Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
A; Latar Belakang Masalah

Bahkan diwilayah bekasi memiliki jaringan ulama dalam mengembangkan


islam yang sudah selayaknya mendapat perhatian lebih. KH.R.Mamun Nawawi
misalnya berperan menyebarkan agama islam dalam arti dakwah Islamiyah di
atas. Akan tetapi ada juga perjuangan fisik melawan penjajah seperti belanda dan
jepang dipimpin KH. Noer Ali yang dijuluki Singa Karawang-Bekasi (Ali
Anwar, KH. Noer Ali,2006:23)
KH. Muhamad Fudholi bergerilya di Cikarang. Begitu pula dengan KH.
Muhajirin Amsar Addari yang berjuang di Bekasi Kota-Cakung. Demikianlah,
keempat serangkai ulama tersebut di anggap sebagai peletak dasar islam di
wilayah Bekasi. Ulama ulama di atas merupakan ulama generasi pertama dalam
memajukan pendidikan agama islam diwilayah Bekasi, pada abad ke dua puluh.
Bahkan masing-masing ulama ini mempunyai bagian daerah kekuasaannya dalam
memimpin masyarakat di wilayah Bekasi ini. KH. Noer Ali bagian Utara dan
Barat. KH.R.Mamun Nawawi bagian selatan arah ke bogor, KH. Fudholi bagian
tengah, dan terakhir KH. Muhajirin Amsar Addari Bekasi Kota-Cakung. Tetapi
kalau dilihat secara umum ulama-ulama ini sudah terkenal sebelum Bekasi berdiri
sebagai Kota administrasi sendiri (M.A Supratman, 2002:3-9).
Melihat perjalanan sejarah hidup mereka, ulama-ulama itu sangat berperan
bagi masyarakat, baik dari aspek intelektual keagamaan, ekonomi, sosialbudaya,
maupun aspek politis. Dari aspek intelektual misalnya upaya yang dilakukan
ulama Bekasi dalam mencerdaskan masyarakat memang memakai berbagai
1

macam cara, dan pada umumnya melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam


yang disebut dengan lembaga pondok pesantren. Dan tradisi pendidikan Islam
model pondok pesantren yang dikembangkan mereka ini sebenarnya meneruskan
tradisi keilmuan guru-guru mereka dalam mentransmisikan ilmu-ilmu keislaman.
Dari aspek politis misalnya para ulama ini telah menanamkan tentang semangat
patriotisme dalam membela Negara.
Adapun dalam aspek keagamaan adanya peningkatan penghayatan dan
pengamalan ritual kehidupan keagamaan umat Islam. Lalu, dalam masalah
ekonomi kiprah mereka memberi dampak positif terhadap peningkatan
kesejahteraan umat Islam, terutama dinamika perdagangan di sekitar lembaga
pendidikan yang ada, mengenai dampak positif sosial-budaya dakwah Islamiyah
para ulama ini diindikasikan lahirnya tradisi-tradisi kehidupan masyarakat. Antara
lain tradisi saling tolong menolong yang dikembangkan dari konsep ajaran Islam
silaturrahmi.
Sejalan dengan hal tersebut, berdasarkan hasil wawancara pertama dengan
(KH. Jamaludin anawawi putra pertama KH.R.Mamun Nawawi) di Pondok
Pesantren Al-Baqiyatussholihat Cibogo kabupaten Bekasi, diperoleh gambaran
tentang sejarah hidup KH.R.Mamun Nawawi dimulai dari kelahirannya, masa
belajar hingga wafatnya, latar belakang sosial budaya, pendidikan, siapa gurugurunya, murid-muridnya, teman-teman seperjuangan, dan karya-karya beliau
dibidang keagamaan.
KH.R. Mamun Nawawi dilahirkan di kampung Cibogo Bekasi (1334
H/1915M). Beliau adalah putra dari KH.R. Anwar, ulama Bekasi yang juga
pernah menjadi murid KH. Hasyim Asyari, mengutus anakanya yang bernama
R.Mamun Nawawi untuk belajar agama di pesantren, beliau berguru kepada

banyak ulama di antaranya KH. Hasyim Asyari (Jawa Timur). KH. Syekh Ihsan
Jampes (Kediri). Tubagus Bakri bin Seda (Sempur, Plered Purwakarta). Dan
beliau pernah berguru kepada 13 Mualif (pengarang kitab) di Mekah selama 2
tahun diantaranya Al-Muhaddits As-Sayid Alawi Al-Maliki dan KH. Mukhtar
Athorid Al-Bogori.
Akan tetapi dari berbagai ilmu keislaman yang dipelajarinya ,seperti fikih,
tasawuf, tauhid, hadits, nahwu shorof, faraidh, balaghah, falak. Namun KH.R.
Mamun Nawawi lebih dikenal sebagai ulama falak. Otoritas beliau dalam bidang
ilmu falak ini dapat dirujuk kepada karyanya, At-Taisir fi Ilm al-Falak yang
diakui di daerah Jawa Barat. Kemudian pada tahun 1956 beliau mendirikan
lembaga pondok pesantren di Cibogo Bekasi yang diberi nama

