Anda di halaman 1dari 24

CASE BASED DISCUSSION

SEORANG WANITA DENGAN HEMORROID INTERNA GRADE 3


Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Penyakit Bedah
Di RSUD RAA Soewondo Pati

Disusun oleh:
Ricky Zafirianto
012116505
Pembimbing :
dr. Mochamad Arifin, Sp.B-KBD

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016

BAB I
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS

Nama

: Ny. M

Umur

: 30 tahun 5 bulan 9 hari

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Tanjungsari 1/5 Tlogowungu, Pati, Jawa Tengah

Agama

: Islam

Tgl masuk RS

: 22-8-2016

Bangsal

: Edelweis

No.CM

: 127003

II.

ANAMNESIS

A. Keluhan Utama
:
Buang air besar berdarah segar, menetes
B. Riwayat Penyakit Sekarang :
Lokasi
: Anus
Kronologis

Sejak tanggal 22 Agustus 2016 pasien masuk rumah sakit via poli dengan keluhan
BAB sulit, bila BAB nyeri, berdarah segar, darah menetes pada celana dalam,
terdapat daging keluar pada anus dulu dapat masuk sendiri namun sekarang harus
dimasukan sendiri. Pasien mengeluhkan lemas. Pada perut tidak mengalami nyeri.
Berat badan dirasa tidak berkurang. Mual, muntah, demam disangkal. Pasien
mengakui jarang mengkonsumsi sayur dan buah buahan, minum sekitar 2 botol
minum per hari.
Keluhan lain : tidak ada
C. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat keluhan serupa
: disangkal
Riwayat Hipertensi
: disangkal
Riwayat Alergi Obat dan Makanan
: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
2

D. Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat keluhan serupa
Riwayat Hipertensi
Riwayat DM

: disangkal
: disangkal
: disangkal

E. Riwayat Pribadi, Sosial dan Ekonomi


Pasien bekerja sebagai buruh pabrik. Pasien berobat menggunakan BPJS non PBI.

III.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Status gizi

: Normoweight

Tanda vital

: 120/80 mmHg

: 76 x/menit (regular, isi dan tegangan cukup)

: 19 x/menit (reguler)

: 36,7 C (per axiller)

Status generalis
Kulit

: sawo matang, turgor kulit (N)

Kepala

: bentuk mesocephal,luka (-)

Mata

: konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),


pupil isokor (diameter 3mm/3mm), reflek cahaya (+/+)

Telinga

: Discharge (-/-)

Hidung

: septum deviasi (-), discharge (-/-)

Mulut

: Normal, sianosis (-)

Leher

: simetris, deviasi trachea (-), pembesaran kelenjar getah


bening(-), pembesaran kelenjar tiroid (-).

Thoraks : normochest, simetris, pembesaran kelenjar getah bening


3

aksilla (-)
Paru-Paru
Inspeksi

: dada simetris, retraksi parasternal (-)

Palpasi

: fokal fremitus kanan=kiri

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: suara dasar vesikuler, ronki (-), wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: iktus kordis tidak teraba, pembesaran (-)

Perkusi

: batas jantung
Pinggang

: ICS III garis parasternal sinistra

Atas

: ICS II garis sternal sinistra

Kanan

: ICS IV garis parasternal dextra

Kiri

: ICS V 2 jari ke medial garis midclavikula

sinistra
Auskultasi

: regular, murmur (-), gallop (-)

Punggung : kifosis (-), lordosis (-), nyeri ketok sudut costovertebra (-/-)
Abdomen
Inspeksi

: Tampak datar, defans muskuler (-), distensi (-), sikatrik (-),striae(-),warna

kulit sama dengan warna sekitar, gambaran usus (-),gerakan usus(-), massa (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi

: timpani di semua lapang abdomen.

Palpasi

: Tidak ada nyeri tekan , ballotemen ginjal kanan (-) kiri (-), hepar dan lien

tak teraba
Ekstremitas
Akral dingin
Edema
Capilary refill
Jejas

Superior
(-/-)
(-/-)
<2
(-/-)

Inferior
(-/-)
(-/-)
<2
(-/-)
4

IV.

