Anda di halaman 1dari 8

Sinonim

Sinonim adalah kata kata yang memiliki bentuk yang berbeda, seperti tulisan
maupun pelafalan, tetapi kata kata tersebut memiliki makna yang mirip atau
sama. Sinonim sering sekali disebut dengan persamaan kata atau padanan kata.
Nah, berikut ini adalah contoh contoh kalimat yang bersinonim dan daftar kata
kata umum beserta dengan sinonimnya.
Perhatikan contoh contoh berikut ini:
Cerdas = Pintar = Pandai
Dani adalah anak yang cerdas.
Riki adalah anak yang pintar.
Shinta adalah anak yang pandai.
Hadir = Datang = Mampir
Pak guru hadir ke kelas kami tepat waktu.
Pak guru datang ke kelas kami tepat waktu.
Pak guru mampir ke kelas kami tepat waktu.
Melihat = Menonton
Aku melihat pertunjukan wayang bersama ibu kemarin malam.
Aku menonton pertunjukan wayang bersama ibu kemarin malam.
Gembira = Senang
Hari ini Shinta terlihat gembira.
Hari ini Shinta terlihat senang.
Dahaga = Haus
Setelah bekerja keras, aku sangat haus hingga menghabiskan air putih sebanyak
delapan gelas.
Setelah bekerja keras, aku sangat dahaga hingga menghabiskan air putih sebanyak
delapan gelas.
Berjumpa = bertemu
Kemarin malam aku berjumpa dengan Shinta di pasar malam.
Kemarin malam aku bertemu dengan Shinta di pasar malam.
Berikut ini adalah daftar kata kata umum dan sinonimnya :
Tumbuhan = Flora
Binatang = hewan = fauna
Bohong = dusta
Baju = pakaian
Indah = Bagus
Pelit = kikir
Memohon = meminta

Kesal = marah
Memasak = menggoreng
Alami = tradisional
Mudah = gampang
Sulit = sukar
Menyukai = menyenangi
Mendengarkan = menyimak
Meminta = memohon
Lemah = Tidak berdaya
Mudah = gampang
Sulit = sukar
Pendek = rendah
Kosong = tidak berisi
Lunak = lembek
Kebut = Kencang

Kita dan Ejaan


Banyak orang bertanya, apakah sebenarnya ejaan itu? seperti yang dikatakan oleh
A. Chaer dalam bukunya "pembakuan bahasa Indonesia" ejaan itu tidak lain
adalah konvensi grafis, atau perjanjian tulis-menulis yang dilakukan suatu
masyarakat bahasa untuk menulis bahasanya. jika dibandingkan, sistem ejaan
bahasa indonesia dengan sistem eaan bahasa asing (inggris), sangat jelas bahwa
ejaan bahasa indonesia jauh lebih baik. Ejaan bahasa Indonesia dinilai lebih
konsisten daripada ejaan bahasa inggris. hal ini bisa dilihat dari konvensi
penggunan huruf untuk menggantikan bunyi ujarannya. untuk mengenal lafal
dalam bahasa inggris pada sebuah kata, seseorang tidak akan dan jarang sekali
langsung bisa melafalkan dengan tepat dan benar, tetapi untuk mengetahui dan
melafalkan dengan benar kita harus mempelajarinya terlebih dahulu dengan
mendengarkan ucapan orang lain atau melihatnya dalam kamus.
Pada zaman yang serba canggih, dengan sumber daya manusia yang
berpengetahuan tinggi tidak lantas menjadikan mereka menjadi orang yang benarbenar pintar ketika mereka belum bisa membuktikan kemampuan berbahasa
mereka. Kesalahan penggunaan ejaan masih banyak terjadi di kalangan
masyarakat. Meskipun ejaan kita lebih baik daripada ejaan bahasa inggris, tetapi
ejaan kita tidak bisa dikatakan sebagai ejaan yang ideal. Hal ini dikarenakan
banyaknya ejaan yang hampir beberapa kali disempurnakan. Kesulitan dan kurang