Al-

Baqiyatussholihat.
Dengan adanya lembaga pendidikan pondok pesantren yang beliau
dirikan, sehingga banyak murid beliau alumni dari pondok pesantren ini menjadi
ulama ataupun tokoh masyarakat di Bekasi, di antaranya KH. Yahya Anshori di
Kalideres, KH. Utsman di Citeureup. Murid-murid beliau inilah yang meneruskan
perjuangannya dalam mengembangkan agama Islam di masyarakat.
Selanjutnya KH.R.Mamun Nawawi yang berperan dalam memberikan
kontribusi besar terhadap pendidikan agama islam di Bekasi, lewat lembaga
Pondok Pesantren untuk mentransmisikan ilmu pengetahuannya dan menjalankan
dakwahnya. Beliau merupakan ulama yang produktif menulis tidak kurang hasil
karya tulisnya berjumlah 63 kitab. Selain itu beliau juga menjadi penggerak
pejuang kemerdekaan Indonesia yang disebut dengan Pelatihan militer santri
Hizbullah di Cibarusah bersama para santrinya, khususnya di tanah kelahirannya

Bekasi(http://www.muslimedianews.com/2014/06/kh-r-mamun-nawawi-ahlifalak-bekasi).
Begitu juga dengan upaya KH.R.Mamun Nawawi dalam menyampaikan
dakwah islamnya beliau berkiprah di masyarakat melalui lembaga pendidikan
yang didirikannya memberikan dampak positif terhadap kemajuan umat islam di
Bekasi, baik dalam arti kemajuan dibidang sosial-ekonomi, peningkatan
penghayatan dan pengamalan agama, peningkatan pendidikan dan kecerdasan
masyarakat, serta mengangkat harkat dan martabat masyarakat Islam.
Namun perlu dijelaskan juga tantangan yang dihadapi beliau ketika mulai
berkiprah di masyarakat, antara lain masalah sosial, budaya ekonomi, selain
persoalan politik, ke agamaan dan yang paling berat yaitu dari aspek pendidikan,
dikarenakan belaiu sudah dianggap bisa dan memadai beradaptasi untuk untuk
mengembangkan dakwahnya R.Mamun Nawawi mendapat tugas dari mertuanya
KH.Tubagus Bakri untuk mendirikan pondok pesantren di Pandeglang Banten,
namun karena pada saat itu kondisi masyarakat Bekasi sangat membutuhkan
sosok ulama yang mengerti agama secara mendalam dan juga pemberani, karena
pada saat itu kondisi masih genting dengan penjajahan belanda dan tekanan
pemerintah belanda.
Maka 2 tahun kemudian sang ayah KH.R. Anwar meminta beliau untuk
kembali ke kampong halamannya di Cibogo Bekasi untuk mendirikan pondok
pesantren Al-Baqiyatussholihat atas biaya sang ayah, secara otomatis santri
seluruh santri di Pandeglang pun ikut gabung ke pondok pesantren AlBaqiyatussholihat ini, dan mencapai masa keemasaanya hingga 1000 santri dalm

satu angkatannya. Dan yang lebih menarik untuk diteliti lebih mendalam
bagaimana strategi dan upaya KH.R.Mamun Nawawi dalam membina dan
membimbing masyarakat sehingga Pendidikan Agama Islam di Bekasi menjadi
maju.
Realitas di atas menunjukan bahwa begitu besar peran KH.R.Mamun
Nawawi terhadap Pendidikan Agama Islam dibuktikan dengan berbagai macam
cara, khususnya dibidang pendidikan, seperti menulis kitab, mendirikan Pondok
Pesantren Al-Baqiyatussholihat, Yayasan Al-Baqiyatussholihat dan di adakannya
pengajian setiap seminggu sekali di lingkungan Pondok Pesantren.
Berdasarkan fenomena di atas di atas penulis tertarik untuk mengangkat
topik tersebut sebagai permasalahan dengan ini penulis mengangkat judul
KH.R.MAMUN NAWAWI DAN PERANANNYA TERHADAP PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM DI BEKASI