Anda di halaman 1dari 3

Teknik Vokal dalam Bernyanyi

Arti penting suatu teknik vokal


Dalam membawakan sebuah lagu hendaknya kita lakukan seperti yang diinginkan penciptanya.Untuk itu, dalam menyanyian
suatu lagu kita perlu menguasai teknik vokal yang baik. Contohnya, yang perlu diperhatikan seperti, intonasi, artikulasi,
pernapasan, dan pembawaan.
Intonasi
Intonasi berarti pitch yang tepat. Bunyi nada yang tepat akan menghasilkan suara jernih serta enak didengar. Untuk
membentuk intonasi yang baik diperlukan pendengaran yang baik untuk membantu menghasilkan nada yang jernih dan pitch
kontrol pernapasan terutama untuk dapat mencapai nada tinggi dan nada rendah secara optimal rasa musikal agar penyanyi
dapat mengikuti tempo, gerak, irama, serta menembak nada dengan baik.
Artikulasi
Artikulasi berarti kejelasan nada dan kata-kata. Artikulasi merupakan teknik memproduksi suara yang baik dan
mengucapkannya dengan jelas, nyaring, dan merdu. bila kita terbiasa berbicara dengan jelas, maka artikulasi dalam bernyanyi
juga akan lebih jelas.
Pembentukan Lafal Syair dan Suara
Syair lagu harus diucapkan dengan lafal jelas dan suara akan terbentuk.
Pembentukan lafal syair dipengaruhi oleh alat- alat ucap: rongga hidung, langit-langit, lidah, bibir, dan gigi.
Sedangkan pembentukan suara dipengaruhi oleh paru-paru, sekat rongga badan, pharinx (batang tenggorokan), rongga mulut,
rongga hidung, dan pita suara.
Sumber suara manusia terdapat pada pita suara yang berbentuk selaput tipis, lentur, dan melintang pada tenggorokan.
Pernapasan
Pernapasan dalam bernyanyi ada tiga macam, yaitu pernapasan dada, pernapasan perut, dan pernapasan diafragma.
Pernapasan dada, pernapasan ini jarang dipergunakan dalam bernyanyi karena cepat kehabisan napas dan mudah
capek. Pernapasan dada sangat cocok bila digunakan untuk menghasilkan nada-nada rendah.
Pernapasan perut, pernapasan ini secara refleks dipergunakan orang pada saat tidur. Suara yang dihasilkan dari
pernapasan perut sangat keras, sehingga kurang depergunakan dalam bernyanyi.
Pernapasan diafragma, pernapasan ini sangat cocok digunakan dalam bernyanyi. Pernapasan ini memungkinkan kita
menghasilkan suara murni dengan napas yang panjang. Pernapasan diafragma juga dapat memperkecil ketegangan pada
dada, bahu, dan leher sehingga dapat mengurangi risiko cedera.
Cara Bernapas yang Baik Saat Bernyanyi
Waktu menarik napas. bahu jangan terangkat dan badan jangan mengejang/menegang.
Udara masuk disalurkan ke perut yang menggembung dan disimpan dalam diafragma.
Usahakan udara keluar ra dan sehemat mungkin melalui mulut. Jangan tersendat-sendat.
Tarik naas pada akhir kalimat atau bagian kalimat yang memiliki frase.
Bila napas tidak kuat/ kurang panjang, lakukanlah teknik mencuri napas (cepat tanpa terdengar jelas) sehingga tidak
merusak frase lagu.
Pembawaan
Penyanyi yang baik hendaknya membawakan lagu sesuai dengan isi dan jiwa yang ingin ditampilkan penciptanya. Ia
hendaknya dapat meleburkan perasaannya ke dalam lagu. Penyanyi harus dapat membuat penikmat dan pengamat seni
terjangkiti perasaan yang dimaksud dan terpesona.