pahamnya kita terkait fungsi ejaan itu sendiri mampu menimbulkan kekeliruan
atau kesalahan terutama dalam menggunakan huruf, pemenggalan kata, menulis
kata, serta penggunaan tanda baca. banyaknya kekeliruan yang sering kita lakukan
dalam penggunaan huruf dikarenakan adanya sejumlah bunyi ujar yang hampir
sama, sehingga kita keliru dalam memilih huruf mana yang harus digunakan
untuk melambangkan bunyi itu. misalnya, penggunaan huruf [p] dan [b] pada
akhir kata yang biasanya terdengar sama dan hampir sulit untuk dibedakan.
kesulitan lain adalah ketika menghadapi kata-kata yang berasal dari unsur serapan.
misalnya, bunyi ujar [f] dari bahasa Arab yang kemudian diganti dan dilafalkan
dengan huruf [p], sebagai contoh kata paham dan pikir. Kalau kita telusuri asal
kedua kata ini adalah faham dan fikir menggunakan huruf [f] bukan [p]. Tidak
hanya pelafalan, dalam penulisan gabungan kata juga masih banyak terjadi
kesalahan. menurut pedoman EYD, kalau unsur-unsur dalam gabungan kata itu
merupakan unsur-unsur yang dapat berdiri sendiri, maka harus ditulis terpisah.
misalnya, wali kota, air putih, dst. sedangkan kalau dalam gabungan kata itu ada
unsurnya yang tidak bisa berdiri sendiri, maka harus ditulis serangkai. seperti,
antarkota, kosakata, subjudul, dst. Tetapi tidak sedikit di antara kita yanmg
menuliskan secara terpisah; kosa kata, antar kota, sub judul, dst.
Kesalahan-kesalahan di atas lebih sedikit dibanding dengan banyaknya kesalahan
yang dilakukan dalam penggunaan tanda baca. Kesalahan ini banyak sekali kita
temui baik dalam tulisan sehari-hari maupun di media cetak. keteledoran dan
kurang telti serta kurang pahamnya kita akan fungsi dari tanda baca itusah yang
menyebabkan kesalahan dalam tulisan kita. Kalau kita lihat kesalahan-kesalahan
ejaan yang banyak kita lakukan dalam menuliskan bahasa kita, memang
merupakan kesalahan umum yang banyak terjadi, dan banyak atau pernah
dilakukan oleh siapa saja di antara kita. Namun, kalau kita mengakui bahwa
bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa negara, maka mau tidak mau
kita harus menggunakannya sebaik mungkin. bagaiman aorang lain bisa
menghargai bahasa kita kalau kita sendiri tidak terlalu peduli kepada bahasa kita
sendiri; termasuk dalam hal penggunaan ejaan.

Dalam bahasa Indonesia, untuk menunjukkan jamak, kata bendanya diulang


seperti misalnya buku menjadi buku-buku, rumah menjadi rumah-rumah, mobil
menjadi mobil-mobil. Atau di depan kata benda itu diberi kata bilangan seperti
(angka) tujuh, banyak, beberapa, sejumlah, dan semacamnya sehingga menjadi
tujuh rumah, banyak rumah, beberapa mobil, sejumlah mobil, dan seterusnya.
Kalau sudah menggunakan kata bilangan di depan kata benda itu, kata benda itu
tidak boleh diulang. Jadi, kalimat yang sering terdengar dari mulut orang-orang
terkemuka di layar televisi, seperti Hal itu menimbulkan suatu pertanyaanpertanyaan adalah salah. Suatu pertanyaan-pertanyaan jelas salah. Akan tetapi
juga sejumlah orang-orang yang hadir itu adalah para pimpinan bank terkemuka
di Indonesia adalah salah. Kalau sudah menggunakan kata bilangan (sejumlah
adalah kata bilangan), kata benda yang berada sesudahnya tak boleh diulang yang
menunjukkan bahwa benda itu jumlahnya lebih dari satu.
Hal-hal demikian sangatlah elementer dalam tata bahasa Indonesia, tetapi
kenyataan membuktikan, banyak orang terkemuka yang melanggarnya entah
karena tidak tahu entah karena lupa.
Menggunakan ulangan seluruh kata untuk menunjukkan jumlahnya yang lebih
dari satu memang tidak praktis. Kalau kata tersebut hanya terdiri atas dua atau tiga
suku kata bolehlah. Akan tetapi, bagaimana kalau lebih dari tiga suku kata
misalnya permohonan-permohonan, perpustakaan-perpustakaan, dan
jaelangkung-jaelangkung? Pembentukan kata benda dengan awalan pe- dan
akhiran an sangat produktif, dan karena kata dasar dalam bahasa kita banyak
sekali yang terdiri atas dua suku kata, kata benda yang dibentuk dengan awalan
pe- dan akhiran an itu paling tidak menjadi empat suku kata dan jumlahnya
sangat banyak.
Kata-kata majemuk seperti surat kabar, kereta api, kapal terbang, kalau
jumlahnya lebih dari satu (banyak), diulang seluruhnya menjadi surat kabar-surat
kabar, kereta api-kereta api, kapal terbang-kapal terbang, dan lain-lain. Padahal,
lebih baik yang diulang hanya kata bagian pertamanya, tak usah seluruhnya,

