Anda di halaman 1dari 59

TBC DAN TETANUS

SHIKA
SONIA
YUALITA
Kamis, 22 September 2016

Tuberkulosis

Pengertian
Cara penularan
Tanda dan gejala
Klasifikasi
Faktor Resiko

Distribusi dan frekuensi


Pencegahan

Pengertian
Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah
penyakit menular langsung
yang disebabkan oleh

Mycobacterium
tuberculosis, yang

sebagian besar (80%)


menyerang paru-paru.

(Direktorat Bina Farmasi Komunitas


dan Klinik, 2014)

Pengertian
Cara penularan
Tuberkulosis

penderita TB
BTA positif

batuk atau
bersin

droplet
(percikan
dahak)

Menyebar ke
paru dan ke
bagian lainnya

Masuk ke
saluran
pernapasan

1x batuk =
3000 droplet

(Kepmenkes RI, 2011).

Pengertian
Tanda
dan Gejala
Tuberculosis
Tuberkulosis
Gejala sistemik
1. Demam tidak terlalu tinggi yang
berlangsung lama, biasanya
dirasakan malam hari disertai
keringat malam. Kadang-kadang
serangan demam seperti influenza
dan bersifat hilang timbul.
2. Penurunan nafsu makan dan berat
badan
3. Perasaan tidak enak (malaise),
lemah

Gejala khusus
1. Bronkus kelenjar getah bening
bengkak suara mengi disertai
sesak.
2. Pleura
3. Tulang infeksi tulang
4. limfadenitis
tuberkulosa

pembesaran
kelenjar
getah
bening
5. Otak meningitis

(Werdhani, 2012).

Pengertian
Klasifikasi
Penyakit
Tuberkulosis
Tuberkulosis
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru :
1. Tuberkulosis Paru BTA Positif.
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif.
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
2. Tuberkulosis Paru BTA Negatif
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto
rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

(Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2014)

Pengertian
Klasifikasi
Penyakit
Tuberkulosis
Tuberkulosis
TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya,
yaitu:
1. TB Ekstra Paru Ringan . Misalnya: TB kelenjar limphe, pleuritis
eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan
kelenjar adrenal.
2. TB Ekstra-Paru Berat . Misalnya: meningitis, millier, perikarditis,
peritonitis, pleuritis eksudativa duplex, TB tulang belakang, TB usus, TB
saluran kencing dan alat kelamin.

(Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2014)

Agent

Mycobacterium
tuberculosis

jenis kelamin
umur

usia produktif
membuka jendela pagi
merokok

Faktor risiko
Tuberkulosis

Host

meludah
sembarangan
perilaku

kebiasaan makan minum


sepiring atau segelas dengan
orang lain
menjemur kasur dan atau
bantal dan atau guling kapuk

faktor
resiko

riwayat kontak dengan


penderita TBC
pendidikan
sosial
ekonomi
lingkungan

pekerjaan
penghasilan
lantai

kondisi fisik
ling. rumah

dinding
kelembaban

tingkat
SD-SMA

Faktor resiko : Jenis kelamin


Berdasarkan penelitian Azhar, dkk (2013)

Hal ini mungkin dipengaruhi oleh sistem biologis, perbedaan


peran gender di lingkungan sosial masyarakat, perbedaan
risiko terpapar dan perbedaan akses ke fasilitas pelayanan
kesehatan (Departement of gender, Woman and Health
Family and Community Health WHO, 2004 dalam Azhar, dkk,
2013).

Faktor resiko : Umur


hasil Riskesdas 2013 dalam Nurjana (2015)

Usia produktif lebih banyak bekerja di


lingkungan luar dan kemungkinan
terpapar agen penyakit lebih besar
(Fatchurohmah dan Sari, 2014).

Faktor resiko : Riwayat kontak dengan


penderita TBC
Menurut penelitian Susilowati (2012),

jadi walaupun > 6 bulan tinggal serumah dengan pasien


TB Paru BTA Positif bila berperilaku pencegahannya
baik/ imunitasnya baik, maka tidak tertulat TB.