STATUS LOKALIS

1.Regio : Abdomen
Inspeksi

: Tampak datar, defens muskuler (-), distensi (-), sikatrik (-),striae (-), warna

kulit sama dengan warna sekitar, gambaran usus (-), gerakan usus(-), massa (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi

Timpani pada semua lapang abdomen


Palpasi

Nyeri tekan pada abdomen kuadran kanan bawah (Mc Burney), ballotemen ginjal
kanan (-) kiri (-), hepar dan lien tak teraba
2.Rectal toucher
Inspeksi : terdapat benjolan pada seluruh lubang anus pada semua jam
Sfingter ani kuat ,mukosa rekti berbenjol, ampula rekti tidak kolaps, nyeri tekan (+),
Massa (-)
Sarung tangan : lendir (-), darah (+), feses (-).
V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi
Gol. darah

:O

WBC

: 10,86

RBC

: 3,91

HGB

: 11,5

HCT (L)

: 35,6

MCV

: 91,0

MCH

: 29,4

MCHC

: 32,3

PLT

: 246

RDW-CV

: 13,9

RDW-SD

: 44,8
5

PDW

: 11,6

MPV

: 9,9

P-LCR

: 24,3

Neutrofil

: 8,84

Limfosit

: 1,31

Monosit

: 0,44

Eosinofil

: 0,24

Basofil

: 0,03

Kimia Klinik
Glukosa

: 94 mg/dl

(75-160)

Ureum(H)

: 16,0 mg/dl

(10-50)

Creatinin (H) : 0,79 mg/dl

(0,6-1,2)

SGOT

: 18,2

(0-35)

SGPT

: 16,5

(0-45)

NATRIUM

: 144,0

(135-155)

KALIUM

: 3,88

(3,6-5,5)

CHLORIDA : 111,7

(95-108)

HBSAG NON REAKTIF


VI.

ASSESMENT

Dx Klinis
Hemmorroid interna grade 3
TINDAKAN
Pasien dilakukan operasi heoroidektomi dengan teknik white head
POST OP
H+1 pasien belum BAB, tidak bisa tidur akibat luka bekas operasi, mual (-) demam (-)
H+2 tampon diambil, nyeri luka bekas operasi berkurang
6

H+3 BAB (+)


H+4 pasien diperbolehkan pulang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Plexus hemoroid merupakan pembuluh darah normal yang terletak pada mukosa rektum
bagian distal dan anoderm. Gangguan pada hemoroid terjadi
ketika plexus vaskular ini membesar. Sehingga kita dapatkan pengertiannya dari
hemoroid adalah dilatasi varikosus vena dari plexus hemorrhoidal inferior dan superior
(Dorland, 2002).
2.2 Anatomi anal canal
Anal canal adalah akhir dari usus besar dengan panjang 4 cm dari rektum hingga
orifisium anal. Setengah bagian ke bawah dari anal canal dilapisi oleh epitel skuamosa
dan setengah bagian ke atas oleh epitel kolumnar. Pada bagian yang dilapisi oleh epitel
kolumnar tersebut membentuk lajur mukosa (lajur morgagni).

Gambar 1. Anatomi anal canal

Suplai darah bagian atas anal canal berasal dari pembuluh rektal superior sedangkan
bagian bawahnya berasal dari pembuluh rektal inferior. Kedua pembuluh tersebut
merupakan percabangan pembuluh darah rektal yang berasal dari arteri pudendal interna.
Arteri ini adalah salah satu cabang arteri iliaka interna. Arteri-arteri tersebut akan
membentuk pleksus disekitar orifisium anal.
Hemoroid adalah bantalan vaskular yang terdapat di anal canal yang biasanya ditemukan
di tiga daerah utama yaitu kiri samping, kanan depan, dan bagian kanan belakang.
Hemoroid berada dibawah lapisan epitel anal canal dan terdiri dari plexus arteriovenosus
terutama antara cabang terminal arteri rektal superior dan arteri hemoroid superior.
Selain itu hemoroid juga menghubungkan antara arteri hemoroid dengan jaringan sekitar.
Persarafan pada bagian atas anal canal disuplai oleh plexus otonom, bagian bawah
dipersarafi oleh saraf somatik rektal inferior yang merupakan akhir percabangan saraf
pudendal.

