pavankumar K, Amar AS. Surgical Management of Nasopalatine Duct Cyst: Case Report.
Rev Clin Pesq Odontol 2010; 6(1):p.81-86.
2. Siddappa A, Sunil SM, Manoj KS. Nasopalatine Duct Cyst A Case Report. Journal of
Dental and Medical Sciences 2014; 13(11):p.46-48.
3. Kia Ali Habib. Nasopalatine Duct Cyst: A Case Report. Journal of Cancer Prevention
Current Research 2015;3(1).
4. Ioannis G Koutlas. Available at :
http://student.ahc.umn.edu/dental/coursearchives/2yr_Spring/DENT6316/Lectures/2009/
26%20Non-Odontogenic%20Cysts.pdf
5. Fred, et al. Rhiology and Facial Plastic Surgery. London: Pringer; 2009.p.405
6. Shear Mervyn, Pavi M Speight. Cysts of The Oral and Maxillo Facial Regions 4 th ed.
London: Black Munkgaard;2007.p.108
7. Pilch Benz. Head and Neck Surgical Pathology. Philadelphia: Lippicott Williams &
Wilkins;2000.p.199