Namun, berdasarkan penelitian Fitriani


(2013)
Terdapat hubungan antara riwayat kontak dengan kejadian
Tuberkulosis Paru.
Hal tersebut terjadi karena adanya penderita tuberkulosis di rumah
dan sekitarnya meningkatkan frekuensi dan durasi kontak dengan
kuman tuberkulosis yang merupakan faktor penting patogenesis
tuberkulosis (Guwatudde et al, 2003: 9 dalam Fitriani, 2013).

Faktor resiko : Status Imunisasi


BCG
Distribusi Frekuensi Status Imunisasi BCG pada anak di wilayah Kerja
Puskesmas Ciawi Tasikmalaya Bulan Agustus-September 2008 (Rakhmawati,
2008).

pemberian imunisasi BCG ada hal-hal penting yang harus


diperhatikan yaitu dari cara pemberian, dosis, cara
penyimpanan vaksin dan waktu pemberian imunisasi BCG.

Faktor resiko : Perilaku membuka


jendela pagi dan merokok
Hubungan antara Perilaku dengan Kejadian Penyakit Tuberkulosis
Paru (penelitian Fitriani (2013))

Perilaku : kebiasaan membuka jendela dan merokok


Membuka jendela pagi pencegahan penularan TB Paru
dimungkinkan sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah atau
ruangan. Selain itu jendela dapat juga berfungsi sebagai ventilasi
untuk pertukaran udara (Depkes RI, 2009).

Merokok Kebiasaan merokok memperburuk gejala TB


asap rokok berdampak buruk pada daya tahan paru
terhadap bakteri (Tjandra Yoga Adhitama, 2009 dalam
Fitriani, 2013).
Perokok memiliki peluang 2 kali lebih besar untuk terkena TB
dibanding bukan perokok (Van Zyl Smit RN et al, 2010 dalam
Fatchrohmah, 2014).

Menurut penelitian Azhar (2013),

Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan


yang bermakna antara perilaku membuka jendela
kamar tidur setiap hari dan menjemur kasur secara
teratur dengan kejadian Tb di DKI Jakarta.
Artinya, orang yang memiliki kebiasaan membuka
jendela kamar tidur setiap hari akan protektif dari
infeksi Tb paru sebesar 1,36 kali dibanding orang
yang tidak melakukan.
Kebiasaan menjemur kasur secara teratur
merupakan faktor protektif terhadap kejadian Tb
paru sebesar 1,423 kali dibanding tidak menjemur
kasur secara teratur.

Perilaku : meludah sembarangan, kebiasaan makan


minum sepiring atau segelas dengan orang lain
Dalam penelitian Azhar (2013) Meludah sembarangan
kuman Tb paru menyebar melalui percikan/droplet kuman
dapat bertahan selama beberapa jam terhirup dan masuk
ke saluran nafas.
Dalam penelitian Azhar (2013) Kebiasaan makan minum
sepiring atau segelas dg orang lain kuman menular lewat
droplet jika makan atau minum segelas dengan orang lain.

Sosial ekonomi : pendidikan


Menurut penelitian Azhar (2013),

Ditinjau dari latar belakang pendidikan, penderita Tb paru di Banten dan


Sulawesi Utara pada umumnya tamat SD hingga SMA sedangkan di DKI
Jakarta lebih banyak berasal dari kelompok tamat SMA atau Perguruan
Tinggi.
Latar belakang pendidikan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku
seseorang pendidikan yang tinggi akan memiliki pengetahuan dan sikap
yang baik tentang kesehatan sehingga akan mempengaruhi perilakunya untuk
hidup sehat (Ninik, 2011).

Faktor resiko : Pekerjaan


Hubungan antara Pekerjaan dengan Angka Kejadian TB Paru BTA
Positif di Wilayah Kerja Puskesmas Peterongan Jombang tahun 2012

Keterangan : pekerjaan tingkat rendah yaitu buruh serabutan/buruh


tani/tukang becak/pedagang keliling, pekerjaan sedang : pensiunan
PNS/karyawan swasta/satpam/sopir angkot, pekerjaan tinggi yaitu
PNS/petani/pemilik toko/TNI/Polri

Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko yang dihadapi setiap


individu.
Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel
debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan
pada saluran pernafasan.
Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan
morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran
pernafasan dan umumnya TB Paru (Smith P.G dan Moss A.R,
2004 dalam Sari, dkk, 2012).