2.3 Etiologi
Menurut Villalba dan Abbas, etiologi hemoroid sampai saat ini belum diketahui secara
pasti, beberapa faktor pendukung yang terlibat diantaranya adalah:
a. Penuaan
terjadi proses degenerasi dari jaringan tubuh, otot sfingter menjadi tipis dan
atonis.karena sfingternya mengalami kelemahan, maka dapat timbul prolaps.
b. Kehamilan
Kehamilan dapat menyebabkan stasis vena pada daerah pelvis, meskipun etiologinya
masih belum diketahui secara pasti. Ada juga yang mengatakan bahwa ini
berhubungan dengan hormonal.
c. Hereditas
d. Konstipasi atau diare kronik
Konstipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan BAB
sehingga terkadan harus mengejan dikarenakan feses yang mengeras, berbau lebih
busuk dan berwarna lebih gelap dari biasanya. Pada kontipasi dibutuhkan waktu
mengejan yang lama.
9

e. Penggunaan toilet yang berlama-lama


Hal ini akan meningkatkan tekanan vena yang akhirnya akan mengakibatan pelebaran
vena.
f. Posisi tubuh, misal duduk dalam waktu yang lama
g. Obesitas.
2.4 Patofisiologi
Hemoroid adalah bagian normal dari anorektal manusia dan berasal dari bantalan
jaringan ikat subepitelial di dalam kanalis analis. Sejak berada didalam kandungan,
bantalan tersebut mengelilingi mengelilingi dan mendukung anastomosis distal antara a.
rectalis superior dengan v. rectalis superior, media, dan inferior. Bantalan tersebut
sebagian besar disusun oleh lapisan otot halus subepitelial. Jaringan hemoroid normal
menimbulkan tekanan didalam anus sebesar 15-20 % dari keseluruhan tekanan anus
pada saat istirahat (tidak ada aktivitas apapun) dan memberikan informasi sensoris
penting yang memungkinkan anus untuk dapat memberikan presepsi berbeda antara zat
padat, cair, dan gas.
Pada umumnya, setiap orang memiliki 3 bantalan jaringan ikat subepitelial pada anus.
Bantalan bantalan tersebut merupakan posisi-posisi dimana hemoroid bias terjadi. Ada
3 posisi utama, yaitu: jam 3 (lateral kiri), jam 7 (posterior kanan), dan jam 11 (anterior
kanan). Sebenarnya hemoroid dapat juga menunjuk pada posisi lain, atau bahkan dapat
sirkuler, namun hal ini jarang terjadi. Mengenai jam tersebut, pemberian angka angka
berdasarkan kesepakatan: angka 6 (jam 6) menunjukan arah posterior / belakang, angka
12 (jam 12) menunjukan arah anterior / depan, angka 3 (jam 3) menunjukan arah kiri,
angka 9 (jam 9) menunjukan arah kanan. Dengan pedoman tersebut kita bisa tentukan
arah jam lainnya. Secara umum gejala hemoroid timbul ketika hemoroid tersebut
menjadi besar, inflamasi, trombosis, atau bahkan prolaps. Adanya pembengkakan
abnormal pada bantalan anus menyebabkan dilatasi dan pembengkakan pleksus
arterivenous. Hal ini mengakibatkan peregangan otot suspensorium dan terjadi prolaps
jaringan rectum melalui kanalis analis. Mukosa anus yang berwarna merah terang karena
kaya akan oksigen yang terkandung di dalam anastomosis arterivenous.
10

2.5 Klasifikasi
2.5.1 Hemoroid interna
Hemoroid interna berasal dari bagian proksimal dentate line dan dilapisi mukosa.
Menurut Person (2007), hemoroid internal diklasifikasikan menjadi beberapa
tingkatan yakni:
a Derajat I, hemoroid mencapai lumen anal canal.
b Derajat II, hemoroid mencapai sfingter eksternal dan tampak pada saat
c

pemeriksaan tetapi dapat masuk kembali secara spontan.


