Anda di halaman 1dari 4

GENDER DAN POLITIK

Nama :I Gusti Agung Widaloka


NIM : 1321105024
Prodi : Hubungan Internasional

HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS UDAYANA
2014

GENDER DAN POLITIK

Semenjak lahirnya penelitian komparatif mengenai wanita dan politik, beberapa ranah
penelitian pun muncul, diantaranya meliputi kajian kajian wanita dan representasi politik.
Kajian komparatif mengenai wanita dan politik berfokus pada isu representasi wanita di
neara negara industry atau negara negara Eropa barat, Kanada, dan Amerika Serikat. Para
peneliti utamanya tertarik pada isu apakah wanita dipilih untuk menduduki posisi apa yang
cenderung memberi peluang akses bagi wanita untuk kedudukan politik.
Studi tentang representasi yang memusatkan perhatian pada kombinasi factor factor
yang mempengaruhi banyak atau sedikitnya representasi perempuan dibidang legislative. Hal ini
mungkin dapat dipahami melalui penjelasan politik, institusi, budaya, dan social ekonomi.
Sebagai contoh, penjelasan institusional melihat kepada sifat system elektroral, konstruksi dan
ukuran partai partai politik, daftar calon partai, waktu akses wanita kepada voting, dan level
demokrasi. Pada umumnya representasi proporsional (RP) di parlemen dianggap lebih disukai
daripada system yang berdasarkan distrik, karena jumlah kursi yang tersedia bagi wanita pada
sistem RP cenderungg lebih banyak (Matland & Studlar, 1996).
Perhatian yang kedua focus pada factor keagamaan atau cultural dalam menentukan
tingkat representasi wanita representasi wanita. Studi awal factor budaya dan agama biasanya
dimulai dari mengkaji efek budaya Muslim atau Katolik yang menghalangi wanita untuk duduk
pada jabatan politik hingga ke sikap agregatif terhadap kesetaraan gender (Tripp & Kang,2008).
Pada bidang penelitian ketiga, para sarjana mengeksplorasi factor social ekonomi yang
mempengaruhi representasi wanita, khususnya tingkat pendidikan wanita dan partisipasi di
lapangan kerja. Tetapi dari semua bidang kajian tersebut, ada satu hal yang paling penting yaitu
kuota. Kuota merujuk kepada sejumlah kursi di parlemen yang sudah ditentukan lebih dahulu,
berdasarkan daftar partai politik, atau kepemimpinan politik yang dialokasikan bagi waanita
dalam suatu partai politik. Kuota, menurut Tripp dan Kang (2008), tampaknya membantu wanita
untuk mengatasi hambatan tradisional yang disebabkan ekonomi, rezim otoriter, konteks budaya,
atau ciri ciri politik elektroral reguler.
Tetapi dari semua bidang kajian tersebut, ada satu hal yang paling penting yaitu kuota.
Kuota merujuk kepada sejumlah kursi di parlemen yang sudah ditentukan lebih dahulu,
berdasarkan daftar partai politik, atau kepemimpinan politik yang dialokasikan bagi wanita

dalam suatu partai politik. Kuota, menurut Tripp dan Kang (2008), tampaknya membantu wanita
untuk mengatasi hambatan tradisional yang disebabkan ekonomi, rezim otoriter, konteks budaya,
atau ciri ciri politik elektroral regular.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola seleksi antara laki-laki dan perempuan
untuk ikut turut dalam pengambiln keputusan dan kebijakan
Faktor pertama berhubungan dengan konteks budaya di Indonesia yang masih sangat
kental asas patriarkalnya. Persepsi yang sering dipegang adalah bahwa arena politik adalah untuk
laki-laki, dan bahwa tidaklah pantas bagi wanita untuk menjadi anggota parlemen contohnya
seperti di NTT, Hal ini terbukti dengan yang menjabat kepala desa hanya 48 orang atau
1,95 persen, sedangkan laki-laki sebanyak 2.415 atau mencapai 80 persen dari
total penduduk di NTT.

Faktor kedua berhubungan dengan proses seleksi dalam partai politik. Seleksi terhadap para
kandidat biasanya dilakukan oleh sekelompok kecil pejabat atau pimpinan partai, yang hampir
selalu laki-laki akibatnya perempuan tidak memperoleh banyak dukungan dari partai-partai
politik karena struktur kepemimpinannya didominasi oleh kaum laki-laki.
Ketiga, berhubungan dengan media elektronik khususnya televisi yang berperan penting dalam
membangun opini publik mengenai pentingnya representasi perempuan dalam parlemen, karena
di jaman modern ini media televise yaitu televise swasta yang selalu hanya menampilkan tayang
perempuan yang identik dengan fashion, rumah tangga, entertaiment contohnya televise swasta
i*dosiar. Semestinya media tidak hanya menayangkan program tentang perempuan yang selalu
saja mengenai fashion dan rumah tangga tetapi juga mengenai politik sehingga kaum perempuan
juga mendapat dukungan publik dalam ranah perpolitikan.

Sumber :

http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/13875/budaya-patriarki-hambat-partisipasiperempuan.
http://www.idea.int/publications/wip/upload/CS-Indonesia.pdf.

http://www.academia.edu/1202627/Media_Massa_dan_Hegemoni_Negara_Terhadap_Realitas_P
olitik_Perempuan_Analisis_Gramscian_Atas_Proses_Perjuangan_Affirmatic_Action._Kuota_30
_