Tingkat pekerjaan yang baik akan berusaha untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
lebih baik
Namun berbeda dari hasil penelitian yang menunujukkan bahwa pekerja sedang lebih banyak yang
menderita TBC BTA Positif kebanyakan dari keluarga responden masih berpikir bahwa mereka
bekerja adalah untuk mendapatkan penghasilan yang lebih banyak agar dapat memenuhi kebutuhan
pokok atau kebutuhan sehari-hari. (Sari, dkk, 2012).

Faktor resiko : Penghasilan


Menurut penelitian Sari, dkk (2012),

Keterangan : tingkat penghasilan rendah yaitu < Rp.


980.000, penghasilan sedang yaitu Rp. 980.000-Rp.
1000.000, penghasilan tinggi > Rp.1000.000.

Sejalan dengan kenyataan bahwa pada umumnya yang terserang penyakit TB


Paru adalah golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. kurang
memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada, mungkin oleh karena tidak
mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau untuk membeli yang lain.
(Tjiptoherijanto. 2008 dalam Sari, dkk, 2012).
Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar responden tidak mengetahui tentang
penyakit yang dideritanya sehingga mereka terlambat untuk melakukan
pengobatan sebelum penyakitnya bertambah parah (Sari, dkk, 2012).

Faktor resiko : Lantai rumah


Menurut penelitian Azhar (2013),

rumah yang berlantai semen plesteran rusak/papan/tanah berisiko 1,731 kali lebih
besar terhadap kejadian Tb paru dibanding rumah yang berlantai keramik, ubin
atau marmer.
Lantai faktor resiko lantai yang tidak memenuhi syarat kesehatan
lantai yang tiak kedap air, lembab sehingga akan mempermudah penularan
penyakit tuberkulosis paru (Rosiana, 2013).

Faktor resiko : Dinding rumah


Menurut penelitian Rosiana (2013)

Dinding yang sesuai Dinding rumah yang kedap air berfungsi untuk
mendukung atau menyangga atap, menahan angin dan air hujan, melindungi dari
panas dan debu dari luar, serta menjaga kerahasiaan (privacy) penghuninya
(Soedjajadi Keman, 2005:31 dalam Rosiana, 2013).
Menurut Kepmenkes No. 829/ Menkes/SK/VII/1999, dinding rumah harus memiliki
ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci kedap air dan mudah dibersihkan.

Faktor resiko : Kelebapan


rumah
Berdasarkan penelitian Rosiana (2013)

Perhitungan risk estimate didapatkan OR = 4,033 dengan 95%CI= 1,078


15,086, menunjukkan bahwa responden yang kelembabannya tidak
memenuhi syarat mempunyai risiko 4,033 kali lebih besar menderita TB
daripada responden yang kelembabannya memenuhi syarat.

Pendukung :
Menurut penelitian Ishak, dkk (2014) kebiasaan penghuni rumah pada
sebagian besar responden yang menderita tuberkulosis menutup
rapat rumah dan jendela jika ada penghuni rumah yang batuk
karena berasumsi bahwa batuk akan semakin parah dengan
membiarkan pintu jendela terbuka Kelembaban yang tinggi pada
suatu rumah dapat merupakan sarana yang baik untuk
pertumbuhan kuman mycobacterium tuberkulosis.

Distribusi dan Frekuensi


Penyakit Tuberkulosis
Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-5 di
dunia setelah India, Cina, Afrika Selatan dan.Nigeria (WHO, 2009
dalam Kemenkes RI, 2011).
Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660.000
(WHO, 2010 dalam Kemeskes RI, 2014)
Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia,
terjadi pada negara-negara berkembang (Kepmenkes RI, 2011)

Gambar 2. Insidens kasus TB Dunia (WHO, 2009 dalam


Kepmenkes RI, 2011)

Dalam laporan WHO tahun 2013 dalam


Kemenkes RI (2014):
Diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB pada tahun 2012 dimana 1,1, juta orang
(13%) diantaranya adalah pasien TB dengan HIV positif.
Pada tahun 2012, diperkirakan terdapat 450.000 orang yang menderita TBMDR
dan 170.000 orang diantaranya meninggal.
Diperkirakan terdapat 2,9 juta kasus TB pada tahun 2012 dengan jumlah kematian
karena TB mencapai 410.000 kasus termasuk diantaranya adalah 160.000 orang
wanita dengan HIV positif. Separuh dari orang dengan HIV positif yang meninggal
karena TB pada tahun 2012 adalah wanita.
Pada tahun 2012 diperkirakan proporsi kasus TB anak diantara seluruh kasus TB
secara global mencapai 6% (530.000 pasien TB anak/tahun). Sedangkan kematian
anak (dengan status HIV negatif) yang menderita TB mencapai 74.000
kematian/tahun atau sekitar 8% dari total kematian yang disebabkan TB.