Derajat III, hemoroid telah keluar dari anal canal dan hanya dapat masuk

kembali secara manual oleh pasien.


Derajat IV, hemoroid selalu keluar dan tidak dapat masuk ke anal canal meski
dimasukkan secara manual. Benjolan dapat terjepit diluar, dapat mengalami
iritasi, inflamasi, edema dan ulserasi, sehingga menyebabkan rasa nyeri.

Gambar 2. Derajat hemoroid interna


2.5.2

Hemoroid eksterna
Hemoroid eksterna berasal dari dari bagian distal dentate line dan dilapisi oleh
epitel skuamos yang telah termodifikasi dan tertutup oleh kulit.

11

Gambar 3. Hemoroid eksterna


2.5.3

Hemoroid interna- eksterna


Hemoroid interna-eksterna dilapisi oleh mukosa di bagian superior dan kulit pada
bagian inferior serta memiliki serabut saraf nyeri

2.6 Manifestasi klinis


Gejala klinis hemoroid dapat dibagi berdasarkan jenis hemoroid (Villalba
dan Abbas, 2007) yaitu:
a. Hemoroid internal
1. Prolaps dan keluarnya mukus.
Benjolan/prolap terjadi pada grade 2-4. Benjolan akan nampak tapi bila diraba
akan menghilang. Hal ini dikarenakan pada saat perabaan, jari akan menekan vasa
sehingga darah dalam vasa akan mengalir. Akibatnya, benjolan menjadi kempis.
Benjolan hanya akan teraba apabila telah terjadi trombus. Disini, benjolan teraba
keras.
2. Perdarahan.
Perdarahan bisa terjadi pada grade 1-4, perdarahan merupakan penentu utama
kecurigaan adanya hemoroid pada grade I. Perdarahan pada hemoroid
berhubungan dengan proses mengejan. Ini menjadi pembeda dengan perdarahan
yang diakibatkan oleh hal lain, misalnya tumor. Pada hemoroid, darah keluar saat
12

pasien mengejan dan berhenti bila pasien berhenti mengejan, sedangkan


perdarahan karena sebab lain tidak mengikuti pola ini. Darah yang keluar adalah
darah segar yang tidak bercampur dengan feses (hematoshezia). Perdarahan
kadang menetes tapi dapat juga mengalir deras. Sebab utama perdarahan adalah
trauma feses yang keras. Perdarahan yang berulang- ulang dapat menimbulkan
anemia
3. Rasa tak nyaman.
4. Gatal.
b. Hemoroid eksternal
1. Rasa terbakar.
2. Nyeri ( jika mengalami trombosis).
Nyeri hebat hanya terjadi pada hemoroid eksterna dengan trombosis nyeri tidak
berhubungan dengan hemoroid interna, tetapi bila pada hemoroid interna terjadi
nyeri, ini merupakan tanda adanya radang.
3. Gatal
2.7 Penegakkan Diagnosis
Diagnosis hemoroid dapat dilakukan dengan melakukan:
a. Anamnesis.
b. Pemeriksaan fisik.
c. Pemeriksaan penunjang.
2.7.1

Anamnesis
Pada anamnesis biasanya didapati bahwa pasien menemukan adanya darah segar
pada saat buang air besar. Selain itu pasien juga akan mengeluhkan adanya gatalgatal pada daerah anus. Pada derajat II hemoroid internal pasien akan merasakan
adanya masa pada anus dan hal ini membuatnya tak nyaman. Pasien akan
mengeluhkan nyeri pada hemoroid derajat IV yang telah mengalami trombosis
(Canan, 2002).
Perdarahan yang disertai dengan nyeri dapat mengindikasikan adanya
trombosis hemoroid eksternal, dengan ulserasi thrombus pada kulit. Hemoroid
internal biasanya timbul gejala hanya ketika mengalami prolapsus sehingga terjadi
ulserasi, perdarahan, atau trombosis. Hemoroid eksternal bisa jadi tanpa gejala atau
dapat ditandai dengan rasa tak nyaman, nyeri akut, atau perdarahan akibat ulserasi
dan trombosis ( Wexner, Person, dan Kaidar-person, 2006).
13