Bernyanyi Lagu Daerah


Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki lagu yang berbahasa ibu yaitu menggunakan bahasa daerah. Menyanyikan
lagu daerah biasanya diiringi dengan alat musik tradisional. Indonesia memiliki lagu dan alat musik tradisional yang mendapat
pengaruh dari berbagai negara seperti India, China, Portugis, serta negara-negara lainnya. Contoh lagu daerah Indonesia
antara lain Bungong Jeumpa dari Aceh, Tokecang dari Jawa Barat, Cing Cangkeling dari Jawa Barat, Rambadia dari Tapanuli,
Soleram dari Riau, Kaparak Tingga dari Minang, Marencong-rencong dari Bugis, dan Apuse dari Papua.
Ciri-ciri Lagu Daerah
Setiap daerah memiliki lagu-lagu yang dinyanyikan pada saat tertentu dengan bahasa daerah. Lagu-lagu ini merupakan
kekayaan budaya bangsa yang dapat dijadikan sebagai salah satu sarana membentuk karakter dan pendidikan sikap pada
anak dan remaja. Nasehat yang disampaikan melalui lagu tentu lebih bermakna dan dapat diterima. Lagu daerah biasanya
merujuk kepada sebuah lagu yang mempunyai irama khusus bagi sebuah daerah. Beberapa ciri khas lagu daerah, antara lain
sebagai berikut:
Teks lagu daerah menggunakan bahasa dan dialek setempat. Misalkan lagu daerah Jawa Timur menggunakan bahasa
Jawa dengan dialek Suroboyo-an.
Lagu daerah diwariskan secara turun-temurun dengan tradisi lisan. Walaupun ada lagu daerah yang tertulis, hal itu
berfungsi hanya untuk kepentingan dokumentasi saja.
Lagu daerah pada umumnya tidak diketahui penulis atau penciptanya (anonim). Karena sifat lagu daerah adalah tidak
menonjolkan ekspresi pribadi atau perorangan, tetapi pesan yang disampaikan adalah bersifat umum.
Lagu daerah pada umumnya memiliki susunan melodi dan syair yang sederhana. Beberapa lagu daerah hanya memiliki 2,
4 atau 8 bait saja. Ada juga lagu daerah yang menggunakan syair berbeda pada setiap perulangannya. Lagu daerah yang
sederhana biasanya bisa dinyanyikan dengan baik oleh masyarakat dari etnis lagu daerah tersebut berasal.
Terkadang terdapat beberapa versi dari sebuah lagu di daerah berbeda dalam suatu etnis. Hal ini terjadi karena cara
penyebaran lagu daerah dilakukan dari mulut ke mulut. Dalam membawakan lagu daerah, masyarakat biasanya
menyanyikan dengan diiringi oleh musik daerah setempat. Misalkan lagu daerah Praon dari Jawa Tengah dinyanyikan
dengan diiringi musik gamelan.
Tujuan menyanyikan lagu daerah adalah untuk lebih mengenal lagu-lagu daerah di indonesia dan menimbulkan rasa cinta
pada lagu daerah indonesia juga indonesia dapat di kenal atas budayanya termasuk seni musiknya .
Lagu-lagu daerah merupakan kekayaan warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Pelestarian dan
pengembangan warisan budaya ini dapat dilakukan dengan tetap menyanyikan sesuai dengan kebutuhan serta situasi dan
kondisi dimana lagu tersebut harus dinyanyikan.
Menyanyi pada masyarakat sering dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Ada lagu-lagu yang dinyanyikan pada saat upacara
tertentu seperti pernikahan, kelahiran, kematian atau permainan. Ada juga lagu-lagu yang berisi nasehat atau sanjungan
terhadap mahkluk sesama. Ibu-ibu di daerah masih sering menyanyikan lagu nasehat saat menidurkan anaknya. Beberapa
contoh lagu daerah dan kegunaannya adalah sebagai berikut:
Gending Kebo Giro adalah gending yang digunakan pada acara temu panggih dalam prosesi pernikahan adat Jawa.
Nyanyian Katoneng-Katoneng dalam Upacara Kematian adat Karo. Nyanyian yang mengandung doa dan nasehat yang
disampaikan oleh keluarga yang ditinggalkan maupun sebuah kekerabatan.
Dodoy merupakan salah satu bagian dalam pengasuhan anak pada masyarakat Melayu Siak. Dodoy termasuk jenis
nyanyian rakyat karena dilantunkan secara lisan dan penyebarannyapun diwariskan secara lisan.
Demikian juga anak-anak dan remaja masih sering menyanyi sambil melakukan permainan. Ada juga lagu-lagu daerah yang
bersifat dolanan. Lagu-lagu ini dinyanyikan oleh anak-anak dan remaja. Mereka bernyanyi sambil melakukan permainan
tradisional.
Di daerah Jawa Tengah dikenal dengan nama tembang dolanan, tembang dolanan anak berbahasa Jawa memiliki nilai-nilai
luhur budaya nasional. Beberapa contoh tembang dolanan dan nilai yang terkandung di dalamnya antara lain sebagai berikut:
1. Nilai Religius atau Keagamaan
Sluku-sluku bathok, dalam syair lagu tersebut bermakna manusia hendaklah membersihkan batinnya dan senantiasa
berzikir mengingat Allah dengan (ela-elo) menggelengkan kapala mengucapkan lafal laa illa ha illallah disaat susah
maupun senang.
Ilir-ilir, maksud yang terkandung dalam tembang tersebut adalah kita sebagai umat manusia diminta bangun dari
keterpurukan untuk lebih mempertebal iman dan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin
baru.
Padhang Wulan, maksud dari tembang dolanan tersebut adalah kita hendaknya bersyukur kepada yang Maha Kuasa untuk
menikmati keindahan alam.