Upaya Preventif dan Promotif Untuk


Penyakit Tuberculosis
Imunisasi BCG
Menerapkan PHBS
Menghindari Kontak dengan Penderita
TB

Penyuluhan Kesehatan

Strategi DOTS

Pengertian penyakit Tetanus


Penyakit Infeksi akut yang disebabkan oleh neurotoksin
yang diproduksi bakteri Clostridium tetani

1)
2)
3)
4)
5)
6)

Cara Penularan:
Kontaminasi pada abrasi kulit
Luka tusuk minor
Ujung potongan umbilikus
Infeksi
Luka bakar
Setelah pembedahan

Patofisiologis Penyakit Tetanus


Spora CI tetani masuk
kedalam tubuh
manusia

Spora CI tetani
menemukan lingkungan
yang tepat untuk
tumbuh

Toksin menyebar ke
SSP dan menyebabkan
berbagai macam
gangguan pd tubuh

Spora berkembang
biak dan mengeluarkan
toksin

Tetanus Neonatorum

Jenis kasus tetanus


yang paling sering
terjadi di negara
berkembang

Penyakit tetanus
yang terjadi pada
bayi berusia 0-1
bulan setelah lahir

Tanda dan Gejala Tetanus


Neonatorum

Trismus (rahang
yg mengatup)

Sianosis (kulit
dan selaput
lendir biru)

Risus Sardonikus
(kaku pd otot
mimik)

Kejang otot
pernapasan dan
suhu meningkat

Opisthotonus
(kaku pd tubuh)

Tanda dan Gejala Tetanus


Neonatorum

Faktor Resiko Tetanus Neonatorum

1. Imunitas
Proporsi infeksi tetanus neonatorum
(TN) akan semakin besar bila bayi
tidak memiliki kekebalan alamiah
terhadap tetanus yang diturunkan
melalui ibunya. Kekebalan alamiah
ini diperoleh ibu melalui imunisasi
Tetanus Toksoid (TT) dengan dosis
dan waktu interval minimal tertentu
Dari tabel disamping dapat diketahui
bahwa tahun 2014 di Indonesia
jumlah kasus Tetanus Neonatorum
pada bayi baru lahir dengan
kelompok Ibu yang tidak melakukan
imunisasi lebih tinggi daripada kasus
Tetanus Neonatorum pada bayi
baru lahir dengan kelompok Ibu yang
melakukan imunisasi
Sumber: Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014

2. Status Imunisasi TT pada Ibu Hamil


Imunisasi pada ibu saat
kehamilan akan membuat
imunoglobulin dari ibu
tersalur pada bayi yang
dikandungnya
melalui
plasenta dan kemudian
akan menjadi kekebalan
pasif
untuk
bayi.
Kekebalan
yang
disalurkan ibu kepada
bayi
tersebut
dapat
menjadi proteksi untuk
bayi terhadap stressor
(persalinan yang tidak
steril dan perawatan tali
pusat yang tidak bersih)
yang dapat menyebabkan
TN

Sumber: Subdit Surveilans, Ditjen P2&PL dalam Kemenkes RI 2012

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa


kasus tetanus neonatorum berdasarkan
status imunisasi ibu hamil dari tahun 20072011 paling besar terjadi pada ibu hamil yang
tidak di imunisasi.