2.7.2

Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya pembengkakan vena yang
mengindikasikan hemoroid eksternal atau hemoroid internal yang mengalami
prolaps. Hemoroid internal derajat I dan II biasanya tidak dapat terlihat dari
luar dan cukup sulit membedakannya dengan lipatan mukosa melalui
pemeriksaan rektal kecuali hemoroid tersebut telah mengalami trombosis
(Canan, 2002).
Daerah perianal juga diinspeksi untuk melihat ada atau tidaknya fisura, fistula,
polip, atau tumor. Selain itu ukuran, perdarahan, dan tingkat keparahan
inflamasi juga harus dinilai (Nisar dan Scholefield, 2003).

2.7.3

Pemeriksaan penunjang
a. Rectal toucher (RT)
Hemoroid interna stadium awal biasanya tidak teraba dan tidak nyeri,
hemoroid ini dapat teraba bila sudah ada thrombus atau fibrosis. Apabila
hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal. Trombosis dan fibrosis
pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar. Rectal toucher (RT)
diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya karsinoma recti.
b. Anoskopi
Pemeriksaan diperlukan untuk melihat hemoroid interna yang belum prolaps.
Anaskopi dimasukan untuk mengamati keempat kuadran dan akan terlihat
sebagai struktur vaskuler yang menonjol kedalam lumen. Apabila penderita
diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan
penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya,
letak, besarnya, dan keadaan lain seperti polip, fissure ani, dan tumor ganas
harus diperhatikan.

14

Gambar 4. Anoskopi
2.8 Diagnosis Banding
Menurut Kaidar-Person dkk (2007) selama evaluasi awal pasien kemungkinan
penyebab lain dari gejala-gejala seperti perdarahan rektal, gatal pada anus, rasa tak
nyaman, massa serta nyeri dapat disingkirkan. Kanke kolorektal dan anal, dan melanoma
anorektal merupakan contoh penyebab gejala tersebut. Dibawah ini adalah diagnosa
banding untuk gejala-gejala diatas:
a. Nyeri
Antara lain fisura anal, herpes anal, proktitis ulseratif dan proctalgia fugax.
b. Massa
Antara lain karsinoma anorektal atau prolaps recti / procidentia. Pada procidentia,
seluruh dinding akan prolaps, sedangkan pada hemoroid hanya mukosa saja yang
prolaps.
c. Nyeri dan massa
antara lain hematom periana;, abses dan pilonidal sinus.
d. Nyeri dan perdarahan
Antara lain fisura anal dan proktitis
e. Nyeri, massa, dan perdarahan
Hematom perianal ulseratif
15

f. Massa dan perdarahan


Karsinoma anal
g. Perdarahan
Antara lain karsinoma kolon-rektal, penyakit divertikel seperti karsinoma kolorektal,
karsinoma anal, diverkulitas, colitis ulserosa, dan polip. Bila dicurigai adanya penyakitpenyakit tersebut maka diperlukan pemeriksaan sigmoidoskopi atau kolon in loop.
2.9 Penatalaksanaan
Menurut Acheson dan Scholefield (2006), penatalaksanaan hemoroid dapat dilakukan
dengan beberapa cara sesuai dengan jenis dan derajat daripada hemoroid.
2.9.1