sehingga menjadi surat-surat kabar, kereta-kereta api, kapal-kapal terbang, dan


lain-lain.

Preposisi (kata depan) berguna untuk menandai berbagai hubungan makna antara
kata di depan preposisi dengan kata yang berada di belakang preposisi.
Contoh: Ada tapak yang menjauh ke Utara
Dalam frasa Ada tapak yang menjauh ke Utara, preposisi ke menyatakan
hubungan makna arah antara Arah tapak yang menjauh dan Utara.
Macam-macam preposisi
Ditinjau dari bentuknya, preposisi ada dua macam, yaitu preposisi tunggal dan
gabungan.
1. Preposisi Tunggal
Preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata.
Bentuk preposisi tunggal sebagai berikut.
a. Kata dasar (misal: di, ke, dari, dan pada)
Contoh: Yang dimaksud karya tulis di sini adalah karangan ilmiah.
b. Kata berafiks (misal: selama, mengenai, dan sepanjang)
Contoh: Puisi merupakan pengalaman batin penyair mengenai kehidupan
manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetis.
2. Preposisi Gabungan
Contoh Kalimat Preposisi
Berikut ini bentuk preposisi gabungan.

a. Preposisi yang berdampingan adalah preposisi yang terdiri atas dua preposisi
yang letaknya berurutan (misal: daripada, kepada, selain dari).
Contoh: Buku itu diberikan kepada ibu.
b. Preposisi yang berkorelasi adalah preposisi yang terdiri atas dua unsur yang
dipakai berpasangan tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain (misal: antara ...
dan ..., dari ... sampai ..., sejak ... hingga ...).
Contoh: Antara puisi Asmaradana karya Goenawan Mohamad dan cerita rakyat
Damarwulan memiliki persamaan.
Contoh kalimat menggunakan preposisi dari dan daripada
Akan tetapi, pada materi ini, kalian hanya akan dilatih untuk menggunakan
preposisi (kata depan) dari dan daripada.
Perhatikan contoh kalimat berikut ini.
1. Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun karena angin
pada kemuning.
2. Nina lebih gemar membaca daripada kakaknya.
Pada kalimat (1) preposisi dari hanya dipakai untuk menyatakan asal,
sedangkan pada kalimat (2) preposisi daripada dipakai untuk menyatakan
perbandingan.

Akan tetapi, orang-orang sering menyalahgunakan penggunaan preposisi daripada


ini. Perlu diperhatikan bahwa preposisi daripada hanya dipakai untuk menyatakan
perbandingan dan bukan untuk menyatakan milik, menyatakan asal, atau
menghubungkan kata kerja dengan unsur yang mengikutinya.

Berikut ini contoh pemakaian yang keliru (kalimat 1) dan perbaikannya (kalimat
2).
1. Anjasmara adalah kekasih daripada Damarwulan.
2. Anjasmara adalah kekasih Damarwulan.