3. Penolong Persalinan
Kejadian kesakitan dan kematian akibat
tetanus neonatorum (TN) berkaitan erat
dengan pertolongan persalinan dan
perawatan
bayi
yang
dilakukan.
pertolongan persalinan dan perawatan
bayi berkaitan erat dengan kemampuan
petugasnya yang sangat dipengaruhi
oleh sikap dan pengetahuan mereka
tentang (SOP) pertolongan persalinan

Dari tabel disamping diketahui bahwa


kasus tetanus neonatorum berdasarkan
penolong persalinan di Indonesia pada
tahun 2014 paling besar terjadi pada ibu
melahirkan yang ditolong oleh petugas
tradisional. Hal ini dapat terjadi karena
pengetahuan dan keterampilan persalinan
yang kurang pada petugas tradisional
Sumber: Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014

4. Cara Perawatan Tali


Pusat pada Bayi Baru Lahir
Menurut Nursewian dalam
Lestari dan Wulandari (2014),
penyebab penyakit tetanus
neonatorum adalah:
1. Penggunaan alat yang
tidak
steril
untuk
memotong tali pusat
2. Cara
perawatan
tali
pusat
dengan
teknik
tradisional.
3. Kekebalan ibu terhadap
tetanus.

Sumber: Subdit Surveilans, Ditjen P2&PL dalam Kemenkes RI 2012

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa kasus


tetanus neonatorum berdasarkan cara perawatan tali
pusat di Indonesia selama tahun 2007-2011 didapatkan
kasus TN lebih banyak terjadi pada bayi dengan
perawatan tali pusat secara tradisional. Hal ini bisa
terjadi karena kebersihan dalam perawatan tali pusat
yang kurang baik sehingga menjadi port de entry atau
pintu masuk bagi kuman tetanus

Disisi lain, jenis alat yang digunakan


untuk memotong tali pusat juga
mempengaruhi terjadinya kasus tetanus
neonatorum. Hal ini dapat terjadi karena
alat yang digunakan tidak steril sehingga
memungkinkan kuman tetanus masuk
melalui alat tersebut (Kemenkes 2012)

Dari tabel disamping diketahui bahwa kasus


tetanus neonatorum berdasarkan alat
pemotong tali pusat di Indonesia pada tahun
2014 didapatkan kasus TN lebih banyak
terjadi pada bayi dengan perawatan tali
pusat yang dipotong dengan gunting.

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014

5. Pendidikan

hasil penelitian Sukmara dalam Primanita (2009)


menyatakan bahwa hubungan antara pendidikan
dengan status imunisasi TT pada ibu hamil (p
value = 0,000) dimana ibu pendidikan kurang
berisiko 3,19 kali tidak memperoleh imunisasi TT
lengkap dibandingkan dengan ibu pendidikan cukup.

Dapat disimpulkan bahwa tingginya pendidikan


masyarakat mampu menjadi penunjang dalam
mempermudah mencerna informasi yang diterima
untuk dapat dimengerti termasuk melakukan
upaya-upaya preventif (imunisasi dan persalinan
bersih dengan tenaga kesehatan) untuk menekan
angka kejadian tetanus neonatorum

Persalinan bidan = mahal


Persalinan dukun = berapa saja

6. Penghasilan

Tingkat penghasilan rendah dapat


menjadi faktor pendorong ibu hamil
melakukan persalinan secara
tradisional pada dukun beranak

Persalinan pada tenaga non


kesehatan meningkatkan resiko TN

7. Persepsi Jarak Rumah ke Faskes


Berkaitan dengan ANC
dan status imunisasi

ada hubungan yang bermakna antara persepsi jarak


rumah ke pelayanan kesehatan dengan status
imunisasi TT pada ibu hamil (p value=0,040). Pada
penelitian ini, responden yang memiliki persepsi jarak
rumah ke pelayanan kesehatan dekat memiliki peluang
2,488 kali untuk memiliki status imunisasi TT lengkap
dibandingkan dengan responden yang memiliki persepsi
jarak rumah ke pelayanan kesehatan jauh.

Kemudahan mengakses suatu fasilitas pelayanan


kesehatan akan mempengaruhi kemungkinan
seseorang memanfaatkan pelayanan kesehatan

8. Budaya
Lebih percaya pada dukun daripada tenaga
kesehatan

tindakan yang dilakukan oleh dukun tidak


sesuai dengan prosedur dan standar medis,
masyarakat merasa tidak nyaman dengan
peralatan medis.

kejadian tetanus neonatorum lebih banyak


terjadi pada ibu yang melakukan persalinan
dengan tenaga tradisional (non kesehatan).