Terapi konservatif
Sebagian besar kasus hemoroid derajat I dapat ditatalaksana dengan pengobatan
konservatif. Tatalaksana tersebut antara lain koreksi konstipasi jika ada,
meningkatkan konsumsi serat, laksatif, dan menghindari obat-obatan yang dapat
menyebabkan kostipasi seperti kodein (Daniel, 2010).
- Pengelolaan dan modifikasi diet Diet
Perubahan gaya hidup lainnya seperti meningkatkan konsumsi cairan,
menghindari konstipasi dan mengurangi mengejan saat buang air besar
dilakukan pada penatalaksanaan awal dan dapat membantu pengobatan serta
pencegahan hemoroid. Diet berserat, buah-buahan dan sayuran, dan intake air
ditingkatkan. Diet serat yang dimaksud adalah diet dengan kandungan
selulosa yang tinggi. Selulosa tidak mampu dicerna oleh tubuh tetapi selulosa
bersifat menyerap air sehingga feses menjadi lunak. Makanan-makanan
tersebut menyebabkan gumpalan isi usus menjadi besar namun lunak
sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi keharusan mengejan
-

secara berlebihan.
Medikamentosa
Terapi medikamentosa ditujukan bagi pasien dengan hemoroid derajat awal.
Obat-obatan yang sering digunakan adalah;
a. Stool Softener, untuk mencegah konstipasi sehingga mengurangi
kebiasaan mengejan, misalnya Docusate Sodium.
b. Anestetik topikal, untuk mengurangi rasa nyeri, misalnya Lidocaine
ointmenti 5% (Lidoderm, Dermaflex). Yang penting untuk diperhatikan
16

adalah penggunaan obat-obatan topikal per rectal dapat menimbulkan


efek samping sistematik.
c. Mild astringent, untuk mengurangi rasa gatal pada daerah perianal
d. Analgesik, untuk mengatasi rasa nyeri, misalnya Acetaminophen
(Tylenol, Aspirin Free Anacin dan Feverall) yang merupakan obat anti
nyeri pilihan bagi pasien yang memiliki hiperensitifitas terhadap aspirin
atau NSAID, atau pasien dengan penyakit saluran pencernaan bagian atas
atau pasien yang sedang mengkonsumsi antikoagulan oral.
e. Laxantina ringan atau berak darah (hematoscezia). Obat supositorial anti
hemoroid masih diragukan khasiatnya karena hasil yang mampu dicapai
hanya sedikit. Obat terbaru di pasaran adalah Ardium. Obat ini mampu
mengecilkan hemoroid setelah dikonsumsi beberapa bulan. Namun bila
konsumsi berhenti maka hemoroid tersebut akan kambuh lagi.
2.9.2

Terapi Tindakan Non Operatif Elektif


- Sklerotrapi
Vasa darah yang mengalami varises disuntik Phenol 5 % dalam minyak
nabati sehingga terjadi nekrosis lalu fibrosis. Akibatnya, vasa darah yang
menggelembung akan berkontraksi / mengecil. Untuk itu injeksi dilakukan ke
dalam submukosa pada jaringan ikat longgar di atas hemoroid interna agar
terjadi inflamasi dan berakhir dengan fibrosis. Untuk menghindari nyeri yang
hebat, suntikan harus di atas mucocutaneus juction (1-2 ml bahan
diinjeksikan kekuadran simptomatik dengan alat hemoroid panjang dengan
bantuan anoskopi). Komplikasi : infeksi, prostitis akut dan reaksi
hipersensitifitas terhadap bahan yang disuntikan. Skleroterapi dan diet serat
merupakan terapi baik untuk derajat 1 dan 4.

17

Gambar 5. Skleroterapi
-

Ligasi dengan cincin karet (Rubber band Ligation) Teknik


Teknik ini diperkenalkan oleh Baron pada tahun 1963 dan biasa dilakukan
untuk hemoroid yang besar atau yang mengalami prolaps. Tonjolan ditarik
dan pangkalnya (mukosa pleksus hemoroidalis) diikat dengan cincin karet.
Akibatnya timbul iskemik yang menjadi nekrosis dan akhirnya terlepas. Pada
bekasnya akan mengalami fibrosis dalam beberapa hari. Pada satu kali terapi
hanya diikat satu kompleks hemoroid sedangkan ligasi selanjutnya dilakukan
dalam jangka waktu dua sampai empat minggu. Komplikasi yang mungkin
timbul adalah nyeri yang hebat terutama pada ligasi mucocutaneus junction
yang kaya reseptor sensorik dan terjadi perdarahan saat polip lepas atau
nekrosis (7 sampai 10 hari) setelah ligasi.