2. Nilai Budi Pekerti


Jaranan, makna budi pekerti yang tersirat dalam tembang tersebut, antara lain: kebersamaan, dan menghormati yang lebih
tinggi kedudukannya.
Menthok-menthok, mengandung makna instropeksi diri, sebagai umat manusia tidak boleh menyombongkan diri, karena
sesungguhnya semua yang ada di dunia ini diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Gundul-gundul Pacul , mengajarkan kepada kita bahwa kita bukanlah orang yang paling benar, paling bisa, dan paling
pintar, sehingga dia bersikap gembelelengan, sombong, dan tak tahu diri.
Dondhong Opo Salak, Ibarat buah kedondong yang bagian luarnya halus tetapi bagian dalamnya kasar dan tajam, dan
sebaliknya buah salak yang bagian luarnya kasar ternyata bagian dalamnya halus. Lebih baik kita berbuat yang baik
secara lahir maupun batin seperti buah salak, daripada kita berbuat yang dari luar kelihatan bagus tetapi di dalamnya
kasar dan tajam seperti buah kedondong.
Teknik dan Gaya Menyanyi Lagu Daerah
Lagu-lagu daerah biasanya diiringi dengan seperangkat alat musik daerah yang sering disebut dengan karawitan. Istilah
karawitan untuk menunjuk pada seperangkat alat musik tradisional secara lengkap secara orkestra.
Kebanyakan karya-karya seni musik (karawitan) yang dimainkan dengan berbagai ansambel gamelan ataupun repertoar lain
biasanya bersifat tradisional dan anonimus. Karenanya, usia sebuah komposisi karawitan sangat sulit untuk ditentukan.
Seringkali seorang pemain/seniman ahli Karawitan menambah atau mengurangi komposisi karawitan yang dimainkan, begitu
juga beberapa gaya. Pada musik karawitan Betawi gaya dalam gambang kromong disebut liaw yang tersendiri sangat lazim
pada periode tertentu dan wilayah yang tertentu.
Komposisi karawitan dapat mengembangkan perbedaan-perbedaan dari sebuah wilayah dengan wilayah lainnya sepanjang
waktu. Inilah yang menyebabkan munculnya gaya yang berbeda- beda. Gaya musikal adalah ciri khas atau karakteristik
musikal yang dihasilkan dari beberapa kondisi:
Gaya lokal, yakni sifat-sifat lokal suatu daerah yang diakui memiliki sifat-sifat estetis dan ekspresif berbeda dengan daerah
lainnya. Inilah yang belakangan ini, sehubungan dengan isu globalisasi, kemudian kita sebut sebagai entitas lokal genius.
Gaya individual, adalah tipologi karakteristik seorang tokoh pencipta Lagu-lagu yang membedakannya dengan pencipta
lagu lainnya.
Gaya periodikal, adalah tipologi karakteristik zaman tertentu yang menghasilkan gaya musikal tertentu, misalnya. Gaya
dalam bentuk musikal, adalah tipologi karakteristik yang dapat dibedakan dari berbagai bentuk karya musikal yang ada,
misalnya, pada musik Betawi dalam gambang kromong lagu sayur, dengan lagu phobin, atau dalam kroncong tugu antara
kroncong asli, langgam dan stambul. Dalam karawitan Betawi Gaya atau musical style dikenal dengan istilah Liaw.
Pada repertoar (perbendaharaan bahasa (dialek, ragam) yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat) lagu-lagu daerah
sering dibawakan oleh seorang penyanyi. Di Jawa disebut dengan Sinden, demikian juga di Sunda dan juga Bali. Di daerah
Sumatera Utara sering disebut dengan Perkolong-kolong. Di Kalimantan ada yang disebut dengan Madihin yaitu menyanyikan
pantun-pantun dengan diiringi tabuhan gendang. Setiap daerah memiliki nama tersendiri bagi seorang penyanyi yang diiringi
dengan orkestrasi musik tradisional.
Menyanyi Secara Unisono
Menyanyikan lagu-lagu daerah ada yang dilakukan secara seorang diri tetapi ada juga yang dilakukan secara berkelompok.
Madihin misalnya yang menyanyikan pantun seorang diri sekaligus sebagai pemusiknya. Sinden dapat dilakukan secara
berkelompok tetapi dapat juga dilakukan seorang diri. Mereka menyanyi dalam satu suara atau sering disebut dengan
menyanyi secara unisono. Menyanyi secara unisono membutuhkan kerjasama antara anggota kelompok karena jika berbeda
sendiri suaranya akan terlihat tidak bagus.
Menyanyi pada masyarakat sering dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Ada lagu-lagu yang dinyanyikan pada saat upacara
tertentu seperti pernikahan, kelahiran, kematian atau permainan. Ada juga lagu-lagu yang berisi nasehat atau sanjungan
terhadap mahkluk sesama. Ibu-ibu di daerah masih sering menyanyikan lagu nasehat saat menidurkan anaknya. Demikian
juga anak-anak dan remaja masih sering menyanyi sambil melakukan permainan. Hal ini membuktikan bahwa menyanyi
secara unisono maupun perseorang sering dilakukan oleh masyarakat.
Setiap daerah tentu memiliki lagu-lagu yang dinyanyikan pada saat tertentu dengan bahasa daerah. Lagu-lagu ini merupakan
kekayaan yang dapat dijadikan sebagai salah satu sarana membentuk karakter dan pendidikan sikap pada anak dan remaja.
Nasehat yang disampaikan melalui lagu tentu lebih bermakna dan dapat diterima.