Distribusi
& Frekuensi
Tetanus di
Indonesia

Kota

Desa

6-7/1000
kelahiran
hidup

11-23/1000
kelahiran
hidup

Tetanus menyumbang 50% kematian bayi baru lahir


dan sekitar 20% kematian bayi, serta merupakan
urutan ke-5 penyakit penyebab kematian bayi di
Indonesia.

60.000 kematian bayi per tahun

Persentase kelompok umur penderita


Tetanus
26%

19%

Bayi
Anak 5-9 tahun

15%

Balita 1-4 tahun

12%

>10 tahun
Widoyono, 2011

Jumlah kasus tetanus neonatus dan faktor risiko


menurut provinsi pada tahun 2010

Kemenkes RI, 2011

Jumlah kasus tetanus neonatus dan faktor risiko


menurut provinsi pada tahun 2011

Kemenkes RI, 2012

Jumlah kasus tetanus neonatus dan faktor risiko


menurut provinsi pada tahun 2012

Kemenkes RI, 2013

Jumlah kasus tetanus neonatus dan faktor risiko


menurut provinsi pada tahun 2013

Kemenkes RI, 2014

Jumlah kasus tetanus neonatus dan faktor risiko


menurut provinsi pada tahun 2014

Kemenkes RI, 2015

Jumlah kasus tetanus neonatus dan faktor risiko


menurut provinsi pada tahun 2015

Kemenkes RI, 2016

Grafik..... Kasus tetanus neonatus dan kematian akibat tetanus


neonatus di Indonesia pada tahun 2010-2015
160
140
120
100
80
60
40
20
0
2010

2011

2012

Kasus tetanus

2013

2014

kematian akibat tetanus

2015

Distribusi
& Frekuensi
Tetanus di
Negara
Lain
Menurut WHO dan UNICEF, sebelum tahun 2000 di seluruh dunia ada sebanyak
135 negara yang sudah mencapai eliminasi Tetanus Maternal Neonatus (TMN).
Hingga akhir tahun 2009 sudah 151 negara yang mencapai eliminasi TMN, dan
42 negara belum mencapai eliminasi TMN. Per Desember 2010 masih terdapat
38 negara yang belum mencapai eliminasi TMN, terutama berada di Afrika dan
Asia. Hingga Februari 2012, masih terdapat 34 negara yang belum tereliminasi
TMN (Kemenkes RI, 2012).

EROPA

Menurut laporan European Centre For Disease Prevention And Control (ECDC)
(2014:37), kasus tetanus muncul dengan angka yang rendah di negara-negara Eropa
dengan sanitasi yang baik dan vaksinasi universal yang efektif. Total kasus yang
dilaporkan sangat rendah (0,03 kasus per 100.000 populasi). Angka tertinggi
dilaporkan dari Itali (0,09 per 100000 populasi). Pada tahun sebelumnya, kelompok
yang paling rentan terinfeksi adalah wanita usia tua (65 tahun ke atas).

Kelompok yang paling berisiko adalah usia


lanjut (>65 tahun) (0.14 kasus per 100000
populasi), yang terhitung sebanyak 80% dari
total kasus yang dilaporkan, diikuti usia 45-64
tahun. Satu kasus dilaporkan pada kelompok
usia 0-4 tahun, 5-14 tahun, dan 15-24 tahun,
serta delapan kasus pada kelompok umur 2544 tahun. Perempuan terhitung 62% (76
kasus) dari yang telah dilaporkan, 68
diantaranya adalah perempuan berusia >65
tahun (ECDC, 2014:38).

Rate kasus Tetanus tahun


2008-2012 di Eropa

Rate tertinggi dilaporkan dari


negara Italia (0.09 per
100.000 populasi). Tahun
2012, terhitung 54 kasus dari
72 kasus yang terkonfirmasi
tetanus berasal dari Italia.

AFRIKA

WHO African Region telah melaporkan angka


dari kasus non-neonatal tetanus yaitu 4.0 per
1.000.000 populasi (3732 kasus diantara
total populasi di wilayah). Dari 12 negara di
Afrika yang melaporkan kasus non-neonatus
tetanus, Uganda memiliki angka tertinggi pada
kasus non-neonatus tetanus (67.1 per
1.000.000 populasi) (Dalal dkk, 2016).

Upaya Preventif & Promotif


3

Pendekatan
kepada
masyarakat

Terima Kasih

Ada pertanyaan?