18

Gambar 6. Rubber Band Ligation


-

Bedah Beku (Cryosurgery)


Tonjolan hemoroid dibekukan dengan CO2 atau NO2 sehingga terjadi nekrosis
dan akhirnya fibrosis. Terapi ini jarang dipakai karena mukosa yang akan
dibekukan (dibuat nekrosis) sukar untuk ditentukan luasnya. Cara ini cocok
untuk terapi paliatif pada karsinoma recti inoperabel.

IRC (Infra Red Cauter)


Tonjolan hemoroid dicauter / dilelehkan dengan infra merah. Sehingga
terjadilah nekrosis dan akhirnya fibrosis. Terapi ini diulang tiap seminggu
sekali.

2.9.3

Terapi operatif
- Hemoroidektomi
Banyak pasien yang sebenarnya belum memerlukan operasi minta untuk
dilakukan hemoroidektomi. Biasanya jika ingin masuk militer, pasien
meminta dokter untuk menjalankan operasi ini. Indikasi operasi untuk
hemoroid adalah sebagai berikut:
a) Gejala kronik derajat 3 atau 4.
b) Perdarahan kronik yang tidak berhasil dengan terapi sederhana.
c) Hemoroid derajat 4 dengan nyeri akut dan trombosis serta gangren.
Prinsip hemoroidektomi :
a) Eksisi hanya pada jaringan yang benar-benar berlebih.
b) Eksisi sehemat mungkin dilakukan sehingga anoedema dan kulit normal
tidak terganggu Spinchter ani.
19

Ada beberapa macam metode yang digunakan adalah :


a) Metode Langenbeck
Untuk tonjolan yang soliter (hanya satu). Caranya dengan menjepit
radiair hemoroid internus, mengadakan jahitan jelujur di bawah klem
dengan catgut chromic No. 2/0 dan melakukan eksisi Diatas klem.
Sesudah itu klem dilepas dan jahitan di bawah klem diikat diikuti
kontinuitas mukosa.
b) Metode Miligan Morgan
Untuk tonjolan pada tiga tempat utama (jam 3, 7, 11). Caranya dengan
mengangkat vena yang varises kemudian dijahit walaupun sebenarnya
metode miligan morgan originalnya tanpa jahitan. Sesuai prosedur
aslinya, benjolan hemoroid dijepit kemudian dilakukan diseksi. Pedikel
vaskuler diligasi dan luka dibiarkan terbuka agar terjadi granulasi.
Metode ini sangat sering digunakan di Inggris.
c) Metode Whitehead
Untuk hermoroid sirkuler / berat. Caranya dengan melakukan incisi
secara sirkular, mengupas seluruh v. hemoriodalis dengan membebaskan
mukosa dari submukosa, bagian yang prolaps dipotong, kemudian dijahit
kembali. Ini merupakan operasi hemoroid yang radikal.
d) Metode Ferguson
Yaitu benjolan hemoroid ditampakkan melalui anoskopi kemudian
dilakukan eksisi dan ligasi pada posisi anatomic hemoroid tersebut.
Metode ini digunakan di Amerika Serikat Metode hemoroidektomi yang
sering dilakukan adalah metode langenbeck karena mudah untuk
dilakukan dan tidak mengandung resiko pembentukan jaringan parut
sirkuler yang dapat menimbulkan stenosis.
-

Stapled Hermorrhoid Surgery (Procedure for prolapse and hemorrhoids/


PPH)

Prosedur penanganan hemoroid ini terhitung baru karena baru dikembangkan


sekitar tahun 1990-an. Prinsip dari PPH adalah mempertahankan fungsi
jaringan hemoroid serta mengembalikan jaringan ke posisi semula. Jaringan
20

hemoroid ini sebenarnya masih diperlukan sebagai bantalan saat BAB


sehingga tidak perlu dibuang semua. Prosedur tidak bisa diterapi secara
konservatif maupun terapi non operatif. Mula- mula jaringan hemoroid yang
prolaps didorong ke atas dengan alat yang dinamakan dilator lalu dijahitkan
ke tunika mukosa dinding anus. Kemudian dengan menggunakan alat yang
disebut circular stapler. Dengan memutar sekrup yang terdapat pada ujung
alat, maka alat akan memotong jaringan yang berlebih secara otomatis.
Dengan terpotongnya jaringan tersebut maka suplay darah ke jaringan
tersebut akan terhenti sehingga jaringan hemoroid akan mengempis dengan
sendirinya. Kerjasama jaringan dan m. sphincter ani untuk melebar dan
mengerut menjamin control keluarnya cairan dan kotoran dari dubur.
Keuntungan penanganan dengan PPH antara lain nyeri minimal karena
tindakan dilakukan di luar bagian sensitive, tindakan berlangsung cepat
sekitar 20- 45 menit, dan pasien pulih lebih cepat sehingga rawat inap di
rumah sakit lebih singkat. Penyulit pada PPH dan operasi konvensional
lainnya tidak jauh berbeda. Tetapi ada kemungkinan terjadi perdarahan,
trombosis, serta penyempitan kanalis analis. Jika terlalu banyak jaringan otot
yang ikut terbuang akan mengakibatkan kerusakan dinding rectum jika m.
sphincter ani internus tertarik dapat menyebabkan disfungsi baik dalam
jangka waktu pendek maupun jangka panjang. PPH bisa saja gagal pada
hemoroid yang terlalu besar kerena sulit untuk memperoleh jalan masuk ke
kanalis analis dan kalaupun bisa, jaringan mungkin terlalu tebal untuk masuk
ke dalam stapler.

21

Gambar 7. Stapled Hemoroidektomi


2.10 Pencegahan
Pencegahan hemoroid dapat dilakukan dengan:
a Konsumsi serat 25-30 gram sehari. Makanan tinggi serat seperti buah-buahan, sayurmayur, dan kacang-kacangan menyebabkan feses menyerap air di kolon. Hal ini
membuat feses lebih lembek dan besar, sehingga mengurangi proses mengedan dan
b
c

tekanan pada vena anus.


Minum air sebanyak 6-8 gelas sehari
Mengubah kebiasaan buang air besar. Segera ke kamar mandi saat merasa akan
buang air besar, jangan ditahan karena akan memperkeras feses. Usahakan BAB

sehari sekali.
d Hindari makanan yang dapat menyebabkan iritasi lokal ( makanan pedas, alkohol )
atau merangsang pencernaan ( kopi, teh ).Berdasarkan penelitian mengkonsumsi
makanan pedas memiliki resiko terkena hemoroid sebanyak 4,95 kali, sedangkan
orang yang mengkonsumsi alkohol memiliki resiko 1,99 kali menderita hemoroid.

22

Hindari stress, karena berdasarkan penelitian seseorang yang stress memiliki resiko
0,49 kali terkena hemoroid walaupun resikonya kecil tetapi hubungannya cukup

signifikan.
Olah raga yang teratur seperti senam, berjalan, berenang, dan menungging pada saat

menjelang tidur.
Hindari mengangkat beban yang berat.

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Grace, Pierce A. dan Borley, Neil R. At A Glance : Ilmu Bedah. Ed.3. 2006. Jakarta :
Erlangga Medical Series
2. Silvia A.P, Lorraine M.W,1995, Patofisiologi, Konsep konsep Klinis Proses Penyakit
Edisi IV. EGC: Jakarta. pemeriksaan penunjang: 420 421.
3. Kumar, V., Cotran, R.S., Robbins, A.L., 2007. Rongga Perut dan Saluran
Gastrointestinal dalam Buku Ajar Patologi Ed.7. Jakarta: EGC. h:660-61.
4. Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Ed.3. 2000. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI
5. Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Jilid
II. EGC : Jakarta.
6. She Warts, Seymour I, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Alih Bahasa Laniyati Celal,
editor Linda Chandranata Jakarta, EGC, 2000, hal 509-515
7. Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. 2004. Jakarta : EGC

24